COMING HOME
DONGHAE X HYUKJAE
.
.
Fanfic ini diremake dari sebuah novel yang juga berjudul COMING HOME karya Sefryana Khairil dari penerbit Gagas Media. Dijadikan dalam bentuk versi Boys Love dengan sedikit perombakan, pengurangan dan penambahan disana-sini disesuaikan dengan kebutuhan alur cerita.
Bagi yang kurang berkenan dengan sesuatu yang berhubungan dengan Remake dan Boys Love/Yaoi harap segera menyingkir demi kenyamanan bersama.
.
.
Thank You
.
.
Happy Reading
.
.
BAB 13
Every day that I'm here with you
I know that it feels right
And I've got to be near you every day
-"Best In Me", Blue—
.
.
Membawa serta cintamu yang tak pernah usai.
Sepasang mata pekat Donghae berbinar melihat Haru menunggu empat temannya berlari melintasi lapangan mengantarkan tongkat plastik kecil. Orang tua disekelilingnya ramai berseru atau bertepuk tangan memberi semangat kepada anak-anak mereka. Dada Donghae langsung disesaki energi ketika kaki anak keempat dalam regu semakin mendekat pada putrinya hingga Haru menggapai tongkat itu. Anak itu berlari menuju sebuah tiga terowongan warna-warni. Tubuh mungilnya bergerak cepat merangkak dalam terowongan hingga berhasil mencapai ujung dan melonjak riang.
"Appa, Haru juara dua!" Haru berlari ke arah Donghae sambil memegang hadiah berupa bingkisan berpita merah.
"Hebat anak Appa!" Donghae berjongkok, mengusap peluh di wajah anak itu. "Susah tidak lari estafet?"
Haru menggeleng. "Kan kata Sonsengnim tidak boleh bilang susah, Appa."
Mendengar nama itu, Donghae teringat lelaki manis yang belum dilihatnya sejak datang ke lapangan ini. Matanya berkeliling, namun tidak menemukannya di antara keramaian. Donghae menggandeng Haru ke luar area lomba sambil mencari-cari keberadaan Hyukjae.
Mendengar guru olahraga memanggil namanya, Haru berlari menghampirinya, berkumpul bersama teman-teman satu kelompoknya. Donghae tersenyum melihat semangat gadis kecilnya. Kuncir duanya bergerak-gerak tertiup angin.
Semenjak Hyukjae hadir dalam hidup Haru, anak itu mulai menyukai pernak-pernik yang terlihat girly. Hyukjae memang lelaki, tapi dia bisa melakukan banyak hal bersama Haru. Merias wajah, belajar mengikat dan mengepang rambut, memasak bersama, mendongeng dan hal-hal sederhana lain.
Tawa Hyukjae dan Haru dalam hari-harinya membuatnya ikut bahagia. Ia merasakan kehangatan yang lama tidak dirasakannya. Jika dunianya adalah puzzle, sekarang kepingannya mulai disusun satu per satu. Memang masih jauh dari sempurna, tetapi ia akan berusaha keras menyempurnakannya.
Donghae mengecek bungkus rokoknya. Tersisa dua batang. Berarti ia harus ke luar sebentar membeli rokok. Sesaat Donghae menoleh, memastikan Haru baik-baik saja, lalu berjalan ke pintu keluar. Matanya melihat bangku-bangku panjang di sisi lapangan penuh. Namun, langkahnya melambat melihat sosok yang dikenalnya duduk disana.
Hyukjae.
Hyukjae sedang duduk di salah satu bangku panjang bersama seorang laki-laki. Donghae mengerutkan alis, memperhatikan lebih jelas siapa lelaki yang sedang bersama mantan istrinya. Lelaki itu mengenakan pakaian olahraga, pasti seorang guru Kindergaten juga. Sebuah bungkusan diberikan lelaki itu kepada Hyukjae dan lelaki manis itu tampak senang melihat isinya. Rahang Donghae mengeras. Apa isinya hingga membuat Hyukjae senang?
Jantung Donghae berdegup cepat. Tangannya mengepal. Matanya berkilat-kilat. Wajahnya mengeras. Donghae menahan napas melihat tatapan bersahabat Hyukjae. Obrolannya tampak akrab dan sikap Hyukjae tidak canggung. Seperti Hyukjae yang dulu hadir dalam hidupnya. Kini, sikap, tatapan, dan raut wajah itu tidak pernah diperlihatkan kepadanya. Rasa kehilangan, amarah, dan penyesalan, bercampur di dadanya.
"Ada masalah dikantor?" Hyukjae berkata pelan seraya menatap lekat Donghae yang berdiam di depan laptop. Sejak sore, laki-laki itu berada di ruang kerjanya.
Donghae bergeming. Menatap istrinya yang khawatir tidak mengurangi beban pikirannya. Percuma cerita. Lelaki manis itu tidak akan mengerti masalahnya. Tidak akan bisa membantunya.
"Aku buatkan susu, ya? Agar kau bisa istirahat, Sayang." Hyukjae tersenyum dan mencium pipi suaminya. "Aku selalu ada untukmu." Bisiknya.
Lelaki manis itu memang selalu ada untuknya, tetapi ia mengabaikannya. Hyukjae tidak mengerti dunia bisnis yang digelutinya, tetapi mampu menjadi lebih dari seorang sahabat untuk berbagi.
Donghae menghela napas berat dalam melanjutkan langkah ke pintu keluar. Ia perlu udara segar untuk mengendalikan emosinya.
.
.
.
Hampir setengah jam Donghae keluar dari area lapangan, kini ia kembali dan mendapati Hyukjae masih duduk di tempat yang sama bersama Haru. Keduanya bercanda tawa sambil menikmati makanan yang diberikan panitia. Haru memanggil Donghae sambil melambaikan tangan. Donghae tersenyum tipis, melangkahkan kakinya dengan enggan.
"Punyamu Hae." Hyukjae memberikan kotak makanan.
Donghae meletakkan kotak makananan itu disampingnya. Bayangan Hyukjae bersama laki-laki lain menambah rasa bersalahnya. Kalau saja ia tidak menahan emosinya, ia pasti sudah menghampiri lelaki itu dan menarik kerah bajunya. Dihelanya napas berat. Donghae sadar, saat ini, lelaki mana pun boleh menginginkan Hyukjae.
"Siapa tadi?" tanya Donghae dingin seraya menyalakan rokok.
"Siapa?" Hyukjae mengernyit. "Maksudmu?"
"Laki-laki yang tadi ngobrol dengan mu?" pandangan Donghe mengarah ke lapangan.
Hyukjae menatap bingung, Donghae marah, itu jelas terlihat dari sikapnya yang tidak mau melihat ke arahnya. Tapi, mendengar pertanyaan lelaki itu, membuat kerutan keningnya makin dalam. Donghae cemburu? "Minho. Guru di sebuah kindergaten juga. Kenapa?"
"Tidak apa-apa" Donghae menghembuskan rokoknya. "Sudah lama kenal dengan dia?"
"Dua tahunan." Hyukjae semakin bingung. Menurutnya, dengan status mereka seperti ini, tidak perlu ada cemburu. Memangnya untuk apa cemburu, kecuali Donghae masih...
Donghae mengangguk-anggukan kepala. Belum pernah ia merasakan kesal, marah, dan takut sekaligus seperti ini. Ia bukan seseorang yang lemah. Namun, melihat kemungkinan ada seseorang lain yang akan memiliki Hyukjae, dan kesadaran dirinya bukan siapa-siapa lagi untuk lelaki manis itu, membuat ia merasa lemah, tidak memiliki kekuatan apa pun.
Melihat sebuah bungkusan didekatnya, Donghae teringat bungkusan itu yang diberikan lelaki itu untuk Hyukjae. Ia membuka bungkusan itu dan tercenung melihat isinya. Sebuah tempat makan berisi Kimbap? Hal biasa seperti ini yang membuat Hyukjae senang?
"Kimbap ini dari si Minho itu?" suara Donghae masih terdengar dingin.
Hyukjae menoleh pada tempat makan di tangan Donghae. "Iya. Makan saja. Rasanya enak. Minho membuatnya sendiri."
Donghae memasukkan kembali tempat makan dan mendengus. "Tidak lapar."
Keheningan melanda keduanya. Donghae menghisap rokoknya dengan pandangan kosong mengarah ke lapangan, sementara Hyukjae sibuk mengusap wajah Haru dari sisa makanan. Lalu, anak itu duduk di tengah kedua orang dewasa yang terdiam. Matanya memperhatikan Hyukjae dan Donghae bergantian.
"Sonsengnim sama Appa pakai jam tangan samaan, ya!" ujar Haru memecah keheningan.
Keduanya sama-sama melihat jam tangan masing-masing. Hyukjae yang terbiasa mengenakan jam tangan di pergelangan tangan kanan, membuat kedua benda itu berdampingan. Kemudian mereka mengangkat wajah, saling menatap. Tanpa kata-kata, Hyukjae dan Donghae menyadari masa lalu belum sepenuhnya pergi.
Mata Donghae turun pada jam tangan Hyukjae. Mungkin mereka berdua telah kehilangan cinta, tetapi jam tangan itu seolah-olah berkata Donghe punya arti besar untuk lelaki manis itu. Dan, mungkin itu juga alasannya mengenakan jam—ini karena lelaki manis di sampingnya memiliki arti bersar untuk hidupnya.
"Aku suka modelnya." Gumam Hyukjae.
"Aku juga." Donghae memandangi jamnya. "Tahun lalu, aku beli jam warna hitam. Modelnya maskulin, tetapi aku hanya memakainya selama seminggu."
"Kenapa?"
Donghae kembali menatap Hyukjae. "Tidak tahu kenapa, Hyuk. Aku merasa tidak lengkap jika tidak memakai jam tangan ini."
Keduanya tidak tahu apakah sebuah kebodohan mereka masih mengenakan jam tangan itu. Mata mereka bertemu, memandang masih ada masa lalu yang terbuka untuk di jelajahi. Atau, mungkin bukan masa lalu, melainkan masa yang lain.
Donghae menaikan Haru ke pangkuan, lalu beralih pada Hyukjae. Senyum tipisnya terulas. Ia merasa harus berbuat sesuatu untuk lelaki manis itu, tidak peduli sesulit apa pun. "Malam minggu ini kau ada acara?"
Hyukjae terdiam sejenak, kemudian menggeleng. "Sepertinya tidak ada. Kenapa?"
"Aku berniat mengajakmu makan malam dirumah." Donghae menatap lekat dengan sorot serius. "Aku ingin memasak sesuatu."
Hyukjae mengernyit. "Kau? Memasak?"
Donghae mengangguk. "Tidak meyakinkan, ya?"
"Jujur, tidak, Hae. Aku masih mengingat nasi goreng buatanmu rasanya tidak karuan."
"Tapi, kau belum mencoba masakanku sekarang, kan?" Donghae berkeras.
"Kau akan memasak apa?"
Donghae kebingungan sendiri. Tetapi, harga dirinya dipertahankan di sini! "Apa saja. Saat ini, belum terpikir. Kau akan datang?"
"Hmmm... oke." Hyukjae tersenyum.
"Oke." Ulang Donghae mantap. Dalam dirinya, muncul sebuah dorongan untuk membuat lelaki manis ini tidak dimiliki siapa pun, kecuali dirinya. Ia akan melakukan apa saja, termasuk melakukan hal yang tidak disukainya.
.
.
.
Aku merasa menemukan cermin dan bayang-bayanganku ada pada dirimu.
Donghae menatap hidangan yang telah tersaji di atas meja makan dengan pandangan puas. Spageti, jus strawberry dan es krim vanilla bercampur potongan buah. Ia berjam-jam berada di dapur bersama Haru membuat semuanya. Ini adalah pengalaman pertamanya memasak, tidak bisa menduga-duga rasanya seperti apa. Namun, jika dilihat dari tampilannya, sepertinya tidak buruk. Mungkin Hyukjae akan menaikan nilainya menjadi tujuh atau delapan.
Suara lonceng jam kayu besar di ruang tengah membuat Donghae tersadar belum menata meja. Ia mengambil dua tempat lilin, sebuah vas berisi rangkaian bunga mawar segar yang dibelinya tadi pagi, dua piring, dua gelas, juga dua kain lap kecil berwarna putih. Donghae merasakan perutnya bergolak karena gugup.
Apakah ia melakukan ini karena tidak ingin kalah dengan si Minho itu? Hanya itu? Donghae merasa keinginannya lebih daripada itu. Apa salah merayu mantan istrinya? Ia dan Hyukjae sama-sama sendiri, tidak terikat dengan seseorang.
Pikiran Donghae penuh oleh sekelumit hal. Setiap menatap foto dirinya, Hyukjae, dan Haru di taman, ia membayangkan sebuah keluarga. Keluarga yang utuh. Keluarga yang bahagia. Keluarga yang saling memiliki. Dan, ia merasa mungkin ini sebuah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk mereka.
Donghae melihat jam dinding dan langsung panik. Hyukjae akan segera tiba, sedangkan ia belum bersiap-siap. Donghae masuk ke kamar, mengenakan celana biru gelap dan kemeja krem. Diusapkannya sedikit mousse di rambutnya dan menyemprotkan parfume. Tidak ada yang berbeda dengan biasanya. Donghae tertawa dalam hati saat berdiri di depan cermin. Kepanikannya sama seperti sepuluh tahun lalu.
Suara bel pintu membuat Donghae terkejut. Ia melangkah cepat menghampiri pintu dan segera membukanya. Mata Donghae melebar melihat penampilan Hyukjae. Kapan kali terakhir ia melihat Hyukjae begitu mempesona? Riasan wajah sederhana, tetapi memperjelas kecantikannya. Mata bulat hitamnya terlihat keemasan terlihat tertimpa lampu.
"Aku terlambat?" tanya Hyukjae melihat ekspresi wajah lelaki di depannya.
"Tidak." Kata Donghae dengan serak. Ia mundur agar Hyukjae dapat melewatinya. Keharuman dari kulit Hyukjae melekat di udara, membuat perut Donghae kram.
Donghae mengikuti Hyukjae tanpa mampu mengalihkan tatapannya dari tubuh Hyukjae. Ketika Hyukjae melepas mantelnya, ia bisa melihat keindahan tubuh lelaki manis itu dalam balutan sweater warna putih dan jeans berwarna hitam. Sangat pas dengan tubuh Hyukjae, terlihat anggun dan begitu imut disaat bersamaan. Donghae merasakan hantaman hasratnya. Sial!
"Haru dimana?" Hyukjae melihat ruang tengah yang kosong.
"Tidur." Donghae meraih jemari lelaki manis itu untuk mengajak mengikuti langkahnya. Ia berusaha mengembalikan ketenangannya merasakan lembut kulit lelaki manis itu.
Hyukjae pikir ia sedang bermimpi. Matanya terbelalak melihat pemandangan di depannya. "Kau yang menata semua ini?" Hyukjae berkedip kesekian kali. Ia yakin sudah salah lihat, tapi ternyata tidak.
"Iya. Kenapa? Buruk?" Donghae tampak tak yakin.
"Ini bukan buruk, Hae..." Hyukjae berbalik menatapnya dan tersenyum. "ini indah."
Donghae menarik kursi untuk lelaki manis itu. "Kau cantik malam ini." Bisiknya.
Pipi Hyukjae bersemu. "Oh, ya? Dulu kau bilang aku seperti badut."
"Kapan aku bilang kau seperti badut?" Donghae menyalakan dua lilin di meja, lalu duduk di depan Hyukjae.
"Waktu kita akan ke pesta pernikahan anak atasanmu!" Hyukjae berkata jengkel.
Alis Donghae naik mendengarnya. "Apa iya?" ia memajukan tubuhnya, memandang lebih dekat mata bulat itu. "Tapi, kau sungguh cantik."
"Iya, seperti badut,kan?" raut wajah Hyukjae berubah kesal.
"Seperti lelaki manis yang aku tawari taksi denganku dulu." Donghae tersenyum penuh arti sehingga pipi lelaki manis di depannya kembali bersemu. Tawanya lepas ketika Hyukjae menggerakan mulutnya, menyebut gombal tanpa suara.
Kemudian, mata Hyukjae menyapu sekeliling meja. "Kau yang memasak spageti ini?" Hyukjae menunjuk piring besar di tengah meja berisi spageti saus bolognese dengan daging cincang dan taburan keju.
"Ya! Aku membeli buku resep kemarin dan langsung ke supermarket." Donghae menyendokkan makanan itu ke piring Hyukjae. Ia menanti dengan harap-harap cemas. Mungkin, sebentar lagi lelaki manis itu akan memuntahkannya atau menertawakan rasanya yang tidak jelas.
Hyukjae menyendok sedikit bumbu spageti. "Enak." Ujarnya seraya mengulas senyum.
Hyukjae pasti sedang menghiburnya, pikir Donghae. Ia menyendok makanan itu ke piringnya sendiri dan menyuapnya. Memang tidak buruk, tetapi ia tidak yakin kalau rasa seperti adalah enak.
"Seandainya sejak dulu kau belajar memasak, aku pasti punya waktu luang lebih setelah mengajar." Hyukjae tertawa.
Dulu. Mungkin Hyukjae benar, ia terlalu cepat puas sehingga lupa kalau mempertahankan lebih sulit daripada meraih sesuatu. Ia baru tahu, berbuat sesuatu untuk orang yang berarti, seburuk apa pun hasilnya, ada kelegaan tersendiri. Karena seseorang di depannya itu lebih dari sekedar memahami dirinya. Donghae tersenyum, merasakan hangat ruangan itu.
"Kalau bukan dulu, tetapi besok dan hari-hari selanjutnya, Hyuk?" Donghae mentap dalam mata kecoklatan itu.
Hyukjae tampak tertegun. "Maksudmu?"
Donghae menggeleng. "Makan spagetinya." Ia memandang lelaki manis yang duduk di seberang meja makan. Lelaki manis itu yang delapan tahun lalu dinikahinya, yang mampu tersenyum dalam moment seperti apa pun bersamanya, yang mau menunggu tak peduli seberapa lama.
Seluruh perasaan yang begitu dikenal Donghae menerjang hatinya. Dan, terlintas di dalam benaknya untuk berbuat lebih banyak lagi agar senyum lelaki manis itu tetap disana.
.
.
.
Hyukjae tak mengerti apa keinginannya sebenarnya. Seingatnya keinginannya tidak berubah. Ia hanya ingin hidup tenang dan nyaman seperti hari-hari biasa. Namun, yang membuatnya bingung adalah kenyataan bahwa hampir setiap detik Donghae hadir dalam pikirannya. Hyukjae sudah berusaha keras agar bayangan lelaki itu dapat hilang dari pikirannya meski tak mampu.
Perasaan yang hadir kini terlalu menakutkan untuk dipertimbangkan, terlalu tidak mungkin untuk diikuti, dan terlalu berisiko untuk dilanjutkan. Lalu, apa yang menjadi jaminan mereka kelak?
Hyukjae menumpuk piring-piring kotor di meja makan. Hatinya tidak menentu menghadapi kenyataan yang hadir untuk dirinya dan Donghae. Sesaat ia terdiam menatap piring-piring itu hingga tanpa sadar mengarah ke jam tangannya. Ada memori yang sangat kental disana.
Donghae menggenggam jemari Hyukjae, meremasnya lembut. "Sayang, kau suka model jam di pojok itu tidak?" ia menunjuk sepasang jam tangan stainless di dalam lemari kaca.
"Bagus. Tapi ini yang di tengah lebih terlihat manis, Hae." Hyukjae menunjuk jam tangan stainless berwarna biru tua.
"Tapi, nanti aku terlihat manis." Donghae tersenyum menggoda.
Hyukjae melirik jengkel sambil mengurucutkan bibir.
Donghae tertawa tanpa suara. Sekilas, diciumnya rambut istrinya, lalu kembali melihat-lihat isi lemari kaca. "Kau pilih mana selain yang tadi, Hyuk?"
Hyukjae mengamati satu per satu. Semuanya menarik, mempunyai ciri khas masing-masing. Tapi, ini ulang tahun pernikahan mereka yang pertama. Ia menginginkan sesuatu yang spesial dan berarti untuk dirinya dan Donghae. Lalu, matanya tertunjuk pada sepasangan jam tangan stainless warna coklat. "Hae, lihat yang disebelah warna biru tadi."
Lelaki itu mengikuti telunjuk istrinya. Sesaat, ia mengamati. "Pertama dilihat sederhana, tapi semakin dilihat kelihatan mewah. Benar, kan?"
"Ya." Hyukjae mengangguk.
Donghae memanggil petugas toko untuk melihat barang. Sepasang jam itu tampak keemasan tertimpa lampu kekuningan. Di sisi lingkaran, terdapat garis-garis tipis. Keduanya memandangi benda itu, lalu saling tatap.
"Suka?" Donghae bertanya pelan.
"Iya. Aku juga?" Hyukjae menatap suaminya lekat.
Donghae kembali melihat jam itu. "Ya! Kalau semakin diperhatikan, aku jadi mengingatmu."
"Kenapa?"
"Kau memang sederhana, tapi kau istimewa."
Mata Hyukjae memanas. Dadanya sesak.
"Es krim mu, Hyuk?"
Hyukjae berbalik menatap mata pekat Donghae. Masih lelaki yang sama. Tampan, penuh pesona gelap, dan sangat menarik. Selama beberapa detik, Hyukjae terpaku. Ia sulit bernapas.
Donghae meletakkan dua gelas berisi es krim di meja makan. Wajahnya berubah cemas. Dijulurkan tangannya menyentuh pipi Hyukjae. "Kenapa?
"Tidak apa-apa." Jawabnya lirih. Tanpa bisa dekendalikan air matanya keluar.
"Tidak mungkin tidak apa-apa, Hyuk." Donghae menghapus air mata di sudut mata lelaki manis itu. "Kau kenapa?"
"Aku..." Mencintaimu, Hae. Aku masih sangat mencintaimu. Tapi tidak mampu mengucapkannya. Di luar dugaannya, Donghae meraih tubuhnya ke pelukan. Hangat. Menenteramkan. Seandainya masa lalu mereka hanya mimpi dan lelaki ini tidak pernah pergi...
"Apa boleh kita punya...," suara Hyukjae pelan dan ragu di dada bidang itu, "... harapan, Hae?"
Donghae meletakan dagunya di puncak kepala Hyukjae. "Boleh. Kenapa tidak?"
"Walaupun kelihatannya tidak mungkin?" Hyukjae berkata sedih.
"Kenapa tidak mungkin?" Donghae mempererat pelukannya.
Hyukjae terdiam. Ia memejamkan mata menikmati degup jantung lelaki itu. Hyukjae tidak mengerti mengapa semua jadi tak terkendali lagi. Harusnya, ia melupakan seluruh memori mereka. Namun, semakin ia berusaha melupakan, semua semakin mengental.
Sudah sekian lama Hyukjae membangun pertahanan terhadap Donghae. Ia juga membutuhkan waktu panjang mengobati rasa sakitnya. Namun, jika mencintai adalah sebuah kesalahan, ia tidak tahu perasaan seperti apa yang menjadi pembenarannya.
.
.
.
Hyukjae duduk di tikar yang terhampar di atas rumput, menikmati angin yang berhembus sejuk. Perpaduan biru langit dengan hijau perbukitan, suara gemerisik daun-daun di pohon besar yang menaunginya. Di langit, terlihat layang-layang warna-warni menentang garak angin dari mulut Haru saat menarik layang-layang bersama Donghae. Sebuah lengkungan terlihat di bibirnya, merasakan hangat.
Mau tidak mau, Hyukjae mengikuti kehidupan seperti ini yang pernah ada dalam impiannya. Sambil mengamati Donghae yang dengan sabar membantu Haru menarik dan mengulur layang-layang, Hyukjae menimbang-nimbang sesuatu. Apa mungkin ia bisa percaya pada sosok itu lagi, menggantungkan mimpi di sana dan berharap kenyataan untuk mereka benar-benar ada. Ketika Donghae menoleh padanya sambil tersenyum, dada Hyukjae berdebar. Ia tersipu-sipu, mengalihkan matanya dari mata pekat itu ke buku di tangannya.
Haru berlari menghampiri Hyukjae ketika lelah bermain. Anak itu langsung menjatuhkan diri kepangkuannya. Hyukjae meletakan bukunya dan memberikan tempat minum kepada anak itu. Di peluknya tubuh gadis kecil itu sambil melayangkan tatapan pada Donghae. Dilihatnya lelaki itu berjalan ke arah mereka dengan membawa layang-layang yang benangnya sudah digulung rapi.
Donghae duduk di sisi Hyukjae seraya mengambil botol air minum. Diusapnya rambut Haru sejenak, lalu berbaring di tikar menatap langit. Padang rumput diselimuti keheningan. Angin bertiup menerbangkan anak-anak rambut. Perlahan-lahan, Donghae memejamkan mata, menikmati kedamaian.
"Sonsengnim, Haru mengantuk." Ujar Haru sambil mengucek matanya.
Hyukjae menarik bantal kecil, yang semula menjadi sandarannya, agar Haru bisa meletakkan kepalanya. Ia ikut berbaring dalam posisi miring karena Haru memeluknya, bersandar di dadanya. Anak itu telah tertidur. Hyukjae mengusap punggung mungilnya. Matanya sendiri terasa berat, tetapi dipaksakannya menatap Donghae yang terlihat begitu tenang.
"Siapa yang tinggal dirumah... Gangnam sekarang, Hae?" Hyukjae hampir menyebut rumah kita dalam pertanyaanya.
Donghae membuka mata, menoleh ke arahnya. "Tidak ada. Setelah kita berpisah, aku menyewa apartemen di Seoul dan rumah itu kosong. Tapi, aku menyuruh paman Kim untuk merawat kebun, kolam renang dan bersih-berih."
Hyukjae hanya menanggapi dengan senyuman. Entah mengapa ia rindu rumah itu. Rumahnya dan Donghae. Dengan rumput yang segar setiap pagi, kolam renang yang berair dingin, tetapi hangat jika berada di dalamnya, ruang tengah yang luas, kamar mereka yang harum. Ia yakin paman Kim—pembantu Eomma Donghae—bisa tetap menjaga keindahannya.
"Kau mau tahu sesuatu, Hyuk?" Donghae ikut memiringkan badannya menghadap lelaki manis itu. "Aku tidak tahu ini gila atau tidak, tapi aku merasa sedang berada dirumah itu. Diatas rumput halaman belakang, mencium aroma air kolam."
"Bukankah bagimu rumah itu tidak spesial?" Hyukjae menahan sakit yang tiba-tiba saja datang mendera hatinya.
Sesaat, tercipta keheningan antara mereka. Mata keduanya saling membaca apa yang masing-masing di simpan. Tentang kehilangan, kerinduan, perpisahan, rasa sakit, kemarahan, kebencian, kekecewaan, rasa bersalah, dan berjalan.
Donghae melepaskan genggamannya, berganti mengusap pipi Hyukjae. Rindu membuatnya sesak. "Seandainya aku bisa mengubang apa yang terjadi, Hae." Ujarnya pelan dan lirih.
Tangan Hyukjae menyentuh tangan yang berada di wajahnya. Suasana yang begitu kental antara mereka. Ia merasa seperti pulang. Rasa nyaman, aman, dan utuh, seperti tidak akan pernah berakhir. Perasaan yang hadir sangat mereka kenal. Hyukjae merasa ruang yang pernah ada dalam hatinya kembali terbuka kerena lelaki itu mulai melihatnya. Sebagai dirinya. Tanpa bisa dicegah, ari matanya mengalir.
Donghae mengusap pipi yang basah itu. "Aku salah ngomong, ya?"
Hyukjae menggeleng sambil mengulas senyum. Tetap di sini, Hae. Karena setiap aku membuka mata, aku tahu kau bersamaku. Bulir bening matanya tidak bisa berhenti mengalir. Mungkin, ia bisa mulai percaya. Mungkin, ini satu langkah awal menuju langkah-langkah berikutnya. Hatinya menyimpan resah, tetapi ia juga tahu dari segala kelumit kehidupan tersedia berbagai kemungkinan—salah satunya ada diantara mereka.
Donghae mendekatkan tubuhnya, meraih tubuh Hyukjae dan Haru dalam pelukannya. Matanya terpejam, menahan desakan. Nalurinya untuk melindungi kedua lelaki manis dan gadis kecil ini muncul. Kalau ada kesempatan dari Tuhan untuk dirinya dan Hyukjae, tidak akan dilepaskannya lagi lelaki manis ini. Tidak akan dibiarkannya terluka. Tidak akan dibiarkannya sinar bahagia di matanya menghilang. Donghae menunduk, mencium puncak kepala Hyukjae, dalam dan lama.
.
.
.
TBC
.
.
.
Maaf, Maaf, Maaf, untuk semuanya. Ini ngareeeetttttttt banget kan? Sekali lagi Maaf. Tiba-tiba penyakit males ngetik datang. Terus juga tugas-tugas kuliah datang silih berganti T.T
Untuk bab 14 aku kayaknya bisa update tahun depan deh, gak apa-apa kan? Kkkkkkk~ fanfic remake ini aku janji bakal di selesaikan sampai Endingnya, karena aku udah niat dari awal. Oh iya maaf juga untuk typo yang bertebaran /bow/
Terima kasih untuk yang sudah me-review.
.
.
.
Big Love
Cutie Monkey.
