Disclaimer: Seventeen belongs to Pledis Ent.
Warnings: Boys Love, Shonen-ai, Yaoi, Vamp!Fict, Romance!Fail, AU, Typos, OOC, OC, etc.
Pairings: Soonhoon, Meanie, Verkwan, Jeongcheol …dkk.
.
.
.
Jihoon pernah mengalami ini sebelumnya. Dia kembali melihat mini dirinya yang bermain dengan mini Soonyoung di sana. Dia ingat. Nama bocah itu Soonyoung. Bocah paling pertama yang mengajaknya mengobrol dan menjadi temannya.
"pasien kira-kira berumur belasan tahun, tertabrak mobil, kondisinya kritis."
Dengan kepercayaan bahwa kedua bocah mini itu tak dapat melihatnya Jihoon mendekat. Dia ingat. Dia pernah bermain bersama Soonyoung dulu-dulu sekali. Hanya Soonyoung temannya. Sebelum akhirnya dia bertemu dengan Wonwoo dan Mingyu.
"cidera pada bagian kepala. Benturan di kepalanya serius."
Jihoon sudah tepat berada di belakang keduanya saat mini Soonyoung menoleh dan menatap matanya. Melihatnya. Dia kelihatan?
"Jihoonie?" panggilnya dan mini dirinya yang menyahut. Sementara Jihoon tau benar pada siapa Soonyoung mini berbicara.
"pasien kehilangan banyak darah. Cek golongan darahnya dan siapkan alat transfusi."
"kau bisa melihatku?" Jihoon bertanya. Kini mini dirinya juga menoleh dan sama seperti mini Soonyoung, Jihoonie mini juga melihatnya. Dia kini nyata bagi mereka. Senyata mereka bagi Jihoon.
"golongan darah pasien A+ alat transfusi sudah disiapkan. Pasien siap dibawa ke meja operasi!"
Soonyoung mengangguk iya, mampu melihat Jihoon dengan jelas sekali pada dasarnya, sedangkan Jihoonie mini menatapnya masam tidak terima. Soonyoung menatap seseorang yang mirip dirinya. Bukan dia yang sebenarnya.
"pasangkan masker oksigennya."
Jihoon berlutut di hadapan mereka. Menatap keduanya bergantian sebelum buka suara. "kalian kenal siapa aku?"
"Awasi denyut jantungnya."
Soonyoung kecil mengangguk sementara mini Jihoonie membungkam mulutnya dengan ekspresi wajah yang masih sama. Melihat mini dirinya membuat Jihoon sadar betapa menyebalkannya dirinya sendiri.
"pasien mengalami kegagalan pernafasan."
"kau Jihoonie besar. Yang sudah dewasa." Soonyoung kecil menanggapinya. "aku suka Jihoonie yang sudah dewasa. Lebih manis." Perkataan polos lugu diucapkan Soonyoung kecil. Akan beda perkara kalau the real Soonyoung yang mengucapkannya.
"gunakan alat bantu pernafasan."
Jihoon tersenyum. Senyum yang nyatanya mampu membuat pipi gembul Soonyoung dan Jihoonie mini sekalian memerah. Hanya saja beda alasan bagi keduanya. Soonyoung kecil blushing sementara Jihoonie mini, dia marah.
"masukan selang oksigennya!"
"kau sudah punya Soonyoung yang dewasa. Soonyoungie punyaku." Jihoonie mini memeluk Soonyoung kecil protektif kemudian. Jihoon tak kaget sama sekali melihatnya. Semuanya mengalir dan terasa benar begitu saja. Seperti memang harusnya begitu keadaannya.
"denyut jantung pasien melemah."
"kalau begitu jaga dia baik-baik, jangan sampai kau kehilangannya." Miris bagi Jihoon, nyatanya dia sudah kehilangan Soonyoung miliknya. "jangan egois atau dia akan membencimu seperti Soonyoung dewasa membenciku."
"jantung pasien berhenti berdetak."
Setelah semua yang sudah dilakukannya, dengan semua attitude Jihoon selama ini, Soonyoung harusnya membencinya. Seharusnya begitu logikanya. Jihoon tersenyum, senyum masamnya. Dia mampu menceramahi mini dirinya. Sedangkan hidupnya sendiri terlanjur berantakan.
"siapkan alat kejut jantung!"
Jihoon berdiri kemudian. Dia sudah selesai. Setidaknya sudah usai baginya. Percuma menyesali yang sudah terjadi terlebih karena dia sendiri. Menerima menjadi jalan satu-satunya untuk bisa bebas tanpa meninggalkan beban.
"saatnya pergi."
"1, 2, 3 clear!"
Jihoon jatuh berlutut dengan mencengkram bajunya di area jantung. Ada sesuatu yang menyengatnya di sana. Serasa menyentuh langsung tepat pada jantungnya.
"no respon, coba lagi."
"aku belum mau mati." Jihoonie mini yang berkata. Sama persis dengan apa kata hatinya. Dia juga sama tapi sudah tak ada niat baginya untuk kembali.
"1, 2, 3 clear!"
"Jihoonie mau mati? Jangaaan!" Soonyoung memeluknya, menangis sekalian. Memeluk mini dirinya erat tak ingin melepaskan, dan Jihoon merasakan sentuhan tangan Soonyoung mini sampai ke tubuhnya. Seperti ada seseorang tak kasat mata yang juga memeluknya.
"1, 2, 3 clear!"
"nanti aku sama siapa? Main sama siapa? Aku mau Jihoonie!" Soonyoung merengek.
Jihoon ingat memorinya yang ini. Soonyoungie adalah tipe crybaby. Dirinyalah yang selalu sok kuat. Menahan ekspresinya sesakit atau sesenang apapun dirinya dan itu yang dia lihat pada mini dirinya kini. Mata bulat itu memerah tapi tak menangis.
"masih no respon!"
Jihoonie mini balas memeluk Soonyoung kecil dan menepuk punggungnya. Menenangkan orang lain sementara dirinya sendiri tak tenang. "aku tidak akan ke mana-mana. Tempatku di sini. Bersama Soonyoungie. Aku janji." Di akhir kalimatnya Jihoonie mini menatap Jihoon dan mengingatkannya tentang semua.
"jantung pasien kembali berfungsi!"
"pulse jantung kembali normal."
"pernafasan mulai stabil."
Jantung Jihoon kembali berdetak. Demi sebuah janji pada teman masa kecilnya.
.
.
.
Soonyoung berlari menyusuri lorong rumah sakit tidak sabaran. Kabar bahwa Jihoon kecelakaan lebih dari cukup bagi Soonyoung untuk membuatnya gila. Sebenci itu kah? Sebegitu hina kah menjadi seorang vampire? Sampai Jihoon memilih pergi bahkan di tengah badai sekalipun.
Jeonghan, Jisoo dan Seungcheol mengikuti di belakannya. Berlari kecil mengejar Soonyoung tak ingin ketinggalan. Mereka semua tak kalah panik saat mendengar kabar bahwa Jihoon kecelakaan dari ponsel Jihoon sendiri. Seseorang yang menabraknya yang menelpon.
"kau Seokmin?" Soonyoung mendekati seseorang yang mondar-mandir di depan UGD dan menanyainya.
"Jeonghan?" tanya Seokmin. Seseorang yang dia hubungi tadi nomornya bernama Jeonghan.
"bukan, aku Soonyoung. Pacar dari orang yang kau tabrak!" emosi. Hampir saja melayangkan sebuah pukulan kalau bukan Seungcheol yang menahannya.
Jeonghan maju. "aku Jeonghan. Terima kasih sudah menelpon. Bagaimana keadaan Jihoonie?"
Seokmin yang sebelumnya memandangi orang yang hampir memukulnya kemudian menghadap Jeonghan dan menggeleng muram. "masih belum ada kabar. Dokter masih belum keluar dari ruang operasi."
Bukan jawaban yang memuaskan. Jeonghan mengintip kaca buram ruang UGD yang sama sekali tak memberikan clue apa-apa. Bagaimana keadaan Jihoon di sana? Apa yang terjadi padanya? Jeonghan sungguh khawatir padanya.
Orang tua Jihoon sudah dihubungi olehnya sebelum kemari tadi. Tak ingin mengejutkan sepasang orang tua tapi kabar yang dia beritakan memanglah mengejutkan. Anak pertama mereka kecelakaan dan masuk UGD.
Seungcheol melepaskan Soonyoung dengan perjanjian tak ada pukul-pukulan. Seungcheol juga menceramahi Soonyoung tentang betapa dia harus berterima kasih pada orang yang menabrak Jihoon sebab dia jugalah yang membawa Jihoon ke rumah sakit. Kalau tidak?
"aku minta maaf, ini semua benar-benar tak di sengaja." Seokmin, pemuda tadi sungguh-sungguh meminta maaf. 3 wajah cemas dan 1 wajah cemas emosi sangat cukup untuk membuatnya merasa bersalah. Terlebih seorang peri kecil yang dia tabrak. Bocah manis yang tak disangkanya berpacaran sudah.
Jisoo menepuk punggungnya. Dia tau. Orang di hadapannya ini menyesal bahkan sudah sampai ke titik penyesalan yang terdalam. Bisa dipastikan dia ketakutan jika orang yang ditabraknya tidak bangun lagi karena dirinya. Perasaan bersalah itu melingkupinya.
Pintu kaca ruang UGD bergeser terbuka dengan seorang dokter yang masih berpakain steril lengkap menghampiri mereka. "keluarga pasien?" tanyanya setelah membuka masker.
"saya kakaknya, Dok." Jeonghan menghadap. Dibawa sedikit menjauh sebelum diberitau apa dan mengapa Jihoon sebenarnya.
Soonyoung menenangkan diri kemudian. Pasang telinga baik-baik agar bisa mencuri dengar perbincangan rahasia nan jauh di sana. Tak dipungkiri Jisoo dan Seungcheol sebenarnya juga sama.
"dia sudah melewati masa kritisnya. Kondisinya stabil untuk sekarang." berita baik Dokter beritaukan.
Jeonghan menghela nafas lega Jihoon berhasil bertahan. "jadi Jihoonie tidak apa-apa, Dok?" tanyanya memastikan. Raut wajah sang dokter berubah serba salah. Dia dokter dan sudah menjadi kewajibannya memberitaukan kebenaran sesakit apa pun itu. "Dok? Ada apa?" Perasaan Jeonghan tidak enak.
"masa kritisnya memang lewat tapi pendarahan di kepalanya membuatnya berada dalam kondisi koma sekarang."
Tak mampu berkata. Mereka semua. Jeonghan, Seungcheol, Jisoo, Soonyoung sekalipun. Jeonghan menutup mulutnya hampir memekik tidak terima. Matanya mulai berkaca-kaca dan akan tumpah sebentar lagi.
"koma? Tapi ada kemungkinan Jihoon akan bangun kan, Dok?" serak, Jeonghan bertanya.
Sang Dokter tersenyum memberi harapan, namun sayang hambar meragukan. "kemungkinan pasien untuk bangun selalu ada, tapi pasien menderita cedera pada punggung. Kalaupun sadar, kemungkinan pasien akan lumpuh. Maaf."
Dia pergi. Dokter itu pergi. Dengan sebelumnya mengatakan maaf atas keterbatasannya sebagai dokter yang hanya bisa mencoba menyelamatkan bukan mengubah takdir.
Jeonghan menangis setelahnya. Kekacauan yang terjadi tak bisa dibereskan sama sekali. Berantakan yang benar-benar parah. Jihoon koma. Kalaupun sadar dia lumpuh. Lalu bagaimana? Pilihan terbaik mana yang terbaik untuk Jihoon saat kedua opsi untuknya membuatnya menderita.
Seungcheol mendekat dan memeluk Jeonghan. Dia mendengar lebih dari cukup untuk mengerti. Mereka yang mendengar saja belum tentu bisa memilih, bagaimana dengan Jihoon yang mengalaminya? Apa yang akan dilakukannya?
Jihoon dipindahkan dari ruang UGD ke ruang perawatan biasa. Bisa mereka jenguk. Melihat jelas bagaimana Jihoon tertidur lelap dengan beberapa luka lecet dan perban di kepalanya. Ada beberapa alat disekitar tubuhnya yang membantunya tetap bernafas agar tak kelepasan terlelap selamanya.
Wonwoo datang bersama yang lainnya juga. Dia yang paling cepat sampai ke dalam ruangan sebelum akhirnya Seungkwan, Junhui dan yang lainnya masuk menyusul. Wajahnya kusut, terlihat jelas marah sehabis bangun tidur.
"hyung?" panggilnya pada Jeonghan. Wonwoo berdiri di sisi lain Jeonghan pada ranjang Jihoon. "bagaimana keadaanya?" tangan Wonwoo menyentuh tangan dingin Jihoon yang terjepit alat entah untuk apa.
Jeonghan tersenyum lemah. Untungnya Jihoon masih hidup. Dari senyum kemudian mata Jeonghan kembali berair dan Wonwoo sama sekali tak ingin menyimpulkan spekulasi apa-apa dari itu.
"maaf, tapi apa aku boleh tau apa yang Dokter katakan tentang keadaannya?" Seokmin, semenjak tadi tak tau sama sekali apa yang terjadi.
Jisoo bergerak. Membawa Seokmin keluar untuk membicarakannya. Dengan Wonwoo dan mereka-mereka yang ingin tau ikut serta. Melaporkan apa yang ditaunya pada Seokmin tanpa terkecuali. Memberitaukan kebenaran yang terjadi pada Jihoon akibat kecelakaan yang menimpanya oleh Seokmin.
Penyesalan? Seokmin bahkan rela menukar agar dirinya yang berbaring di sana sekarang.
Sekitar 3 jam berlalu saat kedua orang tua Jihoon datang bersama Chan. Langsung masuk ke ruangan di mana Jihoon dirawat dan dengan segera meminta penjelasan bagaimana kondisi anak mereka sekarang.
Jeonghan bersama Seungcheol di dalam ruang rawat Jihoon menjelaskan semuanya. Meminta maaf ratusan kali atas lalainya dia menjaga Jihoon sebelum akhirnya keluar dari ruangan dan memberikan kesempatan pada keluarga Jihoon untuk bersamanya.
Dari luar bisa mereka dengar tangisan memilukan seorang ibu yang meratapi kejadian luar biasa yang menimpa anaknya. Mereka dengar dan rasakan sendiri bagaimana tangisan saja bisa mengiris hati dan mengirimkan rasa sakitnya agar bisa mereka semua rasakan.
Chan keluar dari ruangan dengan mata sembabnya. Berlalu menuju toilet rumah sakit. Dia tak tega. Dia tak tega melihat Jihoonie hyungnya yang penuh luka, belum lagi tangisan ibu mereka yang memilukan.
Seungkwan menyusulnya. Sempat memberi kode pada Hansol agar dia saja yang pergi karena dilihatnya Hansol juga siap akan mengikutinya. Seungkwan masuk ke dalam toilet dan tak menemukan siapa pun di sana. Namun di salah satu bilik toilet di dengarnya seseorang terisak.
"Chanie-ya?" Seungkwan mengetuk bilik yang tertutup itu dari luar.
Isakan itu berhenti kemudian. "iya hyung?" tanyanya, suaranya serak. Itu benar Chan. Pintu bilik kemudian terbuka dengan Chan yang sudah menghapus bersih air matanya. "ada apa hyung?"
Seungkwan tak menjawab. Dengan segera dia memeluk Chan erat-erat sekali. Dia anak tunggal tapi dia sudah menganggap Jihoon sebagai hyungnya sendiri. Dia tau rasa sakitnya. Dia yang orang lain mengetahui bagaimana sakitnya. Apa lagi Chan yang benar-benar berbuhungan darah dengan Jihoon. Hyung kandungnya.
"aku minta maaf, aku minta maaf." Dan begitu seterusnya. Seungkwan meminta maaf atas semuanya yang menimpa Jihoon. Bukan karena dirinya tapi Seungkwan merasa harus mengucapkannya. Sebanyak mungkin. Ingin menebus, sayang tak kan bisa.
Chan speechless. Membalas pelukan Seungkwan sebelum kembali beruraian air mata. Kenapa ini menimpa hyung-nya? Jihoonie hyung-nya? Hyungnya tidak sejahat itu. Tidak jahat sama sekali. Kenapa kejadian buruk menimpanya?
.
.
.
Mingyu tak tau haruskah dia senang atas semua kejadian yang menimpa Jihoon. Jihoon koma. Dan Wonwoo tetap mencintainya. Kalaupun Jihoon pergi sekalipun Wonwoo masih akan mencintainya. Lalu apa?
Saat itu dia sadar, tak ada yang mampu mengubah perasaan hati. Jika Wonwoo menyukai Jihoon, jika dia bahagia. Mingyu berhak mengabulkannya sebagai bukti dia cinta dan merelakan. Tapi bagaimana dengan Jihoon sendiri? Apa dia mencintai Wonwoo balik? Lalu Soonyoung?
Orang tua Jihoon dan Chan sudah pergi dari rumah sakit di antarkan Jeonghan dan Seungcheol. Mereka menuju penginapan rumah sakit untuk beristirahat. Setelah bergelut sengit dengan ibu juga adik dari Jihoon yang sama keras kepalanya. Keduanya beserta ayah Jihoon akhirnya setuju untuk pergi beristirahat.
Sempat terkagum dibuatnya saat keteguhan seorang ayah yang masih mau memeluk penabrak anaknya dengan welcome bahkan mengucapkan terima kasih yang teramat sangat karena menyelamatkan anaknya. Beban bagi Seokmin yang semakin dirundung rasa bersalah.
Jisoo memaksa Seokmin juga untuk beristirahat juga. Pulang juga boleh sebenarnya, tapi Seokmin sendiri yang memilih untuk bertahan. Hasil akhirnya Seokmin setuju untuk beristirahat setelah dijanjikan dia yang menjaga Jihoon esok pagi.
Yang lainnya tinggal di lorong rumah sakit, sementara Wonwoo dan Seungkwan yang diberi wewenang untuk menjagai Jihoon malam ini. Seungkwan duduk di sofa tamu sementara Wonwoo masih bertahan di sisi Jihoon. Bertekad akan tetap di sana sampai Jihoon sadar. Dan akan selalu bersamanya apapun yang terjadi.
"akan mudah bagimu kalau kau mengubahnya sekarang, hyung." Mingyu benar-benar tak bisa menyimpan buah pikirannya untuk dirinya saja. "dia koma, kalaupun dia sadar, dia lumpuh, jalan lain yang bisa diambil hanyalah mengubahnya. Dia sadar, kembali sehat, tanpa kekuarangan sesuatu apa pun. Semua senang." Mungkin. Kecuali dirinya. Masuk akal.
"dia bahkan rela mati hanya demi tak diubah. Apa jadinya saat dia tau di bertahan hidup dengan menjadi vampire?"
"kau akan membiarkannya tetap seperti itu? Tertidur lelap tanpa ada yang tau kapan bangunnya." Entah apa gunanya. Mingyu sendiri tak mengerti untuk apa dia memprovokasi Soonyoung untuk mengubah Jihoon. "atau mungkin kau akan membiarkannya bangun dengan kenyataan bahwa dirinya lumpuh akibat melarikan diri dari mahluk yang paling di anti-nya."
Soonyoung menghela nafasnya. Dia jelas ingin bersama Jihoon. Sangat jelas ingin mengubahnya. Tapi kembali lagi. Itu semua juga sudah sangat jelas bukan kemauan Jihoon. Jihoon tak ingin bersamanya, tak ingin menjadi sepertinya. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Memaksakan kehendak?
Bungkam adalah jalan terbaik baginya sekarang. Soonyoung tak tau apa yang lebih baik dari pada diam. Jika berkelahi dengan Mingyu adalah yang terbaik mungkin sudah sedari tadi dia lakukan.
Wonwoo keluar dari ruang perawatan Jihoon, Seungkwan ditinggalnya bersama Jihoon lantaran sudah tertidur. Matanya memerah, jelas dia habis menangis lagi. Wajahnya juga pucat. Dia masih demam, tadinya sudah turun namun kini naik kembali bahkan semakin tinggi.
"aku punya satu permintaan." Hampir menangis kembali namun tertahan. Tarik nafas. Hembuskan. "kumohon ubahlah Jihoon."
Kening Soonyoung terlipat tak mengerti. "Wonwoo—"
"aku tak sanggup melihatnya begini. Dan aku juga tak kan sanggup melihatnya ketika sadar nanti." Tetesan pertama. Permulaan dari satu aliran air mata pada pipinya. "mengubahnya adalah satu-satunya cara. Yang terbaik bagi Jihoon juga semuanya. Jihoon pasti mengerti. Kau juga tau kan?"
"aku tak tau." Soonyoung meragu. Dua suara mendukung dia mengubah Jihoon. Tunggu apa lagi? "aku tak ingin dia membenci—"
"dia sudah membencimu. Dan yang aku tau kau tak peduli akan hal itu. Kenapa kau peduli sekarang?" di akhir kalimatnya Wonwoo tumbang. Dia sudah pada limitnya. Panas sudah menyebar rata ke seluruh tubuhnya dan seperti biasa Mingyu yang menangkapnya. Mengurusinya sekalian.
"semuanya kembali padamu, hyung." Mingyu membenarkan posisi Wonwoo sebelum menggendongnya.
"hyung?" panggil Soonyoung pada Jisoo. "aku harus bagaimana?"
Junhui menggeram. "Jihoon itu milikmu atau Jisoo? Sampai kau harus menanyai pendapatnya?"
"Jisoo hyung pasti langsung mengubahnya jika itu Jeonghan hyung yang berada di dalam sana." Minghao berkata. Junhui menutup mulutnya.
"kau yang beritau aku, kami semua harus apa?" Jisoo bertanya balik.
"aku—" biarkan Soonyoung memikirkannya sebentar. "aku akan mengubahnya."
"tunggu di sini sebentar." Soonyoung berlalu kemudian.
"aku juga pergi dulu kalau begitu." Mingyu pamit.
"kau harus belajar apa itu cinta dari Wonwoo. Dia paham benar arti cinta dari sudut pandang pengorbanan." Jisoo berkata sebelum Mingyu benar-benar berlalu.
"bagaimana kalau dia yang belajar dariku lewat sudut pandang perjuangan." Mingyu pergi setelahnya. Demam yang diderita Wonwoo tidak cukup pantas untuk dirawat di rumah sakit. Dia akan membawanya ke penginapan rumah sakit malam ini.
Cukup lama hingga akhirnya Soonyoung kembali dengan tiga orang berjas dokter bersamanya. Jas dokter. Tiga dokter sekaligus dia bawa. Tiga-tiganya vampire seperti mereka. Vampire dapat mendeteksi vampire lain tentu saja.
"bantu aku," Soonyoung memanggil mereka semua dan masuk ke ruang rawat Jihoon. "kau urus Seungkwan." katanya pada Hansol.
Para dokter melepas beberapa alat bantu dari tubuh Jihoon dan membiarkan beberapa yang penting sekali kegunaannya. Selang oksigen contohnya.
"tolong pegangkan ini." Sebuah kantong infuse di julurkan kepada siapa saja yang ingin memegangnya. Minghao maju menerima. "jangan di tekan. Pegang menggantung di atas seperti ini." Dokter bername tag Jonghyun memperagakan caranya dulu sebelum menyerahkannya pada Minghao.
"kau tolong dorongkan tabung oksigennya. Perhatikan selangnya. Jangan terlalu dekat juga jangan terlalu jauh. Tabung ini nafasnya." Soonyoung kena tunjuk membawa yang terpenting oleh Dokter Minhyun.
"tak heran kau ingin mengubahnya." Dokter bername tag Minki berkomentar. "aku juga akan mengubah satu yang seperti ini nanti."
"langkahi dulu mayatku dan kau bisa mengubah satu." Dr. Jonghyun menyahut. Jelas ada apa-apa di antara keduanya.
"kalian bisa berkelahi setelah ini selesai. Tolong fokus." Dr. Minhyun yang paling serius. Sumpah dokter dia pegang teguh sekali walau dia vampire sekalipun. Manusia tetaplah manusia. Hidup dan mati mereka bukan permainan.
"kau, bantu dorong." Panggilnya pada Junhui. Bersama dengan Dr. Minhyun dia bertugas mendorong ranjang Jihoon. "dan kau bantu mengarahkan." Kali ini pada Jisoo dibantu Dr. Jonghyun. "kita lakukan ini dengan cepat. Ini tindakan illegal sebenarnya. Tapi pengecualian bagi kita." Kita dalam tanda kutip tentunya.
Dengan cepat seperti request-an Dr. cantik Minki tadi mereka mendorong ranjang Jihoon dengan segera. Diikuti dua orang yang kebagian memegangi infuse juga mendorong tabung oksigen. Bak sedang emergency sungguhan masuk ke dalam ruang UGD agar tak menimbulkan kecurigaan.
Ketiga dokter kembali mengurusi alat-alat yang terhubung pada tubuh Jihoon. Memasangnya kembali dan menyiapkan alat transfuse dua arah. Alat yang mengalirkan darah seseorang ke satu kantong dan langsung ditransfusikan ke orang lain.
"berbaring di sini. Yang lainnya menunggu di luar." Dr. Minki menepuk ranjang dorong kosong di sebelah ranjang Jihoon. Soonyoung patuh. Yang lainnya juga. Tanpa disuruh dua kali segera keluar.
Alat transfusi masing-masing terpasang sudah di pergelangan tangan Jihoon dan Soonyoung.
"siap atau tidak, kita mulai sekarang."
.
.
.
Mingyu keluar sebentar dari penginapan yang direntalnya. Meninggalkan Wonwoo tidur meringkuk setelah dua selimut ternyata tak mampu menghilangkan rasa dinginannya. Mingyu keluar berbelanja beberapa bahan di swalayan lantai dasar sebelum menuju dapur umum yang untungnya disediakan penginapan rumah sakit ini di setiap lantainya. Tujuan utamanya, membuatkan sesuatu yang hangat untuk Wonwoo.
Kurang perhatian apa dia? Setaunya manusia mengincar seseorang yang perhatian sepertinya saat Wonwoo malah menolaknya mentah-mentah untuk seseorang yang bahkan tak pernah melihatnya sebagai seseorang yang istimewa. Sebut saja namanya Jihoon.
Jihoon menganggap Wonwoo sebagai teman. Sahabat paling maksimal. Dan ingatan Wonwoo salah mengingat Jihoon sebagai dirinya. Mingyu, orang yang seharusnya dicintainya dengan benar.
Jisoo sudah memberitaukannya tentang adanya kemungkinan Wonwoo salah mengingat dirinya sebagai Jihoon. Yang logikanya bukan tidak mungkin bisa terjadi. Tidak salah bagi Mingyu untuk menyalahkan semuanya pada Seungcheol yang berperan penting dalam lupanya Wonwoo.
Mingyu selesai dengan sup panas di tangannya. Memanfaatkan secup mie, Mingyu mampu merombaknya menjadi secup sup untuk Wonwoo lengkap dengan bahan lengkap sup idealnya.
Tepat pada saat Mingyu masuk, saat itu juga dia menemukan Wonwoo sudah terbangun. Terjaga masih dengan melilit selimut pada tubuhnya.
"Jihoon?" kata pertama yang tak diharapkan Mingyu akan keluar dari bibir pucat Wonwoo-nya.
"Soonyoung hyung yang mengurusinya. Ada kemungkinan dia mengabulkan keinginanmu." Mingyu mendekat padanya. Memberika cup sup-nya pada Wonwoo. "untuk menghangatkan tubuhmu."
Wonwoo tanpa ragu menerimanya. Panas. Masih baru. Dari Mingyu. Wonwoo dibuat berpikir bahwa selalu Mingyu-lah yang memperhatikannya. Terlepas dari segala usaha yang Wonwoo lakukan untuk menjauhi Mingyu. Ini baru spekulasinya saja, dia tak menganggap itu sebagai kebenarannya, tapi jika saja bukan Jihoon yang selalu ada dipikirannya, mungkin Wonwoo sudah jatuh pada Mingyu atas semua perlakuannya.
"aku bermimpi." Di tengah aktivitas masing-masing Wonwoo buka suara. Mingyu yang sedang memilihkan obat mana yang akan diminum Wonwoo menghentikan sejenak kegiatannya. "aku memimpikanmu. Selalu dirimu. Tapi dalam setting-an masa kecilku." Selalu mimpi yang sama dan itu-itu saja.
Mingyu melanjutkan memilah dan membawa satu yang menurutnya pas pada Wonwoo. Lengkap dengan segelas airnya. "jadi, masuk kategori mimpi indah atau buruk kah mimpi dengan diriku di dalamnya?" Mingyu mengambil posisi di pinggir kasur setelah meletakan obat dan gelasnya di atas meja.
"bukan keduanya." Sambil menyeruput sup. "aku ingat benar bagaimana masa kecilku dan dimimpiku kau menggantikan posisi Jihoon di sana. Aneh."
Mingyu menghela nafasnya. Wonwoo benar salah ingat. "bagaimana jika yang dimimpi itu lah yang benar dan yang kau ingat itu salah?"
"itu tidak mungkin, aku benar—"
"tidak ada yang tidak mungkin. Eksistensiku bisa menjadi satu contohnya." Wonwoo tak membalas. Memang, bukan tidak mungkin. Tapi… "kau sudah selesai? Sekarang minum obatmu, setelah ini istirahat." Mingyu bergerak mengambil cup kosong di tangan Wonwoo dan menggantinya dengan segelas air, plus obatnya.
"terima kasih," untuk segalanya. Untuk perhatian yang dia tidak bisa balaskan setimpal dan seharusnya.
"bukan masalah. Aku bahkan rela mati untukmu asal kau tau saja." Bercanda. Tapi jangan diragukan kebenarannya.
"kau—"
"jangan dibahas. Sekarang istirahat. Jika kau tidur sekarang, besar peluangmu untuk bertemu Jihoon pagi-pagi sekali." Mingyu sakit sendiri saat mengucapkannya.
"kau mau kemana?" tanya Wonwoo ketika dilihatnya Mingyu berkemas entah untuk apa.
Mingyu menoleh sejenak. "tidak ke mana-mana. Ada apa?" tanyanya. Wonwoo tinggal sebut apa kebutuhannya dan Mingyu akan memberikannya.
"temani aku," Wonwoo berbisik luar biasa pelan. "untuk malam ini saja, temani aku." Kali ini lantang.
Ada banyak kemungkinan dari kata 'temani aku' yang Wonwoo katakan. Tapi Mingyu akan menyimpulkan satu menurut versinya dan dengan segera di laksanakan. Mingyu menyibak dua selimut yang membungkus Wonwoo dan masuk ke dalamnya. Bergabung duduk berbagi panas yang masih dingin bagi Wonwoo pribadi.
"kuanggap kau memberiku harapan." Mingyu tanpa persetujuan siapa-siapa menarik Wonwoo rapat bersender padanya.
"aku lelah melarangmu. Kita punya anggapan masing-masing." Dengan sadar Wonwoo memposisikan diri dengan Mingyu sebagai sandarannya. Dengan tangan Mingyu yang dibawanya melingkar pada perutnya.
"sebuah pelampiasan kah?" tanyanya. Kalaupun iya dia tak peduli lagi. Hari di mana Wonwoo sendiri yang menginginkannya mungkin hanya terjadi sekali ini.
"aku tak tau, tapi aku berharap padamu untuk membantuku melupakan Jihoon." kepala Wonwoo tepat di bawah dagu Mingyu sehingga dipakai Mingyu sebagai tumpuannya. Perkataan Wonwoo terlanjur membuatnya bersemangat hingga memutuskan untuk berjaga. Tak ingin kehilangan satu momen pun pasca pernyataan paling membahagiakan dalam hidupnya.
Wonwoo tertidur dengan tangannya yang mengenggam tangan Mingyu erat di sana. Seperti memastikan agar tangan Mingyu tak ke mana-mana selain di sana. Jangan sampai terlepas dan harus tetap di sana. Bersamanya.
Jika tadi Wonwoo bilang hanya untuk malam ini Mingyu menemaninya? Sepertinya karena malam ini juga semua itu akan terlaksana lebih dari sekedar malam ini tentu saja.
.
.
.
Banyak yang bilang saat kita berada di dua dunia. Kita dibuat seolah-olah berada di sebuah lorong gelap dengan hanya satu ujungnya yang bercahaya. Dibuat memilih akankah bertahan dikegelapan ataukah melangkah ke arah terang. Kesimpulan yang bisa diambil dari ini semua, terang atau cahaya tidak selalu berakhir baik. Mungkin.
Jihoon memilih terang saat gelap itu sendiri yang menjemputnya. Gelap yang lama kelamaan dia sadar itu berwarna. Gelap kemerahan. Merah kehitaman. Cahaya merah mendatanginya dan menutup cahaya yang tadi dipilihnya.
Semuanya merah. Pada awalnya. Sampai akhirnya matanya terbuka. Nyatanya kegelapanlah yang membawanya pada cahaya. Semuanya putih. Baunya memuakan. Berisik peralatan ber-peep-peep ria. Jihoon sadar dirinya berada di rumah sakit.
"bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit? Aneh barang kali?" Dr. Minki yang bertugas mengawasi Jihoon saat itu.
"Aneh. Aku tidak merasakan sakit." Jihoon mengecek dirinya sendiri yang tak terluka sama sekali. Memperhatikan kedua tangannya dan menggerakan jari-jarinya. Dia baik-baik saja tapi semuanya terasa salah.
"kau baik-baik saja. Haus?" Dr. Minki mengulurkan segelas air mineral padanya. Jihoon menerimanya tanpa berpikir. Ujung gelas sudah menempel di bibirnya, seteguk sudah menyentuh tenggorokannya dan segera dia hentikan kemudian. "ada apa?" tanya Dr. Minki.
Jihoon menggeleng. Kembali meneguk untuk memastikan. Kali ini dia yakin. Air yang diteguknya sama sekali tak berefek. Efek basah sekalipun karena itu air di tenggorokannya sama sekali tak ada. Dia haus dan air sama sekali tak melepas dahaganya.
"aku merasa mungkin ada yang salah dengan sistem pencernaanku. Lidahku mati rasa." Jihoon menolak kemungkinan paling memungkinkan yang muncul pertama kali di kepalanya. Itu hanya air. Mungkin memang tidak seberapa berefek untuk dirinya yang sekarang.
Dr. Minki memperhatikannya. "kau ingat yang terjadi padamu?"
"aku kecelakaan?" Jihoon bertanya balik. Dia ingat. Hanya ingin memastikan.
"dan kau baik-baik saja. Kondisimu stabil, tinggal menunggu keputusan dokter jagamu kapan kau boleh pulang." Dr. Minki pamit undur diri. Anak bernama Jihoon itu belum tau jelas apa yang terjadi. Dia belum 100% baik-baik saja.
"hyung?" Chan masuk ke ruang perawatannya setelah Dr. Minki keluar dari sana.
"Chanie-ya?"
"hyung? Kau baik-baik saja?" Chan merapat ke arahnya dan meneliti pada hyung-nya.
"kau ingin aku kenapa-kenapa?"
"tentu saja tidak. Aku senang kau baik-baik saja." Chan memeluk Jihoon dengan segera setelahnya. "aku senang hyung. Sangat senang kau tak apa." Jihoon membalas memeluk Chan dan menepuk kepalanya. Dia habis kecelakaan, tentu Chan khawatir. Tapi …
"kau pakai parfume apa hah?" tanya Jihoon. Chan mengurai pelukannya.
"parfume?"
"baumu enak." Jihoon mengatakannya. Sedetik setelahnya dia sadar. Ada yang aneh padanya. Kian bertambah persentase-nya mulai dari dia bangun sampai sekarang.
"Jihoonie? Kau sudah sadar?" kali ini kedua orang tua Jihoon yang masuk. Jihoon memastikan memang ada yang salah padanya. Dia bisa mendengar debar jantung kedua orang tuanya. Mendengar aliran darah yang mengalir di pembuluh nadi dari kedua orang tuanya juga Chan sekalian.
"Eomma? Appa? Aku baik-baik saja." Pelukan keluarga. Ini biasa terjadi padanya. Pelukan. Itu biasa. Yang tidak biasa adalah bagaimana bisa Jihoon memikirkan bagaimana rasa darah kedua orang tuanya sendiri di saat-saat seperti ini.
"apa Jeonghan hyung ada di luar?" tanya Jihoon setelah pelukan pada dirinya terurai.
Eomma Jihoon mengangguk. "dia juga yang lainnya ada di luar."
"aku akan menemui mereka." Jihoon menggeser tubuhnya ke samping tempat tidur dan melompat turun dengan segera.
"hyung?" Chan kembali memanggilnya.
"ada apa?"
"kau bisa berjalan?" tanyanya. Matanya melihat jelas Jihoon berdiri dengan tegak sementara telinganya kemarin mendengar bahwa Jihoon akan lumpuh ketika sadar.
"kurasa bisa." Jihoon berjalan. Bahkan melompat. "ada apa sebenarnya?"
"tidak ada apa-apa. Bagus kalau kau sudah baik-baik saja." Appa Jihoon maju dan membawa Jihoon untuk kembali duduk ke ranjangnya. "kau istirahat saja. Biar Appa panggilkan Jeonghan dan yang lainnya."
"Appa mau ke mana?"
"Appa dan Eomma mu akan bicara pada Dokter. Menanyakan kapan kau boleh pulang."
"aku ikut." Chan mengikuti kedua orang tua mereka kemudian.
Jeonghan masuk ke dalam kemudian. Bersama serombongan orang yang jelas Jihoon kenal semua-semuanya kecuali satu.
"kau siapa?" tanyanya pada Seokmin.
Seokmin menelan ludahnya susah kesulitan menjawab.
"dia yang menabrakmu." Soonyoung yang menyahut.
"kau diam." Balas Jihoon. Jihoon bukan bertanya padanya. Junhui hampir tertawa saat Jihoon membungkam Soonyoung.
"aku Seokmin. Dan seperti yang pacarmu bilang, aku yang menabrakmu."
Pacar? "siapa pacarku?" Jihoon bertanya. Seokmin dibuat shock dengan pertanyaannya. Dokter tidak bilang kalau Jihoon lupa ingatan.
"tapi— tapi orang ini adalah pacarmu. Masa kau tidak ingat?"
"dia bahkan tak pernah menembakku. Sejak kapan jadi pacar?"
Muncul sebuah pertanyaan kemudian. Siapa sebenarnya seseorang beraga Jihoon di hadapan mereka sekarang?
"kau belikan aku sesuatu. Sesuatu, apa saja untuk ku makan. Kau yang menabrak ku kan?" entah apa hubungannya membelikan makanan dengan Seokmin yang menabrak Jihoon. Tapi Seokmin tak mempertanyakannya sama sekali dan segera pergi.
"Jihoonie, bagaimana perasaanmu?" Jeonghan buka suara sekeluarnya Seokmin.
"pertanyaan bagus hyung. Kau menanyakan perasaanku ketimbang menanyakan kondisiku. Kuanggap kau sudah tau." Tau bahwa memang terjadi sesuatu dengan dirinya. "kalian mengubahku?" pertanyaan atau pernyataan bertanda tanya. Entahlah.
"darah Soonyoung yang mengubahmu. Kami sama sekali tidak ada hubungannya selain membantu memindahkanmu dari ruang rawat ke ruang operasi." Junhui, seperti biasa. Bicara to the point sudah mendarah daging di keluarga mereka sepertinya.
Tak ada reaksi selanjutnya dari Jihoon. Jujur dia sudah menyiapkan dirinya sendiri akan jawaban yang akan dia dengar nanti. Tapi nyatanya masih tidak bisa dia atasi. Perasaan tidak terima bergejolak dalam dirinya. Jihoon di hadapkan pada kenyataan bahwa dia bukan lagi manusia.
Dia sekarang seorang vampire? Hidup sebagai vampire.
"aku ingin bicara dengan Soonyoung. Hanya berdua." Pintanya.
Atas dasar sadar diri, mereka yang bukan bernama Soonyoung keluar teratur. Jihoon bisa jadi ingin memaki Soonyoung tanpa mendamprat orang lain yang tidak bersalah barang kali. Menghindari kemungkinan memarahi seseorang yang tidak ada sangkut pautnya dengan kondisinya saat ini.
"dengar aku minta maaf, tapi tak ada yang bisa dilakukan selain mengubahmu." Bukanya ketika tinggal mereka berdua di dalam sana.
Jihoon turun dari tempat tidurnya. "aku mengerti."
Soonyoung menggeleng. "kau tidak mengerti." Dia menganggap Jihoon masihlah sama. Mengatakan mengerti hanya untuk menyenangkannya. Membungkamnya. "kau koma. Kalau pun sadar kau akan lumpuh. Semua orang di sini sedih. Orang tuamu, Chan, Wonwoo, Seungkwan, Jeonghan hyung, kami semua. Aku tak ada pilihan lain selain mengubah—"
Perkataan Soonyoung terhenti seketika saat Jihoon menggunakan bibirnya sendiri untuk membungkam Soonyoung. Dengan kedua tangannya Jihoon menarik kepala Soonyoung agar masuk ke dalam jangkauannya.
"aku bilang aku mengerti. Aku senang aku belum mati. Tapi aku tak terlalu senang menjadi sepertimu."
"kau— ingat?"
"aku rasa aku ingat."
"menjadi vampire tidak seburuk yang kau perkirakan." Sekarang ganti Soonyoung yang bertindak. Tangannya menangup pipi Jihoon dan menyentuhkan ujung dengan ujung hidung mereka.
"berikan aku satu contohnya." Tuntut Jihoon.
Soonyoung menegakan kembali badannya dan berpikir. "kau jadi hidup lebih lama. Kita hidup lebih lama. Bersama lebih lama."
"apa iya akan bertahan lama? Vampire tidak merasakan bosan? Apa iya vampire bisa menahan diri? Kau yakin vampire setia?"
"kita pikirkan itu nanti. Kenapa tidak menikmati yang ada sekarang?" Soonyoung memeluk Jihoon kemudian. "kau tau, pada awalnya aku ingin memukul orang yang menabrakmu. Tapi sekarang, kurasa aku akan berterima kasih padanya untuk itu."
Jihoon mendorong Soonyoung dan menyipitkan sinis matanya. "jangan menyentuhku sembarangan. Kita tidak ada hubungan apa-apa selain teman masa kecil asal kau tau." Memang begitu hubungan Jihoon dengan Soonyoung. Perkataan cinta memang ada tapi pernyataan saling memiliki? Belum.
"kau ingin aku melamarmu? Mumpung ada kedua orang tuamu dan Chan di sini?"
"tak usah. Aku belum mau terikat." Jihoon berbalik dengan senyum miring di wajahnya.
Soonyoung menariknya kembali berbalik menghadapnya. "tapi kau sudah terikat denganku."
Jihoon tersenyum dan menepuk kedua pipi Soonyoung kemudian. "aku tau. Aku bahkan lebih tau darimu." Pipi Soonyoung ditepuknya kuat menegaskan.
.
.
.
Wonwoo sudah memperkirakan akan begini jadinya. Bagaimana dia memperkirakannya? Salahkan hobby-nya membaca. Wonwoo jadi banyak mengkhayalkan segala sesuatunya sampai apa yang akan terjadi dikehidupannya. Dan dia sudah memprediksikan kalau Jihoon akan memilih Soonyoung.
Sedangkan dirinya? Dia tak lebih dari seorang sahabat yang berusaha senang jika sahabatnya senang. Tujuan dan kegunaan sahabat itu sendiri.
Wonwoo tidak buta untuk mengerti apa yang terjadi di dalam sana. Jihoon sendiri yang menarik Soonyoung agar mendekat kepadanya. Jihoon menginginkan Soonyoung sama seperti Soonyoung menginginkan Jihoon. Tak ada yang dapat memisahkan mereka tentu saja. Orang lain, bahkan dirinya. Wonwoo juga tak berniat untuk itu.
"mau ke mana, hyung?" Seungkwan menanyainya ketika Wonwoo akan berlalu melewatinya.
"ke toilet, ada apa?"
Seungkwan menggeleng. "kukira ingin ke kantin rumah sakit." Wonwoo tersenyum saja dan benar-benar berlalu setelahnya.
Sesampainya dalam toilet, Wonwoo membilas wajahnya dan menggosoknya keras. Dia tak boleh kelihatan sedih saat Jihoon akhirnya bisa kembali sadar bahkan tersenyum bersama orang yang benar dicintai dan mencintainya. Dia harusnya merasakan kebahagiaan yang sama. Mereka sahabat. Membagi rata bahagia juga derita. Seharusnya.
"menangis bisa meringankan sedikit bebanmu." Wonwoo sedari tadi menunduk. Saat kepalanya kembali tegak, sudah ada Mingyu di belakangnya.
"menangis untuk apa?"
Mingyu menggedikkan bahunya. "entahlah, untuk Jihoon dan Soonyoung barang kali."
"melihat mereka bahagia sama sekali bukan beban bagiku."
"tentu saja. Bukan beban. Aku paham." Dari belakang Mingyu memeluk Wonwoo dan menahan dagu Wonwoo agar melihat lurus pada cermin di hadapan keduanya. "semakin kau bantah, semakin aku tau kalau semua yang ku ucapkan adalah benar. Aku tau Wonwoo. Kau tau siapa aku."
"bukan berarti kau tau segalanya."
"aku memang tidak tau semua. Tapi aku tau kau mulai percaya. Semua menyangkut Jihoon dan Soonyoung terbukti benar. Tidak menutup kemungkinan semua hal tentang kita juga benar adanya."
"kalau pun itu benar tidak akan mengubah apa-apa di antara kita."
"tentu saja akan mengubah semuanya. Kau mencintaiku. Kau hanya tak ingat. Setelah saingan terberatku tersingkir, kurasa tak ada pilihan bagimu selain untuk mencintaiku lagi." Mingyu berbisik rendah menggoda. Wajah Wonwoo merona.
"kau dan rasa percaya dirimu." Wonwoo menyikut Mingyu dan berlari keluar toilet. Sikut Wonwoo tak memiliki efek sakit sama sekali tentunya. Mingyu hanya tau di part mana dia harus melepaskan Wonwoo dan kapan dia harus mendekapnya lagi.
Wonwoo berjalan setengah berlari sambil menoleh ke belakang. Harap-harap cemas kalau Mingyu akan membuntutinya. Wonwoo berharap Mingyu mengikutinya. Tunggu dulu! Apa tadi?
Tapi… harus diakuinya. Karena Mingyu-lah Wonwoo melupakan segala sesuatunya. Setelah Jihoon. Kini pikirannya hanya terpenuhi oleh Mingyu di dalam sana. Apa ini artinya?
.
.
.
Jihoon dipulangkan hari itu juga. Segala ketidak masuk akalan atas pulihnya Jihoon dibereskan oleh tiga dokter yang membantu mereka. Semuanya beres tanpa cela. Satu lagi keuntungan menjadi vampire. Jihoon harus tau.
"kemana semua orang?" Seokmin kembali dari berbelanjanya dan hanya menemukan Seungcheol di sana.
"kau kemana saja? Semua orang sudah pergi sedari tadi. Jihoon diijinkan pulang." Seungcheol masih tinggal di sana guna menunggui Seokmin. Jeonghan tak enak hati jika Seokmin kembali tanpa seorang pun di sana. Jadilah Seungcheol yang tinggal.
"jadi dia sudah pulang?"
"ya, Jihoon sudah pulang. Kau juga sudah bisa tenang sekarang. Dia tidak apa-apa, kau boleh pulang dan melanjutkan hidup." Seungcheol bukannya tidak tau perasaan bersalah yang melingkupi Seokmin dari kemarin hingga pagi ini. "belanjaan ini untuk Jihoon kan? Biar kubawa. Akan kuberikan padanya dengan salam darimu."
Gerak lambat Seokmin memberikan bungkusan belanjaannya pada Seungcheol. "bilang padanya, aku minta maaf. Dan— aku senang dia baik-baik saja."
"akan ku sampaikan, tenang saja." Seungcheol berlalu lewat saat Seokmin kembali bersuara memanggil namanya. "apa?" tanya Seungcheol.
"boleh aku meminta kontaknya? Alamatnya?"
"tentu."
Seokmin ingin menjenguk Jihoon sekali lagi mungkin. Memastikan bahwa Jihoon baik-baik saja. Dengan alasan itu Seungcheol akhirnya memberikan kontak dan alamat Jihoon pada Seokmin. Tak menyangka manusia baik sepertinya ternyata masih ada di dunia yang dipenuhi manusia egois sekarang ini.
Vampire juga egois. Tapi manusia lebih parah.
"tunggu!" seseorang menyentuh bahu Seungcheol dari belakang. Membuat Seungcheol berbalik juga pada akhirnya.
"ada apa lagi?" dikiranya itu Seokmin. Tapi bukan. Sama sekali bukan. Itu—
"maaf sebelumnya, tapi, apa aku mengenalmu? Aku merasa familiar dengan wajahmu. Atau aku salah?"
Seungcheol menatap wajah seseorang di hadapannya ini intens. Dia mengenalnya. Tapi seharusnya tidak lagi mengenalnya.
"kurasa tidak. Aku baru menemuimu di sini. Kau mungkin salah mengiraku sebagai orang lain." Seungcheol tersenyum. Sealami mungkin.
Orang itu tertawa. "maaf kalau begitu. Aku sama sekali tidak bermaksud mengganggumu. Kupikir aku mengenalmu dan juga wajahmu sangat familiar bagiku."
"tidak masalah, mungkin wajahku yang pasaran." Seungcheol bergurau. Tentu dia bergurau. Wajah setampan itu tak dijual di pasar mana pun.
Orang itu mengulurkan tangannya kemudian. "aku Doyoon. Kau?"
Seungcheol membeku. Tak salah lagi. "aku Seungcheol. Senang bertemu denganmu." Lagi.
.
.
.
Dua hari berlalu. Jihoon dikurung Eomma-nya dirumah. Tidak boleh keluar dan dihabiskan-nyalah dua hari dua malamnya beristirahat di dalam rumah. Untung ada Seungkwan, Wonwoo dan Jeonghan hyung yang sering main ke rumahnya. Tak jarang ada Soonyoung juga. Blush!
"aku lapar." Dia tak kekurangan sesuatu apa pun jika itu menyangkut makanan manusia. Sayang dirinya vampire sekarang. "hyung aku lapar." Jihoon berbicara dengan ponselnya. Jeonghan hyung di ujung sana.
"kau apa?" Jeonghan tak mendengar jelas barang kali.
"aku lapar, hyung." Ulangnya.
Kali ini terdengar jelas. Jeonghan paham. "kau ingin meminum darahku?" tanyanya. Jihoon mengernyit ngeri.
"tidak. Aku tidak mau yang langsung dari orang." Sergahnya langsung. Begini-begini dia mantan manusia. Manusia tidak menggigit manusia. Mantan manusia maksudnya.
"kau ingin aku membawa sekantong ke rumahmu?" tanya Jeonghan lagi. Kali ini Jihoon meringis horror.
"aku tak mau benda itu masuk rumahku." Katanya.
Jeonghan memandang teleponnya. Andai bisa dia menatap Jihoon akan diberitaukannya bahwa 'benda itu' sekarang sudah menjadi makanan pokoknya.
"lalu maumu bagaimana?"
"aku makan di rumahmu." Jihoon tersenyum. Sayang Jeonghan tak dapat melihat senyum manisnya.
"baik, akan ku hubungi Seungcheol untuk membawakan beberapa untukmu."
Sambungan terputus kemudian. Jihoon dengan segera turun ke lantai bawah dan meminta ijin pada ibunya. Ke rumah Jeonghan. Tidak mungkin tidak boleh.
Cepat saja bagi Jihoon untuk ke rumah Jeonghan mengingat dia bukan manusia biasa sekarang. Jihoon pribadi merasa seperti superhero. Flash?
"aku bahkan baru selesai menelpon Seungcheol." kata Jeonghan ketika Jihoon muncul di depan rumahnya seperti paket kilat.
"tidak masalah, aku bisa menunggu."
Jihoon masuk dan mengambil duduk suka-suka kemudian.
"bagaimana perasaanmu?"
"hah?" Jihoon tidak siap ditanya.
"bagaimana perasaanmu? Kantong darah pertama?" penasaran. Sungguh. Siapa sangka Jihoon akan melangkahinya menyangkut ubah diubah.
"entahlah, takut? Ragu? Aneh?" bukan jawaban, pertanyaan baru.
"mungkin karena baru."
"bisa jadi." Seadanya Jihoon menjawab. Bisa jadi karena dia vampire baru. "ada yang datang." Kata Jihoon. Dia mendengar suara langkah dan pintu terbuka di depan.
"Seungcheol?"
"kurasa bukan."
"hai-hai~" Seungkwan muncul bersama Wonwoo di belakangnya.
"sedang apa kalian berdua kemari?"
"aku mengikutimu. Pasti ada sesuatu yang seru." Wonwoo, kembali kekehidupannya yang lama. Menjadi seorang peneliti vampire terlebih kini satu kawannya yang jadi vampire.
"lalu kau?" Jihoon berbicara terkhusus pada Seungkwan.
"aku mengikuti Wonwoo hyung. Ingin melihat sesuatu yang seru." Jawabnya kurang lebih.
"seru apanya?"
"darah pertama. Harus diabadikan." Seungkwan memamerkan kamera Polaroid-nya kemudian.
"tidak ada kamera demi keamanan dan kenyamanan bersama." Jeonghan merebut kamera Seungkwan dan mengantonginya dengan segera. Seungkwan manyun.
"kita harus wawancara selesai kau minum nanti." Wonwoo ke rumah Jeonghan ternyata ingin mengontrak Jihoon sebagai narasumbernya.
Jihoon mendengus. "tergantung berapa bayaran yang diberikan." Jawabnya asal.
"bagaimana kalau kubayar dengan darahku?" Jihoon tau benar Wonwoo bergurau. Hanya saja dia vampire baru. Gurauan itu sama sekali tidak lucu.
"kau bisa mendapatkan segalanya dengan darahmu kalau kau memberikannya pada Mingyu." Balas Jihoon. Satu sama. Sama garingnya.
Seungcheol datang dengan satu box di tangannya. Bonus Soonyoung, Hansol dan Mingyu juga. Ada acara makan bareng atau apa?
"mencari golongan darah apa yang cocok bagi lidahmu." Ungkap Seungcheol ketika dilihatnya wajah-wajah kebingungan itu bertanya tanpa suara.
Acara makan pertama Jihoon tidak disangkanya akan ditonton orang sebanyak ini.
"AB+," Seungcheol memberikan sekantong ke tangan Jihoon. Jihoon membukanya sedikit dan menuangkannya ke sendok makan yang disiapkannya. Ini icip-icipkan?
"pueh! Pahit! Apa ini?" itu darah tapi pahit. Bahkan rasa besi yang umumnya terasa di lidah awam sama sekali tak terasa di lidah Jihoon. Pahit obat.
"pahit? Bagaimana bisa? AB+ itu yang paling manis." Mingyu berkomentar.
"kau coba sendiri." Jihoon menyodorkan kantong yang dipegangnya pada Mingyu. Dan Mingyu tanpa ragu mencobanya.
"ini manis. Pahit bagian mananya?"
Ke-error-an bisa jadi terjadi pada lidah Jihoon. Karena darah yang disodorkan padanya sama sekali tidak pahit seperti yang dia bilang. Semua golongan sudah dia coba. A, B, O, dan AB. Mulai dari positif juga negative dan semuanya pukul rata. Sama pahitnya.
"kau vampire kelainan?"
Jihoon hampir menerjang Mingyu kalau tak ditangkap Soonyoung pinggangnya. Kekuatan yang Jihoon kerahkan sama sekali tak main-main. Hampir seimbang dengannya.
Dikarenakan Jihoon tak mampu membalas Mingyu. Wonwoo sebagai sahabat yang baik yang mewakilinya. Tangannya menjambak rambut Mingyu, dan merusak tatanan rambutnya. Jika tidak merasakan sakit secara fisik. Incar psikisnya.
"jaga bicaramu."
"kau vampire baru. Mungkin butuh waktu sampai lidahmu terbiasa." Soonyoung menangkup pipi Jihoon dan menatap tepat pada matanya. "tidak ada yang aneh. Coba tunjukan gigimu." Jempol Soonyoung membuka bibir Jihoon dan mengecek taringnya.
"kau lapar?" Seungcheol bergabung. Meneliti taring Jihoon yang katanya lapar. "kenapa taringmu tidak keluar? Seberapa lapar?"
"lapar sekali!" Jihoon menepis tangan Soonyoung. "lapar yang sangat-sangat lapar."
"mungkin butuh darah yang sesuai untuk memancing taringnya keluar." Mingyu berspekulasi.
"aku dengar itu!"
"apa? Aku mengucapkan apa?"
"bukan kau. Kalian." Tunjuknya pada duo Seungkwan, Hansol. "berhenti bergosip. Aku bisa dengar walau kau berbisik dalam hati sekalipun." sebenarnya tidak bisa. Diibaratkan saja bisa.
Sambil bersembunyi di belakang Hansol Seungkwan akhirnya bungkam. Dia lupa kalau Jihoonie hyung-nya bukan lagi manusia. Dia Cuma bilang Jihoonie modus padahal.
"menghadap ke sini." Soonyoung kembali menangkup pipi Jihoon. "aku masih heran kenapa taringmu tidak muncul kalaupun kau lapar." Jempolnya kembali menyentuh bibir Jihoon. Kali ini sampai berani masuk menyentuh gigi taring Jihoon.
"jauhkan tanganmu!" dengan jempol Soonyoung di dalam mulutnya Jihoon terang tak dapat berbicara dengan jelas. "jauhkan atau kugigit!"
"sebentar lagi, gigimu tidak—"
Jihoon serius membuktikan ancamannya. Dia menggigit jempol Soonyoung dan sesuatu yang dingin kemudian membasahi lidahnya. Manis. Sejuk. Darah. Milik Soonyoung. Jihoon menarik lepas tangan Soonyoung dengan wajah shocknya. Semua kantongan terasa pahit kecuali darah Soonyoung.
Ada sedikit yang ketinggalan di bibir bawahnya dan Jihoon tidak kuat hati untuk tidak menjilatnya bersih. Lagi. Dia mau lagi. Tapi tak sudi meminta. Gengsi? Sementara Soonyoung tau benar apa yang terjadi. Jilatan Jihoon pada bibirnya sendiri tadi terekam jelas diingatannya.
"hyung, aku pinjam dapurmu, ada seseorang yang mesti kuberi makan." Soonyoung berlalu ke dapur. Meninggalkan Jihoon yang masih bertahan pada gengsi untuk tetap di sana. Namun tidak bertahan lama karena Jihoon langsung berlari menyusulnya.
"tipe ketergantungan, ternyata." Mingyu membanting dirinya di salah satu sofa kemudian.
"apa maksudnya itu?" Wonwoo jelas tak tahan ingin bertanya jika ada yang tak dimengertinya.
"satu ciuman untuk satu pertanyaan?"
Wonwoo mendengus. "lupakan saja. Hansol-ah apa maksudnya?"
"Jihoon hyung termasuk tipe vampire yang tergantung dengan darah yang mengubahnya. Dia tergantung dengan darah Soonyoung hyung."
"ada yang seperti itu? Semua yang diubah akan bergantung pada yang mengubah?" Seungkwan turut andil bertanya. Sama penasarannya.
"tidak semua. Beberapa. Mungkin 1 dari 10 vampire begitu."
"benarkan kalau kubilang dia kelainan?" jambak lagi.
"berarti Jihoonie hyung istimewa?" Seungkwan bertanya. 1:10 menurutnya itu istimewa. Special, berbeda, tidak seperti kebanyakan.
Hansol menatapnya. "definisi istimewa setiap orang berbeda. Kalau menurutku itu biasa saja. Masih ada yang jauh lebih istimewa dari pada sekedar berbeda." Hansol mengucapkannya sambil menatap Seungkwan. Jangan salahkan Seungkwan kalau dia salah tingkah.
"aku juga lapar." Seungcheol merengek pada Jeonghan dengan wajah memelasnya. Jeonghan tersenyum manis sambil menepuk pelan pipi Seungcheol.
"lapar ya?" tanyanya. Seungcheol mengangguk. "habiskan darah yang sudah dibuka Jihoon tadi. Sama seperti manusia kurasa vampire juga tak boleh menyia-nyiakan makanannya." Jeonghan mengirimkan Seungcheol flying kiss sebagai penyemangat. Sayang masih kurang.
Sementara itu di dapur, Soonyoung sudah duduk di salah satu bangku saat Jihoon tiba di sana. Wajah tampan itu menyunggingkan senyum menyebalkan menurutnya. Soonyoung bahagia. Siapa sangka bahwa Jihoon adalah tipe ketergantungan. Beruntung baginya. Jihoon tak kan bisa lepas darinya.
"berhenti tersenyum." Jihoon mendesis. Ingin sekali memukul wajah itu. Namun dari pada memukul Jihoon lebih prefer mengigit lehernya.
"tak kan kuberikan kalau bukan kau sendiri yang meminta." Soonyoung mengujinya. Mengajarinya untuk memohon. Tidak akan.
Jihoon mendekat dan berdiri di hadapan Soonyoung. Memohon katanya tadi? Jangan harap. Jihoon duduk di pangkuan Soonyoung dengan paha terbuka. Dari pada meminta, bagaimana kalau barter?
"darahmu untuk—" menggantung. Jihoon bergumam memikirkan hal apa dari dirinya yang pantas di barter dengan darah Soonyoung.
Untuk ukuran sedang berpikir, lama Jihoon bergumam belum seberapa. Asalkan jangan tepat di telinga Soonyoung. Dan lagi pula, dari pada dibilang bergumam, Jihoon lebih pantas dibilang mendesah di sana. Sial!
"gigit saja, ambil saja sesukamu. Untuk sekarang kubiarkan kau mengambil gratis." Soonyoung menyerah. Semakin lama semakin membahayakan juga.
"gratis? Kau yakin?" bibir Jihoon menyentuh tipis cuping telinganya. Damn! Sejak kapan Jihoon menjadi seperti ini? Efek darahnya kah?
"yakin-yakin-yakin. Lakukan sebelum aku berubah pikiran dan menaikan harga." Tak tau lagi apa yang dibicarakannya. Lebih cepat lebih baik.
Jihoon terkekeh menggoda. Ini bukan bagian dari rencana. Siapa sangka yang beginianlah yang paling efektif bagi Soonyoungnya. Tanpa ragu Jihoon kemudian menggigit leher Soonyoung. Sebelah tangannya memeluk kepala Soonyoung dan menahannya sementara yang satu lagi menyentuh bahu Soonyoung sebagai pegangan.
Jihoon tak pernah tau kalau darah bisa begitu terasa memabukan. Semua rasa kesukaanmu seperti ada di dalamnya. Jihoon tidak pernah memakai narkoba. Tapi mungkin seperti ini rasanya. Dia ingin lagi dan lagi. Tak ingin berhenti dan ingin selalu begini.
Jihoon tidak percaya vampire sama sekali. bahkan dia dulunya merupakan vampire hater. Segala hal berbau vampire dia anti. Siapa sangka dia akhirnya menemukan satu yang asli dan menjadi salah satunya juga sekalian.
Got One!
.
.
.
[Chapter Thirteen] End!
.
.
.
A/N:
Ini TAMAT yak. Muehheheh~ Saya tamatin di sini. End~~~~~LOLOLXDD
Saya tipe yang suka gantung ' –')b
Biar bisa di bayangin sendiri kelanjutnya *nyilet nadi* X)))
Saya bukan anak kedokteran. Semua yang saya nulis aseli ngarang. *pose*
Ngga nyangka bahkan tamat? Saya juga. Mungkin saya lelah *pose lagi*
"Saya sudah mencoba semampu saya." *pose part III* Banyak yang nanya Wonwoo sama Jihoon siapa seme-nya?
OTL OTL OTL
Wonwoo bagi saya seke =) Jihoon ultimate uke. Syalalalalala
Saya mo sailing pake perahu Wonzi karen belum ada ship gede-nya OTL
Thankyou buat semuanya.
Silahkan tanya-tanya untuk segala kerancuan yang adaaa UWOOOHHH~
Sampai jumpa lagi di next project ' –')b
LOVE YOUUUUU~ MUAHHH! :******
