Cerita ini original milik penulis a.k.a Chanie (chaniethor)
Cerita ini merupakan fanfiction, tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun. I Love BTS :*
BTS Fanfiction
Polar Opposite
Hukum kutub yang berlawanan adalah tarik-menarik, bukan tolak menolak.
[13]
.
.
.
-Polar Opposite-
13
"Min Yoongi, apa kau mendengarkanku?"
Suara Seokjin sedikit meninggi. Terdapat nada kesal dalam bicaranya. Seolah, benar-benar tidak terima jika telinga si manis, sahabatnya, tidak menangkap apa yang baru saja bicarakan.
Jika ini bukan bahasan tentang tugas kuliah, Seokjin mungkin akan baik-baik saja. Sayangnya, yang baru saja dia bicarakan adalah hal penting berkenaan dengan tugas Professor Shin yang harus dikumpul sore ini.
"Min Yoongi, apa kau ada masalah?" tanya Seokjin lagi. Kali ini dia sedikit menahan marahnya, berusaha tidak bertindak pada yang akibatnya paling buruk.
Yang ditanya hanya menghela napas, kemudian menggeleng. Kim Seokjin berusaha keras untuk tidak mendengus dengan kasar atau bahkan menggebrak meja. Ah, kenapa dia penuh emosi sekali ya?
"Maafkan aku, bisakah diulang sejak—"
Ucapan Min Yoongi seperti tertahan. Melihat respon Seokjin, sepertinya tidak tepat jika dia terlalu jujur kalau sejak awal memang tidak mendengarkan. Kim Seokjin sepertinya sebentar lagi heat. Dia terlihat begitu sensitife.
Oleh karena itu, Yoongi hanya meringis sembari mengucapkan permintaannya untuk diulangi penjelasan dari sepertiga akhir. Biarlah dia nanti cari tahu sendri apa yang tadi Seokjin jelaskan dari awal. Masih ada Hanbin dan Nari, anggota kelompoknya yang lain.
Setelah diskusi intens untuk tugas kuliah, kelompok Yoongi, sama seperti kelompok lain, akhirnya bersiap pulang karena sudah tidak ada kelas. Yoongi memijat lehernya yang kaku sembari melihat sahabatnya, Seokjin, melakukan hal yang sama.
"Sudah dikirim?" tanya Yoongi, mencoba sopan.
"Tentu saja sudah!"
Sudah diduga, jawaban Seokjin pasti ketus. Prediksi Yoongi tidak salah. Sahabatnya ini sedang masuk periode sensitifnya. Aromanya saja mulai tercium.
Kalau begitu, Yoongi mungkin akan lebih banyak diam dan mencoba menjaga perasaan Seokjin yang mudah naik turun. Itu berarti, Yoongi tidak bisa leluasa bercerita saat ini.
Bercerita? Apa perlu?
Pikiran Yoongi sebenarnya sedang penuh. Karena banyak hal, terutama soal pertunangannya, soal rumor yang santer berbicara tentang dia dan Jungkook, juga soal alpha yang merupakan matenya. Rasanya, Yoongi tidak mampu membawa topik itu ketika Seokjin masih dalam kondisi yang seperti ini, meskipun pemilik mata bulat menawan itu sempat berheboh ria di hari pertama dia tahu kalau Yoongi berangkat dengan Jungkook saja. Biasanya selalu berempat, minimal bertiga.
Yoongi tidak pernah sendirian dengan alpha—
Kecuali dengan Taehyung, Yoongi selalu didampingi orang lain di sekelilingnya. Wajar, kalau keberangkatan Yoongi dan Jungkook secara bersama-sama waktu itu menimbulkan tanda tanya besar.
Bicara soal hari pertama berangkat dengan Jungkook, Yoongi jadi teringat sesuatu. Hari ini hampir seminggu sejak terakhir dia melihat punggung seorang alpha dalam balutan kemeja sederhana dan rambut acak-acakan. Ya, Yoongi melihat Taehyung waktu itu. Sewaktu dia baru sampai di kelasnya, sesudah berpisah dengan Jungkook karena mereka berbeda kelas. Dari kelas sebelah, Taehyung keluar dengan berjalan cepat. Hanya punggung yang berhadapan dengannya, yang semakin kecil karena Taehyung berjalan semakin menjauh.
Tapi, apa peduliku?
Berulang kali, sebenarnya, Yoongi mengatakan pada dirinya sendiri kalau urusan Taehyung kali ini bukan urusan dia lagi. Taehyung hanya membantunya ketika baru pertama heat usai bertemu mate. Selanjutnya, urusan mereka tidak ada lagi. Hoseok pasti sudah menjelaskannya pada Taehyung juga, bukan?
"Ini menyebalkan…" Yoongi menggumam tak kentara. Dia sudah di dalam mobil, dengan seorang butler beta yang menjemputnya hari ini. Bukan Hoseok, melainkan butler beta yang lain.
Ini terlalu menyebalkan, batin Yoongi. Betapa tidak? Dia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi jika dia jadi bertunangan nanti? Apa yang akan terjadi pada—matenya?
Bagaimana dengan Jungkook? Bagaimana responnya nanti? Dia tidak bisa menebak apakah Jungkook sudah mengetahui rencana mama untuk bertunangan dengannya. Dia juga tidak bisa membayangkan, jika Jungkook akan canggung padanya atau malah sebaliknya. Tidak bisa..
Ini akan canggung. Ini sangat menyebalkan…
Mamanya berencana melakukan acara pertunangan untuk Yoongi dan Jungkook segera. Atau, lebih tepatnya, besok malam..
-Polar Opposite-
.
.
Pagi ini, Kim Taehyung sebenarnya ingin mengajak Hoseok untuk bersepeda. Akan tetapi, rumahnya seperti tidak ada orang. Sudah lama Taehyung memencet bel, tapi tidak ada jawaban juga. Maka dari itu, Taehyung simpulkan bahwa Hoseok mungkin memang tidak ada di rumah dan dia memilih untuk bersepeda sendiri saja.
Hari ini entah mengapa Taehyung merasa butuh bergerak. Seminggu belakangan, Taehyung merasa sangat tidak bersemangat. Tidak perlu diperjelas apa penyebabnya, hari ini Taehyung merasa butuh untuk menghibur diri, membangunkan saraf-sarafnya yang hampir mati.
Mungkin aku akan bersepeda agak jauh hari ini..
Kim Taehyung mengayuh lebih semangat lagi. Menyusuri trotoar, atau jalur-jalur sepeda yang lebih jauh dari area sekitar kompleknya.
Beberapa orang menyapa, atau tersenyum kepadanya. Entah karena benar kenal dia, atau karena dia yang sebenarnya masih dengan fashion sederhana tampak lebih tampan ketika naik sepeda. Taehyung tentu balas menyapa mereka seperlunya.
Termasuk pada pemilik toko bunga hias di sebelah taman, Taehyung menghentikan sepedanya dan menyapa sang pemilik toko itu. Taehyung memarkirkan sepedanya, kemudian menghampiri beliau dengan sedikit membungkuk.
"Selamat pagi, Bi!"
"Selamat pagi, Taehyung. Oh astaga, lama sekali tidak bertemu denganmu!"
Bibi Jeong, begitu Taehyung memanggil, memintanya masuk ke dalam toko. Dimintanya Taehyung untuk duduk dan menikmati teh sederhana yang diseduhkan Bibi. Taehyung dengan sopan menerimanya. Disesapnya teh dalam cangkir kecil itu pelan-pelan sembari memulai obrolan.
"Ah, kehidupan perkuliahan ternyata sibuk juga, ya?"
Taehyung mengangguk, sedikit meringis. Bibi Jeong tersenyum maklum sembari menatap Taehyung, pemuda yang dulu selalu bekerja paruh waktu di tokonya, hingga suara lonceng kecil dekat pintu berbunyi. Tanda ada calon pembeli di depan.
"Bunga yang seperti biasa ya, Bi."
Sayup-sayup, Taehyung mendengar suara pelanggan itu. Entah mengapa, rasanya suara itu cukup familier. Taehyung sampai berhenti menyesap tehnya untuk mencoba memfokuskan pendengarannya.
"Baiklah, sebentar ya..."
Suara Bibi Jeong terdengar. Taehyung masih mencuri dengar dan coba meyakinkan bahwa suara yang tadi didengarnya memang sangat familier dengan seseorang. Sayangnya, dia tidak sampai hati untuk berdiri. Hanya familier, hanya familier. Lalu, suara anak Bibi Uhm yang membantu beliau melayani calon pembeli itu menyahut dengan bertanya.
"Atas nama siapa, tuan?"
Bibi Jeong sedang merangkai, maka yang mengurus administrasi dan meja kasir adalah anaknya. Kim Taehyung kali ini terdiam, menunggu untuk mendengar suara dari calon pembeli itu.
Sedikit konyol rasanya, berperilaku seperti ini. tapi, entahlah. Taehyung terlanjur penasaran sekali. Habisnya, suara itu familiar sih.
"Um…"
Belum selesai calon pembeli itu menjawab, suara Bibi Jeong dari jauh sudah menyahut. Mau tidak mau, Kim Taehyung hanya menghela napasnya.
"Tidak usah, biar nanti aku saja yang menulisnya, Sewoon-ah." Begitu sahutnya.
Taehyung kemudian mendengar ucapan terima kasih dan langkah yang menjauh. Pertanda pembeli itu sudah pergi. Pintu ruangannya kemudian terbuka, memunculkan Bibi Jeong yang sedang membawa nampan dan sepiring roti cup kesukaannya. Taehyung pun menerimanya dengan sopan.
"Tadi siapa? Ibu mengenalnya?" tanya putra Bibi Jeong, Sewoon, yang menyusul kemudian menarik kursi di sebelah Taehyung. "Aku tidak pernah lihat dia."
"Ah, dia…" Bibi Jeong menyesap sedikit teh dalam cangkirnya. "Ya, mungkin kamu tidak pernah bertemu sebelumnya, karena memang dia jarang datang."
"Tapi, sepertinya bibi sudah mengenalnya cukup lama?" Taehyung ikut bertanya.
"Itu karena dia memang sudah menjadi pelangganku sejak sangaat lama. Terutama sejak kejadian itu sih. Sebelum aku pindah ke sini, dia sudah jadi pelangganku. Dia dulu suka mampir ke tokoku, tapi setelah aku pindah jadi tidak pernah. Dia pemuda yang suka foto-foto rangkaian bunga, kurasa. Sampai akhirnya, ada suatu kejadian. Nah, setelah itu dia kembali menemuiku, minta dirangkaikan sebuket bunga."
"Dan dia selalu datang dengan pesanan yang sama?" Sewoon menyahutinya. Bibi Jeong lekas mengangguki.
"Karangan yang kubuat itu sudah sejak awal dia minta setelah aku pindah ke sini. Dulu, dia sambil membawa sketsa untuk minta dirangkaikan. Sekarang, aku sudah hapal."
"Dia selalu pesan dua?" tanya Sewoon lagi. Pemuda yang tadi memesan dua buket, makanya Sewoon pikir mungkin itu sudah seperti biasanya. Namun demikian, Bibi Jeong menggeleng.
"Tidak. Tapi, mungkin hari ini ada acara. Aku tidak tahu juga," jawab Bibi Jeong.
Kim Taehyung hanya mendengarkan ketika Bibi Jeong lanjut berbincang mengenai banyak hal. Ia hanya menanggapi beberapa kali, begitu juga Sewoon. Hingga akhirnya, perbincangan Bibi Jeong hampir menemui salam penutup, Sewoon sempat menyampaikan pertanyaan singkat. Sebuah pertanyaan yang membuat Taehyung sempat mencuri dengar saat pembeli itu masih berada di depan toko tadi.
.
.
"Pemuda gagah tadi, siapa namanya, Bu?" tanya Sewoon. Dijawab Bibi Jeong segera sembari merapikan cangkir dan piring kotor untuk dibawa ke wastafel belakang.
Bibi Jeong memberikan sebuah jawaban. Sebuah jawaban yang membuat Kim Taehyung berdiri mematung seketika…
.
.
.
"Nama pemuda itu adalah Park Jimin."
.
.
.
.
-Tbc-
Mind to Review?
Aku belum sempet balesin komen. So sleepy. Belum kukoreksi yg ch ini. Night.
Sorry for typo (s), I don't have a personal editor kkk..
Selamat datang di keabsurdanku yang lain..
Salam
Sugarsister!
