BLACK GRIMOIRE

Naruto © Masashi Kishimoto

This Is My Story

Disclaimer

Naruto dan karakter milik penciptanya.

Warn : Gaje, Typo, OOC, Ecchi, Rated T,

.

.

.

Note Author : Jika tidak senang dengan fict ini tidak usah dibaca. Bagi yang senang silahkan baca dan harap tinggalkan jejak berupa review dan kritikan yang sopan. Karna jika kalian sopan author akan segan terhadap kalian. Saling menghargai yah minna...

-Penting... Wajib baca..-

Informasi : Untuk para readers sekalian maaf kalo link yang saya cantumkan tidak bisa terlihat. Saya sudah berusaha berkali-kali untuk mencantumkan link tetapi tidak bisa dicerita ataupun di review. Jadi, untuk para readers yang ingin mengetahui bentuk dan rupa Haruna adik dari Shion itu bisa dilihat di foto profil fanfict saya atau kunjungi google dengan keyword "Profil haruna naruto oc wiki fandom" tanpa tanda petik.

Happy Reading...

Chapter 13 – Penyelidikan Dungeon

Sebelumnya di Black Grimoire :

Ujian ksatria sihir telah berakhir. Seluruh peserta yang lolos kemudian dipilih semua oleh kapten squad yang ada. Hingga menyisakan Naruto, Kaguya, dan Naori. Mereka bertiga berniat ingin dikeluarkan. Tetapi, itu hanyalah sandiwara yang dibuat oleh Hiruzen. Beberapa saat kemudian, Azazel nampak datang. Hiruzen mengumumkan kalau orang itulah yang akan menjadi kapten squad dari Naruto, Kaguya, dan Naori. Akhirnya terbentuklah squad yang bernama Squad X. Bagaimana langkah awal dari squad tersebut...?! Langsung aja baca...

.

.

.

-Black Grimoire-

Seorang pria berjalan pelan ditengah dinginnya malam. Hembusan angin menerpa poni pirang miliknya. Sesekali siulan kecil terdengar dari mulutnya. Beberapa saat kemudian, langkah kakinya berhenti didepan pintu sebuah bangunan.

TOK... TOK...

Ia mengetuk benda mati itu. Pintu itu terbuka pelan. Sepertinya orang yang ada didalam lupa untuk menguncinya. Tanpa ada yang menyuruhnya. Pria itu lalu masuk tanpa permisi sedikitpun.

BRAK KLONTANG...

"S-Sungguh Naori. Aku tidak sengaja..."

"Urusai..! Baka..! Hentai..! Ecchi...!"

"Hoi-hoi. Kau tidak perlu menyebutkan sebanyak itu..."

Orang yang baru saja masuk tadi sweatdrop bukan main. Didepannya seorang gadis yang masih memakai sebuah handuk nampak memarahi seorang laki-laki. Ia melemparkan gayung yang ada ditangannya dan sukses mengenai laki-laki itu.

BLETAK...

"Ittai...! Bisakah kau berhenti untuk melemparkan barang-barang kepadaku..."

"Tidak. Sebelum kau mengakui kemesumanmu Baka..!"

"Hei...! Sudah kubilang aku tidak sengaja. Aku tidak tau kalau kau sedang mandi Naori..."

Naruto mencoba untuk membela diri. Remaja itu tidak sengaja membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci. Ia tidak tau kalau tempat itu sedang dipakai Naori untuk mandi.

Sementara gadis itu. Ia langsung menuduhnya habis mengintip. Oh ayolah Naruto akui ia sempat melihat sebuah pemandangan indah yang ada didepan matanya. Tapi jujur itu murni ketidaksengajaan.

"Ahaha... Tidak kusangka kau bisa mesum juga Naruto. Kau mewarisi sifatku.."

"A-Apa... Hoy aku tidak sepertimu Azazel Ji-san..."

Remaja itu menggeram kesal. Seenaknya saja pria itu tiba-tiba datang dan berkata seperti itu. Ia lalu menatap Kaguya yang berdiri disamping Naori. Satu-satunya orang yang bisa membantunya hanyalah gadis itu sekarang.

"K-Kaguya... Kau pasti percaya aku kan..."

Maniknya menatap penuh Kaguya. Gadis itu tersenyum tipis dan sontak membuat Naruto senang. Tetapi belum beberapa detik senyuman itu hilang digantikan dengan raut wajah datar. Beberapa aura hitam terlihat disekeliling gadis itu.

"Gomen nhe Naruto-kun. Aku setuju dengan Naori-chan... Naruto-kun benar-benar Hentai...! Ecchi...! Dan tidak tau malu..." Ucap Kaguya dingin membuat Naruto syok bukan main. Saat ini seolah ada ribuan pisau yang menusuk jantungnya. Gadis bersurai putih itu tidak percaya dengannya.

"Sudah-sudah. Jangan memarahi suami kalian terus..." Sahut Azazel dengan tampang innocent

"Si baka ini bukan suamiku..! Naruto-kun belum jadi suamiku..!" Teriak Naori dan Kaguya serempak

Azazel mengulas senyum tipis. Meskipun perkataan mereka tidak sama. Ia bisa mengetahui kalau dua gadis itu mempunyai ketertarikan dengan remaja pirang tersebut. Entah apa yang akan dilakukan Haruna ketika gadis itu mengetahui semua ini.

"Baiklah. Hentikan dulu pertengkaran kalian dan kau Naori. Sebaiknya kau berpakaian secepatnya. Jangan salahkan aku jika sifat buasku tiba-tiba keluar..." Ucap Azazel dengan seringai mesumnya. Pria itu kemudian mendapatkan lemparan gayung dari Naori. Gadis itu kemudian kekamar dan bergegas untuk berpakaian.

Selang beberapa menit. Naori telah berpakaian lengkap dan duduk disamping Kaguya. Mereka bertiga duduk dibawah lantai karna mengingat sofa yang mereka miliki tidak cukup untuk empat orang. Alhasil, Azazel lah yang duduk sendirian ditempat itu.

"Besok.. Kalian akan mengerjakan misi pertama kalian. Setelah pulang dari akademi temui aku didepan pintu gerbang kerajaan.." Ucap Azazel

Perkataan Azazel membuat ketiga orang itu khususnya Naruto girang bukan main. Mengerjakan misi sudah keharusan bagi seorang ksatria sihir. Apalagi untuk mereka yang masih baru.

"Misi seperti apa yang akan kami kerjakan..?"

"Tentu saja misi yang sangat hebat Naori.."

"Aku tidak bertanya padamu Ero-Naru.."

Mereka menatap satu sama lain. Aura permusuhan terlihat jelas dari Naori dan Naruto. Kaguya yang ada ditengah mereka mencoba meleraikan. Sedetik kemudian, mereka berdua dengan kompak membuang muka. Azazel yang melihat itu hanya bisa menghela nafas kecil.

"Sudah-sudah.. Lebih baik kalian cepat tidur.." Ucap Azazel

"Ano Azazel-san. Disini hanya punya tiga kamar tidur.." Sahut Kaguya. Pria itu tersenyum tipis. Itu sudah lebih dari cukup. Tempat ini merupakan bekas tempat persenjataan. Jadi jangan terlalu berharap lebih.

"Tenang saja. Aku.. Kau.. Dan Naori. Pas tiga orang. Naruto akan tidur di sofa.." Jelas Azazel tanpa raut wajah berdosa.

"Hei..! Kenapa harus aku.." Ucap Naruto

Ia tidak bisa menerima ini. Sekilas, remaja itu dapat melihat seringai kecil dari bibir Naori. Gadis dingin itu sedang mengejeknya ternyata. Sedangkan Kaguya, gadis itu menahan tawa melihat reaksi marah yang dibuat Naruto. Itu sangat lucu baginya.

"Jadi.. Kau tidak mau tidur disofa..?! Dan membiarkan salah satu istrimu ini menggantikan tempatmu. Apa kau tega membiarkan mereka kedinginan...~" Goda Azazel yang sukses ditatap tajam Naori. Sementara Kaguya, gadis itu menunduk mencoba menyembunyikan semburat merah dipipinya.

"Kenapa tidak kau saja yang tidur disofa Azazel Ji-san.."

BLETAKK...

"Ittai...! Apa yang kau lakukan Baka-Oji.."

"Kau tidak sopan Gaki..."

Perdebatan pun terjadi. Setelah beberapa menit berlalu. Akhirnya Naruto mengalah. Ia menerima untuk tidur disofa dengan muka cemberut. Tidak sampai beberapa menit. Remaja itu sudah memasuki alam mimpinya.

"Hah... Cepat sekali bocah ini tertidur..." Ucap Azazel menghela nafas. Pria itu lalu bergegas menuju kamarnya. Diikuti Naori yang juga melakukan hal yang sama.

Kini tersisa Kaguya. Gadis itu tengah memandang wajah damai Naruto. Ia tersenyum lalu mengelus pelan surai pirang remaja itu. Sedetik kemudian, ia lalu berkata pelan...

"Oyasumi Naruto-kun..."

.

.

.

SKIP TIME...

Matahari pagi telah menampakan sinarnya. Ia berjalan pelan dengan seragam yang tengah ia pakai. Sebuah baju hitam lengan pendek dengan rok hitam diatas lutut. Dibagian kiri atas baju tepatnya diatas kantong terukir lambang konoha. Dibelakangnya terdapat sebuah simbol X yang cukup besar ditengah baju.

Gadis bersurai hitam itu tersenyum tipis kearah perempuan tersebut. Ia lalu membantu memecahkan telur dan mengocoknya secara perlahan. Mereka berdua sepertinya ingin membuat sarapan.

"Gomen nhe Kaguya. Aku hanya bisa membantu sedikit. Jujur aku tidak punya kemampuan untuk memasak..."

"Daijobu Naori-chan. Aku juga tidak terlalu pandai kok. Tetapi, kalau kau mau. Aku bisa mengajarimu..."

"Yokatta.. Arigatou Kaguya..."

Kedua perempuan itu saling membantu satu sama lain. Naori menuruti semua perkataan yang kaguya berikan. Dengan pelan, ia memasukan nasi putih kedalam wajan.

Wajan yang telah berisi nasi tadi kemudian diaduk agar bumbu-bumbu yang ada didalamnya meresap merata. Sementara itu, Kaguya tengah menggoreng telur yang telah dikocok Naori tadi.

Tidak membutuhkan waktu lama. Masakan mereka berdua akhirnya jadi. Mereka membuat 3 porsi sarapan. Azazel sudah berangkat dan bilang kepada mereka kalau dia ingin mengurusi keperluan misi mereka terlebih dahulu.

"Ayo kita bawa kedepan Naori-chan..." Sahut Kaguya

Naori mengangguk. Mereka berdua berjalan kearah ruang tamu dan meletakan sarapan tersebut diatas meja. Pandangan mereka lalu beralih kearah remaja pirang yang sedang tertidur dengan pulasnya disofa.

Salah satu dari mereka menghampirinya. Kaguya tersenyum tipis melihat wajah damai Naruto yang sedang tertidur itu. Ia dengan pelan mengguncang bahu Naruto mencoba untuk membangunkannya.

"Naruto-kun ayo bangun..." Ucap Kaguya

"Ehmm... 5 menit lagi Kaa-chan.." Igau Naruto

Beberapa menit telah berlalu. Apa yang dilakukan Kaguya tidak juga membuat remaja itu bangun dari mimpinya. Melihat hal itu, Naori lalu bangkit dan menyuruh gadis itu untuk memberikannya sedikit ruang.

"Cara yang lembut tidak akan mempan untuk si baka ini..."

NYUTT...

"I-Ittai...!" Teriak Naruto

Naori mencubit kuat perut remaja pirang tersebut. Membuat sang empu menjerit kesakitan. Naruto yang terbangun menatap tajam Naori. Gadis ini pagi-pagi sudah berani membuat masalah dengannya.

"Untuk apa tadi hah...!" Tanya Naruto

Naori memalingkan wajahnya. Perbuatannya sukses membuat Naruto kesal bukan main. Kaguya yang berada disana mencoba untuk menenangkan remaja pirang itu.

"Aku hanya ingin membangunkanmu pemalas..."

"Apakah harus dengan cara seperti itu hah..! Dan lagian ini masih terlalu pagi..."

"Apa katamu...! Pagi.. Ini sudah jam setengah tujuh Baka. Kau tidak ingat pesan Ajuka-taichou hah. Waktu kita tinggal setengah jam lagii.."

Naruto menghela nafas panjang. Ia tidak akan bisa melawan Naori. Cara satu-satunya hanyalah mengalah dan membiarkan gadis dingin itu memenangkan argumennya. Kedua gadis itu seperti istrinya saja.

"Iya-iya aku salah. Lama kelamaan kalian seperti istriku saja..."

BLETAKK...

"Aku bukan istrimu baka..!/Aku belum bisa jadi istrimu Naruto-kun.."

.

.

.

Setelah drama singkat dipagi hari itu. Mereka bertiga telah bersiap-siap untuk pergi keakademi. Naori dan Kaguya tengah menunggu Naruto didepan pintu. Remaja itu sedang memakai seragamnya sekarang.

"Baka-Naru cepatlah...!"

"Naruto-kun..."

"Iya-iya. Cerewet..."

Beberapa saat kemudian. Akhirnya Naruto keluar dengan seragam ksatria sihir miliknya. Naori dan Kaguya sempat memerah melihat remaja pirang tersebut. Bagaimana tidak, penampilannya hampir terkesan seperti anak nakal pada umumnya.

Baju hitamnya ia biarkan terbuka membuat kaos hitam miliknya terlihat jelas. Lengan baju yang panjang ia gulung menjadi setengah. Celana hitam dengan sepatu yang senada dengan celananya. Ia juga memakai grimoire hitam miliknya bersama kalung sara yang juga terkalung dilehernya. Lengkap dengan katana dan juga kantong senjata dibelakangnya.

"Kenapa kalian diam...?! Apa ada yang salah dengan penampilanku.." Tanya Naruto polos

Naori menatap Naruto tajam. Apa laki-laki ini terlalu bodoh untuk mengerti keadaan. Ia akui bahwa ia sempat terpesona tadi. Jika dilihat seksama si bodoh ini memang sedikit tampan. Kesan liar dengan rambut acak-acakan miliknya membuat Naori sempat memerah. Tetapi dalam arti lain..

"Baju terbuka, tidak dimasukan, dan ditambah lengan baju yang digulung. Kau itu sangat mirip dengan berandalan. Rapikan sekarang bajumu..." Perintah Naori

"Itu benar Naruto-kun.." Timpal Kaguya. "Tetapi disisi lain aku juga suka penampilan Naruto-kun seperti ini.." Batinnya dalam hati.

Mereka berdua melihat Naruto menggelengkan kepalanya. Remaja itu menolak menuruti perkataan mereka. Naori lalu memberikan tatapan tajam miliknya. Remaja itu tidak memperdulikan tatapan gadis tersebut.

"Aku tidak mau. Itu membuatku gerah..." Tolak Naruto

Naori tidak punya cara lain. Gadis itu lalu mendekat kearah Naruto dan mengancingkan seragam remaja tersebut. Remaja itu sempat memberontak menerima perlakuan dari Naori.

"Naori lepaskan. Sudah kubilang aku tidak mau.." Ucap Naruto

"Urusaii Baka...! Turuti saja perintahku ini..." Balas Naori membentak

Beberapa menit setelah itu. Akhirnya mereka bertiga telah berangkat menuju akademi. Seragam Naruto dikancingkan hanya saja 3 kancing atas tetap terbuka dan tidak dimasukan. Remaja itu sepertinya tidak sepenuhnya menuruti perkataan Naori.

.

.

.

SKIP TIME...

Beberapa menit telah berlalu. Seluruh siswa sedang mengikuti pelajaran tentang sihir diakademi. Seorang guru yang bernama Iruka Umino tengah menerangkan sesuatu kepada semua siswa.

"Sihir adalah sumber energi dasar yang dimiliki semua orang. Secara teori, ada tiga jenis sihir yang ada didunia ini. Sihir elemen, sihir rahasia, dan terakhir adalah sihir terlarang. Tetapi, kali ini kita berfokus pada sihir elemen dulu...

Pada dasarnya hanya ada 5 elemen dasar yaitu api, air, angin, petir, dan tanah. Setiap elemen memiliki kelemahan dan kelebihan terhadap elemen lain masing-masing. Seperti api menang melawan angin, air menang terhadap api, angin menang melawan petir, tanah menang melawan air, dan terakhir petir menang melawan tanah. Apa kalian mengerti.." Terang Iruka

Pria itu menatap semua muridnya dengan seksama. Beberapa dari mereka terlihat tidak memperhatikan apa yang ia jelaskan tadi. Ada yang mengantuk, sibuk mengobrol, dan beberapa yang lainnya nampak sibuk sendiri dengan urusan mereka.

"Kami semua mengerti Sensei. Tetapi, tidak untuk ketiga orang yang berada dibelakang. Khususnya pria yang tak punya mana itu. Untuk apa orang sepertinya belajar tentang sihir. Seharusnya ia sadar kalau dia itu seorang yang cacat..." Ucap Rias dengan nada yang mengejek

"Ufufufu... Itu benar Sensei..~. Terlebih lagi, apa-apaan dengan seragam mereka yang hitam dengan lambang X aneh dibelakangnya itu. Aku rasa rumor kalau squad mereka adalah yang terlemah itu memang benar. Hitam berarti lemah dan bukannya simbol X juga berarti sebuah kegagalan..." Timpal Akeno

Kedua gadis itu tidak tau kalau Naori dan Kaguya sedang menatap mereka dengan tajam. Beberapa dari murid yang lain nampak memandang remeh Naruto. Tetapi, ada juga dari mereka yang terlihat prihatin namun tidak berani untuk menolong.

Salah satunya adalah seorang gadis yang bernama Hinata. Ia adalah anggota yang sekelompok dengan Menma. Dari kejauhan ia menatap khawatir Naruto. Maniknya memperhatikan remaja pirang itu yang tengah menunduk dalam diam.

Beberapa saat kemudian. Gadis itu terkejut melihat Naruto menegakkan pandangannya. Remaja itu terlihat tersenyum seolah tidak terjadi apa-apa. Ia meletakkan pena miliknya dan menatap sebentar catatan yang ia tulis dibuku kecil tersebut.

"Yosh.. Syukurlah aku mengingat semua yang dijelaskan Iruka-sensei tadi.." Ucap Naruto

Kedua gadis yang berada disampingnya tertegun. Apa remaja ini tidak mendengar hinaan yang dilayangkan kepadanya tadi. Naruto seolah menutup indranya dan seakan tidak peduli dengan itu semua.

"Naruto-kun. Kau tidak perlu mencatatnya.." Sahut Kaguya

"Itu benar. Penjelasan tadi bukannya sudah biasa diperpustakaan. Lagipula tadi itu teori sihir. Ehm, kau kan tidak punya sedikitpun mana.." Timpal Naori

Gadis itu sedikit tidak enak saat mengatakannya. Naruto hanya tertawa ringan mendengar penuturan dari Naori. Apa yang dikatakannya memang benar adanya. Ia tidak marah dengan itu semua.

"Daijobu.. Naori, Kaguya. Walaupun tidak memiliki mana. Aku hanya ingin mengerti sedikit. Sejak kecil aku tidak diperbolehkan untuk memasuki perpustakaan desa. Aku bersyukur mendapatkan itu semua disini sekarang.." Balas Naruto

TETTT... TETT...

Maniknya menatap seksama papan tulis. Apa yang telah terukir disana adalah anugerah yang pernah ia dapatkan. Meskipun beberapa dari murid lain hanya memandang sebelah mata Iruka.

Pria itu memang hanyalah seorang guru yang tidak terlalu berperan penting untuk kerajaan. Tetapi, bagi seorang seperti Naruto. Iruka adalah sosok yang ia hormati. Karna berkatnya ia jadi tau apa yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Ketika jam pelajaran telah selesai. Pria itu nampak membereskan buku-buku miliknya dan berniat untuk keluar ruangan. Naruto dapat melihat seluruh murid pergi begitu saja. Menghiraukan Iruka yang masih terdiam disana.

Salah satu murid nampak menyenggol pria itu membuat buku-buku yang dipegangnya terjatuh. Tidak ada satupun dari mereka yang bersimpati ingin menolongnya. Semuanya seolah membutakan pandangan mereka dan perlahan pergi begitu saja.

Kini hanya tersisa Naruto, Kaguya, dan juga Naori. Remaja pirang tersebut dengan cepat berlari kearah Iruka. Ia membantu mengambil semua buku-buku milik pria tersebut. Iruka menatap tidak percaya.

"Kau tidak perlu melakukan semua ini nak.." Sahut Iruka

"Naruto.. Uzumaki Naruto. Daijobu sensei. Lagipula sudah sewajarnya seorang murid berlaku sopan dan menolong gurunya sendiri.." Balas Naruto tersenyum

Iruka tertegun. Pria yang memiliki goresan kecil di bagian hidung itu tersentuh dengan perkataan Naruto barusan. Sedetik kemudian, ia membalas senyuman Naruto dan menerima buku-buku miliknya.

"Arigatou Naruto. Kau anak yang baik.."

Naori dan Kaguya tersenyum tipis. Kedua gadis itu menatap takjub kebaikan yang dilakukan remaja pirang tersebut. Mereka berdua menghampiri Naruto dan sedikit menunduk hormat kearah Iruka.

"Iruka-sensei. Kami bertiga mohon pamit. Ada misi yang harus kami kerjakan.." Sahut Kaguya

"Itu benar. Ayo Baka-Naru.." Ucap Naori

Mereka bertiga pergi meninggalkan Iruka sendirian. Pria itu kemudian pergi kearah yang berbeda. Samar-samar kita dapat melihat senyuman tipis dibibirnya.

.

.

.

SKIP TIME...

Seorang pria tengah berdiri didepan pintu gerbang kerajaan. Beberapa saat kemudian. Maniknya melihat ketiga orang yang sudah dari tadi ia tunggu. Ia sedikit menghela nafas ringan.

"Kenapa kalian lama sekali..?"

"Salahkan Si baka ini yang tadi kekantin dulu.."

"Huh.. Urusai Naori..!"

"Hei sudah-sudah. Sebelum itu, ini untukmu Naruto.."

Azazel memberikan empat gelang hitam kepada Naruto. Disalah satu gelang terdapat tiga tombol didalamnya. Remaja pirang itu menatap heran pemberian dari Azazel.

"Untuk apa ini..?" Tanya Naruto bingung

"Ini gelang pemberat pemberian Ajuka. Dia melihatmu selalu melepaskan gelang pemberatmu saat bertarung dan itu sangat merepotkan.." Terang Azazel

Naori dan Kaguya sudah tau tentang pemberat Naruto. Kedua gadis itu awalnya sangat terkejut mengetahui remaja itu membawa beban seberat itu. mereka tidak percaya latihan macam apa yang dilakukan Naruto sampai sejauh ini.

"Apa bedanya dengan gelangku ini..?" Balas Naruto bertanya lagi

"Hah... Disitu ada tiga tombol. Kiri untuk mengurangi beban sebanyak 5kg. Kanan untuk menambah 5kg dan tengah untuk menetralkannya menjadi nol. Apa kau mengerti..?" Ucap Azazel

"Aku mengerti. Arigatou Azazel Ji-san.."

Naruto lalu melepaskan gelang miliknya. Benda itu satu persatu jatuh ketanah dengan keras. Ia kemudian menggantikannya dengan gelang pemberian Ajuka tadi.

Setelah semua terpasang. Remaja itu mencoba mengatur beban di gelang yang ada ditangan kirinya. Ia menekan sampai layar yang ada digelang itu menunjukan angka 10kg.

Beberapa detik kemudian. Ia benar-benar merasakan benda itu memberat. Remaja itu terpukau tak percaya. Siapa sebenarnya Ajuka. Orang itu mampu membuat benda canggih seperti ini.

"Baiklah. Misi pertama kalian adalah menyelidiki sebuah dungeon.." Sahut Azazel

"Dungeon..?! Apa itu.." Tanya Naruto tidak tau

"Naruto-kun.. Dungeon itu semacam tempat kuno yang dibuat oleh orang-orang zaman dulu. Didalamnya terdapat item sihir, harta karun, dan masih banyak lagi.." Terang Kaguya

"S-Sugoi. Aku tidak percaya Dungeon sehebat itu.." Balas Naruto

Remaja itu senang bukan main. Naori yang berada disampingnya menatap serius Azazel. Misi kali ini bukanlah sesuatu yang mudah. Penyelidikan dungeon merupakan misi rank d. Tapi juga bisa menjadi misi rank c.

"Jangan senang dulu Baka. Dungeon itu tempat yang berbahaya. Orang-orang kala itu telah memasang banyak perangkap disana. Semua itu dilakukan untuk melindungi peninggalan mereka agar tidak disalahgunakan.." Sahut Naori

Azazel mengangguk setuju. Apa yang dikatakan gadis itu memang benar. Kaguya yang mengetahui itu sedikit merasa takut. Tetapi, tidak untuk Naruto. remaja itu menyeringai tipis.

"Semua yang kalian katakan tadi memang benar. Karna itulah aku menunjuk Naruto sebagai pemimpin dari misi ini. Terlebih lagi, dungeon itu muncul diarah barat laut yang disana juga ada kerajaan kiri dan iwa. Kalian harus mengerjakan misi ini dengan cepat agar orang-orang iwa ataupun kiri tidak mengambil apapun disana.." Terang Azazel

"T-Tunggu dulu. Jadi Azazel-taichou tidak ikut bersama kami.." Sahut Kaguya

Pria itu mengangguk. Tapi kenapa pikir gadis itu. Bukannya sudah seharusnya kapten squad yang memimpin jalannya misi. Dan juga ini misi pertama mereka. Apa tidak apa-apa membiarkan mereka melakukannya tanpa kehadiran kapten.

"Tenang saja. Semua ini terhitung sebagai pengalaman. Aku hanya ingin melihat apakah kalian dapat berhasil meski tanpa aku didalam tim. Dan untuk Naruto, kuserahkan mereka berdua padamu. Dengar.. Sebagai seorang leader kau harus mampu menjaga mereka berdua. Mengerti.." Terang Azazel

Pria itu menatap serius Naruto. Remaja itu tertegun. Ini pertama kalinya ia memimpin. Apa ia bisa mengemban tugas seberat itu. Maniknya melihat Azazel yang sangat percaya sekali dengannya. Ia tidak boleh mengecewakan pria itu. seulas senyum terpatri dibibirnya..

"Serahkan padaku..." Tukas Naruto singkat

Azazel tersenyum. "Baiklah. Pakai gelang ini untuk berteleportasi. Kalian akan dipindahkan langsung dengan benda ini. Oh iya.. Kusarankan untuk berpegangan tangan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Mereka bertiga mengangguk. Semuanya memakai gelang itu dan berpegangan tangan satu sama lain. Kaguya terlihat malu-malu ketika memegang tangan Naruto. Sedangkan Naori, gadis itu membuang muka tak kala merasakan sentuhan tangan Naruto. Samar-samar rona merah tipis terlihat dipipinya.

Sejurus kemudian, sebuah cahaya menyelimuti mereka dan dalam sekejap memindahkan mereka ketempat lain. Azazel menatap diam kejadian tadi. Pria itu lalu berjalan pergi dengan senyum tipis dibibirnya.

"Semoga kalian berhasil.."

.

.

.

SRINGG...

Cahaya terang muncul didekat sebuah pohon. Setelah cahaya itu redup. Terlihatlah tiga orang darisana. Salah satu remaja pirang nampak memegang perutnya.

WHOEK... WHOEK...

Naruto memuntahkan isi perutnya. Remaja itu tidak tahu kalau efek perpindahan tempat akan seperti ini. Kaguya mengusap-usap pelan punggung remaja tersebut.

"Huh.. Baru seperti itu saja sudah muntah. Payah..." Sahut Naori

"Sudah-sudah Naori-chan. Jangan seperti itu.."

"Jangan terlalu memanjakan dia Kaguya.."

Gadis itu lalu berjalan duluan diikuti Naruto dan Kaguya dibelakangnya. Setelah beberapa menit kemudian. Mereka bertiga sudah sampai didepan pintu masuk dungeon.

Manik mereka menatap lorong dungeon yang terkesan menyeramkan. Didalam sana terdapat banyak lentera yang berada disetiap dinding. Suasana horror terasa tak kala mereka bertiga telah memasuki tempat tersebut.

"S-Seram sekali.." Sahut Kaguya

"Kau benar Kaguya.." Timpal Naori

Mereka berdua tidak sadar kalau diri mereka menghimpit tubuh Naruto. Entah karna takut atau apa. Semua itu membuat Naruto menjadi kesulitan untuk berjalan.

"Kalian berdua bisakah sedikit menjauh dariku.."

"U-Urusai baka.. Perhatikan saja langkahmu.."

"Gomen Naruto-kun. Tapi aku sedikit takut.."

Naruto menghela nafas. Ini sedihnya kalau menyelesaikan misi bersama perempuan. Mereka tidak ingin salah dan selalu ingin menang sendiri. Dalam kesunyian itu. Naori tidak sengaja tersandung..

"E-Ehh..."

BRUKK...

Mereka bertiga terjatuh dengan Naruto yang berada dibawah. Remaja pirang itu menatap tajam Naori. Gadis itu membuang muka. Dia tidak mau mengakui kesalahannya. Kaguya yang berada disana mencoba menenangkan mereka berdua.

"I-Ittai. Kau menginjak kakiku.."

"G-Gomen aku tidak sengaja baka.."

"Cih.. Gadis dingin cerewet.."

"Baka no Naru..!"

Kaguya mendadak sweatdrop. Sekeras apapun usahanya mereka berdua tidak bisa akur. Gadis itu menghela nafas kemudian memimpin jalan dengan Naori dan Naruto yang tengah berdebat dibelakang.

Pandangannya lalu melihat sebuah cahaya tipis dari balik batu. Gadis itu lalu berjalan kearah benda tersebut. Tangan mungilnya lalu menyentuh pelan batu itu. benda itu bergerak kemudian terjatuh ditempat yang berlawanan.

KRAKK... JDAR...

Reruntuhan pun terjadi setelah Kaguya melakukan itu. Mereka bertiga lalu melihat sebuah pemandangan yang menakjubkan. Tempat luas dimana banyak bangunan dengan aliran mana yang melimpah.

"Tidak bisa dipercaya. Tempat ini mengandung banyak sekali mana.." Ucap Kaguya

"Heh.. Benarkah..?!" Tanya Naruto

Remaja itu sama sekali tidak merasakan apapun. Naori sepertinya paham kenapa Naruto tidak bisa merasakannya. Wajar saja, remaja itu tidak mempunyai mana sama sekali ditubuhnya.

"Kau tidak punya mana. Wajar jika kau tidak bisa merasakannya.." Sahut Naori

Naruto tertegun. Apa yang dikatakan gadis itu ada benarnya juga. Tetapi ia tidak peduli. Ia akan terus maju bahkan tanpa mana sekalipun. Seulas senyum tipis terukir dibibir Naruto. Naori yang melihat itu sedikit takjub. Ia juga ikut tersenyum. Namun, tanpa sadar gadis itu menginjak lantai dan kemudian tercipta lingkaran sihir darisana.

SRINGG...

Darisana muncul sebuah batu tajam. Sebelum benda itu mengenai gadis tersebut. Naruto mengeluarkan pedang lusuh miliknya dan menebas benda itu. Batu tersebut hancur seketika.

Naori terduduk. Maniknya menatap Naruto yang sedang khawatir. Remaja itu lalu menolong dirinya untuk berdiri. Ia memperhatikan setiap inci tubuh gadis tersebut. Memastikan kalau Naori tidak terluka sedikitpun.

Kaguya nampak menghampiri mereka. Gadis itu juga tidak sengaja menginjak jebakan yang ada dilantai. Sebuah lingkaran sihir tercipta dan memunculkan pusaran angin besar.

Tidak ingin membuang waktu. Naruto dengan cepat menebas angin tersebut. Remaja itu melihat Kaguya yang sedang ketakutan. Dengan pelan Naruto menghampirinya.

"Tenanglah Kaguya..." Ucap Naruto tersenyum tipis

Rasa takutnya kemudian berangsur-angsur hilang. Kaguya merasa aman berada didekat Naruto. Gadis itu membalas senyuman remaja tersebut. Disudut lain, kita bisa melihat Naori yang nampak cemberut melihat kedekatan mereka berdua.

[Diruang kerajaan Konoha..]

"Apa mereka baik-baik saja.." Sahut Hiruzen

"Semakin berbahayanya suatu misi, semakin besar pula batasan yang akan mereka lampaui. Tenang saja, Naruto akan menjaga mereka dengan baik.." Balas Azazel. Pria itu menyeruput pelan teh miliknya. Maniknya lalu menatap Hiruzen dengan santai.

"Lagipula. Bukannya kau juga menyuruh squad Kakashi untuk kesana.." Ucap Azazel

"Itu benar. Aku menyuruh mereka. Ada apa emangnya..?" Tanya Hiruzen bingung.

Pria itu menggeleng pelan. Seulas senyum terpatri dibibirnya. Ia meminum habis tehnya dan berdiri dari tempat tersebut. Sebelum pergi, ia mengatakan sesuatu kearah Hiruzen..

"Aku rasa akan terjadi hal yang menarik disana.."

.

.

.

[Ditempat Naruto..]

Setelah mengelilingi dungeon lebih dari setengah jam. Naruto dan yang lain beristirahat sejenak. Belum beberapa menit mereka beristirahat. Beberapa monster terlihat muncul dari arah depan mereka.

"Aku akan mengurus monster terbang itu. kalian berdua hadapi monster lendir itu.." Perintah Naruto

Naori dan Kaguya mengangguk. Remaja itu lalu mencoba memancing monster terbang kearah yang berbeda. Ahriman, seekor monster berbentuk bola mata raksasa dengan sayap kecil dikedua sisinya.

Naruto mengambil pedang lusuh dari grimoirenya. Maniknya menatap seksama empat ahriman yang sedang terbang tersebut. Dari kantong senjatanya ia nampak mengambil sesuatu..

"Ah sial. Sepertinya aku harus membeli lagi persenjataanku.." Batin Naruto

Ditangan kanannya hanya ada tiga pisau combat yang tersisa. Remaja itu tidak ambil pusing. Ia dengan cepat melesatkan tiga pisau yang ada ditangannya. Benda itu menancap tepat dimata tiga ahriman dan membuat makhluk itu terjatuh.

Ahriman yang tersisa mengeluarkan laser dari matanya. Naruto yang melihat itu dengan santainya menebas serangan itu menggunakan pedang lusuhnya. Melihat adanya celah. Ia mengambil katana miliknya dan dengan cepat melemparkan kearah makhluk tersebut.

Tidak membutuhkan waktu lama. Naruto telah selesai dengan tugasnya. Sekarang kita lihat keadaan Naori dan Kaguya. Kedua gadis itu menatap serius tiga slime yang ada didepan mereka.

Salah satu dari monster tersebut mengeluarkan lendir biru lengket kearah mereka. Kaguya tidak tinggal diam. Gadis itu kemudian memunculkan grimoire emas miliknya.

"Secret Magic : Tendo"

Sebuah gelombang tak kasat mata mementalkan cairan tersebut. Naori yang berada disamping Kaguya juga ikut membantu. Ia telah mengaktifkan mata sharingannya. Hanya saja sebatas tiga tomoe. Gadis itu belajar dari kesalahannya. Ia terlalu berfokus kepada satu teknik saja sehingga mengabaikan teknik lain yang ia punya.

"Secret Magic : Animal Illusion"

Dari ketiadaan. Muncullah tiga ekor singa didepan Naori. Hewan tersebut dengan cepat berlari kearah slime. Kaguya menatap takjub sihir yang dikeluarkan gadis bersurai hitam tersebut.

"Sugoi.. Kau hebat Naori-chan.." Sahut Kaguya

"Arigatou Kaguya. Tapi, apa yang kau lihat itu tidaklah nyata. Ilusi itu hanya bertahan beberapa detik. Cepat.. Gunakan sihirmu untuk menghancurkan makhluk itu.." Balas Naori

Kaguya mengangguk. Gadis itu kemudian memfokuskan dirinya. Ia merentangkan tangan kanannya kearah slime tersebut. tanpa diduga, sebuah gelombang tak kasat mata melesat cepat kearah monster lendir itu.

Ketiga slime yang tengah terperangkap dalam ilusi kemudian hancur seketika. Naruto melihat kejadian itu dari kejauhan. Remaja itu tersenyum tipis melihat kerja sama kedua gadis tersebut.

.

.

.

[Disisi lain Dungeon..]

Didepan pintu yang sangat besar. Ketiga orang dengan dua perempuan dan satu laki-laki berdiri disana. Laki-laki itu mempunyai rambut hitam dengan manik yang sama seperti surai miliknya.

"Terima kasih Hinata. Berkat matamu kita bisa menemukan tempat ini.."

"I-Itu bukan apa-apa Menma-san.."

Gadis itu memainkan kedua telunjuknya. Hinata adalah perempuan yang sangat pemalu apalagi jika dipuji seperti itu. Berbanding terbalik dengan perempuan yang satunya. Senju Kyuubi, gadis itu memiliki sifat dingin dan ia sangat membenci semua laki-laki.

Beberapa saat kemudian. Dua orang sosok nampak muncul beberapa meter dari mereka. Seorang wanita cantik yang sangat menggairahkan terlihat disana. Ia memiliki surai hitam dengan pupil mirip seperti kucing.

Gadis itu memakai jubah hitam dengan resleting yang sengaja sedikit dibukanya. Disana kita dapat melihat sebuah kimono hitam yang terbuka sampai kebahu. Memberikan pandangan sedikit pada payudara indah miliknya.

"Nhe Judar..~. Habis ini ajak aku jalan-jalan Nyan.." Sahut perempuan tersebut kearah laki-laki yang ada disampingnya.

Ia memiliki surai hitam panjang dengan sebagian rambutnya diikat sampai kebawah pinggang. Tepat dilehernya terdapat kalung bangle emas dengan rubi dipusatnya.

Remaja dengan wajah tampan itu tidak menjawab. Bahkan ia tidak tergoda tak kala gadis itu memperlihatkan tubuh miliknya. Manik merah miliknya hanya menatap datar perempuan tersebut.

"Urusai yo Kuroka. Diamlah atau kubunuh kau.." Balas orang yang bernama Judar itu dingin

Bukannya takut. Gadis yang bernama Kuroka itu tersenyum sensual. Dari sisi lain, kita dapat melihat sebuah lambang buku merah dijubah kedua sosok tersebut.

"Siapa kalian...?!" Ucap Menma

Pandangannya menatap serius. Remaja itu dapat merasakan aura yang mengintimidasi dari sosok pria yang bernama Judar tersebut. Orang itu sepertinya sangat berbahaya.

"Kau lumayan tampan juga nyan..~. Tapi, kau masih kalah jauh dengan Judarku..."

"Aku bukan milikmu Kuroka. Terlebih lagi, kau tidak perlu tau siapa kami bocah. Kau memang tidak ada sangkut pautnya dalam misiku. Tetapi, aku rasa membunuh kalian itu tidak buruk. Hitung-hitung menghilangkan kebosanan.." Terang Judar

Remaja itu menatap datar Menma. Dari ketiadaan muncullah grimoire merah dilehernya. Menma menatap waspada. Tetapi, ia tidak melihat serangan yang dilancarkan oleh Judar.

Tepat beberapa detik kemudian. Judar dengan pelan menjetikkan jarinya. Sebuah kejadian yang tak terduga membuat Menma terkejut bukan main. Hinata yang berada disampingnya membeku seketika.

Maniknya melihat sebuah es yang muncul dari tanah. Benda itu dengan cepat menyelimuti seluruh tubuh gadis tersebut. Tidak berlangsung lama, es itu mencair dan membuat Hinata terjatuh pingsan.

"Apa yang telah kau lakukan hah..." Ucap Menma dingin

Judar tidak menjawab. Pria itu merentangkan tangan kanannya kearah Menma. Dari ketiadaan terciptalah ratusan es tajam dan melesat cepat kearah remaja tersebut.

Menma tidak tinggal diam. Ia menggunakan sihir miliknya dan menciptakan pelindung dari batu. Benda itu melindunginya bersama Hinata dan juga Kyuubi. Disaat keadaan terdesak ini ia menyuruh Kyuubi untuk membawa Hinata pergi.

"Kyuubi.. Bawa Hinata bersamamu. Semuanya serahkan saja padaku.." Sahut Menma

Kyuubi menatap tak percaya. Tetapi, sedetik kemudian ia mengangguk dan membawa Hinata yang tak sadarkan diri bersamanya. Meninggalkan Menma sendirian disana.

"Mereka lari Judar. Apa perlu kukejar nyan..~"

"Terserah kau saja. Aku tidak peduli..."

Judar kemudian maju dengan pelan. Dari tanah muncullah sebuah klon es yang menyerupainya. Ia membuat setidaknya dua puluh klon es dari ketiadaan. Mereka semua lalu berlari kearah Menma.

Menma yang melihat itu kemudian merentangkan kedua tangannya. Darisana tercipta sambaran petir dan dengan sukses menghancurkan semua klon milik Judar. Belum sempat remaja itu puas. Ia dikejutkan tak kala klon milik Judar yang telah hancur nampak menyatu lagi.

Bersamaan dengan itu juga. Kuroka telah pergi mengejar Hinata dan juga Kyuubi. Mengetahui hal itu membuat Menma dilanda khawatir. Tetapi, ini bukan saatnya mengkhawatirkan orang lain.

Klon milik judar sudah hampir mendekat kearahnya. Menma mencoba memikirkan sesuatu. Tanpa sadar, ia juga melakukan hal yang sama seperti Judar. Remaja itu juga membuat klon miliknya hanya saja terbuat dari batu.

Klon keduanya masing-masing menghancurkan satu sama lain. Menma menghiraukan semua itu. Remaja itu dengan cepat berlari kearah Judar yang masih dalam pose santainya.

Dari ketiadaan ia memunculkan jarum listrik miliknya dan melesatkan kearah pria tersebut. Judar hanya menatap datar. Ia menjetikkan jarinya lagi dan seketika terciptalah pelindung es yang mengelilinginya.

Jarum itu mengenai es tersebut. Listrik yang ada nampak mengalir dari setiap sisi es dan merambat ketanah. Hal itu membuat Menma terkejut. Pria ini bukan hanya menciptakan sihir. Ia mampu mengendalikan sihir miliknya juga.

"Ada apa..?! Sejauh ini kau belum mampu membuatku tertarik.." Sahut Judar datar

Pria itu kembali membuat sihir es miliknya. Kali ini ia menciptakan sebuah pedang es yang sangat besar. Benda itu dengan cepat melesat kearah Menma. Remaja itu nampak menghindar kearah kanan.

"Kuso.. Aku semakin terdesak.." Pikir Menma

Maniknya menatap waspada. Ia melihat pedang es tersebut kembali lagi kearahnya. Tanpa pikir panjang remaja itu membuat sebuah domino dari tanah dan melompatinya.

JDARR...

Pedang itu menghancurkan domino milik Menma. Tetapi, sepertinya itu tidak masalah. Remaja itu masih sempat melompat dan mendarat tepat ketanah. Melihat kalau Menma hanya menghindar saja. Judar kemudian membuat tiga buah pedang lagi.

"Cukup main-mainnya. Kau tidak serius.. Kau akan terbunuh.." Ucap Judar

Ia melesatkan keempat pedang es itu dari segala arah. Menma sepertinya sudah pasrah. Tidak ada celah lagi untuk dirinya menghindar. Sepertinya ini akhir baginya. Tetapi, sebelum ia sempat berpikir seperti itu. Sebuah kejadian yang tak terduga terjadi.

SYAT... SYAT...

PYAR...

Pedang es Judar hancur seketika. Benda itu perlahan terurai keudara bersamaan seseorang yang datang didepan Menma. Ia memutar kepalanya sebentar untuk melihat remaja bersurai hitam tersebut. Seulas senyum tipis terpatri membuat Menma terkejut bukan main.

"Ohayou Teme. Senang bertemu denganmu.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

-Harap Baca sebentar-

Untuk semua readers sekalian author mohon maaf. Fict ini tidak bisa update cepat dikarenakan author juga harus fokus didunia nyata. Beberapa bulan lagi author akan mengikuti UNBK. Jadi mohon pengertian kalian semua yah. Untuk info soal update author tidak bisa janji. Tetapi, author akan usahakan untuk update paling tidak seminggu satu kali. Jadi mohon pengertiannya yah. Jangan letih untuk terus review fanfic ini yah. Karna saya sangat mengharapkan semua itu...

AUTHOR BERTERIMA KASIH KEPADA KALIAN YANG TELAH MENGOREKSI KESALAHAN DI FICT INI. KEDEPANNYA MOHON BANTUANNYA LAGI YAH...

Note Author : Thanks untuk review kalian. Semua kritik dan saran dari kalian adalah semangat author untuk tetap semangat menulis cerita. Akhir kata sampai jumpa lagi...

See You The Next Chapter..