Saya bukan pemilik Naruto atau Fairy Tail!

Golden Wizard – Chapter 12


[September X782]

[Desa Matahari]

. . .

Flare Corona, gadis muda bersurai merah, ia ditemukan oleh suku Raksasa dari Desa Matahari ketika masih kecil, kemudian dibesarkan sebagai bagian keluarga suku tersebut. Saat usianya memasuki tahun ke 12, ia mulai menyadari bahwa dirinya berbeda; ia bukanlah seorang raksasa sebagaimana pengasuh dan warga lain.

Selama satu tahun belakangan, Flare sempat berfikir kalau dirinya memiliki kelainan sehingga ia tumbuh berbeda, tapi semua menjadi jelas ketika seorang pria bertubuh kecil dibandingkan raksasa; datang mengunjungi Desa Matahari. Pria itu memiliki rambut pirang, dengan iris mata berwarna biru.

Awalnya Flare merasa malu menyapa pria itu, tapi sejalan dengan waktu berlahan ia mulai memiliki keberanian menyapa dan berinteraksi. Pria itu menetap di Desa Matahari selama satu bulan, dan dalam waktu itu pula Flare menjadi semakin dekat. Dia banyak belajar dari pria itu mengenai dunia luar, tentang manusia seukuran dirinya, tatanan sosial, sihir, dan masih banyak lainnya.

Tapi hal yang membuat gadis bersurai merah tadi tertarik adalah kisah petualangan, ia mendengar berbagai kisah mengagumkan dari pria itu, sehingga menggugah hati untuk melihat langsung dunia di luar Desa Matahari. Setelah kepergian pria yang menjadi teman baginya selama beberapa minggu, Flare memberanikan diri meminta izin pada pengasuh untuk meninggalkan desa. Namun setelah satu tahun berlalu, usahanya tetap belum berhasil.

Semakin lama ia tinggal di desa semenjak kepergian pria itu, semakin haus pula hatinya untuk melihat dunia. Dia mulai membuat rencana untuk kabur dari desa, berharap bisa keluar, ia ingin melihat dunia dan menemui pria itu kembali. Tapi setelah semua persiapan matang, niat dan rencana Flare harus tertunda, sebab di malam rencananya berjalan, pria... bukan, teman yang hendak ia cari datang ke desa.

Pria itu bernama Naruto Uzumaki!

Pria penuh keceriaan yang menjadi teman pertama sekaligus satu-satunya mengunjungi Desa Matahari dengan tubuh terluka parah.

Flare sempat panik, takut jika Naruto tidak selamat dari luka yang diderita. Namun sekali lagi ia bersyukur pada Abi Abadi yang selama ini melindungi desa, sebab berkat api tersebut Naruto bisa terselamatkan. Setelah melahap api, dan tidak sadarkan diri, Naruto terbangun tiga hari kemudian. Hari itu ia benar-benar bahagia, mengetahui Naruto selamat. Meskipun ia harus memindahkan temannya keluar-masuk rumah untuk berjemur setiap hari.

Jika dulu Flare hanya percaya pada kekuatan api, sebab Api Abadi selalu melindunginya dan juga desa, kini ia ikut percaya pada kekuatan Matahari, sebagaimana nama desa yang ia tempati. Matahari yang bersinar dari pagi hingga sore telah memberikan kekuatan pada temannya, penyembuhan tubuh Naruto menjadi semakin cepat saat disinari oleh cahaya Mentari.

"Flare?"

"Huh?" Flare mengerjapkan mata. Iris merahnya menatap Naruto, mendapati ekspresi bingung pria bersurai pirang itu.

"Kau baik-baik saja? Kenapa kau melamun? Aku memanggil namamu beberapa kali, tapi kau tidak menjawabnya." Tukas Naruto dengan nada khawatir.

Flare mungulas senyum, sedangkan ekpresinya memperlihatkan rasa malu. "Ti-tidak."

"Oh, kalau begitu kami berangkat. Jaga dirimu, dan sampaikan salam rinduku pada Wendy saat kalian bertemu. Sampai jumpa!" Lanjut Naruto sambil beranjak meninggalkan desa, menjauh dari tempat Flare berdiri.

"Sampai jumpa Flare-chan!" Ucap seorang gadis bersurai putih [silver]. Gadis itu tersenyum lembut pada Flare, sedangkan telinga kucingnya sesekali berkedut. Dia melambaikan tangan ketika berlari mengejar Naruto, tidak lupa ekor putih yang bergerak seirama dengan lambaian tangannya.

"Ya, sampai jumpa!" Gumam Flare pelan.

"SAMPAI JUMPA NAGA MATAHARI, KAU JUGA SHIRO-NEKO!" Ucap para raksasa bersamaan.

Flare menatap sendu kepergian Naruto, dan teman barunya, Shirone. Sudah sebulan kedua teman Flare tadi tinggal di Desa Matahari, menetap selama Naruto berada dalam proses penyembuhan.

Naruto tidak bisa tinggal lebih lama, sebab harus segera menjalankan permintaan Atlas Flame –Sang Api Abadi–; menuju Gunung Doom. Sedangkan Shirone memutuskan mengikuti Naruto setelah pria bersurai pirang itu bersedia menjadi mentor. Sudah dua minggu Flare dan Shirone menjadi murid Naruto. Flare kini tidak hanya menguasai Sihir Rambut Api pemberian Atlas Flame, tapi juga bisa menggunakan Sihir Api. Sedangkan Shirone mampu melakukan Transformasi lebih baik, gadis kucing itu mampu mempertahankan transformasi selama 6 jam jika tidak sedang bertarung.

Ingin rasanya Flare mengikuti perjalanan kedua temannya, tapi ia tahu masih begitu lemah. Perjalanan menuju Gunung Doom bukanlah hal ringan, selain jarak yang jauh, Gunung Doom juga dihuni oleh berbagai hewan buas kelas atas. Dia tidak ingin menjadi beban bagi kedua temannya. Namun ia masih bisa tersenyum, berkat Naruto ia bisa menjadi lebih kuat, dan mendapatkan izin pengasuh untuk mengeksplorasi dunia. Meskipun Naruto memberikan satu syarat, ia harus bergabung dengan Perkumpulan Penyihir [Guild] Cait Shelter terlebih dulu.

"Virgo, kau tidak lupa membungkuskan bekal makan siang kita kan?" Flare kembali tersadar ketika mendengar suara Naruto dari kejauhan.

"Ah~ maaf Master, aku lupa." Flare terkikik lembut melihat gadis bersurai pink yang memakai pakaian pelayan membungkuk di depan Naruto. "Aku siap menerima hukuman atas kelalaianku, Master!"

"VIRGO!" Kikikan Flare berubah menjadi tawa ketika melihat raut geram Naruto. "Bagaimana bisa kau melupakan bekal kita? Apa lagi..."

"Manisan!" Terdengar suara Shirone memotong perkataan Naruto.

"Ya! Bukan, bukan manisan Shirone. Tapi ramenku!"

"Kalau begitu aku akan segera kembali ke desa untuk mengambil bekalnya, Master. Tapi setelah menerima hukuman atas kelalaianku."

"Tidak perlu! Itu memalukan, setelah kita berpamitan pada mereka." Suara Naruto terdengar semakin sayu. "Dan tidak ada hukuman untukmu selama sebulan."

"TIDAK! Anda tidak boleh menghilangkan hukumanku, Master. Maafkan pelayanmu yang lalai ini."

"Fufufu~" Tawa Flare menjadi semakin keras mendengar ucapan serta tingkah dramatis Virgo, Roh Surgawi [Celestial Spirit] itu terlihat tengah memeluk kaki kanan Naruto.

Menurut cerita yang disampaikan Naruto pada Flare, Virgo merupakan Roh Surgawi yang diambil paksa oleh Naruto dari seorang pengusaha kaya. Saat itu Naruto menjalankan misi sebagai penyihir Cait Shelter, dan pengusaha bernama Everlue berusaha menghianati kontrak kerja, memandang Naruto sebagai penyihir lemah sebab berasal dari Guild independen yang kecil.

Pada akhirnya, Naruto menghancurkan rumah Everlue, lantas mengambil paksa kunci emas Virgo sebagai bayaran. Pria bersurai pirang itu berencana menjualnya, tapi diurungkan karena Virgo datang dan memilih menjalin kontrak setelah mengetahui Everlue melanggar janji.

"MEREKA SUDAH PERGI. KAPAN KAU AKAN PERGI KE CAIT SHELTER, MUSUME?" Tukas tetua dari Suku Raksasa pada Flare.

"Berhati-hatilah kalian berdua!" Batin Flare sambil mengulas senyum lembut, dan mengabaikan pertanyaan lelaki raksasa di dekatnya.

Para raksasa saling melayangkan pandang, menyadari keanehan sikap Flare. Tapi setelah beberapa saat, mereka mengulas senyum karena menyadari apa yang tengah dipikirkan gadis kecil yang mereka rawat selama ini.

"Huh?" Flare menatap aneh para pengasuhnya begitu tersadar dari lamunan. "Kenapa kalian tersenyum seperti itu?"

"HAHAHA~" Bukannya menjawab pertanyaan Flare, semua raksasa justru tertawa lepas.

"Mou~" Flare terlihat cemberut, lantas kembali mengulas senyum. Berlahan pandangannya kehilangan keberadaan Naruto dan Shirone.


[Seminggu Kemudian]

. . .

Seminggu berlalu sejak Naruto meninggalkan Desa Matahari. Dia dan Shirone kini tengah menyusuri hutan, menuju bagian selatan Kerajaan Fiore. Berdasarkan penjelasan Atlas Flame, Gunung Doom terletak di kawasan Kerajaan Caelum.

"Master!" Ucap gadis berambut pink dengan nada serius, seakan tengah memperingatkan sesuatu pada masternya.

"Ya, aku tau Virgo..." Balas Naruto.

Benar juga!

Virgo, Roh Surgawi milik Naruto kini hampir setiap hari datang menemani perjalanannya dan juga Shirone. Semenjak Roh Surgawi itu mengetahui luka parah yang diderita Naruto setelah melawan Acnologia, ia selalu khawatir. Tidak ingin master yang menurutnya merupakan terbaik, mati karena tidak ada yang membantu dalam pertarungan.

Naruto merupakan master yang baik hati, menganggap Virgo sebagai teman, mungkin justru keluarga. Tapi Naruto juga tegas dan menepati janji, bersedia memberikan hukuman kesukaan Virgo ketika ia tidak melakukan pekerjaan dengan benar, sesuai perjanjian.

"...tapi aku tidak akan menghukummu. Kau lagi-lagi sengaja tidak mengepak bekal tangkapan yang sudah kita siapkan. Sekarang kita harus sibuk berburu lagi."

"Maaf, Master." Ucap Virgo dengan wajah datar.

"Wajahmu terlihat bertolak belakang dengan apa yang kau ucapkan, Virgo." Cela Shirone yang sedari tadi hanya terdiam mendengar percakapan antara master dengan pelayan.

Kucing putih tadi tengah asik berbaring di atas kepala Naruto, menikmati kelembutan rambut pirang sang pria. Hubungan Shirone dengan Naruto menjadi semakin dekat sejalan jauhnya perjalanan yang mereka tempuh.

Virgo mengalihkan pandangan pada Shirone. "Maaf, tapi aku tidak terbiasa dengan ekspresi wajah yang digunakan seekor kucing."

"Kau..."

"Virgo!" Panggil Naruto memotong perkataan Shirone.

"Ya, Master! Aku akan segera kembali ke perkemahan sebelumnya untuk mengambil bekal yang tertinggal, tapi... tentunya setelah menerima hukuman."

"Hufff~" Naruto mendesah panjang. "Tidak ada hukuman sebelum kau menyelesaikan pekerjaan dengan benar."

"Tapi Master..."

"Titik."

"Hihihi~" Shirone terkikik menyaksikan interaksi antara master dengan pelayannya. "Pelayanmu sama liciknya denganmu, Naruto. Otaknya sudah tercemar dengan pemikiranmu. Berapa lama Virgo bekerja padamu?"

Twich!

"Shiro... hufff~" Alis pirang Naruto nampak berkedut. "Keluarlah! Siapapun kau di luar sana. Kami sudah mengetahui keberadaanmu sejak tadi."

Hening!

Untuk beberapa saat keadaan menjadi hening, hanya terdengat suara dari beberapa hewan yang menghuni hutan.

"Ara~ aku kira bisa mengamati interaksi menarik kalian lebih lama, tapi ternyata sudah ada yang merasakan kehadiranku. Aku terkesan!" Suara feminim terdengar keluar dari balik pohon.

Tidak lama kemudian, terlihat seorang gadis muda berambut ungu tua berjalan mendekati Naruto. Iris merah gadis tadi terus memperhatikan Naruto penuh kecermatan. Tubuh langsingnya terbalut oleh kain kimono putih pendek sepaha, dengan pengikat berwarna kuning yang bertengger di pinggang.

"Shirone?" Gumam Naruto.

"Aku mencium bau parfum seseorang."

"Virgo?"

"Aku mendengar pergerakan sesuatu..." Ucap Virgo dengan wajah datar seperti biasa, tapi matanya berkedip saat mendapati sorot tajam mata Naruto. "...seseorang, Master."

"Hem~ mereka tidak merasakanmu. Shirone... mencium bau parfum-mu, Virgo mendengar pergerakanmu, dan aku juga mencium bau parfum-mu." Ucap Naruto membuat kedua sisi pipi gadis bersurai ungu tadi memerah. "Yah, meskipun aku merasakan, mencium, mendengar, dan melihat kedatanganmu. Tapi aku tidak akan mengatakannya, wajahmu terlihat cantik saat malu. Huh, apa aku pernah melihat gadis ini sebelumnya?"

"Ara~" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut sang gadis.

"Ah~ kau gadis perpustakaan di Era waktu itu. Kau yang membantuku mencari informasi mengenai Sihir 'Toki no Āku', benarkan?"

Gadis tadi langsung mengulas senyum lembut. "Benar."

"Jadi... Ultra Years, apa yang kau inginkan?" Tanya Naruto pada gadis bersurai ungu gelap.

"Ultear, Ultear Milkovich." Koreksi sang gadis.

"Your-years, Your-years Milk-to-bitch."

Twich!

"Ul-te-ar!" Jelas Ultear dengan penuh penekanan di setiap ucapan.

"Ul."

Twich!

"Jangan panggil aku dengan nama itu!" Bentak Ultear. Urat-urat di pelipis gadis itu terlihat menebal.

"Ok, Tea."

Twich!

"Hufff~" Ultear mendesah panjang. "Panggil aku... terserah kau saja, tapi jangan panggil dengan nama Tea. Rasanya... lebih aneh."

"Kalau aku tidak boleh memanggilmu Tea, itu namanya bukan terserah..." Naruto menghentikan penjelasan ketika melihat sorot tajam Ultear. "Ok, Ul."

Twich!

"AHHH~" Teriak Ultear penuh frustasi. Dia sama sekali tidak ingin dipanggil dengan nama yang sering digunakan ibunya. "Kenapa Master Hades memberiku misi untuk menemui pria ini?"

"Oya, ada apa dengan pakaianmu? Kenapa kain lengan kanannya lebih pendek daripada bagian kiri?" Ucap Naruto menyadarkan lamunan Ultear. "Apa karena kau terburu-buru menemuiku, sampai harus memakai pakaian yang belum jadi seutuhnya."

Twich!

"Itu gaya [fashion], Master!" Jawaban keluar bukan dari Ultear, melainkan Virgo.

"Huh? Kenapa memilih gaya pakaian seperti itu, Virgo? Kuro-nee juga gemar memakai kimono, tapi tetap seimbang kedua lengannya. Yah, meskipun yang dipakai Kuro-nee cenderung warna hitam. Apa mungkin yang warna putih kebanyakan seperti itu? Pantas kalau Nee-chan tidak ingin memakai warna putih, gaya seperti itu terlihat begitu aneh. Meskipun aku sendiri menyukai warna putih!" Tukas Shirone, wajah gadis kucing itu menunjukkan kebingungan.

Twich!

"Entahlah, aku hanya seorang Roh Surgawi. Tidak begitu mengenal budaya Manusia." Jawab Virgo dengan wajah datar.

Naruto menyanggah dagunya dengan telapak tangan kanan. "Hem~ aku ingat seorang kunoichi yang memakai pakaian dengan gaya seperti itu. Namanya... Kuro... guchi? Bukan, Kuro... mochi? Juga bukan. Ah~ Kurotsuchi."

"Benarkah?" Tanya Shirone penuh ketertarikan, mendengar nama seseorang dengan awalan Kuro; menyamai kakak perempuannya.

"Ya. Gadis itu menebas dadaku dengan katana!"

Twich!

Ultear menundukkan wajah, iris merahnya kini tertutupi oleh bayangan rambut ungu. "Kalian sadar aku masih di sini kan?"

"Tentu saja!" Tukas Naruto, Shirone, dan Virgo bersamaan.

Twich!

"Aku akan melaporkan pada Master Hades kalau kandidat yang ingin dia rekrut mati di tangan para monster." Batin Ultear penuh geram.


[November X782]

[Gunung Bersalju – Kerajaan Caelum]

. . .

Tiga bulan.

Tiga bulan berlalu semenjak Natsu Dragneel meninggalkan Fairy Tail. Dia bersama Happy, menempuh perjalanan tanpa tujuan, terombang-ambing tak tahu arah, bahkan selama tiga bulan perjalanan mereka sama sekali belum berlatih keras sebagaimana rencana ketika meninggalkan guild.

Hari-hari mereka lalui dengan mengunjungi berbagai tempat di wilayah Kerajaan Fiore, sedangkan perjalanannya selalu diisi perdebatan mengenai ikan yang akan dimakan. Hingga sebulan lalu mereka memutuskan untuk mencari Gildarts, berharap bisa membimbing latihan. Mereka bahkan rela meninggalkan kawasan Fiore, sebab sama sekali tidak mendengar berita tentang Gidarts, padahal pria itu merupakan penyihir dengan tingkat penghancur yang tinggi. Tapi semua sia-sia, karena sampai sekarang mereka belum juga menemukan keberadaan Ace milik Fairy Tail.

Baik Natsu maupun Happy kini berada di Kerajaan Caelum, tanah tempat legenda sarang Naga di temukan. Menurut sejarah, 400 tahun yang lalu Kerajaan Caelum merupakan medan Perang Sipil Naga pertama, sebelum menyebar keseluruh belahan Earthland.

Natsu berharap bisa menemukan Igneel di daratan Caelum, selain itu ia juga ingin bertarung dengan monster-monster kuat yang dikatakan hidup di negeri tersebut. Dia juga berpikir kalau Gildarts berada di Caelum, sebab monster seperti pria itu sering berada di tengah para monster. Natsu merasa akan melakukan hal sama jika ia memiliki kekuatan seperti Gildarts.

Hanya sesama Naga atau Penyihir Pembunuh Naga yang mampu membunuh Naga!

Itulah perkataan yang disampaikan Igneel ketika Natsu masih kecil. Jika hal itu merupakan kebenaran, maka tidak diragukan lagi, Gildarts ada di Caelum. Dia adalah satu-sayunya manusia dengan kekuatan monster yang Natsu ketahui, hal wajar kalau Ace Fairy Tail diundang datang ke Caelum hanya untuk membasmi para monster.

Gildarts juga seorang monster!

"Kukuku~" Tawa seram keluar dari mulut seorang remaja bersurai salmon.

Kucing berbulu biru yang terbang di dekat remaja tadi terlihat mematung, iris hitamnya melebar, sebab bulu-bulu sang kucing nampak berdiri karena merinding. "Natsu?"

"Kukuku~ saat kita bertemu nanti, aku akan langsung menendang pantatmu, Gildarts!" Batin remaja yang dipanggil dengan nama Natsu oleh kucing biru tadi. "Kukuku~ HAHAHA~"

"Na-natsu?" Sang kucing biru kini tampak semakin nerfes melihat ekspresi wajah menakutkan Natsu, bahkan seluruh bulunya semakin tegak.

Natsu menghentikan tawa seram begitu sadar namanya dipanggil. "Apa?"

"Barusan kau terlihat menyeramkan, Natsu." Tukas Happy.

Natsu menatap aneh Happy, lantas mengulas senyum. "Itu hanya perasaanmu saja Happy."

"Tidak, aku..."

"Mungkin karena kau sudah tiga hari tidak makan ikan." Cela Natsu.

"Oh~" Happy mengangguk pelan. "Itu masuk akal."

"Ya, tentu saja." Natsu tersenyum sambil mengelus kepala Happy.

"Natsu."

"Ya?"

"Dengan penjelasan seperti tadi, kau terdengar seperti orang pintar."

"Benarkan! Berarti petualangan kita sudah membuahkan hasil." Ucap Natsu penuh semangat.

"Ya."

Tapi tidak lama setelah itu, Natsu menghentikan langkah, tubuhnya terlihat mematung. "Happy."

"Hem?"

"Setelah memberikan penjelasan kelainanmu karena ikan, lalu kau anggap aku sebagai orang pintar. Apa kau membandingkanku dengan seekor kucing?"

"Aye! Karena aku seekor kucing."

Natsu langsung berjongkok. "Ugh~ aku mau muntah."

"Natsu... kau kenapa?"

"Kenapa? Kenapa kepintaranku hanya berada di atas kucing?" Ucap remaja berambut salmon penuh dramatis.

"Tapi bukannya itu lebih bagus? Setidaknya kau memiliki kepintaran di atas sesuatu kan! Tentu saja tetap tidak akan melebihi kepintaran Lisanna ataupun Erza."

"Ugh~ kenapa aku harus mengajakmu berpetualang? Kerjamu hanya menyakiti perasaanku saja!"

"Entahlah, aku tidak tau alasanmu. Kenapa juga kau bertanya padaku? Kau kan yang mengajakku. Lagi pula aku masih sangat muda untuk mengerti hal yang kau bicarakan, dan aku hanya seekor kucing! Kau lebih pintar daripada seekor kucing, jadi kau seharusnya tahu alasannya." Jelas Happy dengan ekspresi polos.

"Mendengar penjelasanmu, kau terdengar begitu mengerti dengan apa yang aku bicarakan Happy!"

"Itu hanya perasaanmu!" Sangkal Happy sambil mengalihkan pandangan mata, menghindari tatapan iris hitam Natsu.

Namun lelaki yang diajak bicara Happy tidak lagi mendengarkan. Remaja tadi justru sibuk mengendus udara sekitar, seakan mencium bau sesuatu. "Happy, seseorang... bukan, tiga orang datang!"

"Benarkah?" Happy menatap Natsu dengan serius. "Di tempat dingin penuh salju seperti ini?"

"Ya." Jawab Natsu. "Kenapa kau terkejut? Kita saja ada di sini, jadi wajar kalau ada orang lain yang datang ke sini."

"Tapi kita kan cuma kesasar! Semua gara-gara kau, mengindahkan peringatanku." Protes Happy.

"Tshhh~" Natsu menatap tajam Happy sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir, memberikan isyarat pada patnernya untuk diam. Dia bergerak cepat, berusaha bersembunyi di balik tumpukan salju lereng gunung. Mengamati pergerakan ketiga bayangan yang bergerak dibalik kabut salju.

"Natsu, kita terselamatkan lagi oleh hidup ajaibmu."

"Kenapa kau hanya menyinggung hidungku, Happy?"

"Sebab sejauh ini cuma hidungmu saja yang beguna."

"Ugh~" Natsu jatuh mencium salju. "Kejam! Kau kejam sekali Happy."

Tidak jauh dari persembunyiaan Natsu dan Happy, berdiri tiga bayangan. Lebih tepatnya, dua orang perempuan dan seorang laki-laki.

"Ah~ Master, maafkan pelayanmu yang bangkang ini! Anda boleh menambah hukuman yang anda berikan padaku." Natsu mendengar suara feminim dengan nada... berlawanan dengan apa yang dikatakan. Nada suara tadi terdengar menikmati hukuman, sedangkan yang diucapkan justru permintaan maaf.

"Natsu?" Happy terkejut melihat ekspresi serius Natsu.

"Naruto, kenapa kau justru menghukum pelayanmu? Bukannya dia tadi mengerjakan perintahmu dengan baik." Natsu kembali mendengar suara feminim, tapi kali ini terdengar berbeda dengar suara sebelumnya.

"Shirone, kau tidak tau apa-apa. Sudah dua bulan ini aku selalu menghukum Virgo setiap kali menjalankan tugas dengan baik." Sekarang Natsu mendengar suara maskulin.

"Happy."

"Ya?" Jawab Happy. Kucing biru itu bisa melihat tangan Natsu tergenggam erat, sedangkan tubuhnya mulai terselimuti oleh api oranye [Jingga].

"Kita punya tugas. Menyelamatkan seseorang dari perbudakan." Ucap Natsu penuh geram.

"Aye!"

Tap!

Natsu langsung berlari cepat menuju ketiga bayangan tadi, berharap bisa segera menendang master kejam yang menganiaya pelayannya. Iris hitam pemuda itu terlihat serius, sedangkan tangannya kini terlapisi oleh api oranye.

'Karyū no Tek...'

Bam!

"AHHH~" Belum sempat melancarkan serangan dengan sempurna, tapi Natsu sudah merasakan wajahnya terkena pukulan telak yang keras, bahkan ia sama sekali tidak melihat pergerakan penyerangnya. Dia terlempar jauh, menuruni pegunungan bersaju. "HAPPY, TOLONG AKU!"

"NATSU!" Teriak Happy yang melihat patnernya melayang mendekati lembah gunung bersalju. Secepat mungkin kucing biru itu terbang mengejar Natsu.

"Apa yang kau pukul tadi Naruto?" Tubuh seekor kucing putih mulai terlihat jelas setelah kabut salju menyingkir akibat gelombang yang ditimbulkan oleh tinjuan pria bernama Naruto.

"Entahlah. Aku hanya tau kalau ada yang mendekati posisi kita dengan niat negatif, jadi aku meninjunya sebelum situasi menjadi lebih rumit." Jelas pria berambut pirang sambil menggaruk kepala bagian belakang.

"Master, hukumanku belum selesai!" Ucap gadis berambut pink yang tengah terbaring di salju, menjadi tempat duduk bagi Naruto.

"Oh, kau benar Virgo." Tanggap Naruto penuh semangat. Dia lantas melentangkan tangan kanan, seketika muncul cambuk berwarna hitam di telapak tangannya.


Silahkan tinggalkan reviews!

Salam... Deswa