JK Daily Life

Cast : Kim Taehyung. Jeon Jungkook. Others

Genre : Drama and Romance

.

.

"Cookies?"

Jantung Jungkook bertalu, dia menoleh dan ternyata matanya tengah mendapati Taehyung yang sedang memakan kue buatan ibunya. Jungkook hanya terkekeh, ternyata Taehyung bukan memanggilnya. Ya walaupun ada sedikit rasa kecewa yang terselip di hatinya.

Jungkook hanya berharap dengan Taehyung menyebut cookies tadi, semoga Taehyung bisa mengingat bahwa 'cookies'nya berada disini, masih setia menunggunya pulih dan kembali bersama seperti dulu.

.

Jungkook tersenyum tanpa lelah hari ini, dia semangat menjalani rutinitasnya karena ada Taehyung disini. Dia senang, sangat. Maka dari itu selepas selesai kerja dia akan langsung berlari ke kamar rawat inap Taehyung dan langsung mengajaknya makan bersama.

"Taehyungggg, sudah makan?" tanya Jungkook ceria.

"Tidak selera" jawab pria itu singkat, Jungkook hanya tersenyum walaupun rasanya sangat sakit mengingat dulu Taehyung tidak pernah sedingin ini padanya.

Jungkook menaruh kotak berisi berbagai makanan sehat yang ia beli di kantin rumah sakit itu di atas meja. Taehyung saat ini tengah menonton tv, dia duduk dengan kaki yang dinaikan ke atas. "makanlah, badanmu sangat kurus"

Taehyung hanya diam, tidak bergerak sedikitpun. Jungkook hanya menghela nafas dan mengambil kotak itu, kemudian dia duduk di samping Taehyung. "buka mulutmu" ucap Jungkook, Taehyung hanya meliriknya sebentar dan langsung membuka mulutnya.

"Besok kamu sudah boleh pulang" Jungkook kembali berbicara, sementara tangannya sibuk menyuapi bayi besar di hadapannya ini. "aku tak tau rumahku dimana" jawab Taehyung acuh sambil mengunyah pelan. "aku tau, nanti kuantar"

.

Esoknya, Jungkook membantu Taehyung untuk berkemas. Orang tua Taehyung tidak bisa mengantar karena sudah di Daegu dan ibu Taehyung sedang dalam kondisi yang kurang fit, mereka mempercayakan Taehyung pada Jungkook.

Jungkook berjalan di depan, sementara Taehyung hanya diam saja mengikuti kemanapun langkah kaki itu. Mereka berdua masuk ke dalam mobil berwarna hitam ini yang terparkir di basemant rumah sakit. Jungkook pun menjalankan mobilnya.

Selama di perjalanan sebenarnya Jungkook memikirkan sesuatu. Dia ingin menguji apa sebenarnya di alam bawah sadar Taehyung dia masih mengingat jalan menuju apartemennya sendiri? Maka dari itu Jungkook sengaja membelokan mobilnya ke kiri, bukan ke kanan.

"Hei! Bukannya belok kanan?" ujar Taehyung.

Jungkook hampir memekik senang karena ternyata dugaannya benar. Ternyata di alam bawah sadar Taehyung dia masih mengingatnya! "ternyata kamu masih ingat hyung" jawab Jungkook. Taehyung hanya terdiam. Dia juga tidak mengerti, tapi feelingnya memang mengatakan bahwa itu jalan yang salah.

Setelah sampai, Jungkook bingung dengan password apartemen Taehyung. Bagaimanapun mungkin Taehyung sudah mengganti passwordnya dari tanggal mereka berpacaran menjadi sesuatu yang lain. "apa kamu ingat passwordnya?" tanya Jungkook yang hanya di jawab gelengngan oleh Taehyung.

"Hah, semoga benar" Jungkook memasukan beberapa kombinasi angka, dan ternyata berhasil! Pintu apertemen itu terbuka. "kau memasukan apa?" tanya Taehyung penasaran.

"Tanggal lahirku" jawab Jungkook sambil tersenyum. Taehyung berhenti sebentar, dia termenung. Apa memang benar aku berpacaran dengannya? Apa sebegitu sayangnya kah diriku pada orang ini? Bahkan sampai menggunakan tanggal lahirnya.

"Taehyung, ayo masuk. Ini memang rumahmu kok" Jungkook langsung menarik tangan Taehyung yang masih berdiri di ambang pintu.

Taehyung perlahan masuk, dia merasa sangat familiar dengan semua ini. Tangannya mulai meraba dinding yang berwarna putih tulang itu, berjalan pelan dan akhirnya mendapati Jungkook tengah menaruh minuman di meja ruang tengah.

"Minumlah, ini sari gingseng dari ibumu" kemudian Jungkook pergi lagi, Taehyung melihatnya dan ternyata Jungkook tengah sibuk membereskan sesuatu di dapur. Dia tak peduli, matanya perlahan melihat sebuah figura foto di meja kecil dekat jendela.

Disana ada banyak sekali foto. Taehyung melihat pria berseragam pilot tengah tersenyum. Itu dirinya kah? Taehyung mengelus foto itu lama, berarti dia seorang pilot? Taehyung berpikir keras tapi dia tetap tidak ingat apa-apa. Yang dia ingat hanya nama V dan tempat di pulau Kyoura.

Taehyung melihat-lihat lagi, kemudian dia berhenti saat melihat foto dua orang pria yang tengah tersenyum bahagia dengan latar belakang sebuah universitas. Taehyung mengambilnya, matanya menelusuri setiap jengkal pemandangan yang ada di dalam foto itu.

Itu dia dan seorang pria yang ia tau bernama Jungkook. Disana Taehyung mengenakan sebuah kemeja casual berwarna hitam dan tengah merangkul Jungkook yang memakai pakaian wisuda. Selama itukah dia bersama Jungkook?

"Kamu melihat apa?" tanya Jungkook yang ternyata tengah membawa makanan. Jungkook menaruh bibimbap itu di atas meja dan mendekati tersentak kaget, ternyata selama ini Taehyung masih menyimpan foto itu?

Ya memang setelah mereka putus, Jungkook sudah tidak pernah bermain ke apartemen ini. Dan Jungkook pikir Taehyung sudah membuang foto-foto itu, tapi ternyata tidak. "foto kita, ini kapan?" tanya Taehyung dengan nada datar tapi berminat tau.

"Saat aku lulus dari sekolah kedokteran. Kamu waktu itu terlambat datang, aku hampir menangis karena sebenarnya aku sangat ingin berfoto bersamamu mengenakan toga itu hyung, ternyata kamu hadir walau telat tiga puluh menit" jelas Jungkook.

Taehyung hanya mengangguk lalu menaruh kembali foto itu. Jadi benar mereka dulu pernah berpacaran. Tapi sangat aneh, dia tidak dapat merasakan apa-apa. "makan siang dulu, hyung" Jungkook menyuruh Taehyung duduk mendekatinya.

"Oh iya, besok aku akan membantu untuk memulihkan ingatanmu itu, mungkin kita akan mengunjungi beberapa tempat yang kuharap dapat kamu ingat, mau?" tanya Jungkook penuh harap.

Taehyung berpikir sebentar, apa nanti disana dia akan mendapatkan jawaban tentang siapa dia sebenarnya? Apa nanti dia akan dapat mengingat semuanya kembali? Tapi jika tidak dicoba, Taehyung tak akan tau hasilnya.

"Terserah saja" jawabnya sambil memasukan makanan itu kemulutnya. Jungkook tersenyum senang, semoga kamu ingat ya hyung.

.

Langit pagi ini sangat cerah, Jungkook menekan bel apartemen Taehyung namun tak kunjung ada jawaban, akhirnya dia mencoba masuk. Apartemen Taehyung masih sepi dan gelap. Apa Taehyung belum bangun? Kemudian Jungkook mencari pria itu di dalam kamarnya.

Ternyata benar, Taehyung belum bangun. Jungkook hanya geleng-geleng kepala, dia segera membuka gorden itu dan membiarkan sinar mentari masuk. "Taehyung, bangun sudah siang" selang beberapa detik akhirnya Taehyung mau membuka mata.

"Hmm" jawabnya acuh dan langsung berjalan ke kamar mandi. Jungkook menatap punggung itu sedih, dia sudah menceritakan semuanya kepada hyung-hyungnya kemarin malam. Ternyata mereka semua mendukung Jungkook apapun yang akan adik kecil mereka lakukan.

"Kami mendukungmu Kook, asal kamu bahagia kembali. Tapi apabila akhirnya sangat pahit, ku mohon berhentilah, kamu berhak mendapatkan kebahagian" ucap Yoongi pada malam itu.

Jungkook masih berpegang teguh dalam hati bahwa nantinya Kim Taehyung yang dia kenal akan kembali, memeluknya dan berkata bahwa dia sudah disini, dan yang terpenting Jungkook harap bahwa perasaan itu masih ada, walau sekarang seperti ditutupi kabut putih yang tebal. Semoga Taehyung bisa keluar dari kabut itu dan Jungkook sudah siap mengulurkan tangannya.

.

"Kita kemana?" Taehyung bertanya saat berada di dalam mobil.

"Ke SMA kita, hyung" jawab Jungkook sambil fokus terhadap jalan. Ada banyak sekali informasi baru yang Taehyung dapat, selain informasi bahwa orang yang tengah menyetir di sampingnya itu adalah kekasih—sungguhan. Dia tidak menyangka bahwa disini, pasangan sesama gender ternyata adalah hal yang biasa.

Juga ternyata dia dan Jungkook sudah saling mengenal sejak SMA dulu, ternyata mereka sudah lama mengenal, dan itu membuat Taehyung tidak mengerti. Jadi apakah mereka sudah berpacaran sejak masih di bangku sekolah? Atau saat Jungkook masih kuliah?

Mobil Jungkook berhenti tepat di area parkir sekolah. Sekolah ini sepi, tentu karena ini adalah hari sabtu dimana semua aktifitas belajar mengajar diliburkan. "keluarlah hyung" Jungkook membuka pintu mobil dan langsung berjalan masuk.

Taehyung merasakan semilir angin berhembus pelan. Dia menghirup dalam aroma yang menurutnya sangat khas itu, Jungkook berjalan di sampingnya. Mereka berdua berjalan lambat, melewati lorong yang terdapat banyak kelas.

"Kamu dulu adalah kakak kelasku, kita berbeda dua tahun" ucapan Jungkook membuat Taehyung menoleh. Jadi Jungkook adik kelasnya? Taehyung lalu mendengarkan dengan seksama kalimat apa saja yang Jungkook keluarkan.

"Kita berteman pada waktu itu hyung, kamu orangnya sangat pandai bergaul. Mempunyai banyak teman dan cukup populer" Taehyung berhenti di depan kelas yang bertuliskan XII-8 itu. "ini adalah kelasmu"

Taehyung langsung melihat dari luar jendela bagaimana kondisi kelas itu, tapi tidak ada satupun yang terlintas di pikirannya. "kita sering menghabiskan waktu bersama. Padahal waktu itu ujian kelulusan sudah dekat, kamu sering memintaku untuk menemanimu belajar"

Jungkook membawa kakinya melangkah menuju lapangan sekolah yang luas. "kamu juga dulu sangat aktif menjadi anggota basket" ucapan Jungkook barusan membuat Taehyung bingung, dia seorang pemain basket? Benarkah?

"Saat ada pertandingan, kamu langsung memberitauku dan memaksa agar aku menyaksikanmu bertanding" kemudian Jungkook mendudukan diri disalah satu tempat duduk bertingkat itu. "aku selalu menyaksikan pertandinganmu hyung, di bangku ini"

Jungkook menunjuk tempat yang ia duduki sekarang. Kemudian dia berdiri lagi dan menyuruh Taehyung melihat sesuatu "karena kamu sangat hapal bahwa aku selalu duduk disini, kamu akhirnya menuliskan ini"

Disana terdapat sebuah tulisan yang ditulis rapi dengan huruf kapital :

INI TEMPAT UNTUK JEON JUNGKOOK DUDUK! JANGAN DI TEMPATI,

Tertanda

KIM TAEHYUNG

Taehyung melihat itu, dia sangat familiar dengan tulisan itu, benar itu memang tulisan tangannya. Benarkah itu tindakannya? Taehyung tersenyum sedikit, aneh juga memikirkan itu. Sepertinya cinta sudah ada sejak mereka duduk di bangku sekolah.

Jungkook pun menceritakan bagaimana bahagianya Taehyung sesaat dirinya di terima di sekolah penerbang itu. Jungkook tidak pernah lupa sampai sekarang bagaimana ekspresi bahagia hyungnya itu, bagaimana waktu itu Taehyung berlari dan segera memeluknya.

Taehyung yang sekarang hanya mampu mendengarkan semua cerita dari Jungkook, walau secara akal mungkin dia masih meragukan kebenarannya. Benarkah seperti itu? Rasanya tidak mungkin dia mau memeluk seorang pria.

Hari sudah beranjak siang saat mereka selesai mengelilingi sekolah itu. Jungkook memutuskan untuk makan siang di restaurant dekat sekolah mereka. Restaurant itu memang bukan restaurant mahal, namun di tempat itu banyak sekali kenangan bersama Taehyung saat mereka masih sekolah dulu.

Jungkook mendorong pelan pintu kaca itu, matanya memandang ke seluruh penjuru restaurant ini. Ternyata masih sama, seperti sebelas tahun yang lalu saat dia masih berumur enam belas tahun. Mereka mendudukan diri di meja sudut yang hanya untuk dua orang.

Jungkook memeasan omurice, begitupun Taehyung. Rasanya Taehyung rindu sekali dengan tempat ini, perasaan ini juga membuat hatinya sedih entah mengapa. "ini tempat makan favorit kita berdua hyung" ucap Jungkook sambil menatap Taehyung.

"Kita selalu memesan omurice, kamu bilang omurice disini seperti buatan ibumu" Taehyung lalu mengedarkan pandangan matanya menuju dinding. Di dinding itu terdapat banyak sekali foto beserta tulisan-tulisan kecil yang sepertinya di tulis oleh para pengunjung.

"Oh, apakah masih ada?" suara Jungkook membuat Taehyung penasaran. Dia melihat Jungkook tengah mencari sesuatu di dinding itu. Dia penasaran "gotchaaa! Ternyata masih ada hyung" Jungkook senang, ternyata foto itu masih ada disini.

Taehyung melihat foto itu, itu foto mereka berdua Taehyung yang menyuapi Jungkook dengan omurice. Mereka tertawa bahagia di foto itu. Sangat muda dan bahagia pikir Taehyung. Jungkook telah banyak berubah, begitupun dirinya.

Mata Taehyung kemudian melihat kalimat yang di tulis kecil-kecil itu tepat di sebelah foto mereka berdua. Disana tertulis 'tempat kenangan bersama cookiesku! Sebentar lagi aku akan lulus. Jungkook-ah jangan bersedih ya! Hyung nanti akan mengajakmu terbang bersama khekhe. Sukses untuk kita berdua'

"Cookies?" ucap Taehyung dan di dengar oleh Jungkook. Jungkook hanya tersenyum, semoga Taehyung nantinya akan ingat.

"Kamu memanggilku seperti itu hyung, katanya biar berbeda dengan orang lain" Jungkook menjelaskan. Tak lama makanan mereka datang. Jungkook melihat bagaimana lahapnya Taehyung menyantap omurice itu. Cara makannya sama, persis seperti Taehyung sebelas tahun yang lalu.

.

Jeon Jungkook moment on path :

Hari terus berganti dan aku masih setia menunggumu untuk bisa mengingatku.

Beberapa saat yang lalu dari Seoul

.

Sudah enam bulan lamanya Jungkook membantu Taehyung untuk mengingat semuanya, tapi hingga saat ini, Taehyung bahkan belum mengingatnya barang sedikitpun. Jungkook putus asa, dia pernah satu hari tidak datang ke apartemen Taehyung dan malah mengurung diri di kamar dengan tangis yang tak dapat di bendungnya.

Cobaan ini begitu berat. Andai saja melepas Taehyung adalah hal mudah mungkin saat ini Jungkook sudah hidup bahagia bersama teman-temannya. Tapi ternyata tidak. Dia tidak bisa melepas Taehyung begitu saja.

Hari ini, Jungkook memutuskan untuk mengajak Taehyung ke pulau Jeju. Jungkook sudah memesan tiket pesawat yang nantinya akan membawa mereka kesana. Taehyung pun sudah ia beritau, walau sebenarnya jika melihat ekspresi wajah pria itu terlihat seperti tidak suka.

Mengapa Jungkook memilih Jeju yang letaknya lumayan jauh dari Seoul? Karena dulu, mereka merayakan anniversary di pulau itu. Taehyung yang mengajaknya, jika disini Taehyung tidak dapat mengingat juga, dia tak tau harus bagaimana lagi.

.

"Di sini kita menghabiskan malam bersama, hyung" Jungkook masih bercerita tentang bagaimana dulu Taehyung mengajaknya makan malam disini, candle light dinner yang menurut Jungkook sangat romantis.

Tentang bagaimana mereka menghabiskan malam bersama di kamar hotel ini, berdua tanpa ada gangguan sama sekali. Mereka melupakan bahwa sebenarnya Jungkook membolos untuk mengobati pasien dengan alasan sakit, padahal sebenarnya Jungkook sedang berada di Jeju bersama Taehyung.

Taehyung sebenarnya dari tadi tidak fokus mendengarkan semua perkataan pria di sampingnya ini. Dia pusing! Juga lelah dengan semuanya. Selama enam bulan ini dia terus bersama Jungkook, mendengarkan berbagai macam cerita yang sampai sekarang dia masih tidak dapat mengingat semuanya.

Taehyung muak. Muak dengan dia yang tidak dapat mengingat bahkan tentang dirinya sendiri. Yang dia tau, namanya adalah Kim Taehyung yang dulunya berprofessi sebagai pilot. Pria di sebelahnya adalah 'pacar'nya yang seorang dokter. Tapi dia tidak dapat menampilkan memori itu, tidak sama sekali.

"Hyung, kumohon. Paksalah otakmu untuk mengingat semuanya hyung hiks"

Di malam itu, tangis Jungkook pecah. Tangis yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah di hadapan pria yang sangat dia cintai.

"Aku mohon hyung.." pinta Jungkook.

Taehyung sebenarnya juga kesal dengan dirinya sendiri yang sampai sekarang belum bisa mengingat semuanya. Dia kesal kenapa bisa seperti ini, dan kenapa Jungkook malah menangis?

"Bisakah kau diam?! Memangnya kau pikir selama ini aku tak berusaha untuk mengingat?! You lil shit" kemudian Taehyung pergi meninggalkan Jungkook sendiri di malam itu, Jungkook hanya dapat memandang punggung Taehyung yang menjauh.

Dia menyerah.

.

Keesokan harinya Jungkook telah sampai di apartemen. Pikirannya kacau, akhirnya sesuatu yang dia takuti benar-benar terjadi. Taehyung muak dengannya. Dia langsung membawa tubuhnya itu ke tempat tidur, baru saja memejamkan mata dering telfon berbunyi.

"Hallo?" jawab Jungkook malas.

"Jungkook-ah, ini ibu sayang" Jungkook melihat ponselnya itu, tertera nama Ibu di layarnya.

"Oh ibu, tumben menelfon ada apa?" tanya Jungkook penasaran.

"Jungkook, ada yang ingin ibu sampaikan. Bisakah kamu pulang ke Busan?" Jungkook diam sebentar, tidak menjawab. Ibunya meminta untuk ke Busan? Tapi ada apa?

"Aku tak bisa bu, jadwal operasiku padat" Jawab Jungkook berbohong.

Bukannya dia tidak ingin ke Busan, hanya saja dia tidak mau ibunya melihat anak semata wayangnya semenyedihakan ini. Jungkook tau walau tak melihat cermin sekarang, dia tau bahwa matanya sangat menyiratkan kesedihan yang mendalam.

.

Jungkook bangun siang di hari berikutnya. Saat selesai mandi tiba-tiba bel di apartemennya berbunyi. Jungkook melihat siapa yang bertamu lewat intercom itu, betapa terkejutnya dia kala melihat wajah ibunya yang ada di layar itu.

"Ibu kok tidak bilang akan berkunjung?" tanya Jungkook sambil mempersilahkan ibunya masuk. Ibu Jungkook hanya tertawa "surprise sayang!" Jungkook hanya cemberut. "memang kamu tidak kangen dengan ibu?" Jungkook lalu memeluk erat wanita itu.

Jungkook menaruh dua gelas yang berisi teh panas untuk mereka berdua. Mendudukan diri di samping ibunya yang tengah melihat tv. "jadi ada apa bu?" tanyanya penasaran. Ibu Jungkook meminum pelan teh itu dan menjawab "temani ibu dulu keliling Seoul oke? ibu kangen"

Ibu Jungkook minta di antar kesana-kemari. Jungkook hanya pasrah dengan kemauan wanita yang telah melahirkannya ini. Tapi sebenarnya dalam hati Jungkook sangat penasaran dengan apa yang nanti ingin ibunya katakan.

Malam pun tiba, Jungkook kembali ke apartemennya dengan sang ibu. Dia tengah duduk sambil memainkan ponsel saat tiba-tiba wanita itu memangil nama lengkapnya.

"Jeon Jungkook" ibunya tengah menatap Jungkook dengan raut yang sulit di tebak. Jungkook merasakan perasaan tidak enak saat ini.

"Iya bu?"

"Kamu tau umur ibu sudah tua kan?" tanya sang ibu, Jungkook hanya mengangguk.

"Ibu sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi, nak" wanita itu menyentuh tangan Jungkook dengan lembut. "Umurmu sudah mau dua puluh delapan, ibu ingin melihatmu menikah sebelum di panggil Tuhan, sayang"

Jungkook menatap wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Wajah cantiknya tersamarkan oleh keriput yang entah kapan mendominasi area wajahnya. Jungkook menatap wanita di hadapannya dengan perasaan sedih. Mengingat perjuangan ibunya membesarkan Jungkook sendirian, tanpa suami.

"Lupakanlah Taehyung, ibu sudah mempunyai seseorang yang dapat membuatmu bahagia" Jungkook menangis keras, menangis karena dia akhirnya sadar bahwa selama ini dia selalu memikirkan tentang Taehyung, dia seolah lupa bahwa ibunya masih ada, bahwa ibunya yang semakin hari semakin bertambah tua.

Jungkook menghela nafas berat lalu berkata,

"Mungkin ini adalah keputusan yang tepat"

.

.

TBC

maaf belum bisa balesin review, mungkin di chapter depan,

terimakasih yang udah review&mau baca juga ;)