hello aaaangeeeel~~~ *nyanyi ala Jongdae*
well, baru denger kabarnya Jongdae sama mantannya nih.
hmm, asal kamu bahagia aku juga bahagia kok, mas Dae:'))) *chenmin shipper strong yha*
.
.
.
ini chapter 13 nya~~~
mumpung otak lagi ber-ide makanya jam 12 malem mulai ngetik dan baru selesai.
sebenernya sih ffn lagi error dan gabisa liat review.
biasanya sih butuh beberapa hari biar bisa balik lagi.
maintenance-nya emang jelek nih website *eh*
.
.
.
happy reading, guys! love you! jan lupa review!
bakal bisa dibaca lagi kok someday! byong! ^^
.
.
.
Baekhyun berjalan menyusuri lorong kampusnya sembari mengunyah permen karet kesukaannya. Dia ingin segera makan siang karena pagi sebelumnya dia tidak sempat sarapan—dia dan Chanyeol terlambat bangun karena mereka bermain Dota hingga jam dua pagi. Perutnya sudah sangat marah sekarang. Dan tentu saja permen karet tidak akan membantu.
Dia menjubelkan dirinya di tengah antrian mahasiswa. Beberapa diantara mereka memberikan jalan untuk Baekhyun—karena takut dibentak. Hei, Baekhyun sudah tidak seliar itu. Bahkan penampilannya lebih feminine. Dia sudah tidak mengenakan warna gelap lagi. Meskipun masih dengan kemeja kotak-kotaknya, tapi setidaknya… penampilannya sekarang selayaknya wanita. Jika dia memakai baju yang salah, tentu Chanyeol akan mencecarnya. Dan dia tidak menyukai itu.
Setelah mengantri, dia mendapati Jongdae sedang sibuk menulis sesuatu di meja besar kantin. Lelaki itu terlihat serius dan bahkan dia memiliki kantung mata yang lumayan tebal. Baekhyun mengira jika Jongdae sedang menemui tugas akhir, hingga sahabatnya itu harus berkutat dengan berbagai macam laporan yang membuat Jongdae harus banyak menghabiskan waktu di laboratorium. Ah, sekitar seminggu belakangan Jongdae memang sibuk, dengan laporan dan jabatannya sebagai seorang asisten praktikum untuk adik-adik tingkatnya. Banyak juniornya—yang perempuan—berebut jam dimana Jongdae menjadi asisten praktikum. He is famous, after all.
"Hei." Baekhyun mendudukkan dirinya di hadapan Jongdae, "Makan dulu makananmu. Jangan terlalu memikirkan semua tugasmu itu." Ucap Baekhyun yang mulai menyendokkan makanannya.
"Aku pusing dengan semua ini—AH! Tahu begini aku tidak akan menyanggupi permintaan Profesor Lee untuk mengajar di praktikumnya. Itu benar-benar menyita waktu."
"Kau mahasiswa pintar. Tidak usah cemas dengan semua nilaimu, Dae."
"Aku tahu—tapi… HA! Entahlah." Jongdae mengemasi semua kertas-kertasnya dan memasukkannya ke dalam tas, "Nanti sore kau mengajar, 'kan? Taehyung mencarimu."
"HMM! Aku akan mengajar nanti. Taehyung mencariku? Aku merindukannya."
"Semenjak dia dekat dengan Chanyeol, dia lebih behave. Apa yang dilakukan Chanyeol hingga Taehyung jadi begitu?"
Baekhyun mengangkat bahunya, "Entah. Chanyeol memang bisa membuat Taehyung mengerti tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh."
"Ah, bagaimana hubungan kalian? Baik-baik saja?"
Gadis itu mengangguk, "Lebih dari baik. Tapi… kau tahu sendiri bagaimana kami, 'kan? Mendebatkan hal kecil yang sebenarnya tidak penting sama sekali—tapi itu yang membuatku merindukannya jika dia sedang sibuk."
Jongdae tertawa kecil. Dia menyadari perubahan dari Baekhyun semenjak berkencan dengan Chanyeol. Dia tahu jika Chanyeol adalah orang yang sangat-amat tidak mau mengalah. Baekhyun juga sama, tapi sayangnya, seorang Byun Baekhyun tidak pernah memenangkan perdebatan. Baekhyun bilang dia selalu kesal dan menggerutu tiap Chanyeol berulah, tapi ketika lelaki itu sibuk di rumah sakit, Baekhyun akan merengek layaknya seorang gadis. Eh, Baekhyun memang seorang gadis sih. Gadis perkasa. Sok perkasa untuk sekarang lebih tepatnya.
Mereka berdua membicarakan apa yang menjadi masalah akhir-akhir ini. Dimana Jongdae yang baru bertengkar hebat dengan Minseok hanya karena tugas-tugas mereka yang membuat mereka jarang bertemu. Minseok sendiri sudah tahun terakhir dan sedang menyelesaikan tugas akhirnya agar bisa lulus. Apalagi dia juga bekerja, tentu saja Jongdae menjadi prioritas kesekian. Dan Baekhyun hafal, jika Jongdae sedang stress, dia akan bertingkah manja. Nah, disaat seperti itu mungkin Minseok sedang tidak bisa diganggu hingga mereka bertengkar. Tapi Jongdae bilang semuanya sudah baik-baik saja. Ah, beruntung bagi Jongdae bisa mendapatkan Minseok yang super dewasa itu.
Baekhyun sendiri sedang merasa dilemma karena ayahnya. Beberapa hari belakangan Chanyeol selalu mendesak Baekhyun untuk menghubungi sang ayah. Tapi gadis itu masih menolak karena katanya belum siap mental. Chanyeol selalu berkata jika ayahnya pasti akan memaafkannya. Dan Baekhyun bilang Chanyeol akan menjadi pelindungnya jika ayah Baekhyun melakukan hal yang tidak wajar lagi—walaupun Baekhyun sendiri tidak tahu desakan itu desakan baik atau buruk.
Disaat mereka sedang sibuk berbicara, Kyungsoo pun datang, "Baekhyunnie!" serunya.
Baekhyun menolehkan kepalanya pada gadis di sebelahnya itu, "Hm? Apa, Soo?"
"Kau belum mendapatkan surat penerimaan itu?"
"Penerimaan apa?" tanya Baekhyun dengan alis yang berkerut.
"OH? Jongin bilang kau lulus tes untuk exchange di China itu. Kau belum tahu?"
Baekhyun membelalakkan matanya. Ah, dia lupa. Sekitar dua minggu yang lalu dia mengikuti tes untuk exchange di China. Ada beberapa ratus mahasiswa yang ikut dan hanya lima orang yang akan diterima. Tentu Baekhyun tidak berharap. Sama sekali tidak berharap karena kesempatannya begitu kecil. Masalah biaya tentu dia tidak akan pusing lagi. Chanyeol bilang orang tuanya siap menampung—menampung?—jika Baekhyun pergi kesana.
"Benarkah? Aku?" tanya Baekhyun seraya menunjuk dirinya sendiri.
Kyungsoo mengangguk, "Aku dengar dari departemenmu ada sekitar tiga orang. Wah, aku tidak menyangka jika anak teknik begitu pintar berbicara hingga semuanya lolos wawancara."
"Tiga orang? Siapa saja?"
"Kau, Sunggyu, dan satu lagi…" Kyungsoo menggigit bibir bawahnya.
"Siapa?"
"Daehyun. Jung Daehyun."
Baekhyun memberikan wajah dengan ekspresi 'WHAT?' yang nyaris sempurna. Nasi yang ada di mulutnya juga melayang ke wajah Kyungsoo beberapa butir—dan sukses membuat Jongdae panik untuk mengusap wajah gadis bermata bulat itu. Baekhyun masih tercengang. Dia tidak mau bertemu dengan Daehyun, tapi mau tak mau harus bersama karena pasti mereka akan sekelas lagi nanti disana. Dia sedikitnya bersyukur karena ada Sunggyu juga. Tidak bisa dibayangkan jika hanya dia dan Daehyun; mungkin kiamat akan lebih cepat terjadi.
"Kau tidak berbohong?"
"Untuk apa aku berbohong?" Kyungsoo membuka ponselnya dan menunjukkan foto surat penerimaan yang mencantumkan nama-nama itu, "Ini milik Eunji. Dia diterima juga."
Benar ada lima nama tercantum disana. Dengan nilai tertinggi, Jung Eunji. Kedua, Kim Sunggyu. Ketiga, ada nama Baekhyun. Keempat, Choi Seungcheol. Dan yang terakhir, nama yang paling Baekhyun hindari, Jung Daehyun. Ketika membaca itu, seketika emosi Baekhyun tersulut. Dia berusaha, sangat amat berusaha menghindari Daehyun itu. Bahkan, sebelumnya, Daehyun bilang jika dia mengikuti exchange itu hanya untuk bisa bersama Baekhyun yang ternyata program itu berjalan selama tiga bulan di China. Lagipula, jika disana, mau tidak mau dia harus bersikap baik dan tidak brutal. Sekarang Baekhyun berharap Sunggyu bisa diajak kompromi agar lelaki itu mau menemaninya kemanapun dia pergi. Dan semoga Sunggyu tidak menguntit Eunji karena puppy crushnya itu diterima juga. Dia juga tidak kenal dengan Seungcheol. Lagipula lelaki itu dari departemen sains, tentu mereka tidak akan bersama.
"Mau tak mau aku harus memohon pada Sunggyu agar bisa menemaniku…" gumam Baekhyun.
Jongdae angkat suara, "Kim Sunggyu?" Baekhyun mengangguk, "Dia lebih memilih untuk menemani Eunji daripada dirimu, Baekhyun-ah. Sudah menjadi rahasia umum jika Sunggyu hitting on Eunji sekarang."
"Tapi Eunji ada di departemen medis, pasti akan jauh dari teknik, 'kan?" tanya Baekhyun sembari mencoba untuk berpikir positif.
"Baek. Kau tahu, departemen Minnie ada disebelah kita." Jawab Jongdae.
Benar saja. Minseok, si mahasiswa farmasi itu memiliki gedung yang hanya berjarak sekitar 100 meter saja dari departemennya. Bukan tidak mungkin universitasnya disana nanti akan memiliki kondisi yang sama. Ah, selama ini Jongdae selalu bisa menemui Minseok jika di kampus karena jarak gedung mereka yang berdekatan. Jadi… selalu ada kemungkinan jika Sunggyu akan menjalarkan modusnya jika sudah disana. Harapanmu pupus, Baekhyun-ssi.
Baekhyun hanya bisa menatap makanannya dengan perasaan yang campur aduk. Dia tidak menyukai fakta bahwa Daehyun juga diterima. Daehyun selalu sukses membuatnya risih. Baekhyun sendiri juga tidak mengerti mengapa lelaki itu begitu terobsesi padanya. Padahal, banyak yang lebih cantik darinya. Ada Jeonghan yang super-duper cantik itu. Ada Sungjong, yang cantiknya sassy dan selalu dalam diva modenya. Bahkan ada Minki yang wajahnya kalem dan lucu. Daehyun bisa memilih. Meskipun sebenarnya Baekhyun tidak kalah cantik, tapi… mereka lebih terkenal di kalangan mahasiswa laki-laki untuk masalah wajah dan sebagainya. Memang sih, mereka bertiga sudah punya pengawal masing-masing—sudah taken maksudnya. Tapi, Baekhyun juga. Baekhyun juga sudah punya pasangan. Si Park 'demon' Chanyeol itu. Mungkin karena Chanyeol tidak selalu bersama Baekhyun, jadi Daehyun selalu merasa punya kesempatan. Memang, ketiga gadis lainnya itu tiap hari bersama pasangan mereka. Jadi hanya Baekhyun lah yang sendirian. Ah, taken rasa single mungkin.
"Aku harus bagaimana…" gumam Baekhyun yang mengantukkan kepala di meja dengan lemas; pasrah.
.
.
.
"Noona, noona~" ucap Taehyung; bersenandung.
Anak lelaki itu ada di pangkuan Baekhyun setelah selesai berlatih Taekwondo sembari memainkan rambut gadis itu. Sesekali Baekhyun memberikan Taehyung eskimo kiss dan membuat anak itu terkikik dengan cerianya. Baekhyun sangat gemas hingga ingin menggigit Taehyung—bahkan membuat Baekhyun kesal. Mereka berdua duduk di tangga depan gedung untuk menunggu Chanyeol yang pulang bekerja. Lelaki itu berjanji untuk menjemput Baekhyun dan mengajak Taehyung untuk makan es krim sore ini.
Tin! Tin!
Taehyung menolehkan kepalanya ke arah mobil yang membunyikan klaksonnya itu, "Hyungie!" teriaknya sembari melepaskan dirinya dari dekapan Baekhyun dan berlari menuju Chanyeol yang sekarang sudah berdiri di samping mobilnya itu.
Baekhyun hanya tersenyum sembari berjalan menuju keduanya—yang sekarang Taehyung sudah ada di gendongan Chanyeol. Gadis itu menenteng tas bergambar Iron Man milik Taehyung. Sesekali dia tertawa jika Chanyeol mengendus-enduskan hidungnya ke pipi anak lelaki itu.
"Menunggu lama?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang sudah berdiri di sebelahnya.
"Lumayan." Jawab Baekhyun.
"Maafkan aku. Pasien terakhir benar-benar membuat emosiku naik."
Baekhyun tertawa kecil, "Tidak apa. Menunggu bersama Taehyung menyenangkan kok. Hei, Taehyungie, turun. Ayo kita masuk mobil."
Anak lelaki itu mengangguk dan turun. Dia membuka pintu belakang mobil itu dan masuk. Taehyung sekarang selalu menjadi penghuni kursi penumpang yang ada di belakang. Dia bilang dia sudah terlalu besar untuk duduk di depan bersama Baekhyun. Meskipun… jika dia sedang rewel atau merajuk, dia akan memeluk Baekhyun dan menangis disana. Kecuali kalau dia kesal dengan Baekhyun, dia akan meminta perlindungan dari Chanyeol. Dan Chanyeol tetaplah Chanyeol, yang selalu membela Taehyung dan memanjakannya. Sesuai hukum alam, Baekhyun memarahi Taehyung, Taehyung mengadu pada Chanyeol, dan Chanyeol akan membela Taehyung. Kesimpulannya, Taehyung selalu menang.
"Mau es krim, kapten?" tanya Chanyeol sembari membetulkan sabuk pengamannya.
"Mau, Hyung!"
"Bersikaplah yang baik dan kita akan pergi kesana. Berjanji?"
"Siap!" seru Taehyung dengan girangnya.
Perjalanan menuju kedai es krim diselingi dengan nyanyian Taehyung. Taehyung bilang dia baru saja belajar lagu Bahasa Inggris berjudul 'Are You Sleeping'. Tapi karena pronunciation Taehyung yang asal-asalan, membuat lagu itu terdengar seperti 'Ar' yu shitting'—menurut telinga Baekhyun begitu.
Sesampainya disana, Taehyung langsung menarik Baekhyun untuk masuk ke dalam kedai. Jika masalah es krim, anak lelaki itu lebih memihak Baekhyun karena Baekhyun tahu apa yang Taehyung sukai. Selebihnya? Selebihnya hanya Chanyeol yang berhasil menaklukkan hatinya.
"Aku mau yang ini juga…" Tunjuk Taehyung dengan suara yang sedikit merengek.
"Taehyungie." Baekhyun mengangkat Taehyung ke gendongannya, "Taehyung sudah memesan es krim vanilla dan choco chips. Es krim oreonya besok, ya?" pintanya.
"Tapi aku mau yang oreo juga…"
"Taehyungie. Tidak. Gigimu akan sakit jika terlalu banyak makan yang manis-manis." Ucap Baekhyun dengan nada so motherly modenya.
Anak lelaki itu menatap Baekhyun dengan puppy eyesnya. Ah, Baekhyun hampir gagal dengan jurus yang dilancarkan Taehyung. Tapi, dia sudah berusaha membiasakan dirinya agar tidak jatuh ke perangkap anak kecil itu.
"Tidak, Taehyungie." Ucap Baekhyun.
Wajah Taehyung mulai berkerut dan dia mengalihkan perhatiannya pada sosok yang berdiri di belakang Baekhyun, "Hyung…" gumamnya lirih sembari melebarkan tangan meminta untuk digendong.
Chanyeol meraih badan kecil Taehyung yang kemudian melingkarkan tangan dan menyembunyikan wajahnya di lekuk leher lelaki itu, "Baekhyunnie, belikan saja." Ucapnya.
"Tapi, dia pasti akan merasa bosan dengan es krim vanillanya. Aku sudah hafal itu. Apalagi es krim oreo juga sama manisnya. Pasti dia tidak akan habis—"
"Belikan saja."
Nada Chanyeol berubah kaku. Jika sudah begini, Baekhyun tidak bisa berkutik lagi. Dengan helaan nafas akhirnya Baekhyun memesan es krim itu. Kemudian Chanyeol menyerahkan dompetnya pada Baekhyun dan meminta gadis itu untuk membayar. Chanyeol, yang masih menggendong Taehyung berlalu pergi untuk mencari tempat duduk yang kosong sembari menunggu Baekhyun yang sedang membayar.
"Ini uangnya." Ucap Baekhyun pada seorang wanita berusia 30 tahunan yang menjadi kasir disana.
Wanita itu tertawa kecil, "Kalian tampaknya memutuskan untuk menikah muda, ya?"
"Huh?" ucap Baekhyun tidak mengerti.
"Suamimu sangat memanjakan anakmu sepertinya. Kau harus membatasi itu, apalagi anakmu laki-laki—" wanita itu menyerahkan uang kembalian pada Baekhyun, "Lucu juga melihat pasangan muda dengan anaknya begini. Ini kembaliannya. Semoga harimu menyenangkan!"
Baekhyun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ini sudah yang kesekian kalinya. Benar-benar kesekian—hingga dia terbiasa, orang mengira mereka menikah muda dan Taehyung anak pertama mereka. Terkadang Baekhyun merasa wajahnya boros hingga orang menyangka Baekhyun punya anak sebesar Taehyung begitu.
Ketika sampai di tempat duduknya, es krim itu sudah datang. Taehyung duduk di samping Chanyeol. Tentu, karena dia sedang dalam bad terms dengan Baekhyun, makanya dia memilih untuk bersama Chanyeol. Chanyeol sendiri hanya memperhatikan Taehyung yang makan es krim karena dia sedang tidak ingin makan makanan manis itu. Walaupun sesekali dia meminta jatah es krim green tea milik Baekhyun dengan alasan ingin mencicipi—padahal dia makan empat sendok.
"Hyung…" Taehyung mendongak dan menatap Chanyeol, "Aku tidak bisa menghabiskan es krim oreoku." Ucapnya lirih.
Chanyeol tertawa kecil dan menaikkan Taehyung ke pangkuannya, "Kenapa? Sudah bosan?" Taehyung mengangguk, "Lalu siapa yang akan menghabiskan, hm?"
"Tidak tahu." Ujar anak kecil itu lirih.
"Inilah mengapa Baekhyun Noona meminta Taehyung untuk membeli es krim vanilla saja. Jika seperti ini, siapa yang akan memakannya? Noona? Noona sudah punya es krim sendiri. Hyung? Hyung sudah makan es krim milik Noona." Chanyeol terkekeh ketika melihat Taehyung yang menundukkan keplanya, "Lain kali, jangan serakah. Itu tidak baik. Kalau Taehyung sudah menghabiskan es krim pertama dan meminta lagi, Hyung akan membelikan. Tapi, jika begini? Jangan diulangi lagi, mengerti?"
Taehyung mengangguk polos dan membuat Chanyeol gemas, "Minta maaf pada Noona." Ucapnya seraya mengcak-acak rambut anak kecil itu.
"Noona…"
Baekhyun tersenyum dan melebarkan tangannya, "Kemarilah." Taehyung turun dari pangkuan Chanyeol dan memeluk Baekhyun, "Jangan diulangi lagi, mengerti?"
Baekhyun terkikik ketika merasakan Taehyung mengangguk di pundaknya. Dia melemparkan pandangannya pada Chanyeol yang sekarang menghabiskan es krim sisa Taehyung. Ah, dia sekarang mengerti mengapa lelaki itu meminta Baekhyun untuk menuruti permintaan Taehyung. Untuk memberikan pelajaran, tanpa harus membentak dan berkata kaku seperti yang Baehkyun lakukan sebelumnya.
.
.
.
Mereka mengantarkan Taehyung pulang setelah pergi dari kedai es krim. Bahkan Taehyung sudah dalam keadaan setengah mengantuk ketika Chanyeol menyerahkan Taehyung pada pengasuhnya. Tak lupa lelaki itu mencium pipi Taehyung dengan gemas hingga sempat membuat anak lelaki itu merengek agar Chanyeol tidak pergi. Tapi dengan sedikit janjinya, Chanyeol berhasil bebas dari rengekan anak lelaki tersebut.
Selama perjalanan mereka berdua dengan randomnya bernyanyi mengikuti lagu yang diputar di mobil. Ah, suara Baekhyun selama ini jadi hal yang disukai Chanyeol—kecuali suara Baekhyun ketika marah atau mengomel. Beberapa kali mereka tertawa terbahak-bahak jika suara Baekhyun tidak sampai pada nada tertinggi, tapi tetap saja, Baekhyun bisa mengatasinya.
Sesampainya di rumah, Chanyeol segera merebahkan badannya di sofa. Dia lelah seharian tidak di rumah. Apalagi sekarang hari sudah gelap tapi dia belum mengistirahatkan dirinya sama sekali. Baju kerjanya masih melekat dan dia malas untuk mengganti pakaiannya—bahkan untuk duduk saja dia super malas. Berbeda dengan Chanyeol, Baekhyun yang merasa badannya sudah lengket segera mandi. Dia benar-benar berkeringat, apalagi setelah mengajar taekwondo tadi.
"Chan? Chan?" Baekhyun duduk dan menggerakkan badan Chanyeol yang sudah tertidur, "Mandi dulu, dan tidur." Ucapnya.
"Hngh…" Chanyeol memutar badannya dan melingkarkan tangannya di pinggang Baekhyun, "Lima menit lagi…" gumamnya dengan suara serak.
"Ayolah, aku lapar. Aku tidak akan makan sebelum dirimu selesai mandi." Ucap Baekhyun.
Lelaki itu menghela nafasnya penuh kekalahan. Dia mendudukkan dirinya dan mengambrukkan badannya pada Baekhyun. Serasa dia tidak punya tenaga untuk bangun. Lagipula kesadarannya belum terkumpul sempurna. Dia lelah dan mengantuk.
"Iya, aku mandi. Jangan mengomel lagi."
Baekhyun tertawa kecil, "Mandi sana. Aku akan menyiapkan makanannya."
Chanyeol mengangguk dan menyeret kakinya pergi. Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya jika Chanyeol dalam sikap manjanya begini. Biasanya Chanyeol akan super-clingy dan melarang Baekhyun pergi kemana-mana. Apalagi besok hari libur, pasti mereka memilih untuk bermalas-malasan di rumah ataupun sekadar bermain game berdua. Nampaknya itu menjadi hal yang paling disukai keduanya sekarang; bermain game.
"Baekhyunnie!" teriak Chanyeol dari dalam kamarnya.
"Apa?" jawab Baekhyun yang masih sibuk di dapur.
"Kaos hitam yang biasanya ada dimana?"
"Di lemari—aku sudah menatanya disana."
"Tidak ada!"
"Cari dulu!"
"Aku sudah mencarinya!"
Baekhyun hanya bisa mendengus sembari memutar kedua bola matanya. Dia, yang masih sibuk menata makanan itu bergegas menuju kamar dan menemui Chanyeol yang bertelanjang dada sedang berjongkok di depan lemari pakaian.
Gadis itu menghela nafas dan menarik salah satu baju di antara tumpukkan itu, "Ini, Dokter Park. Sepertinya kau butuh periksa mata." Sindirnya.
Chanyeol menggaruk tengkuknya malu, "Aku tidak tahu kalau disana." Gumamnya sembari memakai kaos itu.
"Aku pikir kau yang punya rumah ini, tapi kau tidak tahu dimana letak baju-bajumu sendiri. Ini tempat untuk pakaian kerja, ini tempat untuk celana, ini tempat untuk semua pakaian dalammu, dan ini untuk baju santaimu—oh Tuhan." Cecar Baekhyun yang kemudian keluar dari kamar dan diikuti Chanyeol di belakangnya.
"Wow, wifely mode."
"Diam dan duduk." Baekhyun menyodorkan makanan Chanyeol, "Makan dan jangan banyak komentar."
"Galak sekali." Gumam Chanyeol yang mulai menyumpit makanannya.
"Sudah kubilang jangan banyak komentar—"
"Ya sudah tidak usah dijawab."
"Kau yang membuatku menjawab!"
"Kau bisa diam saja."
Baekhyun mulai kesal, "Terserah kau saja."
Bukannya takut, Chanyeol malah terkekeh. Lelaki itu sangat menyukai ekspresi kesal Baehkyun. Baginya, Baekhyun yang kesal adalah Baekhyun yang adorable. Sekarang, gadis itu tidak akan sering mengumpat dan cenderung seperti anak anjing yang diusir jika sedang kesal. Dan itu membuat Chanyeol bisa mati karena gemas.
"Jangan marah begitu."
"Kau yang memulainya…" ujar Baekhyun dengan nada yang semakin lirih.
"Iya, maafkan aku. Terima kasih sudah menjelaskan dimana letak semua bajuku dan terima kasih juga untuk makanannya."
"Hmm…"
"Masih marah juga?"
"Tidak."
"Aigoo…" Chanyeol mendekatkan kursinya dan memijat tengkuk Baekhyun, "Bagaimana harimu? Menyenangkan?"
Baekhyun menggelengkan kepalanya, "EH? Kenapa?" tanya Chanyeol lagi.
Jujur, Baekhyun ragu untuk menjelaskan tentang exchange itu. Chanyeol sudah menyetujuinya kemarin. Tapi belum ada embel-embel Jung Daehyun. Ah, Chanyeol sendiri sangat anti mendengar nama itu. Jika diingat-ingat lagi, sebelum mereka memutuskan untuk berkencan, Chanyeol sudah sensitif dengan Daehyun, apalagi sekarang, 'kan?
"Hmm… kau masih ingat dengan program exchange itu?" Chanyeol mengangguk, "Aku lolos."
"Benarkah? AH! Selamat, Baekhyunnie! Whoa, aku kagum padamu. Kau bisa menyisihkan banyak peserta untuk ini! Aku harus segera menghubungi Eomma dan Appa karena kau akan pergi kesana—" Chanyeol melihat ekspresi terpaksa dari Baekhyun, "Ada yang salah dengan ucapanku?"
"Tidak. Tapi… aku ragu harus berangkat atau tidak."
"Ada apa? Jelaskan padaku."
Baekhyun memutar kursinya hingga berhadapan dengan Chanyeol, "Janji kau tidak marah padaku?" Chanyeol ragu, tapi tetap mengangguk, "Begini, kau tahu sendiri 'kan aku benar-benar ingin mengikuti program ini? Hm… aku sudah lolos. Tapi… aku harus berangkat dengan Daehyun."
Lelaki itu membelalakkan matanya dan mengeluarkan suara penuh tanda tanya. Alisnya berkerut dan ekspresinya berubah gelap. Dia tidak tahu harus berbuat apa dan memilih untuk diam. Bahkan sekarang dia memilih untuk menatap mata Baekhyun yang sedang dalam mode puppynya itu.
"Chan?"
Chanyeol menghela nafasnya kesal, "Bagaimana bisa si kunyuk itu ikut berangkat?"
Baekhyun memicingkan matanya karena merasa itu pertanyaan bodoh, "Dia ikut tes dan lolos. Kau ini malah menanyakan hal bodoh begitu."
"Iya tapi—YA! Jangan berangkat!" seru Chanyeol.
Sudah kuduga. Batin Baekhyun.
"Hanya tiga bulan, Chan. Tiga bulan." Ucap Baekhyun dengan suara datar.
"Hanya tiga bulan? It will be a hell! Aku tidak akan bertemu denganmu tiga bulan dan membiarkanmu bersama si kunyuk itu—tidak akan!"
"Lalu aku harus bagaimana? Tidak berangkat?"
"Itu lebih baik."
"Jangan egois."
Chanyeol mengerutkan alisnya, "Aku tidak egois. Aku hanya tidak ingin—hei, he will be hitting on you!"
"Kau tidak percaya padaku?"
Crap.
Pertanyaan itu menjadi hal yang berbisa untuk Chanyeol. Ayolah, lelaki mana yang menyukai pertanyaan seperti itu. Segala macam jawaban pasti akan salah. Ah, jika sudah begini Chanyeol sadar kalau Baekhyun adalah seorang wanita—benar-benar bersifat wanita maksudnya.
"Aku percaya padamu tapi—tapi aku tidak percaya padanya!"
"Kalau kau percaya padaku, kenapa kau tidak membiarkanku pergi?"
"Aku hanya—aku hanya tidak ingin membiarkanmu bersama dengan dia saja."
"Ada Sunggyu dan yang lainnya." Baekhyun menatap Chanyeol lagi, "Aku janji tidak akan tergoda dengannya atau bagaimana—"
"Janji?"
Gadis itu menghela nafas melihat sikap childish Chanyeol itu, "Astaga. Janji, Chan."
"Baiklah. Kau boleh pergi." Gerutunya.
"Benarkah?"
"Hmm. Tapi bukan berarti aku menyukai si kunyuk itu."
"Iya, iya. Aku tahu."
Baekhyun memang baru menyadari sikap Chanyeol yang posesif itu. Sebenarnya sudah ditunjukkan dari dulu, tapi, semenjak berkencan sikap itu sudah ditunjukkan secara terang-terangan. Chanyeol paling tidak suka ketika melihat Baekhyun bersama lelaki lain. Kecuali Jongdae, Jongin, Sehun, dan teman-teman sekelasnya. Itupun yang seperti Sunggyu dan Myungsoo saja yang sudah jelas-jelas menyukai orang lain ataupun berkencan.
.
.
.
Makan malam pun selesai. Meskipun sebelumnya sempat riuh karena Chanyeol lebih memilih untuk menyalakan game console ketimbang membantu Baekhyun mencuci piring—tapi akhirnya Chanyeol membantu juga; dengan doa katanya. Chanyeol sudah duduk di lantai berkarpet tebal itu dengan punggung yang bersandar di kaki sofanya. Dia sudah bersiap untuk menghabiskan malam dengan bermain game bersama Baekhyun. Padahal jika diingat-ingat lagi sekitar satu jam yang lalu dia mengeluh super mengantuk.
Baekhyun, yang membawa dua kaleng cola itu mendudukkan dirinya di samping Chanyeol sembari meraih stick yang ada di samping kaki kanan lelaki itu. Dia mendudukkan dirinya dan menyandarkan separuh badannya di badan Chanyeol.
"Aku pakai Juventus." Ucap Baekhyun.
"Terserah. Ah, mau taruhan apa kali ini?"
"Aku tidak mau taruhan. Toh tetap aku yang kalah." Gerutu Baekhyun.
Chanyeol tertawa kecil, "Jangan begitu. Tunggu, memang nyaman duduk seperti itu?"
"Maksudmu?"
"Kau bisa sakit pinggang kalau posisi dudukmu begitu. Sini—" Chanyeol meraih pinggang Baekhyun dan menempatkan tubuh gadis itu di antara kedua kakinya—dan menarik punggung Baekhyun agar bersandar pada dirinya, "Begini saja."
"Hah, ini memang maumu saja." Gumam Baekhyun kesal—padahal dia menggerakkan badannya agar duduk lebih nyaman lagi.
Mereka bertahan dengan posisi seperti itu. Bahkan sekarang kaki keduanya sudah saling bertumbukkan. Chanyeol sendiri menempatkan dagunya di pucuk kepala Baekhyun dan menikmati permainan mereka. Sesekali, jika Chanyeol berbuat curang, Baekhyun akan menyikut perut lelaki itu hingga dia mengaduh.
Chanyeol sendiri membicarakan harinya. Membicarakan bagaimana akhirnya Luhan mulai memberikan respon pada Sehun yang mulai putus asa. Chanyeol bilang jika dia berbohong pada Luhan dan mengatakan bahwa Sehun mulai mencari wanita lain karena Luhan tidak merespon. Dan sepertinya, dugaan Chanyeol, cara itu berhasil. Sekarang, Luhan mulai memperhatikan apa yang dilakukan Sehun. Padahal Sehun sudah mulai bersikap dingin karena kesal. Baekhyun bilang mereka berdua seperti anak SMA saja yang baru pendekatan. Dan kali ini… Chanyeol setuju dengan pernyataan Baekhyun.
"Aku menang lagi." Goda Chanyeol.
"Hih, menyebalkan. Kita menonton film saja." Baekhyun mematikan game console itu dan mulai menyalakan DVDnya, "Aku mau menonton ini." Ucapnya.
"Train to Busan? Kau tidak takut?"
"Enak saja." Gadis itu mengembalikan badannya dan menyandarkan punggungnya pada dada Chanyeol lagi.
Lelaki itu hanya tertawa sembari melingkarkan lengan ke pinggang Baekhyun dan menaruh dagunya di pucuk kepala gadis tersebut, "Dasar pemarah."
"Jangan memelukku kalau begitu." Baekhyun berusaha berdiri dan pergi tapi Chanyeol malah merekatkan tangannya, "Hih, kau ini." Ucapnya kesal.
"Tsundere."
"Bukan."
"Iya, kau seorang tsundere. Bilangnya tidak mau, tapi sebenarnya suka juga. Aku benar, 'kan?" Baekhyun diam, tapi Chanyeol melihat telinga gadis itu memerah, "Dasar tsundere."
"Jangan banyak komentar dan lihat saja filmnya."
"My lovely tsundere~"
Baekhyun memukul lengan Chanyeol agar menyuruhnya diam. Dan untungnya, lelaki itu menurut. Beberapa kali Baekhyun berjengit ketika melihat film tersebut. Ah, dia tidak begitu menyukai film dengan genre seperti itu. Tapi… tetap saja dia nekat melihatnya.
Sejujurnya Chanyeol lebih menyukai melihat ekspresi Baekhyun yang berganti-ganti itu. Baginya Baekhyun sangat adorable jika sedang berkonsentrasi dengan sesuatu. Apalagi dengan alis berkerut dan mulut yang sedikit terbuka. Tangan gadis itu meremas tangan Chanyeol yang ada di perutnya. Dan jika ada zombie yang menyerang, maka tangan itu akan meremas semakin kuat.
"Kau baik-baik saja?" bisik Chanyeol.
Baekhyun mengangguk, "Hanya begini saja kok."
Lelaki itu terkekeh, "Baiklah." Dia mengenduskan hidungnya di rambut Baekhyun berkali-kali, "Baekhyun-ah."
"Hm?"
"Di China nanti, kau akan berada di universitas apa?"
"Hmm… universitas Beijing. Kenapa?"
"Tidak. Aku hanya ingin bertanya." Lelaki itu diam sejenak, "Tunggu, bukannya mantanmu juga sekarang kuliah disana?"
"Siapa? Kris?"
"Siapa lagi?"
"Hmm… iya sih."
Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya, "YA! Kau—ada Daehyun dan Kris juga disana. Bagaimana bisa aku membiarkanmu pergi—"
"Chan, kemungkinan untuk bertemu Kris sangat kecil—"
"Kau masih menyukainya?"
Baekhyun memutar bola matanya, "Bodoh! Kalau aku menyukainya, aku tidak akan mau berkencan denganmu. Jangan bodoh, Chan. Please."
"Tapi, kalau kau bertemu dengannya? Itu bisa saja terjadi, 'kan? Kalau kau selama tiga bulan disana dan bertemu. Dan makan siang bersama, dan minum kopi bersama misalnya? Bisa jadi dia menyukaimu lagi—lihat kau sekarang. Kau—"
Baekhyun memukul kepala lelaki itu, "Don't be so silly. Kalaupun aku bertemu dengannya, aku akan menjadi teman baik. Kami akan berteman. Aku sudah melupakannya dan itu sudah masa lalu."
"Tapi tetap saja—"
Gadis itu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Chanyeol sekilas, "Jangan berlebihan. Aku mohon." Ucapnya sembari memeluk Chanyeol dan menyandarkan dirinya.
Lelaki itu menghela nafasnya. Entah, dia sendiri tidak mengerti mengapa dirinya bisa begini. Dulu, dengan Kyungri, dia tidak se-childish dan seposesif ini. Ayolah, dia seorang Byun Baekhyun. Seorang gadis tangguh yang mungkin bisa survive meskipun dilepas di hutan sendirian. Tapi bagi Chanyeol, Baekhyun adalah gadis ringkih yang sangat kecil sehingga dia harus memeluknya setiap saat. Mungkin berlebihan—Chanyeol sendiri tak mengerti mengapa—tapi memang begitu kenyataannya.
Baekhyun memutar badannya dan kembali ke posisi semula; di sela kedua kaki Chanyeol dan menyandarkan punggunnya lagi. Dia juga menarik kedua tangan Chanyeol agar memeluk pinggangnya. Ketika sudah begitu, Baekhyun memainkan jari-jemari lelaki itu sembari memusatkan konsentrasinya pada film yang masih diputar.
"Baekhyun-ah."
"Hmm."
"Jangan lupa menghubungiku."
"Iya."
"Jangan lupa meneleponku sebelum tidur."
"Iya."
"Jangan lupa melakukan video call kalau waktumu sedang senggang."
Baekhyun mulai menghela nafas, "Iya."
"Jangan lupa menghubungiku sebelum kuliah dan sesudah kuliah."
"Iya, Chan."
"Jangan lupa—"
Baekhyun mendongakkan kepalanya sebelum Chanyeol menyelesaikan kata-katanya dan membuat alis lelaki itu berkerut, "Jangan cerewet."
Nafas kuat keluar dari lelaki itu seraya kepala yang terbenam di pundak Baekhyun, "Aku membencimu karena kau selalu memotong perkataanku." Lelaki itu bergumam dan menempatkan hidungnya di lekukan leher Baekhyun, "Aku kesal padamu karena kau akan pergi dan membuatku tersiksa sendirian selama tiga bulan penuh. Ini terdengar konyol dan berlebihan tapi aku memang sudah bergantung padamu." Dia mengeratkan dekapannya hingga badan Baekhyun benar-benar menempel padanya, "Aku sangat membencimu karena kau membuatku begini. Aku membencimu."
Baekhyun hanya bisa tertawa kecil sembari mengusap kepala Chanyeol yang menyusup ke pundak kirinya itu, "Ini hanya tiga bulan, Giant Baby. Don't be so dramatic."
"Aku tidak peduli."
Gadis itu menjauhkan kepalanya dan mencium pipi lelaki itu, "Aku akan merindukanmu juga, Chan. Tenang saja." Ucapnya yang dijawab dengan anggukkan yang tidak kalah childish dari Taehyung itu.
.
.
.
TBC.
