Naruto © Kishimoto Masashi.
This is a work of fanfiction. No material profit is taken.
soba ni iru kara
A Naruto fanfiction
.
[bagian 13]
.
Ujian baru saja berakhir. Walaupun nilainya masih sebagus saat ia di Suna – tentu saja berada dalam urutan tiga besar paralel seangkatan kelas satu, bersaing ketat dengan nilai Hinata yang kalah tipis dengannya – Sakura belum bisa tenang. Masih was-was dengan nilai Sasuke yang belum diketahuinya. Ia harus bersabar sampai besok – dimana baru besok pengumuman nilai semester akan diberiatahukan secara resmi dan serempak. Dan mengingat tradisi sekolahnya, nilai-nilai seluruh murid akan dipasang di papan pengumuman. Tidak terkecuali.
Sakura bergerak-gerak gelisah di kursinya. Hinata yang duduk di sebelahnya mengerutkan kening heran.
"Ada apa, Sakura-chan?" tanya Hinata. Kerutan tipis di keningnya menandakan ia tengah heran.
Sakura menggeleng gugup. "Tidak ada apa-apa, Hinata-chan," seulas senyum menghiasi wajahnya yang masih gelisah.
Hinata kemudian memilih diam dan kembali memperhatikan pidato kepala sekolah mereka di depan. Suasana aula sekolah siang itu terasa sangat pengap. Ratusan murid menengah atas itu berkumpul di ruang aula besar guna mendengarkan ceramah dari sang kepala sekolah menyebalkan – siapa lagi kalau bukan Tsunade – mengenai amanat kepada seluruh murid, mengingat sebentar lagi akan ada penerimaan siswa baru di musim semi.
Sakura melorot di kursinya. Wajahnya yang gelisah kini sekaligus bosan. Sudah berapa lama Tsunade berdiri di depan sana dan berpidato dengan semangat menggebu-gebunya itu? Kalau saja bukan karena suara Tsunade yang kelewat 'semangat', bisa dipastikan semua kepala di sini akan tertidur pulas. Sayangnya karena Tsunade terlalu semangat bicara, tak ada seorang pun yang bisa memejamkan mata barang sejenak. Suara Tsunade yang diperkeras melalui loud speaker terkadang memekakkan telinga.
"Mau sampai kapan pidatonya terus berlanjut?" TenTen yang duduk di sisi lain Sakura menggerutu sambil sesekali menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.
Sakura tidak begitu menghiraukan sekitarnya. Bahkan kini suara Tsunade hanya terdengar seperti dengungan lebah. Pikirannya melayang, mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu. Ketika ia mengobrol dengan Madara.
"Apa hubungan kalian berdua baik-baik saja?" Madara yang tiba-tiba menampakkan diri di hadapan Sakura bertanya sambil tersenyum lebar. Tangannya memegang bungkusan besar yang dengan segera berpindah ke pangkuan Sakura.
Sakura terdiam menatap bungkusan coklat yang terlihat berat itu. "Ini apa, Jii-san?"
Madara tersenyum hangat. "Simpanlah. Kalau kau mau, pakai saja di acara pertunanganmu dengan Sasuke."
Sakura yang sudah hendak bertanya lagi, kini membungkam mulutnya dengan wajah bersemu. "A-apa maksud, Jii-san?" sangkalnya gugup, membuat Madara mau tak mau tersenyum lebih lebar.
"Kalian berdua baik-baik saja, kan?"
Sakura mengangguk gamang. "Kalau sikap aneh Sasuke belakangan ini tidak dihitung, kami memang baik-baik saja."
Kerutan heran tercetak nyata di keningnya yang keriput. "Aneh bagaimana?"
Sakura mengangkat bahunya sekilas, kemudian memindahkan bungkusan itu ke sofa di sampingnya sebelum melanjutkan. "Dia sedikit, uhm, menghindariku. Kami belum bertemu sejak hari terakhir ujian."
"Ujian? Itu tiga hari lalu, kan?" Sakura mengangguk membenarkan. "Ada apa dengannya?"
Sakura kali ini menggeleng lemah. "Dia tidak bilang apa pun padaku. Tiba-tiba pergi begitu saja."
Madara yang duduk di sofa di hadapan Sakura menatap gadis itu sayu. "Kau keberatan menemui Sasuke sekarang?"
"Sekarang..?"
"Ya."
"Aku tidak bisa. Masih ada kepentingan keluarga yang harus kuselesaikan."
"Hm, bagaimana kalau besok sepulang sekolah? Biar sopirku yang menjemputmu."
"Memangnya ada apa dengan Sasuke, Jii-san?"
Madara menatap lantai di bawahnya dengan tatapan kalut. "Hanya kau yang bisa menyelesaikan masalah ini, Sakura. Hanya kau dan keputusanmu," gumam Madara gamang.
"Apa maksud, Jii-san?"
"Kau akan tahu besok!"
"Hei, Sakura! Kau mendengarkanku?"
Sakura terkesiap mendengar panggilan TenTen. "Uhm, ya. Tentu."
"Kau kenapa? Ayo, pidatonya sudah selesai."
"Ayo kita kembali ke kelas, Sakura-chan."
Sakura segera bangkit dan mengangguk. Ketiganya berjalan bersisian keluar dari aula sembari mengobrol. Sesekali Sakura Hinata kompak menggoda TenTen mengenai Neji-senpai. Kontan saja TenTen berusaha mengelak dengan wajah memerah. Mereka bertiga tergelak riuh. Tapi sebenarnya, si rambut merah jambu tengah menanti dengan berdebar-debar suara sirine sekolah, menandakan sekolah telah usai.
—
—
Ketidaksabarannya sepanjang waktunya di sekolah serasa menguap begitu saja. Layaknya sebongkah es yang dipanaskan di bawah terik matahari padang pasir Sunagakure. Menguap begitu saja, tanpa sempat meleleh.
Dengan tangan meremas-remas rok lipit seragam sekolahnya, Sakura berdiri dengan lutut gemetar. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Madara yang berdiri di sampingnya hanya terdiam heran. Bingung harus bereaksi macam apa melihat Sakura gugup seperti itu.
"Nah, ayo. Kita masuk." Madara setengah mendorong punggung Sakura untuk membuat gadis itu melangkah setengah hati.
Suasana hening yang akrab bagi Sakura langsung menyambut gadis itu begitu mereka bedua memasuki rumah megah Uchiha. Tidak ada pekik girang Mikoto, karena wanita itu sudah kembali ke Korea. Sakura berjalan lamat-lamat mengikuti Madara yang sudah berjalan mendahuluinya.
Sakura memandang gugup ke segala arah, berusaha menghilangkan kecemasan berlipat-lipatnya. Entah kenapa, menginjakkan kaki di rumah Uchiha rasanya sangat tidak nyaman. Padahal biasanya gadis itu dengan senang, bahkan sambil melompat-lompat girang kalau Sasuke mengajaknya ke rumahnya. Tapi kali ini, rasanya dinginnya lantai marmer di bawah sol sepatunya serasa menembus telapak kakinya. Bayangan wajah dingin Sasuke yang tidak bersahabat terus menghantuinya sepanjang jalannya menuju ruang yang tidak diketahuinya. Beberapa kali Sakura bertemu dengan para pelayan rumah Uchiha yang dengan senyum lebar menyambutnya.
Sesekali Madara bertegur sapa dengan para pelayannya, juga berhenti untuk mengobrol dengan Juugo dan Suigetsu yang ditemuinya sepanjang jalan. Sakura menghembuskan napas lega, bersyukur Madara bertemu dengan Suigetsu dan mengajaknya bicara lebih lama. Ia perlu menenangkan diri, terutama lidahnya yang akan mulai bicara asal jika sedang gugup.
Sakura tidak begitu memperhatikan Suigetsu yang tampak serius berbicara dengan Madara. Ia sibuk memperhatikan sekeliling rumah megah itu untuk mengusir kegundahannya. Rumah megah itu masih sama, dengan berbagai macam lukisan dipajang di sepanjang dinding koridornya yang panjang, ventilasi rumah yang sangat besar dengan langit-langit yang tinggi – memungkinkan sirkulasi udara menjadi lancar sehingga membuat suasana rumah tetap sejuk walau tanpa pendingin.
Sakura setengah terlonjak saat Madara memanggilnya, mengajaknya untuk naik ke lantai dua, ke ruang kerjanya. Sakura mengangguk gugup kemudian bergegas mengikuti Madara setelah memberi salam pada Suigetsu sejenak.
"Ano, Jii-san..."
Madara menoleh ke belakang menatap Sakura yang terlihat gugup. Diperlambat jalannya dan menyejajarkan diri dengan Sakura. "Ada apa? Kau terlihat gugup."
Sakura menggeleng pelan. "Ada apa dengan Sasuke?" tanyanya cemas.
Madara yang berjalan di sampingnya menyulum senyum kecut. "Tidak terlalu baik. Makanya aku minta kau menengoknya barang sejenak."
Sakura mengangguk ragu. Untuk selanjutnya mereka tak lagi buka suara dan berjalan dalam diam menuju ruangan paling ujung di lantai dua. Ruang kerja yang kini diambil alih Sasuke. Madara menyilahkan Sakura masuk dengan isyarat. Sakura yang sudah hendak membuka pintu jadi mengurungkan niatnya saat tiba-tiba Madara menahannya dengan sebelah tangan, sementara tangannya yang lain merogoh saku dalam jas hitamnya.
Ia mengangsurkan kotak beludru biru pada Sakura yang menerimanya dengan bingung dan gugup.
"Kalau kau tidak keberatan," ujarnya diiringi senyum tipis.
Perlahan Sakura akhirnya mengangguk dan membuka pintu. Kotak itu digenggamnya erat di balik tubuhnya. Begitu pintu ia buka, yang terlihat hanya rak-rak tinggi yang penuh dengan buku-buku dan map-map. Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, mencari sosok Sasuke.
Gerakan Sakura terhenti pada sofa marun yang ada di sudut ruangan. Seseorang tengah pulas tidur di sana dengan lengan menutupi matanya. Sakura melangkah perlahan, berusaha tidak membuat suara saat sol sepatunya menyentuh lantai. Sambil berjongkok, Sakura diam mengamati wajah pulas Sasuke. Guratan lelah jelas terlihat dari wajah pucatnya. Kemejanya acak-acakan dan kusut. Entah sudah berapa hari pemuda itu tidak keluar dari ruang kerja.
Pandangan Sakura berubah sendu. Setengah ragu, tangannya bergerak menyentuh wajah Sasuke dan mengelus pipi tirusnya.
"Sasuke..." gumamnya sendu.
Rupanya gerakan pelan Sakura berhasil membuat pemuda itu membuka mata. Dengan setengah erangan, Sasuke membuka matanya yang terlihat merah. Rasa kantuk yang menahan erat kelopak matanya untuk terus tertutup sontak lenyap begitu melihat Sakura yang berjongkok di sampingnya, memandanginya dengan ekspresi sedih.
"Sakura..?" gumamnya penuh keterkejutan. "Kenapa kau ada di sini?"
Sakura tersenyum kecut. "Tidak boleh, ya?"
Buru-buru Sasuke menggeser tubuhnya dan menyediakan ruang duduk untuk Sakura. Dengan segera, Sakura bangkit dan duduk di samping Sasuke.
"Maksudku, apa yang kau lakukan di sini?" koreksi Sasuke canggung. Suaranya yang biasanya berat kini terdengar serak dan sengau.
"Kau sakit?" tanya Sakura, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sasuke.
"Tidak." Sasuke menggelengkan kepalanya cepat kemudian berdehem. "Sepertinya karena aku belum minum saja."
Sakura mengerutkan kening tanda tidak setuju. Tangannya bergerak cepat menyentuh kening Sasuke yang tertutup rambutnya yang acak-acakan.
"Badanmu hangat. Kau pasti tidak menjaga kesehatan," gerutu Sakura. "Mencemaskan orang lain, tapi selalu lupa mencemaskan diri sendiri."
Sasuke tidak menanggapi, kepalanya tertunduk menatap lantai marmer yang dilapisi karpet tebal.
"Sasuke..." panggil Sakura dengan suara lirih. Diangsurkannya kotak yang sedari tadi digenggamnya erat-erat.
Sasuke terhenyak memandang kotak itu. "Apa?" tanyanya dengan suara tercekat sambil memandang kotak itu.
Sakura menghela napas berat. "Madara-jiisan yang memberiku ini," jawabnya. "Aku..." Sakura menggantung kalimatnya dan menghela napas lagi, "aku tidak tahu apa hubungan Jii-san dengan keluargaku dulu, tapi..."
Tanpa Sakura sadari, Sasuke memucat. Rahangnya mengeras dan kaku. Dipandanginya Sakura dengan perasaan was-was.
"Tapi sepertinya, kau sama sekali belum ada niatan memberi tahuku, ya?"
Sasuke lunglai menundukkan kepalanya. Keberaniannya memandang Sakura menguap sudah. Nyalinya menciut dan terdengar sangat bukan Sasuke.
"Aku..."
"Tidak apa-apa kok kalau kau tidak mau mengatakannya," potong Sakura dengan air muka sendu, seolah tengah menahan tangis. Digigitnya bibir bawahnya cemas. "Kedengarannya bukan hal baik untuk dikatakan, kan?"
Suara Sasuke tercekat di tenggorokan. Tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Sakura. "Sakura, aku..."
"Sudah, tak apa-apa. Tidak masalah kalau kau tidak mau mengatakannya." Digenggamnya tangan Sasuke yang hangat dan meletakkan kotak itu di tangannya. "Aku sudah kalah, kan?"
Sasuke mengangkat wajahnya dan bertemu pandang dengan Sakura. Mata hitamnya berkilat cemas, setengah resah melihat wajah Sakura yang tersenyum sedikit dipaksakan. Ia menggeleng dan balik mendorong kotak itu kepada Sakura.
"Tidak. Aku sama sekali tidak ingin memaksamu."
Sakura ganti menggeleng dan tersenyum samar. "Tidak. Aku tidak keberatan."
Sasuke memejamkan matanya sejenak dan berpikir. "Mungkin kau akan menyesalinya kalau kau tahu semuanya."
"Berhubung aku belum mengetahuinya, jadi aku tidak akan menyesalinya."
Dengan sedikit renggutan, ditariknya Sakura ke dalam pelukannya dan dipeluknya gadis itu dengan seluruh jiwanya. Sakura balas melingkarkan lengannya ke pinggang Sasuke dan menyandarkan kepalanya di dadanya.
"Jangan membenciku," ujar Sasuke lirih dengan suara bergetar.
"Tidak, aku tidak membencimu. Aku tidak akan bisa membencimu.
—
—
Begitu Sakura pulang dari rumah Sasuke – dengan diantar oleh Sasuke sendiri, karena pemuda itu bersikeras mengantarnya pulang – Sakura langsung mencari-cari sosok orang tuanya di rumah.
Dengan wajah setengah pucat dan gelisah, Sakura menceritakan mengenai rencana pertunangannya dengan Sasuke, minus taruhan konyolnya itu. Reaksi orang tua Sakura memang sepertinya terlihat kalem, namun sebenarnya sang kepala sekolah tampak sedikit cemas.
"Kau yakin, Sakura?"
Sakura mengangguk mantap, walaupun masih dengan wajah yang setengah pucat dan gelisah. "Ya, Tou-san."
"Baiklah kalau begitu. Biar Kaa-san yang ikut membantu," ucap Hana menenangkan.
"Terima kasih, Kaa-san, Tou-san."
—
—
"Wow wow wow... Lompatan yang jauh, Sakura..." komentar Ino sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
Di depannya, Sakura duduk sambil meringis kecut. "Yah, mungkin..."
"Syukurlah, Sakura-chan," ujar Hinata dengan senyum mengembang tulus.
Sakura balas tersenyum lebar. "Terima kasih, Hinata-chan."
"Sudah sudah, kita terdengar seperti menyelamati Sakura yang akan menikah saja..." Ino mengibaskan tangannya ke udara. "Terlebih, aku lebih tertarik dengan ceritamu, Nona Hyuuga." Diberinya penekanan pada tiap katanya.
"A-apa?" tanya Hinata gugup. Sedangkan Sakura hanya diam mendengarkan.
Ino memicingkan matanya dengan kecurigaan. "Kau dan Naruto-kunmu itu, tentu saja!"
"Eh?" Sontak wajah Hinata dihiasi serangan merah mendadak. "Aku tidak ada apa-apa dengan Naruto-kun!" bantah Hinata dengan gugup.
"Kau yakin?" goda Ino. "Jangan bohong, Hi-na-ta."
"A-aku tidak bohong, Ino-chan!"
Ino akhirnya menghela napas. "Atau jangan-jangan, si bodoh itu yang tidak juga memberimu kepastian, eh?"
Kali ini Hinata menunduk dalam-dalam, tidak berani memandang Ino dan Sakura.
"Ya sudahlah, pokoknya kau harus cerita pada kami kalau ada apa-apa, ya?" pesan Ino sambil tersenyum lebar.
"Haloooooo kalian masih menungguku, kan?" Tiba-tiba TenTen berteriak kencang dari ambang pintu kamar Ino yang terbuka lebar.
Ino berdecak sebal. Sedangkan Hinata dan Sakura meringis mendengar teriakan TenTen.
"Sudah puas kencannya, eh, calon Nona Hyuuga?" sindir Ino sambil mencibir.
TenTen melotot sebal. "Apa-apaan, heh?"
Ino mengibaskan tangannya ke udara dengan mimik meremehkan. "Sudahlah, susah juga bicara dengan orang kasmaran seperti kalian semua!"
Sontak Sakura dan TenTen kompak melotot. Sedangkan Hinata hanya menunduk dengan wajah memerah.
"Maksudmu dengan 'kalian' itu siapa, hah? Memangnya kau tidak?" seru TenTen dan Sakura kompak sambil menghantam Ino dengan bantal-bantal dan bonekanya.
"Kau juga harus jelaskan sesuatu pada kami tentang kau dan Nii-chanku!"
—
—
Oke, ini hanya pertunangan kecil-kecilan, hanya sebagai simbolik saja. Tapi Sakura tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak grogi dan berkeringat dingin sepanjang hari. Sambil meremas-remas roknya. Sedangkan Sasuke hanya duduk di kursinya dengan tenang sambil sesekali membolak-balik halaman buku yang tengah dibacanya.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke heran karena melihat Sakura yang gusar dan tidak tenang di kursinya.
Mereka tengah duduk di sofa ruang keluarga rumah Sasuke. Sedangkan para pelayan dan ibu Sakura sedang sibuk di halaman belakang, tempat pertunangan mereka akan digelar dua hari lagi.
Sakura mendongakkan kepalanya dengan cepat, tiba-tiba membuat kepalanya penih. "Eh?"
Sasuke langsung bangkit berdiri dan menyambar Sakura ke dalam pelukannya. Ditatapnya Sakura dengan kecemasan luar biasa saat melihat setitik darah mengalir dari hidungnya.
"Kau kenapa?"
"Eh?" Sakura mengerjapkan matanya berkali-kali, berusaha mengusir pening yang menyerangnya. Ia belum menyadari kalau darah kental keluar dari lubang hidungnya.
"Apa yang terjadi denganmu, Sakura?" desis Sasuke sambil menyeka darah yang keluar itu dengan tangannya.
Sakura terkesiap kaget saat menyadari ia mimisan lagi. Buru-buru disekanya dengan kasar hidungnya dan malah membuat darah mengalir lebih deras.
Tanpa banyak bicara lagi, Sasuke langsung menggendong Sakura yang masih kebingungan dan segera membawanya keluar rumah. Ia sama sekali tidak menghiraukan Madara yang memanggil-manggil dirinya.
Setelah mendudukkan Sakura di dalam mobil, Sasuke bergegas menghidupkan mesin mobilnya dan memacunya kencang ke luar rumah, ke arah rumah sakit. Rahangnya mengeras dan sama sekali tidak ia hiraukan Sakura yang kebingungan. Ia harus segera memeriksakan Sakura. Sekarang juga.
—
—
Wanita bermata hazel yang dikenal baik oleh Sakura sebagai kepala sekolahnya itu mengerutkan keningnya memandang Sakura. Tsunade berkali-kali memeriksa denyut nadi Sakura setelah gadis itu keluar dari ruang rontgen.
"Ada apa dengan Sakura?" tanya Sasuke dengan suara sarat kecemasan.
Tsunade menggeleng sejenak. "Kau punya anggota keluarga yang juga penderita mimisan?"
Sakura diam sejenak. Berhubung keluarganya adalah keluarga dokter, bisa dipastikan tidak ada salah satu pun dari mereka yang memiliki penyakit. Sakura kemudian menggeleng sebagai jawaban.
"Sepertinya pembuluh hidung Sakura sedikit bermasalah. Apa dia pernah mengalami benturan keras?"
Rahang Sasuke mengeras seraya mengangguk. "Dia pernah kecelakaan dan tak sadarkan diri."
Tsunade mengangguk-angguk dengan tangan di dagunya. "Kita tunggu hasil rontgennya. Baru aku bisa meyakinkan dugaanku."
Sasuke mengangguk dan beralih menatap Sakura tajam. "Kau harus ceritakan semua yang kau rasakan belakangan ini pada Tsunade."
"Panggil aku dengan sebutan yang sopan, Uchiha!" hardik Tsunade yang hanya ditanggapi dengan tatapan tajam oleh Sasuke.
—
—
Sakura menghela napas berat di kursinya. Ditundukkannya kepalanya dalam-dalam, tidak berani menatap Sasuke yang memandangnya tajam. Sesekali ia mengepalkan tangannya resah. Sekaligus takut menghadapi reaksi Sasuke yang sudah seperti singa kelaparan.
Tsunade yang duduk di hadapan mereka berdua berdehem. "Jadi, secara singkatnya, Sakura tidak boleh kelelahan, jangan terlalu stress dan berpikir berat. Hal-hal semacam itu akan membuat otaknya terbebani dan pembuluh darah di hidungnya pecah."
"Apakah mimisan itu berbahaya?" potong Sasuke gusar dan dibalas dengan tatapan tajam Tsunade.
"Untuk beberapa kasus, tidak. Karena mimisan itu sebagai reaksi untuk meredakan pening otak yang berlebih. Bisa dipastikan kalau Sakura mimisan, ia sedang kelelahan atau stress."
"Lalu untuk kasus lain?"
"Tanda-tanda kehadiran penyakit berbahaya," jawab Tsunade yang membuat wajah Sasuke mengeras. "Tapi kau tenang saja, Sakura terjangkit penyakit apa pun. Dia berasal dari keluarga dokter dan sistem imunnya sangat bagus," tambah Tsunade buru-buru.
Sasuke menghembuskan napas lega. Sambil menarik Sakura, Sasuke bangkit dan berjalan keluar ruangan Tsunade. Tanpa niat sedikit pun mengucapkan terima kasih. Tsunade hanya menghela napas sambil menggelengkan kepalanya maklum.
"Kau berhutang satu penjelasan padaku, Nona Uchiha," desisnya pada Sakura begitu mereka sudah keluar dari ruangan Tsunade.
Sakura hanya meringis kecut sambil menggigit bibir bawahnya. "Ha'i..."
—
—
