Terima kasih... terima kasih sudah membaca dan review chapter 7 part 5. Guest: Thanks dah review. Btw, tu cuma kesalahan penulisan angka, tetap review, ya :D ... Putri, SpiritSky: Dibagian Fred meninggal emang kubikin agar kesan sedihnya muncul. Aku senang akhirnya berhasil... terima kasih sudah memberitahuku, ku akan berusaha lagi agar fanfic selanjutnya benar-benar berkesan di hati :D tetap review, ya :D


Disclamer: J. K. Rowling

Spoiler: Harry Potter dan Batu Bertuah, Harry Potter dan Kamar Rahasia, Harry Potter dan Tawanan Azkaban, Harry Potter dan Piala Api, Harry Potter dan Orde Phoenix, Harry Potter dan Pangeran Berdarah Campuran, Harry Potter dan Relikui Kematian.

Note: Beberapa dialog dalam fanfic ini diambil dari Harry Potter dan Relikui Kematian

KISAH RON DAN HERMIONE

Chapter 7 Relikui Kematian part 6

Hermione POV

Kejadian malam ini memang patut dikenang untuk selamanya. Sedetik Ron dan aku masih di perpustakaan, detik berikutnya kami sudah berlari keluar bersama yang lain yang ada di Aula Besar, berdiri di undakan kastil dan memandang para penakluk, yaitu Voldemort dan para Pelahap Maut-nya. Harry terbaring di tanah dan kami berpikir bahwa dia mungkin telah meninggal, tapi dia masih hidup, lalu bertempur hidup dan mati bersama Voldemort.

Dan, seperti yang selalu ada di novel-novel Muggle yang sering kubaca dulu, kebaikan pasti akan selalu menang melawan kejahatan, begitulah yang terjadi. Semua Horcrux telah dibinasakan, Neville mendapatkan kehormatan terakhir untuk membinasakan ular itu, dan Harry berdiri di tengah Aula Besar dengan Voldemort yang mati di kakinya. Kami semua terpana, kemudian bersorak, tertawa, menangis, memeluk Harry dan memintanya untuk berbicara. Harry terlihat pucat, namun bercahaya dalam kelegaan karena semuanya telah berakhir, semua penderitaan ini telah berakhir.

Para peri-rumah segera menghidangkan makanan dan kami semua bersama-sama duduk di Aula Besar menikmati makanan yang rasanya sangat enak setelah pertempuran besar ini. Ron duduk di sampingku, tidak makan, namun memandang keluarganya dengan prihatin. Aku tahu dia mungkin masih teringat pada Fred. Saat ini kami mungkin masih bersedih, tapi suatu saat nanti kami akan kembali bahagia. Tidak ada gunanya bersedih, karena semua yang meninggal pada perang Hogwarts ini, meninggal untuk menciptakan dunia baru bagi kami semua.

Aku menyentuh lengan Ron dan dia menatapku.

"Dia akan baik-baik saja," kataku.

"Kau membaca pikiranku?" tanya Ron, setengah heran.

"Aku tahu kau memikirkan George..." kataku, melirik George, yang tampak seperti orang linglung di sebelah Ginny.

Ron menggelengkan kepalanya dan kembali memandang George sesaat, kemudian menunduk memandang hidangan makan malam di depannya.

"Ini aku!" kata suara Harry dari sebelah kiriku. "Maukah kalian ikut aku?"

Meskipun tidak melihat Harry, Ron dan aku segera bangkit dan keluar Aula Besar. Harry segera melepaskan Jubah Gaib-nya saat kami menaiki tangga pualam. Sementara kami menaiki tangga, Harry bercerita tentang apa yang terjadi. Harry adalah Horcrux ketujuh yang dibuat tanpa disadari oleh Voldemort. Dia telah membiarkan Voldemort membunuhnya agar Horcrux di dalam dirinya dimusnahkan oleh pemiliknya sendiri. Dia juga bercerita tentang Snape dan segala yang sebenarnya terjadi di balik semua kebohongan-kebohongan Dumbledore dan Snape.

"Aku ingin sekali tidur," kata Harry, setelah kami keluar dari ruang kepala sekolah.

"Pergilah tidur," kataku tersenyum. "Semua ini sangat berat untukmu."

Harry balas tersenyum, kemudian berjalan menuju koridor tempat lukisan Nyonya Gemuk berada. Ron dan aku berdiri menatap Harry sampai dia menghilang di tikungan.

"Ke mana kita?" tanyaku memandang Ron.

"Aku ingin ke rumah sakit... aku ingin melihat Fred lagi," kata Ron.

Dia merangkul pundakku dan aku memeluk pinggangnya, kami berjalan turun ke lantai satu, menuju rumah sakit. Madam Pomfrey, disertai beberapa orang pembantu masih merawat beberapa orang yang terluka. Ranjang-ranjang yang berjejer di sebelah kiri kami telah dipenuhi oleh orang-orang mati. Ron dan aku berjalan sepanjang lorong sambil memperhatikan lima puluh mayat yang berjejer itu. Tampaklah, Colin terlihat kaku dan dingin di salah satu ranjang. Di sebelah Colin tampak Lavender Brown: wajahnya terluka, rambut berantakan dan tubuh yang berdarah. Aku berhenti di ranjang Lavender dan menatap tubuh tak bernyawa itu. Merapikan rambut di sekitar wajahnya, aku merasakan wajahku basah oleh airmata.

"Greyback yang melakukannya," kata suara Parvati dari belakang kami.

"Aku tahu," bisikku pelan.

Parvati telah berdiri di sebelahku, menggenggam tangan Lavender yang kaku.

"Sebelumnya dia masih ada di sebelahku, tapi aku tidak melihatnya lagi saat Pelahap-Pelahap Maut itu menyerbu ke dalam kastil, kemudian aku m-melihatnya t-terbaring di sana... k-kaku dan m-mati," kata Parvati terisak.

Aku segera memeluknya dan Parvati terisak di bahuku. Kami menangis bersama selama beberapa saat. Parvati melepaskanku, kemudian menyeka airmatanya dengan kasar.

"Yah, aku―aku harus pergi membantu Madam Pomfrey," kata Parvati tersenyum kecil, kemudian berjalan meninggalkan ranjang Lavender.

Aku memandang Ron yang berdiri di sana dan tidak mengatakan apa-apa. Dan dengan tersentak aku teringat bahwa Lavender adalah mantan pacar Ron.

"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanyaku.

"Tidak..." kata Ron, menggeleng.

"Kau terdengar kejam―"

"Kau mengharapkan aku mengatakan apa, Hermione?" tanya Ron. "Semua orang akan mati pada saatnya nanti, hanya untuk masing-masing orang waktunya berbeda. Aku sudah belajar untuk tidak larut dalam kesedihan, yang bisa aku lakukan adalah mengenang mereka. Meskipun mungkin kenangan ini akan memudar bersama berlalunya waktu."

Aku memandang Ron tercengang akan kebijaksanaan dalam kata-katanya. Baru beberapa waktu yang lalu, Ron terpuruk karena kematian Fred, sekarang dia kelihatan lebih dewasa dan terlihat berbeda.

"Mengapa kau memandangku seperti itu?" tanya Ron.

"Kau terlihat lain," kataku.

"Memang," kata Ron. "Perang ini membuatku belajar tentang banyak hal... persahabatan, cinta dan kehilangan... Aku sekarang menyadari bahwa nyawa itu sangat berharga karena itulah kita harus berjuang untuk mempertahankannya."

Aku menunduk memandang kakiku, berpikir, apa yang aku peroleh dari perang ini. Aku sama sekali tidak berubah, aku adalah aku yang dulu. Yang berubah mungkin adalah hubunganku dengan Ron, yang naik satu tingkat dari sahabat menjadi pacar. Tetapi, kami belum membicarakan hal ini, kami belum saling mengungkapkan perasaan, kami hanya berciuman, meskipun aku yakin Ron mengerti bagaimana perasaanku padanya.

"Hermione, ayo, kita harus melihat Fred," kata Ron, kemudian melangkah lagi menyusuri lorong.

Aku mengikutinya, berjalan perlahan, berusaha untuk menahan airmata memandang keluarga-keluarga yang menangis di sisi tempat tidur mayat.

"Kau terlalu banyak bicara, Angelina," terdengar suara George, setelah kami tiba di tempat tidur yang ditutupi oleh tirai.

Ron dan aku berpandangan, kami tahu George dan Angelina pasti ada di balik tirai itu.

"Dengar, George, ibumu menyuruhku untuk bicara denganmu tentang ini," kata Angelina. "Fred sudah tenang sekarang dan dia pasti tidak menginginkanmu seperti ini. Dia pasti akan sedih melihatmu seperti ini."

"Bagaimana aku tahu dia sedih atau tidak kalau dia terbaring kaku di sini," kata George.

"George, hentikan!" kata Angelina, terdengar frustasi. "Mengapa kau tidak bisa menerima kenyataan ini? Fred sudah tidak ada, dia sudah mati dan kau hidup... kau bisa hidup untuk dirinya juga... Banyak impian-impian kalian yang belum terwujud, kan? Ingat toko lelucon impian kalian? Hanya kau yang bisa mengurusnya sekarang."

"Tutup mulut, Angelina," kata George. "Pergi sekarang! Aku tidak akan segan-segan menyakitimu kalau kau terus bicara."

Suara George terdengar dingin dan kejam. Belum pernah aku mendengar nada bicara yang seperti ini dari George. Dari kedua kembar Weasley itu, George adalah yang paling tenang dan menjadi penasihat kalau mereka mulai melanggar garis batas. Fred, meskipun sangat keras kepala, selalu mendengarkan apa pun yang dikatakan George.

Tirai tersibak dan Angelina berdiri di sana, terkejut memandang kami.

"Oh, kalian..." katanya, seolah kami sedang berpapasan dengannya saat pergantian kelas.

"Bagaimana George?" tanya Ron.

"Entahlah," kata Angelina, mengangkat bahu. "Tak lama lagi dia mungkin akan menjadi gila dan hidup dalam bayang-bayang."

"Tidak mungkin..." kata Ron.

"Dia sedang berbicara sendiri saat aku tiba tadi," kata Angelina. "Sepertinya dia berbicara untuk dirinya sendiri dan juga untuk Fred."

"Apa?" tanyaku terkejut. "Tidak mungkin..."

"Maksudmu, dia―dia merasa bahwa dia adalah Fred?" tanya Ron.

"Benar," kata Angelina. "Dia adalah Fred dan George, dan ini sangat berbahaya kalau berlarut-larut. Menurutku kita harus segara memanggil Penyembuh yang mengerti tentang kejiwaan."

"No way," kata Ron.

"Ya, itu cuma usul..." kata Angelina. "Aku akan bicara dengan orangtuamu."

Dia kemudian pergi. Ron dan aku memandang punggung George dari tirai yang sedikit tersibak.

"Ron," bisikku, memandang Ron yang sekarang terlihat stress. "Menurutku kita tidak usah bicara dengannya sekarang... Ayo kita pergi!" aku menarik Ron keluar dari rumah sakit.

Kami menyusuri koridor dan kembali naik tangga pualam menuju ke lantai tujuh. Ron tidak bicara, dia seolah sedang berpikir keras untuk menyelesaikan suatu persoalan yang sulit.

"Ron, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanyaku, menoleh memandangnya.

Ron tidak mendengarku, dia terus saja berjalan dan tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Ron?" kataku keras.

"Apa―apa?" Ron memandangku, sedikit kebingungan. "Kau bicara denganku, Hermione?"

"Ya..." kataku. "aku bertanya apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Tidak ada," jawab Ron. "Aku mungkin akan pulang ke The Burrow dan memikirkan bagaimana caranya untuk mengikuti pelatihan Auror."

"Apakah Harry akan ikut bersamamu?"

"Mungkin... aku tidak yakin Harry mau tinggal sendirian di Grimmauld Place hanya bersama Kreacher."

Aku tertawa.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Besok aku akan meminta Kingsley mengatur Portkey ke Australia... Aku akan menjemput orangtuaku, dan aku akan kembali ke Hogwarts tahun ajaran berikutnya."

"Mengapa kau mau kembali ke Hogwarts?" tanya Ron.

"Aku ingin menyelesaikan pendidikanku," jawabku singkat.

Ron mengangkat bahu. Tak lama tak ada yang bicara, kemudian Ron berkata agak ragu,

"Aku akan menemanimu ke Australia... itu kalau kau―er―tidak keberatan."

Aku berhenti berjalan dan memandangnya.

"Ron, bagaimana kau mengira aku akan keberatan? Aku senang sekali... aku senang kau menemaniku―"

"Bagus..." kata Ron tersenyum, dia juga sudah berhenti dan kami berdiri di koridor yang menuju lukisan Nyonya Gemuk, saling berpandangan.

"Ron, dengar," kataku cepat-cepat. "Aku mungkin hanya akan mengatakannya sekali ini, karena mungkin besok keberanianku hilang, atau―yah, aku―aku mencin―"

"Aku mencintaimu," Ron menyela perkataanku.

"Apa?" aku terpana memandangnya.

"Hermione, tak perlu sekaget itu. Kau sudah mengetahuinya, kan?" kata Ron, tersenyum memandangku.

"Yah, aku―aku juga mencintaimu, aku mencintaimu," kataku, agak terengah.

Kami berdiri di sana dan bertatapan sambil tersenyum. Beberapa waktu kemudian kami masih bertatapan, wajah Ron mulai memerah sampai ke telinganya, dan dia bergerak salah tingkah. Aku tertawa.

"Apa?" Ron mendelik padaku.

Aku merangkul lehernya dan menatapnya.

"Jangan coba-coba meninggalkanku... aku akan membunuhmu kalau kau meninggalkanku," kataku.

"Aku tahu... aku belum melupakan burung-burung itu," kata Ron.

"Bagus," kataku, berjinjit dan menciumnya.

Ciuman kedua kami malam ini dan akan ada banyak ciuman lain di masa depan.


Ron POV

Hogsmead, Desember 1998

"Ron berhentilah berwajah masam," kata Hermione, memandangku dari balik kaleng Butterbeer-nya.

Saat itu kami sedang duduk di Three Broomstick di dekat salah satu jendela bersalju. Di luar tampak salju putih berkilau dan orang-orang tampak kabur karena distorsi kaca jendela yang berembun. Aku memandang Hermione dari balik kaleng Butterbeer-ku: rambutnya yang panjang tampak bergelombang berantakan di balik topi wool-nya, pipinya berwarna kemerahan karena udara dingin, kabut putih keluar dari mulutnya tiap kali dia bicara dan mata cokelat-nya menatapku dengan sebal.

"Tadi itu Zacharias Smith?" tanyaku, mendelik pada Smith yang sekarang sedang duduk bersama teman-temannya beberapa meja dari tempat kami.

"Ya, itu Zacharias," jawab Hermione.

"Zacharias?" kataku tajam. "Dia belum menyuruhmu memanggilnya Zach?"

Hermione tampak benar-benar jengkel sekarang.

"Dia hanya menemani kami ke Hogsmead, dan kami bukan cuma berdua, ada Ginny."

"Aku tidak melihat Ginny... kalian tadi masuk berdua ke tempat ini," kataku sangar.

"Ginny bertemu Harry di depan Honeydukes," kata Hermione. "Jadi, tinggal aku dan Zacharias."

"Mengapa kau bersamanya?"

"Kami bertemu dengannya di jalan, dan dia memaksa untuk menemani kami," kata Hermione.

"Kau tidak selingkuh dengannya?" tanyaku.

"Pertanyaan yang sama untukmu, apakah kau tidak berselingkuh dengan salah satu calon Auror yang cantik?"

"Lho, kok malah aku, kita kan sedang berbicara tentang dirimu," kataku.

"Baik, dengarkan aku, Ronald Weasley, Aku tidak berselingkuh dengan siapapun karena aku hanya mencintaimu, puas?"

"Oke," kataku, menatap Hermione yang masih tampak jengkel.

"Lalu, bagaimana denganmu? Ketemu calon Auror yang cantik?"

"Tidak..." jawabku.

"Yakin?"

"Aku tidak terlalu memperhatikan mereka."

"Bagus, karena aku akan langsung membunuhmu kalau kau berani berbicara tentang mereka," katanya.

Aku tertawa, teringat kata-kata seperti itu yang pernah diucapkannya saat perang Hogwarts berakhir.

"Kau menganggapku lucu?" tanya Hermione.

"Maaf," kataku.

Aku mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya di atas meja.

"Maafkan aku..." kataku lagi. "Aku hanya takut kau akan pergi meninggalkanku... Maksudku kau cantik, terkenal, pintar dan―yah, semuanya. Sedangkan aku―"

"Hentikan!" kata Hermione tajam.

"Apa?"

"Jangan mulai bersikap konyol, Ron," kata Hermione. "Bagiku kaulah yang paling tampan di dunia ini."

"Er―" wajahku memanas dan terasa seperti terbakar.

Hermione tertawa dan mencondongkan tubuhnya ke seberang meja dan mengecup bibirku dengan lembut.

"Aku mencintaimu dan tidak akan pernah meninggalkanmu, mengerti?"

Setelah berkata demikian, dia kembali duduk di bangkunya dan memandangku sambil tersenyum.

Kelegaan yang menyenangkan menyelimuti diriku seperti air panas yang menghangatkan seluruh tubuh setelah seharian di halaman bersalju. Aku meneguk habis Butterbeer-ku dan memandang arlogiku.

"Kita hanya punya waktu beberapa jam lagi sebelum kau kembali ke Hogwarts," kataku. "Nah, kita mau ke mana?"

"Bagaimana kalau ke Shrieking Shack?" usul Hermione.

"Aku benci tempat itu," kataku, namun Hermione menggandeng lenganku dan menarikku keluar Three Broomstick.

Kami berjalan di jalanan yang ramai oleh murid-murid Hogwarts menuju Shrieking Shack. Sepanjang perjalanan melewati pertokoan Hogsmead, kami tidak bertemu dengan Harry dan Ginny. Mungkin mereka di Madam Puddifoot's tea shop, pikirku. Yeah, mungkin mereka sedang berciuman melepas rindu, ini pertama kalinya Harry dan aku bertemu Hermione dan Ginny sejak tahun ajaran baru. Hermione dan Ginny sibuk belajar untuk menghadapi NEWT bulan Juni nanti, sedangkan Harry dan aku harus menjalani pelatihan Auror.

"Bagaimana kabar Weasleys' Wizard Wheezes?" tanya Hermione, saat kami mendaki bukit kecil yang menuju Shrieking Shack. "Kau masih bekerja di sana, kan?"

"Aku masih harus terus bekerja di sana untuk membayar pelatihan Aurorku, Hermione," kataku. "Dan pelatihan itu membutuhkan biaya yang besar."

"Bagaimana dengan Harry?"

"Dia baik-baik saja, tapi dia memutuskan untuk pindah ke Weasleys' Wizard Wheezes juga... tinggal bersama George dan aku."

"Apa? Dia tidak mendapat masalah dengan pemilik flat-nya, kan?" tanya Hermione.

"Tidak... kurasa dia hanya kesepian. Lagi pula masih ada kamar kosong atas toko itu."

"Oh..."

"Hermione, kau akan pulang ke rumah orangtuamu liburan Natal ini?"

"Ya, aku sudah berjanji untuk merayakan Natal bersama mereka tahun ini, tapi aku akan ke The Burrow setelah Natal dan akan kembali ke Hogwarts bersama Ginny," jawab Hermione.

"Baguslah!" kataku. "Jadi, aku bisa bertemu denganmu sebelum awal semester."

Setibanya di atas bukit kami berdiri di dekat pagar kayu menatap Shrieking Shack yang tampak menyeramkan.

"Aku sudah menyukaimu saat pertama kali kita datang ke tempat ini waktu kelas tiga," kata Hermione, menatap Shrieking Shank.

"Apa?" aku menatapnya terkejut.

"Aku tahu kau tidak menyadarinya... waktu itu kan kau belum menyadari bahwa kau jatuh cinta padaku," katanya, tersenyum, kemudian kembali memandang Shrieking Shack. "Ini adalah tempat paling romantis di Hogsmead."

"Bukannya Madam Puddifoot's tea shop?" tanyaku, teringat cerita Harry tentang tempat minum teh para pasangan yang berbahagia.

"Tidak... menurutku Shrieking Shack adalah tempat paling romantis..."

Aku memandang berkeliling dan menyadari bahwa kami hanya berdua saja.

"Benar juga..." kataku tersenyum, menarik Hermione ke arahku. "Berciuman di tempat ini lebih bagus daripada berciuman di tempat orang-orang bisa mengawasimu."

Hermione tersenyum dan mengalungkan tangannya ke leherku. Kami mulai berciuman, ciuman yang panas yang bisa mencairkan salju di bawah kami.

"Ternyata kalian di sini," kata suara Ginny.

Aku melepaskan Hermione, berpaling dan memandang Harry dan Ginny yang sedang berjalan menuju tempat kami sedang berdiri.

"Kami ke Three Broomsticks, tapi kalian tidak ada di sana, jadi Ginny mengusulkan tempat ini. Menurutnya, ini adalah tempat favoritmu," kata Harry, memandang Hermione, "benarkah itu?"

"Ginny terlalu melebihkannya, aku cuma mengatakan tempat ini adalah tempat paling romantis di Hogsmead," kata Hermione.

Ginny tertawa kecil, berdiri di sebelah Hermione dan memandang Shrieking Shank. Harry merangkul pinggangnya dan ikut memandang bangunan tua, yang sekarang menjadi saksi bisu perang Hogwarts itu. Untuk sesaat tak ada yang berbicara, kami memandang bangunan itu dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Bagaimana kabar George?" tanya Hermione tiba-tiba.

"Masih menganggap dirinya adalah Fred," jawabku. "Harry, aku senang kau memilih untuk tinggal bersama kami, George mungkin akan sedikit terhibur."

"Mom dan Dad sudah menyerah," kata Ginny. "Kami berharap Angelina bisa menyembuhkannya."

"Angelina sering bertemu dengannya?" tanya Harry.

"Ya, dia kan berkencan dengan Fred, dan George bertemu dengannya sebagai Fred. Aku tidak tahu bagaimana perasaan Angelina terhadap George, tapi dia mencintai Fred, dan sekarang dia harus berpura-pura bahwa George adalah Fred, menyedihkan, bukan?" kata Ginny, memandang Shrieking Shack, tapi tidak benar-benar melihatnya.

"Lalu... apa kata Angelina? Maksudku apakah dia berkencan dengan George dan memanggil George dengan nama Fred?" tanya Hermione bingung.

"Ya, dia memanggil George dengan nama Fred... Mom memintanya melakukan itu," kataku, teringat bagaimana Angelina sempat mengamuk dan menolak keinginan aneh Mom, tapi setelah Mom memohon Angelina menyerah dan menyanggupinya.

"Sampai kapan George akan seperti itu?" tanya Harry, bukan pada siapa-siapa, namun lebih pada dirinya sendiri.

Tak ada yang menjawab pertanyaan ini. Kami berdiri di sana memandang Shrieking Shack, yang ditutupi salju dan memikirkan pertanyaan yang mungkin tidak akan terjawab dalam waktu dekat ini.

"Kami harus kembali ke Kementrian," kata Harry memandang jam tangannya. Jam itu agak melesak di baliknya.

"Benar, latihan terakhir sebelum liburan Natal," kataku, memandang arlogiku sendiri.

"Ayo, kami akan mengantar kalian ke gerbang Hogwarts, setelah kami akan ber-Apparate ke Kementrian."

"Tidak usah," kata Ginny. "Kalian tidak perlu mengantar kami, kalau kalian memang sedang terburu-buru ke Kementrian..." dia melirik Hermione. "Kami tidak apa-apa."

Harry memandangku, kemudian mengangguk.

"Baiklah," dia mencium Ginny, aku membuang muka. "Sampai jumpa di The Burrow Natal nanti," katanya, mengangguk padaku kemudian ber-Disapparate.

"Jangan lupa untuk mengirim burung hantu padaku," kata Hermione, kemudian memberi kecupan singkat di bibirku.

"Ya, aku akan menulis surat yang panjang," kataku, tersenyum, melambai pada Ginny kemudian ber-Apparate di Kementrian Sihir.


Hermione POV

London, Februari 2004

Aku merapatkan mantel dan melangkah keluar dari flatku di London. Hari ini aku tidak ingin ber-Apparate ke Kementrian, aku ingin menikmati suasana pagi dunia Muggle yang ramai. Sepanjang jalan para Muggle terlihat tergesa-gesa ingin segera tiba di tempat tujuan mereka masing-masing. Udara dingin bulan Februari membuat para Muggle tidak ingin berlama-lama di jalanan. Aku memandang mereka dan berpikir apakah mereka tidak menyadari bahwa di bawah London ada kantor Kementrian Sihir yang megah. Memandang jam tanganku, aku menyadari bahwa waktuku tinggal beberapa menit lagi dan aku tidak ingin merusak record Pegawai Kementrian yang Tidak Pernah Terlambat. Aku segera mempercepat langkahku, berjalan menuju tempat masuk tamu Kementrian Sihir: sebuah box telpon tua yang rusak di sebuah jalanan penuh sampah di pinggiran London. Jaraknya hanya lima belas menit perjalanan dari flat-ku.

Orangtuaku ingin aku tinggal bersama mereka, namun aku menolaknya. Aku tidak ingin terus tinggal bersama orangtuaku, sementara aku sudah mempunyai pekerjaan dan penghasilan sendiri. Dad masih sibuk dengan klinik gigi di Harley Street, sedangkan Mom telah memutuskan untuk pensiun dan sedang menulis buku tentang kesehatan gigi. Aku tidak ingin mengganggu kesenangan orangtuaku, mengunjungi mereka setiap tiga kali seminggu adalah saat-saat yang membahagiakan.

Lantai box telepon umum itu meluncur turun dan aku tiba di Atrium Kementrian Sihir. Air Mancur Persaudaraan Sihir tampak berkilau dalam cahaya matahari pagi. Patung penyihir laki-laki dan perempuan, centaurus, peri-rumah tampak saling bergandengan tangan membentuk sebuah lingkaran. Dan dari masing-masing kepala patung, air meluncur keluar tergenang dalam sebuah kolam bundar di bawahnya.

Aku tersenyum memandang patung-patung itu, kemudian berjalan menuju antrean yang berdiri di depan lift. Bunyi gemerincing terdengar dan lift terbuka di depan antrean. Aku segera bergabung dengan penyihir-penyihir yang memasuki lift dan benda itu segera meluncur ke atas dengan bunyi gemerincing, meluncur menuju tingkat dua, tempat kerjaku yang baru. Sebenarnya, aku bekerja di Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk Gaib. Namun, Kingsley, yang masih menjabat sebagai Mentri Sihir merasa bahwa aku lebih dibutuhkan di Departemen Pengaturan Hukum Sihir.

Sudah dua minggu ini aku bekerja di Departemen Pengaturan Hukum Sihir, yang terletak di lantai yang sama dengan Markas Besar Auror, namun aku belum pernah bicara berdua saja dengan Ron. Dia menghindariku: saat berpapasan di koridor atau di lift, dia hanya berkata "Hai, Hermione," kemudian langsung berjalan pergi, seakan kami berdua hanya sekedar teman lama, bukan dua orang yang berbagi kemesraan dan cinta. Dia bahkan tidak pernah berkunjung ke flatku lagi.

Aku melemparkan tas kantorku di atas meja dan duduk bersandar di kursi sambil menatap langat-langit ruangan yang rendah. Apa sebenarnya yang diinginkan Ron? Apakah dia sudah bosan denganku, tapi tidak berani mengakhir hubungan kami karena takut aku akan menyerangnya dengan burung-burung kecil? Tetapi, kami baik-baik saja beberapa minggu sebelumnya. Aku memang harus bertanya padanya tentang hubungan kami, apakah memang masih lanjut atau telah berakhir. Lalu, apa yang akan kulakukan kalau Ron memang ingin mengakhiri hubungan kami?

"Miss Granger?" kata suara seseorang yang tidak kukenal.

Aku mengangkat muka, memandang seorang penyihir pria muda berjubah coklat terang. Dia berdiri di depan mejaku sambil merangkul sebuah buket bunga mawar berwarna merah menyala.

"Ya, namaku Hermione Granger," jawabku.

Dia memberikan buket bunga padaku dan menyuruhku menandatangai bukti penerimaan.

"Terima kasih," kataku, dan orang itu lalu pergi.

"Wow, mawar!" kata Virginia Goodman, dari meja di sebelahku. "Kupikir aku yang akan pertama kali menerima hadiah Valentine di kantor ini."

"Valentine?"

"Happy Valentine!" kata Virginia sedikit sebal. "Sekarang tanggal 14 Februari, Hermione!"

"Oh ya," kataku, aku hampir saja melupakan tanggal hari ini karena memikirkan Ron. "Tapi siapa yang mengirimkan aku buket bunga?"

"Coba lihat kartunya," usul Virginia.

Namun tidak ada nama pada kartu itu, hanya ada beberapa bait puisi.

"Tidak ada namanya," aku memberitahu Virginia.

"Aneh," kata Virginia. "Bagaimana kalau Ron Weasley? Kudengar kalian pacaran."

Aku tertawa.

"Tidak mungkin," kataku. "Ron tidak pernah mengirimiku bunga, cokelat atau apapun. Dia tidak seromantis itu."

"Mungkin penggemar rahasiamu..." kata Virginia, mengangkat bahu, lalu kembali memandang perkamen di depannya.

Aku kembali memandang kartunya dan membaca puisi yang tertera di kartunya.

Tujuh tangkai mawar melambangkan tujuh tahun awal pertemuanku denganmu

Mawar Pertama... Hogwarts Express membawaku bertemu dengan seorang anak perempuan yang begitu menyebalkan.

Mawar Kedua... Rasa kehilangan menyerangku saat aku mengira Basilisk itu telah membunuhmu. Aku tidak mengerti bagaimana perasaan itu bisa ada di hatiku, namun perasaan itu ada.

Mawar Ketiga... kencan pertama kita di Hogsmead, bukanlah kencan yang romantis, tapi aku senang bisa bersama denganmu hari itu.

Mawar Keempat... Aku cemburu, Viktor Krum terlihat sangat cocok bersamamu. Maafkan aku, kalau aku merusak kebahagiaanmu hari itu, namun aku tidak tahu harus bagaimana menghadapi perasaan cemburu itu. Itu perasaan yang benar-benar baru untukku.

Mawar keenam... Aku mengerti bahwa kekesalan sesaat bisa membawa rasa penyesalan yang panjang. Aku pikir kau tidak akan berbicara denganku lagi selamanya, dan hatiku benar-benar sakit.

Mawar Ketujuh... Aku sangat yakin bahwa kau memang tercipta untukku. Setiap kali aku memandangmu: saat marah atau pun tersenyum. Aku menyadarinya, aku tidak tidak akan bisa hidup tanpamu.

Aku akan mengirimmu hadiah-hadiah setiap satu jam dari sekarang untuk menebus tahun-tahun yang telah berlalu.

Aku tertegun. Apakah ini dari Ron? Ya, ini pasti dari Ron, di tahun ketigaku di Hogwarts, aku memang pergi berdua Ron ke Hogsmead, tapi itu bukan kencan. Itu karena Harry tidak bisa ke Hogsmead bersama kami. Tetapi, bukankah dia sedang tidak bicara denganku? Bagaimana kalau ini bukan Ron, padahal aku sudah mengharapkannya. Aku melemparkan kartu itu di atas meja, menyimpan buket mawar di atas lemari kabinet di belakangku dan berusaha untuk berkonsentrasi pada perkamen yang berisi kasus pelanggaran undang-undang kerahasian sihir di depanku.

Namun, hari ini berakhir dengan aku yang tidak bisa menyelesaikan pekerjaanku tepat waktu karena setiap satu jam sekali hadian beserta kartu dengan kata-kata superromantis muncul dengan dibawa oleh burung hantu. Pertama, kotak berisi cokelat, yang dihabiskan oleh kolega-kolegaku kartunya bertuliskan Cokelat yang pahit dan manis, melambangkan hubungan kita yang benar-benar pahit dan manis seperti cokelat. Kita bertengkar, aku membuatmu menangis, namun kau tetap ada di sampingku dan mengisi hari-hariku dengan indah dan manis. Kedua, kotak berisi kue-kue kesukaanku beserta manisan dan permen; kartu: Aku tidak akan melupakan saat-saat bersamamu karena semuanya adalah saat-saat di mana aku menemukan kebahagiaan dan cinta. Ketiga, sebuah kotak mungil berisi parfume beraroma mawar; kartu: Mawar untuk gadis yang seperti mawar... Tahukah kau, di tahun keenam, saat kita di kelas Slughorn, aku membaui aroma mawar dari rambutmu dalam ramuan cintaku. Keempat, sebuah novel roman Muggle yang sangat kuinginkan; kartu: Novel ini romantis, tapi menurutku kisah kita lebih romantis. Mungkin aku memang tidak tahu bagaimana bersikap romantis, namun aku sedang berusaha... Aku sedang berusaha untuk menyenangkanmu. Kelima: sebuah bros emas mungil berbentuk mawar; kartu: Dirimu akan menjadi mawar yang mekar dalam hatiku. Teruslah berkembang dan jangan pernah layu, aku akan menjagamu selamanya. Keenam: sebuah tas tangan mungil berwarna merah, kartu: Simpanlah aku selamanya dalam hatimu. Ketujuh: kotak berisi sepatu berwarna merah, kartu: Melangkahlah bersamaku untuk menemui kebahagian. Aku akan membuatmu bahagia selamanya. Kedepalan sebuah kotak berisi gaun malam sutra berwarna merah dengan renda halus berwarna hitam di bagian pinggang; kartu: Biarkan aku mencintaimu selamanya, jangan takut, aku tidak akan pernah meninggalkanmu.

"Wow... Wow! Pria ini benar-benar romantis," kata Virginia, sore itu saat burung hantu yang mengantarkan kotak berisi gaun terbang pergi. "Kau bisa memakai gaun itu saat pesta di Kementrian bulan Mei nanti."

"No way," kataku. "Aku tidak akan memakai gaun dari orang yang tidak kukenal."

"Hermione, orang ini sepertinya sangat mencintaimu, dan dia pasti akan sangat kecewa kalau kau tidak memakai gaun pemberiannya."

"Aku harus tahu dulu siapa dia, baru aku bisa memakai gaun itu," kataku, lalu kembali pada pekerjaanku.

Firasatku mengatakan bahwa ini adalah Ron, namun aku tetap tidak ingin mengharap banyak, aku takut hatiku hancur kalau ternyata semua hadiah ini bukan darinya.

"Setelah ini kau ke mana?" tanya Virginia.

"Pulang ke flat-ku, mandi dan tidur," jawabku singkat.

"Hermione," Virginia menatapku dengan tidak percaya. "Bagaimana kau bisa tidur-tiduran di flat-mu sementara di luar sana pasangan kekasih sedang merayakan Valentine?"

"Aku tidak punya teman kencan... Ron tampaknya sedang sibuk. Dia bahkan tidak mengirimiku bunga..."

"Kau yakin hadiah-hadiah itu bukan darinya?"

"Entahlah..." jawabku ragu. "Kau akan pergi ke mana?"

"Daniel mengajakku makan malam di Crystal World Square... sebentar lagi dia menjemputku," kata Virginia sambil melirik arloginya.

Aku melirik arlogiku dan menyadari bahwa sebentar lagi aku harus pulang ke flatku. Aku mengatur perkamen-perkamen di mejaku, menyihir hadiah-hadiahku agar aku tidak terbebani dengan barang-barang itu dan bersiap-siap pergi saat pukul enam.

"Miss Granger?" kata seorang penyihir pria muda yang tidak kukenal saat aku hendak keluar dari pintu kantor.

"Ya?" kataku heran.

"Ini ada bingkisan untuk anda," kata pria itu, menyerahkan sebuah kotak berukuran sedang yang lumayan berat.

"Terima kasih," kataku, menerima kotak itu dan meletakkannya di meja terdekat.

Dia menyerahkan tanda penerima untuk kutandatangani dan segera keluar kantor.

"Hadiah lagi?" tanya Virginia, dia sudah ada di sampingku dan ikut memandang kotak itu. "Bukalah!"

Aku membuka kotak itu dan seekor anjing kecil dengan bulu lebat berwarna putih dan berpita leher merah muda menggonggong dengan riang padaku sambil menggoyang-goyangkan ekornya.

"Aduh lucunya," kata Virginia, mengelus-elus leher anjing itu dengan lembut.

Aku segera membaca kartu berwarna pink dan bertinta putih yang tergeletak di dasar kotak.

Aku ingin memberimu kucing, tapi kurasa Croockshanks sudah membuatmu cukup repot. Kuharap kau menyukainya... Happy Valentine, Cintaku.

Aku meletakkan kartu itu kembali dan mengangkat anjing itu ke dalam pelukanku. Dalam hati, sekali lagi aku berharap bahwa semua hadiah ini berasal dari Ron, aku tidak bisa memikirkan orang lain yang begitu mengenalku selain dia.

"Aku harus pergi," kataku pada Virginia.

"Sampai jumpa besok," kata Virginia tersenyum.

Aku ber-Disapparate dan muncul di depan pintu flatku. Anak anjing dalam pelukanku menggonggong lagi dengan riang.

"Tenang," bisikku. "Kita sudah sampai di rumah."

Aku membuka pintu flat dan masuk ke ruang tamuku yang gelap. Setelah menyalakan lampu, aku melihat bahwa seluruh lantai ruang tamu telah dipenuhi kelopak mawar merah. Langit-langit ruangan dipenuhi untaian kertas warna-warni yang dirangkai secara artistik menciptakan ruang tamu yang indah. Berdebar-debar, aku melangkah di atas kelopak mawar dan berjalan memasuki kamarku yang pintunya terbuka. Lantai kamar ini juga dipenuhi kelopak mawar dan di tempat tidur bertaburan mawar-mawar merah. Di atas bantal tampak sebuah kartu berwarna merah muda. Aku segera meletakkan anjing kecil itu di atas tempat tidur, mengambil kartu dan membacanya.

Aku ingin selalu bersamamu selamanya

Terbangun dengan kau berada dipelukkanku

Mendapatimu tersenyum ketika kumerasa galau

Memegang tanganku ketika aku terjatuh

Dan membuatku merasakan perasaan bahwa rumah adalah bersamamu.

'Rumah adalah bersamamu', kata itu bergema dalam pikiranku. Apakah orang ini bermaksud melamarku? Aku tertegun memandang kartu itu.

"Kau menyukai anak anjing itu?" tanya sebuah suara yang sangat kukenal di belakangku.

Aku berbalik dan Ron sedang berdiri di depan pintu kamar memandangku.

"Ron...!" aku menjatuhkan kartu itu dan berlari memeluknya dan menciumnya.

Aku sangat merindukannya. Dua minggu tanpa Ron, serasa seperti berabad-abad bagiku.

"Kuharap kau menyukai hadiah-hadiahku," kata Ron, setelah kami berhenti berciuman.

"Ron, aku sangat merindukanmu... dan aku sangat menyukai semua hadiah itu," kataku, tersenyum bahagia.

"Sebenarnya masih ada hadiah terakhir," kata Ron.

"Masih ada lagi?"

Ron mengangguk dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil dari saku jaketnya. Dia membukanya dan menunjukkan sebuah cincin dengan batu ruby merah kecil, yang berkilau tertimpa cahaya lampu.

Aku terpana. Cincin itu bentuknya sederhana, namun menurutku itu adalah cincin yang sangat indah dan kalau Ron memberikannya padaku, berarti...

"Mereka harus mengerjakan cincin ini dan mengukir nama kita di baliknya selama dua minggu dan aku―yeah, maukah kau―er―Hermione, maukah kau menikah denganku?"

Wajah Ron tampak memerah sampai ke telinga dan lehernya. Aku tertawa dan pada saat yang bersamaan merasakan airmataku mengalir. Aku bahagia, ini adalah moment yang sangat kunantikan dalam hidupku, dan sekarang aku mendapatkannya. Saking bahagianya, untuk sesaat aku tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Ron dan membayangkan kehidupan kami di masa mendatang, memiliki anak dan hidup bahagia selamanya, seperti dalam dongeng-dongeng Muggle.

"Hermione, er―" Ron telah berhenti tersenyum, wajahnya pucat dan pandangan matanya tampak aneh.

Tidak ingin mengecewakan Ron yang telah mempersiapkan moment ini untukku, aku cepat-cepat berkata,

"Aku sangat mencintaimu, Ron, dan aku mau menikah denganmu," kataku terengah.

Ron memberikan senyum cemerlang dan menyelipkan cincin ruby di jari manisku. Kami bertatapan, tersenyum dan berciuman lagi.


The Burrow, Juli 2004

Kamar Ron berubah total, kamar yang dulunya sangat jelek dan berantakan kini tampak cantik dan rapi. Gambar-gambar The Cannons di langit-langit dan dinding telah lenyap diganti dengan langit-langit dan tembok yang dicat putih bersih, dengan untaian renda putih, dan bunga mawar merah di jendela bergorden putih berenda. Ranjangnya telah diganti dengan ranjang berukuran king dan berkanopi, dengan seprei berwarna putih dan juga berenda. Di sisi kiri ruangan ada sebuah meja rias berukuran besar dan aku duduk di depan meja itu, memandang pantulanku dalam cermin.

Gaunku berwarna putih panjang dan berenda dengan lengan dan dada terbuka. Wajahku telah dirias oleh Fleur dan sekarang tampak cantik dan bersinar. Rambutku tergerai bergelombang di punggungku dan sebuah tiara kecil bertengger di atas kepalaku.

"Nah, Hermione," kataku pada diri sendiri sambil memandang bayanganku. "Sebentar lagi kau akan menjadi Mrs Ronald Weasley..."

Aku tersenyum, kemudian tertawa; wajahku tampak bercahaya dalam kebahagian. Memang ini yang aku inginkan, bersama Ron selamanya. Membangun keluarga kecil kami, bergandengan tangan selamanya. Meskipun mungkin akan ada pertengkaran, namun aku yakin, Ron dan aku akan selalu bersama karena aku memang tercipta untuknya. Aku ada di dunia ini untuk hidup bersamanya.

"Hermione," Mrs Weasley masuk, duduk di depanku dan bertanya, "Bagaimana perasaanmu?"

"Aku bahagia..." jawabku tersenyum.

"Aku juga melihatnya..." kata Mrs Weasley balas tersenyum.

Dia menggengam tanganku dan berkata,

"Terima kasih karena kau sudah mencintainya, Hermione... Terima kasih karena sudah mau menjadi bagian dalam keluarga kami. Aku tidak bisa mengungkapkan rasa terima kasihku dalam kata-kata, tapi kuharap kau mengerti maksudku... Dia sudah mencintaimu sejak liburan musim panas di tahun pertamanya di Hogwarts, namun dia tidak menyadarinya. Tetapi, aku melihatnya, dan aku khawatir dia akan mengalami patah hati yang parah karena aku mengira kau mencintai Harry... Seiring berjalannya waktu aku melihat bahwa kau bukan mencintai Harry, tapi kau mencintai anakku yang bahkan tidak menyadari perasaannya sendiri..." Mrs Weasley tertawa kecil. "Aku tahu kau banyak meneteskan airmata untuk anakku yang tidak berguna itu, tapi percayalah, Hermione, dia sangat mencintaimu. Dia akan merelakan apapun untukmu, bahkan hidupnya."

Aku memeluk Mrs Weasley sesaat.

"Aku juga sangat mencintainya," kataku, setelah kami melepaskan pelukan. "Dan aku tidak akan pernah meninggalkannya sampai maut memisahkan kami."

Mrs Weasley tersenyum lagi, kemudian berdiri.

"Nah, kau harus segera keluar... para pengantin pria pasti sudah bosan menunggu. Aku akan mengecek Ginny," katanya, lalu keluar kamar.

Aku kembali menatap bayanganku di cermin, memperbaik tatanan rambutku dan bersiap-siap untuk keluar ketika pintu menjeblak terbuka. Aku pikir Mrs Weasley lupa mengatakan sesuatu padaku, tapi Ginny-lah yang masuk dengan tergesa-gesa, membanting pintu di belakangnya dan menatapku. Wajahnya tampak sangat bahagia dan matanya terbinar-binar. Yah, kataku dalam hati, ini adalah wajah seorang pengantin yang sebenarnya.

"Hermione, aku―" Ginny berjalan mondar-mandir di kamar Ron, tangannya meremas sisi gaun pengantinnya. Rambut merahnya tampak berantakan dan tiaranya sedikit miring.

"Ada apa?" tanyaku heran. Ginny tampak bahagia, tapi tampak berantakan.

"Aku―"

"Jangan bilang kau tidak ingin menikah dengan Harry," aku menyelanya dengan cepat.

"Tentu saja, aku mau menikah dengan Harry," kata Ginny, menatapku sebal. "Sebenarnya, aku―aku hamil..."

"Apa?"

"Aku hamil, Hermione... Penyembuh Douglas baru saja mengirimku burung hantu dan hasil tesnya mengatakan aku positif... Aku hamil!" jerit Ginny, kemudian tertawa.

"Wow, Gin, selamat!" kataku, memeluk Ginny. "Ini akan menjadi hadiah pernikahan yang indah untuk Harry."

Ginny tertawa lagi.

"Nah, duduklah, aku akan merapikanmu..." kataku, membantu Ginny duduk di depan cermin dan merapikan rambut dan tiaranya.

"Apakah menurutmu Harry akan senang?" tanya Ginny, sedikit ragu.

"Dia bukan senang lagi... dia akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini," jawabku santai. "Selesai, kita harus segera keluar sebelum Harry dan Ron mendobrak pintu kamar ini."

Kami berdua berjalan keluar, menggandeng lengan ayah kami masing-masing dan melangkah dengan pasti menuju dua pria, ber-tuxedo putih yang menunggu kami di depan altar. Ron, mengulurkan tangannya padaku, dan aku meraih tangannya sambil tersenyum. Ya, pikirku, aku akan bersama pria ini seumur hidupku.


Ron POV

St. Mungo, May 2006

Sial, aku benar-benar gugup. Perasaan bahagia dan takut bercampur menjadi satu. Tanganku gemetar dan dingin, jantungku berdebar kencang dan rasanya akan melompat keluar dari dadaku. Keringat dingin membanjiri sekujur tubuhku dan aku terkejut setiap kali salah satu anggota keluargaku berbicara.

"Sebentar lagi, Ron!" George berkata sambil menepuk punggungku.

Aku hanya mengangguk, memandang mereka semua, kemudian mondar-mandir lagi. Rasanya hampir pingsan saat terdengar teriakan keras Hermione dari pintu di depanku. Aku cepat berlari ke pintu itu, bersamaan dengan pintu itu menjeblak terbuka. Seorang penyembuh berpakain hijau-limau keluar.

"Mr Weasley?" kata si Penyembuh ragu.

"Aku..." kataku cepat. "Bagaimana keadaan istri saya?"

"Dia baik-baik saja... bayinya sebentar lagi keluar... masuklah!"

Aku masuk dengan gemetar, memandang Hermione yang sedang tertidur di ranjang dan diselimuti kain putih. Wajahnya pucat dan berkeringat, tetapi dia tersenyum memandangku.

"Ron, ke marilah!" katanya, mengulurkan tangannya padaku.

Aku meraih tangannya dan duduk kursi yang diletakkan di samping tempat tidur.

"Kau baik-baik saja?" tanyaku, menyeka peluh di keningnya.

"Sangat baik," kata Hermione tersenyum. "Persalinannya akan berjalan lancar, mereka telah memberiku ramuan."

"Oh, syukurlah, aku sangat ketakutan..." kataku.

Hermione tertawa.

"Apa yang kau takutkan... sebentar lagi dia lahir dan akan jadi bayi yang sangat bahagia..." katanya.

"Ya..." kataku.

"Oke, Mrs Weasley," kata si Penyembuh dari belakangku. "Anda siap?"

"Sangat siap..." jawab Hermione.

"Kau hanya perlu satu kali mengejan dan aku akan membantumu dengan mantra persalinan," kata si Penyembuh.

Hermione mengangguk mengerti. Aku duduk di sana, tidak tahu apa yang harus kulakukan.

"Apa yang harus kulakukan?" tanyaku bingung.

"Kau hanya perlu menggenggam tangannya, Mr Weasley," kata si Penyembuh.

Aku segera menggenggam tangan Hermione.

"Kalau kau merasakan bayi ini akan keluar, bersiap-siaplah mengejan," kata si Penyembuh lagi.

Hermione mengangguk lagi, kemudian tersenyum padaku. Aku menggenggam tanganya dengan erat.

"Bayinya akan keluar..." kata Hermione, beberapa detik kemudian.

Dia mengejan sambil mencengkram tanganku dengan kuat, aku menjerit ketika kuku-kukunya yang tajam menusuk kulitku, tapi aku tidak melepaskan tangannya.

Si Penyembuh segera mengacungkan tongkat sihirnya ke perut Hermione, membuat tubuhnya mengeluarkan asap kebiruan. Beberapa detik kemudian, terdengar suara tangisan bayi dan Penyembuh itu mengangkat seorang bayi perempuan.

Aku menatap bayi itu dengan terpana.

"Aku akan membersihkannya," kata si Penyembuh, sambil membawa bayi yang menangis itu keluar.

"Rose Ginevra Weasley," bisik Hermione.

"Apa?"

"Rose, Ron, namanya Rose... Aku mengambil huruf R-nya dari namamu. Lagi pula, aku suka bunga mawar."

"Ya... aku yakin, dia akan menjadi gadis yang cantik seperti mawar," kataku, menatapnya, kemudian memberikan ciuman panjang di bibirnya. "Terima kasih... terima kasih karena sudah memberikan Rose yang begitu indah padaku."

"Ya... ya," kata Hermione, memejamkan mata.

"Kau baik-baik saja," tanyaku khawatir.

"Sangat baik, Ron... aku cuma khawatir, apakah aku bisa menjadi ibu yang baik atau tidak..."

Aku mengecup bibirnya, kemudian berkata, "Kau akan menjadi ibu yang paling baik di dunia ini, Hermione."

"Kalau kau berkata begitu, aku yakin kita akan akan baik-baik saja," katanya tersenyum.

"Mom, Dad, ini bayimu..." kata si Penyembuh, meletakkan bayi perempuan yang telah di bungkus dengan selimut kecil ke tangan Hermione.

"Hai, Rose..." kata Hermione, menyentuh tangan dan kaki Rose.

Rose menguap.

"Dia mirip denganmu," kata Ron.

"Jangan berbohong, Ron," kata Hermione tersenyum kecil. "kupikir dia lebih mirip Weasley."

"Bolehkah aku menggendongnya?" kataku.

"Baiklah, ulurkan tanganmu," kata Hermione.

Aku mengulurkan kedua tanganku dan Hermione meletakkan Rose di tanganku.

"Nah, sekarang angkat dia dan dekatkan ke dadamu, ya, begitu," katanya lagi, memberi instruksi.

Aku mengangkat Rose ke dadaku dan melihatnya cegukan.

"Bayi ini sangat mungil," kataku.

Hermione tertawa.

Pintu menjeblak terbuka dan Ginny, yang tubuhnya besar karena sedang hamil besar, muncul, diikuti oleh Harry, yang sedang menggendong James. George dan Angelina di belakangnya, menggendong si kembar Fred dan Roxanne. Percy dan Audrey, bersama si kecil Molly dan Lucy. Bill, yang menggendong Louis dan Fleur yang menggandeng Victoire dan Dominique. Berikutnya Mom dan Dad juga ayah dan ibu Hermione.

Aku memandang si Penyembuh, yang sedikit kaget melihat banyaknya orang dalam ruangan. Dia menggelengkan kepala menatap banyaknya orang dalam ruang persalinan itu dan memutuskan untuk tidak berkata apa-apa.

"Mana Rose?" tanya Ginny, melangkah tertatih-tatih karena keberatan perut ke arahku.

Aku menyerahkan Rose pada Ginny dan menyalami semua orang.

"Aduh, Hermione, dia sangat manis..." kata Ginny. "Aku harap anak dalam perutku ini perempuan sehingga dia bisa berteman dengan Rose."

"Jangan terlalu berharap, Gin, nanti kau akan kecewa," kata Angelina.

Semua tertawa, termasuk Hermione dan aku. Kami bertatapan dan aku mengisyaratkan bahwa aku mencintainya dalam mataku. Hermione mengangguk dan tersenyum.


Godric's Hollow, Juli 2008

"Tak mau... tak mau," kata Rose, sore itu saat aku hendak ber-Disapparate.

"Rosie, dengar, Dad harus pergi menjemput Mommy dan adikmu yang baru lahir dari rumah sakit," kataku, mencoba untuk melepaskan cengkraman Rose di pipa celanaku.

"Lose, tak cuka Huu-go... Lose, cuka Lily," kata Rose, merengek.

"Nah, Rose, kau bisa bermain dengan Lily sekarang," kata suara Ginny dari pintu.

Aku mengangkat muka dan melihat Ginny masuk bersama Lily yang berumur tiga bulan dalam kereta dorong dan Al, yang memegang keliman rok Ginny.

"Syukurlah kau sudah datang, Gin," kataku penuh syukur, mencoba untuk melepaskan cengkraman Rose lagi, tapi Rose yang telah melihat Lily berlari mendekati kereta dorong Lily.

"Lily..." serunya.

"Lose..." kata Al. "Aku cuka Huu-go... kita bica menukalnya kalau kau mau."

Rose tersenyum penuh semangat, keduanya kemudian mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan pada Lily dan Hugo.

Aku bernafas lega. Rose akan sibuk dan aku bisa menjemput Hermione dan Hugo dari rumah sakit. Lagi pula Ginny telah bersedia menjaga Rose.

"Mana James?" tanyaku.

"Di tempat George... Dia dan Fred sedang tergila-gila pada kuali lelucon," jawab Ginny, menghempaskan diri di sofa. "Aku sedang berpikir bahwa mereka berdua bisa menggantikan Fred dan George di keluarga kita."

"Benar sekali, aku bisa melihatnya... Mereka adalah calon-calon pelanggar peraturan Hogwarts. Kau dan Angelina harus bersiap-siap," kataku, lalu tertawa kecil. "Harry masih di Kementrian?"

Aku meninggalkan Ginny dan anak-anak di ruang tamu dan berjalan menuju ruang keluarga untuk mengambil mantel perjalananku yang tergeletak begitu saja di lengan kursi.

"Ya, dia sibuk sekali, tapi jangan khawatir dia akan pulang untuk pesta," kata Ginny. "Omong-omong, aku sudah menyuruh Kreacher untuk datang ke sini nanti malam."

"Tidak usah," kataku, memakai mantel sambil melangkah ke ruang tamu. "Mom dan ibu Hermione sudah bersedia datang. Lagipula ada Fleur, Angelina dan Audrey, mereka siap membantu."

"Kreacher bisa sekalian membantu..." kata Ginny berkeras. "Lagi pula seluruh keluarga akan datang. Kau tidak bisa hanya menyediakan sedikit makanan."

"Terserahlah..." kataku. "tapi, siapa yang menjaga rumahmu kalau Kreacher ke mari?"

"Ron, rumahku hanya berjarak beberapa meter dari sini," kata Ginny. "Kita akan bisa mengawasinya, lagi pula siapa yang mau mencuri di rumah penyihir?"

"Entahlah," kataku. "Gin, aku berangkat dulu!"

Ginny melambai padaku dan aku ber-Apparate di St. Mungo, kemudian segera berjalan cepat menuju bangsal persalinan di lantai satu.

"Ron," kata Hermione, ketika melihatku masuk. Dia sedang duduk di tempat tidur sambil memeluk Hugo. "Apa yang terjadi? Mengapa kau baru datang sekarang?"

"Rosie tidak melepaskanku pergi," jawabku, melepaskan mantel dan meletakkan di kursi. "Dia terus berkata bahwa dia lebih menyukai Lily."

"Kau terlalu memanjakannya, Ron," kata Hermione, sementara aku duduk di sampingnya di ranjang, menciumnya dan mengecup kening Hugo.

"Bagaimana kabarmu dan Hugo?" tanyaku, mengabaikan pernyataan bahwa aku terlalu memanjakan Rose.

"Kami baik-baik saja," jawab Hermione, tersenyum pada Hugo.

"Mana Mom dan ibumu?" tanyaku, memandang berkeliling.

"Mereka baru saja pergi beberapa menit yang lalu... katanya mereka mau bersiap-siap untuk pesta."

"Oh, syukurlah, Ginny sudah khawatir tidak ada yang menyediakan hidangan pesta. Dia kan sibuk menjaga anak-anak," kataku.

"Sebenarnya, aku tidak mengharapkan mereka menyibukkan diri untukku dan Hugo," kata Hermione.

"Mereka semua menyayangimu, Hermione," kataku. "Lagi pula ini adalah perayaan untuk menyambut cucu terakhir dalam keluarga."

Hermione mengangguk dan kami berdua memandang Hugo yang sedang tertidur lelap di pelukan Hermione.

"Dia mirip denganmu," kataku.

Hermione tersenyum.


Read and Review, please! Buatlah aku tetap bersemangat menyelesaikan fanfic! See you in Kisah Ron dan Hermione Epilog.

Riwa :D