Melqbunny

presents

"Drown in the Sea of Red String"

An Alternate Universe fanfiction

Pairing : Homin (Jung Yunho X Shim Changmin)

Rate : T – M.

Disclaimer : I own the story only, but whatever

Warning! : Bahkan tanpa adegan enceh pun saya merasa perlu memasukkan ini dalam rating M. Yang udah baca review ya! Termasuk yang biasanya nongkrongin couple lain.

Oh ya. Yang italic itu kejadiannya di masa lalu yaaa... akan ada flashback berkali-kali jadi ya sabar aja. Memang kadang kita perlu melihat ke masa lalu #plak

.

.

Chapter 13

.

.

"1+1=2"

"..."

"Mmmm... 2+2=4?"

"Seonsaengnim... anda tahu itu hanya berlaku untuk Seungri? Kami punya kamera agar tahu siapa yang ada di depan gerbang rumah."

"..." Changmin menepuk dahinya karena sadar sudah dipermainkan, "Yunho ada?" katanya setelah berhasil menekan rasa malunya.

.

"Tuan muda ada di rumah pohon di belakang rumah."

"Rumah pohon? Kenapa waktu itu aku tidak melihatnya ya?" Changmin disambut oleh orang yang sama dengan minggu lalu saat dia ke rumah ini bersama Seungri. Dan rumah ini masih saja menarik perhatiannya.

.

.

.

Rumah pohon itu ternyata besar, bikin iri saja karena dia tak punya tempat semacam ini. Hasil desain salah seorang teman ibunya Yunho yang spesialis rumah pohon dan kabin. Changmin naik ke rumah pohon dan melihat kalau Yunho sedang tidur di dalam sana. Tidur menyamping di lantai kayu tanpa selimut atau alas apapun. Wajahnya begitu tenang dan polos, mirip dengan Mooseok hyungnya. Kausnya sedikit terangkat, menampakkan perutnya yang rata. Guru magang itu duduk perlahan, mengamati setiap jengkal tubuh Yunho. Memandang ke arah kulit yang tak tertutupi oleh kain. Dulu waktu jadi kucing dia bisa seenaknya menyentuh kulit-kulit itu, menyusup ke dalam pakaian Mooseok saat pagi menjelang. Kalau sekarang sepertinya bakal ditampar. Tapi memangnya kenapa?

Perlahan dia menarik kaus Yunho yang agak kebesaran itu. Ukurannya yang tak sesuai dengan tubuh Yunho memudahkannya untuk menyibak kaus hingga tertahan oleh ketiak, menampakkan perut dan sebagian dadanya.

Siswanya itu sedikit bergerak, agaknya terganggu, hal yang membuat Changmin secara reflek berhenti bergerak dan bahkan berhenti bernafas. Tetapi ketika Yunho mulai tenang, Changmin menghembuskan nafas lega dengan perlahan.

Tangan Changmin kembali terulur, kali ini berusaha untuk melepas kancing celana dan menurunkan resleting celana Yunho. Membukanya sejauh yang dia mampu dan menurunkannya sedikit.

Lagi-lagi Yunho melenguh tak nyaman dan Changmin berhenti bergerak lagi. Tangannya masih mengangkat sedikit boxer Yunho. Sebelum diturunkannya perlahan.

Dia memandang hasil keisengannya dengan puas. Inginnya sih menelanjangi Yunho, tetapi dia tak mau kalau Yunho mendadak panik dan dia bisa saja dilemparkan dari atas rumah pohon ini, bisa-bisa dia patah tulang karenanya. Tapi rumah pohon ini begitu nyaman, salah satu dindingnya hampir seluruhnya berupa pintu yang terbuka, membuat angin sepoi-sepoi menerpa mereka berdua. Yunho bergidik sedikit, dan Changmin menatap posisi Yunho lama dan teringat saat dulu dia berwujud kucing kecil dan berbulu. Waktu itu dia suka sekali masuk ke dalam pakaian Yunho dan bersandar di dadanya yang hangat.

Changmin menunduk, melihat pakaiannya sendiri, lalu dengan cepat melepaskan semua kancing baju dan menurunkan resletingnya sendiri sebelum berbaring dan berusaha dengan sangat perlahan untuk tidak membangunkan Yunho. Dia bergeser sedikit demi sedikit hingga kepalanya tepat berada di depan leher Yunho dan tubuh atas mereka nyaris bersentuhan. Changmin menggerakkan tangan Yunho agar melingkari tubuhnya sementara Changmin melakukan hal yang sama dengan Yunho, memeluk perutnya erat dan satu kaki diselipkan di antara kedua kaki Yunho dan kakinya yang lain berada diatas paha Yunho.

Alis Yunho berkerut, merasa terganggu tetapi perlahan kerutan itu menghilang. Jadi Changmin hanya mengeratkan pelukannya sebelum ikut tidur bersama Yunho.

.

.

.

Yunho membuka mata perlahan. Dia ingat dia ada di rumah pohonnya bersama kucing kecilnya. Bermain sebentar sebelum meutuskan untuk tidur. Angin sepoi-sepoi memang membuatnya mengantuk, tetapi kenapa tidak seperti biasanya? Kenapa punggungnya dingin tetapi dada dan perutnya terasa hangat?

Menghela nafas panjang, Yunho berkedip beberapa kali lagi sebelum berusaha bergerak. Hanya saja ada sesuatu yang mencegahnya bergerak ataupun bergeser. Ada yang berat ada sesuatu yang lembut serta agak geli di lehernya. Mirip seperti karpet, atau sikat yang lembut.

Dia mencoba melihat benda apa yang ada di lehernya dan mengangkat tangan untuk menyentuhnya, ketika dia tahu kalau. "HAH!? O_o?"

"Errrmm..." Ada geraman kesal dari benda yang berhasil menahannya di lantai.

Yunho berusaha menjauh, menggunakan tangannya untuk memegang benda itu dan mendorongnya, tetapi geraman lagi dan benda itu menahannya makin kuat. Bukan. Memeluknya. "Ergh... hyung!" katanya dengan kesal dan mengantuk.

Di dunia ini hanya ada satu orang yang memanggilnya hyung seperti itu. "So, seonsaengnim?" katanya panik.

Tetapi Changmin memeluknya makin erat. "Ngantuuk." Rajuknya.

Yunho diam. Dia tak habis pikir bagaimana ini bisa terjadi. Selanjutnya dia hanya bisa menghela nafas, membiarkan Changmin tidur lagi dan menyentuh punggung bawahnya sendiri dan menyadari bagaimana kausnya sudah tertahan di bawah ketiaknya. Pantas saja punggungnya dingin. Pasti gara-gara guru yang satu ini. Belum lagi kedua kakinya tak bisa diapa-apakan karena terkait dengan kaki Changmin.

Yunho berusaha menurunkan kausnya, tetapi bagian depan tertahan Changmin. Tangan Changmin perlahan membelai turun hingga ke pinggang Yunho, membuat anggota klub renang itu menurunkan kausnya lebih jauh.

Tetapi kemudian tangan itu menyusup ke balik celana Yunho dan meremas pantatnya begitu saja.

Yunho terlonjak di tempat, belum lagi lidah Changmin yang menyerang dadanya, bahkan nyaris saja memberikan hisapan di sana. Dengan sekuat tenaga, Yunho mengeliat dan mendorong gurunya hingga terantuk di dinding rumah pohon. "Aw... kau ini kasar sekali..." Changmin protes, mengelus kepalanya sambil meringis sakit.

"Pak guru mau memperkosaku, ya?!" baru disadarinya kalau resleting dan boxernya turun dari posisinya semula. Dia berdiri dan memperbaiki celananya.

Changmin masih mengelus kepalanya, matanya agak berair, khas bangun tidur. "Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu, kok..." katanya masih dengan cemberut. Tak terima kenapa Yunho menganggapnya ingin memperkosa. Padahal kan dia hanya teringat pada masa lalu saat jadi kucing kecil dulu; seenaknya bisa menyusup ke dalam baju Mooseok saat sedang tidur.

Satu alis Yunho terangkat tak percaya. "Kalau hanya mau tidur dan memelukku, apa perlu sampai mau melucuti pakaianku begini?"

"Kau kenapa, sih? Padahal kan tadi adik kecilmu terasa hangat di perutku..." protesnya. "Lagi pula harusnya kita tidur berpelukan tanpa pakaian!" tambahnya.

Yunho merosot dari tempatnya berdiri sambil menghela nafas dan menutupi wajahnya. Uap air dari hembusan nafas terasa hangat di wajah.

Changmin yang menyadari kalau Yunho sedang kesal perlahan mendekat dan memegangi pergelangan tangannya. Dengan cepat Yunho menggerakkan tangannya hingga cengkeraman lemah Changmin terlepas. "Jangan sentuh aku!"

"Kau ini, kenapa? Ini bukan pertama kalinya kita bersentuhan dan melihat tubuh masing-masing."

Yunho tahu dia sudah melakukan kesalahan besar di masa lalu. "Harusnya aku ingat untuk mengunci bilik showerku waktu itu." racaunya, yang sangat jelas didengar oleh Changmin. Dan dia tidak suka kalau siswa kesayangannya ini menyesal dengan satu waktu itu. Yunho menoleh pada Changmin dan yang ditatap terkesiap karena kaget. "Pernah terbayang ada di rumah sendiri, di mana seseorang harusnya bisa merasa sangat aman tapi tiba-tiba terbangun dan mengetahui kenyataan kalau hampir diperkosa?"

Changmin hanya bisa menggelengkan kepala dengan lemah, menyadari kesalahannya. Jelas saja Yunho panik. Dia baru bangun dan ini rumahnya, mungkin yang sampai ke atas rumah pohon ini hanya Seungri dan sahabatnya itu jelas 'tidak berbahaya' seperti dirinya. Ini tempat yang 'aman ' bagi Yunho, dan dia sudah mengotorinya. "Maaf..." katanya lemah dan tulus. Kepalanya menunduk karena menyesal.

"Sudahlah... lebih baik Seonsaengnim turun. Kalau ada perlu, bicara di ruang makan atau yang lain saja. Jangan di sini."

Meskipun tempat ini sebenarnya sangat menyenangkan, tetapi Changmin berdiri dan memperbaiki pakaiannya sebaik mungkin sebelum melangkah ke tangga.

"Hey Changmin..."

Changmin berhenti tepat di depan tangga, mendengar Yunho memanggil namanya dan bukan Seonsaengnim seperti biasa. Dia sangat suka dan ingin mendengarnya lagi. Tunggu, Yunho memanggilnya? Mungkinkah dia berubah pikiran dan? Dia berbalik untuk melihat ke arah Yunho dengan senyum lebar, tetapi yang bersangkutan justru tengah menggaruk kepala seekor kucing kecil berwarna hitam. "Changmiiin..."

Nyaaaww...

Yunho menyadari ada yang mendekat kepadanya. "Yunho... Kau panggil kucingmu apa tadi?"

"Changmin." Jawabnya polos.

"Terakhir kali namanya Mikasa!" protesnya tak terima.

"Ini namanya koreksi diri. Aku memanggilnya Mikasa tapi dia tak terlalu berekasi, jadi aku coba nama-nama lain. Dari kitty, kuro, taepoong, john, robert, ice cream, churros, kimchi, dan puluhan nama lain sampai aku bilang Changmin."

Meaow.

"Dan dia mengeong." Yunho membawanya ke pangkuan. "Ya kan Changmin?" katanya pada kucingnya.

"Ganti!"

"Nggak bisa. Aku sudah coba dengan nama lain bahkan Chami atau Minnie atau Min. Tapi dia hanya mau bereaksi dengan Changmin."

Meaaow.

"Mikasa... Kuro! Shiro! Umakure! Naru! Luna! Artemis! Ugh... Jizz! Cum! Vibrator! Dildo! Nipple! Condom!"

"Yah! Dasar otak mesum! Jangan coba nama itu untuk kucingku!"

"Bahkan kalau dia mau bereaksi dengan kata 'fuck me!' dia harus ganti nama," Changmin menggeram tak terima.

"Sudah kubilang dia tak mau!"

"Changmin."

Meaow.

Changmin kesal, dengan tiba-tiba dia menyambar kucing kecil itu dan melemparnya keluar rumah pohon. Ada jeritan kucing yang sangat jelas. "Changmin!" Yunho panik karena kucingnya begitu saja dihempaskan keluar rumah pohon.

"Dia itu kucing! Dia bisa mendarat dengan selamat dimana saja!"

"Dia masih 2 bulan!" Yunho nyaris terjun dari rumah pohonnya dan menemukan kalau kucingnya itu mendarat di pohon terdekat. Cakar-cakarnya menancap kuat di pohon itu. Nafas kucing itu memburu, seluruh tubuhnya bergetar karena itu. Dengan segera, sebagai pemilik yang bertanggung jawab, Yunho memanjat pohon dan menurunkan kucing kecilnya sesulit apapun itu.

Begitu sampai di tanah, Yunho memeluk erat kucing yang seluruh cakarnya keluar dan menancap erat di pakaian Yunho. Mengelus kucing kecil yang baru saja mendapatkan pengalaman terburuk di umurnya yang belum genap 3 bulan.

Changmin turun dari rumah pohon, dan langsung cemburu berat. "Harusnya aku yang kau peluk seerat itu. Harusnya aku yang meninggalkan cakaran di tubuhmu. Bukannya kucing jelek itu!"

"Kau ini sudah merusuh di rumahku lalu mau membunuh kucingku! Mengada-ada sekali cemburu dengan seekor kucing!"

"Dengar ya! Tiap ganti baju dan mandi kau tak boleh membiarkan kucing itu ada di dekatmu. Dia bisa melihat yang tidak-tidak dan membayangkan hal-hal aneh."

"Pak guru lebih baik pulang sekarang."

"Kau mengusirku?" tanyanya tak terima dan tak percaya.

"Kalau tak mau aku saja yang akan pergi. Sama saja." Yunho melangkah pergi dan dengan cepat menghilang ke dalam rumah.

.

.

"Ada apa, Shim-Seonsaengnim? Kenapa terlihat lesu? Saya bisa membuatkan teh."

Walau pria ini adalah pelayan di keluarga Yunho, tetapi Changmin tak berhak untuk menyuruh-nyuruh pria ini seenak hatinya. Bahkan Yunho tak bergantung pada pria ini. "Ah tidak. Tidak perlu. Apa Yunho keluar?"

"Iya. Ke dokter hewan."

"Oh," hanya itu yang bisa dikatakan. Sudah terlambat untuk memperbaiki hal itu. Penyesalan selalu datang terlambat. "Kalau begitu aku akan pulang dulu. Maaf sudah merepotkan."

"Ah, Shim-seonsaengnim," cegahnya sebelum Changmin beranjak. "Tuan dan Nyonya bertanya padaku 'Siapa orang yang bernama Shim Changmin ini?'," ada jeda sesaat. "Apa yang sudah anda lakukan sampai mereka terganggu begitu?"

"Tidak ada," bohongnya begitu saja.

Pria yang lebih tua darinya itu tersenyum. "Anda gegabah. Bukan tidak mungkin tuan atau nyonya membayar orang untuk menyakiti anda karena sudah demikian terganggu," itu terdengar seperti ancaman yang bernada nasihat, Changmin bingung mendengarnya.

"Apa bisa seperti itu?"

"Anda berusaha terlalu keras, Shim-seonsaengnim. Bukankah tuan muda kami hanyalah satu dari sekian banyak murid di sekolah?"

"Tapi tak ada siswa di sekolah yang punya masalah lebih kompleks darinya sambil tetap berusaha mempertahankan nilai."

"Saya rasa anda hanya kurang melihat kepada siswa lain," tantangnya.

"Maksudnya saya pilih kasih?"

"Saya pikir seorang guru harusnya memberikan perlakuan yang adil pada setiap siswa. Keadilan proporsional. Bukan hanya tuan muda yang punya masalah yang rumit. Dia tak punya masalah untuk akademisnya. Semua baik saja,"

"Apa anda juga menganggap remeh hal ini?"

Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Ini kekhawatiran orang tua," katanya final.

.

.

.

Yunho berkedip, melihat ke sekeliling.

Ini dimana? Tempat apa ini?

Dia tak mengerti sejak kapan dirinya ada di luar?

Tempat ini tidak familiar, tapi tempat ini bagus, langitnya juga bagus, langit senja... ada bukit dan pepohonan, begitu damai...

Juga ada sungai... ada... ada orang disana? Tunggu, dia terbawa arus. Gawat. Aku harus menolongnya! Aku harus ke sana.

Yunho berlari dan segera menceburkan dirinya ke dalam sungai yang berarus deras. Dia mungkin tak peduli dengan hidupnya sendiri saat itu, tapi dia anggota klub renang, kan? Dia harus berbuat sesuatu.

Dia berusaha menggapai orang itu tetapi orang itu terus saja bergerak.

.

Plik. Yunho membuka kedua matanya mendadak. Mimpi?

Masih jam 2 pagi. Dia harus segera tidur lagi kalau tak mau terlambat besok.

.

.

.

Keesokan paginya, ada ribut-ribut di dalam kelas. Yunho yang baru datang masih belum mengerti keributan apa yang menyebabkan siswi-siswi berangkat lebih awal dan 'menyerang' para siswa. "Kau ikut kan, Yun?" seorang siswi terlihat bersemangat.

"Ikut kemana? Kita mau wisata?"

Siswi itu cemberut, "Kau ini. Kita akan memberikan kenang-kenangan untuk Changmin-Seonsaengnim. Sebentar lagi masa magangnya berakhir, jadi kita harus memberinya kenang-kenangan."

Yunho langsung berpikir, 'sebentar lagi' itu dua minggu ya? Minggu depan kan dia ada final pertandingan renang dan minggu depannya olimpiade matematika.

"Yunho tak akan setuju." Salah seorang siswa membantah untuknya.

Beberapa siswi langsung menghadapi siswa tadi, "Yunho itu bahkan privat dengan Changmin seonsaengnim. Dia paling dekat dengannya. Pasti dia akan ikut! Kalian hanya iri saja! Ya kan Yunho? Kau setuju, kan?"

"Buat apa memberinya kenang-kenangan?" tanyanya tak mengerti.

Siswa-siswa langsung tertawa sedangkan siswi tadi langsung memasang tampang kesal karena reaksi Yunho itu.

"Jadi kau tak mau memberinya kenang-kenangan begitu?" yang ditanya hanya bisa menggaruk kepalanya sambil berpikir.

"Kurasa... seandainya kalian diam-diam memberikan nomor telpon, foto-foto imut bahkan pakaian dalam kalian pun, dia tak akan senang, kok."

Siswa-siswa tertawa makin kencang sementara para siswi mukanya memerah karena malu. "Yah, kau ini! Menyebalkan sekali. Memangnya kau tahu apa yang akan membuat dia senang?"

Yunho diam.

"Tuh kan! Bilang saja kalau sebenarnya kau itu tidak tahu apa-apa yang disukai Changmin Seonsaengnim!"

"Aku tahu," katanya segera, ada letupan kecil di dalam dadanya yang membuatnya tak mau kalah, "Tapi buat apa juga aku bilang pada kalian, kan? Lagi pula, bukannya masih 2 minggu sebelum dia selesai magang?"

"Kurang dari 2 minggu!"

"Yak-yak! Kembali ke bangku masing-masing! Kalian tidak dengar bel sudah berbunyi?"

.

"Seonsaengnim... kemana Changmin- seonsaengnim?" seorang siswi memberanikan diri untuk bertanya. Tidak biasanya Changmin tidak mengajar dan meskipun yang mengajar kali ini adalah guru lama mereka, tetapi sudah tak lagi menyenangkan.

"Dia mengajar kelas 3 hari ini. Kemarin guru matematika kelas tiga kecelakaan, lalu oleh ibu kepala sekolah, dia diminta mengajar kela s3 untuk sementara."

"Yaaaahhh..." bukan hanya siswi tetapi siswa-siswa juga kecewa. Mereka mungkin tak terlalu suka dengan antusiasme cewek-cewek terhadap Changmin, tetapi guru muda itu mengajar lebih baik dari guru mereka yang satu ini.

"Kalian tidak puas dengan keputusanku?" suara wanita yang diikuti oleh pemilik suara memasuki kelas. Ibu kepala sekolah yang sudah pulang dari bulan madunya. Semua langsung diam dan menunduk, selain Yunho yang hanya bertopang dagu sambil mencorat-coret kertas. "Silahkan dimulai pelajarannya seonsaengnim... lalu Yunho..."

"Yunho!" siswa-siswa yang duduk di depan dan samping Yunho langsung memanggilnya dengan keras. Maklum saja karena siswa tadi justru keasyikan dengan lukisannya dan tak bereaksi dengan panggilan dari kepala sekolah.

"Apa?!" katanya agak galak; kesal pada teman-teman yang mengganggunya begini

"Ini titipan soal-soal dari Changmin seonsaengnim..." kepala sekolah justru tersenyum dan memberikan setumpuk kertas pada Yunho, ada selembar memo di atasnya.

Seusai latihan renang, langsung ke rumah nenek saja. Ada yang harus kukerjakan. CM

.

Siswa dan siswi yang duduk di dekat Yunho berusaha mengintip kertas itu, tetapi karena tak ada yang aneh dan Yunho segera menyimpan soal-soalnya ke dalam tas, mereka menghela nafas malas. Yunho dengan tenang, merapikan gambarnya dan berusaha fokus dengan apa yang dikatakan guru matematika mereka yang lama.

.

.

.

"Ternyata nggak asyik ya?" Jokwon berkomentar saat mereka makan siang.

"Apanya?"

"Kita pasti terlalu terbiasa dengan Changmin seonsaengnim sampai-sampai guru kita yang lama jadi tak menarik lagi." Keluhnya.

Yang lain pun setuju, tetapi Yunho sutru tak mengerti apa yang diributkan. "Kenapa? Biasa saja, kan?" Malah dirinya senang karena tak ada lagi yang memberinya perhatian ekstra. "Kupikir kalian tak suka padanya."

"Ada perbedaan besar antara tidak suka karena dia disukai banyak cewek dengan tidak suka cara mengajar. Dia mengajar dengan baik, Yun, dia hanya terlalu populer. Memangnya kau tak merasa cara mengajarnya bagus?"

"Ng... lumayan?"

"Ah sudahlah... Yunho ada 5 level di atas kita,"

"Yah! Apa-apan itu?" justru Yunho yang tak terima dengan kata-kata salah satu teman sekelasnya barusan.

"Kau kan mengerjakan soal yang lebih sulit, lagi pula Changmin seonsaengnim pasti begitu tegas padamu, kan? Soal-soal yang dia berikan saja setebal ini." Seungri menggunakan jarinya untuk memperkirakan tebal soal yang tadi pagi diberikan untuk Yunho.

"Ternyata Yunho lebih dendam pada guru itu dari pada kita."

"Hah?"

Dua teman yang mengapit Yunho langsung menepuk-nepuk punggungnya penuh prihatin. "Sabar ya Yunho..."

"Kami tidak tahu kalau selama ini kau begitu menderita karena Changmin-Seonsaengnim."

"Hah?"

"Turut prihatin ya... gara-gara dia kau jadi tak bisa mengejar cewek manapun dan malah dikejar-kejar cewek karena mereka ingin dapat no handphonenya Changmin seonsaengnim."

"Sabar-sabar... hanya dua minggu lagi lalu semua akan kembali seperti semula," teman yang lain juga menambahkan.

Yunho hanya bisa diam setelah menyadari apa yang teman-temannya pikirkan tentangnya dan Changmin. Entah kenapa jadi salah mengerti begini.

.

.

.

Sepanjang hari itu dilalui Yunho seperti biasa. Hanya tidak ada Changmin saja. Memang aneh karena biasanya mereka akan berpapasan di koridor atau Changmin mengajar kelasya. Tetapi memangnya kenapa? Bukankah dia juga akhirnya akan bertemu dengan guru privatnya iu?

"Tumben kau selesai latihan? Biasanya masih terus, kan?"

Padahal Yunho masuk ke kamar mandi setelah hampir semuanya selesai mandi, tetapi ternyata terlalu cepat. "Entahlah, sepertiya tidak mood."

"Nggak sakit, kan?"

"Nggak. Aku baik-baik saja..."

.

.

Yunho tak berharap teman-temannya menunggunya, tetapi mereka justru melakukan itu. Belum lagi mereka mengajak Yunho untuk mampir ke kedai jjajangmyun. "Aku ini kan masih harus les privat," katanya beralasan.

"Bwuuu... habis pertandingan renang, kita harus makan-makan," langsung saja Yunho diprotes. Padahal mereka dulu bisa kemana-mana bersama.

Jokwon menjentikkan jarinya mendapat ide, "Yunho yang traktir semuanya!"

"Kenapa aku?"

"Karena sejak kau ada privat, kau tak pernah bisa makan-makan dengan kami."

"Betul... pengkhianat..." yang lain langsung menimpali, memojokkan Yunho yang Cuma bisa cemberut dengan sangat imut.

"Lebih milih masakan rumahan pula..." Seungri menatapnya sengit.

"Kan privat ini bukan mauku..." komentar Yunho tak terima.

Kali ini giliran Seungri yang menjentikkan jarinya "Kalau gitu bolos sekali saja."

"Aku sudah pernah bolos, nggak mungkin aku sering-sering bolos padahal hanya tinggal 3 minggu lagi."

"Ya sudah! Sana pergi!"

.

.

.

Yunho langsung naik bis menuju rumah nenek, melambaikan tangan pada teman-temannya yang berjalan kaki menuju kedai jjajangmyeon langganan mereka dulu. Kalau dipikir memang sudah 6 minggu ini dia tak makan-makan dengan teman-temannya itu sepulang latihan. Mana bisa kalau tiap hari ada privat dengan Changmin.

Hanya saja Yunho jadi merasa aneh. Tak dia sangka kalau Changmin serius dengan 'hal yang perlu dia lakukan'. Dipikir Yunho dia tidak serius. Tapi memangnya apa kegiatan yang terpaksa dilakukan sampai menomor duakan dirinya. Sesuatu yang bahkan lebih penting dari pada menggoda dirinya dan mengintip Yunho mandi.

"Ada hal yang seperti itu ya?" gumamnya. "Ah, kalau gitu berarti aku ke geer an donk?" sanggahnya sendiri.

"Tapi rasanya memang ada yang hilang"

Yunho menggelengkan kepalanya, menyadarkan dirinya sendiri. "Dia itu akan menghilang dari hidupmu tiga minggu lagi. Setelah 3 minggu ini kau akan bebas." Senyumnya pada diri sindiri.

.

"Eh? Belum sampai? Changmin seonsaengnim belum sampai?" mata Yunho membesar tak percaya begitu nenek memberitahunya.

Nenek yang berjalan di depan Yunho menuju dapur juga terlihat kecewa, "Entahlah anak itu. Dia tak mengatakan ada apa dan hanya menelpon untuk memberi tahu kalau kita bisa makan malam duluan."

.

.

Mereka makan dalam diam, dan Yunho tak tahu kenapa dia jadi kurang bersemangat. Ada yang kurang rasanya. Biasanya Changmin akan melahap makanannya dengan agak 'buas'. Mirip seperti babi hutan mungkin. Perutnya itu pasti terbuat dari karet. Sudah begitu tiap kali makan, sepertinya enak sekali. Padahal Yunho pernah makan di restoran yang rasanya lebih enak dari yang dimasak di rumah nenek ini, tetapi hanya dengan melihat lahapnya Changmin makan, dia jadi penasaran kenapa makanan jadi terlihat lebih enak dari yang sebenarnya.

Dia juga mulai mengerjakan soal-soalnya tanpa menunggu Changmin. Pasti gurunya itu sudah memperkirakan kalau akan sampai terlambat, kan? Buktinya kertas soal yang tadi dibawa kepala sekolah sangat tebal.

.

Changmin datang terlambat sekitar sejam dari waktu biasanya. Yunho hanya menatapnya sambil bertobang dagu sebelum kembali pada soalnya. Lagi pula Changmin sibuk dicecar pertanyaan oleh nenek yang menyiapkan makan malam untuknya.

"Mau makan lagi, Yunho?" Changmin menawari dengan kelewat ceria.

Pasti ada sesuatu yang menyebabkan gurunya bertingkah begini dan rasanya aneh sekali. Yunho menggeleng, sudah kenyang.

"Tapi sepertinya sudah banyak yang kau kerjakan ya?" dia bertanya dengan mulut penuh hingga suaranya tertahan. "Apa besok aku bawakan yang lebih banyak ya?" satu butir nasi lolos, menempel di pipinya. Rasanya seperti bukan Changmin yang biasanya, pasti dia begitu lapar sampai tidak lagi memikirkan kesopanan begini.

Yunho memunggut butir nasi tadi dan menyuapkannya pada Changmin, "Makan dulu baru bicara. Aku kan tidak kemana-mana."

Changmin terdiam dengan mata yang membesar, pipinya juga menggembung penuh dengan makanan. Selanjutnya dia berusaha menelan makanannya dengan cepat dan meremas tangan Yunho yang memegang pensil. Waktu menoleh ke arah gurunya, lelaki yang lebih tinggi darinya itu tersenyum haru, sesuatu yang membuat Yunho otomatis bergeser sedikit karena takut. "A... apa?"

"Nggak... makasih, ya," dia menambahkan satu senyuman manis yang membuat Yunho sedikit merasa bergidik.

.

.

.

3 hari kemudian, Seungri menemukan Yunho duduk di kursi penonton kolam renang, sedang bertopang dagu dan menghela nafas berkali-kali. Pandangan matanya tidak fokus, kelihatan kalau sedang punya masalah yang tidak biasa. Di samping Yunho ada setumpuk kertas yang dicurigai sebagai soal-soal matematika. Ibu kepala sekolah sendiri yang mengantarkan setumpuk soal itu tiap hari selama 4 hari ini untuk Yunho, yang berarti guru privat sedang ada urusan sepulang sekolah.

"Hey Yunho..." tak ada jawaban. "Yunho!"

"hah? Hah? Apa? Apa?"

Seungri melihat kelakuan ajaib sahabatnya ini. "Kau kenapa?"

Yunho melihat ke sumber suara.

"Kau sedang stress?" hanya dijawab dengan gedikan bahu oleh Yunho. Seungri melompati bangku untuk duduk di sebelah sahabatnya. "Urusan pertandingan?" Yunho menggeleng. "Matematika?" lagi-lagi dijawab dengan gelengan. "Lalu apa? Gebetanmu?" kali ini jawabannya adalah helaan nafas yang panjang. "Masih cewek yang pakai high heels itu?"

"Iya dan tidak..."

"Jangan membuatku bingung."

"Aku saja bingung... apalagi kau..."

"Apa cewek itu sudah punya pacar?"

"Nggak. Sudah menikah belum lama ini.."

Mata Seungri membulat. Mana dia tahu kalau cewek yang sudah pakai high heels itu ternyata sudah siap menikah. Pasti umurnya sudah 25 keatas. "Sabar ya... dia bukan jodohmu... pasti sakit, ya kan? Mau main habis ini? Kita bisa bolos."

"Bukan itu, Seungri... hanya saja... kalau kuingat-ingat, sebelum aku tahu kalau dia mau menikah, aku tak terlalu memikirkannya. Malah bisa dibilang aku agak lupa."

"Agak lupa?" tanyanya memastikan. "Karena?"

"Entahlah... aku tak yakin."

"Karena ada orang lain?" tebaknya.

Yunho menoleh menatap Seungri, "Menurutmu... itu wajar?"

"Kau suka dengan orang 'kedua' ini?"

Yunho memiringkan kepalanya, "Kurasa tidak, lebih pada 'terganggu'. Seperti itulah."

"Tapi tetap saja kepikiran, kan? Hati-hati, yang seperti itu justru bisa mengambil alih posisi wanita high heel itu," komentar Seungri menakut-nakuti. Yunho menatapnya dengan skeptis. "Kenapa? Kau tidak percaya? Aku serius! Awalnya kau memikirkannya karena merasa terganggu... coba saja orang itu tahu-tahu 'menghilang' kau bakal merasa ada yang aneh, seperti ada yang kurang dan kau tak tahu apa itu."

Awalnya siswa tinggi itu menggeleng tak percaya, sampai dia menyadari satu hal. Wajahnya yang tadinya terlihat skeptis mendadak berubah frustasi, "Sial!" jeritnya frustasi, Yunho menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Aku benar ya?" Seungri meremas pelan bahu Yunho dengan khawatir.

"Ah, Seungri... memangnya aku salah apa? Aku kan tidak mau..." suaranya terdengar sangat-sangat frustasi. Sudah begitu sahabatnya itu menunduk dalam-dalam hingga membungkuk di kursinya sambil meremas kepalanya dengan kedua tangan.

Mana mungkin Seungri tidak khawatir melihat sahabatnya begini, "Masih ada harapan kalau kau tak menginginkannya, kok."

"Caranya?" tanyanya menuntut, tetapi Seungri hanya bisa nyengir saja mendengarnya, "Tapi aku sendiri tak yakin, kupikir itu karena dia terlalu mengganggu."

"Biarkan semua berjalan dengan natural."

.

.

.

"Sudah, Yunho. Kalau terlalu memikirkannya, nanti benar-benar terjadi..." Seungri menakut-nakiti sahabatnya walau maksudnya sebenarnya baik.

Yunho masih saja tidak semangat dengan hal itu, tumpukan soal di tangannya jadi terasa berat ketika mereka berdua berjalan di koridor bermaksud untuk kembali ke kelas.

"Seonsaengnim... seonsaengnim... apa kesukaan Seonsaengnim?" mereka berdua mendengar suara siswi di ujung koridor.

Ada beberapa siswi yang mengelilingi seseorang yang jauh lebih tinggi. "Kenapa bertanya tentang itu?"

"Kami ingin memberikan kenang-kenangan untuk Seonsaengnim."

"Ha? Tak usah."

"Tapi Seonsaengnim..."

"Kurasa kalian tak akan bisa membelikan sesuatu yang benar-benar kuinginkan, tapi di hari terakhir, kita bisa ambil foto bersama untuk kenang-kenangan. Bagaimana?"

Para siswi itu masih saja belum puas dengan jawaban itu, "Seonsaengnim... Yunho bilang dia tahu apa yang Seonsaengnim inginkan. Bagaimana kalau kami memberi Seonsaengnim itu saja?"

Changmin bingung, tetapi di saat yang sama, Yunho dan Seungri melewati mereka. Dari mata guru magang, kedua anggota klub renang itu sedang berbincang serius dan mengacuhkan siswi-siswi dan Changmin. Bahkan Yunho tidak meliriknya sama sekali waktu mata Changmin mengikutinya hingga mereka lewat. Ada rasa seperti dicubit di dadanya ketika tahu kalau Yunho tak peduli sama sekali. Semua siswi ini gagal membuatnya merasa cemburu, "Mustahil Yunho mengatakan benda apa yang kuinginkan, ya kan?"

.

"Mereka masih saja ngotot," Seungri berkomentar setelah melewati Changmin dan para siswi yang berisik itu. "Paling tidak Seonsaengnim minta foto bersama satu kelas."

Yunho tak bereaksi dengan itu.

"Oh ya, memangnya kau tahu apa yang diinginkan Seonsaengnim?"

"Ng? Mungkin... dia tidak begitu jelas tentang itu tapi kurasa aku tahu."

"Hati-hati bicara begitu, bisa-bisa kau dikejar cewek-cewek lagi..."

"Loh? Bukannya itu bagus kalau banyak cewek yang mengejarku?"

"Yah!"

.

.

Sorenya Yunho jadi yang terakhir di kolam renang. Dia juga ada di kamar mandi sendirian karena yang lain sudah pulang. Rasanya aneh sekali selama empat hari ini Changmin tidak menunggunya. Apa karena sudah terlalu biasa? Bukannya biasanya dia akan menganggap itu mengganggu?

Dia keluar dari bilik shower dengan handuk terlilit di pinggang, kali ini tumben sekali dia masih sempat berkaca di sana. Dia mengamati tubuhnya yang setengah telanjang dan wajahnya sendiri. Klub renang dan teman-temannya lebih sering bilang kalau dia ini kurang peka. Tapi badan seperti ini dan wajah yang kadang dikatai imut ini. Kalau dibandingkan dengan Changmin seonsaengnim dan mahasiswa misalnya, badannya ini kan belum berkembang sempurna. Wajah juga terkadang masih kekanakan, pipinya juga agak tembem. Belum lagi jerawat, bandingkan saja dengan Changmin yang kulitnya mulus, jangan-jangan perawatan? Tapi memangnya apa yang dicari Changmin darinya?

"Ge-er! Dia kan hanya mau main-main saja," katanya pada diri sendiri sebelum keluar ruang shower untuk ganti baju.

Bruk

"WAA!" ada sesuatu yang menubruknya dan Yunho yang lengah berusaha untuk menjejak tanah dan berpindah ke mode 'menyerang'

"Yunho..."

Mendengar suara itu, Yunho mengurungkan niatnya, "Changmin...?" lega rasanya mengetahui kalau yang menyerangnya ini adalah Changmin. "Yahh, yah. Lepaskan!"

Kali ini Changmin dengan mudahnya menurut, dia juga tersenyum senang. "Hai!" sapanya telat.

"Kenapa? Tumben tidak langsung ke rumah nenek?"

"Nah! Justru aku buru-buru kemari karena kupikir kau sudah ke rumah nenek. Aku dapat pesan dari nenek kalau hari ini beliau ada urusan jadi tidak ada di rumah. Tapi! Nenek tidak bisa menghubungimu. Kau tidak meninggalkan no handphonemu pada nenek?"

"Kalau no telpon rumah sih iya," jawabnya polos. Yunho mengamati Changmin dari ujung kaki ke ujung kepala karena walaupun tersenyum, gurunya itu terlihat terengah-engah dan tak serapi biasanya. "Habis lari? Kok... eh? Kau luka?"

Changmin mengangkat tangannya, "Oh ya ampun, ini pasti karena tadi."

"Habis melakukan apa?" tetapi Changmin hanya nyengir sebagai jawaban, "Di ruang loker ada kotak P3K," Yunho segera berlalu untuk masuk ke ruang loker, Changmin mengangkat tangan berusaha mengecek lukanya sambil mengikuti Yunho.

.

.

"Sepertinya kau bukan tipe orang yang mudah luka," Yunho mencarikan kotak P3K masih dengan hanya handuk terlilit di pinggang.

Changmin sih menikmati pemandangan itu, apalagi punggung Mooseok/Yunho itu bagus, "Memang. Tapi tetap saja bisa luka."

Yunho berbalik dan mendapati Changmin sedang menatapnya dengan intens, "Ini, obati lukamu..." Tetapi apa yang didapat oleh Yunho justru bibir yang cemberut dan mata yang terlihat seperti mau menangis. Hanya dengan melihat itu saja, Yunho tahu apa maksudnya. "Iya, iya... akan kuobati..."

Baru setelahnya Changmin tersenyum memperlihatkan giginya dan matanya yang jadi berbeda ukuran. "Wajah pak Guru aneh."

"Yah!"

.

"Ini hanya tergores kok, nggak dalam."

Changmin menatap Yunho dengan malas, "Kau tak bisa lebih perhatian? Misalnya 'astaga Changmin... ini pasti sakit ya?', seperti itu?"

Yunho hanya membereskan peralatan P3K yang baru saja digunakannya, "Yang namanya luka tentu saja sakit."

"Nggak seru, ah!" katanya, tetapi dia juga tahu kalau yang namanya luka tentu saja sakit. Changmin membuang muka karena ingin menunjukkan kalau dia kesal. Masa' Yunho masih tidak perhatian padanya? "Kita masih tetap harus privat!" suaranya dibuat kesal. Ingin tahu bagaimana Yunho akan mengatasi masalah ini.

"Iya aku tahu..." jawabnya tenang. "Ke rumahku saja."

Changmin menoleh secepat kilat, matanya membesar, "Serius?"

Yunho menaikkan resleting celananya sambil mengangguk, "Tapi jangan dekat-dekat Changmin."

Alis Changmin berkedut karena mendengarnya. "Kenapa kau belum mengganti nama kucingmu, sih?"

"Dia tak mau kalau kupanggil dengan nama lain."

"Lagi pula Yunho... sejak kapan kau pakai celana? Aku kan tadinya mau lihat..."

"Berisik!"

.

.

.

Dan begitulah akhirnya kenapa Changmin bisa berada di halaman rumah Yunho saat ini. "Belajar di kamarmu?" tanya Changmin saat mereka melewati pintu depan.

"Nggak lah. Di dapur saja, lagi pula kau kan biasanya makan juga."

Yunho baru menutup pintu saat sebuah suara mengejutkan mereka berdua. "Kau Shim Changmin?"

Mereka berdua menoleh ke sumbar suara. Yang memanggil nama itu tak lain adalah pemilik rumah ini, Ayah Yunho. Baik Yunho maupun Changmin tak ada yang bersuara ketika pria dewasa itu berjalan mendekat, juga mengamati orang yang baru saja dipanggilnya sendiri. "Tunggu..." katanya ketika menyadari sesuatu, "Kau yang waktu itu muncul di makan malam kami, yang membuat perjodohan waktu itu batal."

Mendengar kalimat itu, jantung Yunho dan Changmin jadi berdetak keras, "Ah... ayah... tumben sudah pulang," Yunho berusaha untuk mengalihkan pembicaraan dan fokus ayahnya dari Changmin.

"Kau meneror kantorku selama seminggu. Apa tujuanmu?"

Yunho menatap Changmin yang masih saja diam meski matanya ragu-ragu, ada kegugupan juga di sana. Siswa itu melihat bagaimana gurunya yang dewasa dan selalu percaya diri terutama saat mengganggunya terlihat sangat gugup, dia bahkan menelan ludahnya sebelum menjawab pertanyaan dari ayah Yunho, "Itu semua hanya pemberitahuan pertandingan renang Yunho dan olimpiade matematika Yunho."

Pria dewasa itu mengernyit, Yunho hanya bisa menatap Changmin tanpa sadar kalau matanya membesar sedikit.

"Tolong hentikan semua ini," Kali ini seorang wanita masuk ke dalam pembicaraan mereka, siapa lagi kalau bukan ibu Yunho. Dia ke depan karena mendengar pembicaraan barusan, dan tahu kalau itu juga berhubungan dengan gangguan yang dia terima belakangan ini, "Hentikan mengirimi kami informasi semacam itu. Kami punya kesibukan dan tak punya banyak waktu."

"Tapi kalian juga tak akan datang di pertandingan itu, kan? Apa kalian pernah memberi dukungan?" Changmin merasa keringat dingin keluar dari pori-pori di dahi dan lehernya.

Ayah Yunho menjawab dengan tenang, "Yang seperti itu putra kami bisa mengatakannya pada kami. Tak perlu kau mengatakannya."

"Aku sudah... mengatakannya. Tapi tiap kali kalian tak pernah mau dengar dan tak pernah datang," kali ini Yunho yang berbicara, walau awalnya terdengar ragu –tak yakin apa dia perlu mengatakannya.

"Yunho! Dewasalah! Mengertilah kesibukan kami!" Wanita itu terlihat tidak sabaran, pasti karena sudah sangat-sangat terganggu oleh Changmin

"Ehem! Tuan, Nyonya... saya minta maaf karena telah mengganggu dan ikut campur urusan keluarga kalian. Tapi apa salah kalau seorang anak mencari perhatian kedua orang tuanya? Apa kalian berdua tak pernah melakukan hal itu saat muda? Setiap anak pasti menginginkan perhatian orang tuanya, sama halnya dengan Yunho, saya maupun tuan dan nyonya. Pasti ada saat dimana kita menginginkan hal itu. Saya memang sudah lancang sudah ikut campur, tetapi saya rasa Yunho sudah melakukan banyak hal dan tak ada hasil," katanya panjang lebar. Changmin sendiri tak tahu apa yang sudah membuatnya bisa bicara selancar itu padahal dia begitu gugup. Begitu selesai memproses kata-katanya sendiri, wajahnya terasa hangat. "Permisi!"

Changmin keluar dari rumah dan ada 3 pasang mata yang mengikutinya.

Yunho menoleh ke arah kedua orang tuanya. "Bahkan sejak SD kalian tidak pernah datang. Saat semua wali siswa datang kalian juga tak pernah datang. Kalian memang tak pernah mau datang untukku. Makan malam bersama saja tidak, tapi kalian masih bisa datang ke pesta dan menghadiri acara makan malam dengan kolega. Itu semua lebih penting dari pada anak kalian ini, ya kan?" dia beranjak pergi. Mengikuti Changmin.

.

.

.

Guru itu berjalan dengan kedua tangan di kepala, membuat rambutnya sendiri berantakan. Langkahnya cukup cepat karena dia ingin segera angkat kaki dari rumah itu, badannya membungkuk dan dia hanya melihat jalur untuk memastikan dia tak salah arah. Apa yang baru saja dia katakan di dalam rumah itu? Tapi tadi di dalam rumah dia merasa mendengar suara Mooseok yang mengatakan sesuatu pada ayah Yoon, yang mulia raja. "Tuan... apa salah jika seorang anak berusaha mendapatkan perhatian orang tuanya?" kalimat itu yang terngiang di telinganya. Kalimat dari Mooseok ketika pria itu membelanya dan seolah menampar ayahandanya.

Kini dia mengembalikan kalimat itu. Menggunakannya untuk menghadapi dan mungkin menyadarkan sepasang suami-istri itu. Apa dengan begini dia bisa sedikit membalas budi Mooseok?

"Changmin!"

Panggilan itu membuatnya menghentikan langkah dan menoleh, "Kenapa kau keluar?" padahal Changmin ingin kabur dan mungkin Yunho bisa meluruskan masalahnya dengan orang tuanya.

Yunho menatapnya malas, "Kita masih harus les privat, kan? Kau mau makan gaji buta?"

Dibilang begitu juga memang dia punya kewajiban, kan? "Memangnya kita mau ke mana? Kau tak mau ke tempatku, tak ada tempat lagi!" dia nyaris berteriak frustasi.

Yunho justru diam menatap Changmin yang sepertinya masih emosi karena kejadian barusan. "Masih ada alternatif lain, kok."

.

.

.

"Apa yang kalian berdua lakukan di sini, sih?" Seungri terang-terangan menunjukkan kekesalannya, tak terlalu peduli kalau yang ada di rumahnya saat ini, di ruang makannya adalah Yunho dan guru mereka Shim Changmin.

"Seungri, hormati gurumu! Silahkan Seonsaengnim," cara bicara ibunya Seungri berbeda 180° saat berbicara pada putranya sendiri dan pada guru muda yang tahu-tahu muncul di depan pintu rumah mereka 5 menit lalu. Dan lagi wanita itu menghidangkan minum dan cemilan untuk mereka berdua.

"Ah, terimakasih nyonya," Changmin membungkuk sekilas, sangat sopan terhadap nyonya rumah dan sangat sulit untuk dibenci. Walau bagaimanapun Changmin berlaku sangat sopan dan lagi dia begitu tampan hingga ibu Seungri langsung menyukai pemuda ini.

"Kalian makan malam di sini, kan? Kita makan begitu suamiku pulang,"

Changmin tentu saja merasa senang dengan makan gratis, "Maaf merepotkan, nyonya..."

"Tapi, bu..." Seungri yang berniat protes langsung dipotong begitu saja oleh Yunho

"Seungri cerewet..."

"Yah! Memangnya kau tak bisa belajar di rumahmu sendiri?"

Yunho segera berpaling pada ibunya Seungri, bibirnya melengkung ke bawah dan bergetar sementara matanya dibuat lebih besar dan memelas. "Ahjuma... Seungri mengusirku..." Changmin melihat ekspresi wajah Yunho dengan penuh minat, tak dia sangka kalau Yunho bisa 'main-main' juga sepertinya. Apa karena selama ini Changmin bukan temannya jadi dia tak nyaman memperlihatkan ekspresi wajahnya yang begini?

"Jangan pikirkan dia, kalau mau menginap saja di sini. Seonsaengnim juga boleh menginap,"bibir Seungri melengkung makin dalam saja mendengarnya. Bisa saja Yunho memanipulasi ibunya dengan menggunakan Changmin sebagai tameng.

Menggoda sekali, apalagi kalau dia bisa sekamar dengan Yunho, dia bisa menggodanya habis-habisan. "Aku tidak bawa baju ganti, jadi nanti aku akan pulang," tolak Changmin sopan. Dia tak enak pada pemilik rumah yang begitu baik hati ini kalau menggoda pacarnya dengan hal-hal yang tidak senonoh. Untuk sementara tahan dulu keinginan memeluk Yunho dan melakukan macam-macam.

.

.

Mereka berjalan berdua menuju halte; Yunho dan Changmin. Sedari tadi mereka hanya fokus dengan soal matematika dan tidak sedikitpun membahas apa yang terjadi di rumah Yunho beberapa jam yang lalu. Wajar saja karena mereka ada di rumah orang, tapi kini mereka hanya berdua. "Kau tidak pulang malam ini?" Changmin memulai pembicaraan.

"Tidak, besok pagi saja, tak apa kok," Yunho begitu tenang dan terdengar cenderung senang, Changmin menduga itu karena dia sukses membuat Seungri kesal dengan kehadiran mereka berdua.

Guru magang itu mengangguk, wajar saja kalau Yunho tak ingin pulang dulu malam ini.

"Oh ya, mulai besok berhentilah meneror orang tuaku."

Satu permintaan dari Yunho itu membuat jantung Changmin serasa berhenti sedetik. Akhirnya mereka akan membahas soal tadi secepat ini? "Dengar, kau tahu kalau itu mungkin mengganggu mereka sedikit, kurasa mereka bereaksi berlebihan..." Changmin bahkan tidak sadar kalau kata-katanya begitu cepat saat berusaha untuk menjelaskan situasi tadi.

"Aku tak perlu dengar rinciannya!" Yunho memotongnya dengan tegas. "Yang pasti berhenti saja. Tak masalah kalaupun mereka tidak datang," kalimat berikutnya terdengar lembut, Yunho bahkan mengatakannya dengan tersenyum.

Changmin berkedip-kedip tak percaya. Dia sudah melakukan banyak hal hingga dikejar security dan terjatuh tetapi Yunho malah tak lagi peduli. "Kau serius?"

Yunho mengangguk-angguk mantap. "Tentu. Kau datang, kan?"

"... hah?"

Nah kan, gantian Changmin yang telmi, "Aku tanya, kau akan datang pada pertandingan renangku, kan?"

"Eh, em. Iya. Tentu saja," jawabnya terpatah-patah karena shock.

"Bagus. Itu saja cukup."

Siswa SMA itu bermaksud untuk pergi, meninggalkan halte dan kembali ke rumah sahabatnya, tapi Changmin menahan lengannya, "Lalu orang tuamu?"

Yunho hanya menggeleng dan tersenyum.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

Terimakasih banyak sudah komen di chap lalu. Tanpa itu saya juga nggk akan tahu kalau selama ini saya salah menuliskan bahasa koreanya Guru. Saya bukan Korea-enthusiast si...

Ada alasan kenapa saya memutuskan untuk hiatus 2 bulan, dan saya juga tidak buka sosmed selama 2 bulan itu.

Apakah saya masih niat untuk meneruskan epep ini sampai selesai, saya juga tidak tahu. Mengalir sajalah, toh niat awalnya hanya untuk refreshing dari School Club. Sekarang School clubnya yang kelupaan. Inginnya segera menyelesaikan epep ini lalu move on. Move on kemana? Tauk.

Saya sebenarnya khawatir kalau epep ini sudah tidak lagi menarik untuk reader sekalian, kadang terpikir untuk berhenti saja dengan pikiran seperti itu.

Sekali lagi terimakasih banyak untuk komen, review dan supportnya. Rasanya senang sekali bisa baca review dari para reader sekalian.

Yang nggak komen... mmm... membaca itu lebih mudah dari menulis, saya tahu. Tapi nulis di komen juga nggak sampai 1 lembar, kan? Jadi saya harap setiap kali selesai baca satu chap, bisa tinggalkan jejak. Nggak Cuma di epep saya tetapi juga di epep penulis lain. Kalau memang suka baca epep, satu review yang kamu berikan akan menimbulkan semangat pada penulis yang akhirnya membuat penulis menjadi lebih produktif (kalau penulisnya nggak sibuk karena real life). Secara tidak ada keuntungan finansial dari sini, kan?

(Tapi saya sendiri jarang baca epep, jadi untuk menemukan review saya mungkin nggak banyak)

Terimakasih banyak dan sekali lagi. Tolong tinggalkan jejak reviewnya.