Kau sudah berjanji untuk menjadi satu satunya yang berada di sisiku.

Kau sudah berjanji untuk tidak membiarkanku berjalan sendirian.

Tapi bahkan, hari ini, seperti hari hari sebelumnya,

Kau kembali meninggalkanku.

Walaupun kali ini, yang kau torehkan padaku cukup dalam.

Hingga aku tidak sanggup lagi untuk membedung darahnya.

.. Semudah itukah bagimu untuk melupakan segala tentang kita?


Stay With Me

"Darah"


Dia adalah malaikatku.

Baekhyun tidak akan pernah melupakan kali pertamanya dia mencium aroma tubuh pria itu, atau senyumannya, suara tawanya. Mungkin itu akan selalu ada di pikirannya selama nya. Karena orang itu, adalah orang yang paling berarti di hidupnya.

Namanya adalah Chanyeol. Ketika dia datang ke dalam kehidupannya, semuanya berubah menjadi cahaya terang—bersinar. Semuanya mulai berjalan dengan baik, terlalu baik. Semuanya, kecuali hatinya.

Baekhyun tahu, deguban yang mengisi dadanya ketika ia bersama Chanyeol bukan karena dia memiliki penyakit jantung dadakan—tentu bukan. Baekhyun tahu, itu adalah cinta. Dia yang paling tahu, bahwa sedari awal mereka bertemu, Baekhyun sudah menjatuhkan hatinya kepada lelaki yang di takuti sebagai pemimpin mafia itu.

Baekhyun juga tahu, Chanyeol mungkin tidak akan mencintainya.

Dia bekerja sebagai mafia. Dengan darah. Tidak ada cinta, tidak ada cinta untuk satu orang saja. Dia sudah diperingatkan jauh jauh hari, bahwa mafia bukanlah pria pria yang setia. Mereka mengambil simpanan semudah menarik tissue dari kotak. Mereka bercinta dari jalang satu ke jalang lain tanpa memikirkan pasangannya ataupun akibat dari one night stand yang mereka lakukan. Persetan dengan perasaan, mungkin itulah yang ada di pikiran mereka. Mereka—para mafia itu, sudah seharusnya lama mati rasa. Mereka membunuh, tidak ada waktu untuk memikirkan orang lain, apalagi perasaan mereka.

Tapi Baekhyun memutuskan untuk mencoba, mencoba membuat Chanyeol melirik padanya, mencoba membuat mafia itu mencintainya. Awalnya, dia pikir dirinya sudah berhasil. Dia pikir, lelaki itu juga punya rasa yang sama besarnya. Tapi dia salah besar.

Lelaki itu, tidak pernah mencintainya.

Dan mungkin, kali ini Baekhyun harus memutuskan untuk jatuh. Melupakan cintanya. Melupakan segalanya.

Melupakan Chanyeol-nya.


Baekhyun menyembunyikan dirinya di balik pilar ketika melihat Chanyeol berjalan ke arahnya—dengan Daehye di lengannya.

Detak jantungnya berhenti hanya untuk sesaat, hembusan nafasnya memberat. Pikirannya mencoba menerka, apa yang sedang dia lakukan?

Daehye berkata sesuatu, Baekhyun tidak bisa mendengarnya tapi dia melihat dengan jelas bagaimana lebarnya senyuman Chanyeol setelah mendengarnya—tulus sekali. Baekhyun hampir meleleh dalam senyum itu sebelum sadar bahwa senyum itu bukan untuk dirinya.

Ternyata Chanyeol tidak tersenyum hanya untuk dirinya.

Baekhyun masih menatap mereka berdua, tidak beranjak walau rasanya perih melihat tawa mereka. Chanyeol berhenti melangkah, merangkul bahu Daehye dan membisikkan sesuatu di telinganya—yang membuat gadis itu tersenyum manis.

Kakinya melangkah mundur—cukup. Ia tidak sanggup melihat lebih jauh. Ia berbalik dan mulai berlari, menghilang di tengah gelap. Tidak peduli apakah dia akan menabrak sesuatu ataupun seseorang. Satu satunya yang dia pikirkan adalah bagaimana dirinya akan mengobati luka di hatinya. Yang mungkin meradang, yang mungkin bernanah.


Seberapa kerasnya Baekhyun mencoba untuk tidak terbangun dari tidurnya, ia selalu gagal karena lelaki itu. Mulai darimana suara angin yang mengetuk jendelanya terdengar seperti bisikan Chanyeol,suara hujan yang sama dalamnya dengan riuh suara Chanyeol, juga setiap orang yang masuk ke ruangan tak ubahnya replika dari paras tampan mafia penakluk hatinya.

Dia mulai membayangkan Chanyeol dimana mana.


Chanyeol sudah tidak menghitung berapa banyak rambu lalu lintas yang ia langgar hari ini. Lampu merah atau melaju dengan kecepatan diatas rata rata, Chanyeol tidak peduli.

Satu satunya yang ia pedulikan adalah bagaimana caranya sampai dengan cepat tanpa menabrakan mobilnya pada sesuatu atau parahnya seeorang. Lehernya seperti sedang di cekik oleh seseorang saat ini dan membuatnya sesak. Tapi itu bukan satu satunya alasan mengapa ia merasa sesak.

Baekhyun, senyumannya yang terkembang di dalam pikirannya perlahan seperti membunuhnya hidup hidup. Chanyeol mengerang saat rasanya mobilnya melambat, ia merasa segalanya berjalan lambat. Semuanya terlambat.

Baekhyun-nya. Apa yang terjadi padanya sekarang?

Sesuatu yang hangat tiba tiba melingkupi tangannya.

Chanyeol tersentak, lantas menoleh dengan cepat dan menemukan Baekhyun ada disana.

Hatinya tercubit untuk sesuatu yang tidak benar benar ia ketahui apa.

"Baek?"

Baekhyun terseyum, tangannya melingkupi tangan Chanyeol dan kemudian mengusapnya pelan.

"Apakah kau baik baik saja?"

Pandangannya buram saat bayangan Baekhyun di benaknya tersenyum lagi. Ia bertanya tanya berapa kali dia menghancurkan senyuman itu.

"Aku selalu baik baik saja asalkan bersama denganmu."

Chanyeol tercekat, memandang kosong wajah itu.

"Kau tahu, Chan? Sendirian itu rasanya sangat menakutkan. Dulu, ibu pernah.. Dia mengurungku di dalam ruangan yang sangat gelap dan aku sangat ketakutan."

Chanyeol tersenyum sedikit, dia ingat Baekhyun pernah menceritakan itu padanya.

"Tapi semua baik baik saja sekarang. Aku senang karena aku tidak perlu merasa takut lagi—"

Baekhyun menatap kedua bola matanya.

"Karena aku memiliki dirimu, kan?"

Senyumnya luntur seakan akan tersiram oleh segelas air yang dingin, dan Chanyeol tahu hatinya hancur.

Beberapa saat terdiam, Chanyeol tersentak ketika sesuatu yang basah mengaliri pipinya.

Tidak, Baekhyun. Kau tidak seharusnya mencintaiku.

Chanyeol menginjak pedal gasnya dengan kekuatan yang mengerikan. Ia membanting setirnya, mengambil jalur kanan dan mengendarai mobilnya seakan jalanan adalah miliknya.

Karena aku adalah monster yang tidak tahu balas budi. Aku tidak bisa mengenggam tangan rapuhmu, tanpa menghancurkannya.


Kris menutup pintu di belakangnya tepat setelah ia melepaskan nafas.

Benar benar hari yang mengesalkan—batinnya merutuk sambil melepas dasi. Tiffany masuk ke ruangan beberapa saat setelahnya, membawa nampan dengan segelas kopi panas di atasnya.

"Bagaimana harimu?"

"Buruk." Kris berujar singkat, mengambil kopi dari atas nampan dan bergumam terima kasih. Tiffany terkekeh, tidak menemukan cara untuk menghibur kekasihnya. Pandangannya bertubrukan dengan pria dihadapannya dan saat itulah dia teringat sesuatu yang ingin dia sampaikan sepanjang hari kepadanya.

"Kris," Panggilnya, "Aku tidak melihat Baekhyun keluar dari kamarnya sejak kemarin. Apakah semua baik baik saja?"

Kris menaikkan satu alisnya. Ah, Baekhyun. Dia bahkan hampir melupakan untuk meluangkan waktunya agar ia bisa melihat kondisi anak itu.

"Aku akan ke kamarnya setelah ini." Kris memutuskan, berdehem canggung saat melihat kilatan cemburu di manik Tiffany.

"Ayolah, Tiff. Kau tidak perlu cemburu." Kris membujuk, mengeluarkan nada menggodanya.

"Seluruh dunia tahu bahwa aku hanya mencintaimu."


"Seluruh dunia tahu bahwa aku hanya mencintaimu."

Baekhyun tersipu malu. Mata kecilnya mengintip lewat celah rambut yang menjuntai turun dan tergantung di dahinya. Chanyeol tertawa kemudian, mengusak rambut yang lebih mungil.

"Baiklah, jadi kemana kita setelah ini?"

Baekhyun tersenyum, "Aku akan pergi kemanapun asalkan denganmu."

"Astaga, kau manis sekali." Chanyeol menggoda, mengapit hidung mungil Baekhyun di antara jari telunjuknya.

"Tapi aku serius." Baekhyun meraih jemari Chanyeol. Menggenggamnya erat di sana. "Apakah aku boleh, terus mengenggam tanganmu seperti ini?"

"Tentu saja kau harus melakukannya." Chanyeol tersenyum. "Kau tidak boleh jauh dariku."

"Bagaimana aku bisa menjauh darimu?" Baekhyun mengulas senyuman simpul. "Kau adalah satu satunya rumah dan arah pulangku."

Chanyeol tersenyum. Diam diam memuji betapa cantiknya Baekhyun hari itu. Lelaki mungil itu, Chanyeol tidak bisa menghitung berapa kali dia sudah jatuh ke dalam pesonanya.

Chanyeol berharap dia tidak pernah menyakiti malaikat kecilnya.

"Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan bila aku meninggalkanmu?"

Baekhyun terdiam sebentar,

"Aku tidak akan membiarkanmu meninggalkanku."

"Bagaimana jika aku bersikeras untuk meninggalkanmu?"

Baekhyun menatapnya. Lantas ia berkata tanpa beban kemudian,

"Kalau begitu, aku akan mati saja."

"Hey," Chanyeol tertawa. "Kenapa kau berkata begitu?"

"Karena aku tidak mencintai hidupku apabila tidak ada dirimu di dalamnya, Chanyeol. Jika kau mati, mungkin aku akan ikut masuk ke dalam kuburanmu?"

"Kau tahu, topik ini sedikit menyeramkan."

Baekhyun tersenyum, sangat lebar sehingga matanya menyipit dan membentuk senyuman juga. "Kau mafia. Tidak seharusnya kau takut dengan kematian."

"Tapi aku takut kehilanganmu."

Baekhyun mempertahankan senyumnya.

"Aku tidak akan pernah membiarkanmu kehilangan diriku."

Chanyeol menoleh,

"Jadi jangan tinggalkan aku."


"Baekhyun."

Kris menyalakan lampu, ruangan itu seketika terang dan figure seorang mungil di atas kasurnya membuat hatinya tenang dengan alasan yang bahkan tidak ia ketahui.

"Bagaimana kabarmu?"

Tidak ada jawaban, Kris mengernyit dan memutuskan untuk mendekat. Baekhyun duduk dengan kaki yang di tekuk sehingga menyentuh dadanya. Dari matanya, Kris tahu kalau anak itu baru saja menghabiskan malanya dengan menangis.

"Hey, apakah kau baik baik saja?"

Kris menguncang lengannya. Tapi Baekhyun tidak terlihat terganggu dengan itu. Dia tetap terdiam, menatap kosong pada jendela dan menghembuskan nafas dengan putus putus.

"Baekhyun, jawab aku."

Lelaki mungil itu akhirnya menoleh. Berada dalam jarak sedekat itu membuat Kris bisa merasakan deru nafas Baekhyun di depan wajahnya.

"Apa yang kau lihat, hm?"

"Hujan." Ujarnya singkat, kata pertamanya dengan suara yang serak—terdengar menyedihkan.

"Hujan?" Kris mengernyit, menoleh ke pemandangan di luar jendela kemudian. Daun daun berguguran dan jatuh ke tanah, disertai terik matahari yang menyinari di atas langit. Tidak ada satupun rintik air yang bisa disebut hujan.

Tapi lelaki mungil itu, berkata bahwa ia melihat hujan.

"Baekhyun, disini tidak hujan."

Baekhyun menggeleng, "Hujan." Ujarnya lagi.

Kris tercekat

"Chanyeol masih bermain di bawah..," Baekhyun menunjuk, Kris mengikuti arah telunjuknya mengarah ke halaman yang penuh dengan daun yang berguguran.

"Kris, bisakah kau meminta Chanyeol untuk masuk? Dia kehujanan dan tidak mendengarkan teriakanku."

"Baek—"

"Chanyeol akan sakit kalau terus terkena hujan seperti itu."

Kris terdiam, tenggorokannya seperti di hambat oleh sesuatu sehingga membuat paru parunya berhenti memompa udara untuk beberapa saat.

"Tolong beritahu dia, ya?"

Kris tersenyum canggung, "Tentu, Baek."

"Terima kasih, Kris." Eyesmilenya terbentuk dengan indah, "Aku sangat mengantuk.."

"Kau bisa tidur." –Dan aku akan menghubungi Chanyeol.

"Aku ingin Chanyeol datang ke sini dulu."

Baekhyun memeluk dirinya sendiri, melingkarkan tangannya ke sekeliling tubuh dengan erat.

"Dia sudah berjanji akan memelukku seperti ini saat dia selesai bermain di bawah."

"Baekhyun, ini tidak lucu. Tidak ada Chanyeol di bawah, dan sekarang tidak hujan."

Baekhyun terdiam, kemudian ia mendongak. Maniknya bersinar polos,

"Kris, disini hujan. Aku bahkan masih bisa mendengar suara petir dari sini."

Baekhyun tersenyum, tapi air mata meluncur dari sudut matanya. Melihat betapa hancurnya anak itu, Kris terdiam, meraih ponsel di saku celananya dan mengetikkan beberapa nomor.

"Baekhyun, kau pasti kelelahan. Bukankah tadi kau bilang kau mengantuk? Tidurlah, kau butuh istirahat."

"Apakah—Apakah kau tidak mendengarnya?"

Kris terdiam sejenak. Pandangannya beralih ke perban di tangan Baekhyun yang di bebat sampai pada perpotongan lengannya, dan pada pandangan anak itu yang kosong.

"Kau harus istirahat, Baekhyun."

Baekhyun tersenyum manis, "Baiklah, lagipula aku sangat mengantuk. Dan—Ah! Chanyeol sudah ada disini. Kau boleh keluar Kris, kau tahu, aku sangat merindukan Chanyeol belakangan ini."

Kris menelan ludahnya kasar, "Selamat beristirahat, Baekhyun. Semoga tidurmu nyenyak."

"Terima kasih, Kris."

Kris menutup pintu dan melirik display name yang muncul di layar ponselnya, kemudian jemarinya berhenti saat akan menekan tombol hijau.

Niatnya terurung, dan dia segera mengetikkan nomor lainnya dengan terburu buru.

Panggilan tersambung saat Kris sudah berada di luar kamar kerjanya.

"Uisa-nim, kurasa sesuatu sedang terjadi pada Baekhyun.."

Kris berjalan dengan gelisah, meraih kenop pintu dan masuk ke dalam ruangannya.

"Aku tidak mengerti. Dia terus berkata—Lupakan. Bisakah kau datang sekarang juga?"


"Kenapa kau pergi begitu saja tanpa membawa ponselmu?"

Itu adalah sambutan yang Chanyeol dapatkan tepat ketika ia membuka pintu rumah.

Kyungsoo berdiri di sana, bersandar pada teralis di tangga.

"Terburu buru."

Chanyeol menaruh kunci mobilnya di atas sofa dan menoleh kembali pada Kyungsoo.

"Bagaimana rasanya, mencampuri masalahku?"

Kyungsoo terdiam sebentar, "Apa maksudmu?"

"Jangan berpikir bahwa aku tidak tahu," Chanyeol tertawa. "Kau membuka ponselku dan membalas pesan pesanku, bukan?"

Bahunya naik, ia terkejut. Tapi dengan cepat Kyungsoo mengendalikan dirinya.

"Aku tidak mengerti."

"Aku bersumpah pada ibuku, bahwa aku tidak akan pernah memukul seorang wanita, carrier, atau seseorang yang lebih lemah dariku. Tapi bukan berarti kau dapat memainkan jemarimu pada sesuatu yang sepenuhnya urusanku."

Kyungsoo meneguk ludah.

"Kau melebihi batas, Kyungsoo."

"Urusanmu adalah urusanku juga, Chanyeol. Bukankah begitu?"

"Siapa yang berkata seperti itu padamu?"

"Kita adalah pasangan."

"Tidak. Kita bukan."

Chanyeol berdesis remeh, "Kau adalah alatku."

Kyungsoo terdiam, hatinya terkoyak dan seakan pecah berkeping keping saat itu juga.

"Aku pikir kau mengerti. Jangan sentuhkan tanganmu pada satupun urusanmu. Atau aku akan menghancurkanmu berkeping keping."

Kyungsoo menahan lengannya ketika Chanyeol akan pergi lagi.

"Tidak, kau mencintaiku. Karena itu kau melepaskan Baekhyun dan membiarkan aku ada di rumahmu saat ini. Karena itu kau mengakui ku di depan pers dan melakukan sesuatu yang kita nikmati malam kemarin. Kau melakukan itu semua karena kau mencintaiku, benar?"

Chanyeol berbalik. Wajahnya tenangnya seakan menjelma menjadi bongkahan es, dingin. Kyungsoo bahkan bisa merasakan telapak tangannya bergetar hanya karena tatapan pria itu yang menusuk.

"Aku tidak mencintai siapapun."

Jemarinya lepas seketika, kehilangan tenaganya begitu mendengar ultimatum mutlak dari Chanyeol—yang selama ini dia kagumi, yang selama ini dia cintai lebih dari nyawanya sendiri.

"Tidak dirimu, atau yang lainnya. Tidak seorangpun."

".. Bagaimana dengan Baekhyun?"

Chanyeol tidak menjawab selama beberapa detik, tapi Kyungsoo tahu rahangnya mengeras.

Tanpa menoleh lagi, Chanyeol meraih kunci mobilnya dengan kasar dan segera keluar dengan langkah besar.


Itu adalah malam dimana Chanyeol untuk pertama kalinya mabuk.

Baekhyun terbangun karena sesuatu serasa menindih dan ada sesuatu yang basah di dadanya. Ia terkejut ketika menemukan Chanyeol ada disana. Dengan wajah memerah dan nafas panas yang memburu.

Lelaki itu mabuk.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan?"

Baekhyun berujar pelan. Kondisi tubuhnya yang sedang kurang baik membuatnya pasrah ketika Chanyeol melumat bibir dan membubuhkan hickey di sekujur tubuhnya.

Tubuhnya meremang dan erangan pertamanya lolos dari bibirnya saat Chanyeol memainkan kejantanannya.

"Chanyeol, apakah kau mabuk—ahh!"

Chanyeol memasukan miliknya dalam sekali hentak. Baekhyun terkejut hingga tubuhnya menengang. Selanjutnya jeritan keluar dari bibirnya saat Chanyeol mulai menghentakkan miliknya yang keras di rektumnya yang masih kering karena belum siap untuk di masuki.

"Chan—Hah—Ahn.. H—Hentikan..—"

Chanyeol menggeram, tidak peduli. Ia meraih rambut Baekhyun, menariknya sehingga membuat lelaki mungil itu mendongak-memperlihatkan leher mulusnya yang memiliki hickey disana sini.

"Diam, jalang."

Kata pertamanya. Baekhyun tertegun, air matanya jatuh dan menyentuk pipinya.

"Chan—yeol?"

Baekhyun mengarahkan telapak tangannya ke arah lengan kokoh lelaki itu. Di hadiahi tatapan penuh nafsu dari pria di atasnya.

Nafsu.

Baekhyun tahu hatinya jatuh.

"Jangan lakukan ini." Baekhyun mati matian menyembunyikan isakannya. "Sakit," Lirihnya.

Chanyeol membuang pandangannya, melanjutkan gerakan tubuh di bawahnya dan memperdalam penyatuan tubuh mereka. Baekhyun tersentak dan pipinya basah. Penuh air mata.

"Ahh—Sial. Jalang ini."

Baekhyun terdiam dengan manik kosong, dia mengalihkan pandangan ke pada pergelangan tangannya. Dimana di sana terdapat sebuah cincin dengan ukiran sederhana. Setetes air mata yang tertahan di matanya mengaburkan pandangannya, lagi.

Baekhyun mulai terisak keras saat Chanyeol tidak berhenti setelah pelepasannya yang pertama.

"Chanyeol—Kumohon,"

Chanyeol tidak peduli, dia semakin mempercepat gerakannya dan membuat lelaki mungil itu terdesak dengan gairah dan isakannya sendiri.

"Fuck, Bitch."

Isakan Baekhyun pecah, tapi jemari mungilnya merayap menuju ke wajah pria-nya yang sedang menyetubuhinya seakan akan dirinya hanyalah seorang pria penghibur—bukan siapa siapa. Elusan di wajahnya membuat Chanyeol tersentak, tapi tetap melanjutkan aktifitas panasnya.

"Kenapa kau mabuk..?" Baekhyun bergumam.

Tidak ada jawaban, Chanyeol sibuk menghentak dan tubuh letihnya seakan akan remuk detik itu juga.

Baekhyun kehilangan kesadarannya, dan keesokan harinya datang terlalu cepat. Baekhyun kehilangan cara untuk menatap Chanyeol tanpa ketakutan di matanya dan sialnya, lelaki itu tidak menyadari perubahan pada tingkahnya.

Lelaki itu, bahkan menghabiskan malam malam selanjutnya di kamar Daehye hanya karena Baekhyun yang takut pada sentuhannya.

Baaekhyun tidak mengerti apakah itu bentuk dari kepedulian Chanyeol, atau wujud asli dari perasaan yang terpendam di hatinya.

Satu satunya yang ia mengerti mungkin adalah—

"Ahh, Chanyeol, bergerak lebih pelan—Ahh—"

"Daehye, sialan—Kau sangat nikmat."

"Katakan padaku, Chanyeol—Ahnn!"

Baekhyun melihat Chanyeol tersenyum puas—seakan bahagia melihat raut yang sama dari wanita yang ada di kukungannya. Peluh menetes dari tubuh mereka berdua. Pemandangan yang erotis, tapi dia tidak teransang sama sekali.

"Katakan bahwa kau mencintaiku, Chanyeol."

Hentakkan Chanyeol melambat, tubuh kekarnya merendah, meraih bibir wanita itu dan melumatnya.

"Aku mencintaimu."

—Lelaki itu, tidak mencintainya.


"Bos,"

Kris menoleh, "Apakah dia sudah datang?"

"Belum." Kai menggeleng, "Tapi Richard menghubungi anda, dia meminta izin untuk masuk ke wilayahmu."

Kris mendesah, "Fuck. Kenapa dia datang secepat ini."

Tiffany mengernyit, "Ada apa? Apa sesuatu terjadi?"

"Chanyeol akan membunuhku hidup hidup kalau tahu aku—"

Tiffany mengangkat alisnya, "Kalau tahu kau..?"

"Lupakan. Bukakan gerbang untuknya."

"Baik, Bos."


"Baekhyun, kau tahu? Kau seperti bunga. Mungil dan sangat cantik."

Baekhyun tersenyum, jemarinya menyusun bunga yang sudah ia rapikan tangkainya dan menaruhnya pada vas.

"Benarkah? Tapi bunga tidak akan cantik selamanya, Chanyeol. Mereka akan mati, dan layu. Pada akhirnya mereka akan jelek, sama seperti diriku."

Chanyeol mengenggam tangan Baekhyun, membuat yang lebih mungil menatap ke dalam kedua matanya.

"Kau tetap akan cantik meskipun rambutmu memutih."

Tawanya lepas, "Bahkan jika aku sudah tidak memiliki gigi lagi?"

"Ya." Chanyeol tersenyum penuh keyakinan. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, kau tahu kan?"

Aku sudah terlalu jauh ketika mencintaimu.

Sehingga, setiap kali aku mencoba menolakmu, kau selalu saja berhasil membuatku jatuh ke dalam perkataanmu.

Bahkan biarpun aku mengetahui kau tidak hanya mengucapkan kalimat seperti ini pada diriku, aku masih mempercayai kata katamu.

Ah, tidak. Ini bukan salahmu atau perkataan manismu—

"Aku tahu."

—Salahkan diriku yang sudah terlalu jatuh kepada segala tentang dirimu.

Hari berikutnya setelah hari itu, Baekhyun menemukan jawaban dari pertanyaan terbesar dari hidupnya.


"Sehun!"

Sehun mendongak dan menemukan Luhan berdiri di hadapannya, nafasnya memburu dan sepertinya dia baru saja berlari.

"Apa itu benar? Apa maksudmu dengan Madam Byun yang datang ke rumah sakit—Sehun! Apakah Baekhyun baik baik saja? Bagaimana dengan Chanyeol? Dimana si Brengsek itu sekarang?!"

".. Itu benar."

Luhan tercekat, "Wanita gila itu, apa yang dia lakukan pada Baekhyun?"

"Dia menyerangnya."

"Ya Tuhan." Luhan membekap mulutnya, "Aku ingin bertemu dengannya."

"Aku sudah bertemu dengannya kemarin."

"Tuan Baekhyun, bagaimana keadaanmu?"

Baekhyun hanya menatapnya, tidak menjawab.

"Bagaimana keadaannya?" Luhan bertanya panik.

Sehun menghela nafasnya, "Dia hancur."

"Maafkan aku. Aku tahu kau pasti tidak baik baik saja."

Baekhyun mengalihkan pandangan ke pintu di belakang Sehun. Seakan mengetahui apa yang lelaki itu pikirkan, Sehun tersenyum lemah.

"Chanyeol tidak datang bersamaku. Aku berjanji akan memberitahunya sekaligus memberinya sebuah pukulan—"

Sehun terdiam ketika Baekhyun mengenggam tangannya lembut.

"Tidak, jangan memberitahunya."

Sehun menahan dirinya untuk tidak marah saat itu juga.

"Aku baik baik saja."

"Dia merindukan Chanyeol..,"

Sehun bergumam.

".. Tapi dia tidak ingin mengatakan itu pada siapapun."


"Dimana Baekhyun?"

Kris terkekeh pelan, "Kau baru saja sampai."

"Tidak usah mengulur waktuku, dimana dia?"

Tiffany keluar dari ruangan kerja Kris, dan menatap pria itu.

"Richard, kalau kau tidak keberatan, aku bisa mengantarmu."

Chanyeol segera mengikuti Tiffany, yang membawanya ke lantai dua.

Mereka sampai kepada kamar Baekhyun.

"Tinggalkan kami sendiri."

Tiffany mengangguk, "Kalau begitu—"

"Pergi." Ujar Chanyeol dingin.

Tiffany tidak menunggu ucapannya yang kedua kali—ia segera pergi dari lantai dua. Menyisakan Chanyeol dan seseorang di balik pintu kayu itu.

Chanyeol membuka pintunya.

Gelap. Chanyeol mengernyit dan meraba raba dinding—berharap menemukan saklar lampu ata semacamnya. Selagi tangannya mencari, pandangannya menuju gorden yang tertutup, menghalangi jendela besar di belakangnya.

Chanyeol menyerah, tidak menemukan saklar lampu dan demi apapun dia lebih peduli pada keberadaan Baekhyun di ruangan itu daripada pencahayaan. Kaki nya yang panjang melangkah masuk ke dalam ruangan, terantuk beberapa kali oleh benda di dalamnya—tapi tidak menganggunya sama sekali.

"Baekhyun?"

Tidak ada jawaban. Sunyi. Chanyeol nyaris membanting vas di nakas ketika berpikir Kris sudah menipunya soal keberadaan pria mungil itu, tapi gerakannya sepenuhnya terhenti ketika mendengar suara shower yang terbuka dari kamar mandi.

Chanyeol melangkah—namun langkahnya kian memberat. Ketika tangannya sudah meraih kenop pintu kamar mandi, Chanyeol bahkan kehilangan kata kata untuk menjelaskan seberapa cepat jantungnya berdegub.

Ckrek. Kenop terbuka, pintu itu tidak dikunci sebagaimana seharusnya.

"Baekhyun..?"

Chanyeol menapaki lantai yang basah, tergenang sepenuhnya oleh air dan air itu berasal dari keran yang dinyalakan tanpa di matikan oleh seseorang—mungkin Baekhyun. Suara gemericik air yang ada di sebelah kirinya berasal dari shower yang terbuka namun tidak di pindahkan dari penyangganya.

Chanyeol tercekat.

Air yang mengalir keluar dari bathup, Chanyeol melihatnya. Dia berusaha berpikir dan menyakinkan dirinya sendiri bahwa Baekhyun sedang berendam dan lupa mematikan keran airnya. Dia bahkan sudah merencanakan kata kata apa yang akan dirinya ucapkan apabila melihat anak itu. Namun—

Darah.

Maniknya membulat dan tungkainya melemas.

Bukan hanya sebuah genangan, itu seperti lautan darah. Chanyeol merasakan jantungnya berdentum secara menyakitkan ketika matanya dengan mudah mengenali figur yang terduduk di atas bathup.

"B—Baekhyun? Hyun—"

Chanyeol tertatih, melangkah pelan sedangkan pandangannya memburam secara spontan.

"B—Baekhyun, apa yang kau lakukan? Kenapa ada banyak sekali darah?"

Chanyeol akhirnya melihatnya.

Baekhyun, tubuh mungilnya ada di dalam bathup. Terduduk dengan pergelangan tangan yang mengucurkan darah. Perban yang di lepas dan di buang begitu saja di sudut kamar mandi dan sebuah pisau yang di genggam erat oleh tangan kirinya.

Darah itu, turun dan membuat air di dalam bathup berwarna sama—merah. Chanyeol menggeleng, selagi tangannya meraih tubuh dingin itu dan memindahkannya ke pelukannya.

"Tidak—Baekhyun, Tidak."

Chanyeol terus menggeleng, mempererat pelukannya.

"Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku."

Chanyeol mengusap pipinya yang basah, dia menepuk pipi Baekhyun pelan dan mengecup pipinya berulang kali.

"Bangunlah, Baekhyun. Ayo kita akhiri semua dan hidup bahagia. Baekhyun, ayo bangun—"

Tangisnya pecah.

"Kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku, Baekhyun!"

Chanyeol berjalan keluar dengan Baekhyun di dekapannya.

"Kau tidak boleh pergi jauh dariku…" Ujarnya putus asa,

"Kau tidak boleh.."

Chanyeol meraung, memanggil namanya. Kris dan Tiffany berteriak panik, menghubungi medis secepat yang mereka bisa. Chanyeol berbisik berulang kali, tentang betapa dia mencintai Baekhyun—

Tapi lelaki mungil itu tetap terdiam.

.

.

"Bagaimana jika aku bersikeras untuk meninggalkanmu?"

Baekhyun menatapnya. Lantas ia berkata tanpa beban kemudian,

"Kalau begitu, aku akan mati saja."

.

.


TO BE CONTINUED


Thanks To :

Baeguncy | chanyeoloves | Kimkadek9488 | PRISNA CHO | chalienBee04 | Yodium | DewiChoi | Lastrie964 | Brida Wu | AndriF282 |SekaradaChanyeolada | SuperSupreme61 | victorique35 | CussonsBaekby | eito8 | yan miru | Aisyah1 |
byunlika0204 | Chaerim31 | Parkbaexh614 | totheyeolandbaek | KertasBee | Incandescence7 | Byunsunny6104 | shinshiren | babyyh | AlexandraLexa | restikadena90 | 365 be With You | rimaaa | Aerellia | Monika | cc | Guest (1) | Rose | Ayaa | inchan88 | Guest-ssi | kickykeklikler | Guest (2) |chanbee | baekhyung | CiellaLala | hanifairma16 | ParkVer | LyWoo | Ellaqomah | Lastrie964 | chimiesry | Guest(3) | indahcbs | margarethaaa | Guest (4) | keysha (mungkin kamu bisa hubungin saya lewat Line saya^^ ID Line ada di bio, terima kasih^^) | LUDLUD | byunnami | ivhanadia | Baekbyyours614 | vitaputri152 | beekill | Poliss | Autumn2day | baekhyunee | Hwang Tiffany | cbforever00 | fujokuu | cadelanakayam94

TERIMA KASIH ATAS REVIEW'S KALIANNNN~~~

(Setiap saya baca review kalian saya jadi semangat, terima kasih~~!)

I'm sorry for typo(s), OOC, and more.

Maaf pertama tama karena ini baru up awal Desember, hehe. Di karenakan saya masih bocah ingusan yang mau TO, UN, PM dan segala tetek bengeknya, kelanjutan ff ini jadi terbelangkai, maaf semua *bungkuk*

Dan juga, saya minta maaf sekali kalau feel di chapter ini nggak dapet samsek T^T.

Terakhir, kayaknya aku bakal hiatus sebentar. Maybe tiga sampai empat minggu (Dan aku minta maaf karena ff ini jadi ketunda lagi.)

Tapi saya tetap akan berusaha untuk update. Terima kasih atas dukungan kalian semua~~~~

Last, Next? Leave your review below, please.