Title: Butterfly

Cast: Kyuhyun and others

Genre: Family, brothership

Rating: T

Warning: Gaje, typo(s), cerita pasaran, OOC, dll

Disclaimer: Cerita ini murni milik saya. Jangan dibaca kalau memang tidak mau membaca.

Butterfly

Chapter 11

(One More Chance)

(now playing: Super Junior – Don't Leave Like The Rain)

"Kau mengingat siapa dirimu?"

Mengangguk.

"Siapa namamu?"

"Kyuhyun."

Dokter meletakkan kapas diatas luka yang telah dibersihkan menggunakan antiseptik. Pria itu sesekali tersenyum saat menyadari sepasang mata milik pasiennya itu terus memandanginya. "Apa kau mau mengatakan sesuatu, Kyuhyun-ssi?" tanya dokter kemudian mengambil gulungan perban lalu mulai melilitkannya pada tangan Kyuhyun.

"Tidak. Aku hanya―bingung, uisa-nim," ucap Kyuhyun. Raut wajahnya tidak menunjukkan adanya kebohongan. Kyuhyun memang terlihat kebingungan. "Apa mereka―sungguh orangtuaku, uisa-nim?"

"Kau harusnya tidak bertanya padaku, Kyuhyun-ssi. Kita baru bertemu sekali ini." Kyuhyun terdiam mendengarnya. "Kau harus lebih berhati-hati, Kyuhyun-ssi," ujar pria berjas putih itu sambil terus melilitkan perban pada tangan Kyuhyun. "Beruntung jarum infus tadi tidak sampai merobek pembuluh darahmu."

Kyuhyun hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia melirik lantai rumah sakit yang telah bersih. Beberapa menit yang lalu adalah waktu yang menengangkan baginya. Tanpa Kyuhyun sadari tangannya telah berlumur darah, bahkan tetesan darah dari tangannya meninggalkan bercak merah di lantai rumah sakit yang putih. Jika bukan karena Henry yang panik padanya, pasti Kyuhyun tidak akan sadar apa yang terjadi. Kyuhyun melirik dokter yang telah selesai membalut lukanya.

"Lebih baik kau kembali beristirahat," ujar dokter. "Jangan memaksakan diri untuk mengingatnya."

"Uisa-nim..." Dokter yang sedang merapikan peralatan kembali menatap Kyuhyun. Kyuhyun justru terdiam cukup lama. Ia terlihat ragu. "Terima kasih, uisa-nim."

"Sama-sama, Kyuhyun-ssi."

Kemudian dokter berlalu. Kyuhyun mengangkat tangan kanannya untuk memperhatikan lilitan perban pada tangannya. Saat dokter membuka pintu untuk keluar dari ruangan, Kyuhyun bisa melihat mereka disana, tengah menghadang langkah sang dokter. Kyuhyun tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan pada dokter. Hanya sekedar suara samar-samar yang bisa Kyuhyun dengar.

"Apa yang terjadi pada putra kami, uisa-nim? Tolong katakan!"

"Bagaimana dengan lukanya?"

"Dia tidak amnesia, bukan? Kyuhyun baik-baik saja, bukan?"

Sang dokter tidak terlihat kaget saat beberapa orang di depannya langsung memberondongnya dengan pertanyaan. "Kyuhyun-ssi tidak apa-apa. Luka akibat jarum infus tidak akan mengakibatkan darahnya mengucur lagi selama Kyuhyun-ssi tidak menggunakan tangan kanannya untuk mengangkat sesuatu yang berat."

"Lalu mengapa Kyuhyun tidak mengenali kami?"

Heechul meremat kedua tangannya saat dokter beralih memandangnya. Wanita itu dilanda kecemasan sejak satu jam yang lalu. Tentu saja Heechul cemas. Eomma mana yang tidak cemas saat anaknya tiba-tiba berubah tidak mengenalinya.

"Selamatkan aku, Changmin-ah. Mereka orang jahat."

Kalimat itu seolah terputar tanpa tombol stop dalam pikiran Heechul. Hati wanita itu mencelos mengingatanya.

"Mari ikut ke ruangan saya."

.

.

.

"Hei..."

Kyuhyun menolehkan kepalanya kearah pintu. Ia tersenyum kecil sebagai jawaban.

"Merasa lebih baik?"

"Mungkin..." jawab Kyuhyun tidak yakin.

"Kau mengenaliku, bukan?"

Kyuhyun meliriknya dengan heran. "Tentu saja. Kau Shim Changmin. Aku tidak akan melupakan wajah menyebalkanmu itu!" ucapnya dengan sedikit kesal. "Bagaimana mungkin bisa aku melupakanmu yang hampir setiap hari bersamaku?"

Jawaban yang baru saja dilontarkan Kyuhyun justru membuat Changmin menatapnya dengan nanar. Changmin belum tahu perihal keadaan Kyuhyun saat ini. Ia akan menemani Kyuhyun selagi Appa dan Eomma Kyuhyun sedang berbicara dengan dokter. Begitupula Henry yang memaksa ikut masuk ke ruangan dokter meski Hangeng sempat melarangnya.

"Changmin-ah..."

"Ya," jawab Changmin. "Ada apa, Kyuhyun-ah?"

"Ceritakan semuanya!" Kyuhyun menatap Changmin. "Aku merasa ada yang hilang dalam memoriku. Kenapa aku bisa disini? Apa yang telah terjadi padaku? Dan―siapa mereka?"

Changmin menarik salah satu kursi terdekat kemudian mendudukinya. Ia balik menatap Kyuhyun. "Sebelumnya aku ingin bertanya sesuatu padamu, Kyuhyun-ah." Kyuhyun mengangguk. "Kau sama sekali tidak mengenali mereka? Apa kau sungguh-sungguh? Katakan padaku, kenapa kau menyebut mereka orang jahat?"

Terdiam.

"A-aku―aku―tidak tahu. Aku hanya―mereka―membuatku takut..." jawab Kyuhyun terputus-putus. Kyuhyun nampak gelisah. "Aku tidak kenal mereka, Changmin-ah..."

"Kau harusnya tidak menyebut mereka jahat. Perkataanmu mungkin saja melukai hati mereka."

"Mereka memaksaku, Changmin-ah. Bukan salahku jika aku menyebut mereka jahat. Aku tidak suka dipaksa. Terlebih oleh mereka yang tidak ku kenal." Kyuhyun menatap Changmin dengan pandangan mengiba. Changmin tidak mengerti kenapa Kyuhyun melakukannya. "Kau mengenalku dengan baik, Changmin-ah. Aku benar-benar tidak suka dipaksa."

Changmin memejamkan matanya saat Kyuhyun berucap padanya. Secara tidak sadar Kyuhyun tengah mengutarakan perasaan tertekannya pada Changmin. Meski Changmin tidak yakin apakah Kyuhyun tengah membohonginya atau tidak perihal ingatannya, namun Changmin tahu jika Kyuhyun tengah jujur soal perasaannya.

"Berhenti berpikiran buruk tentang mereka. Pria dan wanita tadi adalah orangtuamu. Cho Hangeng dan cho Heechul."

Kyuhyun menatap Changmin dengan pandangan tidak percaya. Changmin mengerti Kyuhyun tidak akan percaya dengan mudah. Oleh karena itu, ia menatap Kyuhyun tanpa ekspresi.

"Tidak mungkin―Kau sedang melucu, bukan?" Kyuhyun mencoba tertawa, namun terdengar hambar. "Bagaimana bisa―" Kyuhyun memejamkan matanya saat kepalanya terasa berdenyut. Ia menekan sisi kiri kepalanya. "Bagaimana mungkin aku tidak mengenali mereka?"

Changmin yang awalnya hanya diam akhirnya mendorong tubuh Kyuhyun untuk kembali berbaring. Ia sadar telah melewati batas sebagai sahabat. Harusnya Changmin tidak perlu menekan Kyuhyun sejauh ini.

"Tidurlah, Kyu. Jangan terlalu memikirkannya."

"Tapi, Changmin-ah―mereka―"

"Aku akan menjelaskannya besok. Kau masih harus beristirahat. Tidurlah."

"Changmin-ah..."

Kyuhyun berkeras untuk bangun, namun Changmin kembali menekan bahu Kyuhyun untuk berbaring. Pemuda itu tidak ingin salah bicara.

"Aku tidak punya hak untuk menjelaskan hal ini padamu, Kyuhyun-ah. Tunggu sampai orang tuamu yang akan menjelaskannya. Sekarang kau harus tidur! Aku akan menemanimu disini sampai orang tuamu datang."

.

.

.

"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Aku tidak tahu."

"Heenim―"

"Tolong jangan bertanya lagi, Han! Setiap pertanyaanmu membuatku merasa bersalah. Kyuhyun menjadi seperti ini karena aku!"

Hangeng hanya bisa mengatupkan mulutnya saat melihat Heechul kembali menangis. Tidak ada yang Heechul katakan sejak keluar dari ruangan dokter. Istrinya hanya menangis sejak tadi. Apa yang terjadi pada Kyuhyun adalah pukulan terbesar bagi mereka, terutama Heechul. Hangeng tahu, Heechul sedang berusaha membagi rasa sayang yang adil untuk kedua putranya. Terutama untuk Kyuhyun, putra istimewa mereka.

"Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kita membesarkan Kyuhyun berdua. Apa yang terjadi pada Kyuhyun adalah tanggung jawabku juga, Heenim. Jadi, berhenti berpikiran seperti itu."

Tak ada yang bisa Heechul lakukan selain merasakan bagaimana airmatanya kembali turun.

"Apa yang harus kita lakukan, Han? Kyuhyun―tidak mengenal kita... Bagaimana ini?" Heechul menangis tergugu layaknya anak kecil.

"Heenim..."

Hengeng membawa Heechul dalam pelukannya. Mendekap tubuh wanita yang menjadi pilihan hidupnya dengan erat. Pria itu jarang mendapati Heechul menangis seperti ini. Yang Hangeng tahu adalah, Heechul wanita yang kuat. Heechul hanya akan menangis jika hatinya benar-benar terluka.

"Ini diluar dugaan kami, Tuan, Nyonya. Kyuhyun-ssi kehilangan sebagian memorinya di masa lalu."

"Bagaimana bisa hal itu terjadi, uisa-nim?"

"Keadaan yang dialami Kyuhyun-ssi disebut amnesia disosiatif. Seseorang yang menderita amnesia disosiatif tidak mampu mengingat informasi penting, biasanya setelah suatu episode yang penuh stress. Informasi-informasi itu tidak hilang, namun tidak dapat diingat lagi selama episode amnesia. Amnesia disosiatif bisa muncul karena kerusakan otak akibat penyakit ataupun karena masalah psikologis."

Dokter terdiam sejenak untuk melihat respon kedua orang di depannya. Vonis untuk pasien merupakan hal tersulit yang harus dokter sampaikan pada keluarga pasien. Hangeng dan Heechul tidak sanggup untuk berucap. Bahkan untuk sekedar menelan ludah, keduanya merasa ada ganjalan besar pada tenggorokan mereka.

"Dalam kasus Kyuhyun-ssi, tidak ada benturan yang terjadi pada kepalanya. Kemungkinan besar Kyuhyun-ssi pernah menggalami kejadian yang mengarah pada pengalaman traumatis sehingga Kyuhyun-ssi ingin melupakannya. Saya tidak bisa memastikan berapa lama Kyuhyun-ssi akan kehilangan memorinya. Bisa saja Kyuhyun-ssi akan mengingatnya dalam beberapa hari."

Heechul menggigit bibir bawahnya. "Bagaimana jika tidak? Bagaimana jika Kyuhyun tetap tidak bisa mengingatnya dalam selang waktu itu?"

"Karena pada dasarnya Kyuhyun-ssi hanya kehilangan memori dalam periode tertentu saja. Kyuhyun-ssi akan mengingatnya, Tuan, Nyonya, tetapi dalam jangka waktu yang tidak bisa diprediksi."

"Lalu kenapakami? Kenapa Kyuhyun hanya lupa pada kami?"

Dokter memandang Heechul dan Hangeng dengan pandangan setengah mengiba. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada keluarga ini sehingga menyebabkan Kyuhyun kehilangan sebagian memori akan orangtuanya. Pria berjas putih itu memilih kalimat tersopan agar tidak menyinggung perasaan keduanya.

"Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, Kyuhyun-ssi berkeinginan untuk menghapus pengalaman traumatis dari ingatannya."

Tarik

Hembuskan

Tarik

Hembuskan

"Hahh..."

Pada akhirnya, Henry hanya bisa menghela napas panjang. Remaja itu menggesk-gesekkan alas sepatunya pada lantai parkir rumah sakit. Henry tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Apakah ia harus menemui kakaknya atau hanya berdiam disini? Henry kembali menghela napas.

"Kyuhyun-ssi boleh pulang besok karena keadaannya sudah membaik. Mengenai ingatannya, saya berharap Tuan dan Nyonya membiarkan Kyuhyun-ssi mengingatnya dengan sendiri. Jika dalam waktu seminggu belum ada perubahan, Kyuhyun-ssi harus kembali ke rumah sakit untuk melakukan cek up."

Ini tidak seperti yang Henry harapkan. Jauh berbeda. Henry pikir setelah Kyuhyun puas menguji kedua orangtua mereka, Kyuhyun akan bangun sebagai Kyuhyun yang biasanya. Kakaknya akan bangun meski dengan luka menganga dalam hati. Dengan harapan kedua orang tua mereka akan mengobati luka dalam hati Kyuhyun. Henry pikir Kyuhyun bangun karena telah merasa puas.

Namun―Henry rasa Kyuhyun belum puas menguji kedua orang tua mereka. Penjelasan dari dokter cukup menggambarkan semua yang Kyuhyun inginkan. Henry tidak tahu harus bersyukur atau bersedih. Kyuhyun tidak mengingat tentang kejadian tempo hari termasuk semua luka yang Kyuhyun dapat dari kedua orang tua mereka. Sangat ironis karena Kyuhyun melupakan kedua orang tua mereka sebagai gantinya.

"Jangan lama-lama, hyung... Kau menyiksa kami secara bertubi-tubi."

Henry bilang ia akan melindungi kakaknya. Namun setelah hari ini berakhir, Henry tidak yakin dengan ucapannya tempo hari.

"Apa yang harus kukatakan saat berhadapan denganmu nanti, hyung?"

Tiba-tiba Henry merasakan ponselnya bergetar. Ia merogoh saku celana dan melihat layar ponselnya.

Mata Kodok is calling...

"Halo..." sapa Henry dengan nada lesu.

"Mochi! Bagaimana keadaan Kyu hyungmu? Sebelum pulang dengan tergesa tadi kau bilang hyungmu sudah sadar, bukan?"

Henry terdiam sejenak. Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Minho. Tidak mungkin Henry bilang; Oh iya, Minho-ya, kau benar. Kyu hyungku sudah sadar, tetapi ia tidak bisa mengingat kedua orang tua kami sama sekali.

"Dia baik-baik saja. Keadaannya sudah membaik. Besok Kyu hyung sudah diperbolehkan pulang oleh dokter."

"Wah... Kyu hyungmu pulih dengan cepat. Semoga Kyu hyungmu sehat selalu setelah ini, ya, Mochi..."

"Ya. Terima kasih, Minho-ya..."

Aku juga berharap demikian.

.

.

.

Pintu ruangan terbuka, menampilkan sepasang kaki berbalut sepatu berhak setinggi tujuh sentimeter yang melangkah masuk setelah menutup pintu. Langkahnya pelan bahkan hampir tak ada suara yang terdengar. Sepasang kaki itu berhenti di dekat ranjang rawat dimana seorang pemuda tengah terlelap. Tangan kanannya terjulur untuk mengusap helaian rambut coklat yang nampak berantakan.

Dalam sepersekian detik, pemilik sepasang kaki itu merasakan kedua matanya memanas. Disentuhnya luka yang telah mengering pada ujung bibir sang pemuda. Ia masih ingat betul saat tangannya sendiri yang menorehkan luka itu. Andaikan saja luka hati pemuda itu bisa dengan mudah sembuh layaknya luka itu, maka ia akan sangat bersyukur. Sayangnya, semua tidak semudah itu.

Setetes air mata jatuh menuruni pipinya.

"Kau berniat menghukum eomma dan appa mu, eoh?"

Pemilik sepasang kaki itu, Heechul mengelus pipi Kyuhyun yang masih terlelap dalam tidurnya. Air matanya turun dengan mudah saat menyadari gurat kedewasaan dalam wajah putranya. Heechul tidak menyadari bahwa Kyuhyun menuruni garis wajah suaminya. Garis wajah yang tegas namun menyiratkan kelembutan disaat yang bersamaan. Andaikan Kyuhyun membuka matanya, Heechul yakin ia akan bisa melihat kedua matanya dalam mata Kyuhyun.

"Kau benar-benar tidak mengingat eomma? Begitukah?"

Tidak ada respon. Heechul memang tak berharap Kyuhyun terbangun.

"Permisi..."

Suara seseorang membuat Heechul dengan cepat menghapus air matanya. Ia menoleh dengan cepat ke arah pintu. "I―ya..." terbelalak, "―Kim Mi Sun-ssi..." Heechul terkejut mendapati gadis yang merupakan putri dari rekan kerjanya itu tengah berdiri di ambang pintu dengan membawa sesuatu di tangannya.

"Saya datang untuk mengunjungi Kyuhyun-ssi. Bolehkah saya masuk?" tanya gadis itu dengan sopan.

"Silahkan Mi Sun-ssi. Kau bisa masuk. Duduklah disini."

Heechul buru-buru menghampiri Mi Sun kemudian menuntunnya ke sudut ruangan dimana terdapat sebuah sofa. Heechul duduk di sofa terlebih dahulu kemudian Mi Sun ikut duduk di sampingnya.

"Saya membawa buah untuk Kyuhyun-ssi. Semoga Kyuhyun-ssi cepat pulih."

Gadis itu mengangsurkan keranjang berisi buah pada Heechul.

"Harusnya Mi Sun-ssi tidak perlu repot-repot. Terima kasih untuk buahnya," balas Heechul sembari menerima pemberian Mi Sun kemudian meletakkannya di atas meja. "Mi Sun-ssi tahu darimana jika Kyuhyun sedang dirawat disini?"

Mi Sun tersenyum. "Appa dan eomma yang mendapat kabar dari rekan kerjanya. Mereka berniat mengirimkan buah melalui kurir begitu saja karena terlalu sibuk. Menurut saya dibanding melalui kurir, akan lebih sopan jika salah satu dari keluarga kami yang datang. Jadi, saya berinisiatif datang ke sini mewakili appa dan eomma," jelasnya.

Ucapan Mi Sun membuat Heechul tersentuh. Heechul kira setelah makan malam yang berakhir canggung tempo hari, keluarga Kim akan menaruh jarak pada keluarganya. Ternyata justru sebaliknya. Putri Tuan Kim yang secara tidak langsung ditolak oleh Kyuhyun mau dengan repot datang kesini.

"Mi Sun-ssi... kejadian tempo hari―"

"Nyonya Cho, anda tidak perlu membahasnya. Saya sudah tahu jika Kyuhyun-ssi akan menolak saya sejak awal, jadi anda tidak perlu merasa bersalah. Hal ini tidak akan berdampak apapun pada kerjasama perusahaan Cho dan Kim. Masalah pribadi dan pekerjaan berada dalam ruang yang berbeda. Benar, bukan, Nyonya Cho?" tanya Mi Sun pada Heechul.

Gadis itu tersenyum saat Heechul mengangguk perlahan. "Mi Sun-ssi benar," balas Heechul.

Mi Sun beralih menatap Kyuhyun yang sama sekali tidak terusik dengan obrolan keduanya. Ia tersenyum kecil. "Lagipula, Kyuhyun-ssi berhak untuk memilih gadis yang sesuai dengan kriterianya. Jika saya memaksa, itu akan terdengar egois."

Jika boleh jujur, Mi Sun suka begitu saja saat pertama kali melihat Kyuhyun. Menurutnya, Kyuhyun itu sempurna. Namun apa boleh buat jika Kyuhyun sepertinya tidak tertarik sama sekali padanya? Mi Sun tidak ingin menjadi gadis yang mengejar-ngejar laki-laki seolah tidak punya rasa malu. Ia mungkin akan mengikhlaskan perasaan tak berbalasnya pada Kyuhyun.

"Kau juga harus setuju dengan gadis yang akan menjadi pasanganmu kelak!"

Heechul seolah tertampar. Ia teringat dengan ucapannya sendiri. Ia baru tersadar jika ada luka lain yang ia goreskan pada hati Kyuhyun.

.

.

.

"Ahjussi tidak mau istirahat terlebih dulu? Aku bisa mengantar pulang jika ahjussi menginginkannya."

Hangeng tersenyum kecil lalu menggeleng. Ia sedang berada di taman rumah sakit saat Changmin tiba-tiba menghampirinya. Pemuda itu bilang tidak sengaja melihatnya duduk sendirian dari kejauhan. Changmin bilang akan menemaninya selama ia duduk disini.

"Ayolah, ahjussi... Ahjussi belum istirahat sejak tadi, bukan? Kalau ahjussi kambuh bagaimana? Kyuhyun-ah pasti akan memarahiku," Changmin berucap tanpa menyaring kata-katanya.

"Kyuhyun tidak akan memarahimu, Changmin. Ia tidak mengingat siapa itu aku."

Barulah Changmin tersadar akan apa yang dikatakannya setelah mendengar ucapan Hangeng. Pemuda itu memucat saat melihat Hangeng tengah tersenyum getir kearahnya. Mendadak Changmin merasa bersalah dan takut disaat yang bersamaan.

"A―ahjussi―aku tidak bermaksud untuk―"

"Kau belum tahu keadaan Kyuhyun, bukan?" potong Hangeng.

Changmin tak berani menjawab. Ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Kyuhyun kehilangan sebagian memorinya dalam jangka waktu yang tidak bisa ditentukan. Dokter menyebut Kyuhyun mengalami amnesia disosiatif. Memori yang hilang hanya yang berkaitan dengan pengalaman traumatis yang pernah dialami oleh Kyuhyun. Ini bukan disebabkan karena benturan atau semacamnya, melainkan keinginan Kyuhyun sendiri."

Ucapan Hangeng disambut keterkejutan dalam wajah Changmin.

"Kyuhyun masih tetap mengingat kebiasaan dan hal yang yang disukai, begitupun tingkat intelegensinya yang masih tetap sama. Hanya saja, beberapa memori yang Kyuhyun rasa sebagai pengalaman traumatis akan menghilang sementara."

Hangeng menarik napasnya.

"Aku dan Heechul adalah salah satu bagian dari pengalaman traumatis bagi Kyuhyun."

Kalimat ini membuat Changmin terbelalak. Meski Changmin sudah mulai menebak-nebak alasan Kyuhyun tidak dapat mengingat orang tuanya, namun setelah mendengar penjelasan dari Hangeng, semuanya masih terasa mengejutkan. Changmin tidak habis pikir dengan apa yang tengah terjadi kali ini.

"Appa yakin, Kyuhyun sedang membuat keluarganya seperti'kalian tahu kalau aku berharga kan?' semacam itu. Dalam alam bawah sadarnya, Kyuhyun mungkin enggan untuk bangun karena ingin merasakan hal semacam itu sebelumnya

Changmin merasa omongan ayahnya tempo hari memang benar adanya. Kyuhyun mungkin telah merapalkan dalam hati untuk melupakan beberapa memori 'penting'nya saat ia masih terlelap. Bolehkah Changmin bilang jika Kyuhyun kini tengah menguji kedua orang tuanya?

Hangeng nampak begitu lesu. Changmin mengamati Hangeng dalam diam. Seandainya saja... Ya, seandainya saja mereka bisa lebih cepat menyadari, atau setidaknya tidak ada luka baru yang mereka torehkan pada hati Kyuhyun. Pasti yang terjadi tidak akan sepelik ini.

Dilihat dari segi manapun, tidak akan ada yang bisa mempercayai jika seorang anak melupakan sosok kedua orang tuanya begitu saja. Harusnya ada sisa-sisa kenangan yang membuat seorang anak mengingat kedua orang tuanya. Namun, jika hal semacam ini terjadi pada Kyuhyun, apa yang harus Changmin katakan? Changmin yakin, Kyuhyun juga melalui hal yang sulit selama masih berada di alam bawah sadar. Jika memang Kyuhyun memilih jalan ini, tentu bukanlah hal yang mudah.

Kedua orang tua Kyuhyun tersiksa mendapat kenyataan ini, tetapi Changmin juga meyakini, Kyuhyun juga tersiksa menjalaninya. Entah Kyuhyun menyadarinya atau tidak.

.

.

.

Kyuhyun mengusap pipinya yang mendadak basah. Pemuda itu terheran saat mendapati dirinya menangis tanpa sadar. Padahal Kyuhyun tidak merasa sedih ataupun ingin menangis. Lalu kenapa air matanya turun begitu saja?

"Apa yang terjadi padaku?"

Kyuhyun menggunakan lengan baju rumah sakit yang dipakainya untuk mengusap pipinya. Ia hanya bisa menaikkan alisnya saat air matanya tak kunjung berhenti. Ini aneh, batin Kyuhyun. Ditengah kegiatannya mengusap air mata, Kyuhyun mendengar pintu ruangannya terbuka. Kyuhyun terdiam saat melihat seseorang masuk.

"Kau sudah bangun?" tanya seseorang itu.

Tanpa sadar Kyuhyun mengeratkan kedua tangannya. Entah apa yang Kyuhyun tengah rasakan saat ini. Ia tidak menjawab apapun.

"Kyuhyun, kau masih tidak mengenaliku?"

Heechul bertanya dengan nada memelas. Wanita itu bertekad untuk membuat Kyuhyun teringat akan dirinya dan juga Hangeng, meski bayang-bayang luka dalam hati Kyuhyun akan mengikutinya. Heechul sempat berpikir untuk membiarkan Kyuhyun melupakan dirinya dan Hangeng dan dulu kemudian membuat cerita seolah dirinya adalah orang tua yang baik. Ia akan membuat skenario terbaik agar Kyuhyun merasa bahagia saat mendengarnya.

Namun―

Heechul takut. Ia takut pada skenario lain yang akan Tuhan buat jika ia melakukannya. Mungkin saja Heechul akan menambah luka dalam hati Kyuhyun. Heechul bahkan belum bisa menyembuhkan luka hati Kyuhyun selama ini. Jadi, untuk menambah kebohongan yang justru menyakiti Kyuhyun, Heechul tidak akan sanggup.

"Anda siapa?"

Mencelos.

"Aku Cho Heechul. Eomma mu. Aku bukan orang jahat."

Kyuhyun memberanikan diri memandang wajah wanita yang mengaku sebagai ibunya. Ia menatapnya dalam diam. Kyuhyun hanya terus memandangi wajah Heechul yang nampak pias. Ada butiran air mata yang menggantung dalam kelopak mata wanita itu. Kyuhyun heran, kenapa wanita ini selalu menangis saat menemuinya?

"Permisi... Saatnya makan siang untuk Tuan Cho..." seorang perawat tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.

Heechul buru-buru mengusap kedua matanya lalu berbalik mengahadap sang perawat. Perawat wanita itu tersenyum saat bertukar pandang dengan Heechul kemudian meletakkan meja makan kecil di atas tempat tidur Kyuhyun.

"Selamat makan, Tuan Cho. Saya permisi..." Kyuhyun mengangguk sebagai balasan.

"Terima kasih..." Heechul menambahinya dengan ucapan terima kasih. Perawat itu kemudian keluar dari ruangan.

Kyuhyun mengamati makanan di depannya. Ada nasi, sup, kentang, kimchi, dan beberapa lauk lain. Bau harum dari masakan rumah sakit itu membuat Kyuhyun lapar. Kyuhyun beralih menatap Heechul yang masih berdiri di tempat yang sama. Heechul hanya tersenyum tipis.

"Makanlah yang banyak. Eomma ada disini."

Rasanya aneh bagi Kyuhyun. Ia merasa asing dengan semuanya. Namun bau harum dari masakan rumah sakit kembali menggelitiknya. Kyuhyun mengambil sumpit di sisi mangkuk nasinya. Saat ia berniat mengambil sejumput nasi, sumpit di tangannya mendadak terjatuh. Kyuhyun meringis kecil saat tersadar tangannya terasa nyeri. Ia berniat mengambil sumpit yang terjatuh saat sebuah tangan mendahului gerakannya.

"Biar eomma yang menyuapimu. Dokter bilang kau mungkin akan kesulitan makan menggunakan tangan kananmu karena luka itu." Heechul duduk di pinggir ranjang rawat, kemudian menyumpit sejumput nasi dan menyodorkannya di depan mulut Kyuhyun. "Aaa..." ucapnya pelan.

Kyuhyun ingin menolak, namun akhirnya ia membuka mulutnya. Ia mengecap rasa manis dari nasi yang ia kunyah. "Saya bisa melakukannya sendiri, Nyonya―"

Heechul ingin meraung saat mendengar Kyuhyun bicara seformal itu padanya. Demi Tuhan, Heechul adalah eomma kandung Kyuhyun. Bagaimana bisa putranya itu seolah tengah berbicara dengan orang asing?

"Eomma akan melakukannya. Kau harus makan disuapi eomma..."

Kyuhyun mau tak mau membuka mulutnya untuk menerima suapan selanjutnya. Sepasang mata wanita itu memerah dan menatapnya penuh harap. Kyuhyun tidak tega melihatnya.

"Apa enak?"

Kyuhyun mengangguk pelan disela kunyahannya. Ia menerima suapan demi suapan dalam diam.

"Kyuhyun..." panggil Heechul sembari menatap Kyuhyun. "Jangan bicara seformal itu pada eomma. Kau membuat eomma sedih mendengarnya."

.

.

.

.

.

TBC

Annyeongg... Lama gak menyapa readers sekalian lewat fanfic ini. Udah berapa bulan sih? Dua bulan lebih, ya? Adakah yang masih rindu aku? #senyap

Aku ngepost Butterfly di wattpad juga lohhh. Mampir ya di et jungjeah0203 -

Lanjut...

Oke. Aku mau minta maaf atas kemangkrakan fanfic ku ini. Gimana ya jelasinnya, pokoknya lagi sibuk ―_―"

Sepertinya efek ketidakhadiran kyuhyun selama beberapa bulan benar-benar menyugesti diriku untuk gak nyentuh fanfic sama sekali. Readers kudu percaya kalau aku baru mulai ngetik saat poto kyuhyun waktu sama ryeowook dan yesung bersliweran di timeline. Satu foto terbaru dari kyuhyun beneran memberi efek besar buat imajinasiku. Aku cukup puas beberapa hari belakangan karena beberapa foto kyuhyun muncul. Saat SJ comeback pun ada beberapa kejutan dari Kyuhyun.

Aku bahagia―walau gak sepenuhnya bahagia.

Aku gak akan nyebut satu-satu karena kalian pasti udah ngerti.

Aku cuma mau bilang.

Aku tetap disini, dibelakang mereka.

Seburuk apapun itu, sehina apapun itu.

Terlepas dari semua kenyataan yang terjadi, aku memilih menutup mata.

Anggap aku tidak pernah melihatnya.

Hanya satu kesempatan lagi agar aku bisa melihatmu (Super Junior – Don't Leave Like The Rain)

.

November 19, 2017

With Love,

Jung Je Ah