"Apakah kau, pernah jatuh cinta?"
.
.
.
"Eh, kau ingin aku apa?" Maka membulatkan matanya dan menatap lelaki itu dengan bingung.
"Mencarikannya partner..." Kid mengulang ucapannya sambil mengecek ulang dokumen di tangannya.
"Ta-tapi bukankah dua minggu lalu kita sepakat aku hanya perlu belajar bersamanya..?"
"Uh, yah, keadaan agak berubah.." Kid menggaruk kepalanya dengan ujung pena yang sedari tadi dibawanya. "Lagipula Prof. Stein juga menyarankan membuka kelas baru ini selagi dia belum memperpendek jam kerjanya lusa hari..."
"Oh, sudah mempersiapkan pengurangan jadwal kerja yah?"
"Ya, sepertinya uh, sibuk dengan keluarga barunya."
"Kehamilan Marie-sensei sudah hampir mendekati sih..." Maka ingat Marie-sensei sudah ambil cuti bulan lalu. Pasti sekarang sudah mulai sibuk. Prof. Stein pastinya rela cuti demi Marie dan si bayi.
"Ini berkas semua nama senjata dan meister yang belum memiliki partner. Mereka akan ada kelas pengarahan besok sore. Prof. Stein yang akan bimbing teorinya, selanjutnya Sid-sensei yang gantikan. Jadwal mereka cukup padat, jadi harus gantian."
Maka menerima dua lembar penuh nama senjata dan meister. "Kau besok hanya perlu datang dan mengamati mereka. Aku mengandalkan tipe persepsimu." Kid mengusap kepala Maka dengan lembut dan tersenyum.
"Baiklah.. Akan kulakukan." Maka mengiyakan tugas barunya.
"Oke, sampai besok, Maka." Kid berbalik dan berjalan ke koridor utara. Maka mendadak ingat hari itu-
Tanpa sadar, ia memanggil nama Shinigami muda itu. Kid menoleh dan berbalik ke arahnya. "Hm? Ada apa?"
Maka bingung haruskah ia menyanyakan hal ini. Terdengar konyol dan memalukan. Tapi dalam benaknya ia yakin rasa penasaran ini takkan pernah berhenti sampai ia buka mulut. Hingga ia memberanikan diri.
"Apakah Shinigami-sama pernah jatuh cinta?" Maka bersumpah meski matahari senja terlihat mengantuk tidak peduli, rasanya tetap seperti diamati dan itu sangat memalukan. Ia berdo'a cahaya sore hari itu menutupi wajahnya yang hangat merona.
"Uhm? Entahlah, ayahku tak pernah cerita tentang ibuku. Yang kutahu aku hanya fragmen dari ayahku. Aku tak yakin aku punya ibu-"
"Bukan, bukan begitu, Kid. Apakah kau, pernah jatuh cinta?" Maka gelagapan karena rasanya sangat memalukan. Kid bego.
"Oh- OH!" Kid sedikit gugup dan ikut gelagapan. "Uhm, aku jatuh cinta dengan keindahan dan estetika simetris. Haha.."
"Ohh.. haha.. begitu.." Maka memiringkan kepala, sweatdropped. Ia tidak terlalu terkejut. Tipikal Kid.
"Tapi, kalau maksudmu pada manusia, kurasa pernah."
Dewa Kematian tersenyum padaku. Hal itu yang langsung terbesit di benak Maka. Ia tidak kecewa mendengar jawaban barusan. Memang harusnya begitu. Manusia makhluk yang menarik. Kid juga paham hal itu. Maka tersenyum lebar.
"Mmh! Baguslah! Terima kasih, Kid!" Setelah itu mereka saling berpamitan, dan kembali pulang.
Dalam perjalanan, Kid bergumam pada dirinya sendiri. Kau salah satunya. Tapi aku sudah tahu ujung benangmu. Dan di posisiku sekarang tidak mungkin aku menentang takdir manusia...
Maka berjalan ke lorong utama Shibushen. Matahari makin turun. Ia menerawang jauh ke seluruh kota dari atas tangga. Pikorannya terlarut.
Kid bukan manusia. Tapi ia mencintai manusia. Maka terus mengulang hal itu di benaknya. Jawaban Kid tidak membuatnya kecewa, tapi sebenarnya ia juga kurang puas. Ia ingin tahu lebih.
Tapi mungkin lebih baik begitu adanya. Andaipun Kid punya hal yang sama, Maka tak ingin terburu-buru merusak banyak hal, termasuk pertemanan mereka. Tidak perlu berbelit-belit berkutat dengan hal abstrak seperti perasaan. Bahkan mungkin semuanya hanya semu. Tidak perlu terlalu ingin lebih. Apa yang ada sekarang sudah cukup.
Tapi apakah aturan tersebut dapat mudah diterapkan pada semua orang? Bagaimana dengan partnernya?
Tentang Soul... aku...
"Hei Maka, kau belum pulang?" Yang dipanggil menoleh.
"Ox-kun. Kim-chan. Hei.. kalian sendiri juga belum...?" Maka menoleh ke sekitar. "Eh, mana partner kalian? Harvard-kun dan J-chan?"
"Sudah pulang duluan sih sejak tadi. Aku habis ada pertemuan dengan penyihir lain. Ox membantuku. Lalu kita ke perpus."
"Ah. Aku hanya perlu mengembalikan buku sebentar." Ox membela diri. "Jackie dan Harv sepertinya pulang bersama."
"Uh. Ntahlah Ox, kurasa mereka berdua terlalu kaku kalau bersama. Maksudku sifat keduanya sama.." Kim menimpali. "Mungkin Jackie sudah balik ke asrama kami."
"Hey. Tapi tidak mustahil kan kalau mereka berdua mulai menghabiskan waktu bersama. Apalagi kau juga mulai sibuk. Belum lagi kita.." Ox menyeringai sambil menjangkau rambut Kim.
"U-uhhhhmmmm!" Kim buru-buru melangkah dan mendekati Maka yang mulai canggung. "Omong-omong! Soul sendiri kemana? Kulihat kalian jarang pulang bersama sekarang."
"Ah... ya. Aku lumayan sibuk membantu Shinigami-sama. Jadi kuminta Soul pulang tanpaku." Maka melirik Ox yang agak kecewa.
"Kau diminta tolong apa oleh Shinigami-sama?" Kim berjalan mengiringinya menuruni tangga. Oxford mengekor di belakang.
"Me-mengawasi dan.. mencarikan partner untuk Hiro.." Maka agak malu mengatakannya. Ia tak ingin terdengar aneh.
"Oh wow. Itu hal yang sulit.. Hubungan antara meister dan senjata bila dipaksakan pasti berat sekali." Kim menimpali.
"Yah.. aku tahu. Makanya aku hanya perlu mengawasi. Tidak sampai menjodohkan mereka haha." Maka menjawab kikuk.
"Kudengar ada kelas baru, kan? Yang isinya adalah mereka yang belum punya partner." Ox mulai ikut nimbrung. "Campuran NOT dan EAT?"
"Iya, kalau untuk campuran kurasa aku belum mengeceknya. Kita lihat saja nanti." Maka menjawab sebisanya. Ia juga tak tahu apakah yang akan ditemuinya nanti adalah anak-anak bandel atau penurut. Tantangan di depan mata.
"Nee, Ox-kun. Jackie mau nitip setoples eskrim di Death Robbins. Nanti mampir sana yah." Kim membaca pesan dari ponselnya yang baru bergetar beberapa detik lalu. "Harvard menyebalkan. Begitu katanya. Haha. Sudah kuduga mereka masih susah main bareng."
"Iya, iya. Aku juga akan beli untuk Harv. Pasti ia juga badmood." Ox berhenti di parkiran scooternya. "Kau ikut, Maka?"
"Ah. Tidak. Terima kasih. Aku harus pulang. Sampai jumpa, kalian berdua!"
"Dah, sampai besok, Maka!" Maka melambai dan berjalan menuju apartmennya.
Di jalan, ia teringat ucapan Kim.
Hubungan meister dan senjata bila dipaksakan pasti berat sekali.
Ya. Makanya ia juga tak perlu memaksakan diri...
