Session Talkshow

Bella : Akhirnya Bella bisa update tepat waktu juga. Hosh hosh…

Kazusa : Author kenapa, kayak habis marathon?

BRUK

Kazusa : Waa author ambruk!

Kazusa : Minna kalian langsung baca chapter ini saja ya. Semoga memuaskan.


Title : Vampire Game

Chapter 13 : Blood Relationship

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~Vampire Game~ © Bella-chan

Rated : T

Genre : Fantasy ; Mystery

Pairing : KazuRin

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Akira, daijobou. Aku tahu selama ini kau berusaha mati-matian, tapi biarkanlah malam ini kau melepaskan semua hasratmu." / "Artinya mereka akan saling terhubung satu sama lain. Dan jika salah satu dari mereka mati, maka yang lainnya juga akan mati." / "Kumohon Karin berhentilah. Percayalah padaku." / "Sekarang aku tinggal membuatmu untuk meminum darahku. Maka kau akan selamat."

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~Vampire Game~

Normal POV

"Kazusa cepat lakukan itu sebelum dia berubah menjadi oni sepenuhnya!" seru Jin tiba-tiba sambil melirik sekilas ke arah Kazusa.

"Aku tahu, dengan begini mungkin bisa menebus semua kesalahan kami," ucapnya lirih.

"Apa yang akan kau la-" Seketika saja Miyon dan Yuuki terpengarah begitu melihat apa yang dilakukan oleh Kazusa pada Akira.

Kazusa memeluk Akira, tapi bukan itu yang membuat seorang Miyon dan Yuuki sampai terpengarah. Tapi karena, Kazusa memaksa Akira untuk menggigit lehernya dan meminum darahnya.

"Kazusa apa yang kau lakukan?" tanya Miyon tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya.

"Tentu saja menyelamatkan Akira." Bukannya Kazusa yang menjawab, tapi Jin yang kelihatannya sudah selesai menghabisi semua oni dan kini berdiri di samping Yuuki.

"Dengan cara seperti itu," tambah Yuuki.

"Seharusnya sudah dari dulu Akira berubah menjadi oni. Tapi dia berhasil mengendalikan hawa nafsunya untuk meminum darah. Tapi sekeras apapun ia berusaha, dia tetaplah seorang vampir. Dia tidak akan mampu melawan nafsunya untuk tidak meminum darah. Dan akhirnya malam ini ia sudah mencapai ambang batasnya," jelas Jin.

"Akira, daijobou. Aku tahu selama ini kau berusaha mati-matian, tapi biarkanlah malam ini kau melepaskan semua hasratmu," gumam Kazusa sambil menepuk-nepuk punggung Akira. Sesekali terlihat Kazusa yang meringis kesakitan.

"Tapi apa tidak apa-apa meminum darah seorang vampir Blackrose?" tanya Yuuki khawatir.

"Seharusnya tidak boleh, karena darah seorang vampir Blackrose dianggap darah yang murni dan suci. Tapi berhubung Kazusa yang memberikannya secara sukarela, jadi tidak apa-apa. Tapi…"

"Tapi apa?" tanya Miyon penasaran dengan kelanjutan perkataan dari Jin.

"Jika seorang vampir Blackrose memberikan darahnya pada seseorang. Selain mendapatkan sebagian kekuatannya, orang itu juga akan memiliki ikatan dengan vampir blackrose itu," terang Jin.

"Maksudnya?" tanya Miyon seraya memiringkan kepalanya tanda bingung.

"Artinya mereka akan saling terhubung satu sama lain. Dan jika salah satu dari mereka mati, maka yang lainnya juga akan mati," ujar Jin sambil menghela napas.

"Egh apa-apaan itu. Lalu kenapa tidak kau saja yang memberi darah pada Akira. Kau kan bukan vampir Blackrose?!" seru Miyon keras.

"Memang sih, tapi jika ia meminum darahku. Dia tidak akan mendapatkan kekuatan apapun dariku, karena darahku sudah tidak murni lagi(?). Berbeda dengan Kazusa, sekarang di dalam tubuh Akira sudah mengalir darah murni yang diberikan oleh Kazusa. Jadi sekarang ini Akira adalah vampir bangsawan, setingkat denganku," jelas Jin santai.

"APA KAU BILANG?!"

"Arrgghhh!"

Jin, Miyon, dan Yuuki langsung menghentikan permbicaraan mereka dan menoleh pada Akira yang sudah melepaskan pelukannya dari Kazusa dan mengerang kesakitan.

"Akira, kau tidak apa-apa?" tanya Miyon dan Yuuki yang langsung berlari menghampiri Akira. Sedangkan Jin menghampiri Kazusa yang sedang duduk tidak jauh dari Akira.

"Kazusa, kau baik-baik saja. Wajahmu pucat," ucap Jin dengan raut wajah cemas.

"Iya, aku baik-baik saja. Sepertinya aku harus minum darah lagi karena sepertinya aku cukup memberinya banyak darah," ucap Kazusa sambil memegangi bekas gigitan Akira pada lehernya yang perlahan-lahan mulai menghilang. Keringat dingin bercucuran dari pelipisnya.

"Kalau begitu kau minum darahku saja," ujar Jin tiba-tiba.

"Egh ta-tapi apa tidak apa-apa, Jin?" tanya Kazusa ragu.

"Tentu saja tidak apa-apa. Lagipula aku juga tidak tega melihatmu lemas seperti ini," ucap Jin sambil memalingkan wajahnya. Terlihat ada sedikit rona merah pada kedua pipinya.

Kazusa yang melihatnya hanya tersenyum. Dia langsung memeluk Jin dan membisikkan sesuatu pada telinganya. "Arigatou. Aku menyukaimu Jin." Dapat dilihat wajah Jin langsung memerah seperti kepiting rebus. Kazusa hanya terkikik geli melihatnya. Setelah itu dirinya langsung menancapkan kedua taringnya dan meminum darah Jin.

"AKIRA?!"

Tampak Akira memegangi tubuhnya yang terasa panas. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam tubuhnya yang bergejolak. Kukunya yang tumbuh panjang dan menghitam tadi mulai kembali normal. Matanya yang tadi membulat besar sudah kembali normal meski warnanya masih merah. Deru nafasnya juga sudah kembali teratur.

"Kalian." Kata itulah yang pertama kali diucapkan oleh Akira. Setelahnya Akira langsung jatuh pingsan dan buru-buru ditahan tubuhnya oleh Miyon dan Yuuki agar tidak jatuh.

"Akira, semuanya baik-baik saja. Yah, semuanya baik-baik saja."


~Vampire Game~


Karin POV

Aku berlari sampai ke atap gedung dan aku tahu kalau Kazune mengejarku. 'Kenapa… kenapa dia mengejarku,' batinku bingung.

"Kumohon Karin berhentilah. Percayalah padaku."

"Apa aku harus percaya padamu, pada makhluk yang sudah menghabisi orang tuaku… makhluk yang sejenis denganmu. MAKHLUK YANG HAUS AKAN DARAH?!"

"Gomen, aku tahu aku salah tidak mengatakan hal yang sebenarnya padamu sejak awal. Tapi aku takut, aku takut kau akan membenciku seperti ini."

"AKU MEMANG MEMBENCIMU KAZUNE. BENCI BENCI BENCI?!"

"Aku tahu, tapi ijinkan aku untuk menolongmu kali ini."

"Kenapa… kenapa kau masih ingin menolongku padahal aku…aku sudah mengatakan kalau aku membencimu," ucapku bergetar. Saat ini aku merasakan bulir-bulir air mata mulai membasahi pipiku. Aku menangis.

Sekarang ini kami berdua sudah sampai di atap gedung. Dia berjalan mendekatiku dan aku berjalan mundur seiring dia yang melangkah mendekatiku. "Jangan mendekat!" seruku padanya.

Aku merasakan punggungku sudah menabrak pagar pembatas yang artinya aku sudah tidak bisa melarikan diri lagi. Rasa sakit mulai menjalar lagi pada tubuhku. Bahkan terasa lebih menyakitkan. Nafasku kini sudah tersengal-sengal. Otakku sudah tidak bisa diajak berpikir jernih lagi. Kazune yang kini sudah berada di hadapanku berbisik lembut padaku.

"Kau tidak akan berubah menjadi oni, aku pasti akan menolongmu," ucapnya seraya tersenyum lembut kepadaku.

"Pembohong!" seruku keras padanya dengan air mata yang semakin membanjiri wajahku.

"Tidak Karin, aku benar-benar ingin menolongmu seperti janjiku dulu yang akan selalu menjagamu," ucap Kazune lirih.

Mataku langsung membulat begitu mendengar perkataannya.

"Jangan takut, aku akan menolongmu."

"Benarkah?"

"Iya, aku akan selalu menjagamu. Jadi kau jangan takut ya." (Baca chapter 1)

Selagi aku masih disibukkan dengan pikiranku. Kazune membuat sebuah goresan dari tangannya dan darah berwarna merah yang pekat mengalir lembut dari goresan tersebut. Darah itu langsung berubah menjadi sbeuah tali yang tiba-tiba langsung mengikat tanganku ke pagar yang berada di belakangku. Seketika luka goresan tadi langsung menutup kembali.

"APA YANG KAU LAKUKAN? LEPASKAN AKU?!" teriakku meronta-ronta.

"Tidak, aku tidak ingin kau menjadi monster yang haus darah. Makanya aku akan menolongmu," ucap Kazune tegas.

Angin yang dingin kembali bertiup. Bulan pernama kembali ditutupi oleh awan hitam dan keadaan disana seketika menjadi gelap. Dan begitu sang rembulan kembali memancarkan sinarnya. Aku dapat melihat Kazune yang sudah berada dekat denganku. Kedua matanya yang semula berwana biru sapphire yang indah telah berubah warna menjadi merah semerah darah.

"Maafkan aku Karin."

Perlahan dia membuka mulutnya dan aku dapat merasakan kedua taringnya menusuk menembus keher kananku. Bau darah langsung tercium oleh indra penciumanku.

Kazune meminum darahku.

Aku berusaha memberontak tapi hasilnya tentu saja sia-sia. Karena selain kedua tanganku yang diikat. Tubuhku juga sudah terasa lemas sekali akibat sakit yang kuderita tadi.

"Kumohon, hentikan Kazune," ucapku lirih. Aku kembali menangis.

Akhirnya Kazune berhenti meminum darahku begitu mendengar permintaanku. Dan dapat kulihat sosoknya yang berlumuran darah. Darah yang mengalir dari mulutnya dan menetes ke tanah. Darah yang membekas di dekat mulutnya. Itu darahku.

"Sekarang aku tinggal membuatmu untuk meminum darahku. Maka kau akan selamat."

"Tidak, aku tidak mau meminum darahmu. Aku tidak mau menjadi makhluk sepertimu," ucapku sambil mengeleng-gelengkan kepala dengan kuat.

"Gomen, tapi aku harus melakukannya meskipun dengan cara pemaksaan."

Kazune kembali membuat goresan pada tangannya, bedanya kali ini Kazune meminum darahnya sendiri. Setelah itu ia kembali mendekatiku seperti tadi. Dia sedikit memiringkan kepalanya lalu mendekatkan wajahnya pada wajahku. Dia membuka mulutnya yang sudah penuh darah dan dia menciumku.

(Bella : *BLUSH*)

(Kazusa : Kenapa author yang blushing. Harusnya kan Karin -_-)

.Bukan, dia bukan menciumku. Lebih tepatnya dia meminumkan darahnya ke mulutku, memaksaku untuk meminumnya.

"Eemmm!" Aku tidak bisa berbicara, dia masih meminumkan darahnya kepadaku. Aku kembali meronta, tapi apa daya darahnya sudah terlanjur masuk ke dalam tubuhku. Semuanya.

Setelah semua darahnya sudah masuk ke dalam tenggorokanku. Kazune langsung melepaskan diri dariku. Tampak wajahnya sedikit merona merah. Dia menatapku dalam-dalam. Seketika aku merasakan tubuhku terasa sakit sekali. Aku langsung meringkuk kesakitan begitu Kazune melepaskan ikatan talinya dari tanganku.

"Arrghhhh!" teriakku yang tidak mampu lagi menahan rasa sakit ini.

"Bersabarlah Karin, tubuhmu sedang menyesuaikan diri dengan darahku. Memang sedikit sakit, tapi bertahanlah," ucap Kazune seraya memelukku yang sudah lepas kendali.

Sekarang aku dapat melihat pantulan wajahku pada bola mata aku dapat melihat warna mataku yang semula berwarna emerald telah berubah menjadi merah ruby.

'Ini tidak mungkin, tidak mungkin aku berubah menjadi vampir,' baitnku shock.

Rasa sakit itu perlahan-lahan mulai lenyap. Sekarang aku benar-benar sudah tidak bertenaga lagi. Aku lelah untuk berteriak, meronta maupun berdiri. Dan langsung saja aku menutup kedua mataku.


~Vampire Game~


Kazune POV

Aku langsung menangkap tubuh Karin begitu ia tidak sadarkan diri. Kini dia tampak seperti putri tidur yang manis. Aku segera menggendongnya seperti tuan putri dalam buku dongeng untuk membawanya pergi.

"Aku janji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan selalu melindungi karena aku sangat mencintaimu," bisikku lembut padanya.

Dan samar-samar aku melihat dirinya tersenyum tipis dalam tidurnya. Aku tersenyum membalas senyumannya yang mungkin belum tentu ia tujukan padaku. Setelah itu aku membawanya pergi di bawah sinar rembulan.

.

.

To Be Continued

.

.

Please Review


Session Talkshow

Bella : Minna gimana ceritanya? Baguskah atau biasa-biasa kah?

Akira : Author sendiri gimana keadaanya?

Bella : Wah Akira tumben perhatian sama Bella. Tenang saja Bella cuma kecapekan soalnya habis latihan dance buat pensi sekolah.

Akira : Yah kirain author mau mati (dengan nada kecewa)

Bella : APA KAU BILANG?! (langsung nimpuk Akira pakek baskom)

Niimi : Tapi athor kenapa aku nggak muncul lagi dalam fanfic ini T.T

Akira : WTH! Kenapa ada Niimi disini?

Niimi : Hei hei, aku kan juga OC-nya author -_-

Yura : Tapi author, tumben minta ditemenin. Biasanya kan sama anak-anak KK?

Akira : Ehhh bahkan Yura ada!

Bella : Hehehe nggak, mereka lagi nyiapin kejutan untuk chapter terakhir nanti. Jadinya aku minta bantuan sama kalian untuk balas review.

Akira, Niimi, dan Yura : ….

Dalam hati

Akira : Ugh Kazusa nyebelin, kenapa nggak ngajak aku juga biar aku nggak usah ikut balas review.

Niimi : Hah sebenarnya aku lagi malas saat ini, tapi kalau aku nolak pasti nanti aku digorok sama author.

Yura : ….

Bella : Balasan pertama buat viona-chan. Gomenne kalau masih kurang panjang T.T. Bella sudah semampu Bella bikinnya. Semoga kali ini Bella termasuk update kilat.

Akira Yang kedua untuk ryumi kimaro. Arigatou sudah dibilang keren fic bikinan author. Dan makasih juga sudah dibilang cocok dibikin anime.

Niimi : Berikutnya buat mikasa hanazono. Iya, bakal dilanjutin kok. Tinggal satu chapter lagi. Ditunggu ya.

Yura : …..

Bella : Yura, ngomong dong!

Yura : A

Bella : Maksud Bella bacain balasan review-nya! (teriak pakek toa)

Yura : Untuk shadow. Makasih sudah review.

Bella, Akira, dan Niimi : …

Bella : Selanjutnya untuk Hime Azuya-chan. Makasih sudah dibilang keren. Semoga rasa penasarannya sudah terpenuhi.

Akira : Buat jj, jg, jin, karin, kazune, dan himeka. Makasih untuk nilainya, semoga chapter ini lebih memuaskan.

Niimi : Berikutnya buat TsukiRin Matsushima29. Arigatou sudah pengertian sama author dan nggak apa-apa kalau terlambat review. Author nggak bakal ngamuk kok.

Yura : ….. Untuk Merin Hinamori 16. Makasih sudah review.

Bella : Dan dukungannya, arigatou.

Akira : Selanjutnya untuk ai miyano. Memang begitu, kalau ditulis di buku atau lewat hape. Jadinya pasti panjang. Tapi kalau sudah baca lewat laptop. Yah para readers tahu sendiri lah.

Yura : Untuk Fuyuki-hime. Makasih sudah review.

Niimi : Dan yang terakhir tapi bukan yang terakhir. Buat Lyn Kuromuno, gomen kalau chapter kemarin lama. Tapi setidaknya kali ini nggak terlalu lama kan.

Bella : Yosh semua review sudah dibacakan. Terimakasih untuk semua yang sudah review. Jangan kapok untuk review lagi ya.

Akira : Tinggal satu chapter lagi author. Ganbatte!

Niimi : Iya nggak nyangka akhirnya fic ini bakal tamat juga.

Yura : Akhir kata-

All : Sampai jumpa di chapter terakhir!