Standard disclaimer applied.
I do not own Naruto. No material profit was taken.
Knight, Hunter, and Queen
a Naruto fanfiction
.
Chapter XIII
Sasuke berharap waktu istirahatnya malam ini bisa setenang malam-malam biasanya. Namun dengan kehadiran pemuda blonde di kamarnya, Sasuke harus gigit jari. Dia sudah belajar banyak selama mengenal Naruto dan ketenangan bukanlah satu hal yang bisa dia peroleh dengan mudah, kecuali dengan sedikit kekerasan dan tatapan sengit setajam belati.
Setelah pindah ke asrama mereka selama hampir dua minggu, Naruto sudah benar-benar merasa berada di rumah sendiri. Dengan sikapnya yang terbuka dan periang, dia berhasil menyesuaikan diri dengan keseharian mereka hanya dalam dua hari. Kehadirannya tentu saja menambah keramaian gedung yang biasanya hening itu. Dan karena tidak ada ruang kamar yang kosong untuk menampung Naruto, para penghuni pria lain sepakat, dengan berat hati, bergiliran merelakan kamar mereka untuk dibagi bersama Naruto setiap beberapa malam sekali.
Dan ini adalah waktu bagi Sasuke untuk menyerahkan kuasa penuh atas kamarnya dan dengan berat hati mempersilahkan Naruto mengusung futonnya ke kamar Sasuke. Malam ini, sayangnya, Naruto memutuskan untuk mengeluarkan semua kemampuan dan kegigihannya untuk bicara dan belum ada satu hal pun yang mampu membuatnya berhenti. "…Akademi semakin membosankan saja. Aku juga jarang bertemu Sakura-chan." Ocehannya terus berlangsung nyaris satu jam dengan keriangan dan semangat yang tak sedikit pun berkurang dari menit pertama. Naruto tersenyum penuh arti ketika menangkap kilat di mata Sasuke begitu mendengar nama Sakura disebut. "Aku hanya sempat bertemu dengannya di beberapa kelas dan jam istirahat."
Sasuke mendengus. "Salahmu," tuduhnya menggumam.
"Salahku?" protesnya tak terima. Naruto duduk bersila di atas futon yang telah dibentangkan di dalam kamar Sasuke. Tangannya bersedekap di depan dada. Dia memberengut ke arah Sasuke yang sedang duduk di atas kursi putar dengan sebuah buku terbuka di hadapannya.
"Mengganti jadwalmu," jawab Sasuke sekenanya. Matanya masih tetap teguh diarahkan ke buku yang tengah dia baca. Pensil mekanik diputar-putar di sela jemarinya yang panjang.
"Kalau kau tidak begitu gigih menghindariku, aku juga tidak akan repot-repot mengganti jadwal untuk mengikutimu." Dia masih menggerutu dengan wajah kesal dan kening berkerut.
"Dan kenapa juga aku harus membiarkanmu mengikutiku?"
Naruto menggeraman dari balik tenggorokan. "Kurasa kita berdua sudah tahu kenapa."
Sasuke hanya menaikkan alisnya pada buku yang tengah dia baca. Siku kirinya menumpu meja dengan tangan yang menahan dagu. Dia tidak menunjukkan gelagat peduli terhadap Naruto dan obrolan sepihaknya, tetapi dia tahu Naruto sadar bahwa dia tetap mendengarkan, walaupun itu semata-mata karena Sasuke punya dua telinga yang masih berfungsi baik dan mau tidak mau dia bisa mendengar suara Naruto yang keras.
Keduanya sudah saling kenal dari usia dini. Tujuh tahun tepatnya. Mereka memang tidak sering bertemu karena mereka tinggal di dua megapolitan yang letaknya berjauhan. Namun, karena mereka berlatih di bawah nama satu dojo yang sama, setiap sebulan sekali mereka bertemu dalam latih tanding. Di kesempatan itulah dia bertemu Naruto dan kesulitan menyingkirkannya sejak pertemuan pertama mereka.
Pemuda pirang itu terus mengganggunya dan sebanyak apa pun Sasuke ingin menghajarnya, dia tidak bisa. Dojo mereka melarang perkelahian antarmurid di luar latih tanding, paling tidak itu hanya berlaku selama mereka masih berstatus murid. Tepat di hari kelulusan mereka dari dojo, tiga tahun lalu, Naruto langsung menghadiahkan tinju ke rahang Sasuke—dan sejak itulah mereka saling baku hantam tiap kali ada kesempatan bertemu.
Hubungan tidak sehat semacam itu jelas tidak bisa dikategorikan sebagai hubungan pertemanan. Naruto terlalu berisik, sementara Sasuke tidak tahan dengannya dan dia tidak pernah menghiraukan keberadaan Naruto, kecuali untuk masalah mengetes kekuatan pukul. Tidak heran jika hingga kini Sasuke tidak paham kenapa banyak temannya mengomentari kedekatan mereka. Dia benar-benar tidak tahu dari mana datangnya komentar sejenis 'kalian akrab sekali!' atau 'dia sahabatmu, Sasuke?' atau malah 'wah, mesranya!'. Sasuke menganggap komentar-komentar semacam itu jelas tidak relevan, mengingat hubungan bobrok mereka sepuluh tahun belakangan ini.
Bahkan Shikamaru dan Neji pun beranggapan sama. Walaupun dulunya mereka berdua tidak berkomentar, kini setelah mengenal Naruto dengan lebih baik, justru mereka yang paling keras menyuarakan sikap setuju mereka terhadap opini teman-temannya dulu. Sasuke hanya mendengus menanggapinya, merasa tidak ada perlunya menjelaskan situasi rumit itu.
Di balik sikap sikap dingin dan tak mau tahu Sasuke mengenai Naruto, ada satu sudut kecil dalam dirinya yang diam-diam mengakui keberadaan Naruto sebagai rivalnya. Tak peduli sebanyak apa pukulan atau tendangan atau makian yang keduanya saling pertukarkan, tak ada yang memahami Sasuke lebih baik dari Naruto dan tak ada pula yang menganggap Naruto lebih serius dari Sasuke. Dua pemahaman itu tentu saja tidak pernah disuarakan masing-masing.
"Kau membuatnya terdengar seperti salahku," respon Sasuke dengan mimik muka impasif.
Naruto menimpalinya dengan seringai lebar. Matanya yang sebiru langit cerah di hari musim panas gemerlap. Namun seolah baru saja menelan pil pahit, wajahnya berubah masam dengan cepat. "Kau akan meninggalkan akademi bulan depan, 'kan?"
"Hn." Maknai itu sebagai 'ya, idiot.'. Naruto diam-diam mencatat dalam batin.
"Kau akan jadi ANBU sepenuhnya. Apa kau akan tetap tinggal di sini?"
Ada jeda dua detik penuh sebelum sebuah "Hn" kembali mengudara.
Untuk yang ini, Naruto berani bersumpah artinya 'tidak tahu'.
"Kau…senang di sana?"
Begitu selesai menanyakannya, Naruto buru-buru menampar mulut. Dia tidak cukup idiot untuk meneruskan pertanyaan paling konyol bagi Sasuke ketika segulung tebal kertas dilempar tepat di keningnya. Lemparan itu cukup banyak menjawab. Sasuke tidak senang. Naruto justru jauh lebih takut jika dalam topik ini Sasuke memberinya jawaban berbeda. Ketidaksukaannya terhadap ANBU bukanlah satu hal yang bisa ditutupi dengan mudah. Naruto heran kenapa Kakashi-sensei masih memaksa membawa Sasuke masuk ke ANBU walaupun pria itu sudah mengetahui keengganan Sasuke dengan baik.
Ada pikiran tajam yang sengaja Naruto tutupi dengan tingkah konyol dan berisiknya. Bermain peran tentunya bukan hal yang sulit baginya, bukan? Mengingat selama bertahun-tahun hal itulah yang menyelamatkannya dari kecurigaan orang-orang di sekitarnya. Ketika bermain peran adalah sebagian hidupnya, kebohongan adalah karibnya. Dia telah banyak berbohong kepada orang-orang yang dikenalnya. Dia mengarang berbagai macam cerita tentang keluarga sesungguhnya yang tidak pernah dia miliki. Dia juga mengarang berbagai tawa dan candanya. Namun, kehadiran Sasuke di sini seolah mengingatkannya. Dia tidak lagi memerlukan kebohongan untuk melindungi dirinya. Bertahun-tahun mengenal Sasuke, Sakura, Kakashi, juga teman-temannya yang lain, dia tahu bahwa kini mereka lah yang akan melindunginya. Pemikiran itu semakin membulatkan tekadnya untuk mengakui jati dirinya hari itu.
"Sasuke…"
Mulanya Sasuke tidak ingin merespon, tetapi mengingat jarang sekali dia dipanggil dengan benar oleh Naruto, Sasuke memutuskan untuk memutar kursi. Kalau sudah memanggilnya begitu, biasanya Naruto ingin bicara serius. Semoga saja kali ini benar. Wajahnya masih sama tenangnya saat mengamati ekspresi muram di wajah Naruto.
"Hn."
Naruto terdiam lama hingga membuat Sasuke kembali mempertanyaan keputusannya untuk berbalik. Mungkin pemuda itu sedang bercanda, pikirnya. Baru sesaat sebelum Sasuke memutuskan untuk kembali berbalik, Naruto bicara. "Apa kau tidak merasa ini benar-benar konyol?" tanya Naruto dan Sasuke menaikkan alis sebagai respon. "Mugen no ko ada di depanmu."
Sasuke mengambil jeda sesaat untuk mengamati ekspresi Naruto yang tidak mudah dibaca. "Itu yang mengganggumu belakangan ini?"
Naruto mengangkat wajah dan ganti memandang Sasuke. "Apa maksudmu?"
Sasuke mengangkat sebelah bahu ringan dengan gaya tidak-pedulinya. "Kau terlihat muram akhir-akhir ini."
"Hmm," gumam Naruto mengambang.
Percakapan keduanya terhenti sejenak. Mereka membiarkan suara detak jarum jam terdengar lantang di antara keduanya.
"Kau khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan?"
Setengah hati, Naruto mengangguk membenarkan.
"Kau harus menanyakan langsung kepada mereka. Bagiku, itu menjelaskan banyak hal."
Dikerutkan keningnya dalam-dalam. "Apa maksudmu?"
"Dari mana asalnya kekuatanmu," jeda, "dan kebodohanmu, tentu saja." Sasuke menyeringai.
"Hei!" Naruto membeliak protes.
"Tak jadi soal. Paling tidak, aku masih punya sansak hidup yang layak."
Naruto tersenyum mendengus mendengar nada suara sombong dan dingin yang hanya bisa Tuan Sasuke ciptakan. "Kau akan kalah dalam lima menit jika aku sudah serius."
Sasuke ikut mendengus tanpa senyuman. Dia kembali memutar kursinya dan mencari posisi nyaman untuk melanjutkan belajarnya. "Mimpi saja."
Senyum Naruto melebar. Dia biarkan sejanak keheningan melenakan Sasuke sebelum dia kembali mengusik sang rival.
"Aku ingin tahu apa Sakura-chan sudah berdamai dengan Ino."
Dengan mata memicing kesal karena diganggu lagi, Sasuke menatap Naruto dari balik bahu. "Ino?"
Naruto menggerutu. "Kau tidak tahu atau tidak sadar atau tidak peduli?" tuduhnya. "Terakhir kali mereka bertemu Sakura-chan dituduh sebagai pembunuh dan Ino lari ketakutan. Aku khawatir bagaimana mereka berdua bicara sesudahnya."
Ino? Sasuke bertanya dalam batin. Satu-satunya orang yang lari ketakutan hari itu hanya seorang gadis berambut pirang pucat yang tidak dia ketahui namanya—dan kini dia tahu. "Mereka dekat?"
"Mereka sahabat dan sangat dekat satu sama lain," jawab Naruto cepat. "Tapi bahaya sekali jika keduanya bertengkar."
"Dan meski begitu, dia lari ketakutan?"
Naruto mengerling ke arah Sasuke sesaat sebelum menjatuhkan tatapan matanya ke lantai. "Kau tidak bisa menyalahkannya."
Sasuke memicingkan mata semakin tajam dan kali ini sudah sepenuhnya memutar kursi menghadap Naruto. "Praktisnya, dia membuat Sakura luar biasa syok."
Dihelanya napas pendek. "Mereka sama-sama perempuan. Kejadian seperti itu pasti sangat mengerikan bagi mereka," bantah Naruto setengah membela Ino.
Cukup adil, tetapi bukan berarti Sasuke akan melupakannya begitu saja. Dia masih ingat jelas bagaimana ekspresi Sakura ketika melihat sahabatnya berbalik dan lari ketakutan. Kalau saja dia tidak lari tunggang langgang seperti itu, mungkin keadaan Sakura tidak akan sampai seburuk itu.
"Semoga saja mereka sudah saling bicara," harap Naruto dengan desah panjang.
"Tidak cukup yakin."
"Sakura-chan benar-benar butuh teman yang mengerti dirinya, kau tahu."
Sasuke mengangkat bahu ringan, kemudian kembali menekuni bukunya. Dia catat baik-baik dalam kepalanya untuk mengecek keadaan Sakura besok.
.
Ditariknya napas panjang yang dalam, kemudian dihembuskan dengan berat. Wajah yang biasanya selalu mengumbar senyum itu tampak muram dengan guratan-guratan dalam di kening. Naruto yang duduk di depannya meringis prihatin.
"Sakura-chan?" panggilnya hati-hati.
Si gadis hanya memberi kerlingan sesaat dan kembali mengamati kuku-kukunya yang dipotong rapi. Bibirnya mengerucut. "Ada yang salah dengan ini semua," gumamnya.
"Apa yang salah?" tanya Naruto pelan setelah mengumpulkan segenap kesabarannya. Menghadapi Sakura yang sedang sedih tidak pernah berada dalam daftar panjang keahliannya.
"Semua ini. Salah."
"Apa salahnya, Sakura-chan?" Naruto turut menghela napas. Diam-diam dia mendambakan semangkuk ramennya tadi yang terpaksa dia tinggalkan hingga dingin demi meladeni Sakura.
"Rasanya ada yang salah."
Si gadis rambut gulali itu tampaknya masih bersikeras membingungkan Naruto.
"Sakura-chan…"
Tiba-tiba Sakura mendongakkan kepala dan langsung berhadapan dengan mata Naruto. "Ino…" Suaranya melemah dan dia kembali terdiam.
Mendengarnya, Naruto ikut bungkam. Aa, jadi perkara Ino yang membuat gadis itu kacau?
Dikulumnya senyum kecil, kemudian dia tepuk-tepuk punggung tangan Sakura yang diletakkan di atas meja kafetaria. "Bicaralah dengannya," ucapnya halus.
Sepasang mata hijau itu bergerak-gerak gelisah, berpindah dari sudut meja yang satu ke sudut yang lain. "Aku…aku takut, Naruto," cicitnya lemah.
Kali ini, dengan tangannya yang lebih besar, Naruto menggenggam tangan Sakura. Ibu jarinya bergerak membuat pola melingkar di kepalan tangan Sakura. "Apa yang kau takutkan, Sakura-chan?"
"Dia…" Sakura mengerutkan kening dengan ekspresi sakit seolah dipaksa menelan batu. Sudut-sudut dalam matanya basah. "Bisa saja dia… takut melihatku…"
Naruto memundurkan tubuhnya untuk melihat sosok Sakura yang rapuh. Sepasang alisnya naik ketika pemahaman atas ketakutan Sakura mengendap dalam kepalanya. "Hei…" Dia kembali memajukan tubuhnya seraya berbisik lembut, "ini sudah lebih dari satu bulan. Ino tidak punya alasan untuk takut terhadapmu. Kau bukan pelakunya, Sakura-chan."
Dengan tenaganya yang kuat, Sakura balas menggenggam tangan Naruto. Beruntung Naruto pada dasarnya punya kelebihan tenaga hingga dia tidak harus meringis kesakitan digenggam sekuat itu.
"Tapi Ino tidak tahu… Dia…" Sakura berhenti bicara ketika suaranya tercekat di tenggorokan. Wajahnya menampakkan pilu yang menghujam dada Naruto. "Dia temanku, sahabat terdekatku, tapi…tapi kenapa…" Dengan tangan yang bebas, Sakura membekap mulutnya sendiri, mencegah degukan pilu lolos dari mulutnya. Ujung hidunya memerah dan matanya terpejam rapat untuk membentengi air mata yang nyaris tumpah. "Ino…dia menatapku dengan rasa takut seolah aku bisa membunuhnya kapan saja…"
Naruto mengeraskan rahangnya. Matanya terasa panas dan dada sakit. Lebih dari apapun, dia tidak tahan melihat Sakura begini. Mereka berdua tumbuh besar bersama dan belum pernah Sakura menunjukkan sisi lemahnya selama ini. Namun dalam waktu singkat, sudah berkali-kali dia dipaksa menyaksikan raut kesedihan yang sama.
"Hei, Sakura-chan. Kau juga paham 'kan, Ino sebenarnya tidak punya maksud seperti itu. Saat itu dia panik, sama seperti kami semua."
Sakura mengangguk pelan. Matanya masih terpejam rapat.
"Kau marah padanya?"
Kali ini, Sakura menggeleng. Pelan-pelan dia membuka mata, hanya membuat setitik air yang berkhianat lolos dari matanya.
Dengan kelembutan yang mencengangkan dari seorang manusia super, Naruto menyapukan jemarinya ke pipi Sakura dan menghalau air mata yang ada di sana. "Jangan menangis, atau aku tidak akan bisa memaafkan Ino."
"Tidak," jawabnya dengan suara parau. "Aku tidak akan menangis, jadi kau juga harus maafkan Ino. Seperti katamu, Ino tidak salah. Aku…aku hanya perlu bicara dengannya, bukan begitu?"
Sambil tersenyum lebar, Naruto mengangguk. "Benar sekali!"
"Aku akan coba menemuinya nanti," janji Sakura seraya memandang Naruto tepat di kedua matanya.
"Perlu kutemani, Sakura-chan?"
"Iie. Aku harus menyelesaikan ini sendiri, bukan begitu, Sasuke?" Kali ini, sepasang matanya memandang jauh melewati Naruto.
Pemuda pirang itu segera balik badan dan mendapati Sasuke berdiri tak jauh di belakangnya dengan kedua tangan tersembunyi di saku celana hitamnya. Gakurannya telah digantikan seragam musim panas yang lebih tipis; kemeja putih dan celana panjang abu-abu.
Melihatnya sosoknya, Naruto menggerutu. "Lucu. Sekali." Naruto bersedekap dan memberi Sasuke tatapan menuntut penjelasan. "Tadi kau bilang kau tidak akan datang."
Si pemuda memutar mata hitamnya. "Justru lucu kalau aku bilang kepadamu aku akan datang." Tanpa memedulikan protes Naruto, dia mendudukkan diri di samping Naruto.
"Lalu, apa yang kau lakukan di sini?"
Sasuke hanya sekilas menatap Sakura sebelum kembali memindahkan fokusnya ke Naruto. "Kakashi."
"Kakashi-sensei yang menyuruhmu? Untuk apa? Memangnya dia di sini?"
Menjawab pertanyaan tersebut, Sasuke hanya mengangkat bahu. "Tadi dia di ruang guru."
"Oh! Jadi kelas olah ragaku besok bersama Kakashi-sensei lagi?" Naruto menyeringai lebar. Sudah lama senseinya satu itu absen mengajar (yang baru Naruto ketahui alasannya karena perkara mugen no ko beberapa bulan belakangan ini).
Sasuke kembali mengangkat bahu.
"Jadi, kalian berempat akan ikut ujian akhir?" Sakura buka suara. Walaupun wajahnya tidak seceria biasanya, tetapi jejak-jejak air mata sudah tidak lagi tampak.
"Hn."
"Kapan, teme?"
Sudut-sudut dalam mata hitamnya berkedut saat mendengar panggilan menyebalkan itu, tetapi Sasuke tidak mengomentarinya. "Minggu depan."
"He?" rengeknya. "Tsumannai."
Mendengarnya, Sakura meloloskan tawa kecilnya. "Kau jadi tidak punya teman berkelahi, Naruto?"
"Itu bagusnya, tapi buruknya, aku tidak bisa kembali ke Osaka," respon Sasuke dengan dengusan sembari melirik Naruto dari sudut mata.
"Ha-ha," kata Naruto penuh sarkasme. "Lucu sekali, padahal tidak mungkin juga kau meninggalkan Sakura-chan."
Gadis di hadapan dua pemuda tersebut merona mendengarnya. Sementara itu, Naruto merintih di kursinya seraya memegangi kepala pirangnya dan Sasuke yang tetap tenang dengan dua tangan di dalam saku celana—puas bisa memukul kepala temannya.
"Ouch."
.
"Sakura-chan itu tidak lembut, tapi dia sangat sensitif."
Sasuke mengangkat satu alis mendengarnya. Tangan kanannya diangkat untuk menahan tendangan kaki Naruto yang datang dari arah kanan.
"Dia tidak menangis ketika sedih, justru akan tersenyum dan mengatakan semuanya baik-baik saja."
Satu tendangan ke perut bagian kirinya tidak bisa Sasuke hindari. Setelah menyeimbangkan dirinya lagi, dia menarik kerah baju Naruto kuat-kuat dan memukulkan lutut kanannya ke perut Naruto sembari berujar dengan rahang terkatup. "Pernah mendengar orang bilang 'kadang bukan air mata yang menunjukkan kesedihan, tapi justru senyum yang dipalsukan', Naruto? Tidak?"
Naruto mengangkat tinjunya dari bawah dan telak mengenai rahang Sasuke. "Heh."
Sasuke menggeram dari balik tenggorokannya ketika rasa panas merayap dari titik bekas tinjuan Naruto ke kepalanya.
"Aku hanya pernah melihatnya menangis dua kali." Satu pukulan melayang ke pipi kiri Sasuke, diikuti dengan tubuhnya yang terjengkang ke belakang akibat tendangan ke perutnya. "Sakura-chan menangis saat pertama kali dibawa ke akademi." Sambil berusaha menyeimbangkan diri, Naruto berujar. "Dan kematian ayahnya," dua tangannya mengepal di depan tubuh, sementara kaki kirinya selangkah di depan kaki kanan dan ditekuk. Helai-helai emasnya yang biasanya berantakan kini menempel di keningnya yang berkeringat. "adalah yang kedua." Dengan satu gerakan mantap dan cepat, Naruto berputar di atas kaki kirinya sebagai poros dan membawa kaki kanannya ke udara. "Dan aku tidak akan memaafkanmu untuk tangisan yang ketiga." Dengan memanfaatkan momentum putaran tubuhnya, Naruto menyarangkan tendangan ke wajah Sasuke, membuatnya jatuh terduduk di lantai gym.
Dengan tubuh oleng dan kaki lemas, Sasuke kembali menegakkan tubuh. Pipi kirinya berdenyut semakin kuat. Tendangan berputar Naruto tidak pernah main-main. "Bisa jadi yang ketiga adalah ulahmu."
"Hah. Kalau pun begitu, aku tetap tidak akan memaafkanmu. Kau seharusnya bisa melindunginya. Bukan begitu, Sasuke?"
Sasuke memicingkan mata, bersiap dengan dua tinjunya. Dia meringsek maju, kemudian mengarahkan dua tinjunya dan memberi Naruto pukulan beruntun.
"Tepat saat kau pertama kali mengarahkan tatapan kepadanya, dia sudah menjadi tanggung jawabmu," geram Naruto dari sela-sela pukulan Sasuke yang tanpa ampun.
"Kau banyak bicara, Naruto." Sasuke melompat mundur untuk menghindari tendangan bawah Naruto.
"Kalau kau sampai berani membuatnya menangis, kau akan lebih berharap tidak pernah melihat matahari, Sasuke."
Mata sewarna langit yang kini mendung oleh ancaman itu bertatapan langsung dengan sepasang mata kelam yang berkilat merah.
"Kurasa pesan-pesanmu sudah cukup." Sasuke memutar persendian tangan dan lehernya. Bunyinya yang gemeletuk nyaring membuat Naruto meringis seolah baru saja menelan cairan asam. "Satu hal, kalau-kalau kau lupa, dobe." Pemuda itu mendekat. Poni rambutnya jatuh menutupi sebagian mata jelaganya. Ekspresi wajahnya tidak menampakkan hal berarti kecuali sosok tenangnya yang berbahaya. Dia beringsut maju dengan langkah tanpa suara.
Naruto menelan ludah dan tanpa sadar mengambil langkah mundur.
"Akan ada aku, Neji yang bisa memisahkan kepala bodohmu dari leher hanya dengan dua jarinya, Shikamaru yang bisa membuat kau menghilang tanpa bekas dari muka bumi, Kiba dan Akamaru yang bisa memburumu hingga ke ujung dunia, juga ada Tenten yang bisa memakumu di puncak Tokyo Tower dengan sepasang sumpit, begitu kau membuat Hinata mengeluhkan namamu sekali saja."
Naruto memucat sambil megap-megap. "A–aku paham! Aku paham maksudmu!" Dia anggukkan kepalanya cepat dan berkali-kali hingga pandangannya mengabur dan kepalanya pusing.
Sepasang alis Sasuke terangkat tinggi. "Bagus," ujarnya tenang, kemudian menghantamkan tinju telak ke perut Naruto.
.
Ini kali pertama bagi Sakura untuk menginjakkan kaki di gedung asrama yang selama beberapa bulan ini dihuni murid pindahan Shimizudani dan yang baru-baru ini diinvasi oleh Naruto. Dia terbengong-bengong di ambang pintu masuknya yang berdaun ganda dan dengan kepolosan anak kecil, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
"Apa yang kau lakukan? Cepat masuk." Sasuke mendorongnya pelan dari belakang.
"Tempat ini nyaman. Lebih menyenangkan dari asrama kami."
Sasuke hanya meresponnya dengan bahu yang terangkat sekilas. Tangan kirinya menarik lengan Sakura dan membimbing gadis itu menuju lantai dua—yang sayangnya, saat itu, sedang luar biasa riuh.
"Oh! Kau tidak tahu, Kiba!" Terdengar suara keras seorang pemuda yang tidak akan Sasuke salah kenali sebagai miliki Naruto.
Membalas suara keras itu, Kiba balas berseru. "Mulut besar!"
Ketika Sasuke dan Sakura berhenti di anak tangga teratas, Sasuke serta merta menghela napas dan Sakura tersenyum geli melihatnya.
"Oh, Sasuke!" Tenten berseru dari balik kericuhan yang ditimbulkan Naruto dan Kiba. "Wah, Sakura!" Senyum selamat-datangnya menjadi lebih lebar ketika melihat Sakura balas tersenyum ragu. "Kemarilah!"
Sasuke hanya menggeleng sebagai jawaban. Alih-alih mengajak Sakura duduk, dia justru membawa Sakura naik ke lantai tiga. "Pinjami dia bajumu," ucapnya dari balik bahu.
Tenten yang, hebatnya, langsung paham segera memasang aksi hormat main-mainnya. "Roger."
.
"Kau sudah bicara dengan Ino?"
Sakura, yang sedang seru mengamati ruang pribadi Sasuke, mendongakkan kepala. "Oh, tentu!" Senyum lebarnya terkembang. Dia sudah mengganti seragamnya dengan kaus dan celana olah raga merah yang nyaman milik Tenten.
Sasuke mengangguk puas.
"Jadi, kau berbagi kamar dengan Naruto?" tanya Sakura dengan senyum yang tidak begitu berhasil dia tahan. Dua futon tebal dilipat rapi di dalam kloset yang sedikit terbuka. Di gantungan baju yang ada di sisi lemari, terdapat jaket hitam-oranye yang Sakura tahu hanya dimiliki Naruto. Dia tahu Sasuke tidak banyak menikmati kebisingan yang Naruto ciptakan. Berbagi kamar dengan pemuda itu tentunya tidak akan Sasuke lakukan dengan besar hati.
"Untuk beberapa hari ke depan, ya." Sasuke menjawab dari balik rahangnya yang mengeras.
"Naruto tidur mendengkur, bukan?" Senyum lebar yang nyaris menjadi tawa terbentuk di wajah Sakura. Mata hijaunya berkelip dalam binar geli.
"Jangan ingatkan akku. Awalnya kukira itu suara gemuruh gunung."
Tawa Sakura pecah. "Kau benar-benar punya keahlian bergurau dengan wajah datar, Sasuke-kun!"
Sasuke hanya menanggapi dengan gerutuan tak bermakna.
.
"Ke mana mereka pergi?"
Hinata memutar kran di bak cuci piring dan air bersih segera memenuhi piring-piring dan gelas-gelas kotor. Gadis itu menoleh ke arah Sakura yang sedang menyimpan sisa makanan di dalam lemari pendingin. "Ke ruang kerja mereka, Sakura-san."
"Kau bisa memanggilku Sakura saja, Hinata," ucap Sakura cepat. "Dan di mana itu?"
"Ruang bawah tanah."
Sakura berdecak kagum. "Kalian punya ruang bawah tanah juga?"
"Hanya satu dari sekian banyak ruang berdebu ANBU," jawab Tenten mengambil alih. Di tangannya ada sebuah lap basah yang baru dia gunakan untuk membersihkan meja makan. "Mereka memakainya sebagai ruang kerja sekaligus area latih tanding."
"Ah…" Sakura mengangguk paham. "Apa para ANBU juga sering keluar-masuk gedung ini?"
"Koreksi. Mereka berkeliaran," jawab Tenten dengan dengusan pendek. "Tidak banyak, sih. Biasanya hanya Kakashi-sensei atau Sai." Tenten mengambil jeda untuk menyuguhi Sakura tatapan memelasnya. "Atau lumpur."
Sakura tergelak dan Hinata meringis kecil.
.
Jam dinding di lantai dua menunjukkan pukul sebelas malam. Dengan dua piring besar di kedua tangan, Hinata menuruni tangga diikuti Tenten yang membawa satu teko penuh kopi dan sebotol penuh balok gula dan Sakura yang membawa tujuh mug di atas nampan. Menyiapkan makanan dan minuman merupakan aktivitas rutin tersendiri bagi Tenten dan Hinata semenjak keempat temannya dilibatkan dalam ANBU. Empat pemuda itu baru akan kembali setelah tengah malam, dan bagaimana mereka bisa bangun pagi esoknya, Tenten dan Hinata tidak tahu.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, ketiganya menuruni tangga melingkar gelap yang menghubungkan lantai satu dengan lantai di bawahnya.
"Bekerja keras seperti biasa, eh?" Tenten menyapa, mengundang lima kepala menoleh ke arahnya. Tiga kepala segera kembali mencermati pekerjaan masing-masing setelah mengucapkan terima kasih sedangkan Naruto dan Kiba buru-buru mendekati meja untuk mengambil kopi. Mereka memang kompak untuk urusan berisik dan perut. "Sampai tengah malam lagi?" tanyanya kepada Kiba.
Kiba menyesap kopinya sebelum mengangguk sebagai jawaban. "Shikamaru menemukan sesuatu dari CCTV."
"Kalian masih menyelidiki kasus itu?"
Kiba dan Tenten segera menoleh ke arah Sakura dengan kening mengerut. "Kami akan menangkap pelakunya, Sakura," jawab Kiba menenangkan.
"Terima kasih, Kiba," ucapnya disertai senyum tipis. Wajahnya berubah sendu, tetapi hanya sedetik karena tiba-tiba Sasuke sudah berdiri di sampingnya dan meletakkan sebelah lengannya ke balik punggung Sakura.
"Yo!" Tiba-tiba sapaan khas dan konyol itu terdengar. "Sakura."
Sakura berbalik. "Kakashi-sensei!" Dia tersenyum lebar menyambut senseinya yang santai seperti biasa. Begitu matanya bertemu pandang dengan sepasang mata hitam yang lain, senyumnya luruh dan diganti kerut samar di dahi.
"Sai." Sasuke bicara di sampingnya, memberikan anggukan kecil ke arah pemuda sebaya mereka yang berdiri di sebelah Kakashi.
Dua tamu itu segera beringsut mendekat ketika Tenten melambai dan menyuruh mereka mengambil gelas kopi.
"Wah, baru ini aku melihat gadis sejelek kau."
Mereka bilang dibutuhkan empat puluh dua otot untuk membentuk kernyit di kening dan hanya empat untuk menggerakkan lengan dan memukul kepala seseorang. Atas dasar itulah, sekarang tangan Sakura sudah bergerak cepat untuk menghantam kepala hitam yang ada di depannya. Suara pukulannya keras dan itu memuaskannya.
Sakura menaikkan alis, menikmati momen kemenangannya karena berhasil memukul seorang ANBU muda. "Bagus sekali, ANBU," pujinya dengan sarkasme. "Kau baru saja membiarkan seorang warga sipil memukulmu."
Sai memicingkan mata menahan erangan sakit. Kepalanya berdenyut. Tangannya bergerak mengusap bagian yang baru saja menjadi sasaran pukulan Sakura.
Di sebelahnya, Kakashi terkekeh. "Belajar dari kesalahan, Sai."
"Ya, Buntaichō." Sai menghela napas resah.
"Siapa dia?" Jari telunjuk Sakura tanpa ampun menunjuk Sai tepat di wajah.
"Dia juga anggota tim penyelidikan mugen no ko," jawab Sasuke sekadarnya.
"Oh," Sakura melipat tangan di depan dada.
Sasuke berdecak. "Ayo." Tanpa berpamitan atau menunggu tanggapan Sakura, dia sudah mendorong gadis itu menuju tangga spiral yang menyala redup.
"Selamat malam, Sakura-chan." Kakashi melambai dengan mata menyipit yang menandakan senyuman.
"Selamat malam, Kakashi-sensei."
Dia membiarkan Sasuke membimbingnya naik ke lantai tiga, kemudian ke salah satu kamar yang ada di sudut, yang merupakan kamar Sasuke.
"Aku akan tidur di sini?" tanya Sakura gamang di depan pintu yang dibiarkan separuh terbuka.
Sasuke masuk lebih dulu dan tanpa menghidupkan lampu kamar, dia mengambil futon dari lemari kloset. "Kau akan tidur bersama Hinata dan Tenten." Dengan futon di bawah lengan, dia melangkah menuju kamar yang berjarak dua pintu dari kamarnya. "Tidurlah." Dia ulurkan futon tebal itu ke pelukan Sakura yang masih bingung.
"Lalu kau tidur di mana?"
"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu."
Sakura mengerutkan kening dan tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Kakinya dipakukan sementara di sana.
"Sakura…"
"Sasuke-kun."
"Tidurlah. Sudah malam."
Sakura memberengut. Keningnya dikerutkan dalam.
"Sakura." Nah, keluar juga nada suara ini, nada suara memerintah yang sangat Sasuke.
"Hmph!"
Malam itu Sakura kira dia akan kesulitan tidur, mengingat dia tidak pernah terbiasa tidur menggunakan futon yang jauh lebih tipis dari kasurnya yang biasa di kamarnya. Namun nyatanya, begitu Sasuke membentangkan futon di tengah kamar dan memaksa Sakura berbaring di atasnya, kantuk segera menyergap. Dia bergelung dan membiarkan Sasuke menarik selimut hingga sebatas pundak. Dengan ucapan selamat tidur yang lirih dan nyaris tidak terdengar, Sasuke beringsut pergi dan Sakura akhirnya menyerah dan membiarkan kesadarannya ditarik ke bawah.
Malam itu, dengan ditemani selimut yang berbau luar biasa Sasuke, Sakura kembali memimpikan piknik di bawah pohon ginkgo yang rindang bersama ayah dan ibunya yang tidak lagi ada.
.
Keduanya sedang duduk di atap gedung akademi yang sepi. Dua pasang kaki mereka menjuntai ke bawah. Sepasang kaki yang lebih kecil, milik Sakura, berayun riang seirama dengan lagu yang sedang didendangkan.
"Ini salah satu tempat favoritku," ujar Sakura membuka percakapan. Dia menoleh untuk memandang Sasuke yang duduk di sisi kanannya. "Kau suka di sini?"
"Selain matahari musim panas yang luar biasa panas, tempat ini lumayan."
Di sampingnya, Sakura terkikik geli. "Kau bisa bergurau dengan wajah serius."
Sasuke mendengus. Dua tangannya tersembunyi di dalam saku celana. "Aku tidak bercanda."
"Semakin hari kau semakin mirip Kakashi-sensei. Kau sadar?"
Kali ini, Sasuke telah sepenuhnya memandang Sakura dengan mata terpicing. "Tidak. Dan tidak akan pernah."
"Kau betul-betul jadi mirip Kakashi-sensei," bantah Sakura dengan senyum lebar.
"Aku tidak memakai masker konyol dan aku tidak punya hobi membaca pornografi di depan umum."
"Selain dua hal itu, kalau begitu." Bahunya diangkat ringan. Kembali dia fokuskan perhatian ke gedung pemerintahan yang terlihat paling tinggi dari gedung-gedung sekitarnya.
"Tidak," bantah Sasuke tegas.
"Kau jadi punya hobi memasukkan tangan ke saku, seperti sekarang," Sakura memutar bola mata ketika melihat Sasuke buru-buru mengeluarkan tangan yang dimaksud Sakura, "kau juga semakin berbakat mengalihkan pembicaraan dan menghindari pertanyaan."
"Itu kebiasaan yang bisa siapa saja miliki."
"Kau juga sering terlambat!" tuduh Sakura. Mata hijaunya yang terpicing merefleksikan langit biru di atas mereka.
Mendengar tuduhan yang dia rasa tidak berdasar itu, Sasuke menggerutu. "Para ANBU suka sekali minta tolo—"
"Mari kita lihat, apa kau juga mewarisi alasan-alasan konyol Kakashi-sensei." Sakura buru-buru memotong. Tangannya bersedekap.
Merasa argumennya tidak akan disambut, Sasuke memutuskan untuk bungkam.
"Padahal aku dan Naruto sudah kenal Kakashi-sensei sejak kecil, tapi kami tidak punya kebiasaan sepertinya. Kau, yang baru beberapa bulan di sini, sudah menjadi replika Hatake."
"Aku bukan replikanya, Sakura."
"Ya, ya, ya. Bukan aku saja yang beranggapan begitu. Naruto dan Shikamaru juga."
"Shikamaru juga malas. Sangat."
Sakura memutar mata kekanakan. "Dia sih sudah malas sejak dulu!"
Benar juga. Bisa dikatakan, Shikamaru adalah perwujudan sempurna dari kemalasan. Belum pernah Sasuke menemukan satu hal yang membuat Shikamaru bersemangat. Hobinya hanya tidur, atau tidur-tiduran sambil mengamati awan. Pemuda itu sebenarnya punya kapasitas otak yang bisa membuatnya mengambil alih dunia, kalau saja kemalasan tidak mengambil alih dirinya lebih dulu.
"Apa makanan favoritmu?" Tiba-tiba Sakura membelokkan topik obrolan.
Tanpa memandang gadis di sisinya, Sasuke menjawab dengan kalem. "Onigiri."
"Hal yang paling kau kuasai?"
"Kenjutsu."
"Hm, kau punya saudara?" tanya Sakura ragu. Sudah jelas mereka tidak boleh membicarakan masalah latar belakang keluarga, tetapi entah kenapa hari ini Sakura benar-benar ingin mengetahui hal-hal tentang Sasuke yang tidak diketahui orang lain. Dia melirik Sasuke sekilas, berusaha menerjemahkan ekspresi terkendali yang ditampilkan wajahnya.
"Hn," jawabnya singkat tanpa maksud yang jelas.
"Siapa saja?"
"Kakak laki-laki."
Sakura sudah hendak membuka mulut untuk pertanyaan beruntunnya, tetapi buru-buru menghentikan diri dan memutuskan untuk mengganti pertanyaannya. "Kau berasal dari Osaka?"
"Hn."
"Apa yang biasanya kau lakukan di malam hari?"
"Menyelinap ke kamarmu."
"E-eh…" Sakura membungkam mulutnya dengan wajah memerah. Kebiasaan kecil mereka belum juga berubah. Sasuke masih sering menyelinap ke kamarnya malam-malam hanya untuk duduk di tepi jendela dan mengamatinya tidur. Aneh.
Melihat Sakura yang bungkam, Sasuke akhirnya mengambil alih pembicaraan. "Kau akan terus bertanya?"
"Uh, kau juga bisa bertanya. Akan kujawab semuanya!"
"Apa nama hewan peliharaanmu?"
Pertanyaan yang entah dari mana datangnya. Sakura tidak punya hewan peliharaan. Dia tahu betul itu. Walaupun begitu gadis itu tetap saja menjawab, menyebutkan nama apa saja yang terlintas dalam kepalanya. "Shiro."
"Kau bisa memasak?"
"Tentu."
"Kapan tanggal lahirmu?"
"Satu April."
"Golongan darah?"
"AB."
Sasuke mengerutkan kening setelah mendengar jawaban dari pertanyaan keempatnya. "Tidak satu pun benar."
"Aku tidak bilang akan menjawabnya dengan benar." Sakura berdalih, lalu menjulurkan lidahnya dalam gestur mengejek. "Lagipula kau sudah tahu semua."
Seulas seringai kecil terbentuk di satu sudut bibirnya. "Touche."
.
Malam kali ini terasa ganjil. Angin bertiup lebih ribut dari malam-malam sebelumnya dan seolah ada ruh-ruh yang membisiki telinga, berujar untuk tidak melangkah keluar rumah dan menutup rapat-rapat jendela. Seorang pemuda melangkah melintasi jalan kota yang sepi, melalui bayang-bayang panjang yang terbentuk dari gedung-gedung tinggi di kanan-kiri jalan. Langkahnya ringan, mantap, dan tanpa suara.
Di ujung jalan, dia berhenti dan mendongak. Wajahnya tertutup sempurna oleh topeng keramik tanpa hiasan apapun. Bulan yang pucat di balik awan mendung tidak mampu menyinari sosoknya yang kelam. Lagi, tanpa suara, dia menekuk lutut, mengarahkan tenaganya ke jari-jari kaki, dan melompat melewati dinding setinggi dua meter yang memagari rumah besar di dalamnya. Jubah hitamnya berkelebat cepat ketika tubuhnya meninggi, mengusap papan nama sang pemilik rumah: Suzuki Goto.
.
"Shikamaru,"
Yang memiliki nama menggeram rendah sembari membalik tubuh hingga tengkurap. Kesadarannya sudah akan kembali terbawa ke alam mimpi tepat ketika suara itu kembali memanggil namanya, kali ini dengan desakan.
"Shikamaru."
Dalam hati Shikamaru merutuk. Dia yakin betul matahari belum juga meretas, dan itu artinya dia belum mendapat jatah minimal tidur untuk hari ini.
Sial. Padahal sudah dia katakan untuk tidak membangunkannya jika keadaan tidak sedang gawat.
—Oh, sial… Jangan katakan—
Dia buru-buru menyentakkan diri bangun dari posisi tidurnya. Matanya terbelalak lebar dan tiba-tiba saja serangan pusing mengaburkan pandangannya.
"Ada apa?" tanyanya serak dengan tangan memegangi kening yang dikerutkan dalam. Begini ini jadinya jika dia dipaksa begadang dua hari berturut-turut dan baru sempat tidur, hmm berapa?—dia lirik jam dinding—tiga jam.
"Ada korban baru." Berdiri di sisi futonnya yang berantakan, Sasuke menunduk untuk memandang Shikamaru yang terperangah. "Suzuki Goto. Kurasa kau ingin melihat jasadnya."
.
"Tidak bisa dipercaya!"
"Luar biasa." Neji menggelengkan kepalanya dalam gestur tak percaya. Di depannya, puluhan lembar foto ditempel di papan kaca. Sama sekali tidak ada yang luar biasa dari foto-foto itu, kecuali laporan dari tim forensik yang melaporkan mereka tidak menemukan apa pun di tempat kejadian.
"Mugen no ko." Sai bergumam. Jemarinya menyusuri tepian lembar foto yang dia pegang. "Pekerjaan yang sangat bersih."
"Seperti pekerjaan asasin. Padahal mereka tak lebih dari tujuh belas tahun."
Tiga pemuda di sana menoleh serempak ke arah Kakashi yang sedang duduk di balik meja di ruang pribadinya. Di tangannya, sebuah kunai yang terasah tajam diputar-putar di jari telunjuknya.
"Apa yang kau pikirkan, Buntaichō?"
Pria itu menghela napas dengan wajah keruh. "Suzuki Goto tidak pernah masuk dalam daftar kita."
"Jadi, kau meragukan ini pekerjaan mugen no ko?" tanya Shikamaru.
"Tidak, tentu saja tidak." Kakashi menggeleng. "Seperti kata Sai, pekerjaannya sangat bersih. Kecurigaanku dengan cepat mengarah kepada mereka, tapi korban kali ini sungguh janggal."
"Anggota dewan yang bersih," ujar Neji menimpali. "Entah kita yang telah dibodohi Suzuki Goto, atau mugen no ko ternyata tidak lebih dari pembunuh."
"Apa pendapatmu, Shikamaru?" tanya Kakashi setelah beberapa saat terdiam.
Yang menjadi sasaran pertanyaan mengatupkan bibirnya rapat. Matanya berkantung hitam, tetapi pandangannya tetap awas ketika melihat deretan foto itu untuk kesekian kalinya. "Mungkin kedengarannya aneh, tapi," katanya lamat-lamat, "aku ingin percaya kepada mereka. Aku ingin percaya bahwa mereka bukan siapa yang selama ini kita pikirkan."
"Jadi dengan kata lain, Suzuki Goto tidak sepenuhnya bersih dan dia juga terlibat dalam proyek ini."
"Aa."
"Bagaimana denganmu, Neji?"
Untuk sesaat, pemuda itu melirik kembali sebuah foto yang berada paling dekat dengan tangannya. Keningnya mengerut, kemudian wajahnya kembali tenang. "Aku yakin ada motif tertentu di balik pembunuhan ini. Apapun motifnya, tetap perlu kita selidiki. Ada sesuatu yang tidak kita ketahui dari Suzuki Goto, sesuatu yang membuatnya menjadi sasaran perburuan mugen no ko. Apapun alasannya itu. Mereka tidak pernah bekerja secara acak, bukan begitu?"
Hatake Kakashi menganggukkan kepala, kemudian fokusnya berpindah ke Sai. "Dan kau, Sai?"
Dengan wajah tanpa ekspresinya, Sai balas menatap Kakashi. Mata dan rambutnya begitu legam, dan itu mengingatkan Kakashi kepada Sasuke yang pagi ini bertugas di lokasi.
"Aku tidak peduli apa motifnya, tapi aku yakin ini pekerjaan mugen no ko. Dan dia adalah orang yang berbeda dari kasus Haruno Kizashi dan Murataka Isshiki."
Shikamaru menaikkan sepasang alisnya tinggi. "Kenapa kau berpendapat begitu, Sai?"
Air muka Sai yang selalu serius kini, entah bagaimana, menjadi lebih tegang. Dia tampak ragu ketika melihat foto-foto itu, tetapi dengan cepat keraguannya hilang. "Aku tidak bisa memberi penjelasan logis." Dia arahkan tatapan ke arah Shikamaru yang masih menunggu jawabannya. "Aku hanya merasakannya ketika tiba di TKP. Hawa membunuh yang berbeda."
"Hawa membunuh?" ulang Neji bingung.
"Aa. Terkadang, kita bisa merasakannya," kata Kakashi. "Semacam insting. Pada beberapa orang dengan indra tajam dan pengalaman bertarung banyak, mereka bisa merasakan hawa yang tersisa di suatu tempat. Terkadang insting itu cukup membantu dalam memutuskan apakah suatu kasus merupakan kasus pembunuhan atau sekadar kasus bunuh diri."
"Jadi kau bisa merasakannya, Sai?"
Sai menjawabnya dengan anggukan mantap. "Yang ini hawa membunuhnya begitu kental dan dingin, seolah kau bisa mengecapnya di lidah."
Shikamaru mendesah. "Jadi maksudmu, kita kedatangan orang baru?" Digelengkannya kepalanya dalam gestur pasrah. "Pembunuh seperti apa sebenarnya mereka…"
.
[Edited 4/25/2017]
