TITLE : Cool & Tsundere
DISCLAIMER : Naruto milik Masashi kishimoto
AUTHOR : ^JeWon^
PAIRING : NaruHina
GENRE : Romance
RATED : T
WARNING : OOC , TYPO , EYD , DLL
Summary:(new summary) Seorang laki-laki yang terjebak oleh cinta pertama bertemu dengan gadis tsundere di sekolahnya. Duren-bakaaa/urusai, gadis aneh/em..pirang-baka/?. Perlahan buih-buih cinta tumbuh di antara mereka. Mind to RnR
Bad Sumarry _
Chapter 13
"Hah?" Hinata cengo. Hanabi menganga lebar sedangkan Hiashi hanya tersenyum sinis.
"Kau mempunyai nyali ya, Namikaze. Kau memang seperti ayahmu"
"Ha'I." Jawab Naruto mantap.
"Tapi maaf, Hinata telah memiliki calon suami. Aku rasa di rumahmu kau memiliki telivisi kan?"Hiashi melipat tangan nya dan menatap tajam Naruto.
"Otou-sama" Lirih Hinata.
"Begitu ya..." Naruto menunduk. Dia meremas ujung pakaian nya.
"Kalau begitu, pintu keluar ada di sana, Namikaze" Hiashi berbalik pergi.
"Hiashi-sama"Panggil Naruto.
Hiashi berhenti, tanpa menoleh ke arah Naruto.
"Ini perjodohan kan? Kita tidak tau bagaimana perasaan Hinata." Naruto menoleh ke arah Hinata yang menatap nya bingung. Laki-laki itu tersenyum menenangkan.
"Jadi saya masih memiliki kesempatan kan? Kalau begitu saya permisi." Naruto membungkuk sebentar dan berlalu dari sana.
"Naruto.." Hinata menatap Naruto yang perlahan menghilang dari pandangan nya. Dia tersenyum dan menunduk, gadis itu tak bisa menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipi nya.
Gadis itu, Hinata. Dia yakin sekarang. Bahwa cinta nya pada Naruto benar-benar nyata, bukan bualan nyata.
'Jadi ini rasanya saat seseorang membalas perasaan mu. Benar-benar menyenangkan' Hinata mengigit bibirnya menyembunyikan perasaan mengelitik di seluruh tubuh nya. Gadis itu memegang kedua pipinya dan berjalan ke kamar tanpa memperdulikan Hiashi yang mematung. Haah~ Cinta dapat merubah segalanya..
Malamnya...
Suasana makan khas Hyuuga berjalan damai seperti biasa. Hanya ada suara perpaduan garpu dan sendok. Di sisi kanan dan kiri berdiri para pelayan yang akan bergerak cepat saat tuan rumah meminta sesuatu.
Hanabi berhenti menyuap nasi kemulutnya. Dia merasa atmosfer tak mengenakkan dari dua orang di rumah ini. Gadis paling muda di rumah itu menoleh ke arah Neji yang juga menatap nya, dia memberi kode untuk melanjutkan makan nya sebelum sang kepala keluarga menyadari gelagat mereka.
"Hinata"Panggil Hiashi.
Neji dan Hanabi menoleh terkejut. Mereka mengedipkan mata nya beberapa kali.
"Ha'I" Hinata berhenti memotong daging.
"Setelah ini temui ayah di ruang tamu" Hiashi meminum air nya.
Hinata tak segera menjawab. Dia menghembuskan nafas sebentar sebelum melanjutkan acara makan nya.
"Ha'I, Otou-sama"
Hinata duduk di salah satu sofa di dekat ayahnya. Neji dan Hanabi ikut duduk di sofa. Mereka bertiga menatap sang kepala keluarga yang membaca koran. Entah berita apa yang sepertinya menarik perhatian Direktur Hyuuga corp itu sampai dia masih membolak-balikkan kertas abu-abu itu saat matahari sudah tenggelam.
"Kau sudah tau apa yang ingin ayah katakan kan?" Hiashi melipat koran nya dan meletakkan nya di samping. Laki-laki paruh baya itu meresap teh hangat di samping nya.
Seperti tadi, gadis itu tak segera menjawab. Dia meremas pakaian tidur yang di kenakan nya dan menunduk.
"Ha'I"
"Kalau begitu jauhi Namikaze Naruto. Mengertikan Hinata"
"Em.. Ha'I"
Neji dan Hanabi tak berkomentar. Mereka memandang Hinata kasihan. Sebagai kakak laki-laki, Neji memang tidak ingin Hinata berhubungan dengan laki-laki sembarangan tapi berbeda untuk Naruto, dia sudah mengenal laki-laki keturunan Namikaze itu, dia baik dan bertanggung jawab. Dan untuk Hanabi, gadis itu akan senang jika Hinata bahagia dengan pilihan nya tapi dari sudut pandangan nya malam ini, terlihat jelas bahwa Hinata sangat kecewa dengan perintah ayah mereka.
"Kalau begitu sebaiknya kalian tidur." Hiashi bangkit dan berjalan ke kamar nya.
"Otou-sama. Gomenasai" Panggil Hinata. Gadis itu berdiri dan membungkuk ke arah Hiashi.
Suasana mendadak sunyi. Hiashi berhenti berjalan dan menunggu anak gadis nya itu selesai berbicara, tanpa menoleh.
"Saya memang anak yang tak bisa di andalkan, saya selalu menyusahkan Otou-sama, saya selalu mengecewakan Otou-sama. Hontou gomenasai"
Hinata berdiri tegap dan menatap ayahnya yang masih setia di posisi tanpa menatap Hinata, seolah tau apa yang akan di bicarakan anak gadis nya itu.
"Saya ingin menjadi anak yang bisa di banggakan. Saya ingin menjadi puteri yang akan selalu di puji, Otou-sama. Saya saya berusaha mematuhi apa yang Otou-sama katakan."
Hinata mengambil jeda sebentar. Dia menghembuskan nafas nya. Entah berapa kali gadis itu menghembuskan nafas nya takut.
"Tapi... Untuk satu ini, gomenasai. Saya tidak bisa mewujudkan nya. Saya menyukai nya, Saya menyukai Naruto Namikaze dari hati saya. Belum pernah saya merasakan perasaan ini. Saya...saya.. Benar-benar menyukai ah tidak Saya mencintai nya dan ingin bersama nya." Ucap Hinata mantap dan lancar. Dia menghembuskan nafas nya lega seolah telah mengeluarkan beban besar yang ada dipundak gadis itu.
Di belakang, Hanabi dan Neji tersenyum lega. Mereka berhigh five.
"Kalau begitu.. Kau bukan puteri ku lagi, Hinata" Ucap Hiashi datar. Dia berjalan pergi meninggalkan Hinata yang syok.
Deg..
Hati Hinata mencelos. Senyum nya luntur seketika, begitu juga Hanabi dan Neji. Mereka saling berpandangan sebetar sebelum menoleh ke arah Hinata yang bergetar hebat. Walaupun begitu, mereka tak berniat membantu, karena mereka tau, Hinata perlu sendiri untuk menenangkan dirinya.
"Otou-sama" Lirihnya.
Mansion Namikaze
"Hah? Kau menantang Hiashi?"Minato menatap tak percaya anak laki-laki nya itu.
"Ha'I" Naruto tersenyum bangga. Seolah telah mengalahkan monster jahat yang menyakiti orang yang di sayangi nya.
Kushina bertepuk tangan. Dia berjalan ke arah Naruto dan menepuk-nepuk punggung nya. Perempuan itu terkekeh geli.
"Kau memang anak ku, Naruto. Ibu bangga padamu"
"Haah~ mau bagaimana lagi. Mungkin aku bisa berbicara dengan Hiashi besok"Minato menghela napas. Dia tersenyum tipis.
Naruto tersenyum senang. Dia memeluk Kushina.
"Arigatou gozaimasu Kaa-san Tou-san"
"Ha'I Ha'I. Sebaiknya kau tidur sekarang"Ucap Minato.
...
Keesokan harinya..
Naruto bersiul pelan di koridor. Dia tersenyum saat membayangkan Hinata. Laki-laki bahkan membalas lambaian para fans nya. Cinta benar-benar merubah segalanya.
"Ohayo Naruto-kun."
"Ohayo"
"Kyaaaaa"
Naruto hanya tersenyum menanggapi teriakan beberapa siswi di belakang. Sai dan Kiba bahkan melongo saat laki-laki itu mengusap kepala mereka.
"Di-dia kesambet apa?" Kiba dengan gemetar menyentuh kepala nya bekas usapan Naruto.
"Entahlah" Sai memilih mengindikkan bahu.
"A-aku merasa hawa mengerikan" Kiba mengusap leher nya.
"Ohayo Minna" Naruto membalas high five Sasuke.
"Kau sedang senang ya?" Shikamaru menguap bosan. Dia menyandarkan punggung nya ke tembok.
"Ya mungkin" Naruto nyengir.
"Kau benar-benar aneh" Gaara meminum habis air kaleng minuman nya.
"Mungkin" Naruto menepuk-nepuk bahu Gaara dan berjalan pergi meninggalkan anggota fox yang lain.
"Ketua kita semakin aneh"
"Ya kau benar"
"Naruto-kun" "Naruto-kun"
Naruto berhenti berjalan dan menoleh.
Sakura, Ino, dan Tenten berlari tergesa-gesa ke arah laki-laki itu. Mereka mengatur nafas sebentar.
"Ohayo" sapa Naruto riang.
"Ohayo" teriak mereka serempak.
Naruto tersentak kaget karena mereka berteriak tepat di hadapan nya. Melihat ekspresi mereka yang sedang tak bisa di ajak bercanda, Laki-laki itu memperbaiki raut muka nya dan memasukkan tangan ke kantong celana, Cool.
"Ada apa?"Ucap Naruto datar.
"Hinata.. Hinata.."Ucap Sakura panik.
"Ya ada apa dengan Hinata?"Naruto ikutan panik sekarang. Dia tak tau ekspresi nya yang pasti benar-benar jauh dari kata cool yang di sandang nya selama ini.
"Hinata tidak masuk sekolah. Saat kami menghubungi kakaknya, dia bilang Hinata tidak ada dirumah nya, dia kabur"Ucap Ino.
"Hah? Kabur?" Naruto terdiam sebentar. Berusaha memikirkan maksud kabur itu. Dia terkejut. Laki-laki itu segera berbalik cepat dan meninggalkan 3 gadis itu.
"Hei Naruto-kun"
Mobil sport biru itu menghilang dengan cepat dari halaman KHS. Naruto terus menginjak gas dan menambah kecepatan mobil nya.
"Gadis bodoh, kemana dia?" Naruto terus menghubungi nomor Hinata yang tidak aktif.
"Moshi-moshi"Ucap seseorang di seberang sana.
"Neji. Dimana Hinata sekarang?" Teriak Naruto.
"Aku tak tau Naruto. Saat pagi aku ingin men cek kamarnya, semua menghilang. Pakaian dan Hinata menghilang."
"Cih, kusoo" Naruto memukul kemudi nya.
"Naruto"
Naruto diam menunggu Neji yang tak kunjung bersuara. Dia mengigit bibir nya, bagaimana jika Hinata, gadis nya berbuat sesuatu yang mengerikan.
"Tolong cari Hinata. Dia juga mencintai mu, Naruto. Kemarin Hinata betengkar dengan Otou-sama. Mungkin sekarang batin nya sedang terguncang. Tolong cari dan lindungi dia, Naruto. Kau bisa berjanji kan"
Naruto terdiam sesaat. Dia tak bisa menahan senyum. Laki-laki itu berdehem sebentar.
"Tentu saja. Aku akan akan melindungi Hinata dengan nyawaku, Dattebayo"Naruto nyengir.
"Arigatou. Aku percaya padamu, Naruto no Baka"
Naruto memandang lurus kedepan. Dia meremas erat kemudi nya.
"Hinata.. Kumohon, jangan lakukan apapun yang hanya menyakiti mu. Tolong.. Bersandarlah padaku dan aku akan melindungi mu." Naruto menginjak gas mobilnya.
Di suatu tempat, dimana seorang gadis dalam diam menarik koper ungu nya tanpa tujuan. Dia semakin merapatkan mantel yang dia pakai.
Gadis itu berhenti berjalan dan mengusap kedua tangan nya mencoba mengusir rasa dingin yang menerpa nya.
Dia menatap sebuah pagar tinggi yang terlihat kokoh. Bibir mungil nya melirih kan sesuatu.
"Naruto"
Mansion Namikaze
"Kaa-san.. Kaa-san.. Kaa-san" Naruto berteriak mencari Kushina.
"Ada apa Naruto. Tenanglah" Kushina keluar dari dapur. Dia berjalan tergesa-gesa menghampir anak nya itu.
"Hinata kabur, Kaa-san."
"Hah? Kabur? Kemana? Kenapa?"
"Aku dengar Hinata betengkar dengan ayahnya kemarin. Dan dia kabur. Kaa-san menurutmu kemana dia? Aku sangat khawatir"
Kushina tersenyum lembut. Dia mengacak rambut Naruto.
"Bukankah sudah terlihat jelas. Menurutmu kemana seorang gadis yang kabur dari rumahnya yang mewah demi seorang laki-laki yang dicintainya?"Kushina menyeringai.
"Entahlah, Kaa-san. Aku tak bisa berpikir lagi. Aku sangat mengkhawatirkan nya"
Kushina terkekeh.
"Naruto-kun"
Tubuh Naruto menegang. Dia menoleh lambat ke belakang tepat ke seorang gadis bermantel ungu yang berdiri tegap menatapnya sambil menarik sebuah koper.
"Hi-hinata"
"Naruto" Hinata tersenyum.
"Hinata"
"baka.. Kau tau bagaimana susahnya aku mencari rumah mu. Diluar dingin tau" Hinata cemberut.
Naruto mengusap wajah nya. Laki-laki itu mengacak rambut pirang nya dan berlari memeluk erat tubuh gadis itu. Seolah tak ingin lagi kehilangan sosok yang telah merubah nya itu. Dia mencium rambut indigo Hinata.
"Aku mengkhawatirkan mu, gadis bodoh"
"Gomenasai" Hinata membalas pelukan Naruto.
"Aishiteru..Aishiteru.. Hinata"
"Ha'I, aku tau itu"
Kushina tersenyum. Dia berbalik kembali ke dapur tak ingin menganggu acara romantis mereka berdua.
Hinata terkekeh geli saat Naruto meletakkan beberapa selimut tebal di depan nya.
"Kenapa tertawa? Kau kedinginan kan?" Naruto menyergit bingung.
"Kau benar-benar bodoh"Hinata menutup mulutnya menahan untuk tidak tertawa.
"Hei, aku berniat baik lo." Naruto duduk di samping gadis itu. Dia memasang wajah cemberut.
"Ha'I ha'I. Arigatou Naruto-kun" Hinata mengacak rambut pirang laki-laki itu.
Naruto tersenyum lebar. Dia menyadarkan kepala gadis itu di dada nya dan memeluk tubuh nya.
"Hangat. Lebih hangat dari selimut itu"Lirih Hinata.
"Ha'I." Naruto semakin me'erat kan pelukan nya.
"Sebaik nya di sudahi dulu acara pelukan nya. Ayo kita makan"Suara Kushina segera menyadarkan dua orang itu.
Kushina dan Minato menatap acara suap-suap Naruto ke Hinata. Bahkan saat Hinata tersedak, dia langsung menyodorkan minum ke arah gadis itu.
"Hesh.. Membuat iri saja" Kushina mencibir.
Hinata mencubit lengan laki-laki itu menyuruhnya untuk berhenti.
"Biarkan saja, Hinata. Kaa-san memang jadi pencemburuan karena Tou-san selalu pulang malam"
"Naruto!" Kushina berteriak kesal.
Hinata tersenyum melihat keharmonisan keluarga Namikaze. Mengingat keluarga, dia jadi kangen dengan Hanabi, Neji dan Ayahnya.
"Naruto, ayah tak bisa membantu banyak untuk soal ini. Kau harus berjuang sendiri untuk kebahagian mu."Ucap Minato.
Naruto berhenti memakan nasinya. Dia tersenyum dan memamerkan jempol nya.
"Tou-san tenang saja. Aku sudah berjanji akan melindungi Hinata. Jadi biar aku sendiri yang menjaga nya"
Hinata terharu. Dia tersenyum lembut ke arah laki-laki itu.
"Arigatou" bisik Hinata.
Kushina dan Minato tersenyum lembut.
"Malam ini, kami akan pergi untuk melakukan perjalanan bisinis. Ibu akan menemani ayahmu ke Bali untuk mengurus masalah di sana. Kalian tak apa kan kami tinggal?" Kushina menatap khawatir dua orang itu.
"Tak apa, Kaa-san. Serahkan semua nya padaku" Naruto tersenyum.
"Baiklah. Jaga Hinata, Naruto. Jangan sampai kau membuatnya menangis"
Hari minggu. Hari yang cocok untuk bersantai. Naruto bersantai menonton Tv bersama Hinata yang ikut bersandar di dada nya.
"Naruto-kun"Panggil Hinata.
"Hem..?"
"Kau tak aneh?"
"Aneh kenapa?"
"Ya karena, sebelum ini. Kita selalu betengkar. Tapi sekarang kita malah seperti ini" Hinata mendongak menatap laki-laki yang tersenyum lembut dan mengelus rambut gadis itu.
"Entahlah."
"Kau sudah melupakan sarah?"Tanya Hinata hati-hati.
"Ya. Dia malah menyuruhku untuk jujur dengan perasaan ku sendiri."
Hinata tersenyum.
"Naruto-kun"
"Em?"
"Aku ingin cupcake."
"Hah?"
Hinata bangkit dan menoleh ke arah Naruto.
"Naruto-kun. Belikan aku cupcake."
"Kenapa tiba-tiba.."
"Aku malas memasak. Ya ya ya.. Belikan aku.. Naruto-kun kan baik" Hinata mengedipkan matanya.
"Tapi Hinata.."
"Naruto?!"
"Ha'I baiklah" Naruto berdiri dan sedikit merenggangkan badan nya.
"Tapi aku cap...-"
"Belikan Naruto" Hinata memakan cookies dan menonton telivisi.
"Baiklah Ojou-sama" Naruto mencibir. Dia mengambil jaket nya dan berjalan keluar.
...
Laki-laki menggurutu pelan sambil menenteng plastik berisi kotak cupcake yang baru saja di belinya.
"Namikaze-san?"
Naruto menoleh ke arah seseorang berpakaian tuxedo yang membungkuk ke arah nya.
"Ya?"
"Anda di tunggu, Hiashi-sama"
Kedua Sapphire Blue itu membulat dan menatap seorang laki-laki yang duduk santai di mobilnya.
Tbc
