Huwaaaaa, akhirny bisa update lagi *nangis bahagia* BTW saia lagi main Crisis Core, dan saia senang banget karena penggambaran Zack dalam fic ini hampir mirip dengan yang canon. Syukurlah. Sementara untuk Genesis, itu OOC banget. Setelah chapter ini, saia akan berusaha untuk membuat Genesis tidak OOC.

Semoga untuk update berikutny, enggak sampai setahun lebih

Final Fantasy VII sepenuhny milik Square-Enix, saia cuma minjem


Take XI: For You, I Will

Sinar matahari siang terasa lebih menyengat dari biasanya, atau ini karena Cloud yang belum terbiasa dengan matahari siang di Midgar? Hah, lucu padahal hanya ada satu matahari yang menyinari tata surya, tapi kenapa hawa panas yang dipancarkan terasa berbeda? Atau setidaknya begitulah yang dikatakan oleh para astronot yang telah pergi ke luar angkasa. Cloud sempat bertanya bagaimana rasanya di luar angkasa kepada Cid, pria itu hanya menjawab "'Hampa." dengan wajah yang terlihat sangat sedih. Semenjak itu, Cloud tidak pernah bertanya lagi soal luar angkasa kepada Cid.

"Yak, waktunya makan siang!" suara Don Corneo membuyarkan lamunan Cloud mengenai luar angkasa. Seorang kru film memberikan dua botol air minum kepada Cloud dan mengatakan kalau makan siang sudah tersedia di dalam restoran yang tidak jauh dari lokasi syuting mereka.

"Belum ada kabar siapa yang mendapakan peran wanita utama?" tanya Tia setelah mengambil salah satu botol minuman dari tangan Cloud yang tidak bergerak sama sekali. Tifa menatap managernya dengan khawatir. "Cloud? Kau tidak apa-apa?"

Yang ditanya langsung memberi reaksi. "Uh ya, aku tidak apa-apa." Jawaban itu tidak sepenuhnya bohong, tapi juga bukan yang sebenarnya. Dia kenapa-napa selama melihat Tifa syuting. Jika dia kelelahan setelah berlari-lari di bawah terik matahari, Tifa tidak menunjukkannya.

"Aku hanya teringat soal luar angkasa, dan reaksi Cid ketika aku menanyakan seperti apa luar angkasa itu." Cloud sempat berpikir kalau Cid sedang mabuk saat menjawab pertanyaan itu. Tetapi Cloud pernah mendengar seseorang mengatakan, kalau apa yang dikatakan orang saat mabuk, itu adalah sebuah kebenaran.

"Sampai sekarang aku penasaran apa yang membuat Cid dan Shera terjun ke bisnis hiburan," Tifa duduk di kursi khusus untuknya. "Kalau mereka menjadi seorang guru atau profesor di sebuah kampus, aku tidak akan begitu kaget."

"Cid tidak pernah mau cerita kepadaku," Cloud mengambil botol minuman yang hampir kosong dari tangan Tifa. Seorang make-up artist sudah sibuk membersihkan wajah Tifa dari sisa-sisa make-up.

Ketika Tifa hendak mengatakan kalau Shera juga tidak pernah cerita kepadanya, Cloud sudah sibuk berbicara dengan salah satu penulis skenario film Honey for the Queen. YA, mungkin itu bisa menjadi bahan percakapan mereka nanti saat makan siang.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Kau tahu harus berapa kali aku mengatakan kalau Yuffie tidak akan cocok memerankan karakter yang pendiam!" desis Rod ketika mereka sedang istirahat.

Zack menggeram marah sambil menarik rambut jabriknya yang sudah pendek. Dia terpaksa memotong rambutnya karena beberapa minggu yang lalu, rambutnya tersangkut di pintu lift. "Oke, oke! Kita ubah karakternya Yuffie. Screen time Yuffie belum begitu banyak kan? Masih bisa diubah."

Dari kejauhan, orang yang sedang diperbincangkan oleh Zack dan Rod hanya bisa menghela napas. Padahal ini adalah kesempatan emas Yuffie untuk menjadi terkenal, kenapa dia harus mengacaukannya? Kenapa dia tidak bisa tutup mulut dan berhenti menjadi orang yang hiperaktif untuk beberapa jam?

Tiba-tiba tubuh Yuffie yang tadinya bermandikan cahaya matahari siang malah tertutup dengan kegelapan. Kontan Yuffie langsung mengangkat kepalanya, dan melihat Genesis berdiri di hadapannya sambil menggenggam dua kaleng minuman rasa apel.

"Kau tahu apa yang membuatku semangat lagi?" Genesis langsung duduk di sebelah Yuffie. "Sesuatu yang bisa mengingatkanku kenapa aku mau menjadi seorang artis."

"Uhhh, apel Banora?" tanya Yuffie bingung. Dia tahu obsesi Genesis terhadap apel yang berasal dari kampung halamannya itu. Yuffie belum pernah mencobanya, sebab harga apel Banora sangat mahal. Minuman kaleng seperti yang sedang dipegang Genesis sekarang saja harganya bisa mencapai 5000 Gil. Apalagi apel dalam bentuk buah.

"Sesuatu yang berhubungan dengan rumah," Genesis tersenyum. Dia menawarkan Yuffie minuman kaleng yang belum dibuka. "Aku menjadi seorang artis demi mengumpulkan uang, untuk membangun Banora menjadi lebih baik. Untuk memperkenalkan apel Banora yang enak kepada seluruh penduduk Gaia."

Sekarang Yuffie mengerti kenapa banyak orang yang tergila-gila dengan apel Banora. Rasanya sangat manis, tapi tidak berlebihan. Bagaimana rasa buah aslinya yah? Yuffie jadi penasaran. "Kau sudah berhasil, kalau begitu." ucapnya setelah menelan minumannya.

"Di satu sisi aku berhasil, tapi disisi lain," Genesis menatap langit biru yang cerah tanpa ada awan sama sekali. "aku gagal melindungi seseorang karena ketenaranku."

Yuffie mengikuti arah pandang Genesis sebelum menghela napas. "Resiko menjadi orang terkenal."

Diam-diam Yuffie menatap Genesis yang sedang membaca tulisan di kotak jus apel. Wajahnya terlihat bahagia dan sedih disaat yang bersamaan. Apa Genesis merindukan kampung halamannya? Tapi dia kan baru kembali dari sana? Mungkin Genesis merindukan hal yang lain. "Setidaknya aku bisa bernapas lega karena penggemarmu dan Tifa belum membunuhku."

Mau tidak mau Genesis tertawa.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, Cid." Isak tangis Shera terdengar setelah lima menit penuh Cid tidak mendengar apa-apa selain suara naik-turunnya napas Shera.

"Kalau begitu kenapa kau tidak pindah saja ke tempat Cloud?" Cid melirik Yuffie yang sedang bercakap-cakap dengan Genesis. Awalnya Cid tidak yakin kalau pria itu memang benar-benar baik, tapi sayangnya, dia memang baik. Atau setidaknya dia bisa menahan emosi dan menjaga omonganna, tidak seperti Cid. Beberapa orang sudah menjadikan Cid sebagai musuh mereka, namun Zack Fair, dia hanya tertawa setiap kali mendengar ocehan Cid. Entah apakah tawanya itu tulus atau bersifat menghina.

"Aku tidak bisa melakukannya, Cid. Artis-artisku..."

"Dengar, Shera." Cid memotong kalimat istrinya. "Jika mereka memang menyukaimu sebagai seorang manajer, ajak mereka untuk bergabung dengan Cloud. Kau sendiri yang bilang, kalau ada banyak artis-artismu yang mengatakan mereka sudah tidak suka di sana."

"Oke, akan aku coba, Cid." Cid hanya memberikan anggukan sebagai balasan. Tanpa ia sadari, ternyata dirinya sudah berjalan cukup jauh dari lokasi syuting. Sekarang dia berada di hutan belantara.

Hanya ada suara burung dan serangga.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Kalau aku tidak salah ingat, seharusnya kau sekarang sedang syuting kan?" tanya Aerith yang sedang sibuk menata bunga di tokonya. Sebetulnya dia tidak keberatan jika harus berjualan menggunakan gerobak, namun Zack mengatakan kalau berjualan di toko akan lebih mudah, akan lebih banyak bunga yang bisa dijual oleh Aerith. Plus dia bisa menamam bunganya sendiri, tidak perlu repot bolak-balik ke gereja dan pusat kota Midgar untuk mengambil bunga.

"Eh, cuaca sedang cerah di Pulau Goblin. Makanya aku menyuruh kru untuk menghentikan syuting supaya aku bisa menelepon kekasihku." Bahkan tanpa bertatap muka, Aerith tahu kalau sekarang Zack sedang tersenyum lebar sambil menatap langit biru. Semoga saja pria itu ingat untuk memakai kaca mata hitam atau setidaknya tidak memaksakan diri untuk melihat matahari secara langsung.

"Huuuum, kebetulan, cuaca di Midgar juga sedang cerah." Aerith melirik ke arah jendelanya. "Bagaimana syuting hari pertama?"

"Beberapa orang mempertanyakan aktingnya Yuffie," Zack menghela napas. "mungkin seharusnya aku tidak membuat karakter yang biasa-biasa saja. Lagipula, bukannya itu malah bisa memberikan petunjuk kalau Yuffie adalah pelakunya? Mungkin jika karakter Yuffie aku buat sama seperti karakter aslinya, itu akan lebih mudah. Ditambah rasanya agak jarang kan ada pembunuh yang seceria Yuffie? Atau sudah ada? Aku–"

Aerith tertawa. "Zack, kau terlalu berlebihan. Kau percaya dengan instingmu, dan aku percaya kepadamu. Aku yakin Yuffie bisa memerankan karakter itu dengan baik. Hanya saja ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan peran besar, dan beradu akting dengan aktor terkenal. Dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri."

"Aha! Kau benar, Aerith! Astaga, kenapa aku tidak terpikirkan sampai ke sana!" Perempuan berambut cokelat itu bisa membayangkan kalau Zack baru saja menepuk keningnya. "Baiklah, aku harus melakukan pendekatan kepada Yuffie."

"Zack, apa kau sadar kalau kau baru saja mengatakan kepada pacarmu sendiri kalau kau mau mendekati perempuan lain?" tanya Aerith pura-pura terkejut.

"Eh, uuuuh, maksudku bukan..."

Aerith terkekeh geli. "Aku hanya bercanda. Aku tahu apa maksudmu kok." Aerith mendengar Zack mengembuskan napas lega. "Oh, ngomong-ngomong, kau masih berhutang satu kencan denganku, Zack."

"Setelah aku pulang nanti, kita akan kencan seharian penuh." Dari suaranya saja Aerith tahu kalau sekarang Zack sedang menyeringai.

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Ruang arsip perusahaan ShiRa tidak terjamah oleh hiruk-pikuk jam istirahat siang, bahkan waktu tidak bisa terlihat dengan jelas jika kau tidak melihat jam atau penjaga ruangan mengatakan kalau sudah waktunya tutup. Tetapi untuk yang kedua, hal itu tidak berlaku untuk Shelke. Sebagai pemimpin divisi pengembangan teknologi, dia memiliki hak istimewa untuk mengakses ruang arsip sesuka hatinya.

"Untuk ukuran orang yang tidak mau ribet, belakangan ini kau selalu terlihat berkutat dengan tumpukan kertas." suara seorang perempuan mengejutkan Shelke.

"Untuk ukuran orang yang tidak suka gelap, belakangan ini kau selalu terlihat bersembunyi di antara rak-rak ini untuk mengamatiku." Shelke menghentikan kegiatan membacanya lalu menatap lawan bicaranya. "Cissnei."

Cissnei sedang bersandar di salah satu rak. "Halo juga, Shelke." ucapnya sambil berjalan mendekati Shelke yang sedang duduk bersila di lantai. "Aku kira aku tidak akan pernah melihat hari di mana dirimu dikelilingi dengan kertas. Kalau kau duduk dikelilingi oleh tablet, rasanya masih wajar."

"Apa yang kau inginkan, Cissnei? Seingatku kantor Cresent Agency bukan berada di lantai ini."

Cissnei mengambil salah satu laporan yang berada cukup jauh dari Shelke sebelum perempuan itu bisa menghentikannya. "Aku tahu kalau kau sedang membantu Reeve."

"Lalu? Apa kau akan melaporkannya kepada Rufus supaya kau bisa mendapatkan kembali posisimu di dalam lingkaran TURKS?" tanya Shelke ketus.

Cissnei menggeleng. "Aku keluar dari TURKS atas keinginanku sendiri. Lagipula," ia duduk sambil melipat kakinya. "aku sudah lelah melakukan pekerjaan kotor keluarga Shinra. Apa kau tidak lelah, Shelke? Bekerja untuk orang-orang macam Shinra?"

"Seingatku, kau juga bekerja untuk Shinra." Shelke mengambil laporan dari tangan Cissnei.

"Tidak lagi." bisik Cissnei pelan.

"Huh?" Shelke menatap Cissnei seolah-olah perempuan dengan rambut berwarna sama dengannya itu memiliki kepala dua.

Cissnei menatap lampu di langit-langit. "Aku akan pindah ke Strife Agency."

Shelke menuntut sebuah penjelasan dengan mengerutkan kening.

"Aku sudah berjanji kepada Zack untuk pindah ke sana jika Cloud berhasil mendapatkan Tifa Lockhart," Cissnei berdiri. "dan ini sudah empat bulan Tifa resmi menjadi bagian dari Strife Agency."

"Apa yang kau harapkan dengan pindah ke sana?"

"Kita sama-sama sedang berusaha untuk menghancurkan ShinRa," Cissnei berbisik. "kau dan Reeve melakukannya dengan cara kalian sendiri. Aku, Zack, Genesis dan Angeal juga melakukannya dengan cara yang kami tahu. Membuat karya seni. Sebab itu adalah salah satu cara yang paling ampuh untuk mengubah pandangan seseorang."

"Jika Zack menyuruhmu untuk loncat dari tebing, apa kau akan melakukannya?" tanya Shelke.

"Jika kau harus meloncat dari tebing untuk melihat Vincent, apakah kau akan melakukannya?" Cissnei balik bertanya. Tidak ada jawaban. "Sudah waktunya bagi kita untuk melepaskan perasaan kita terhadap orang-orang yang tidak bisa kita miliki."

Shelke pura-pura tidak mendengar kalimat terakhir Cissnei. "Aku kira kau sudah bertemu dengan keluarganya Zack?"

"Ya, dan mereka mengatakan kalau mereka khawatir jika Zack tidak akan menikah karena terlalu sibuk membuat film." Wajah Cissnei melembut, teringat momen-momen antara dirinya dengan orang tua Zack. "Mereka bahkan memintaku untuk menjadi bagian keluarga mereka."

Shelke tahu cerita ini, dia sudah sering mendengarnya sampai bosan. "Lalu, apa jawabanmu?"

Cissnei tersenyum getir. "Ada orang yang lebih pantas menjadi anggota keluarga mereka."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

"Kenapa aku tidak boleh menemui Weiss?" tanya Vincent setelah Shalua selesai memeriksa denyut nadinya.

"Selain karena faktor kemunculanmu di muka umum akan membuat dunia heboh?" Shalua merapikan alat-alatnya. "Weiss dijaga ketat oleh tentara-tentara ShinRa."

"Terkadang aku bingung, sebetulnya ShinRa itu sebuah perusahaan besar atau sebuah negara."

"Aku yakin jika Rufus boleh membeli sebuah pulau, dia akan langsung mendirikan negara." Shalua menulis beberapa informasi mengenai kondisi Vincent hari ini. "Ngomong-ngomong, apa kau serius akan kembali ke dunia hiburan?"

"Ya. Aku akan muncul di muka umum saat ulang tahun di bawah naungan Strife Agency."

"Kau sudah menghubungi Cloud?"

"Ketika aku bertemu dengannya di pesta, aku akan menghubunginya." Vincent menatap Shalua yang masih berdiri sambil bertolak pinggang. "Ada perkembangan dalam penelitian yang dilakukan oleh Hojo?"

Yang ditanya menggeleng. "Hojo benar-benar tidak tahu lagi harus berbuat apa. Aku sempat melihat dia mengamuk di dalam lab. Rufus sempat memerintahkan para petugas keamanan untuk mengurung Hojo di ruang isolasi."

"Kapan dia akan sadar kalau obat untuk menyembuhkan segala macam penyakit itu hanya omong kosong belaka?" Vincent menatap matahari yang sudah tenggelam di ufuk barat.

"Kau tahu bagaimana Hojo, dia tidak akan menyerah sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan."

"Ya. Tapi sampai saat ini, bahkan dia sendiri belum tahu apa yang dia inginkan."

x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x

Banyak orang yang tidak percaya jika mendengar seorang Rosso Crimson, yang terkenal galak dan selalu mendapatkan peran sebagai karakter penjahat atau perempuan menyebalkan, bisa berperan sebagai perempuan lugu dan lemah. Ya, bahkan Tifa sempat kaget saat melihat Rosso berakting. Ternyata Genesis tidak bercanda saat mengatakan kalau Rosso memiliki sebuah talenta yang luar biasa, tetapi orang-orang tidak peduli kepadanya karena sifatnya yang menyebalkan. Tifa masih harus belajar untuk keluar dari zona nyamannya.

Langit malam Midgar bisa dikatakan cukup bersih, mungkin karena dari tadi sore sampai malam hujan mengguyur Midgar. Oleh sebab itu syuting harus dilakukan di dalam ruangan. Tifa merapatkan jaket yang ia kenakan, meski udara malam di Midgar tidak sedingin di Nibelheim.

"Aku tidak mengerti kenapa kau berusaha terlalu keras, Lockhart." suara Rosso mengejutkan Tifa yang sedang menunggu Cloud di dekat motor Fenrir.

"Uh, maksudmu?" tanya Tifa bingung.

"Aktingmu sudah sangat bagus. Setiap orang punya sisi kegelapan yang hendak mereka sembunyikan, dan hari ini kau berhasil mengeluarkan sisi gelapmu." Rosso menyentuh pipinya yang masih bengkak akibat ditinju oleh Tifa.

Ketika melihat tangan Rosso menyentuh pipinya, Tifa meminta maaf, entah untuk ke berapa kalinya. Biasanya untuk adegan kekerasan memang tidak sampai menyentuh anggota tubuh, semua bergantung dengan timing si orang yang meninju dan yang terkena tinju. Tetapi hari ini Rosso menolak, dia ingin benar-benar merasakan tinju seorang Tifa Lockhart. Para kru sempat bingung, terlebih lagi Tifa. Tetapi Don Corneo memberi izin kepada Tifa untuk benar-benar meninju Rosso.

"Kau tahu kenapa Genesis sangat ingin kau bergabung dengan Banora Agency?" Rosso membenarkan tas tangan yang ia pakai.

Tifa menggeleng.

"Sebab dia sangat yakin kalau dengan bantuan darimu, kami bisa mengalahkan ShinRa." Rosso menatap Tifa tepat ke manik matanya. "Tentunya kau ingin menghancurkan ShinRa sebagaimana ia menghancurkan Cresent Agency bukan?"

Mata hitam Tifa membesar. "Menghancurkan? Apa maksudmu?"

Rosso melirik ke arah pintu masuk studio tempat mereka syuting, sosok Cloud terlihat sedang berjalan ke arah Tifa dan Rosso. "Kenapa kau tidak cari tahu saja sendiri. Apa yang telah dilakukan oleh Shinra demi mendapatkan Cresent Agency." Rosso berjalan beberapa langkah sebelum berhenti dan menoleh ke belakang, sekarang Cloud sudah berdiri di sebelah Tifa. "Tapi aku senang, karena kau akhirnya keluar dari Cresent Agency, atau apapun namanya sekarang."

Setelah mobil Ferari Rosso melesat pergi dari tempat parkir, Cloud menoleh ke arah Tifa. "Apa maksudnya?"

Tifa menggeleng. "Aku tidak tahu."

Meski sebenarnya, Tifa bisa menebak apa yang dimaksud Rosso. Hanya saja, dia tidak yakin.