Draco Malfoy adalah seorang penyihir yang cerdik. Meskipun ia tidak sepintar Hermione Granger, nilai pelajaran yang ia dapatkan selalu ada di atas rata-rata. Paling tidak, ia cukup bangga karenanya, nilai-nilainya selalu berada di atas Weasley. Meskipun tentu saja, fakta bahwa Severus Snape memberikan perhatian khusus padanya memberikan keuntungan baginya di mata pelajaran ramuan, namun Severus Snape bukanlah tipe pengajar yang akan memberikan nilai tinggi pada siswa yang tidak pantas mendapatkannya. Draco Malfoy, dibalik penampilannya yang selalu rapi dan seringainya yang menyebalkan, adalah penyihir yang memiliki pengetahuan cukup luas mengenai ramuan. Tentu saja, termasuk ramuan penghilang mimpi buruk.

Draco menatap kuali berisi ramuan yang tengah mendidih di sudut ruangan itu dengan sebelah alis terangkat. Hermione telah memasang mantra agar pengaduk kayu yang ia gunakan untuk mencampur ramuan itu bergerak sendiri mengaduk ramuan itu selama ia tidak ada. Draco Malfoy tahu cukup banyak tentang ramuan, termasuk ramuan penghilang mimpi buruk, namun sayangnya, ia melupakan fakta bahwa ramuan itu harus diracik oleh penyihir wanita...

Mimpi buruk... Semua ini berawal dari mimpi buruk yang mengantuinya. Ia begitu terganggu sampai-sampai ia melakukan kesalahan fatal—hampir saja—saat akan membeli telur peri untuk membuat ramuan pengusir mimpi buruk. Kalau saja saat itu ia tidak bertemu dengan Hermione Granger... Granger, penyihir berdarah lumpur yang merupakan musuh bebuyutannya semasa sekolah dulu... Tentu saja sebagai seorang Malfoy sejati, Draco dapat berpikir dengan cepat. Dalam situasi yang menyudutkannya hari itu, dihadapkan dengan penawaran dari Hermione untuk bekerja sama mendapatkan ramuan penghilang mimpi buruk, Draco berhasil menyusun satu rencana yang akan membuatnya selangkah lebih unggul dari pada Hermione.

Sambil tersenyum , Draco merebahkan tubuhnya di sofa antik yang ada di ruangan itu, kedua tangannya terlipat di bawah kepalanya. Oh, siapa yang menyangka bahwa Draco Malfoy akan berhasil menang melawan Hermione Granger. Tentu saja, meskipun lawannya sendiri tidak tahu apa yang tengah dihadapinya, Malfoy tetap saja merasa senang karena dengan ini, segala kekalahannya semasa sekolah dulu akan terbalaskan.

Draco menyeringai lebar. Belakangan ini ia sering menghabiskan waktu di ruangan ini bersama kuali berisi ramuan yang akan segera selsai itu. Ia telah memantrai ruangan itu agar tidak ada seorang pun selain dirinya dan Hermione yang dapat masuk ke ruangan itu, termasuk kedua orang tuanya dan para peri rumah. Kedua orang tuanya bertanya sekali tentang apa yang ia lakukan di ruangan itu tapi ketika Draco enggan menjelaskan pasangan dengan tato pelahap maut itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Dalam keluarga Malfoy, rahasia bukanlah hal yang aneh dan mereka tidak berusaha untuk menggali lebih dalam lagi ketika Draco secara tersirat menunjukan bahwa ia tidak ingin membahasnya. Sebagai gantinya, Narcissa lebih tertarik untuk membahas tentang pesta yang akan mereka adakan di Manor. Penyihir berwajah cantik itu memastikan bahwa Hermione akan hadir dan tampil pantas di acara itu. Ketika ibunya mengusulkan agar Hermione pergi berbelanja bersamanya untuk mempersiapkan diri menyambut pesta itu, Draco buru-buru mengatakan bahwa ia sudah mengatur semuanya untuk kekasihnya itu sehingga Narcissa tidak perlu khawatir akan penampilan Hermione di pesta tersebut. Untung saja Narcissa akhirnya berhenti mendesak setelah Draco menyebutkan harga gaun yang sudah dipesannya untuk Hermione.

Draco menghela napas panjang sambil memandang langit-langit ruangan itu. Ia tahu ibunya sangat ingin bertemu dengan Hermione—membahas rencana pernikahan mereka tentu saja, ia bisa menduganya—tapi Draco tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Belum bisa. Ia harus memastikan bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan rencananya sebelum ia mempertemukan kedua orang tuanya dengan Hermione.

Sebentar lagi. Ramuan itu akan selesai, begitu pula dengan rencananya. Ia akan mendapatkan dua hal yang ia inginkan sekaligus—seperti layaknya seorang Malfoy sejati.

.

.

Seumur hidupnya, Hermione Jean Granger tidak pernah menduga bahwa akan tiba hari dimana Draco Malfoy akan memujinya.

"Kau tampak cantik malam ini..."

Tentu saja, ketika dikatakan dengan suara berat dan seksi dan senyuman miring yang memesona, kata-kata itu menjadi lebih dari sekedar pujian. Hermione mati-matian menegur dirinya sendiri—berusaha mengingatkan dirinya—bahwa penyihir di hadapannya ini adalah Draco Malfoy, penyihir yang sama yang telah membuat hidupnya semasa bersekolah dulu menderita, penyihir yang berusaha untuk mempermalukannya di segala kesempatan, penyihir yang pernah mengabdi pada Pangeran Kegelapan, penyihir yang... sangat tampan dan seksi.

Tidak. Ia harus menghentikan ini.

Hermione mendengus, membuang muka dan memasang ekspresi tidak suka yang dibuatnya serealistis mungkin, "terima kasih, Malfou, kau juga tampak... uh... rapi malam ini."

Draco tertawa kecil mendengarnya. Rapi adalah salah satu kata sifat yang bisa saja digunakan untuk mendeskripsikan penampilan Draco Malfoy malam ini, tapi begitu juga dengan memukau. Atau tampan. Atau menarik. Atau seksi...

Ketika malam ini Draco menjemputnya di apartemennya, Hermione baru saja selesai menata rambutnya—menggelungnya menjadi berombak sebelum menjepitnya ke atas untuk memamerkan lehernya yang jenjang. Hermione menahan napas saat membukakan pintu untuk penyihir bermata biru keperakan itu. Draco Malfoy malam itu tampil menawan dengan rambut pirangnya yang tersisir rapi ke belakang, setelan jas hijau gelap yang tampak mahal dan wangi cologne yang segar—peppermint? Dan oh tentu saja, senyuman penuh percaya diri ciri khasnya yang... yang...

Yang membuat Hermione kehilangan kata-kata untuk sesaat.

Draco sendiri menyukai penampilan Hermione malam itu, dan ia tidak segan-segan untuk menyuarakan pendapatnya sambil melangkah masuk ke apartemen milik penyihir muda berambut coklat itu. Hermione membuang wajah dan melangkah masuk ke kamarnya menyibukan diri mencari anting-anting yang serasi dengan gaun yang dikenakannya malam ini. Ia berpura-pura tidak peduli dengan apa yang Draco pikirkan tentang penampilannya malam itu.

Penyihir tampan itu berjalan mengikuti Hermione ke kamarnya, ia bersandar di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada, mengamati pasangannya malam ini memilih perhiasan yang akan dikenakannya di depan meja riasnya.

Draco mengamati Hermione dalam balutan gaun yang ia hadiahkan untuknya dengan senyum puas di wajahnya. Tidak mudah untuk meyakinkan Hermione agar mau menerima pemberiannya namun akhirnya setelah perdebatan sengit dan beberapa ancaman darinya, Hermione bersedia menerima hadiah darinya. Dan oh, untung saja Hermione memutuskan untuk menerima gaun itu sebab ia tampak sangat cantik mengenakan gaun itu.

Draco tersenyum kecil mengingat pertengkarannya dengan Hermione saat ia berusaha meyakinkan penyihir itu untuk menerima pemberiannya. Di saat penyihir wanita lain berlomba-lomba untuk mendapatkan perhatiannya dan akan melakukan apapun untuk mendapatkan hadiah mahal darinya, Hermione mengancam akan merubahnya menjadi seekor rubah kalau ia terus mendesaknya untuk menerima hadiah-hadiah mahal.

Untungnya, Hermione tidak benar-benar merubahnya menjadi binatang apapun karena malam ini ia harus tampil dalam wujud manusia di pesta yang akan diadakan di kediamannya. Ini adalah malam yang penting baginya dan keluarganya. Dan semuanya harus berjalan dengan lancar.

Draco tersadar dari lamunan kecilnya oleh suara Hermione menarik napas panjang. Ia tertawa kecil dan menatap Hermione dari pantulan bayangannya di cermin di hadapannya.

"Apa kau merasa gugup?"

"Aku akan hadir di pesta yang penuh dengan darah murni di rumahmu, aku akan bertemu dengan kedua orang tuamu dan diperkenalkan sebagai kekasihmu, entah apa yang akan terjadi malam ini, oh tentu saja aku gugup!" Hermione balas menatap Draco dari pantulan di cermin, "ini hampir yang kurasakan sebelum berhadapan dengan Voldemort."

Draco sedikit berjengit mendengar nama sang Pangeran Kegelapan namun ia tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahunya, "semua akan berjalan lancar. Para darah murni itu tidak akan berani berbuat macam-macam padamu, orang-orang dari kementrian juga akan hadir... Kau adalah pahlawan perang, saat ini status sosialmu mungkin jauh di atas mereka..."

Hermione membalikkan badannya menatap Draco dengan dahi berkerut dan bibir mengerucut, "lalu bagaimana dengan kedua orang tuamu?"

Draco tersenyum miring mendengar kekhawatiran Hermione, "kau tidak perlu mencemaskan mereka. Kedua orang tuaku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Terutama ibuku."

Kali ini Hermione terang-terangan mengerang, "Aku semakin tidak yakin untuk hadir di pesta ini..."

"Oh ayolah," Draco tertawa mencemooh, "kau bukanlah seorang Hufflepuff, kau akan datang bersamaku ke pesta ini dan semua akan berjalan dengan lancar."

Hermione menarik napas dalam-dalam dan kembali menatap cermin di hadapannya. Draco berjalan ke arahnya dan berhenti tepat di belakangnya. Ia meletakan kedua tangannya di pundak Hermione dan mendekatkan wajahnya ke telinga Hermione sebelum berbisik. Bibirnya bersentuhan dengan telinga Hermione, menimbulkan sensasi tersendiri saat ia mulai berbicara. Napasnya yang hangat menggelitik telinganya dan membuat wajahnya memerah.

"Kau tampak cantik malam ini, semua tamu akan merasa cemburu padaku karena kau akan hadir sebagai kekasihku."

Hermione tidak berkata apa-apa dan membiarkan Draco mencium bibirnya dengan lembut. Untuk sesaat ia lupa akan segala hal yang memenuhi kepalanya malam itu.

.

.

Narcissa Malfoy merasa panik ketika jam sudah menunjukan pukul tujuh malam dan putra semata wayangnya belum juga muncul. Para tamu sudah mulai berdatangan dan Draco masih belum tampak di pesta itu. Dalam hati Narcissa berharap agar putranya itu tidak melanggar janjinya dan mempermalukannya dengan tidak hadir di pesta itu. Pukul tujuh lewat dua menit dan sudah tiga penyihir berdarah murni yang menanyakan keberadaan putranya—dan kekasihnya—yang seharusnya sudah berada di sana pada pukul tujuh tepat.

Pukul tujuh lewat empat menit, akhirnya Narcissa dapat bernapas lega saat putranya yang berwajah tampan hadir bersama dengan kekasihnya yang terkenal, Hermione Granger. Seluruh ruangan mendadak senyap saat Draco Malfoy memasuki ruangan pesta itu bergandengan tangan dengan salah seorang dari trio emas yang terkenal setelah perang melawan Pangeran Kegelapan—Hermione Granger.

Keduanya tampak serasi dan menawan dengan gaun dan setelan jas yang serasi. Hermione tampak tenang dan anggun dan Draco seperti biasa tampak percaya diri dan elegan. Beberapa penyihir mulai berbisik-bisik saat Draco dan Hermione menghampiri Narcissa dan Lucius yang tampak bangga melihat kehadiran putra kebanggaan mereka.

"Draco, kemana saja kau! Semua orang menunggumu!" Narcissa mengerutkan dahinya namun tidak bisa menyembunyikan rasa leganya melihat kehadiran Draco.

"Well, maafkan aku," Draco melempar pandangan penuh arti ke gadis di sebelahnya yang langsung bersemu merah, "Hermione dan aku sedikit lupa waktu..."

Lucius mendengus sedangkan Narcissa memutar bola matanya, dengan elegan tentu saja. Mereka sangat mengenal putra mereka dan kata "lupa waktu" dalam kamus Draco hanya bisa diartikan dengan kegiatan yang berbau sensual.

"Jadi..." Lucius, berkata dengan hati-hati, ia mengamati penyihir muda di hadapannya dengan tatapan menilai, "walaupun kami yakin ini bukan pertama kalinya kau hadir di Malfoy Manor, tidak ada salahnya kalau kami mengucapkan selamat datang di rumah kami, nona Granger..."

Hermione tersenyum sopan dengan kedua telinga yang masih memerah, "tentu saja, terima kasih atas sambutannya, Tuan Malfoy..."

"Oh sudahlah," Narcissa mengibaskan tangannya dengan anggun, "Draco sudah menceritakan banyak tentang hubungan kalian kepada kami, kami rasa kau tidak perlu memanggil kami dengan sebutan Tuan dan Nyonya Malfoy..."

Hermione melirik ke arah Draco yang hanya menyeringai sebelum kembali berpaling ke arah kedua orang tuanya dan memandang mereka dengan tatapan kurang yakin, "Baiklah, uh, Narcissa? Lucius?"

Narcissa menghela napas nampak kurang puas namun ia memutuskan bahwa sekarang bukan saat yang tepat untuk memperdebatkan hal ini, "sebenarnya aku lebih suka kau memanggil kami seperti Draco memanggil kami, tapi sudahlah. Masih banyak waktu untuk membahasnya. Sekarang sebaiknya kalian bergabung dengan para tamu... Draco, pastikan kau menyapa semua tamu, mengerti?"

Draco mengangguk kecil sebelum mengajak Hermione untuk mulai berkeliling. Tangannya melingkar di pinggang ramping Hermione, membuat penyihir berambut coklat itu merasa lebih tenang. Hermione tidak biasa menghadiri pesta seperti ini namun dengan adanya Draco di sampingnya ia merasa lebih percaya diri dari biasanya.

Tamu pertama yang mereka sapa adalah pasangan Parkinson dan putri mereka, Pansy dan rekan bisnis mereka Leonard Portman. Mereka, tentu saja, adalah murni, dan seperti yang Hermione sudah duga, mereka menatap Hermione dengan tatapan menilai.

"Selamat malam, Tuan dan Nyonya Parkinson, Tuan Portman, Pansy..."

Di tahun ke-4 mereka di Hogwarts, Draco membawa Pansy untuk hadir di pesta dansa. Saat itu, Hermione tidak begitu yakin dengan hubungan keduanya namun beredar rumor bahwa keduanya berkencan dalam waktu yang cukup lama. Mungkin saja rumor tersebut benar karena Pansy melemparkan tatapan permusuhan pada Hermione saat Draco memperkenalkannya kepada kedua orangtuanya dan rekan bisnisnya.

"Sudah lama tidak mendengar kabar tentangmu, Nona Granger," tuan Portman berkata dengan tenang, pria paruh baya itu memperbaiki letak kacamata bundarnya setelah menjabat tangan Hermione, "Kudengar kau menolak tawaran untuk bekerja di kementrian... Sayang sekali..."

Hermione tersenyum sopan, "ah, ya... ada banyak hal lain yang ingin saya lakukan saat ini, dan bekerja di kementrian bukanlah salah satunya. Ada banyak penyihir lain yang saya yakin bisa menggantikan posisi saya di kementrian..."

Tuan Portman mengangguk penuh pengertian, "tentu saja... Setelah perang selesai, ada banyak hal yang bisa anak muda sepertimu lakukan selain terkurung di balik dinding kementrian sihir dan sibuk mengerjakan dokumen-dokumen rahasia."

"Aku masih tidak percaya," tampaknya Pansy Parkinson tidak dapat lagi menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu tentang hubungan Hermione dan Draco, "kalian benar-benar berkencan?"

Draco tertawa sambil menarik tubuh Hermione semakin dekat ke arahnya, "bagaimana kelihatannya?"

Nyonya Parkinson mengerutkan dahinya, "Lucius dan Narcissa menyetujui hubungan kalian?"

"Tentu saja," Draco tersenyum angkuh, "bahkan pesta ini pun khusus diadakan untuk memperkenalkan Hermione ke khalayak ramai sebagai kekasihku..."

Hermione menaikan kedua alisnya namun tidak mengatakan apapun.

"Baiklah, kami akan menyapa tamu lainnya," Draco berkata dengan tenang, "aku harap kalian menikmati hidangan yang disiapkan ibuku... Selamat malam semuanya..."

Hermione ingin bertanya akan maksud kata-kata Malfoy itu tapi Malfoy sudah menyeretnya menuju tamu berikutnya. Ia pun kembali memasang wajah anggun dan tenang saat Draco memperkenalkannya sebagai kekasihnya ke tamu berikutnya, pasangan suami istri Byrne.

Setelah hampir satu jam berkeliling ruangan dan berbasa-basi memperkenalkan diri, akhirnya Hermione dan Draco selesai menyapa seluruh tamu yang hadir, termasuk Harry dan Ron yang dikelilingi beberapa pejabat penting kementrian. Ron mengerutkan hidungnya saat melihat Draco meletakan tangannya dengan mesra di pinggang Hermione dan Harry memandang Hermione seolah ingin membicarakan sesuatu tapi hermione memberi isyarat bahwa mereka akan bicara besok melalui perapian atau burung hantu.

.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku membutuhkan udara segar?"

Hermione terkejut saat Draco mengajaknya menyelinap dari ruangan tempat pesta berlangsung ke balkon yang terhubung dengan ruangan itu. Samar-samar suara musik dansa terdengar dan angin malam yang berhembus menerpa kulit Hermione membuatnya sedikit bergidik kedinginan.

Draco membuka jasnya sambil tersenyum simpul. Dengan tenang—seolah itu adalah hal paling natural untuk dilakukan—ia menyampirkan jasnya di pundak Hermione, melindunginya dari angin malam yang dingin. Hermione terkejut namun berusaha untuk tidak memerah atas perlakuan sederhana namun memesona yang dilakukan Draco padanya. Ia cepat-cepat mengucapkan terima kasih dan berjalan menuju tepian balkon, berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Well, mengingat kau tidak biasa dengan pesta seperti ini," Draco berjalan mendekat ke arah Hermione dan berhenti di sebelahnya, menopangkan lengannya di pagar pembatas balkon, "kau pasti merasa jenuh di dalam sana."

Hermione mengangkat kedua pundaknya, "Tentu saja, kau lihat sendiri bagaimana perlakuan orang-orang itu padaku..."

Draco mengangkat kedua alisnya dan menatap Hermione, "perlakuan apa? Apa kau tidak sadar mereka memandang iri padaku!"

Hermione mendengus, "ya tentu saja."

Draco tertawa melihat ekspresi Hermione, "aku serius. Mereka iri padaku. Tentu saja, mereka pantas iri..." kali ini Draco menatap Hermione dengan tatapan yang sulit diartikannya, "melihat penyihir sepertimu berdiri di sampingku..."

Kali ini Hermione kehilangan kata-kata. Ada yang berbeda dengan Draco malam ini.

"Ada apa denganmu?" Hermione mengerutkan dahinya saat ia kembali memperoleh suaranya, nafasnya tercekat saat Draco meletakan tangannya di pipinya, "malam ini ada yang berbeda denganmu..."

Draco tertawa kecil, "Berbeda dalam arti baik atau berbeda dalam arti buruk?"

"Berbeda dalam arti membingungkan," desis Hermione, ia tidak mempercayai suaranya sendiri untuk berkata lebih keras, ia mencoba untuk menjauhkan wajahnya dari sentuhan Draco namun tubuhnya tidak mau bergerak sedikit pun.

Draco menaikan sebelah alisnya, "bolehkah aku merasa bangga? Aku berhasil membuat Hermione Granger, penyihir tercerdas di masanya, bingung?"

Wajah Hermione merah padam untuk berbagai macam alasan yang berbeda, "tutup mulutmu, Malfoy."

"Coba sendiri kalau kau bisa..."

Tanpa pikir panjang Hermione melingkarkan kedua tangannya di leher Draco dan menarik wajahnya ke arahnya dan menciumnya. Draco tidak menolak sama sekali saat Hemrione mulai menciumnya. Ia tersenyum dan menarik tubuh Hermione agar merapat ke arahnya sambil balas menciumnya. Ia bahkan tidak protes saat kedua tangan Hermione menyapu rambutnya yang telah ditata rapi, memuatnya berantakan dan mencuat ke berbagai arah. Selama beberapa menit yang terasa seperti beberapa jam, keduanya terbawa suasana yang mereka ciptakan.

Saat akhirnya keduanya menarik wajah mereka menjauh dari satu sama lain, Hermione dapat melihat lipstiknya menempel di bibir Draco dan rambut pirang yang tadinya tertata rapi itu kini berantakan, tapi entah bagaimana, Draco Malfoy dalam kondisi seperti itu pun tetap terlihat seksi dan tampan.

"Aku ingin membawamu pergi dari pesta ini saat ini juga," kata Draco sambil menatap Hermione dengan tatapan penuh arti, "aku menginginkanmu..."

Hermione baru saja akan mengatakan sesuatu ketika terdengar suara dentingan gelas kristal tanda bahwa akan ada pengumuman penting yang akan diumumkan.

Hermione menaikan sebelah alisnya saat melihat Draco mengumpat dan memukul wajahnya sendiri dengan telapak tangannya.

"Sial, kenapa harus sekarang!"

Kali ini Hermione yakin ada sesuatu yang berbeda dengan Draco malam ini, "apakah kita harus kembali ke dalam?"

Draco tersenyum kecut dan meraih tangan Hermione tanpa berkata apa pun. Keduanya kembali ke dalam ruangan tanpa sempat merapikan diri mereka masing-masing. Tepat saat keduanya memasuki ruang pesta Narcissa memulai kata-kata sambutannya sekaligus memperkenalkan Hermione Granger sebagai kekasih putranya pada para tamunya. Hermione mencoba untuk tersenyum sopan pada para tamu yang bertemu pandang dengannya sementara Draco—sampai akhir pesta—menolak untuk bertemu pandang dengannya.

Ada sesuatu yang disembunyikan Draco Malfoy dan Hermione tidak tahu apa itu.

.

Malam itu Draco mengantarkan Hermione pulang dengan ber-apparate ke apartemennya. Draco tidak masuk ke apartemen Hermione, tidak juga mengucapkan selamat malam—bahkan ia tidak mengatakan apa-apa, sebelum akhirnya ber-disapparate kembali ke Malfoy Manor.

Hermione merasa bingung. Setelah apa yang terjadi malam itu, ia mengira paling tidak Malfoy akan memberikannya ciuman selamat malam. Ia bahkan tidak akan menolak kalau Draco mengatakan ingin menghabiskan malam di apartemennya malam itu. Ia benar-benar terkejut saat Draco—tanpa memandangnya—pergi begitu saja dari apartemennya.

Sebenarnya apa yang terjadi? Dalam satu waktu Draco tampak begitu menggoda, menciuminya dan membisikan kata-kata rayuan padanya dan lalu dalam sekejap ia berubah dingin dan begitu jauh. Apa yang sebenarnya direncanakannya?

Hermione merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya masih sambil mengenakan gaunnya yang merupakan pemberian dari Draco. Kenapa Draco bersikap begitu aneh? Dan yang paling penting, kenapa hal ini begitu mengganggunya?

Ia mencoba mengingat-ingat lagi kejadian malam ini. Draco bertindak aneh belakangan ini, ia berubah menjadi lebih baik... Dan malam ini, ia memperlakukannya seperti seorang putri—seperti seorang kekasih sungguhan. Sampai tadi ketika ia menciumnya di balkon... Apa yang sebenarnya terjadi saat itu?

Hermione tahu ia tidak akan bisa tidur nyenyak malam ini, dan kali ini bukan mimpi buruk penyebabnya.

.

Draco Malfoy merasa marah pada dirinya sendiri.

Sejauh ini semua berjalan sesuai dengan rencananya. Seharusnya semua berjalan lancar seperti apa yang diperkirakan olehnya. Ia sudah memperhitungkan semuanya! Tapi malam ini, ia menyadari sesuatu yang membuatnya sangat marah dan ingin menghancurkan sesuatu.

Draco mengumpat keras-keras di kamarnya yang gelap tanpa penerangan apapun selain sinar bulan yang masuk melalui pintu balkon yang dibiarkan terbuka.

Tidak. Masih ada harapan. Draco mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri. Semua akan berjalan dengan lancar, sesuai dengan rencananya. Masih ada waktu...

Ia memejamkan matanya dan mencoba untuk menenangkan pikirannya yang kacau.

Seharusnya semua berjalan sesuai rencana.

Kalau saja ia bisa mengontrol perasaannya...

.

.

Author's Note:

Maaf saya updatenya lama, apa boleh buat, jangan harap saya bisa update cepat karena memang saya sibuk sekali dan banyak juga fanfic lain yang harus saya selesaikan selain Sweet Nightmare...

Awal saya menulis fanfic ini, hanya ada 3 orang yang mereview, tapi saya memang tidak mengejar jumlah review, saya menulis untuk diri saya sendiri, karena saya menikmati menulis, kalau ada yang membaca yang suka ya syukur, kalau tidak ya bukan urusan saya. Sekarang saat saya mengecek jumlah review saya terkejut karena ada banyak sekali... Dan mengingat saya baru kali ini menulis di fandom ini dan tidak pernah membaca fanfic (berbahasa indonesia) di fandom ini, saya sadar nyaris tidak ada yang mengenal saya disini (dan sebaliknya), jadi saya cukup kaget setiap kali ada reader yang mampir ke laman facebook saya dan meninggalkan pesan... Dan sebagian dari mereka juga kaget saat mengetahui wujud asli saya (haha, jadi adil, sama-sama kaget) karena katanya bentuk (?) saya tidak sesuai yang ada di bayangan mereka.

Have a nice day. God Bless You.