Maksud Jimin mengajak Taehyung nonton itu untuk perbaiki hubungan mereka. Setelah insiden dia lupa diri mencium Taehyung beberapa hari lalu, mereka BETUL-BETUL CANGGUNG. Tatap mata tidak berani, apalagi dekat-dekat. Jika biasanya Jimin berikan pelukan, genggaman tangan, bahkan sekadar mengusak rambut; sekarang dia ketar-ketir. Sebetulnya dia juga panas dingin tidak menyentuh Taehyung dalam waktu lama tetapi dia takut kalau Taehyung merasa tak nyaman.

Soalnya lelaki itu kelihatan malu juga... canggung.

Dan bodohnya kenapa Jimin pilih film romantis?! Goblok kamu, Jimin!

"Ekhem," Taehyung berdeham halus, nyaris tak terdengar.

Adegannya sekarang ciuman yang lembut dan basah. Kepala mereka berdua rasanya hampir meledak karena memori waktu itu. Panas dan meletup-letup. Jimin jadi berdeham juga karena dia menahan ludahnya yang hampir tersedak. Wajah mereka merah dan saling buang pandang. Padahal penonton lain terharu dengan adegan manis itu, beberapa bahkan ciuman mesra.

AARRRHKHHKH PARK JIMIN BODOH KAU! –Jimin, menjambak rambutnya.

AKU MAU PULANG! –Taehyung, mengendalikan jantungnya.


Ambition

..

Park Jimin x Kim Taehyung ǁ Min Yoongi x Kim Taehyung

[MinV] vs [TaeGi-YoonV]

..

I will run to reach you!


Ketika mobil berhenti pun, Taehyung tak langsung turun. Dia terlihat tak fokus, mungkin malah tidak sadar kalau dia sudah sampai di rumah. Jimin pandangi wajahnya yang betul-betul cantik itu, tak bosan-bosan ia mengagumi parasnya... dan dia akhirnya beranikan diri sentuh rambut Taehyung yang halus dan wangi.

Dia hampir jantungan ketika Taehyung tersadar dan menoleh, balas menatapnya. Jimin sudah ancang-ancang untuk lepaskan tangan, tapi jemarinya sudah terlanjur nyaman berlarian di helai rambut Taehyung. Seperti sudah ditempeli magnet saja, dan sulit baginya melepas itu... Akhirnya dia hanya bisa telan ludah menahan gugup, menunggu reaksi apa yang akan dilakukan Taehyung.

"J-Jangan tatap aku begitu," katanya.

"M-Maksudnya?"

Taehyung alihkan pandangannya ke jendela. "Malu, tahu. Matamu tajam, kepalaku seperti bolong karena kau," ia hembuskan napasnya pelan. Meraih lengan Jimin yang hampir lepas dari kepalanya. "Tapi kalau yang ini jangan... elus saja tidak apa-apa, nyaman..."

Dan Jimin nyaris mimisan karena sikap manis Taehyung...

Selamatkanlah jantungku, Tuhan...

"Jangan lihat ke luar, aku tak bisa pandangi wajahmu."

"N-Nggak usah dilihat!"

"Kenapa?"

Taehyung mengerang, "Kan sudah kubilang aku malu!"

"Hei, manis." Jimin raih wajah Taehyung dan bawa ke arahnya. Ia tatap mata bulat Taehyung yang terlihat begitu jernih dan cantik. Semua yang ada dalam diri lelaki itu memang indah, Jimin tak akan pernah lelah untuk memuja setiap jengkalnya. "Kalau semua ini karena, uhmm, ciuman kita waktu itu... Aku minta maaf. Aku betul-betul tak dapat kendalikan diriku waktu itu, rasanya sudah meledak-ledak di dadaku, tanpa tahu kalau itu menyakitimu..."

Mata Taehyung berkaca-kaca, "Tidak apa, Jimin... Itu sama sekali tak menyakitkan."

"Lalu kenapa menghindar terus?"

"Iiiih, malu, tahu!" Taehyung memekik dan jauhkan wajahnya untuk ia tutupi. Ia yakin sekali wajahnya semerah apel masak. Karena rasanya mendebarkan, padahal dia hanya bicara dengan Jimin. Kegiatan sederhana yang sudah biasa dilakukannya sehari-hari, tapi sekarang rasanya malu sekali untuk menatap matanya balik. Bicara juga tidak berani banyak-banyak, lidahnya terasa kelu. Dia juga bingung ucapkan apa, karena Jimin tak ajak bicara seperti biasa. "Aku 'kan sudah pernah beri ijin kamu menciumku, tapi... ya... tetap saja, aku malu. Itu..."

Jimin memandangi Taehyung sambil ikut gigit bibir. Susah payah menahan gejolak dalam instingnya untung menerjang lelaki cantik itu dengan ciuman yang lebih dahsyat dari terakhir itu, habisnya dia manis sekali dan belum juga lanjutkan ucapannya, masih digantungkan. Jimin hanya bisa remat jins di pahanya menahan hormon kurang ajarnya. Ayo cepat selesaikan ucapanmu, Tae... jangan pasang wajah seperti kucing itu...

"I-Itu ...apa?"

"...ciuman pertamaku, bodoh!"

Selesai Taehyung mengatakannya dengan wajah lucu yang dahsyat, Jimin betul-betul mimisan dan membenturkan kepalanya ke setir mobil karena tak tahan. Persetan dengan pekikan Taehyung yang melengking di dalam mobil, suara panggilannya memantul-mantul dengan manis.

"JIMIN!"


Untuk menyegarkan pikiran yang kusut, Taehyung pergi ke taman membawa peralatan melukisnya karena dia pikir dia butuh melukis alam yang indah. Sebetulnya dia ingin melukis di tempat tenang seperti gunung atau kuil di tengah hutan, tapi Ibu dan Jimin jelas tak akan beri ijin. Jadi dia hanya akan ke taman dan melukis hiruk pikuk manusia di taman. Dia memilih untuk pergi di pagi hari karena belum terik, menghindari senja karena dia tak ingin menggambar oranye. Dia betul-betul bayangkan dominasi warna pastel di kanvasnya; hijau, merah muda, biru langit, dan putih... Sederhana saja, dia tak ingin menggambar sesuatu yang masterpiece karena ia ingin rileks saja selama satu hari.

Kenapa tidak bersama Jimin? Lelaki itu diminta bantuan Ayahnya mengurusi perusahaan Kakeknya. Awalnya dia tak mau dan merengek tapi Ayahnya menamparnya dengan perkataan: katanya mau cepat sukses dan menabung untuk menikah? Taehyung tidak tahu kenapa Jimin tiba-tiba ke kamar kemudian keluar dengan dandanan yang rapih. Jimin siap dan semangat sekali ikut Ayahnya belajar mengelola perusahaan. Memangnya Jimin mau menikah? Kok Taehyung tak tahu, memangnya dia akan menikah dengan siapa?

"Tumben sendirian,"

"Ah!" Taehyung mengelus dadanya, "Kau mengejutkanku, hyung."

Lelaki yang tertawa itu Yoongi. Dia mendudukkan diri di samping Taehyung dan melihat kanvas Taehyung yang mulai memiliki corak warna. Tidak terlalu detil, seperti gayanya saat melukis ketika sekolah dasar, tetapi milik Taehyung jauh lebih indah dengan kesederhanaannya. Yoongi seperti terhipnotis dengan lukisan itu. "Hyung nggak kerja?"

"Ah? Uhm, tidak... aku dipecat."

"Loh?! Kenapa?" Taehyung menoleh kaget, kemudian masih terkejut melihat wajah Yoongi babak belur. Biru dimana-mana, sudut bibirnya robek dan lukanya masih basah. Sepertinya baru. Padahal tadi ia tak terlihat begini menyeramkan. Taehyung meletakkan pallet dan kuasnya, jemari kurusnya menyetuh luka Yoongi membuat lelaki di hadapannya meringis, "M-Maaf! Sakit, hyung?"

Yoongi mendengus. "Menurutmu saja bagaimana,"

"Kok bisa?" Taehyung sedih, bung. Lelaki pujaannya terluka...

"Biasalah, dituduh mencuri." Lelaki itu tertawa ringan, seperti dia memang terbiasa mengalami hal seperti ini. Taehyung mengerjapkan matanya lambat, sama sekali tidak suka Yoongi terbiasa terluka seperti ini. Apalagi dia dituduh! Orang konyol macam apa yang berani fitnah lelaki baik seperti Yoongi hyung-ku... huhuhu. "Jangan pasang wajah seperti itu."

Taehyung mengerjap lagi, "Wajah apa?"

"Wajah sedih."

"Aku betulan sedih," ia gigiti bibir. "Hyung jelek kalau babak belur,"

Sebetulnya Yoongi ingin tertawa karena dia. "Oh, apa kau hanya suka aku saat ganteng? Jadi kau lelaki yang menyukai seseorang karena wajahnya, ya?"

"Bukaaaan! Aku memang tidak suka," Taehyung merengut. "Tidak suka kalau hyung terluka. Walau aku tidak rasakan pukulannya, tapi aku juga sakit melihatmu begini... Yoonji pernah bilang hyung sering berkelahi dan pulang membawa luka baru, jangan begitu terus..." ia menatap mata Yoongi yang membiru dan jadi lebih kecil. "Aku suka hyung apa adanya, tapi tetap saja... Aku sedih kalau melihatmu terluka, masih bisa tertawa lagi... Jangan terbiasa mendapatkan luka, hyung."

Dag dig dug... suara jantung Yoongi.

Mungkin benar perkataan Jimin waktu itu, kalau Taehyung ini benar-benar punya kadar manis yang dahsyat. Entah itu karena wajahnya, suaranya, atau matanya, atau mungkin tingkah polos dan perhatiannya yang manis. Yoongi baru sekali ini diperlakukan begini manis oleh seseorang. Dulu sekali mungkin pernah, tapi dia tak ingat. Orangtuanya 'kan benci dia karena Yoongi ini ada oleh sebuah insiden... Yoonji juga tak pernah bersikap manis padanya. Eh, pernah, sih... tapi itu hanya sampai dia TK. Entah dia berteman dengan siapa ketika SD sampai punya sikap seperti lelaki dan katanya, sih, namanya swag. Ah Yoongi tak paham.

Yang jelas, sekarang ini, Taehyung sudah buat Yoongi hampir meledak.

"Hyung, jangan bengong. Aku bicara serius tahu,"

Yoongi tersadar. Dahsyat juga kekuatan Taehyung itu, "Sudahlah. Tidak apa, aku ini kuat. Kalau hanya begini, sih, tak apa. Hidup itu seperti kompetisi, Taehyung. Tak bisa selamanya kau ingin menang dan merasa baik-baik saja. Tantangan dan luka itu perlu dalam hidup, suka tidak suka Tuhan sudah atur begitu." Dan ia juga tak tahu kenapa malah usap kepala Taehyung! Seseorang tolong hentikan aku berbuat manis... ini bukan gayaku! "Aku juga tak suka berkelahi."

"Baiklah... Apa hyung janji tak akan terluka lagi?"

"Tidak janji." Yoongi menjauhkan kelingking yang Taehyung suguhkan untuknya.

.

.

"Kenapa tidak dimakan rotinya?"

Taehyung menoleh pada Yoongi. Kemudian memeluk roti ikannya dengan sayang dan wajah merengut yang lucu, "Rotinya lucuuuu. Selain itu, sayang banget... Soalnya hyung yang belikan. Harusnya 'kan tak perlu. Aku bisa beli sendiri, aku punya uang. Hyung kan baru saja dipecat,"

"Hei, aku hanya dipecat satu pekerjaan." Dia terkekeh ringan.

"Sama sajaaaa," Taehyung membungkus roti ikannya dan memeluknya erat. Sepertinya dia betul-betul tak akan makan ini. "Aku pasti akan makan, tapi nggak sekarang... Aku mau hargai pemberian Yoongi hyung."

"Aku belum jadi pengangguran, oke?"

Taehyung nyengir lucu. "Masa, sih? Berarti masih punya uang, dong? Belikan sesuatu dong, hyung! Aku ingin makan banyaaaak sekali hari ini!"

Kemudian lelaki itu tergelak karena wajah kesal Yoongi yang terlihat lucu di matanya. Meski dia terlihat kasar dan dingin, sebetulnya Yoongi ini lembut dan mudah tersenyum. Taehyung sering mendapatinya tersenyum pada hal-hal kecil yang manis. Seperti Holy, anak-anak, musik, nenek-nenek rapuh, dan Kumamon. Ini aib yang baru Taehyung ketahui; ternyata Yoongi suka Kumamon! Ouh, dia lelaki yang imut!

Akhirnya Yoongi belikan dia eskrim cokelat. "Makan, jangan dipeluk doang."

"Hehehe, iya lah. Kalau ini harus segera dimakan."

Dan Taehyung baru tahu kalau Yoongi suka eskrim stroberi. Manisnya...

"Seru sekali kencannya, ya?"

Tiba-tiba datang tiga lelaki bertubuh lebih besar. Jangankan dibanding Yoongi, Taehyung saja jauh lebih kecil dibanding mereka. Lihat tato naganya itu... menyeramkan! Kenapa mereka datang dan bertanya kasual dengan wajah ingin berantem begitu? Apa mereka mengajaknya bicara? Sepertinya dia tidak kenal... Tapi dari tatapan matanya yang juga mengarah padanya...

"Minggir, kami mau lewat." Kata Yoongi.

Lelaki yang paling besar di tengah berdecih, "Memangnya kau siapa berani kasih perintah?! Ini jalanku, kau yang minggir karena aku mau lewat, konyol!" kemudian ia melirik Taehyung yang gemetaran di samping Yoongi. Lantas ia tersenyum miring dan terkekeh, "Tapi kalau lelaki cantik ini tak perlu minggir. Ikut saja, gimana?"

"Urusanmu itu denganku." Yoongi menepis jemari kotor lelaki yang hendak sentuh wajah Taehyung. Membuatnya marah saja dia! Taehyung mengkerut takut di balik punggung kecilnya, Yoongi bisa rasakan itu. Dia hanya ingin jalani hidup dengan tenang, dan lelaki bertato yang konyol ini benar-benar membuatnya kesal!

Berani betul dia menggoda Taehyung!

"Kau –!"

"Berani tatap dia lagi, kau mati di tanganku."

Taehyung meremat kaus Yoongi, "Hyuuuung, jangan bicara begitu." Tapi Yoongi tak mau dengar rengekan apa pun darinya. Dia terlanjur kesal dengan tatapan lapar tiga lelaki di hadapannya. Yoongi mungkin tak memiliki perasaan dalam untuknya, juga bukan pacarnya. Tapi dia berani mengakui kalau dia ingin lindungi Taehyung. Lelaki polos seperti dia sudah dimangsa oleh tiga berandal ini, dan Yoongi tak mungkin biarkan itu terjadi lebih jauh. "Yoongi hyung,,,"

"Heh, Yoongi. Kalau kau berikan dia, aku tak akan ganggu hidupmu lagi. Jadi bagaimana?"

"Tak sudi. Akan kucabut nyawamu lebih dulu."

Dia terdengar sangat marah. Taehyung terkejut mendengar suara berat dan dalamnya. Tetapi dia lebih terkejut karena orang asing itu mengenal Yoongi. Jujur saja dia khawatir, gangguan macam apa yang dilakukan tiga berandal ini pada Yoongi? Bagaimana Yoongi bisa kenal tiga beruang ini dan terlibat masalah... Apa mereka juga yang buat lelaki pujaannya terluka? Apa dengan mereka Yoongi sering berkelahi?

Lelaki itu tergelak. "Kau berlagak keren di depan pacarmu, ya?"

"Tidak usah ikut campur. Jangan sebut dia dengan mulut baumu."

"Ouuuu, Yoongie cemburu karena aku akan merebut pacarnya yang cantik,"

"Diam!"

Lelaki itu melengkingan suaranya meledek Yoongi, "Diam! LOL kau terdengar konyol, Yoongi. Kau tetap hamster yang berlari di roda kecil, mau lari sampai mati pun kau tak bergerak menjauh. Kau masih sama lemah dan kecilnya, tak apa lah sekali-sekali kelihatan payah di depan pacar sendiri... katanya cinta itu menerima apa adanya?" kemudian ia berkacak pinggang dan menyuruh dua kawannya membawa Taehyung padanya.

"Aaaaa! Yoongi hyuuuung!"

"Lepas, goblok kalian semua!" Yoongi berteriak marah dan menendang dua orang itu. Menarik Taehyung kembali padanya. Mencengkeram lengannya erat, membiarkan Taehyung mengkerut takut di badannya yang kecil. Lelaki ini betul-betul takut... dan Yoongi jadi marah besar! Sudah diingatkan untuk sentuh Taehyung –bahkan lihat saja dia akan pukul sampai mati! Dan masih berani tarik-tarik dia untuk dibawa, kurang ajar!

Dia bawa Taehyung menjauh dan tangkup wajahnya. "Dengar. Kau lari dari sini, jangan menoleh dan jangan dekat-dekat denganku. Jangan hubungi aku dan jangan cari aku. Kuliah saja yang benar dan pastikan kau selalu berada di dekat Jimin," Taehyung menggeleng dan merengek panggil namanya. "Ini bahaya, Taehyung. Aku tak suka kau disentuh orang kotor seperti dia. Kau ketakutan. Dan sebaiknya kau pergi yang jauh. Pulang, kau harus pulang dan tunggu Jimin kembali."

"Yoongi hyung,,,,"

"Taehyung, ikuti saja apa kataku." Ia berikan eskrim miliknya pada Taehyung. "Lari dan jangan menoleh ke belakang untuk lihat aku. Aku biasa berkelahi jadi tak perlu khawatirkan aku. Cepat pulang dengan taksi atau apa pun. Oke, kau boleh hubungi aku satu kali. Sms ketika kau sampai rumah dengan selamat."

Lelaki itu menggeleng sambil gemetaran, "T-Tapi Yoongi hyung, kamu masih punya luka –"

"Peduli apa, hah?! Cepat lari, Taehyung!"

Yoongi dorong lelaki itu terlalu kencang sampai Taehyung jatuh. Yoongi bernapas kasar dan mengarahkan kepalanya menyuruh Taehyung pergi secepatnya. "Pergi sana, lari! Lari Taehyung, lari yang jauh!"

Meski bingung, Taehyung akhirnya bangun dan berlari. Dia sempat terjatuh tetapi kemudian bangkit lagi dan berlari. Meninggalkan eskrim yang sudah jatuh. Biarlah meleleh mengotori jalanan... Taehyung terlalu takut melihat Yoongi dipukuli, tapi dia tak bisa lakukan apa pun untuk melindungi Yoongi. Dia tak tahu harus apa, selain lari seperti apa yang Yoongi suruh.

Ia menangis sambil berlari menjauh. Berusaha tak mendengar suara baku hantam Yoongi dan tiga berandal kasar itu. Taehyung takut Yoongi semakin terluka atau mungkin lebih parah lagi patah tulang dan gegar otak. Berandal seperti mereka terlihat tak kenal ampun jika sudah ayunkan pukulan, dan Taehyung betul-betul tak bisa bayangkan seperti apa rupa Yoongi esok hari.

Taehyung hanya bisa lari... Menyedihkan sekali...

Maafkan aku, hyung...

Kumohon jangan terluka...


To be continue!


a/n:

kebayang gak sih takut dan bingungnya Tae... aku sih ikut gemeter...

hayo tiga orang itu siapa, dan apa hubungannya sama Yoongi?