Hello~! Rose kembali membawakan Hinata's Diary . Masih belum selesai , entah selesai sampai chapter berapa .
WARNING ! DLDR ! AU , OOC , Typo , Gaje
Inside : Narusaku , Sasuhina dll.
For haters , don't read if you don't like the pairings here
Hinata's Diary
Chapter#13
"Hyuuga Hinata and Uchiha Hinata"
"Hyuuga Hinata dan Uchiha Hinata"
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Hinata menyisir rambut indigonya . Seperti biasanya , membuat rambutnya tergerai bebas . Entah mengapa selalu model rambut yang biasa seperti itu . Bukan rambut panjang yang dikeriting atau diluruskan , melainkan itu rambut aslinya . Rambut yang indah yang ibunya mengatakan 'berkilau' dan entah mengapa sepertinya ia mengingat sesuatu saat menyentuh rambutnya sendiri .
Orang itu . Ia lalu setengah menggerutu kesal kepada dirinya di pantulan cermin . Bahkan jika teman-temannya mengecapnya sebegai gadis terbaik-hati seantero Suna , ia pun bisa gemas dengan dirinya sendiri jika itu memang akhir kesabarannya . Selalu ada yang ia tanyakan berulang kali di dalam hati . Siapa sebenarnya aku ? Darimana asalku ? Siapa orang yang selalu kuingat tingkah lakunya namun wujud dan namanya aku sama sekali tidak ingat ? Siapa dia ? Dan apa hubungannya dia denganku ?
Sambil menetralkan pikirannya dalam sekali hembusan napas , Hinata berjalan menuruni anak tangga . Sekejam apapun seorang Hinata , ia tak akan mati kepanasan karena emosinya sendiri , bukan ? Walaupun dia tidak semirip kakaknya yang seorang manusia es . Bicara tentang manusia es , ternyata sang kakak yang baginya model rambutnya cukup unik seperti tokoh kartun itu pun sudah datang . Ia turun melalui tangga yang sama karena memang berasal dari lantai yang sama .
"Hai , Nii-san . Ohayou !" kata Hinata , berusaha membangkitkan kesadaran Sasuke yang tengah berjalan dengan muka datarnya—seperti biasa .
Hinata tau . Meskipun diajak bicara dengan nada seramah apapun dan sepanjang apapun , Sasuke justru akan membalas dengan dingin yang terkesan sedikit angkuh dan yang jelas singkat seperti 'Hn .' . Atau mungkin dia tidak akan menjawabnya jika dirasanya tidak perlu .
"Hn . Ohayou ."
Benar bukan , apa yang dikatakan Hinata ? Ia pasti akan mengatakan hal yang lebih singkat daripada pertanyaan yang ia jawab . Kecuali kalau disuruh menjelaskan secara panjang lebar dan mendetail . Dan penjelasan yang semacam itu adalah hal yang sepatutnya ia benci karena yang Hinata duga , Sasuke selalu irit mulut . Beda lagi urusannya kalau yang menyuruhnya untuk berbicara adalah orang yang lebih tua darinya . Kelihatannya ia tidak mau menodai sejarah keluarga Uchiha , dan itulah yang Hinata cukup suka meskipun Sasuke terlalu mirip sebuah patung batu daripada manusia .
Mereka pun berjalan bersama-sama menuruni tangga . Kejadian itu berlangsung dengan sewajar-wajarnya walau sejujurnya Hinata agak merinding jika berdiri di samping kakaknya . Sampai akhirnya , kesalahan tidak terduga pun muncul karena Hinata melewatkan satu anak tangga dan kakinya di bagian tulang kering tergores oleh sesuatu sehingga menimbulkan luka kecil .
"Ittai...!" seru Hinata .
Sasuke pun mau tidak mau membungkuk dan bertanya dengan kepedulian terlangkanya .
"Kau baik-baik saja ?" ajaibnya , makhluk sedingin apapun ternyata dapat mencair walau hanya dengan satu cara yang diluar dugaan .
Hinata mengangguk . Ini memang tidak terlalu perih . Ia hanya heran , mengapa ada benda yang semacam itu di tangga . Sasuke pun memungut barang yang menusuk kaki Hinata dan melihatnya dengan wajah yang menganggap benda itu bukan barang yang asing lagi baginya . Dengan wajah yang bersinar-sinar seolah mengerti , Sasuke pun menyimpan benda itu di dalam saku seragam sekolahnya .
Dengan sisa kepeduliannya , Sasuke menawarkan sebuah tangannya untuk menolong Hinata yang masih terduduk di tikungan tangga . Namun Hinata menolak karena yakin bahwa ia bisa berdiri sendiri . Dan hup ! Hinata mengangkat badannya namun ia mulai kehilangan keseimbangan .
'Bruk !'
Cerobohnya , ia terjatuh menimpa Sasuke . Untunglah Sasuke bisa menahannya . Jadi , Hinata tidak terjatuh lagi . Itu sebabnya , dalam batinnya Hinata amat sangat bersyukur dan juga merasa bersalah karena sudah mengakibatkan Sasuke harus menahan tubuhnya yang entah kenapa bisa ambruk begitu saja . Mungkin saat terjatuh di tangga tadi , kakinya sempat terkilir . Jatuh di tangga 'kan lumayan juga untuk membuat orang cedera . Bukan hal yang tidak mungkin jika gadis selemah Hinata tidak akan terluka walau hanya dalam sekejap mata .
Mungkin itulah yang sedang dipikirkan Hinata . Sederhana , bukan ? Tidak seperti Sasuke yang justru menganggapnya adegan drama di TV yang biasanya ditonton ibunya hampir tiap hari . Dalam detik itu juga , sepertinya wajah beku bak salju kepunyaan Sasuke terlihat sedikit mencair . Hembusan napasnya sedikit kencang . Pedang di dalam iris onyx Sasuke seolah berubah wujud menjadi bantal sofa yang lembut . Hinata pun menyadarinya , lalu saling bertatapan .
'Inikah Nii-san yang salah tingkah ? Aku belum pernah melihatnya sama sekali .' ucap Hinata dalam hati , tanpa menyadari ada sebuah getaran lain dalam dirinya .
"Anak-anak ! Sarapannya sudah siap !" dari bawah mereka mendengar suara familiar sang ibu .
"Iya , Kaa-san ." jawab mereka bersamaan .
Karena suara itu , keadaan pun kembali . Dimana Sasuke kembali menjadi pangeran es dan Hinata kembali menjadi gadis polos yang semanis permen . Dunia pun kembali membuat hidup mereka sebagai kakak beradik . Dalam hal itu , ini semua adalah takdir . Sebuah takdir tak terhindarkan yang seolah-olah merupakan skenario yang dibuat-buat dalam sebuah drama picisan . Andaikan Hinata dan Sasuke tau .
"Kau masih bisa berjalan ?" tanya Sasuke .
"Se-sebenarnya karena kakiku terkilir , a-aku susah jalan ." kata Hinata jujur .
"..." Sasuke terdiam . Mungkin mengharapkan jawaban yang lebih mendetail daripada sepatah kata .
"Ta-tapi... Nii-san...! A-aku tidak apa-apa , kok . Setidaknya aku masih bisa berdiri ." ucap Hinata .
"Benarkah ?" tanya Sasuke tidak yakin . Hinata pun mengangguk . "Bagaimana kalau kupapah sampai bawah ?"
"A-anou... e-etto.., Arigatou..!" pipi Hinata kembali memerah .
-oo0oo-
Begitu sinar matahari menyentuh pandangannya , Naruto pun membuka matanya . Dalam sekejap , pemandangan di dalam bis yang lumayan acak-acakan karena ulah para penumpang pun terlihat . Sakura yang tidur di sampingnya , terlihat menyenderkan kepalanya di bahu Naruto . Dan itu membuat bahunya sedikit pegal .
"Gadis ini memiliki kebiasaan tidur yang buruk ." ujar Naruto . Ia masih membayangkan seorang gadis yang tertidur di atas gendongannya waktu itu . Sakura bahkan mengigau sampai menitikkan air matanya samar-samar bersama suaranya yang sedikit kacau diterpa rindu .
Dengan senyum usilnya , Naruto membasahi sebuah handuk . Lalu , melemparkannya ke arah wajah Sakura . Entah mengapa , ia tidak tega untuk mengguyur wajah Sakura . Rasanya kata-kata memelas Sakura saat tidur di gendongannya itu sungguh mengharukan seperti drama percintaan yang sering ditonton ibunya .
"Hiyaaaaa ! Banjir...! Banjir...! Banjir...! Tsunami...!" teriak Sakura dalam mimpinya . Nyatanya sehelai kain lembut yang basah saja bisa mempengaruhi mimpinya sampai sejauh itu .
"Kyaaa...! Ponselku hilang ! Kyaaaa...!" itu jeritan centil yang cukup tajam untuk ukuran pemecah gendang telinga .
"Hei , itu di sakumu !" suara familiar Tenten yang tidak kalah kerasnya kembali membuat gendang telinganya bergetar sedikit lebih cepat dari biasanya .
Sakura terbangun dengan tidak elitnya . Berambut acak-acakan dengan wajah mengantuknya yang masih belum dicuci sejak semalam . Sebuah peta pulau kecil di atas bangku penumpang pun turut menambah kesan bahwa , seperti apa yang dikatakan oleh Naruto , Sakura memiliki kebiasaan tidur yang buruk . Dengan tangan yang masih kebal akan rangsang , Sakura mengambil handuk kecil yang menempel di wajahnya—tepatnya menutupinya dan menyebabkannya menjadi sedikit lebih susah mengambil oksigen pertamanya setelah bangun .
Dan ia selalu ingat saat-saat ia dihukum diluar gerbang sekolah karena selalu terlambat berangkat sekolah . Bahkan , teman-teman sekelasnya selalu heran kalau ia tiba-tiba berangkat pagi . Mereka bertanya , ' Lho ? Tumben...' sambil terheran-heran dan menatapnya dengan tatapan 'Kau Sakura Haruno yang memiliki rekor hukuman terbanyak itu , bukan ?' . Dan sejujurnya , itu membuat Sakura terlihat asing di hadapan mereka .
"Hei Haruno , cepat bersiap-siap . Ini sudah pagi . Apa kau tidak mandi ?" Shion bercentil-centil ria dengan memakaikan bedak pada mukanya dengan sangat tebal .
Dengan rasa risihnya karena melihat orang secentil itu , Sakura pun bergegas mengambil perlengkapan mandi . Mungkin ia adalah seseorang yang akan terakhir kali mandi karena ia bangun terlalu siang . Dan mungkin , antrian kamar mandi sudah cukup tidak karuan karena yang mengantri bukan hanya atlet basket dan cheerleader saja . Cabang olahraga lain juga dilombakan di dalam turnamen ini .
Dan entah mengapa yang ia pilih adalah cheerleader . Benar-benar mengherankan bukan , kalau mantan preman sepertinya tertarik dengan hal-hal gesit seperti demikian ? Apalagi sampai terpilih mewakili pertandingan . Walaupun dianggap amatiran , itu tentu adalah suatu keajaiban yang kemungkinan berhasilnya hanya satu banding seribu . Tapi , bukankah keberuntungan ada di atas segalanya ? Haha , ia sempat tertawa kecil menertawakan kondisi orang yang memilihnya . Apa dia terkena penyakit langka atau semacamnya ?
-oo0oo-
Di atas meja tertata piring dan peralatan makan lainnya . Terlihat sang ayah membaca surat kabar dengan sebuah cangkir berwarna putih berisi kopi hangat . Kedua anaknya yang terlihat 'kurang harmonis' itu tengah sibuk dengan sarapan yang tersaji . Seorang gadis mengunyah roti tawarnya sedikit lebih cepat dari pagi-pagi biasanya . Seorang anak lagi memandang ibunya dengan tatapan datarnya . Demikian yang seperti biasanya , dingin seperti es .
Sang ibu pun merespon tatapan yang tidak asing lagi baginya itu dengan senyumnya . Seulas senyum hangat yang mungkin bisa mengalahkan hangatnya matahari pagi . Semuanya pun meleleh karenanya . Termasuk hati Sasuke yang selalu merasa damai jika melihat senyum itu terlukis di wajah ibunya , meskipun wajahnya masih begitu datar .
"Ada apa , Sasuke ?" tanya Mikoto .
Tiba-tiba Sasuke mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya . Hinata pun ikut memperhatikan . Ia ingat betul bahwa benda itulah yang menusuk kakinya . Benda kecil berkilau yang pada sisi lainnya memang sedikit runcing dan itu cukup untuk menambah luka-luka di kakinya . Lalu , Sasuke meletakkan benda itu di atas meja berlapis taplak putih bersih .
"Lho..? Ini anting-anting kaa-san kau temukan dimana ? Kenapa bentuknya sudah penyok begini ?" Mikoto bertanya-tanya .
Beberapa hari yang lalu , Mikoto memang mengeluh kehilangan anting berbentuk bintang yang berwarna perak . Semula ujung-ujung bintang dan pengaitnya masih berbentuk . Tapi setelah ditemukan oleh Sasuke , mengapa sudah penyok dan bahkan ada yang patah ?
"Go-gomen , ne kaa-san , aku tidak sengaja menginjaknya.. Ja-jadi penyok begitu . Gomennasai..." tiba-tiba Hinata menimpali pertanyaan Mikoto .
"Tapi kalau cuma terinjak seharusnya tidak penyok begini , 'kan ? Apa kau yakin baik-baik saja , Hinata ?" ucap Mikoto sedikit cemas .
"A-anu... sebenarnya ... a-aku jatuh di tangga pagi ini , kaa-san . Dan... aku me-menimpanya ." kata Hinata sambil tertawa kecil .
Terus terang itu sangat terlihat polos di mata Mikoto . Dan Mikoto pun kembali menghiasi pagi ini dengan senyuman . Senyuman kacau karena menahan tawa riangnya . Tapi pada akhirnya , wanita itu pun tertawa seperti mendengar lelucon . Hinata yang melihatnya hanya tersenyum aneh sambil berbatin , 'Apa ada yang aneh dariku ?' .
"Wahahahahaha... kau polos sekali , Hinata . Jadi , itu sebabnya kalian datang agak terlambat , ya ? Gomen , gomen , ne~ Lalu , apa kau baik-baik saja ? Sepertinya kejadian yang seperti itu terlihat sedikit menyakitkan ." ucap Mikoto .
"A-aku cuma sedikit terkilir dan tergores saja . Untunglah nii-san menolongku . Nii-san baik sekali." ujar Hinata berterus terang setelah merasa sedikit plong karena yang dikatakan ibunya bukan suatu hal yang tabu .
"Hn ."
"Tapi , aku masih bisa berjalan . Aku akan merasa baik-baik saja kalau bisa mendukung nii-san pertandingan nanti ." ujar Hinata sambil tersenyum .
"Hei , kalian . Ini sudah siang . Ayo berangkat , anak-anak ." tiba-tiba Fugaku sudah berdiri di depan pintu depan . Sepertinya ia sudah menunggu terlalu lama .
"Hai' ."
-oo0oo-
Ke kiri , ke kanan pula . Sudah kesekian kalinya , Naruto menengokkan kepalanya ke arah-arah yang demikian hanya untuk mencari seseorang . Kalau dipikir-pikir , seharusnya Sakura yang dianggapnya gadis nakal itu , tidak akan secentil itu . Meskipun pada kenyataannya , Sakura pandai mengolah kata-kata biasa menjadi godaan yang sangat ampuh bahkan sejernih apapun pikiran si mangsa . Benar juga , sehitam apapun dia , Sakura tetap seorang perempuan yang butuh waktu lama untuk mandi . Terutama karena Sakura bangun terlalu siang dan mungkin dia mengantri paling akhir di sebuah toilet umum .
"Hoamhhh... tertidur dengan seorang gadis di sampingmu untuk pertama kalinya itu membuatmu tidak bisa tidur semalaman ." ujarnya sedikit-banyaknya cenderung mengeluh dan menyalahkan sang gadis berambut bubblegum itu ketimbang matanya sendiri .
"Kalau itu mengganggumu , gomen . Aku tidak akan kebagian tempat duduk lain selain yang ada di sampingmu . Santai saja . Aku tidak akan bilang pada Hinata-chan , kok ."
Naruto mengerjap . Kelihatannya ada yang tidak beres dengan telinganya ataukah...?
"Sa-sa-sakura ?" tiba-tiba Sakura sudah ada di depan matanya .
Mengenakan baju olahraga seperti yang dipakainya , hanya saja bagian tubuhnya lebih kecil dan berlengan panjang . Aneh , apa dia tidak memakai baju cheerleader pendek dengan pom-pom yang berwarna mencolok itu . Kita lihat saja reaksinya nanti .
"Kenapa...-?"
"Aku memakai seragam cheer ala 'Queen of Gossip' itu di dalam baju olahraga ini . Kenapa ? Kau mau melihatku dalam peragaan busana irit kain , Naruto ?" matanya berkilat tajam seperti pisau yang siap menusukmu tanpa ampun .
'Glek...!' Naruto menelan ludahnya .
"Eh... bukan begitu , Sakura-chan... A-aku hanya.." kata-kata Naruto berhenti terdengar ketika Sakura terlihat berkomat-kamit tidak jelas , lalu berteriak . Terus terang volume yang melebihi kapasitas itu , hampir merusak gendang telinganya . Ah , rasanya ia telah dikutuk .
"Dasar baka hentai ! Jadi selama ini kau jadi atlet KHS hanya untuk melihat cheerleader-cheerleader memakai rok mini ?" omel Sakura .
"Kau sendiri juga penggoda ! Kau terlalu sembrono untuk jadi seorang cheerleader !" seru Naruto .
"Apa ?! Bukannya kau yang sembrono !? Kau kan sering dihukum ." Sakura pun mulai terjerumus dalam perdebatan itu .
"Kau adalah siswa yang paling sering dihukum di Konoha ! Dibandingkan itu , bukankah aku lebih baik ?" Naruto juga .
"Enak saja ! Cih , kau menyebalkan , baka !" pertarungan mulut itu berlanjut dengan emosi yang semakin samar .
"Dan kau ...-" hampir saja , Naruto membalasnya . Sayangnya...
"Ups ! Sudah cukup kalian bertengkar . Apa aku harus mengulangi kesalahanku tempo lalu ?" tanya Shion yang tiba-tiba muncul dibalik pertengkaran sengit mereka .
Berbeda dengan Haruno Sakura yang tetap menjaga kepribadiannya sebelum nanti harus terlanjur menodainya . Shion saat ini sudah bersiap-siap dengan kostum cheerleader yang dapat dibilang... 'yah , cukup fantastis !' Dengan kerah berbentuk V dan lengan pendek yang cukup mengekspos kulit putih Shion , ia pun melengkapinya dengan rok pendek sekitar 1 centi ke atas lutut . Cukup cocok untuk gadis yang punya postur tubuh ideal , bukan ? Dan Shion cukup yakin bahwa dirinya juga masuk dalam kriteria itu .
"Ke-kesalahanmu ? Apa itu ?" mereka berdua bertanya-tanya sementara Shion hanya manggut-manggut ringan dengan wajah malas .
"Membuat rumor terhangat sepanjang masa . Seorang siswa yang nyaris dikeluarkan ternyata menjadi simpanan seorang kekasih gadis lugu yang malang itu . Aku kasihan pada Hinata-chan ."
Mendengar perkataan Shion , Sakura merasakan sejuta bara api yang terbakar dalam lubuk hatinya . Nyatanya Sakura tidak pernah menginginkan adanya ikatan dengan Naruto . Nyatanya , ia tak pernah berharap susah-susah untuk mencari kenyataan yang sebenarnya . Kenyataannya , ia tidak pernah terlibat sesuatu yang tidak menyenangkan dengan orang lain . Dan , terus terang pula sebenarnya...
"K-kau..." hampir saja ia meluncurkan pukulannya , namun Naruto menahannya .
"Baka..." rutuknya sambil menggigit bibirnya .
Untuk kesekian kalinya , Sakura menyalahkan tingkah bodoh yang dilakukan Naruto . Menegaskan bahwa itu bahkan lebih bodoh daripada hal yang dilakukan seekor keledai . Bodoh , bodoh , bodoh sekali . Kenapa di saat ia sudah siap , Naruto tidak pernah mengizinkannya untuk itu . Ia kesal , bahkan jika ia harus membenci hidupnya sendiri .
"Kau tidak boleh . Seorang gadis tidak boleh berteman dengan kekerasan . Tolong pukul aku saja , Sakura ." ucap Naruto .
Sakura menghela napasnya . Menghela napasnya dengan durasi waktu yang lebih panjang dan volume udara yang lebih besar untuk meredakan emosinya .
"Sudahlah , aku ingin masuk ke bis . Meskipun aku seorang amatiran yang hanya mengandalkan keberuntungan , setidaknya aku bisa melompat dan aku juga bisa lebih feminim dari pada yang pernah kau bayangkan sebelumnya !" kata Sakura mencoba menghibur dirinya sendiri .
"Ke-kenapa , dia ?" Shion mulai bergumam keheranan melihat sikap Sakura yang lain daripada yang lain .
"Entahlah... mungkin dia sedikit kurang mood , kurasa . Dan kau ? Ada apa denganmu sampai mempermainkan hati orang seperti itu ? Aku tidak habis pikir . Demi berita , kau akan melakukan hal-hal gila seperti itu . Bahkan mendorongku ke arah Sakura . Apa itu dirimu yang sebenarnya ?"
Naruto pun mulai mengerti sebesar apa bara api yang menumpuk di hati Sakura . Tapi , ia berusaha untuk memojokkan orang yang telah membuatnya masuk ke dalam masalah Sakura meskipun sedikit itu dengan baik-baik . Karena setidaknya , di rumahnya tak pernah diajarkan tentang kekerasan dan di keluarga kecilnya itu 'kepalan tangan' dilarang . Meskipun begitu datar cara penanganannya , ia tak akan pernah ambil diam sebelum Sakura kembali tersenyum . Lebih tepatnya senyum asli mengingat Sakura terlalu sering menyimpan masalah dengan topeng ekspresi yang dibuatnya dengan begitu baik .
Tiba-tiba ekspresi penuh sindiran milik Shion berubah . Gadis berambut pirang yang suka tampil dengan pakaian mininya itu terperangah mendengar ucapan yang lebih serius daripada bayang-bayang Naruto yang pernah ia kenal . Semua tentang Naruto yang tidak pernah berhenti diam hanya untuk mengatakan kata-kata tegas seperti itu . Bahkan sampai ke sorot matanya pun sampai berubah 180 derajat . Tajam .
"Bu-bukan begitu , Na-namikaze-kun... Ha-hanya saja memang ada yang menyuruhku untuk melakukan semua ini , kau tau ? Dia memohon bahkan membayarku . Dia ingin mempersatukan kalian . Tapi aku tidak tau mengapa . Dan aku pun menyanggupinya karena bagiku itu adalah hal yang mudah dilakukan ." terang Shion panjang lebar .
"Be-benarkah ? Menyuruhmu ? Siapa dia ? Katakan padaku !" paksa Naruto .
"Ta-tapi-tapi...! Dia bilang ini rahasia dan masalahnya sangat serius ." ucap Shion .
"Tidak apa-apa ! Aku cukup beruntung karena dia ingin mempersatukan aku dengan Sakura-chan . Aku cukup terobati walaupun pada akhirnya aku harus melupakan Hinata-chan . Aku akan sangat berterimakasih kalau aku tau siapa makhluk mulia yang perhatian itu . Siapa dia ? Siapa dia ?"
"Tapi kau janji jangan bilang pada siapapun , ne~?"
"Kecuali Sakura-chan ?" pinta Naruto sambil menampakkan efek bling-bling pada matanya .
"Oke . Kalau Haruno mungkin boleh . Yang penting jangan katakan ini pada siapapun . Yang menyuruhku melakukan ini adalah..." tatapan dalam Shion semakin memperjelas bahwa yang diucapkan bukan basa-basi lagi .
"..." Naruto menyimaknya dengan teliti .
"Uzumaki Karin ."
"A-apa ?!"
Yang terbayang di pikirannya adalah seorang gadis berambut merah dan berkacamata kotak . Seingatnya , ia adalah teman Sakura yang mungkin sampai saat ini masih belum berubah tabiatnya . Menjadi seorang gadis nakal yang sama tingkatnya seperti Sakura yang dulu . Tapi untuk apa gadis itu menjodohkan Sakura dengan dirinya ? Apa maksudnya ? Dan apa masalahnya sampai harus membayar Shion hanya demi mendekatkan mereka dalam jebakan .
"Be-benar ini , yang kau bilang ?" tanya Naruto sedikit bawel karena berpikir bahwa rasanya Uzumaki Karin yang terlalu pendiam itu mustahil menjadi cupid .
"Iya . Aku benar , kok... dia sendiri yang datang ke rumahku dan memohon . Dari raut wajahnya , rasanya sangat serius . Dan aku tidak bisa menolak kalau dia sampai memohon sampai membayar hanya untuk urusan sepele . Tapi aku yakin dia melindungi sesuatu di samping hubungan kalian ." jelas Shion kembali meyakinkan Naruto yang konon katanya terkenal keras kepala .
"Oh , kalau begitu , arigatou . Ini adalah informasi yang penting bagiku . Semoga harimu menyenangkan !" seru Naruto sambil berlari ke arah bus mini berwarna putih yang terparkir di sisi jalan .
Matanya kembali melotot tepat saat ia menyadari bahwa Sakura yang ia kira sudah masuk ke dalam bus sejak awal ternyata masih berdiri di depan bus sambil memegang ponselnya . Kelihatannya , Sakura telah mendengar percakapannya . Sakura pun menghampiri Naruto dengan tatapan yang sama seperti yang Naruto lakukan pada Shion sebelum mendapatkan jawaban yang sesungguhnya—penuh tanda tanya .
"Benarkah itu , Naruto ? Benarkah apa yang dikatakan 'Queen of Gossip' itu ?"
"Ah , sudahlah . Sepertinya kita harus melupakan itu semua dan mempersiapkan yang sebaik-baiknya untuk pertandingan antar sekolah kali ini . Ayo , Ganbatte !"
"Ganbatte !"
Naruto pun membuang napasnya lega . Tidak ada yang membuat semangat Naruto kembali menyala kecuali ramen dan senyum Sakura . Ia sangat lega Sakura bisa menyisihkan pikiran kalutnya jauh-jauh sebelum pertandingan nanti yang akan dilaksanakan gadis berambut bubblegum itu dengan kehebatan keamatirannya dan keberuntungan yang muncul tanpa diundang . Yah , semoga saja senyum itu bukan hanya sebatas coretan tinta yang bisa dihapus dengan mudah .
-Suna High School Sport Olimpiade Area-
"Aduh... tak kusangka ternyata Suna sepanas ini . Bagaimana nanti , ya saat pertandingan ?" keluh Sakura sambil mengibaskan tangannya sebagai pengganti kipas .
Benar , suasana di kota Suna yang menjadi tempat para berkumpulnya para atlet pemula itu begitu panas . Bukan hanya siswa-siswa dari Konoha yang terbiasa di tempat yang cukup sejuk . Mungkin sebagian besar peserta dari daerah lain juga terlihat sedikit lebih kewalahan dengan keringat yang mengucur dari badan mereka . Payah , mereka kalah sebelum perang . Apa artinya itu sang tuan rumah yang sudah terbiasa dengan udara kering Suna bisa memanfaatkan suasana ? Bisa jadi . Karena semangat pun bisa mengalahkan suasana apapun asalkan membara . Benar begitu ?
Sakura pun mengambil sebuah botol berisi air putih yang dibawanya dari rumah . Tapi sial , air yang disangkanya bisa menjadi pemadam kekeringan di kerongkongannya ternyata ikut menyerap panas dan menjadi air seduhan . Andaikan saja Suna yang berhawa panas hampir sepanjang tahun ini tiba-tiba dihujani salju .
'Pluk ! Cess !'
"Hwaaaaa!" teriaknya terkejut saat merasakan sesuatu yang dingin tiba-tiba menyentuh telinganya.
"Na-naruto ?" gumam Sakura terheran-heran saat Naruto tengah berdiri di dekatnya dengan membawa sekaleng kola dingin yang masih berembun . Singkatnya , dia merupakan pelaku dari semua ini .
"Untukmu ." ucapnya sambil melemparkan kola itu . "Aku baru membelinya di sekitar sini . Huh... Suna benar-benar panas ! Aku heran kenapa pertandingan olahraga yang jelas-jelas menghasilkan banyak keringat ini justru diadakan di daerah kering yang memeras keringat . Aku berharap aku adalah sebuah kaktus ." candanya yang membuat Sakura tertawa kecil .
"Dasar Naruto , ada-ada saja !" kata Sakura jujur .
"Hei , itukah rasa terimakasihmu ? Aku tau kau kepanasan . Jadi aku membelikannya khusus untukmu ." ungkap Naruto .
"Huhh... biar !" ketus Sakura sambil berlagak seolah-olah ia tidak butuh kaleng dingin yang sekarang dicengkeramnya .
Sakura pun membuka kaleng itu lalu meminum kolanya seteguk demi seteguk untuk sekedar membuat hujan buatan di musim kemarau yang terjadi di dalam tenggorokannya . Dan , tak tanggung-tanggung . Ia menelan minuman berkarbonasi itu dengan nada-nada air yang meluncur dengan teratur memasuki rongga pencernaannya . Sebenarnya , itu membuat Naruto yang sudah dibuat sedikit jengkel karena sudah berkali-kali adu mulut dengan Sakura menjadi...
'Glek !' ...menelan ludahnya sebagai pengganti minuman dingin khayalannya .
Ia pun mengambil sekaleng minuman dingin lagi dari kantong plastik yang dibelinya bersama kola yang sedang diminum Sakura . Untung ia membeli dua . Jadi , ia tak perlu menelan ludahnya sendiri sementara ia membiarkan Sakura meminum kola yang dibelinya . Ia pun tersenyum sesaat , menyadari Sakura yang juga tersenyum padanya sambil memegangi kaleng berwarna merah bata yang sudah lebih ringan .
"Arigatou ne , Naruto !"
"Yo !" ujar Naruto bersikap sok cool .
Tiba-tiba dari arah samping , ada seorang gadis dengan rambut pirang yang melintasi mereka . Gadis itu terus saja melintas dengan teburu-buru sampai rambutnya yang dikuncir ponytail itu mengenai wajah Sakura . Sakura tadinya tidak memikirkan apapun soal gadis itu . Tapi saat dilihat dengan jelas , ia baru sadar kalau ia pernah meihatnya di suatu tempat .
"Hmmm... siapa, ya?" ia bergumam .
"Siapa ? Maksudmu , dia ?" jawab Naruto sambil menunjuk gadis itu . "Mungkin teman lamamu ?"
"Haa ?" seru Sakura . "Itu dia! Kau jenius Naruto . Dia memang teman lamaku !"
Sakura pun segera menghampiri gadis itu . Sementara Naruto mengekorinya .
"Hai..!" sapa Sakura sambil tersenyum .
"Siapa kau ? Apa... apa aku mengenalmu ?" tanya gadis itu .
"Ya ." jawab Sakura .
"Benarkah ? Apa kau mengenalku ?" gadis yang tadi terlihat panik itu kini menatap Sakura .
"Kau tidak ingat aku ? Ayo tebak , Yamanaka Ino ." tantang Sakura . Ia berusaha mengingatkan Ino bahwa dia adalah sahabat kecilnya .
"K-kau tau namaku ? Siapa kau sebenarnya ? A-a- tunggu ! Rasanya aku hampir mengenalmu . Aku pernah melihatmu di suatu tempat , tapi... dimana , ya ?" Ino menggaruk kepalanya .
"Sudahlah Sak-hmmmphhh!"
"Psstt... diam Naruto-baka ." Sakura membungkam mulut Naruto yang hampir menyebutkan namanya .
Sakura pun tersenyum pada Ino . Ia mencoba mengingatkan gadis itu akan memorinya dulu .
"Ah , senyum itu ? Rambut pink itu ? K-kau..." dengan ekspresi teranehnya , Ino menunjuk Sakura . "Kau Hatsune Miku !"
Dengan keringat sebesar biji jagung , Sakura dan bahkan orang lain melongo , terjatuh dengan tidak elitnya . Bagaimana mungkin ia adalah Hatsune Miku yang merupakan tokoh fiksi ? Dan lagi , Hatsune Miku tidak memiliki rambut pink . Ino tidak jauh berbeda dari yang sebelum sebelum dan sebelumnya lagi .
"Aku ini Sakura ! Sa-ku-ra ! Dasar Ino-buta-chan !"
"A-apa ?! Kyaaaaa ! Sakura-chan... sudah lama sekali kita tidak bertemu ! Sudah lebih dari 10 tahun , ya ? Bagaimana kabarmu ? Baik , kah ? Bagaimana kabar Kizashi-jiisan ? Di-dia masih... Sakura-chan ?" Ino menyadari ada gelagat aneh yang terpampang di wajah cantik Sakura .
"Tou-san sudah meninggal , Ino-chan ." kata Sakura datar .
"G-gomen , ne Sakura-chan kalau aku melukaimu ." Ino merasa bersalah . Lagi .
"Tidak apa-apa . Aku senang sekali bisa bertemu dengan Ino-chan .. aku sungguh merindukanmu ." ungkap Sakura . Ia pun memeluk sahabatnya dengan erat .
Flashback-on
Pagi itu Hinata dan Ino sedang berjalan memasuki gerbang sekolah . Mereka melihat beberapa anak berlatih tenis tepat di lapangan di dekat gerbang . Ino pun menjinjing tasnya . Hinata hanya berlari kecil mengikuti Ino yang kebetulan ditemuinya di depan sekolah . Ia sama sekali tidak menyadari sebuah bola tenis meluncur dengan kecepatan di atas rata-rata . Melambung ke arahnya tanpa jeda atau toleransi lain yang bisa memberikannya alasan baginya untuk menghindar .
'Duaggghhhhh !'
Lebih dari yang bisa Ino duga . Ino menutup matanya secara refleks karena tidak tega melihat temannya yang begitu polos itu kesakitan . Apalagi bola tenis itu meluncur dengan cepatnya . Ia membuka matanya perlahan-lahan . Beberapa orang terlihat berkerumun mendekati Hinata . Lebih tepatnya , Hinata yang pingsan tergeletak karena kepalanya tertimpa bola tenis . Seorang gadis berambut coklat menggigit jarinya takut-takut .
"G-gomennasai... a-aku tidak sengaja ! Aku benar-benar tidak sengaja !" gadis itu pun menyesal , merutuki perbuatannya yang ceroboh .
"Sudahlah , Yakumo-chan . Lebih baik kita bawa dia ke klinik sekolah ." ujar Ino .
Hinata terlihat tertidur dengan wajah susahnya . Jidatnya lagi-lagi terbentur . Dan itu membuat dampak yang tidak kecil . Tak tanggung-tanggung . Sedikit luka memar . Herannya , Hinata sampai pingsan di tempat . Ino yakin , kalau ia sendiri yang merasakannya , ia tidak akan ambruk separah itu . Ino menggeleng . Sedikit banyaknya , ia mengkhawatirkan keadaan Hinata .
Flashback-off
Ah ! Ino baru ingat kalau Hinata masih tertidur di klinik sekolah . Tak apalah . Meskipun ia tau Hinata pingsan . Paling-paling ia hanya pingsan sebentar . Karena yang membuatnya pingsan bukan suatu hal yang dahsyat . Hanya sebuah bola tenis . Lega sekali terbayangkan kalau Hinata aman-aman saja . Lagipula ini baru sekitar jam 8 kurang . Hinata pasti akan baik-baik saja kecuali kalau ia belum juga terbangun selama berjam-jam .
"Jadi , kenapa kau terlihat panik ? Apa kau kehilangan sesuatu ?" Sakura mulai cemas mengingat ketakutan Ino itu .
"Bu-bukan... kau masih tau saja kebiasaanku . Kau benar-benar Sakura-chan . Jadi , kau seorang cheerleader juga ?"
"Iya . Tapi amatiran ." kata Naruto dengan nada mengejek .
Tiba-tiba ia merasakan aura hitam di sekeliling Sakura . Kabut hitam bergelombang dan mengerikan dengan api yang menyala , bersiap untuk membuatnya gosong . Dari tatapan matanya terlihat petir hampir keluar untuk menyambarnya . Naruto mengernyit , tersenyum menghibur Sakura barangkali hal yang dilakukannya berhasil mengurangi temperatur udara di dekat Sakura . Huft... pasrah . Yang bisa ia lakukan sekarang hanya menerima kenyataan .
'Dugg !' Sakura memukul lengan Naruto .
"Naruto , itu tidak lucu !" teriaknya .
Dan sontak itu membuat Ino terpingkal-pingkal . Ia memeluk perutnya kesakitan—kesakitan karena menertawakan pasangan itu . Sampai keluar air mata pula . Sudah lama ia tidak bertemu dengan sahabatnya . Ternyata ia masih pandai membuatnya tertawa dan ia sangat merindukannya .
Sakura pun tidak menyangka akan bertemu dengan Ino disini . Ternyata dunia begitu sempit . Ia pun ikut terpingkal sekaligus terpingkal menertawakan Naruto yang kelihatan ternistai . Rasaya bahagia sekali bisa menemukan seseorang yang sudah lama tidak ia temui . Ino yang sekarang tampak lebih modis . Rambutnya lebih panjang dan mungkin terlihat sangat panjang baginya .
Tidak seperti dirinya yang tidak pernah berpikir untuk berdandan , bahkan ia tidak tau mana yang namanya maskara . Ia masih ingat saat Shion menunjukkan alat-alat kosmetik pada temannya . Mungkin yang lainnya akan berkata , 'Wah , kau beli dimana ? Benda ini cantik !' . Tapi Sakura hanya menatap dengan heran 'Apa itu ?' . Seisi kelas yang sedang dipenuhi anak perempuan itu pun sukses dibuat tertawa oleh kepolosan Sakura . Sakura menggelengkan kepalanya . Tapi rasanya , benda-benda seperti itu belum tentu cocok untuk seorang murid .
Lagipula cukup dibilang 'cantik' oleh Naruto , ia merasa sudah cantik tanpa kosmetik . Pipinya merona merah . Ia tidak pernah ingat kapan ia merawat tubuhnya . Sakura pun menyisir rambutnya dengan jari-jarinya . Membuatnya kurang lebih sampai terlihat tanpa beberapa helai yang kusut . Naruto mengangkat sebelah alisnya heran .
"Kenapa ? Ada apa , Sakura-chan ?" tanya Naruto .
"Bu-bukan a-apa-apa ." Sakura menjadi sedikit lebih gugup dari biasanya . Terlihat seperti seseorang .
"Kau mengingatkanku pada Hinata-chan ." kata Naruto .
"Kau juga mengingatkanku pada Hinata-chan ."
Tunggu ! Ino dan Naruto mengatakan hal yang nyaris identik . Dalam beberapa detik , mereka bertiga terdiam . Lalu Sakura mulai mengawali percakapan mereka lagi . Ia tampak sedikit histeris . Ino juga . Naruto pun ikut-ikutan .
"Apa orang yang memiliki kepribadian sama bisa kebetulan memiliki nama yang sama ? Ini aneh , bukan ?" Ino mulai berceloteh ria .
Sementara wajah Sakura mulai menegang .
"A-apa dia Hyuuga Hinata ?" tanya Ino . Ino menggeleng . Nol besar .
"Bukan . Seingatku marganya Uchiha ." kata Ino .
Naruto menoleh pada langit yang biru . Mulai terpikir sesuatu di otaknya . Paling tidak tentang apa yang dialaminya hari ini .
'Hmm... Uzumaki Karin... Uchiha Hinata... Bukankah ini adalah kebetulan yang janggal ?' pikirnya .
Sepertinya Sakura pun memikirkan hal yang sama . Tampak sebelah alisnya terangkat , jarinya menyentuh dagu . Ia pun menatap Naruto dengan tatapan 'pikiran kita sama' . Ia mengangguk dengan senang dan mendekatinya .
-To be BERSAMBUNG-
Kyaaaa ! Tidak terasa sudah chapter 13 . Mungkin kepanjangan , ya ? Gomen , ne para readers . Dan pasti udah nunggu lama . Yang ini maaf juga ya . Makhlum lah , murid SMP seperti Rose masih banyak urusan . Terutama minggu-minggu ini masih banyak ulangan harian . Hehehe...
Kalau anda-anda sekalian kepengen tau , Rose kadang curi-curi waktu lihat-lihat review kalian pas pelajaran TIK . Soalnya kadang ngeri kalau cek review sendirian .
Oh , ya . Untuk Hinata , perlu kalian tau bahwa bola tenis itu lebih keras daripada bola bola voli . Rose pernah ngerasain tapi untungnya bukan kepala . Ayolah , walaupun cuma bola tenis . Hinata kan kondisinya lagi kurang fit gitu . Pingsan deh...
Beberapa chapter ke depan akan Rose buat adegan Hinata ketemu Naruto , memang belum ingat apa-apa . Tapi lama-lama nanti juga sembuh amnesianya . Dan mungkin akan Rose buat adegan pas Sakura dalam bahaya , terus ditolong Naruto . Tentang Karin yang udah kesebut kesekian kalinya , coba tebak si Karin terlibat apa ? Hmm..? Pasti pada Kepo nih...
Makanya , review donk . Biar Rose semangat bikin fic , fic ini pun berlanjut secepatnya . OKE ! Review...!
Dan ini buat yang review non-login .
