SUMMER BREEZE
[REMAKE; Novel by Orizuka]
CHAPTER 12
KAI – SEHUN - CHANYEOL
GS/Gender Switch
"KENAPA kamu?" tanya Ayah begitu melihat Chanyeol yang babak belur. Jongin baru akan bicara ketika Chanyeol bergumam ringan,
"Abis kena pukul preman kampus." Jongin melongo sementara Ayah mengernyitkan dahinya. Saat ini, mereka semua sedang makan malam. Hanya Sehun yang tidak ikut karna masih sedikit demam.
"Apa mereka cari gara-gara?" tanya Ayah tak suka.
"Biasalah," Chanyeol melirik Jongin yang menggigit ayam gorengnya dengan buas. "Alasan nggak jelas."
"Apa kamu yakin preman-preman itu nggak dikirim sama seseorang?" tanya Ayah lagi, ada nada curiga pada suaranya, membuat Jongin emosi.
"Maksud Ayah?" tanya Chanyeol sebelum Jongin sempat membuka mulut.
"Sebentar lagi kan turnamen," Ayah mengedikkan bahu. "Siapa tau ada yang mau ngerjain timmu."
Chanyeol tertawa geli selama beberapa saat. "Mana ada yang begituan, Yah! Itu kan cuma pertandingan."
"Jangan ngeremehin yang begituan Ri," kata Ayah tegas. "Ayah pernah liat tawuran cuma karna tim-nya kalah. Dan ada yang mati." Hening sejenak di meja makan. Jongin tahu, Ayah tadi meliriknya tepat setelah selesai berbicara.
"Tenang Yah," Chanyeol memecah kesunyian. "Aku bakal hati-hati. Dan menang juga."
"Semoga aja," kata Ayah kemudian diam lagi.
Jongin melirik Chanyeol yang tampak sudah kembali makan. Jongin tahu, Chanyeol tidak pandai berkelahi, dan kalah di setiap perkelahian dengan siapa pun. Tapi Jongin tak akan menyangsikan kemampuannya bermain basket. Jongin juga menyadari selama makan malam, atau tepatnya, setelah dia memberitahu soal pekerjaannya kepada Ayah, Ayah tak pernah lagi mengajaknya berbicara. Jongin tiba-tiba teringat perkataan Sehun, bahwa Ayah sudah tua, hanya mengetahui bahwa Jongin adalah anak yang nakal dan tak bisa apa-apa selain mempermalukan nama keluarga, juga diramalkan menjadi penyebab kematian Ayah. Jongin meletakkan sendok dan garpunya, menarik napas panjang, lalu mengembuskannya lagi dengan mantap. Dia merasakan tangannya dingin.
"Yah," kata Jongin membuat aktivitas semua orang terhenti. Ayah, Ibu, dan Chanyeol menatapnya heran. "Kayaknya kita perlu bicara."
Ayah begitu terkejut sehingga sendoknya melayang jatuh ke piringnya. Chanyeol melongo dengan parah, sementara Ibu hanya bisa membelalakkan matanya. Selama beberapa menit, tak ada yang berbicara. Jongin menatap Ayah pasrah.
"Ya udah kalo nggak bisa," katanya, lalu kembali melanjutkan makan.
"Nggak, nggak," kata Ayah tiba-tiba, membuat Jongin kehilangan napsu makannya. "Setelah makan. Di kamar Ayah."
Setelah Ayah bicara demikian, tak seorang pun lagi berniat untuk meneruskan makan. Ayah beranjak dari kursinya lalu masuk ke kamar dengan wajah tegang. Jongin melirik kepada Chanyeol dan Ibu yang juga tegang, air muka mereka mengatakan agar Jongin tak usah mencari gara-gara.
"Tenang, Bu," kata Jongin, lalu mengikuti Ayah masuk ke kamar. Jongin mendapati Ayah sedang duduk di kursi rias Ibu, menghadapnya. Jongin terpancang di tempat sejenak.
"Nah, apa yang mau kamu omongin? Semoga bukan kamu kehilangan kerja, terus kamu mau minta duit sama Ayah," kata Ayah ketus.
Jongin menatap ayahnya tak percaya, lalu berusaha mengendalikan diri. Jongin tak akan menyianyiakan kesempatan ini hanya karna termakan omelan Ayah.
"Yah...," kata Jongin, tapi selanjutnya, tak sepatah kata pun lagi keluar dari mulutnya. Tenggorokan Jongin serasa tersumbat.
"Ya ampun, Jongin, apa kamu habis bunuh anak orang? Iya, kan? Iya, kan? Jawab!" sahut Ayah dengan wajah ngeri. Dia sekarang berdiri dan mendekati Jongin. Jongin menggeleng cepat, menghindari Ayah yang akan segera memukulnya.
"Bukan Yah, bukan itu!" sahut Jongin sementara Ayah terus mengejarnya.
"Lalu apa? APA, JONG?" sahut Ayah lagi, berhenti mengejarnya untuk mengurut dadanya.
Jongin berhenti, lalu memandang Ayah yang segera duduk di kasur untuk menenangkan diri. Jongin menyingkirkan rasa takutnya, lalu berjalan mendekati Ayah. Ayah tampak kesakitan karna jantungnya. Jongin menatapnya sedih. Ayah sudah terlalu tua. Jongin tak bisa lagi mempermainkannya. Sehun benar. Selama ini, Jongin terus-terusan menyalahkan Ayah yang tak pernah menyayanginya. Padahal harusnya Jongin bisa mengerti Ayah, dan menjadi apa yang diinginkannya. Jongin terlalu egois untuk itu. Jongin 'senang' membuat Ayah marah. Jongin jatuh berlutut di depan Ayah, yang langsung melongo. Jongin menarik napas, lalu mengeluarkannya lagi. Tenggorokan Jongin benar-benar tersekat, seolah mengatakan satu kata saja akan membuat air matanya mengucur keluar. Jongin memandang sosok tua itu, yang masih melongo melihatnya.
"Kenap-"
"Tolong, Yah," kata Jongin, akhirnya bisa mengumpulkan suara. "Tolong, maafin aku." Ayah tambah melongo. Dia membuka-tutup mulutnya bingung. Selama beberapa menit, Ayah hanya menatapnya tanpa bersuara. "Aku janji nggak akan pernah ngecewain Ayah lagi," Jongin besusah payah menahan air matanya. Entah mengapa saat ini dia menjadi sangat sentimentil. "Aku janji." Ayah berusaha mengatakan sesuatu lagi, tapi tak kunjung keluar. Dia hanya bisa memandang Jongin yang sudah menunduk lama, kemudian menghela napas berat.
"Sudah, Jong," kata Ayah, seperti lelah dan tak percaya.
"Yah, aku serius!" sahut Jongin. "Suatu saat nanti aku bakal bikin Ayah bangga! Suatu saat nanti aku bakal jadi anak yang bisa Ayah banggain!"
Jongin hampir berteriak dan mengguncang-guncang tubuh renta Ayah, tapi tak dilakukannya. Jongin hanya diam di tempat, menahan segala emosinya, dan menepis pikiran bahwa tidak seharusnya dia meminta maaf karna sepertinya tidak berguna. Sampai kapan pun, Jongin akan tetap dicap sebagai anak yang memalukan, sekuat apa pun usahanya. Ayah terdiam, tampak setengah-terharu setengah-bimbang bagi Jongin. Beberapa detik kemudian, tangan Ayah terangkat, membuat Jongin mengelakkan kepalanya karna menyangka akan kena pukul. Tapi ternyata, Ayah malah menepuk pundaknya.
"Ayah tau kamu bisa," Ayah terdengar lelah. "Sekarang sana, panggil Ibu. Minta dia bawain obat Ayah." Jongin melongo untuk beberapa detik, lalu segera tersadar. Jongin bangkit berdiri, memandang Ayah yang tampak enggan memandangnya balik, lalu melangkah ke pintu dengan seulas senyum pada bibirnya. Setelah keluar dari kamar Ayah, Jongin mendapati Chanyeol dan Ibu menatapnya cemas. Chanyeol mungkin tidak begitu kentara, tapi Jongin yakin Chanyeol tadi berharap melihat sedikit luka di wajah Jongin.
"Bu, Ayah, obat," kata Jongin tak jelas, lalu bergerak menuju gazebo dengan langkah seperti zombie. Tangannya mengelus pundak tempat Ayah menepuknya tadi. Jongin yakin, hidupnya akan terasa jauh lebih mudah setelah ini.
.
.
"Yang bener?" teriak Sehun girang esoknya, setelah Jongin menceritakan kejadian semalam.
"Jadi, kamu udah baikan sama Om?" Jongin menganggukkan kepalanya tak jelas, yang segera dipukul oleh Sehun. "Jawab dong yang bener! Nggak usah pake gengsi gitu," tegur Sehun disambut cengiran Jongin. Sehun sangat senang melihat Jongin yang sekarang tampak jauh lebih bahagia. Jongin meluruskan duduknya di samping Sehun, matanya menerawang ke luar jendela.
"Selama ini aku bener-bener bego. Nggak dewasa. Seneng nyalahin orang lain. Seneng nyusahin orang lain. Seneng buat orang lain khawatir," kata Jongin seolah membuat pengakuan dosa. Jongin terdiam sebentar untuk mengambil napas. Sehun membiarkannya. Sehun ingin mendengarkan Jongin. "Udah terlalu banyak orang-orang yang jadi sasaranku. Ayah. Ibu. Wanda. Taemin. Luhan. Semua orang," lanjut Jongin, lalu menoleh kepada Sehun. "Kamu."
"Selalu. Selalu nyalahin semua orang, tanpa pernah berpikir kalau setengahnya atau lebih adalah kesalahanku juga. Nggak pernah berpikir jernih, selalu bertindak berdasarkan apa yang aku liat. Mungkin karna, yah, karna aku nggak pernah bisa percaya lagi sama kata hati aku. Kamu tau, kan, aku udah berhenti berharap sejak lama," kata Jongin lagi. "Tapi mulai sekarang, aku bakal coba lagi untuk berharap, dan semoga aja, harapanku bisa terwujud, supaya aku bisa percaya lagi sama kata hati aku. Omonganku aneh nggak Hun?" tanya Jongin ke arah Sehun, yang tersenyum.
"Nggak, kok," Sehun meraih tangan Jongin dan menggenggamnya. "Kalo begini caranya, kamu bisa menang lomba pidato antar-RT." Jongin nyengir lebar, lalu mempererat genggamannya.
"Kamu tau, Sehun," kata Jongin kemudian. "Semua ini, semua perubahan ini, semuanya karna kamu. Kamu yang membuka hati aku, kamu yang... yang begitu sabarnya nemenin aku, bahkan bertahan di saat aku bener-bener kacau. Aku nggak tau keajaiban apa lagi yang bisa bikin aku lebih bahagia dari ini."
Sehun tergelak. "Oke, sekarang yang aku tau, kamu tukang gombal."
"Aku nggak gombal," kata Jongin cepat-cepat. "Yah, sedikit sih, di bagian akhir..." Sehun pasang tampang cemberut. Jongin tertawa kecil. "Bener kok, Hun," kata Jongin lagi, matanya menatap Sehun serius. "Berkat kamu, semua bebanku terangkat. Kamu bener-bener seorang malaikat penyelamat bagi aku."
Sehun tersenyum sesaat, tapi lantas memandang Jongin bimbang. "Tapi Jong, masih ada yang belum kamu selesaiin." Jongin memandang Sehun heran, wajahnya meminta penjelasan lebih lanjut. "Chanyeol," kata Sehun lagi.
Jongin kembali menatap ke luar jendela. Didengarnya Chanyeol menutup pintu depan dan suara motor dinyalakan. Jelas dia akan berangkat ke kampus untuk berlatih basket. "Kamu tenang aja, Hun," kata Jongin kemudian. "Kami bakal baik-baik aja kok." Tapi Sehun tahu, Jongin sendiri tak yakin dengan ucapannya.
.
.
.
"Nice shot!" seru Suho ketika Chanyeol berhasil memasukkan bola ke dalam ring.
Kris memandang Chanyeol tidak suka, sementara Chanyeol tidak mengacuhkannya dan berjalan ke bangku untuk mengambil handuk. Chanyeol sedang mengelap wajahnya ketika Kris mendekatinya.
"Kamu nggak ambil serius kata-kata aku kemaren rupanya," kata Kris sambil berpura-pura minum untuk menghindari tatapan curiga Suho.
"Buat apa?" tantang Chanyeol.
Kris terdiam, dan Chanyeol dapat melihat dia mengepalkan kedua tangannya dengan gemetar. "Denger, aku butuh ini, oke?" katanya dengan nada mengancam. "Kalo kamu pikir ini cuma sekadar turnamen, ini bukan buat aku. Aku bener-bener butuh main di turnamen ini."
"Kenapa?" balas Chanyeol ketus. "Oh, tunggu. Jangan dijawab. Aku rasa aku tau kenapa. Ini karna Luhan, kan?"
"Bukan," sahut Kris dingin sambil melirik Luhan yang sedang duduk di bangku penonton.
"Ini soal hidup dan mati aku."
"Oh, jadi kalo kamu nggak ikut final, kamu bakal menggelepar, trus mati, gitu?" sindir Chanyeol, lalu terkekeh.
"Kamu tau kan, Ayah aku mantan petinggi basket terkenal," sergah Kris. "Kalo aku nggak main, aku nggak akan bisa dilirik manajer tim-tim besar! Dan Ayah aku bakal bunuh aku!"
Chanyeol menatap Kris galak. "Sejak kapan kamu jadi pengecut gini, heh?" sahut Chanyeol. Wajahnya hanya berjarak tiga senti dari wajah Kris. "Sekarang kamu minta belas kasihan aku untuk main di final cuma karna kamu takut sama Ayah kamu?"
Kris tampak terhina sesaat, tapi itu tak bertahan lama. Dia kembali mengeluarkan wajah liciknya, lalu mencondongkan tubuhnya ke Chanyeol sehingga mereka sekarang hanya berjarak beberapa mili saja.
"Aku udah minta sama kamu baik-baik, bahkan ngasih tau alasan kenapa aku pengen banget final ini, tapi kamu kayaknya terlalu sombong. Jangan salahin aku kalo terjadi apa-apa nantinya. Inget itu," ancam Kris, lalu bergerak pergi.
"Kalo kamu emang pengen banget, kenapa kamu nggak berusaha?" sahut Chanyeol kesak.
Kris tak menjawabnya. Dia berjalan kembali ke lapangan, sambil berusaha menahan rasa sakit di lututnya yang sudah setahun ini menderanya.
.
.
.
Jongin merebahkan dirinya di sofa. Hari ini, sesuatu yang besar telah terjadi padanya, pada hidup dan cita-citanya. Jongin sudah mendaftarkan diri sebagai siswa sekolah penerbangan di Deraya Flying School di bandara Halim Perdana Kusuma. Tadi pagi setelah kuliah, Jongin mengecek persediaan uang di ATM-nya. Ternyata sudah cukup untuk membiayai sekolahnya. Jongin telah mengambil formulir, mengisinya dengan penuh gairah, lalu diam-diam membubuhkan tanda tangan Ayah yang sudah lama dipalsukannya. Besok, Jongin akan melakukan serangkaian tes kesehatan. Jongin yakin dirinya cukup sehat, kecuali keadaan paru-parunya yang sudah memburuk karna rokok. Tes kesehatan ini diperlukan untuk mendapatkan Student Pilot Permit dari pihak Deraya. Jongin mengempaskan kepalanya ke atas bantal dan membayangkan dirinya menerbangkan sebuah pesawat jet. Jongin melakukan beberapa manuver, membuat semua orang yang menonton di bawahnya berdecak. Jongin menemukan keluarganya di antara orang-orang itu, dan dari langit, Jongin bisa dengan jelas melihat Ayah yang tersenyum bangga. Jongin membuka matanya lagi. Jongin tak pernah sesemangat ini dalam hidupnya.
.
.
Keseluruhan tes berjalan dengan sangat melelahkan. Jongin tak tahu apakan dia bisa lulus atau tidak. Pada saat tes kesehatan tadi, Jongin melihat dokter mengernyitkan dahinya saat mengecek paru-paru Jongin melalui stetoskop -dan mungkin akan lebih tercengang dengan hasil rontgen nanti. Mengenai luka-luka di wajah Jongin yang seperti menjelaskan bahwa Jongin adalah preman terminal, jelas dokter itu tidak begitu terkesan. Jongin sampai lelah karna tes yang berlangsung sangat lama itu.
Sekarang, Jongin tinggal menunggu hasil tes kesehatan itu, sambil menyesali hobi merokoknya, karna bisa saja hal itu menjadi penghambat cita-citanya. Nanti setelah Jongin mendapatkan hasil tes yang baik, baru Jongin akan diperbolehkan untuk mendapatkan Student Pilot Permit. Sebelum itu, harus melakukan tes bahasa Inggris dulu dan Jongin yakin untuk hal yang satu ini.
Sepanjang perjalanan ke rumah, Jongin tak bisa menurunkan otot bibirnya. Semua orang di bus disenyuminya. Dia sangat bahagia sekarang, mengetahui cita-citanya tinggal selangkah lagi. Jongin membayangkan akan mengajak Sehun terbang ke tempat-tempat romantis di seluruh dunia.
Jongin terduduk tegang saat tiba-tiba, dia teringat sesuatu. Sesuatu yang sangat penting. Sehun sudah terlalu lama berada di Indonesia. Dia pasti akan pulang beberapa hari lagi, dan Jongin tidak menyadarinya. Atau mungkin saja Sehun pulang hari ini, Jongin tidak tahu lagi. Jongin memukul kepalanya, menyesali kebodohannya karna selama ini tidak pernah bertanya pada Sehun. Di sisa perjalanan, Jongin berharap-harap cemas Sehun masih di rumah. Ketika sampai, Jongin melihat rumahnya sepi dan gelap. Tak sorang pun ada di sana. Kalap, Jongin menggedor-gedor pintu rumahnya, tapi tak ada yang menyahut. Jongin menjambak rambutnya. Tidak mungkin Sehun pergi tanpa memberitahunya. Mungkinkah, mungkinkah Sehun sengaja tidak memberitahunya untuk membiarkannya pergi ke Deraya tanpa beban? Jongin kembali menggedor-gedor pintu rumahnya keras-keras, darahnya sudah mencapai kepalanya.
"Kalo begitu caranya ngetok pintu, yang ada pintunya jebol," kata Chanyeol dari belakang Jongin.
Jongin berbalik, lalu mendapati Chanyeol sedang berjalan ke arahnya. Chanyeol melewatinya untuk membuka pintu sementara di belakangnya, tampak Ibu yang sedang mengangkut turun belanjaan, Ayah yang sedang mengunci mobil, dan Sehun yang sedang tertawa-tawa sambil membawa sebuah bungkusan. Entah harus lega atau kesal, Jongin hanya bergeming di tempatnya semula. Ibu melewatinya bingung, Ayah juga, tapi Sehun berhenti di depan Jongin melambai-lambaikan tangannya yang lentik di depan wajah Jongin.
"Jongin? Kenap-"
"Sini," kata Jongin dingin, lalu menarik tangan Sehun ke luar rumah dan membawanya ke taman. Sehun sendiri menatap punggung Jongin bingung. "Ada apa sih?"
"Kamu mau bilang, atau kamu sengaja nunggu aku lupa, trus tiba-tiba mati shock waktu tau kamu harus pulang ke Amerika mendadak?" sahut Jongin keras. Sehun terdiam sesaat, tatapannya berubah sedih. Sehun menggigit bibirnya keras-keras, tak langsung menjawab pertanyaan Jongin. Jongin menyipitkan matanya curiga, lalu menghela napas.
"Ya ampun, kamu udah mau pulang. Iya, kan?" sahut Jongin lagi. "Kamu habis belanja buat oleh-oleh, ya kan? Kamu udah mau pulang, kan?"
Sehun membiarkan Jongin berteriak-teriak. Sehun sebenarnya tak ingin membuat Jongin sedih, tapi bagaimanapun, cepat atau lambat, rencananya untuk pulang pasti akan diketahui Jongin. "Dan aku orang terakhir yang tau," dengus Jongin kesal. "Hebat banget."
"Jongin, aku... aku sebenernya... nggak mau pulang, kamu tau, kan?"
"Terus kenapa kamu pulang?" sambar Jongin cepat. "Orangtuaku... Mereka pengen nyariin aku universitas di sana... Aku harus ngurusin surat-suratku..." Jongin berhenti berteriak untuk berpikir. Sehun memang sudah lulus SMA, dan harus mencari universitas.
Tiba-tiba, terlintas ide gila di otak Jongin. "Kenapa nggak di sini?" tanya Jongin.
"Aku juga pengennya begitu, jangan pikir aku nggk pernah kepikiran itu," Sehun mendesah. "Tapi orangtuaku nggak ngebolehin. Mereka pengen aku sekolah di Amerika."
"Terus?" kata Jongin sinis. "Kamu pikir gimana dengan kita? Kamu mau pergi lagi ke Amerika sana, sekolah selama lima tahunan, terus aku? Jadi apa yang udah kita lakuin selama ini, sia-sia
aja? Kita ketemu buat berpisah lagi?"
"Jongin, kita udah pernah dipisahin sepuluh tahun sebelumnya," kata Sehun, terdengar lelah. "Lima tahun aja, apa susahnya? Lagi pula, jangan pernah berpikir kalo aku seneng pisah lagi sama kamu."
Jongin tahu dia memercayai kata-kata Sehun, tapi berpisah lagi dengannya jauh lebih sulit daripada menerimanya dulu. Jongin sudah mulai terbiasa hidup dengan Sehun di sisinya, dan sekarang Jongin harus menerima kenyataan bahwa Sehun harus pergi lagi dari sisinya.
"Kita bisa telepon-teleponan. Kita bisa saling e-mail, line, skype. Kita bisa saling mengunjungi kalo lagi liburan," kata Sehun lagi.
"Nggak akan sama," Jongin menggeleng-gelengkan kepala, ekspresinya berubah murung.
"Denger," kata Sehun sabar. "Itu satu-satunya cara supaya kita bisa terus bareng. Kecuali kalo kamu mau ngelupain aku aja." Jongin menatap Sehun marah, merasa kata-katanya barusan tidak masuk akal. Sehun tersenyum, lalu membelai lembut pipi Jongin.
"Jongin, ini cuma cobaan kecil buat kita. Kecil aja. Dan nggak mungkin kita nggak bisa melewatinya. Ya, kan?" tanya Sehun lagi.
Jongin menatap Sehun, lalu seolah ada kekuatan yang menyihirnya, kepalanya mengangguk. Sebenarnya Jongin tak mau menerima kenyataan bahwa Sehun akan pergi, tapi Jongin mempelajari sesuatu dari Sehun. Dia telah dewasa di banyak hal, bahkan jauh lebih dewasa dari Jongin yang lebih tua beberapa tahun darinya. Jongin harus menerima bahwa Sehun juga mempunyai cita-cita, dan mempunyai orangtua yang harus dibuat bangga. Sehun tersenyum, lalu merengkuh Jongin dan memeluknya. Sebenarnya, Jongin tak menginginkan ini, karna ini seperti pelukan terakhir baginya. Entah mengapa, Jongin merasakan firasat itu, tapi dia tidak membicarakannya dengan Sehun. Jongin membiarkan Sehun memeluknya untuk beberapa saat.
"Apa tuh?" tanya Jongin kemudian, melirik ke arah bungkusan yang masih dibawa Sehun.
"Oh," Sehun melepaskan Jongin dan mengacungkan bungkusan itu kepadanya. "Untuk juara yang bakal jadi pilot." Jongin nyengir kaku, lalu mengambil bungkusan itu dan membukanya. Sebuah pigura besar berisi fotonya dan Sehun yang dibuat di mal, yang ternyata sudah diperbesar sedemikian rupa. "Um... aku harap sih, itu jadi pigura pertama yang pernah ada di kamar kamu," kata Sehun hati-hati.
"Pastinya," kata Jongin membuat senyum Sehun merekah. Jongin memandangi foto itu sesaat, lalu detik berikutnya wajahnya murung lagi. "Jadi," katanya setelah beberapa saat terdiam. "Kapan kamu pulang?"
"Lusa, setelah pertandingan Chanyeol," jawab Sehun pelan.
"Kamu nonton ya? Abis itu, anterin aku ke bandara."
Jongin hanya mengangguk-angguk kecil. Sehun memandangnya sedih, karna tahu Jongin merasakan hal yang sama dengannya. Sehun benci berpisah dengan Jongin. Tapi dalam hatinya, dia yakin tak akan terjadi apa-apa pada hubungan mereka.
"Jongin," kata Sehun membuat Jongin berhenti melamun. "Mau nggak kamu janji sama aku?" Jongin menatap Sehun dengan alis bertaut.
"Apa?"
"Janji ya, kamu udah baikan sama Chanyeol sebelum aku pulang. Janji, Jong." Jongin hanya menatap Sehun, tanpa memberikan jawaban.
.
.
.
Jongin terbangun di sofa ketika Ayah membangunkannya. Jongin mengerjapkan matanya, kemudian menganga seolah tak percaya tadi Ayah yang membangunkannya.
"Bangun, Jong, udah siang. Ayah mau nonton berita," kata Ayah sambil sembarangan menempatkan pantatnya di sebelah Jongin.
Jongin melongo menatap Ayah, tapi bergeser memberikan tempat baginya. Detik berikutnya, dia ikut menonton dengan senyum konyol di wajahnya. Sudah terlalu lama Jongin tidak sedekat ini dengan Ayah.
"Di berita ada yang lucu ya?" tanya Chanyeol -tanpa bermaksud benar-benar bertanya- sambil melangkah ke luar rumah untuk latihan terakhir sebelum turnamen.
Jongin meliriknya sebal, lalu pandangannya bertemu dengan Sehun yang sedang membantu Ibu di dapur. Sehun malah tersenyum geli. Jongin menjulurkan lidah kepadanya, lalu melirik Ayah yang tampaknya tenang-tenang saja menonton berita.
"Jongin, besok kamu yang antar Sehun, ya. Ayah nggak bisa," kata Ayah tiba-tiba.
"Iya," jawab Jongin pendek.
Perutnya kembali terasa mual mengingat besok Sehun harus pulang. Jongin menoleh ke arah Sehun, yang sedang tertawa-tawa karna terciprat minyak goreng. Tiba-tiba, Jongin mendapatkan ide gila. Ide yang sangat gila.
TBC
HAPPY NEW YEAR!
