Warning : SmartNaru. StrongNaru. DarkNaru. EMSNaru. UchihaNaru. Abal. Typo. Gaje. Etc. Ini masih gabungan arc kemarin yah. Monggo dibaca.
Chapter 13 : Misi Selesai & Rencana Penangkapan Nibi.
...
Sosok itu merapikan jas hitamnya sembari membawa sebuah koper coklat tua di tangannya. Ia membenahi letak kacamata hitam gelapnya dan sedikit menyisir rambutnya dengan jari-jemari.
Sosok berpakaian formal itu mulai melangkah. Sepatu kulit yang ia kenakan terkena becekan tanah hutan yang semalaman diguyur hujan lebat. Beberapa kali dia juga terkena rintikan air yang jatuh dari dedaunan pohon. Namun sosok itu sama sekali tak peduli.
Sosok itu melangkah, memberhentikan laju kakinya saat mendapati sebuah rumah bertingkat dan bergaya elegan di hadapannya. Ia mendekati pintu rumah yang bercatkan hijau tua nan kusam itu sebanyak tiga kali.
Pintu tak lama berderit, terbuka.. menampilkan sosok seseorang dengan pakaian tanpa lengan dan celana sobek-sobek di bagian lutut. Sosok itu memiliki bekas luka yang cukup dalam di pipi kirinya.
Sosok itu tampak mabuk berat. Tetapi masih bisa melihat dengan jelas sosok berkacamata dihadapannya. Ia terkekeh pelan sambil bergerak uring-uringan. "Kau pasti utusan dari si Ryuzuki itu 'kan?"
Sosok itu menjawab dengan nada agak bergemetar. "I-iya."
"Bagus. Hiks. Kukira si bodoh itu tak mau membayar untuk anaknya. Hiks. Mengingat dia hanya peduli pada uang. Hiks."
Yap. Dia memang mabuk berat. "Ayo masuk."
..
Sosok berjas tadi duduk menunggu di salah satu sofa di ruang tamu. Ada banyak orang disini. Suara musik yang distel tampak menggemai ruangan. Banyak pria muda yang menghabiskan waktu di tepi ruangan sambil meminum alkohol berkadar tinggi.
Namun banyak juga yang melakukan aksi dance di tengah ruangan. Lampu yang sedikit berkelap-kelip membuat sosok berjas tadi menaikkan kacamatanya, memerhatikan bahwa penglihatannya tidak salah sedikitpun. Yap. Rumah ini lebih cocok disebut sebagai club malam.
Namun ada banyak sepasang pria dan wanita yang melakukan hal tak benar di dinding ruangan. Sosok tadi langsung memalingkan wajahnya dan mendapati ada sosok bertubuh gempal yang menghisap tembakau dengan gigi yang kuning datang menghampiri dirinya.
"Hm. Apa benar kau utusan dari si Ryuzuki?" tanya si gempal tadi penasaran. Ia meraih jus jeruk yang dibawa oleh satu maid perempuan seksi menggunakan nampan. Sembari menyesap jusnya, si gempal menunggu jawaban dari sosok berjas.
Sosok berjas itu tampak meremas tangannya khawatir, bahkan hingga buku jarinya agak memutih. "Ya. Anda benar. Saya adalah utusan dari tuan Ryuzuki," jawab sosok itu berusaha kalem dan tenang.
"Ok. Kau bawa apa yang aku minta?"
"Tentu," sosok tadi membungkuk dan mengambil koper yang diletakkan di bawah lantai kayu.
"Ok. Akan kuperiksa," si gempal meraih koper dan mulai membukanya.. Dan..
...
Pada saat yang bersamaan. Naruto Place.
Naruto saat ini mengendap dari balik dinding belakang rumah. Ia mengecek setiap jendela terbuka yang ia lihat. Berusaha mencari keberadaan putri Atsuko yang sepertinya disekap di suatu ruangan.
Untung jika perhatian bos dari d-evil sudah ditangani oleh Odoroki. Biarkan saja lah pemuda mesum itu mengatur semuanya. Walaupun otaknya yang sudah terkontaminasi oleh pikiran kotor itu tampaknya tak bisa diajak untuk berkompromi atau berdebat, namun Naruto tetap mempercayai sosok penggemar Icha-Icha Paradise dadakan itu.
Ah, ketemu. Dia berteriak dalam hati. Ia memanjat tembok rumah dan melihat ke sebuah jendela yang agak buram dan kusam. Tampak putri Atsuko disekap di sudut ruangan yang cukup gelap. Diikat sangat erat di sebuah kursi kayu.
Sementara ada dua sosok lelaki berjubah yang tengah mabuk-mabukan di sofa. Terlihat sudah terlelap tak sadarkan diri. Naruto yang melihat situasi ini pun langsung membuka kaca jendela.
Ia menuruni tembok masuk. Putri Atsuko yang melihatnya nyaris berteriak. Walaupun mulutnya ditempeli oleh lakban hitam. Namun Naruto mengisyaratkan untuk diam. Naruto melangkah pelan. Berharap langkah sendal shinobinya tak berderit di lantai kayu yang penuh akan tumpahan alkohol ini.
Ia melepas jeratan tali yang mengikat tubuh kecil Atsuko. Pemuda itu langsung menggandeng tangan mungil dari si gadis cilik itu untuk segera melangkah pergi. Namun malangnya Atsuko malah terpleset karena sendal yang ia kenakan terkena tumpahan alkohol.
PRANG !
Dan sialnya sendal itu malah menghantam botol kaca sake berkadar alkohol tinggi yang berada di sudut pojok ruangan. Kedua sosok tadi langsung menggeliat, bangun dari ketidak-sadaran mereka kalau ada seorang penyusup yang masuk.
"Penyusup!" Sosok pertama langsung meraih pemukul base ball yang berada di dekat pintu keluar. Ia hendak menghantamkan hantaman super ke kepala hitam Naruto. Namun Naruto sudah lebih dahulu menghantam selangkangan pria itu dengan tendangan super.
Sosok kedua meraih botol kaca alkohol. Naruto agak panik karena takut Atsuko akan terluka. Ia langsung mengarahkan tendangan ke dagu pria itu hingga botolnya tercampak ke sisi dinding ruangan yang lainnya.
PRANG !
Kaca berhamburan ke lantai. Naruto yang melihat itu mengeratkan genggaman pada tangan mungil Atsuko dan berteleportasi keluar dari rumah itu.
SWING !
Naruto memegangi sebuah dahan pohon besar. Ia telah menanam segel di dalam pohon itu. Atsuko sendiri tampak sedang pusing. Mungkin akibat efek jurus Hiraishinyang baru dirasakannya. Sebuah jurus hebat memang membuat seseorang yang terlibat ataupun terkena jurus itu akan langsung mengalami efek tertentu.
"Sekarang hanya tinggal menunggu si mesum itu," Naruto mengambil posisi duduk di pohon. Atsuko sendiri masih uring-uringan dalam bergerak. Naruto menepuk dahinya sendiri. Ia langsung mendekap Atsuko dan mendudukannya di pangkuannya.
Atsuko yang mendapat perilaku seperti itu wajahnya agak memerah. Naruto yang melihat rona merah tipis di pipi Atsuko langsung mengernyit heran. Ia bertanya singkat.
"Apakah penjahat itu memberimu minum alkohol?" tanya Naruto dengan nada polos.
Kok kakak ini bodoh banget ya ? Yang jelas aku malu lah kalau dapet perilaku kayak gitu. Semua cewek juga kali, batin Atsuko cemberut dalam hati. Ia menggembungkan pipinya sendiri agak kesal. Dan melipat tangan di dada, dengan gaya stoic, mengisyaratkan bahwa tak terjadi apa-apa.
"Oh, kau baik-baik saja," tukas Naruto malas.
Males banget dah dikawal sama orang yang enggak peka. Atsuko berbatin dalam hatinya.
...
Odoroki Place.
Yap. Benar sekali. Sosok berjas tadi adalah Odoroki yang tengah menyamar. Ia tampak meremas celana abu-abunya khawatir. Saat koper tadi hampir terbuka sepenuhnya.
"Kabur!" Ia berteriak sambil menerobos orang-orang yang melewatinya. Tak peduli orang-orang yang rata-rata tengah mabuk itu langsung ambruk di lantai. Ia melepas jurus penyamarannya dan segera melompat ke balik semak belukar.
BLAR !
Odoroki dengan nafas tersengal-sengal langsung berjalan ke tempat Naruto berada. Ia sampai sembari mengatur napasnya yang hampir habis.
"Huh. Terlambat keluar sedikit saja, ikut jadi abu aku," cerocos Odoroki kesal. Perasaan ia yang jadi pengalih. Kok tugasnya malah lebih berat dan deg-degan dibanding tugas penyelamatan Naruto yah ? Sayangnya Odoroki gampang dibodohi oleh Naruto.
Naruto tertawa pelan. "Sudahlah. Ayo kita pergi."
...
Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Naruto tampak was-was sambil memerhatikan keadaan di belakang. Berjaga-jaga saja kalau ada anggota d-evil yang lolos dari ledakan seratus kertas peledak yang disembunyikan dalam koper tadi.
"Hah.. berhenti." Atsuko menunduk sambil membuang nafas lelah. Gadis cilik itu mencerocos sejenak. "Jangan cepat-cepat. Aku sudah lelah, haus, dan lapar. Bagaimana kalau kita beristirahat sambil makan sushi dan minum orange jus di sebuah kedai?"
Naruto memutar bola matanya bosan. "Kita masih berada di kawasan perbatasan. Mencari kedai adalah hal yang mustahil di sini. Paling tidak kita harus menunggu sampai masuk ke dalam sebuah desa atau negara kecil."
"Huaaaa.. aku bisa mati kelaparan.." jerit Atsuko. Naruto berdecak. Odoroki anteng-anteng aja memandangi hamparan padang rumput yang mereka lalui.
Naruto langsung memutar ranselnya dan tampak mencari sesuatu. Akhirnya dia mengeluarkan sebungkus roti keju dan sekotak susu cokelat. "Aku punya ini. Makanlah."
Atsuko mengernyit sejenak.
"Ini tak ada racunnya."
Dan dalam hitungan detik, roti dan susu itu sudah tandas.
...
Ryuzugakure - 10 KM.
Naruto memandangi plat besar itu berkali-kali. Dia memandangi danau di hadapannya. Ia melirik Atsuko yang berada di sampingnya. Terlihat asyik memandangi langit siang yang biru. Walau tak terlalu panas, sih.
"Kita harus menyebrangi danau ini?" tanya Naruto.
"Ya," jawab Atsuko riang. "Kita bisa menggunakan perahu disana." Jari mungilnya menuju ke arah perahu yang ditambatkan ke sebuah batang kayu menggunakan tali tambang yang kuat.
"Tak perlu," Naruto menjawab santai. Ia mengambil posisi jongkok dan menepuk pundaknya. "Ayo naik ke punggungku."
Wajah Atsuko mendadak berubah drastis. "Mau apa?"
"Kita akan menyebrangi danau ini. Tanpa perahu. Dan tanpa berenang," Naruto menjawab kalem.
"Hm. Baiklah." Atsuko langsung melongsong naik ke punggung Naruto. Naruto menegakkan posisinya dan membentuk segel kilat. Kakinya yang kokoh itu pun langsung terselimuti energi kebiruan. Naruto langsung berlari ke pusat danau.
"Wow!" Atsuko bersahut riang. Ia tak menyangka bahwa diajak berlari di atas permukaan danau. Kemampuan seorang Ninja memang sangat mengagumkan. Gadis cilik ini jadi memiliki sedikit impian untuk menjadi seorang Ninja.
Sampai di pusat tengah danau, Naruto agak terkejut saat tak mendapati Odoroki yang mengikuti jejak larinya. Ia menarik nafas sabar saat melihat Odoroki yang tengah melepas tambatan tali perahu.
Hah. Ternyata dia tidak memiliki kemampuan untuk berjalan di atas air. Kemungkinan kontrol chakra miliknya belum diasah dengan baik. Padahal aku merasa bahwa dia memiliki kapasitas energi chakra yang berlimpah. Batin Naruto panjang dalam hatinya.
Odoroki mendayung perahu terburu-buru. Naruto menengok malas ke belakang. Ia langsung berlari kecil menyusul ke arah Odoroki.
"Tck. Jadi kau tak bisa berjalan di atas air ? Katanya seorang chuunin." Naruto mendengus. Odoroki hanya menyengir lima jari. Persis dengan dirinya dulu. Dan selintas fikiran mengalir di benaknya.
"Hei kau bocah ! Berhenti kau !"
"Ayo kita kejar anak sialan itu."
Cengiran lima jari itu persis seperti yang pernah ia simpulkan ke setiap orang. Walaupun itu adalah orang yang pernah menyakiti dirinya sendiri.
"Argh!" Ia meraung sejenak, hampir membuat Atsuko terjatuh ke danau.
"Kau kenapa, senpai?" tanya Odoroki yang terlihat agak panik.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." Naruto menegaskan kalimat. Ia akhirnya kembali berlari ke depan. Odoroki sendiri mendayung perahu cepat-cepat untuk menyusul Naruto yang tengah berlari.
...
Ryuzugakure, 16.00 PM.
Hari sudah mulai senja saat Naruto tiba. Plang besar di hadapannya seolah menyambut dirinya dari akhir misi. Ia menarik nafas lega. Akhirnya tiba juga dia. Atsuko pun terlihat sudah tertidur di gendongannya. Mungkin gadis itu sudah kelelahan.
Naruto memandangi sebuah desa di hadapannya. Plang itu mengantarnya menuju sebuah gerbang besar yang mirip dengan gerbang konoha sewaktu ia masih menetap di desa sialan itu. Terlihat banyak bangunan tradisional yang berjejer tegak di hadapannya.
"Oke. Ayo kita masuk." Odoroki berucap semangat. Ia mengangkat kepalan tangan dan berlarian kecil ke arah gerbang desa. Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya melihat sikap absurd partnernya dalam misi kali ini. Astaga. Semoga lain kali dia tak mendapat kawan misi seperti ini. Bisa gila lama-lama dia.
...
"Terima kasih, nak Naruto, dan nak Odoroki, sudah berhasil mengantar putri saya — Atsuko — secara selamat ke desa."
Seorang pria paruh baya dengan rambut putih dengan janggut panjang berucap dengan nada serak. Naruto melihat ke arah Atsuko yang sudah berada dalam dekapan sang ibu tercinta — masih tertidur lelap.
"Ya. Dan saya berserta teman saya ini memohon maaf, mengingat bahwa dua pengawal dan juga satu orang kusir yang sempat ikut berada dalam perjalanan tewas." Naruto membungkuk hormat. Odoroki sendiri malah mengupil. Gak ada sopannya banget nih bocah mesum.
"Oke. Saya dan teman saya ijin undur diri." Naruto langsung berbalik badan dan melangkah pergi. Diikuti oleh Odoroki yang menyeret kedua kakinya malas.
...
"Uh. Akhirnya misi pengawalan ini selesai juga." Odoroki terdengar mengeluh. Naruto melirik dengan ekor matanya bosan. Tipe orang mesum memang suka mengeluh, apalagi kalau sudah kehabisan uang untuk membeli komik atau novel hentai terbaru..
"Oh iya senpai... aku baru ingat.." Odoroki memasang wajah penuh kegirangan. Naruto mengernyitkan alis tebalnya sambil melangkah kedepan.
".. mana koleksi seluruh novel Icha-Icha Paradise untuk diriku.."
Naruto hampir saja terpleset dari tempatnya mendengar kalimat lanjutan itu.
...
"Uh. Cepatlah," Naruto mendengus sebal saat Odoroki tampak berkeliling dari satu rak menuju rak lain. Di tangannya terdapat tumpukan buku tebal yang seluruhnya bersampul oranye. Naruto jujur sudah tak tahan menemani si mesum ini ke sebuah toko buku yang menyediakan berbagai kumpulan buku hentai. Naruto tak menyangka kalau ada orang dari Akatsukigakure yang menjual benda macam itu. Tck.
Aduh. Uang tabunganku cukup enggak yah. Naruto berbatin cemas dalam hati. Ia baru melihat bahwa harga satu novel saja sudah mahal, apalagi kalau sie mesum -Odoroki- membeli sekitar 20 seri ? Habislah dia.
Uang tabungan Naruto saat ini sedang kering. Ia belum mendapat bayaran untuk misi tadi. Salahkan Odoroki yang langsung menyeretnya ke dalam toko buku sepulang misi. Padahal hari sudah hampir larut malam saat mereka sampai ke desa tercinta.
"Ayo, Odoroki. Toko bukunya sebentar lagi akan tutup," Naruto mencoba mengalihkan perhatian Odoroki. Namun malah dibalas dengusan oleh pemuda itu.
"Kau ingin membodohiku ? Toko ini buka 24 jam di setiap hari, tau..." Odoroki bersungut sambil kembali meraih sebuah buku dan meletakannya di atas tumpukan yang sudah menggunung. Naruto yakin bahwa sebentar lagi tumpukan itu akan meletus saking banyaknya. Dan dompetnya pun akan merosot kering.
"Ok. Aku sudah selesai." Odoroki membawa tumpukan buku tadi menuju meja kasir. Ia meletakannya dan seorang kasir paruh baya tersentak sejenak saat melihat tumpukan buku itu. Naruto mendengus seraya mengamit dompet hitamnya dengan jari. Harap-harap cemas agar uang tabungannya cukup. Bisa turun kharismanya kalau ngutang, apalagi di toko buku hentai. Aduh. Mau taruh dimana muka Uchiha tergantengnya ?
Kasir tadi memasukkan buku-buku yang dipilih Odoroki ke dalam kantong plastik besar. Perlu empat kantong berukuran jumbo untuk berhasil meletakkan buku itu. Dan ia menyerahkan sebuah kwitansi pembayaran ke arah Odoroki.
"Ini, senpai." Odoroki menyodorkan kertas tadi dan mulai mengamit kantong plastik. Naruto meraih santai nan kalem seolah-olah tak terjadi apa-apa. Walau ada seribu rasa keraguan, takut, kalau sampai uang tabungannya yang kering tidak cukup membayar buku ini.
750.000 Ryo
Naruto melotot saat melihat nominal angka yang tertera. Untung dia masih punya 1.000.000 Ryo untuk membayar. Seusai membayar, Odoroki langsung ngacir pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Memang kohai yang kurang ajar dan tak tahu terima-kasih. Mau dikasih tabokan super kali yah tuh anak ?
...
Keesokan Harinya, Akatsukigakure, 08.00 AM.
Pain saat ini tengah duduk di kursi kebangaannya. Ia tampak memeriksa beberapa kertas yang diberikan oleh Itachi sekitar lima menit yang lalu. Pria bertindik itu mendengus sejenak dan segera memberesi filenya.
Ia meraih sebuah pena, dan selembaran kertas dan mulai menggambar sesuatu. Ia terlihat merencanakan sesuatu. Gambarnya terlihat rapi dan elegan. Goresan-goresan yang ia toreh terlihat sangat menakjubkan. Walau hanya sebatas menggambar sebuah sketsa kecil berjudul ; misi penangkapan Bijuu. Dan disamping tulisan itu terdapat gambar monster berekor sepuluh yang menyeramkan.
Bijuu ekor dua, Matatabi : Jinchurukinya adalah Yugito Nii dari Kumogakure. Ia cukup handal dalam mengendalikan kekuataan Bijuu dalam tubuhnya. Aku merencanakan Hidan serta Kakuzu dan beberapa anggota elit klan Fuma untuk menangkapnya.
Yah. Pain sedang merencanakan strategi untuk menangkap Nibi. Seorang bijuu mirip kucing yang berwarna biru tua. Ia sangat handal dalam menguasai elemen api. Belum lagi sang host dapat mengendalikannya dengan sepatah kata ; perfect.
Ia memerlukan pasukan yang kuat. Hidan dan Kakuzu adalah sosok yang abadi. Anggota klan Fuma memiliki banyak senjata yang bisa menjebak atau mengalihkan perhatian Nibi. Pain sepertinya juga memerlukan Tobi, tidak, lebih tepatnya adalah rantai chakra yang dimiliki pria bertopeng spiral oranye itu.
"Oke. Aku rasa ini sudah cukup." Pain menuliskan anggota yang akan dia pilih untuk misi penangkapan Nibi. Ia menyebutnya sebagai skuad tim penangkapan Ichibi.
"ANBU.."
Pain berbisik dengan suara tenang. Disertai dengan kemunculan sosok bertopeng Anjing di hadapannya. Sosok itu membungkuk hormat. Mengenakan setelan armor hitam dengan kombinasi awan merah yang menjadi coraknya. Di punggungnya terikat sebuah tanto dengan corak gagang awan merah.
"Ada apa tuan Akage memanggil saya?" ANBU itu bertanya sopan. Mengambil posisi jongkok sambil memegangi dada kirinya. Wajahnya yang samar-samar terlihat kokoh walaupun tertutup topeng yang dia kenakan.
"Tolong panggilkan orang-orang ini.." Pain mengulurkan tangannya dan menyodorkan selembar kertas. ANBU itu meraihnya sopan. Dan segera pamit undur diri. Meletup hilang dibalik kepulan asap tipis.
...
"Baiklah. Jadi semuanya telah berkumpul?"
Keenam orang di hadapan Pain terlihat mengganguk sopan.
"Begini, tujuan aku mendatangkan kalian kemari adalah untuk menangkap Bijuu Nibi yang tersegel di tubuh seorang wanita bernama Yugito Nii. Tangkap dia. Bawa kehadapanku. Dan tolong ingat. Jangan sampai buat dia mati. Atau nyawa kalian yang akan aku tarik menggunakan kemampuan mata Tuhanku," Pain memberi tatapan dingin. Sukses membuat setengah orang dihadapannya bergidik ngeri dengan bulu kuduk yang meremang-remang.
"Ok. Aku utus kalian semua..."
Iris riak air Pain menyelidik ke seorang berambut putih klimis yang memasang wajah penuh keanehan. Sebuah sabit tergantung di punggungnya. Jubahnya dibiarkan terbuka setengah dan memperlihatkan dadanya yang bidang.
"Hidan.."
Lalu tatapan Pain beralih ke sosok bercadar di hadapannya. Sosok itu mengenakan ikat kepala yang sudah tergaris horizontal. Irisnya yang hijau menatap lurus ke depan.
"Kakuzu.."
"Dan juga kalian bertiga.. Trio klan Fuma terhebat ; Arashi, Sasame, Daiga." Ia memandangi ketiga sosok bersurai oranye terang di hadapannya.
Dan terakhir kali ; Pain melihat sosok yang tersenyum menyeringai ke arahnya. Ia menghela nafas.
"Serta.."
.
.
".. Naruto.."
.
.
Author Note :
Ok. Naruto saya ikutkan di misi kali ini. Biar seru aja keless.
Oh ya. Saya merencanakan fic Dendam and Missing-Nin S2 di apdet berbarengan dengan The spy Shinobi (maybe). Setuju gak ?
Pojok Balas Review
666 : Maaf. Makin lama makin susah menggali ide untuk menulis cerita ini. Maklum lah saya kan reader abal2.
Tenshisha Hikari : Yah. Gaya penulisan saya mah emang gitu. Lebih nyaman dan sreek aja.
ashuraindra64 : Entahlah. Untuk pertanyaan itu saya sendiri masih belum bisa answer. Saya aja masih bingung dengan draft yang perlahan saya susun.
Yukari Clarisha-chan : Oke. Ini udah dilanjut.
Guest : Ok bang guest. Ini saya udah next bang.
David997 : Hahahaha. Bang. Jangan kecewa. Nanti saya perbanyak interaksi antar Naruto dengan cewek yah. Jadi berasa ada hiburan gitu.
Ryuuki Namikaze Lucifer : Baik. Ini udah saya lanjut.
Pendy : Udah lanjut kok gan.
SiriusRudra : Baik. Ini udah saya lanjutin kok.
Elwafa : ini udah lanjut gan.
GRIEGEIRIEA : :v oke ini udah lanjut.
Donxuite : Dah next nih bang.
ES CENDOL : Ok bang. Saya pesen es cendol satu yah. Hehehe. Just kidding.
...
Sekian dan terima kasih.
KTJ out !
