"Daylight"

Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.

Genre : Romance, Action

Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook

Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min

Rated : M

Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook

YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya

M-Preg

Typo everywhere

Chapter 13

Park Jimin adalah definisi kekuatan yang sesungguhnya.

Bagaimana tidak, reputasinya sebagai prajurit terbaik membawanya menjadi pemimpin Guardian periode ini. Buah dari kerja keras bertahun dan tekad yang kuat membuatnya disegani banyak orang. Pekerjaan menuntutnya untuk bersikap tegas dan cekatan dalam mengambil keputusan. Seharusnya ia bangga akan dirinya sendiri yang cukup menarik baik sifat maupun sikapnya.

Nyatanya ia merasa berkebalikan.

Beberapa hari belakangan ia merasa cukup lemah. Bukan secara fisik, namun secara batin. Rasanya sesuatu mencekalnya dari dalam. Ia terbiasa mendidik bawahannya dengan disiplin, namun akhir-akhir ini, kedisiplinannya sendiri ternodai.

Satu nama yang membuatnya menjadi gundah bak remaja di film picisan. Satu nama yang kemarin masih ia awasi di tiap malam. Demi satu nama itu pula ia melanggar aturan dan kedisiplinan yang ia pupuk.

Jimin tak menyukai dirinya yang lemah seperti ini. Hatinya memang tergolong lembut dibanding Guardian lain. Tapi bukan berarti rasa suka bisa mengantarkannya pada kekacauan bukan?

Dengan pemikiran itu, ia mematikan sadapan CCTV kediaman Kim Taehyung dan bergegas menyelesaikan tugasnya.

Tak butuh waktu lama baginya untuk tiba di pangkalan; tempat dimana pusat pelatihan Guardian dilakukan. Tempat dimana mereka ditempa dan diperlakukan bak robot...

Ia memeta sekitarnya dengan saksama. Ruangan itu telah dipenuhi dengan Guardian yang berdiri dalam beberapa formasi. Setidaknya ada 12 formasi dimana puluhan orang menempati formasi tersebut. Setiap formasi dijaga oleh dua orang bawahan Jimin termasuk rivalnya, Oh Sehun yang berdiri dan menatap tajam ke arahnya. Di sayap kanan, Dokter Baekhyun dan Dokter Yeri berkeliling dan membagikan alat suntik ke tiap orang yang menjaga barisan Alat suntik itu telah diisi dengan serum berwarna hitam pekat yang telah dikenal baik oleh Jimin.

Karena sang kakaklah yang membantu pembuatannya.

Hingga aba-aba ketiga, setiap penjaga menyuntikkan serum tersebut ke leher semua Guardian. Dapat disaksikan dengan jelas jika substansi tersebut mulai merasuki tubuh penjaga negara itu. Mata mereka berputar-putar selama beberapa detik dengan tubuh yang bergetar hebat. Satu persatu Guardian berteriak kuat. Bias wajah mereka menampilkan rasa sakit yang teramat sangat. Jimin sampai harus menutup kedua telinganya. Berbeda dengan bawahannya dan dua Dokter tadi yang dengan santai menyaksikan Guardian itu tumbang. Mengerang dan mancakar-cakar lantai. Melampiaskan rasa sakit dengan sia-sia. Karena memang tak ada jalan keluar jika serum tersebut telah berpadu dengan darah.

"Kau lupa memasang penutup telingamu, Tuan."

Dokter Yeri tertawa dan melepas gumpalan kecil yang menyubat telinganya. Membuangnya dengan sebuah lemparan yang telak mendarat di tong sampah. Terdengar biasa saja mendengar teriakan Guardian, bahkan setelah membuang penutup telinga.

Detik selanjutnya para Guardian itu menghentikan teriakannya. Perlahan mereka bangkit dari lantai dan berdiri tegak. Pandangan lurus dan sikap mereka kembali seperti semula. Seolah tak terjadi apapun.

"Aku tak senang mereka disuntik seperti itu." Park Jimin mengambil sebuah alat suntik yang tersisa dari baki yang dibawa Dokter Yeri. Ia memandang alat suntik itu dengan tatapan risih. "Andaikan ada cara lain selain benda ini."

"Oh, jangan merusak kesenangan, Tuan Park. Ini salah satu temuan timku yang brilian. Kau tak bisa memungkirinya."

Dokter Baekhyun datang dan memasukkan penutup telinganya ke saku. Rona bahagia menjalari wajahnya saat memandang barisan Guardian yang patuh berdiri tegak layaknya robot.

"Jangan munafik jika ideku ini layak mendapatkan penghargaan dari Dewan Tertinggi, Tuan Park." Ia mengedip, terkekeh dan meninggalkan ruangan bersama dengan beberapa orang yang menjaga Guardian tadi. Mereka saling membungkukkan badannya saat melewati Jimin satu per satu. Semua pekerja nyaris meninggalkan tempat ia berdiri selain Dokter Yeri, Oh Sehun, dan tentunya para Guardian.

"Tuan Park, ini hasil testnya." Dokter Yeri menyerahkan sebuah chip seukuran kuku jari kelingking. Chip itu berwarna emas mencolok. Jimin menerima benda itu dan langsung memasukkannya ke sisi kanan jam tangan, tepat di bawah pengendali waktu—untuk nanti dibaca di ruangannya.

"Terima kasih, Dokter Yeri. Akan kuperiksa." Jawabnya. Ia membalikkan badannya sebelum sahutan dari Oh Sehun membuat darahnya mendidih.

"Aturan adalah aturan. Siapapun yang melanggar seharusnya menerima hukumannya. Bukan begitu, Tuan Muda?"

.

.

.

"Peluk, sayang."

Gelayutan dan nada manja Joy membuat Jungkook nyaris meremukkan cangkir yang ia genggam.

Terhitung sejak kepulangan mereka lima jam yang lalu, kesabaran Jungkook benar-benar diuji.

Semua dimulai dari kemunculan tunangan Taehyung itu. Gadis berdada besar itu entah bagaimana caranya bisa masuk dan duduk dengan santainya di ranjang kamar Taehyung. Yang pertama kali memergokinya adalah Jungkook, yang kaget dengan teriakan cemprengnya memanggil nama tunangannya tersayang, alias pasangan Jungkook. Taehyung yang mendengar teriakan Joypun bergegas masuk dan memeriksa keadaan gadisnya.

Jungkook dapat mengetahuinya dengan jelas jika Joy tidak sakit. Well, tak sepenuhnya salah. Ia hanya pilek dan batuk—yang terdengar palsu. Suhu badannya saja normal dan wajahnya terlihat segar. Tapi rengekannya tak pernah berhenti. Demi apapun itu, Jungkook tahu jika Joy hanya mencari perhatian.

Dan sialnya, Kim Taehyung mencurahkan seluruh perhatiannya pada si gadis.

1-0.

Jungkook merasa kalah kali ini.

Ia menyesap cangkir yang telah kosong itu dengan kuat. Padahal satu tetespun tak tersisa. Netra Jungkook melirik dengan kesal pada lovebird yang sedang cuddling di depan televisi. Joy memeluk erat-erat tubuh tegap Taehyung sementara wajahnya dibenamkan di dada lelaki itu. Ia melontarkan ucapan bernada manja dan memanggil nama Taehyung setidaknya sepuluh kali setiap menit.

"Peluknya kurang erat!"

Kali ini Jungkook menggigit kuat-kuat pinggiran cangkir. Giginya terasa ngilu. Ingin hati melempar benda itu tepat ke kepala medusa yang sekarang sedang berkecup mesra dengan Taehyungnya.

"Tidak tahu diri." Desis Jungkook. Jika bukan karena kesopanan ia pasti sudah serius melempar Joy dengan cangkirnya. Sekalian dengan rak piringnya sekalian bila perlu.

Tak bisakah kau membedakan mana yang asli dan mana yang hanya berpura-pura, hyung?

Cukup lima jam saja ia menahan diri mendengarkan celoteh penuh mesra suaminya dengan tunangannya.

Tunggu dulu.

Suami?

Suami darimananya?

Ironi.

Hanya angan semata.

Ingat, Taehyung tak pernah mengikrarkan janji sehidup semati dengannya. Ia hanya bertugas membuahi dan merawatnya selama permainan ini berlangsung. Tak kurang dan tak lebih.

Seharusnya aku yang tahu diri.

Sebelas lebih tiga puluh.

Ia memandang jam dinding yang detiknya terasa lebih lambat dari biasa. Jungkook memilih menyembunyikan diri di dapur dan mengunyah es krim cokelat sebagai penghilang kesal.

Yep, menyantap es krim sementara di luar sana hujan salju turun deras. Normalnya ia akan menggigil tak karuan hanya karena hawa dingin dari kulkas, namun kali ini bahkan bekunya es krim terasa seperti semangkuk penuh samgyetang.

Panas.

Es itu tak dingin sama sekali.

Ia bahkan menghiraukan tenggorokannya yang terasa tak nyaman.

Mungkin tenggorokannya terluka karena terlalu dipaksakan menelan substansi yang tak cocok di musim dingin itu.

Entahlah.

Apapun itu masih terasa lebih baik dibanding harus dekat-dekat dengan lovebird yang entah sekarang ini tengah berbuat apa.

"Pembohong. Dia bilang akan menemui Joy jika aku memperbolehkannya. Memangnya tadi aku mengiyakan?" Gumamnya pada diri sendiri.

Scoop terakhir ludes sudah dilahapnya. Ia kehabisan es krim. Sudah dua kotak besar ia habiskan tanpa sadar.

"Jungkook?"

Pemuda itu mengangkat kepalanya saat sosok pasangannya muncul di muka pintu. Kim Taehyung datang tanpa Joy. Raut wajahnya terlihat sedikit resah. Pria itu bahkan menggigit bibir bawahnya, sesuatu yang jarang dilakukan.

"Iya?" jawab Jungkook. Ia menunduk dan memandang kotak es krim dan sendork yang berserakan di meja makan. "Hyung, aku menghabiskan stok es krimnya—"

"Makanlah sebanyak yang kau mau, Kook." Jawab Taehyung langsung. Kemudian ia berdehem dan melanjutkan ucapan tergagapnya. "Umm..."

"Joy akan menginap?" Tebak Jungkook. Ia sudah memprediksikan hal ini semenjak Taehyung menerima panggilan dari Joy. Meski terasa tak nyaman, namun ia telah menyiapkan perasaannya.

"Uh.. Iya." Jawab Taehyung. "Dia bilang ingin tidur bersamaku. Jadi umm, kau err—"

"Aku tahu. Aku akan kembali ke kamarku." Sahut Jungkook singkat.

Ia berdiri, mengambil kotak es krim kosong dan sendok kotor lalu membuangnya ke tempat sampah. Hatinya terasa panas. Entah mengapa perutnya juga menghangat.

Taehyung masih berdiri di ambang pintu, begitupula Jungkook yang membelakanginya. Keduanya sama-sama terlihat ragu untuk mulai berbicara satu sama lain. Keheningan itu berlangsung selama beberapa saat.

Jungkook memperhatikan butiran salju dari balik jendela dapur. Salju di luar sudah cukup tebal. Ketebalannya mungkin bisa menutupi mata kakinya.

Suasana di dalam rumah dan di luar begitu kontras.

Disini ia merasa sangat panas. Sementara di luar pastilah begitu sejuk.

Mungkin ia butuh waktu sejenak untuk menenangkan pikirannya.

"Hyung—"

"Kook—"

Dua-duanya berbicara bersamaan. Jungkook berdehem dan mengedikkan kepalanya.

"Hyung dulu."

"Kau tak apa?" Tanya Taehyung pada akhirnya.

Tidak, hyung. Aku tak baik-baik saja.

Jungkook menelan ludahnya. "Tentu. Kenapa tidak?" Bersusah payah ia menarik kedua sisi pipinya agar membentuk sebuah senyuman.

"Baik. Syukurlah." Ujar Pemuda Kim.

Jungkook mengangguk dan berjalan ke arah pasangan Copulationnya. Hingga kemudian ia berdiri tepat di hadapan wajah tampan itu.

Pemuda Jeon memperhatikan dengan jelas setiap jengkal wajah pria itu. Taehyung terlihat lebih rileks dari sebelumnya. Bahkan dengan samar ia menangkap raut berseri pria tampan itu.

Taehyungie hyung senang.

Mungkin ia gembira bisa menghabiskan waktu dengan orang yang disayang.

"Aku pergi ke minimarket dulu, hyung." Ucap Jungkook tersendat. Ia menunduk dan merasakan sesuatu mencekat lehernya. Rasanya sakit.

"Biar kuantar."

"Tidak perlu, hyung. Kan dekat." Cegah Jungkook. Ia tertawa, meski tawanya terdengar ganjil.

"Tapi diluar salju sedang turun."

"Aku akan memakai coat tebal dan sepatu boots. Jangan khawatir."

Jungkook berjalan melewati pasangannya itu dan bergegas naik ke kamarnya. Ketika melewati kamar Taehyung pandangannya menangkap sosok Joy yang tengah duduk dengan mengenakan pakaian berbahan minim. Jungkook bersumpah ia bahkan melihat gadis itu tengah memoleskan lipstick merah terang yang terlihat menjijikan di mata Jungkook.

Mana ada orang sakit seperti itu?

Menghela napas, ia sedikit berlari menuju ke kamarnya sendiri di ujung sana.

.

.

.

"Terima kasih."

Jungkook menerima uang kembalian sepuluh ribu won yang tadi diulurkan. Memasukkannya ke dalam kantung saku coat, dan bergegas mencari tempat duduk ternyaman.

Keputusannya untuk keluar sebentar dari rumah sedikit disesalinya. Di luar ternyata sangat dingin. Bahkan coat tebal tak cukup menghangatkannya. Begitupula dengan sepatu boots yang membalut kedua kaki.

Omong-omong, sepatu itu milik si kepala Guardian.

Dari deretan sepatu yang sudah dibelikan Taehyung untuknya, entah mengapa ia malah memilih sepatu Park Jimin. Tangannya secara otomatis terulur dan meraih boots tentara itu.

Jungkook mengayunkan kedua kakinya. Ia melahap ramen kesukaannya dalam hitungan detik. Bukan hal sulit baginya untuk terus mengunyah. Rasa lapar entah mengapa selalu menggerogoti tubuh. Rasanya perutnya tak pernah penuh. Selalu ada space untuk makanan di setiap sisi.

Ketenangan itu dipecahkan oleh suara riuh. Terdengar beberapa orang sedang berdebat dan ribut. Bahkan Jungkook bisa menangkap suara teriakan dan tangisan secara samar-samar.

"Ada apa ini?" Tanya Jungkook khawatir.

Ahjussi penjaga minimarket itu menunjukkan jam tangan ke arah Jungkook. "Pukul 12 tepat. Saatnya sweeping kurasa."

Tidak.

Sweeping.

Bagaimana bisa aku lupa?

"Ada satu orang di dalam mini market!"

"Sial."

Belum sempat Jungkook menggerakkan satu inchi badannyapun, tiga orang Guardian telah menerjang masuk pintu mini market.

"Dimana pasanganmu?"

Jungkook dipaksa berdiri dengan cengkeraman di kerah bajunya.

"A.. Aku... Arrgh..."

Sebuah alat panjang seperti penggaris di tempelkan ke lengan kirinya, tempat dimana detector ditanamkan. Rasanya sangat panas. Seperti terbakar. Hingga membuat Jungkook menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Jungkook penuh amarah.

"Dia sendiri. Tanpa pasangan. Tertangkap basah melanggar aturan Copulation."

"Aku hanya—Hey, hentikan! Lepaskan tanganku!"

Jeon Jungkook meronta-ronta saat tubuhnya diseret oleh dua orang Guardian di sisi kiri kanannya. Mereka tak mempedulikan teriakan dan cacian Jungkook secuilpun. Tubuhnya diseret di tanah bersalju itu sejauh beberapa meter hingga pada akhirnya dilemparkan begitu saja di kaki truk. Ia terkantuk sesuatu. Kakinya terasa perih. Jungkook meringis menahan sakit sembari matanya membelalak.

"Jongin, ada satu peserta lagi di radius 100 meter, sisi barat daya Gedung Hyundai."

"Baik."

Salah satu peserta Guardian mendekati Jungkook yang terpojok kesakitan. Guardian itu menarik sebuah borgol dari pinggangnya dan meraup kedua tangan Jungkook.

"Lepaskan aku!"

"Diam!"

Sebuah pukulan mendarat di pelipis Jungkook. Detik itu pula si Guardian memborgol kedua tangan pemuda Jeon ke arah belakang.

"Kyungsoo. Bawa yang satu ini. Masukkan dalam sel kelas 2."

"Baik."

Masih menahan perih di kaki dan pelipis, tubuh Jungkook diangkat dan kembali dilemparkan ke dalam bak truk. Kendaraan itu melaju entah kemana. Membawa serta Jungkook dan setidaknya selusin peserta Guardian lain yang tertangkap basah.

.

.

.

"Sudah merasa lebih baik?"

Gadis yang ditanya mengangguk perlahan. Sebuah kemajuan yang berarti dibanding beberapa hari yang lalu.

Dibandingkan saat baru tiba, Kang Seulgi bisa dibilang lebih bernyawa. Paras cantiknya yang tertutupi luka dan lebam disana-sini mulai sirna. Aura cerahya sedikit terpatri berkat perawatan dan obat-obatan yang Seokjin berikan. Seokjin bahkan dengan terpaksa memotong rambut panjang gadis itu. Ukuran sebahu menurutnya akan lebih baik. Setidaknya rambut pendek tak akan mengganggu pengobatan dan aktivitasnya yang terbatas.

Kim Seokjin meletakkan kembali gelas yang isinya sudah habis. Seulgi menghabiskan air putih dalam sekali tenggak setelah tidur panjangnya yang nyaris menyentuh angka 24 jam.

"Terima kasih, umm—"

"Seokjin. Panggil saja dengan santai. Aku tak keberatan."

Gadis bermarga Kang itu mengangguk pelan. Ia membenarkan posisi tidurnya di atas ranjang rumah sakit tempat Seokjin berjaga. Beberapa saat kemudian ia menyadari jika rambutnya sudah dipangkas banyak.

"Rambutku—"

"Aku yang memotongnya." Jawab Seokjin langsung. "Prosedur penyembuhan. Lebih baik begitu daripada membiarkannya memperlambat penyembuhanmu."

"Terima kasih sekali lagi. Kau pasti berpengalaman dalam dunia medis."

Seokjin tertawa ringan. "Tak banyak dokter disini." Jawabnya singkat.

"Kau merendah." Sahut Seulgi.

"Itu fakta, tak banyak orang yang mau belajar medis disini. Kebanyakan hanya berlatih untuk bertempur saja. Membosankan."

"Kalau begitu ajari aku agar tahu ilmu kesehatan." Tukas Seulgi. "Aku ingin jadi sepertimu."

"Akan kulakukan setelah kau mendapat izin dari Paman Bang tersayang." Jawab Seokjin seraya mengedipkan sebelah matanya.

Ia berdiri dan mengambil mangkok bubur dari atas meja. "Habiskan makanan ini dan jika kau sudah bisa bangun, bergabunglah dengan rapat besar di Arteri. Paman Bang akan mengenalkanmu pada warga disini."

"Percaya atau tidak, beberapa dari mereka sudah mengenalku."

Seokjin mengerutkan keningnya.

"Tunggu sebentar lagi."

.

.

.

Jungkook merintih kala tubuhnya menabrak dinding ruang tahanan yang dingin.

Guardian itu mendorongnya dengan kasar, membuat bahunya terasa nyeri tak karuan. Ia bahkan terjerembab coatnya sendiri saat mencoba bangun. Kemudian mengumpat keras-keras di kegelapan ruangan.

"Ada orang baru."

"Berapa banyak yang tertangkap?"

Jungkook berdiri mematung. Ternyata bukan hanya dirinya yang dijebloskan ke ruang tahanan berukura meter berpenerangan minim itu. Duduk berhimpitan di ujung ruangan, ia melihat setidaknya 3 ah, 4 orang memandanginya penasaran. Salah satu diantaranya duduk dengan menenggelamkan kepala diantara kedua kaki yang terlipat.

Semuanya pria. Termasuk lelaki yang duduk diam itu. Jungkook mendekati mereka pelan-pelan agar bisa melihat wajahnya.

"Kau tertangkap juga?"

"Apa yang kau lakukan?"

"Apa yang mereka katakan padamu?"

Satu per satu dari mereka melontarkan pertanyaannya. Jungkook membola saat gambaran samar wajah sahabat seperjuangannya dulu terpatri dengan jelas di hadapannya.

"Yugyeom?"

"Jungkook?"

Jungkook nyaris berteriak sebelum memeluk sahabatnya itu erat-erat. Merasa sedikit lega ada satu orang yang ia kenal.

"Mereka menangkapmu juga?"

Pemuda Jeon mengangguk pelan sebelum meringis lagi. Pelipisnya terasa nyeri. Mungkin efek dari benturan yang ia terima selama perjalanan ke ruang tahanan ini.

"Kau kenapa, Kook?"

"Perih." Jawab Jungkook singkat.

"Jungkook?"

Panggilan dari suara yang familiar itu mengalihkan perhatiannya. Pemuda Jeon menunduk dan mendapati sosok yang menyembunyikan wajahnya tadi adalah sosok yang ia kenal juga.

"Yoongi hyung?" Panggil Jungkook lambat-lambat.

"Astaga, kau juga kena. Apa yang kau lakukan?"

Jungkook tergagap. Bukan karena pertanyaannya. Melainkan fakta bahwa orang yang dikenalnya itu wajahnya penuh dengan luka dan darah. Dalam temaram ia melihat jajaran lebam dan bengkak yang menguarkan bau anyir. Jika bukan karena suaranya mungkin Jungkook tak akan tahu jika pria itu adalah Yoongi.

Mengabaikan Yugyeom yang menanyakan identitas Yoongi pada Jungkook, pemuda itu menunduk dan mendekati sosok yang terluka.

"Hyung, mereka memukulimu?"

Yoongi terkekeh pelan. "Ini bukan apa-apa. Apa kau meninggalkan rumah tanpa pasanganmu?"

"Hyung, kenapa mereka menyakitimu? Kau harus segera diobati! Aku akan memanggil—"

"Tidak usah, Kook. Serius, aku tak apa-apa." Potong Yoongi. Ia mencengkeram pundak Jungkook dan menggoyangkan tubuh ringkih itu. "Dengarkan aku. Tak lama lagi satu per satu dari kita akan dipanggil menghadap perwakilan Para Petinggi. Kau akan lolos dari hukuman jika memenuhi syarat. Namun jika tidak, maka kau akan menghabiskan waktumu hingga permainan ini berakhir di penjara. Kau harus lolos pemeriksaan, Kook."

Netra Jungkook membesar dari sebelumnya. Tiba-tiba saja merasa luar biasa panik. "Pemeriksaan? Syaratnya apa? Apa yang harus kulakukan agar lolos?"

"Kau harus—"

"Min Yoongi!"

Tanpa mereka sadari beberapa Guardian telah membuka pintu ruang tahanan. Masing-masing dari mereka membawa senjata laras panjang di sisi kiri. Sebelum Yoongi dapat memberitahu apa syarat agar lolos dari jeratan hukum, pria itu telah diseret dengan keji oleh seorang Guardian berbadan tinggi.

"Jangan! Lepaskan dia! Yoongi hyung! Hyung!"

Jungkook memanggil nama Yoongi beberapa kali sebelum salah satu dari Guardian maju dan menendang tulang keringnya.

"Diam atau kutembak kau sekarang juga!"

"Kook!" Yugyeom bergegas mendekatinya. Ia menatap iba pada sahabatnya yang mengerang kesakitan seraya memegangi kaki kirinya.

Pintu ruang tahanan tertutup dengan suara berdebam sebelum bunyi kunci terdengar.

"Kemari, Kook. Duduk saja. Tak ada gunanya melawan mereka."

Ancaman akan tinggal di penjara menghantuinya. Ia tak bisa membayangkan harus tinggal di tempat seperti ini. Terlebih kesalahannya hanyalah sederhana. Rasanya sangat tidak adil.

Sekelebat bayangan Taehyung tiba-tiba saja melintas di pikirannya.

Jika saja ia tak keluar. Jika saja ia bisa tahan sebentar saja di rumah. Jika saja ia menerima tawaran Taehyung untuk mengantarnya...

Hyung, tolong aku...

.

.

.

Taehyung melangkahkan kakinya lebih cepat.

Perasaannya tak enak.

Sudah nyaris dua jam semenjak kepergian Jungkook. Sekarang sudah nyaris jam satu setengah. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada pasangan Copulationnya itu.

Kenapa kau belum pulang juga, Kook?

Apa kau marah padaku?

Taehyung menunggu hingga Joy terlelap sepenuhnya. Kendati gadisnya itu mengajaknya bercumbu dan melakukan sesi making out, Taehyung menolaknya dengan halus. Ia meminta dengan sabar agar Joy istirahat saja. Lagipula gadisnya sedang sakit. Taehyung tak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan.

Selain itu ia merasa tak enak juga pada Jungkook.

Entah mengapa sesuatu di dirinya mengatakan jika ia telah melakukan suatu kesalahan.

Ditambah dengan Jungkook yang tak pulang-pulang.

Hingga ia tiba di depan mini market yang telah tutup itu, Taehyung yakin ia telah membuat kesalahan.

Ia mengecek dan mengetuk pintu mini market yang terkunci rapat. Kakinya berkeliling mengitari bangunan pejaja makanan itu beberapa kali untuk mencari keberadaan Jungkook, penjaga mini market, atau siapapun itu. Akan tetapi hasilnya nihil. Tempat itu sepi mencekam.

Taehyung nyaris berlari menuju kantor polisi sebelum ia melihat seorang kakek tua sedang duduk di halte bus tak jauh dari tempatnya berdiri. Dengan langkah cepat ia mendatangi kakek itu.

Pria itu membungkuk dalam-dalam pada si kakek. "Selamat malam, pak. Apa bapak tahu kemana perginya penjaga mini market itu?" Tanyanya seraya menunjuk ke arah yang dimaksud.

Kakek itu mengernyitkan dahi sesaat sebelum mengangguk pelan. "Sudah pulang setelah Guardian datang dan melakukan pemeriksaan." Jawabnya.

"Pemeriksaan?" Tanya Taehyung dengan nada tinggi. Ia menggelengkan kepala dan buru-buru membungkuk. "Maafkan saya, pak. Tapi pemeriksaan apa? Apa Anda melihat ada seorang laki-laki bermantel putih di sekitar mini market itu?"

Kakek itu berdiri. Sepertinya mobil yang ia tunggu sudah datang. "Ada banyak orang yang tertangkap. Mungkin yang kau cari juga terjaring. Tanya saja ke Guardian."

Saat itu pula tubuh Taehyung terasa sangat lemas.

.

.

.

Untuk kesekian kalinya tubuh Jungkook diseret tak berperikemanusiaan. Tangannya memang tak lagi diborgol, namun kepalanya ditodong senapan dengan kuat oleh Guardian. Ia ketakutan. Merasa nyawanya seakan-akan bisa lepas jika si Guardian salah langkah sedikit saja dan melubangi kepalanya. Pikirannya bekerja keras. bertanya-tanya pemeriksaan macam apa dan apa yang harus ia lakukan agar bisa lolos seperti ucapan Yoongi.

Apa Yoongi hyung lolos juga? Apa dia dihukum?

"Duduk."

Jungkook didorong hingga terduduk di atas kursi tua berwarna merah. Kursi itu mengingatkannya akan kursi bioskop. Di hadapannya duduk dengan angkuh sosok Oh Sehun yang menatap Jungkook dengan pandangan jijik.

Guardian yang menodongnya dengan senjata laras panjang itu menarik paksa coat putih yang melindungi tubuhnya. Membuang jauh-jauh mantel itu dan membuat Jungkook menggigil kedinginan.

Penjaga itu menyingkap sweater tebal yang dikenakan pemuda Jeon. Kembali Guardian itu menekankan alat panjang ke lengan atas Jungkook yang membuat kulitnya panas seperti terbakar. Jungkook berteriak lagi menahan rasa sakitnya sebelum akhirnya si Guardian menjauhkan benda itu.

Detik berikutnya di hadapan Jungkook muncul layar Hologram yang menampilkan detail informasi dirinya. Lengkap dengan foto dan data diri pasangannya, Kim Taehyung.

"Jeon Jungkook, Gen F, pasanganmu adalah Kim Taehyung Gen E, benar begitu?"

Teringis Jungkook mengangguk perlahan. "Benar." Jawabnya.

"Apa yang kau lakukan di malam hari sendirian tanpa pasangan Copulationmu?"

"Saya hanya—"

"Apa kau melakukan ancaman atau usaha penyerangan tersembunyi pada Dewan Tertinggi?"

"Saya tidak—"

"Apa kau sedang memata-matai Dewan Tertinggi beserta Para Petinggi?"

Beberapa kali ia menganggukpun selalu diabaikan dan dicercar oleh pertanyaan dari Oh Sehun. Jungkook merasa sangat frustasi.

"Saya hanya makan ramen di mini market. Demi apapun itu, saya tak ada niat untuk mencelakai siapapun." Bela Jungkook dengan nada cepat. Takut jawabannya akan dipotong seperti tadi.

"Kau melanggar aturan Copulation Nomor 168. Bagi siapapun yang melanggar maka ia berhak mendekam di penjara selama sisa waktu Copulation berlangsung." Ucap Pria berseragam Guardian lengkap itu dengan nada angkuh.

"Tapi saya—"

"Suntikkan sekarang."

Guardian yang tadi melepaskan coat Jungkook mendekati lagi pemuda itu. Tanpa aba-aba langsung menancapkan alat suntik ke leher peserta Copulation itu.

Jungkook berjengit. Suntikkan itu tak sesakit alat pelacak tadi. Akan tetapi ia lebih khawatir jika cairan bening di dalamnya berbahaya atau bahkan bisa menghilangkan nyawanya.

"Apa yang kau suntikkan padaku?" Teriak Jungkook.

Tentu saja Oh Sehun mengabaikan pertanyaan itu. Dengan cekatan jemari pria itu menggeser-geser layar hologram yang menampilkan sederet gambar-gambar aneh yang tak dimengerti Jungkook.

Pemuda itu menyentuh leher bekas suntikkan tadi. Rasanya sangat pegal. Entah mengapa ia merasa mengantuk, namun anehnya jantungnya berdegup lebih kencang daripada sebelumnya.

"Baik, kau lolos."

Onyx Jungkook membulat seketika.

Lolos?

Ia bisa lolos?

Bagaimana...

"Kau berhasil melakukan pembuahan. Sebuah janin tumbuh di perutmu." Terang Oh Sehun.

Janin...

Perut...

Aku... hamil?

"Pergi sekarang juga. Kau lolos dari hukuman."

Tubuh Jungkook ditarik begitu saja dan ia tak memberontak sama sekali.

.

.

.

Tak butuh waktu lama bagi Taehyung untuk bisa sampai ke rumah tahanan.

Mengemudi bagaikan orang gila, mobilnya nyaris tergelincir salju. Adalah tindakan sembrono dan mencelakakan diri sendiri jika sampai terjadi kecelakaan.

Jika bukan karena Jungkook ia tak akan senekat ini melajukan kendaraan bak pembalap.

Setelah bertanya ke pusat pelayanan Copulation, ia diberitahu jika Jungkook melanggar jam malam dan tertangkap saat tengah diadakan sweeping.

Persetan dengan mereka. Tak ada satu orangpun yang memberitahunya tentang Sweeping.

Jika ia tahu pasti dengan tegas akan ia larang Jungkook berkeliaran sendiri di malam hari.

Dan ia merasa begitu bersalah membiarkan pemuda manis itu digerebek Guardian yang terkenal tak memiliki hati itu.

Semoga mereka tak menyakitimu, Kook.

Taehyung merapalkan doa. Merasa luar biasa cemas. Lebih khawatir dibanding saat ia mendengar Joy jatuh sakit.

Taehyung menghentikan mobilnya dan nyaris membanting pintu mobil. Berlari dengan cepat menyusuri bangunan berlantai tiga. Pikirannya hanya terisi oleh Jungkook.

"Tunjukkan identitasmu."

Dua orang Guardian menghentikan langkah Taehyung di balik pintu masuk. Taehyung mengulurkan lengan kanannya untuk diperiksa dengan alat pelacak. Benda panjang itu terasa dingin saat menyentuh kulitnya. Rasanya seperti ditempel sebongkah es batu.

"Jungkook Jeon. 20 tahun. Ada di lantai dua ruang nomor 7."

Tak sempat mengangguk, Taehyung menabrak tubuh dua Guardian itu. Tangannya menekan tombol elevator beberapa kali. Nyaris merusaknya sebenarnya.

"Sial! Cepatlah!"

Tak sabar menunggu turunnya elevator, Taehyung memutuskan berlari menuju tangga. Langkah kakinya menaiki dua anak tangga sekaligus. Tak merasa lelah walaupun tinggi tangga itu sedikit tak wajar.

Hingga dengan peluh membasahi sekujur tubuh, ia tiba di lantai dua. Terengah, ia nyaris berlari sebelum mendapati pemuda yang dicarinya sedang terduduk di lantai dekat tangga bersama dengan pemimpin Guardian yang dilihatnya tempo hari.

Park Jimin.

"Jungkook!"

Taehyung menunduk dan tercekat melihat wajah manis pasangannya yang terlihat menyedihkan.

Pelipisnya sobek. Bibirnya bengkak, dan mantelnya hilang entah kemana. Sepasang kaki kurusnya bahkan bertelanjang kaki. Wajah Jungkook pucat pasi dan tubuhnya bergetar hebat.

"Hyung..."

Tangis Jungkook meledak saat Taehyung meraupnya dalam dekapan. Pemuda Kim memeluk erat Jungkook dan membelai punggungnya beberapa kali. Mencoba menenangkan.

Taehyung melepaskan pelukan itu dan bergegas melepas mantelnya. Ia memakaikan pakaian tebal itu untuk menyelimuti tubuh Jungkook yang kedinginan.

"Sshh... Tak apa, Kook. Aku akan menyelamatkanmu. Kita akan pulang."

"Kau bisa membawanya pulang sekarang juga, Tuan Kim."

Sahutan itu berasal dari arah belakangnya dimana Park Jimin berdiri dan membenarkan topi yang dikenakan. Amarah Taehyung menggelegak kala melihat kepala Guardian itu memandangnya dengan pandangan meremehkan.

"Brengsek! Apa kau yang menyakiti Jungkook? Katakan!"

Taehyung mencengkeram kerah seragam Guardian yang dikenakan Jimin. Belum sempat pemuda itu menjawab tuduhan, Taehyung sudah terlebih dahulu menghantam wajah Jimin dengan kepalan tangannya.

Tenaganya tak main-main. Buktinya hantaman itu bisa membuat Jimin terhuyung dan nyaris jatuh.

Jika bukan karena teriakan Jungkook, Kim Taehyung akan melanjutkan baku hantam itu untuk menyalurkan emosi yang melandanya.

"Hyung, hentikan! Dia tak bersalah! Bukan Jimin hyung!"

"Sialan ini pasti melakukannya! Lepaskan aku, Kook. Aku harus memberinya pelajaran!"

"Hyung, jangan!" Tangan Jungkook terulur dan menarik Taehyung mundur. Usaha itu nampaknya sia-sia karena pasangan Copulationnya itu menyentaknya dan kembali meraih tubuh Jimin dan menghajarnya.

"Stop! Jangan pukul dia, hyung!"

Merasa teriakannya diabaikan, Jungkook berlari ke arah Taehyung dan memeluk pria itu dari arah belakang. Meletakkan kepala di dagu Kim Taehyung, Jungkook berbisik di sela tangisnya.

"Aku hamil, hyung."

.

.

.

TBC

.

.

.

Daylight lovers mana suaranyaaaa.

Part ini mungkin terdapat banyak kesalahan EYD. Mohon maklum karena Plum ngetiknya sambil setengah merem :D

Review ya! Sayang kalian yang sudah mau baca cerita ini :)

Follow IG : summer_plum (double underscores)