AKATSUKI KELILING DUNIA

Chapter 13. Mesir

Desclaimer by Masashi Kishimoto

Genre : Humor/Adventure

Rating : K+

Summary : Akatsuki mendapatkan hadiah keliling dunia secara gratis bersama Naruto si tour guide ceroboh dan Sasuke si pilot dadakan./ "Ada apa, hah? Jangan bilang kalau kita nyasar lagi ke Korut?!" /"Bukan! Ini lebih gawaat!" /"Lebih gawat dari korut? Jangan-jangan kita nyasar ke Palestina yang sedang perang dengan Israel?"/"Bukan! Ini lebih gawaat!"/"KATAKAN SAJA YANG JELAS, SIALAN!"

.

.

.

Naruto, Deidara dan Ino akhirnya tiba di depan rumah Killer Bee. Itachi, Pein dan Zetsu yang bertugas mendirikan tenda segera mengambil tenda dari trio pirang tersebut. Mereka mulai bekerja sama mendirikan tenda. Sedangkan Sakura dan Konan, mereka berdua bertugas untuk membuat api unggun dan memasak. Tapi team pemburu ikan dan pemungut ranting belum juga datang.

"Tarik tali bagian sana, Zetsu!" perintah Pein.

"Sudah ku tarik!"

"Ikat yang kuaat!"

Drap...drap..drap..

Terdengar derap langkah kaki yang cepat. Semakin lama semakin dekat. Sepertinya ada beberapa orang berlari ke arah mereka. Naruto, Ino, Deidara, Sakura dan Konan saling pandang. Siapa kiranya orang-orang yang berlarian malam-malam begini?

Sedangkan Pein, Zetsu dan Itachi fokus mendirikan tenda.

"Fyuuh, akhirnya selesai juga! Ayo kita dirikan tenda yang satu lagi!" ajak Itachi. Zetsu pun membawa tenda kecil untuk para wanita dan mulai bersiap mendirikannya.

Tiba-tiba, 3 orang yang berlari sekuat tenaga menabrak tenda yang baru saja didirikan oleh Pein, Itachi dan Zetsu.

Berbarengan dengan suara bedebum, tenda tersebut pun roboh tertindih 3 orang pelari bak dikejar setan.

"KYAAAA!" teriak Ino, Sakura, Konan dan Deidara yang kaget karena tiga orang tersebut tiba-tiba muncul dan tersungkur diatas tenda.

"TENDAKUUUU!" jerit Pein. Tenda yang baru saja berdiri tersebut kini tergeletak bagai karpet diatas rumput.

"APA YANG KALIAN LAKUKAN, SIALAN!" Pein misuh-misuh sambil berkacak pinggang.

"Aduuh, minggir sialan!" Sasuke menendang Kisame yang meniban tubuhnya.

"Apa buayanya sudah tidak mengejar kita?" tanya Hidan sambil berusaha berdiri.

"Ketua! Tadi kami dikejar buayaa!" lapor Kisame sambil menunjuk jalan yang tadi mereka lewati.

"JANGAN MENGADA-NGADA! Dasar kalian penakut! Lalu mana ikan yang kalian dapat?" tanya Pein galak.

"Kita tinggalkan di pinggir sungai," jawab Sasuke santai.

"Dasar tidak berguna! Cepat bawa kemari lalu dirikan ulang tenda ini!" tandas Pein.

"Aku tidak mau! Disana ada buaya. Kau tidak tahu kalau kami sudah berlari setengah mati!" kini giliran Hidan yang mendeklarasikan kesialannya.

"Lalu kita akan makan apa?" tanya Pein masih dengan nada tinggi.

Tiba-tiba...

BRAAAKK!

"Kalau kalian berisik terus aku akan menyumpel mulut kalian dengan gagang samurai, yeah!" ucap Bee di depan pintu kemudian menutupnya lagi.

Akatsuki hening seketika.

Mereka pun mengendap-endap membangun tenda kembali.


"HUAAAAAA! SINGKIRKAN MONSTER INI DARI WAJAHKUU!" jerit Sasori sambil meronta ronta hingga Hp nya terlempar entah kemana. Ia merasakan cakaran dari makhluk yang kini bertengger tepat diwajahnya.

Bletaaakk!

Rupanya Hp Sasori terlempar ke belakang tepat mengenai jidat Kakuzu. Ia pun pingsan seketika.

"Sasori-senpai! Tenanglah, itu hanya kelinci!" ucap Tobi sambil berlari menuju Sasori yang terduduk di rumput. Ia pun segera mengangkat seekor kelinci yang menyerang wajah Sasori.

Sungguh malang nasibnya, wajah Sasori kini penuh dengan cakaran kelinci.

"Huaaa! Kelinci sialan akan ku bunuh kauu!" geram Sasori. Ia pun mencoba mengambil kelinci tersebut dari Tobi. Namun dengan cekatan , Tobi menghindarkan kelinci itu dari Sasori.

"Jangan, Senpai! Kelinci ini sangat lucu. Tobi mau pelihara kelinci ini!" ucap Tobi sambil memeluk kelinci tersebut.

"Apa katamu? Tidak boleh! Cepat berikan kelinci sialan itu!" tandas Sasori. Tobi pun berlari menghindar dari Sasori.

"Tidak akan Tobi serahkan!"

"Cepat berikan padakuu!"

Brukkk!

Tobi yang berlari sembarang arah tersangkut kaki Kakuzu yang pingsan. Ia pun terjatuh dan kelincinya terlepas dari pelukan Tobi.

"Huahahaha! Kemari kau kelinci sialan, akan ku cekik kau sampai mati, huahaha," Sasori tertawa psikopat sambil berjalan menuju kelinci putih yang kini menatapnya tanpa takut.

Tobi yang melihat itu pun segera bangkit dan melompat kearah Sasori.

Hap!

Ia pun mendarat tepat di samping Sasori dan langsung menggigit tangannya.

"WADAAAWW! Apa-apaan kau sialan! Lepaas!" jerit Sasori.

"Tidak mau! Tobi tidak akan biarkan senpai menyakiti kelinci Tobi!" Tobi mengencangkan gigitannya pada lengan Sasori.

"Aaaaaa! Iya-iya baiklah! Aku tidak akan membunuhnyaa! Lepasss!" teriak Sasori sambil menyingkirkan Tobi dari tangannya.

"Yeay! Kau sudah aman kelinci kecil," ucap Tobi senang sambil memeluk kelinci tersebut.

Sasori dongkol setengah mati. Wajahnya dicakar kelinci dan tangannya di gigit Tobi, benar-benar sial!

Sasori pun melirik ke arah Kakuzu yang sedang terbaring dengan benjol di jidatnya. Tak jauh di dekatnya tergeletak sebuah ponsel yang centernya masih menyala.

"Astaga! HP-ku!"

Sasori segera memungut benda kecil tersebut dan mengeceknya siapa tahu ada yang retak atau lecet. Tapi syukurlah HPnya baik-baik saja.

"Senpai, ayo kita kembali ke tempat yang lain! Tobi ingin memperkenalkan peliharaan Tobi," ucap Tobi sambil menimang-nimang kelinci tersebut layaknya seorang bayi.

Sasori hanya sweatdrop melihatnya. Dasar kekanak-kanakan!

Sasori pun menyeret Kakuzu menuju tempat kemah. Di belakangnya Tobi mengekor sambil tetap menggendong kelincinya.

Setibanya disana, terlihat Akatsuki yang lain sedang mendirikan tenda. Kedatangan mereka pun disambut oleh Konan dan Sakura. Mereka berdua menatap heran ke arah Sasori yang menyeret Kakuzu sambil membawa ranting di tangan satunya. Wajahnya juga penuh cakaran.

"Apa yang terjadi?" tanya Konan sambil membawa ranting yang di bawa oleh Sasori.

"Aku tidak ingin membahasnya!" ucap Sasori sambil berjalan mencari tempat duduk. Meninggalkan Kakuzu yang tergeletak dirumput.

Sakura pun menatap heran pada Tobi yang membawa seekor kelinci putih.

"Kenalkan, ini peliharaan baru Tobi. Namanya Rabbit," ucap Tobi sambil menyodorkan kelinci putih tersebut kepada Sakura. Sakura pun mendekat kearah kelinci tersebut.

"Hallo, Rabbit! Kau lucu sekali~" ucap Sakura sambil menggendong kelinci tersebut.

Cuurrr...

Sakura merasakan sesuatu yang hangat mengalir pada lengannya.

"Apa ini?" tanya Sakura heran. Beberapa detik kemudian tercium bau tidak enak dari cairan tersebut.

"HUAAAA! DIA NGOMPOOOLL!" Sakura pun melempar kelinci tersebut ke sembarang arah.

Swiiiingggg!

Dengan cekatan Tobi pun menangkapnya.

Hap!

"Fyuhh, untung saja kau tidak apa-apa, Rabbit," ucap Tobi sambil mengelus bulu kelinci tersebut. Lama kelamaan, Tobi merasakan aura-aura hitam di sekitarnya. Ia pun menengok ke belakang dengan gerakan slow motion. Terlihat Sakura dengan wajah merah dan baju basah lengkap dengan bau ompol kelinci menatap Tobi dengan garang.

"AKAN KU BUNUH KELINCI SIALAN ITUU!" jerit Sakura sambil membawa tombak. Tobi pun berlari sekencang-kencangnya.

Tapi naas, didepannya ada sebuah tenda yang baru saja selesai didirikan oleh Pein, Zetsu dan Itachi.

"Akhirnya selesai juga," ucap Pein sambil berkacak pinggang menatap tenda tersebut dengan bangga.

Tiba-tiba...

"Huaaaaa!"

Bruukkkk!

Dan tenda yang baru saja berdiri itu pun kembali rubuh untuk yang kedua kalinya.

Pein, Zetsu dan Itachi pun menatap Tobi dengan pandangan membunuh. Tak lupa di belakangnya masih ada Sakura yang membawa tombak. Tobi pun bangkit dan segera berlari memutari tempat tersebut dengan dikejar 4 orang senpainya.

BRAAK!

Pintu rumah Bee terbuka dengan kasar. Bee pun keluar dengan membawa samurainya sambil menatap 5 orang yang sedang berlarian didepan halamannya.

"BERHENTI KALIAN! BERANINYA KALIAN MENGGANGGU WAKTU TIDURKU, YO!"

Bee pun mengejar mereka berlima sambil mengacungkan samurainya.

Dan begitulah, malam ini mereka habiskan dengan berjogging dengan perut keroncongan.


Singkat cerita, mereka pun tiba di bandara. Setelah berpamitan dengan Ino, mereka pun masuk kedalam pesawat untuk melakukan perjalanan selanjutnya.

Mereka semua segera menyerbu kursi masing-masing untuk sekedar mengistirahatkan punggung. Begitu juga dengan Sakura, biasanya ia langsung standby di ruang kokpit bersama Sasuke. Tapi kali ini ia memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya di kursi samping Konan. Dan dengan seenaknya menyuruh Naruto untuk menggantikan tugasnya di ruang kokpit.

Sasuke dan Naruto kini standby di ruang kokpit. Sasuke sudah siap untuk menerbangkan pesawat. Disampingnya, Naruto juga sudah siap dengan peta nya.

Kali ini mereka akan pergi ke mesir. Butuh waktu berjam-jam untuk tiba disana.

Pesawat pun mulai melaju di udara. Sebagian Akatsuki memilih untuk tidur dan sebagian lagi memilih untuk menyibukkan diri dengan urusannya masing-masing.

"Kenapa aku tiba-tiba merasa tidak enak hati ya," gumam Hidan.

"Zzzzz... " Kakuzu menyahut dengan dengkuran.

Tiba-tiba pesawat yang mereka naiki oleng. Akatsuki yang tertidur tanpa pakai sabuk pengaman pun terguling dari kursinya.

Brukkk!

"Adaaww!" rintih Pein yang wajahnya terjerembab ke samping kursi dan menabrak lantai pesawat.

"Aduuh,"

"Danna, kau mendorongku ya?!"

"Tobi tiba-tiba saja ingin muntah, hueekk!"

Baru saja mereka berdiri dari tempat jatuhnya tadi, pesawat kembali oleng dan mendorong mereka untuk terjerembab lagi.

"WOII! MENYETIR YANG BENAR DONG!" omel Pein.

Tap

Tap

Tap

Naruto berlari menuju kabin kapal. Sesampainya di depan kabin...

"GAWAAAT! INI GAWAAT! INI SANGAT GAWAAT!" teriak Naruto histeris dengan wajah panik. Akatsuki cs sontak menoleh ke depan kabin.

"Ada apa, hah? Jangan bilang kalau kita nyasar lagi ke korut?!" tuding Sasori.

"Bukan! Ini lebih gawaat!" pekik Naruto. Masih dengan nada histeris.

"Lebih gawat dari korut? Jangan-jangan kita nyasar ke palestina yang sedang perang dengan israel?" tanya Itachi.

"Bukan! Ini lebih gawaat!" bantah Naruto.

"KATAKAN SAJA YANG JELAS, SIALAN!" teriak Pein yang sudah muak dengan acara tebak-tebakkan ini.

"Kapal ini kehabisan bahan bakar!" pekik Naruto.

"HUAPAAA?! Perjalanan macam apa ini! Kenapa kita selalu ditimpa kesialan!" rutuk Pein.

"PAKAI SABUK PENGAMAN! KITA AKAN MENDARAT MENDADAK!" Teriak Sasuke dari ruang kokpit. Dan sedetik kemudian pesawat meluncur untuk landing. Akatsuki yang tidak sempat pakai sabuk pengaman terlempar ke arah belakang.

"HUAAAA!"

Kabin pun berantakan layaknya kapal pecah.


Dan disinilah mereka sekarang. Sebuah lautan pasir yang gersang dan berdebu. Akatsuki bahkan tidak ada yang berani keluar pesawat mengingat matahari sedang berada dipuncaknya.

Pein segera mendatangi ruang kokpit untuk mengomeli sang pilot yang sepertinya lupa mengisi bahan bakar.

"Heh, Pilot sialan! Bagaimana bisa pesawat ini kehabisan bahan bakar, hah?!" ucap Pein dengan nada preman dan wajah songong. Sasuke berbalik dari kursinya.

"Mana ku tahu, aku kan hanya pilot dan tugasku hanya menyetir," jelas Sasuke santai.

"Lalu menurutmu ini tugas siapa, hah?"

"Naruto, mungkin," tuduh Sasuke. Pein pun berbalik arah menuju kabin. Ia berniat memarahi pria berambut jabrik pirang itu. Tapi setibanya di kabin, Akastuki cs kini telah nemplok di jendela bagian kiri pesawat. Bahkan mereka dorong-dorongan karena tak bisa melihat keluar jendela.

Pein yang penasaran pun segera menghampiri Itachi yang sedang berusaha nyempil diantara Kisame dan Zetsu.

"Ada apaan sih?" tanya Pein heran.

"Mana ku tahu, dari tadi aku ingin melihat. Tapi mereka berdua tidak mau menyingkir. Hei minggir sebentar aku juga mau lihat!" ucap Itachi kemudian melanjutkan aktivitasnya.

"Apa sih? Kalian melihat apa sih?" tanya Pein penasaran.

"Huaaa! Dia melihat kemari!" pekik Hidan yang langsung berjongkok agar tak kelihatan dari luar jendela. Di ikuti Akatsuki yang lain yang kini berkumpul di bawah jendela.

"Sial! Dia pasti sudah tahu keberadaan kita!" lanjut Sasori.

"Aku tidak mau mati jadi mumi, un,"

"Kita harus mengunci pintunya dan menutup jendelanya dengan kain," bisik Naruto.

"WOOYY! SEBENARNYA ADA APPA SIH? BERITAHU AKU, SIALAN!" teriak Pein yang sudah habis kesabaran.

Bletak!

Dan Pein pun berakhir dengan kepala benjol hasil jitakan Konan yang kebetulan berada tak jauh dari Pein.

"Jangan berisik, Senpai. Di luar ada orang berbaju serba hitam dan membawa mumi," Tobi yang baik hati pun akhirnya menjelaskan apa yang ada diluar.

"Mumi? Yang benar saja! Memangnya kita ada di Mesir? Hah?" sungut Pein.

"Kita memang ada di Mesir, bodoh!" jawab Konan yang kini tengah menutupi jendela dengan jubah Akatsuki milik Pein.

"Apaa? Jadi ini di mesir? Berarti kita sudah sampai tujuan kita?" tanya Pein lagi. Sepertinya hanya Pein yang dari tadi banyak bicara. Akatsuki yang lain sedang sibuk menutupi jendela dengan jubah masing-masing.

"Bodoh, tujuan kita itu mendarat di bandara mesir. Bukan di gurun pasir begini!" jawab Naruto yang kini tengah mengintip di salah satu jendela. "Gawat! Dia berjalan kesini!" teriak Naruto.

"SEMBUNYIII!" teriak Kakuzu. Ia pun segera bersembunyi di bawah kursi bersama kopernya.

Akatsuki pun kalang kabut dan mencari tempat persembunyian.

Tok..tok...tok...

Terdengar suara ketukan dari pintu besi pesawat. Akatsuki pun menutup mulut rapat-rapat agar tidak ketahuan si pengetuk pintu.

Tok..tok..tok...

Sasuke yang sedang mencari tahu lokasi bandara terdekat merasa terganggu dengan ketukan pintu dari kabin. Ia pun keluar dari kokpit untuk melihat apa yang terjadi.

Sasuke dibuat heran dengan keadaan kabin yang kini sudah mirip jemuran laundry. Jubah hitam bermotif awan merah tergantung di seluruh jendela.

Dan yang paling mengherankan adalah, orang-orang absurd itu kini bersembunyi di balik kursi pesawat. Sasuke bisa langsung tahu karena sebagian tubuh mereka terlihat.

Mulai dari kunciran rambut Deidara yang menyembul keluar hingga pantat Kisame yang sepertinya tidak muat untuk sembunyi dibawah kursi.

Sasuke berjalan menuju pintu keluar, mengabaikan aktivitas orang-orang absurd tersebut.

Terdengar suara pintu kabin yang terbuka. Akatsuki pun saling berbisik ditempat persembunyiannya masing-masing.

"Siapa yang buka pintu?" bisik Naruto pada orang disampingnya.

"Mana ku tahu, yang jelas itu bukan aku," jawab Itachi sekenanya.

"Coba kau lihat sana," titah Naruto.

"Tidak mau! Kalau orang itu tiba-tiba masuk bagaimana?" bantah Itachi.

"Sialan, bau apa ini?" umpat Sasori yang mencium bau busuk di sekitarnya.

"Maaf, posisi ini membuatku ingin kentut," jawab Kisame.

"Baaaaahhh!"

Akatsuki cs pun keluar dari tempat persembunyiannya karena tak kuat menahan wangi dahsyat yang keluar dari bokong Kisame.

Mereka semua menatap Kisame yang masih nungging dengan tatapan membunuh.

"He-hei, aku kan sudah minta maaf," bela Kisame.

"Huaaa! Gawat! Lihat itu!" Naruto menunjuk Sasuke yang kini tengah berbincang dengan pria berbaju hitam yang mengangkut mumi tadi.

"TIDAAAKKK! OTOUTOU-KU SAYANG! MENJAUH DARINYAAA!" teriak Itachi.

"SASUKE! CEPAT LARIII" teriak Sakura.

Sasuke pun menoleh ke dalam kabin karena merasa terganggu dengan aktifitas Akatsuki cs.

"Jangan paksa aku untuk bergabung dengan kegiatan bodoh kalian," jawab Sasuke sinis, lalu ia melanjutkan pembicaraannya dengan pria tersebut.

"Sepertinya Sasuke sudah terhipnotis! Kita harus menyelamatkannya," ucap Naruto.

"Hei, kalian! Cepat kemari!" teriak Sasuke dari luar.

Mereka semua saling pandang, apakah harus menghampiri Sasuke atau tidak. Karena tidak ada yang memberi ide akhirnya Pein menyuruh Deidara untuk keluar duluan.

"Kenapa aku, un?" protes Deidara.

"Hei cepatlah!" teriak Sasuke lagi.

"Cepat lakukan, kita akan menyusul nanti," suruh Pein.

Deidara pun menyembulkan kepalanya keluar pintu.

"Ada apa, Sasuke, un?" tanya Deidara.

"Ck! Cepat suruh orang-orang bodoh itu untuk keluar! Kita akan pergi ke rumah orang ini. Dia mau memberi kita bantuan," jelas Sasuke.

Deidara melirik kearah pria berbaju hitam tersebut. Terlihat ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya sambil berkata, "Hallo, selamat siang!"

Blam!

Deidara membanting pintu dengan keras dan segera berlari menuju kumpulan Akatsuki.

"Ada apa? Kenapa kau?" tanya Pein heran.

"Sasuke bilang kita akan dibawa ke rumah pria itu dengan embel-embel memberi kita bantuan, un!" jelas Deidara.

"Huapaaa?! Sudah ku duga si rambut ayam itu sudah terhipnotis!" teriak Pein histeris.

"Tidaaakk! Adikku yang malang! Aku harus menyelamatkannya,"

Itachi berniat keluar pesawat. Namun langkahnya terhenti karena tiba-tiba pintu terbuka, menampakkan sosok pria berambut raven.

"Apa yang kalian lakukan? Cepat keluar! Kita harus pergi mencari bahan bakar pesawat. Memangnya kalian mau mati kekeringan disini? Jangan lupa bawa minum dan pakai jubah kalian!" ucap Sasuke kemudian berjalan ke ruang kokpit untuk mengambil barang-barangnya.

"Mungkin yang pria itu bawa bukan mumi," celetuk Sakura.

"Apa kau tidak lihat? Bentuknya saja seperti manusia! Ada lekukan kepala dan kakinya! Yang tidak ada hanya lekukan dadanya! Mungkin itu mumi laki-laki atau mumi perempuan sepertimu, Sakura," jelas Naruto.

"Apa maksudmu, brengsek?!"

Buaghhh

Dan Naruto berakhir dengan lebam dipipinya.


Dengan terpaksa Akatsuki cs pun mengikuti kata-kata Sasuke karena diancam akan di tinggalkan di gurun ini.

Kini Akatsuki sudah siap untuk melakukan perjalanan di gurun pasir. Mereka menggukanan jubah Akatsuki dan membawa ransel berisi makanan dan minuman.

Mereka berjalan menyusuri hamparan pasir yang luas. Meninggalkan banyak jejak kaki pada pasir cokelat tersebut.

"Haduuh, pasir-pasir ini masuk ke dalam sepatuku," keluh Zetsu.

"Sepatuku juga sudah penuh pasir," balas Naruto.

"Jangan mengeluh, cepat jalan!" omel Sasuke yang berjalan paling depan bersama pria berbaju hitam yang diketahui bernama Kankuro.

"Apa masih jauh?" tanya Konan yang sudah kelelahan. Keringat membanjiri tubuhnya, di tambah lagi persediaan minum yang sudah berkurang.

"Sebentar lagi," jawab Kankuro.

.

.

.

.

2 jam kemudian.

"APANYA YANG SEBENTAR LAGI?!" Teriak Konan yang sudah habis kesabaran. Matahari bersinar begitu terang, membuat suasana di gurun ini semakin panas.

"Sebentar lagi, mungkin sekitar 1 jam lagi kita akan sampai," ucap Kankuro.

"1 jam? Bunuh saja aku! Aku tidak tahan lagi, aku ingin minum!" teriak Kisame.

Glek

Glek

Glek

Terdengar suara seseorang meneguk air.

Set!

Kisame segera menengok ke sumber suara. Rupanya itu Sasuke yang sedang minum.

"Hoi! Jangan di habiskan! Aku mau minum juga!" pinta Kisame.

Terlambat. Botol minum itu kini kosong.

"HUAAA! KENAPA KAU HABISKAN, SIALAN!" teriak Kisame frustasi. Ia sudah sangat kehausan.

"Kau kan bawa bekal minummu sendiri!" bantah Sasuke.

Kisame melirik teman-temannya yang lain. Semua botol minum mereka kosong, kecuali milik Tobi. Ada sedikit lagi.

"Tobi, kau kan anak yang baik hati, pasti aku boleh minta minumanmu kan?" rayu Kisame.

"Tidak bisa senpai, ini minuman untuk kelinci Tobi," ucap Tobi sambil memperlihatkan seekor kelinci yang ia gendong di dalam jubah.

"Kelinci tidak butuh minum! Berikan saja minuman itu padaku!" bentak Kisame.

"Tidak mau! Ini milik Rabbit!"

"Cepat berikan!"

"TIDAK MAUU!"

"Hei, hentikan, Kisame! Tahanlah sebentar lagi!" lerai Pein.

"Ayo cepat jalan! Kita akan semakin gosong kalau berlama-lama di gurun!" perintah Kankuro.

Mereka pun melanjutkan perjalanan gurun itu kembali.

Dari kejauhan, Kisame melihat ada suatu benda berwarna hijau. Ia pun menyipitkan matanya untuk memastikan benda tersebut.

Benda hijau bulat dengan duri di sekelilingnya. Itu kaktus!

Kisame segera berlari menuju kaktus tersebut. Kaktus kan batangnya berisi cairan. Setidaknya lumayan untuk menghilangkan sedikit dahaga.

"Woi! Kisame, kau mau kemana?!" teriak Hidan yang melihat Kisame berlari ke lain arah.

Rombongan Akatsuki pun berhenti berjalan dan melihat ke arah Kisame yang berlari menuju sebuah kaktus berukuran sedang.

"HEI! JANGAN MINUM AIR KAKTUS ITU!" teriak Kankuro.

"Memangnya kenapa, un?" tanya Deidara.

"Kalau minum air kaktus yang tumbuh di gurun. Maka akan menyebabkan halusinasi," jelas Kankuro.

Terlihat di tempat kaktus itu, Kisame mematahkan kaktus itu.

"Gawaaat!" Naruto pun segera berlari untuk mencegah Kisame.

Terlambat.

Kisame sudah meneguk habis cairan kaktus tersebut.

Naruto mematung. Kira-kira apa yang akan terjadi pada Kisame?

Kisame terdiam beberapa saat. Kemudian ia membalikkan badannya menghadap Akatsuki cs. Wajahnya terlihat bersemu ungu.

"Kau baik-baik saja kan, Kisame?" tanya Naruto.

"Woah! Aku tidak pernah merasa sebaik ini! Lihat! Ada air dimana-mana!" ucap Kisame dengan wajah sumeringah. Ia pun menciprat-cipratkan pasir layaknya air. Membuat kepulan debu menyeruak di tempat itu.

"Uhuk uhuk! Hentikan bodoh! Ini bukan air! Ini pasir!" Naruto mencoba memberi tahu Kisame.

"Wuhuuu! Aku akan berenang di sebelah sana!" Kisame berlari kearah gunungan pasir dan melompat diatasnya. Lalu ia berenang di atas pasir.

"Woi! Berhenti kau!" teriak Naruto sambil berlari mengejar Kisame.

"Bagaimana cara menghentikan halusinasinya?" tanya Sasuke.

"Tidak ada. Halusinasinya akan berhenti sendiri sekitar 48 jam," jelas Kankuro.

Akatsuki cs melongo.

1 hal yang mereka tahu, perjalanan yang lebih merepotkan baru saja dimulai...

Dengan susah payah, Naruto dan Hidan menyeret Kisame menuju ke barisan.

"Hoii, lepaskan aku! Kalian pasti akan memaksaku menikah dengan duyung jelek itu kan!" Tuding Kisame sambil menunjuk Deidara. Hidan dan Naruto tetap menyeret Kisame.

"Apaa? Siapa yang kau bilang duyung jelek, un?!" protes Deidara tak terima. "Huaaa! Danna, dia memanggilku duyung jelek!" rajuk Deidara.

"Abaikan saja dia, kau kan tahu kalau dia sedang berhalusinasi," ucap Sasori.

"Ibu! Ayah! Lepaskan aku! Aku tidak mau menikah dengan dia! Aku ingin menikah dengan duyung yang cantik," rengek Kisame pada Hidan dan Naruto.

Hidan dan Naruto saling pandang. Siapa yang Kisame maksud sebagai ayah? Dan siapa yang sebagai ibu?

"Siapa yang kau panggil ibu?" tanya Hidan.

"Tentu saja kau, ibu tiriku yang jahat!" tekan Kisame.

"Huakakakkaaka!" Naruto tertawa terpingkal-pingkal. "Kau memang cocok jadi ibu tiri!" ledek Naruto.

"Dasar kampret! Berani-beraninya kau menyamakan aku dengan ibu-ibu!" umpat Hidan.

"Kita hampir sampai," ucap Kankuro sambil menunjuk sebuah rumah berwarna senada dengan pasir. Mereka pun berlarian menuju rumah tersebut.

"Masuklah, anggap saja rumah sendiri," ucap Kankuro.

Akatsuki cs tercengang melihat isi rumah Kankuro. Semua barangnya terbuat dari pasir. Mulai dari kursi, meja, hingga gelas yang berdiri di atas meja pun terbuat dari pasir.

"Baiklah, siapa yang akan ke bandara bersamaku? Aku hanya bisa bawa 1 orang karena kita akan pergi naik sepeda motor," ucap Kankuro.

"Kau saja, Naruto!" tuduh Pein.

"Kenapa harus aku?"

"Siapa yang setuju kalau Naruto yang pergi?" tanya Pein. Semua Akatsuki cs pun mengangkat tangan kecuali Kisame.

"Sialan kalian semua!" gerutu Naruto.

"Baiklah, ayo pergi! Oh iya, Aku titip ini ya, ini adalah barang berhargaku," ucap Kankuro sambil menyimpan 'mumi' tersebut di samping tembok. Sejurus kemudian, ia membawa motor dari samping rumahnya.

"Huahahah, rasakan itu! Selamat bersenang-senang bersama mumi, huakaka!" ucap Naruto kemudian menutup pintu. Meninggalkan Akatsuki yang mematung karena takut mumi kecuali Sasuke dan Kisame.

"Woah! Baru kali ini aku melihat duyung secantik dirimu," ucap Kisame sambil mendekati 'mumi' tersebut.

"Dia pasti sudah gila," Pein pun menyeret Kisame dari mumi tersebut. "Ayo kita pindah ke ruangan lain, mumi itu membuatku merinding," ajak Pein. Akatsuki cs pun masuk ke dalam rumah Kankuro semakin dalam.

Mereka kini ada di ruang tv. Lagi-lagi mereka dibuat tercengang dengan tv yang terbuat dari pasir tersebut.

"Sepertinya Kankuro terinspirasi dari patrick st*r," gumam Sasori.

Zetsu melihat sekeliling ruangan tersebut. Ada beberapa pintu yang terhubung dengan ruang tv ini. Zetsu pun berniat mencari kamar tidur dan membuka salah satu pintu.

Krieet...

Pintu tersebut sedikit terbuka. Zetsu mengintip ruangan gelap tersebut.

"Huaaaaaa!"

Braaakk!

Zetsu membuka pintu tersebut lebar-lebar. Menampakkan puluhan 'manusia' yang tergantung di tembok-tembok ruangan.

.

.

.

TBC


Balas Review :

DandiDandi : itu hanya seonggok kelinci rupanya XD

Anni593 : Request diterima! :D karena Gaara-kun memang ada di dalam daftar tour guide.. huehehe

Hyudate'8576 : Hoho, iya gapapa :D ahh, sayang sekali Kakuzu tidak seberuntung itu XD

Syukurlah kalau begitu, tapi aku gak yakin dengan chap ini (-')

Euclidz : sudah lanjuut..

RendyDP424 : Sepertinya mereka gak akan sanggup buat berpuasa di gurun pasir ini XD

Vira D Ace : sudah lanjuut..

Ariel Chan 165 : mungkin kesialan menyukai mereka XD

Sasaki Shigekuni : sudah update ya..

Zouch : Hoho, romance SasoDei terlalu sulit di fict yang penuh dengan kesialan ini. Mungkin kalau kesialan SasoDei bisa aku perbanyak wkwk #plak

L : Maafkan karna humornya makin turun.. Loh, kenapa bikin nangis? XD

Terimakasih buat semua yang udah review, fav dan foll. Apresiasi kalian sangat berarti bagi author ^_^

Sampai ketemu lagi sabtu depan!