The Winter Cogitation

Chapter 13 - The Ice Help Cogitation

Note : Cerita ini dibuat oleh saya sendiri. Namun karakter, tempat kejadian dan komponen cerita yang berhubungan dengan cerita asli Penguin of Madagascar bukan milik saya. Melainkan Dreamworks and Nickelodeon. Karakter asli, tempat kejadian asli, dan hal-hal yang bersifat asli dan nyata disamarkan walau tidak semua karena ini hanyalah fiksi. Saya mohon maaf jika cerita ini kurang jelas dan ada kesalahan dalam penulisan, baik kosa kata maupun tata bahasa dalam cerita ini. Peringatan! Banyak sekali bahasa campuran, liar, dan gaul disini. Dan beberapa unsur kehidupan remaja. Hanya untuk umur remaja keatas! Dan unsur religi masuk dalam cerita ini!

WARNING: Cerita ini TIDAK direkomendasikan untuk pembaca yang tidak menyukai cerita panjang dan pembaca yang dibawah umur 16 tahun.


Salju yang turun dan melihat dataran tanah yang agak tebal dengan salju mengingatkan aku pada sebuah kejadian saat aku, Fachrul, dan Adlin terdampar di sebuah tempat yang dipenuhi oleh salju waktu aku masih berada saat SMP lalu. Tepatnya di sebuah desa yang tidak diketahui. Aku dan mereka terdampar ditempat seperti ini karena kecepatan motor yang terlalu besar yang membuat kami berada di daerah dan dunia lain. Kami pada saat itu berada di sebuah dunia yang bernama Andromedieval. Berada disebuah desa yang cukup kecil dan tak berpenghuni. Namun tiba-tiba datanglah monster yang menyerang kami dan mengubah Adlin dan Fachrul menjadi Kristal Es. Monster itu membawa kabur 2 kristal itu ke sebuah gunung berapi yang letaknya tak jauh dari desa itu. Akhirnya aku berusaha untuk menyelamatkan mereka dan pergi ke tempat dimana Monster itu berada.

Ketika aku berjalan, suasana badai salju menghampiri diriku hingga aku tertutup oleh salju dan aku pun terjatuh dan gak bisa bergerak. Namun, seekor anjing menyelamatkan diriku. Anjing tersebut anehnya bisa berbicara layaknya seperti manusia. Dia pun memberikan aku beberapa informasi mengenai tempat yang aku tempati beserta daerah dan monster yang telah menculik Fachrul dan Adlin. Aku pun dituntut oleh Anjing itu agar aku segera membasmi monster itu sebelum orang yang berada di daerah ini yang telah berubah menjadi kristal akan mati tenggelam karena lahar panas yang ada di gunung berapi itu. Akhirnya, dengan segera aku mencoba untuk menolong mereka.

Banyak rintangan dan cobaan yang aku lalui. Sama halnya ketika aku menyelamatkan dia dari tangan jahat mahluk itu. Ditengah jalan menuju monster tersebut aku menemukan Pedang Excalibur yang berada di Goa Excalibur yang mungkin berguna bagiku untuk mengalahkan monster itu. Namun di akhir jalan ketika aku keluar dari Goa Excalibur itu, aku harus berpacu dengan lava gunung berapa yang ingin naik ke atas dan aku harus mempercepat diriku naik segera naik ke atas sebelum lava itu menyentuh diriku. Namun, yang sangat berat bagiku. Aku harus membasmi kekelawar yang menghalangi jalanku sehingga aku harus mempercepat seranganku dan jalanku.

Akhirnya dengan perjuangan kerasku, aku berhasil melewati lava ganas tersebut. Monster tersebut menunggu diriku. Aku melawan monster itu dengan menggunakan pedang Excalibur yang aku bawa itu. Sulit sekali melawan monster itu karena dia selalu menggunakan barrier. Ketika barrier tersebut lepas, aku langsung menyerang monster itu hingga monster itu lemah. Namun, ketika dia lemah, hal berbahaya menimpa diriku. Dia menyerangku menggunakan lidah beracun yang dapat menggulung diriku dan terkena lendir racun yang membuatku nyaris lumpuh tidak bisa bergerak dan ketika aku tidak bisa bergerak, monster tersebut mengeluarkan duri-duri yang ingin menancapkannya kepada tubuhku hingga yang serangan kematiannya yaitu merubah diirku menjadi sebuah kristal yang nasibnya akan sama seperti orang-orang yang tinggal ditempat itu dan juga Fachrul dan Adlin. Beruntungnya, kakiku tidak lumpuh sehingga aku masih bisa menyerang dia dengan kakiku ini. Serangan fatal pun terjadi pada monster tersebut yang membuat monster itu sakit dan terjatuh kedalam lahar itu. Akhirnya pertandingan dimenangkan olehku.

Semua kristal berubah menjadi bola cahaya yang membawa diriku ke tempat dimana aku, Fachrul dan Adlin tiba di dunia tersebut. Semua bola cahaya tersebut berubah menjadi orang. Akhirnya, Fachrul dan Adlin kembali selamat. Orang yang ada di dunia itu telah kembali dengan selamat. Aku merasa bahagia telah karena kembali temanku dan orang yang ada di dunia itu. Aku pun diberikan penghargaan oleh orang-orang itu. Dan akhirnya setelah itu, aku, Fachrul, dan Adlin dapat pulang dengan selamat.

Yeah.. itulah sebuah cerita yang mengenang diriku pada masa kejayaan diriku ini. Entah bagiku saat ini sepertinya aku masih dapat bersemangat dalam melakukan aktivitas yang aku inginkan walau kendala dalam hidupku di masa SMA justru lebih berat dibandingkan masa SMP lalu.


Bagaimana kelanjutan cerita ini? Tunggulah pada chapter yang akan mendatang. Jangan lupa untuk Review Chapter ini.