A Late Story
LOVE IN THE PALACE
.
.
.
Kim Mingyu
Jeon Wonwoo
.
.
.
Genderswitch
Joseon Era
.
.
.
"Nyonya Jeon, aku Shin Inkyung." Hye menoleh kearah pintu ruangannya yang tertutup. Menghela nafas sebelum membuka suara.
"Masuklah." Pintu itu bergeser kemudian menampilkan Dayang Shin yang selama ini ia hindari bertatap wajah berdua. "Ada apa?"
"Aku membawa pesan dari Dayang Shin Sekyung untuk anda, Nyonya. Jika anda tak lupa perjanjian kita." Inkyung menyerahkan secarik kertas terlipat kepada Hye. Hye membaca dengan gusar.
"Besok malam? Bukankah aku mengatakan untuk menunggu perintahku?" Ini yang Hye takutkan jika ia bertatap wajah berdua dengan Dayang-nya itu. Sudah pasti membicarakan perbuatan keji pada Yang Mulia Ratu. Selama ini memang Hye bersikap seolah ia setuju dengan perjanjian itu. Namun, dibalik itu ia sedang memutar otak untuk menyelamatkan Ratu Won dan dirinya sendiri tentunya.
"Kami telah menunggu terlalu lama. Besok malam adalah waktu yang tepat untuk mengirim sihir pada Yang Mulia Ratu. Ia akan sendirian dimalam dimana kau melaksanakan ritual minum teh bersama Raja. Dan tugas Nyonya adalah menggoda dan menjerat Yang Mulia Raja." Hye terdiam. Otaknya bekerja terlalu keras untuk memikirkan segala cara menghentikan kejahatan ini. Ini tidak bisa dibiarkan.
"Baiklah…" Hye menghela nafas panjang. "…Tugasku adalah menggoda Yang Mulia Raja. Sebab itu, aku akan keluar istana untuk membeli beberapa persiapan malam ritual agar berjalan lancar. Aku juga harus mengenakan pakaian terbaikku di depan Raja." Cara pertama yang Hye pikirkan adalah keluar istana hari ini.
"Tidak masalah. Aku akan mendampingimu keluar istana dan membeli pakaian, Nyonya."
"Tidak. Aku akan keluar bersama Dayang Park sementara aku memerintahkanmu untuk disini dan merapihkan seluruh paviliun-ku. Ini tempat yang digunakan untuk ritual jadi aku ingin tempatku terlihat nyaman. Mengerti?" Inkyung mengangguk ragu. Namun ia berusaha menuruti dan mempercayai Hye demi kerjasama yang mereka lakukan.
.
"Nyonya Jeon, anda gemetaran dan wajahmu pucat. Haruskah kita melanjutkan perjalanan ini?" Hye bergegas keluar istana bersama Dayang Park. Persetan dengan pakaian untuk ritual. Ia butuh bantuan.
"Kediaman Nyonya Kim sudah dekat. Dan kita harus tiba disana segera." Hye berlajan cepat. Rumah besar yang dijadikan balai pengobatan itu sudah terlihat. Hye ketakutan. Ia gemetar membayangkan jika sampai ritual esok malam sampai terlaksana. Ratu Won bisa celaka karena ulahnya.
"Permisi. Benarkah ini kediaman Nyonya Kim Jungkook?" Hye tiba di rumah yang ia tuju. Ia bertanya pada seorang lelaki yang tengah sibuk meracik obat untuk para pasien di balai pengobatan sederhananya.
"Benar. Jungkook istriku. Sebentar akan aku panggilkan." Lelaki muda itu hendak beranjak setelah Hye mengucapkan kata terima kasih. Namun terhenti ketika Dayang Park berteriak. Hye pingsan akibat terlalu gugup.
.
"Anda sudah sadar, Nyonya?" Dayang Park membantu Hye untuk duduk. Ada Jungkook dan Hansol disana. Hansol sedang mengunjungi putri keduanya saat Hye pingsan di kediaman keluarga Kim.
"Minumlah ini, Nyonya." Jungkook mengulurkan semangkuk ramuan yang suaminya buat untuk Hye.
"Terima kasih, Nyonya. Pria tadi suamimu?" Hye meneguk obat itu dan mengerutkan dahi karena rasanya.
"Ya. Namanya Kim Taehyung. Maaf, Nyonya. Tapi apa yang membawamu kesini dalam keadaan kurang sehat begini?" Dayang Park telah keluar untuk membawa mangkuk kosong bekas Hye tadi. Tinggallah Hye, Jungkook dan Hansol yang duduk berhadapan.
"Tuan Perdana Menteri Choi, Nyonya Kim. Kita harus melakukan sesuatu. Yang Mulia Ratu dalam bahaya besar. Ku mohon bantu aku." Hye mendekat kemudian menggenggam tangan Jungkook. Menatap dua keluarga Choi itu dengan tatapan memohon.
"Apa maksudmu dengan Yang Mulia Ratu dalam bahaya, Nyonya?" Hansol membuka suara. Terkejut ketika nama putri pertamanya disebut.
"Ada yang akan mengirim sihir untuk membunuh Yang Mulia Ratu. Besok malam. Tepat saat aku akan melakukan ritual dengan Yang Mulia Raja." Jeon Hye menjelaskan dengan nafas memburu. Sungguh perasaan takutnya masih membayangi pikirannya.
"Sihir? Membunuh Ratu?" Jungkook terkejut mendengar penuturan Dayang Istimewa Jeon. Haruskah ia percaya pada wanita yang akan dijadikan Selir dalam waktu dekat?
Jungkook juga seorang wanita. Ia begitu memahami perasaan kakak kandungnya ketika mendengar berita Raja akan segera menobatkan Selir. Dan Jeon Hye adalah satu-satunya kandidat. Bukankah harusnya Hye senang jika mengetahui Ratu akan disingkirkan? Itu berarti ia berkesempatan besar menggantikan Ratu.
"Demi Tuhan, jangan berburuk sangka padaku, Nyonya, Tuan. Aku tidak pernah menginginkan ritual apapun. Jabatan apapun. Sungguh aku tak pernah membayangkan bisa berdiri disamping Yang Mulia Ratu. Itu sudah lebih dari keajaiban." Hye bergetar dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak akan menyalahkan jika orang akan berburuk sangka padanya jika hal buruk terjadi pada Ratu.
Hye tidak masalah jika ia dianggap jahat. Ia tak peduli. Ia hanya ingin melalukan sesuatu untuk menyelamatkan Ratu yang ia hormati kali ini. Ia ikut terpukul mengetahui Putera Mahkota yang Ratu kandung wafat karena sihir. Ia tak mau ini semua terulang.
"Tenanglah, Nak. Kita akan menyelamatkan Ratu bersama-sama." Hansol tersenyum memandang Jeon Hye. Ia mencoba untuk tidak meragukan Hye. Gadis Dayang itu tampak tulus disetiap perbuatannya. Dan Hansol menghargai itu.
.
"Yang Mulia Raja telah tiba di kediaman Dayang Istimewa Jeon. Mari kita mulai." Shin Inkyung dan Shin Sekyung bertatapan kemudian menyeringai.
"Bagaimana dengan Ratu?" Cenayang bermarga Go itu bertanya pada kedua kakak beradik Dayang tersebut. Mereka bertiga telah siap untuk melakukan ritual sihir pembunuhan bagi Ratu Won.
"Dayang Boo telah keluar membawa Puteri Woo ke kamarnya. Itu berarti Ratu telah sendirian dikamarnya." Inkyung menambahi. Semua persiapan telah selesai. Kali ini mereka harus berhasil membunuh Ratu.
"Mari kita mulai. Ratu penjilat itu harus segera musnah." Sekyung menyeringai jahat. Bayangan balas dendamnya pada Wonwoo telah membutakan hati nuraninya.
.
"Tempat ini telah dikepung! Cepat keluar dan serahkan diri kalian!" Sekyung, Inkyung dan cenayang Go baru akan memulai ritual sihir saat teriakan lantang datang dari arah tempat mereka.
Inkyung mencoba melihat keluar.
"P-para prajurit istana ada didepan. Bagaimana ini?" Inkyung panik. Bagaimana bisa puluhan prajurit istana itu datang dengan di pimpin Perdana Menteri Choi.
"Sial! Ini pasti perbuatan Dayang Jeon bodoh itu. Argh!" Sekyung menggeram marah. Seharusnya ia telah memperkirakan hal ini akan terjadi. Hye tidak bisa sepenuhnya dipengaruhi dan dibodohi.
"Kita harus melarikan diri." Mereka hendak bergerak keluar tempat itu dari pintu belakang. Namun keadaan di bagian belakang juga sama ramainya. Tempat itu benar-benar telah terkepung.
Ketiga wanita keji itu terlonjak ketika pintu tempat itu hancur akibat di buka paksa oleh kumpulan prajurit.
"Lepaskan!" Sekyung mencoba meronta dari ikatan. Namun semuanya telah terlambat. Balas dendamnya telah gagal. Sekyung menggeram marah. Dendam yang telah ia simpan bertahun hancur dan berakhir dalam penjara kerajaan bersama sang adik dan cenayang yang ia percaya tadinya.
.
.
.
A Late Story
.
.
.
"Yang Mulia, persiapan hukuman untuk kedua Dayang Shin dan cenayang Go telah selesai. Dan Yang Mulia Ibu Suri bersikeras datang menyaksikan hukuman Dayang-nya." Perdana Menteri Choi datang memberi berita tentang hukuman penjahat Shin esok hari.
Ketiga wanita keji itu dijatuhi hukuman cambuk lima ratus kali sebelum diasingkan di pulau terpencil dan dijadikan budak.
"Aku akan menemui Ibunda sebentar lagi." Mingyu telah menyelesaikan sebuah surat tertulis lain dihadapannya. "Umumkan ini setelah hukuman penjahat Shin berakhir." Setelah memberikan stempel kerajaan, Mingyu menyerakan gulungan kerajaan itu pada Perdana Menteri Choi. Sebuah keputusan kerajaan lainnya.
"Yang Mulia, Hamba mendapat berita bahwa Yang Mulia Ratu dan Dayang Istimewa Jeon telah memasuki ruang penjara untuk menemui penjahat Shin." Kasim Shim dengan terburu masuk kedalam ruangan dimana Mingyu dan Hansol berada.
"Apa?"
.
"Kau datang kesini untuk menertawakanku kan?" Sekyung berbicara sengit ketika mendapat kunjungan dari Wonwoo dan Hye dalam penjara. Sekyung, Inkyung dan cenayang Go tampak buruk dengan luka disekujur tubuhnya. Bahkan setelah mendengar hukuman yang ia dapat pun, Sekyung tak merasa bersalah.
"Kenapa kau harus bersikap seperti ini, Nyonya? Apakah perbuatanku telah menyinggung hatimu sehingga kau tega melakukan perbuatan keji pada bayiku dan aku?" Wonwoo mencoba bersikap tenang. Ia merasa sedih mendapati fakta bahwa seharusnya Sekyung adalah salah satu dayang yang dapat ia hormati.
"Kau membuatku mendapat hukuman dan membuatku batal naik jabatan hanya karena wajah penjilatmu itu, kau tau? Jangan pasang wajah menjijikan itu didepanku." Sekyung berteriak marah. Hatinya masih penuh dengan dendam.
"Nyonya, tolong bersikap sopan pada Yang Mulia Ratu." Hye angkat bicara. Hatinya miris melihat Ratu Won diteriaki demikian. Ia juga sedih melihat Dayang-nya, Inkyung menjadi seperti saat ini dikarenakan buta akan jabatan. Ia mengenal Inkyung sejak memasuki istana. Gadis ceria itu adalah orang pertama yang menyapa Jeon Hye saat pertama kali masuk Istana. Itu sebabnya ia mempercayakan status Dayang kepala untuk paviliun-nya pada Inkyung. Jeon Hye tersenyum miris.
"Diam kau! Dasar pengkhianat! Nikmati saja hidupmu selamanya jadi dayang pesuruh, Jeon." Sekyung tak berhenti berteriak.
"Maafkan aku jika perbuatanku yang lalu telah menyinggung perasaanmu. Tapi sungguh aku tak pernah berniat demikian. Aku mohon maaf, Nyonya Shin." Wonwoo membungkuk dibalik pintu penjara itu.
Entah kenapa Wonwoo merasa bersalah. Perbuatan yang Dayang Shin lakukan sesungguhnya diawali dari dirinya. Jika saja ia tak menegur Sekyung kala itu, Sekyung tak akan dihukum hingga menyimpan dendam yang besar.
.
"Bagaimana pun seluruh dayang yang aku miliki adalah orang-orang yang amat aku sayangi, Mingyu." Mingyu duduk berhadapan dengan Ibu Suri Yoon. Membahas tentang niat Yoon ikut menyaksikan hukuman Dayang Shin.
"Kau dapat menemuinya sebelum hukuman, Ibunda. Aku sungguh tak akan mengijinkanmu menyaksikan penjahat itu mendapat cambukan." Mingyu hanya tidak tega membiarkan ibunya menyaksikan hukuman berat untuk dayangnya tersebut. Itu terlalu menyakitkan.
Yoon menggeleng. "Ibu juga merasa bersalah atas segala perbuatan ibu, gyu. Jika saja waktu itu ibu tidak menghukum Dayang Shin bersamaan dengan aku menobatkan Wonwoo. Ia pasti tak akan menyimpan dendam dan nekad berbuat keji. Ia salah paham." Yoon menunduk sedih. Mengingat waktu lalunya.
"Apakah aku harus memberi tau seluruh negeri bahwa aku yang memintamu menobatkan Wonwoo menjadi Dayang Istimewa jauh sebelum kejadian tanaman langka itu terjadi? Ibunda, jangan menyalahkan dirimu. Seburuk apapun perbuatan yang ia terima, jika Dayang Shin memiliki hati yang baik sejak awal, ia tidak akan mungkin menyimpan dendam. Dan kau tidak bisa menyalahkan dirimu atas keburukan hatinya, Ibunda." Mingyu mencoba membujuk ibunya. Ia tidak bisa mengubah keburukan atau kebaikan hati seseorang. Semua terjadi sesuai takdir.
.
.
"Keputusan kerajaan. Raja Min dari keturunan ketujuh Klan Kim menyatakan. Sebagai seorang Raja berkuasa, Beliau tidak akan menobatkan Selir untuk mendampinginya selama beliau berkuasa. Beliau hanya akan menerima keturunan kerajaan dari Ratu Won sebagai istri dan Ratu negeri ini. Raja, Ratu atau anggota kerajaan lainnya hanya dapat menobatkan Dayang Istana Istimewa untuk membantu pekerjaan pemerintahan, bukan untuk dijadikan Selir atau pemberi keturunan kerajaan. Keputusan Raja adalah muthlak dan tidak dapat diganggu gugat." Seluruh anggota kerajaan sedang menghadiri rapat kerajaan yang Mingyu pimpin. Dan Perdana Menteri Choi membacakan gulungan keputusan yang telah Mingyu buat didepan seluruh peserta rapat.
"Kepada Dayang Istana Istimewa Jeon Hye dari paviliun Barat Daya. Raja Min dari keturunan ketujuh Klan Kim memberikan hadiah untuk keberanian mengungkap kejahatan yang dilakukan Penjahat Shin. Raja menobatkanmu sebagai Dayang Istana Istimewa Utama tingkat satu. Dan akan bertugas langsung dibawah Yang Mulia Ratu Won. Keluarga Dayang Istana Utama Jeon akan diberi sejumlah tanah pertanian sebagai rasa terima kasih kerajaan setelah berhasil menggagalkan rencana pembunuhan Ratu." Jeon Hye yang sedang menggendong bayi Kim Woo terlonjak kaget. Sungguh tak pernah menyangka mendapat kehormatan dan hadiah yang begitu berlimpah.
Jeon Hye menatap sang Ratu. Wonwoo mengangguk sambil tersenyum.
Semoga dengan terungkapnya kejahatan Dayang Shin, tidak ada lagi yang akan tega menyakiti semua anggota kerajaan.
.
.
.
A Late Story
.
.
.
"Petang nanti Yang Mulia Raja tiba di istana. Aku ingin Puteri Woo dipersiapkan untuk menyambut ayahnya. Ia pasti merindukan putrinya setelah bepergian selama berhari-hari." Wonwoo melucuti pakaian Puteri Woo satu persatu. Bersiap untuk memandikan bayinya.
"Puteri Woo harus terlihat cantik untuk menyambut Yang Mulia Raja. Tidak menyangka Puteri Woo sudah berusia lima bulan saat ini. Ia tumbuh dengan baik." Seungkwan membantu Wonwoo dengan telaten. Wonwoo tersenyum mendengar penuturan Seungkwan. Dan ia setuju bahwa putrinya tumbuh dengan begitu baik.
"Aku tidak melihat Dayang Istana Utama Jeon seharian. Tidakkah ia kesini tadi?" Wonwoo menggendong Woo kemudian meletakkannya pada air mandi yang telah disiapkan.
"Kata pelayannya, ia sedang mengurus produksi seragam terbaru untuk seluruh dayang kerajaan. Jadi ia tidak kesini sama sekali hari ini." Seungkwan berbicara. Berdiri sembari memperhatikan Ratu Won memandikan bayinya.
Semenjak Kim Woo lahir, Wonwoo sendirilah yang selalu memandikan putri kecilnya setiap pagi dan sore. Mengajak bayinya itu bersenda gurau sambil membasuh tubuh kecil itu dengan air mandi.
"Ah, begini. Sebenarnya sejak kemarin aku merasa aneh dengan makanan yang aku makan. Entah kenapa semua rasanya menjadi terlalu manis. Bisakah kau menanyakan itu ke Dayang Dapur Istana?" Wonwoo tersenyum ketika bayi Woo bergerak aktif saat dimandikan.
"Terlalu manis? Tapi aku selalu mencobanya sebelum disajikan. Dan aku pikir semuanya biasa saja. Tidak terlalu manis." Seungkwan mengerut heran. Apa yang salah dari makanan sang Ratu?
"Apa lidahku bermasalah? Perutku juga sering bergejolak saat menghirup bau masakan."
"Haruskah aku memanggil tabib istana, Yang Mulia? Atau aku harus memanggil Nyonya Kim?" Seungkwan sungguh takut jika Ratunya dalam keadaan tidak sehat.
.
.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia Raja." Wonwoo berdiri sambil menggendong bayi Woo ditangannya. Didampingi seluruh dayang dan pelayannya menyambut kunjungan Mingyu di paviliun-nya.
Mingyu kembali dari kunjungan ke negeri China selama beberapa hari. Lalu malam ini mengunjungi kediaman sang Ratu untuk melepas rindu pada sang wanita dan bayinya.
"Tidakkah kau ingin memelukku?" Mingyu merentangkan tangan. Menunggu Wonwoo menghampirinya dan menerjangnya dengan sebuah pelukan.
Wonwoo berjalan perlahan. Masih dengan Woo dalam gendongannya, Wonwoo masuk dalam pelukan Mingyu. Menghirup aroma tubuh sang suami dengan memjamkan mata.
Wonwoo mengerut heran. "Kau mengganti wewangian mandimu, gyu?" Mingyu meraih bayi Woo untuk ia gendong. Mencoba berinteraksi dengan Puteri Raja yang semakin hari semakin tumbuh sehat.
"Tidak. Bukankah kau yang selalu memilihkan wewangian mandiku? Tidak pernah berubah." Mingyu mengecupi pipi gembul anak perempuannya bertubi-tubi. Menyampaikan rasa rindu setelah tak bertemu berhari-hari.
"Baumu terlalu manis. Berbeda dengan sebelumnya." Wonwoo sedikit menjauhkan tubuhnya dari Mingyu.
"Bagaimana bisa ada bau yang manis, Won? Ayo segera masuk. Puteri Woo kedinginan." Wonwoo lupa kalau mereka masih berdiri di depan paviliun-nya ketika menyambut Mingyu tadi.
.
"Berikan aku sebuah kecupan." Mingyu mendekatkan diri pada Wonwoo. Bayi Woo telah tertidur disamping tubuh Mingyu setelah Mingyu menimangnya dengan sayang.
Wonwoo tersenyum. Kemudian mendekatkan wajah hendak mencium sang suami. Kedua pasang bibir itu bertaut. Berbagi lembutnya cinta lewat kecupan dan buaian bibir keduanya.
Wonwoo melebarkan matanya. Kemudian melepas dengan paksa ciuman yang membangkitkan gairah tersebut. Wonwoo menutup mulutnya.
"Maafkan aku, gyu. Sebentar." Wonwoo berlari keluar ruangannya kemudian berjongkok di depan paviliun-nya. Ia tak dapat menahan rasa bergejolak di perutnya. Mengeluarkan seluruh cairan dalam perutnya lewat mulut. Ia muntah. Namun hanya cairan yang dikeluarkannya.
"Kau baik-baik saja, sayang?" Mingyu berdiri disamping tubuh Wonwoo. Menatap tubuh wanitanya dengan khawatir.
Wonwoo menggeleng lemah. "Tiba-tiba perutku bergejolak dan ingin muntah. Maaf aku bersikap tidak sopan." Wonwoo mengusap kasar sudut bibirnya. Tidak menyangka tiba-tiba merasa mual padahal mereka sedang berciuman.
Bisa saja Mingyu merasa tersinggung akan kejadian itu.
"Kau terlihat pucat, sayang. Sepertinya kau akan terserang demam. Masuklah dan beristirahat. Kita akan tidur bersama Puteri Woo." Mingyu membelai pipi sang istri. Menatapnya dengan pandangan khawatir.
.
Jungkook dan Byeo datang berkunjung ke istana. Lagi-lagi tanpa sang suami. Karena sang suami akan selalu sibuk mengurus balai pengobatan miliknya. Wonwoo masih belum dapat keluar istana untuk menemui keluarga adiknya. Dan ia terus-terusan mengeluh akan itu.
"Apa kau sedang sakit, Eonni?" Jungkook duduk setelah memberi hormat. Duduk berhadapan berdua setelah Byeo dan Woo dibawa keluar oleh Seungkwan dan Hye.
"Aku tidak tau. Aku merasa sehat saja. Namun beberapa kali perutku bergejolak dan muntah. Hidung dan lidahku juga berubah lebih sensitif akhir-akhir ini." Wonwoo berbicara santai. Tidak merasakan tubuhnya sakit atau apapun.
"Bisa aku memeriksa nadimu? Sudahkah tabib istana memberikan pengobatan?" Jungkook menerima uluran tangan Wonwoo kemudian dengan kemampuannya memeriksa nadi sang Ratu.
"Aku menolak pemeriksaan tabib karena aku tidak merasa sakit. Aku masih tetap bisa beraktifitas. Muntah juga hanya dua kali. Mungkin karena aku muntah dihadapan Yang Mulia Raja sehingga ia jadi sangat khawatir." Wonwoo mengedikkan bahunya. Ia tidak sakit. Pikirnya.
"Kau memang tidak sakit, eonni." Jungkook tersenyum setelah selesai memeriksa denyut nadi sang kakak.
"Benarkan aku tidak sakit. Aku baik-baik saja."
"Tapi kau sedang mengandung." Wonwoo melebarkan matanya kemudian menatap Jungkook tak percaya.
"…"
"Meski bukan bayi kembar namun kau mengandung seorang bayi. Denyut nadinya terdengar kencang sama seperti denyut nadi yang hilang dipersalinan lalu." Wonwoo mencerna perkataan Jungkook.
Denyut nadi yang hilang dipersalinan lalu. Bukankah artinya denyut nadi bayi yang meninggal? Denyut nadi seorang bayi lelaki?
"Bedoalah semoga yang aku katakan benar. Selamat, Yang Mulia Ratu." Wonwoo menerjang Jungkook dengan sebuah pelukan.
"Selama ini apa yang kau katakan selalu benar tentang kehamilanku. Semoga yang kali ini juga sama akuratnya. Bayi lelaki." Wonwoo terisak bahagia. Airmatanya menetes perlahan. Ia telah menantikan ini selama berbulan-bulan.
Wonwoo terus berdoa tiap malam agar segera dapat mengandung. Dapat segera memberikan Putera Mahkota untuk negerinya. Dan hari ini, ia mendapat sebuah titik permulaan dari segalanya.
Wonwoo tak ingin mengecewakan Mingyu dan seluruh negeri lagi.
.
.
.
A Late Story
.
.
.
Buat readers yang merasa dipermainkan dengan fiksi ini…
Welcome to Kim Noona's Fiction Land!
Noona kalo bikin fiksi ya gini. Bergejolak dengan berbagai spekulasi di setiap ceritanya. Ini lah gaya bercerita nya noona. Noona ga paksa kalian semua buat suka. Tapi terima kasih untuk semua yang telah menghargai semua karya yang noona buat.
.
Selamat Tahun Baru 2017
.
.
Kim Noona
Sat, 31st Dec 2016
