Maaf ya, lagi-lagi ga bisa balesreview readers sekalian... Baiklah, selamat baca chapter ini...
.
. . . . . .
You For Me by Fu-Chan..
Naruto jelas milik Masashi-Sensei..
Pair: NaruSasu, NejiSasu, Slight NejiGaa...
Warn: OOC, AU, Yaoi/BL/Sho-ai fic, typos. Don't like? Don't read!
. . . . . .
Dengan gemetar Itachi menyingkap selimut putih polos yang membungkus raga tak bernyawa di depannya. Merah. Rambut berwarna merah itulah yang nampak menyembul saat ini. Dan begitu keseluruhan wajah itu terlihat, Itachi mengelus dada lega, walau sesaat. Karena sosok berwajah pucat itu bukanlah adiknya. Melainkan Sabaku Gaara. Pemuda bertato Ai yang meninggal saat perjalanan menuju rumah sakit.
Naruto yang sedaritadi memejamkan mata, akhirnya mulai menunjukkan indahnya bola mat yang ia miliki. Ia tertegun memandangi wajah Gaara, dan reflek jemarinya terangkat untuk mengusap pipi Gaara, "Aku tidak tau kau, tapi, aku merasa jika kau sangat peduli dengan Sasuke," ujarnya lirih. Sementara Naruto sibuk dengan mayat Gaara, Itachi sudah beranjak dari dekatnya untuk memastikan jika jasat kedua bukan milik adiknya.
Pik
Pupil Itachi mengecil, ia cukup terkejut melihat sapa yang terbaring tak bernyawa di depannya. Pemuda seumuran adiknya, berambut coklat panjang, bernama Hyuuga Neji. Uchiha bungsu itu membuang muka, jika boleh jujur, ingin sekali ia menonjok dan menghajar Neji habis-habisan saat ini. Ia ingin melampiaskan seluruh kemarahannya pada Neji yang sudah menculik Sasuke, hingga membuatnya harus jauh dengan satu-satunya keluarga yang ia punya. Dan ia makin tak bisa memaafkan Neji jika sampai terjadi sesuatu dengan sang adik. Tidak akan pernah.
"Aku tidak tau harus senang atau sedih saat ini, tapi... jika sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan Sasuke, aku tidak akan membuatmu tenang walau dalam alam lain." Berbicara dengan mayat dan mengatakan hal yang mustahil, bukan tipe Itachi memang, tapi baginya apapun yang sudah menyangkut tentang Sasuke, akan menghilangkan akal sehatnya.
.
.
.
.
.
Tinggal satu lagi, sosok mayat yang belum mereka pastikan. Dan kembali, mereka berharap, jika itu bukan Sasuke. Tapi belum sempat Itachi menyingkap selimut putih itu, Suster itu keburu menyela, "Maaf, cuma dua orang itu korban keracunan tadi pagi."
Itachi dan Naruto membelalakkan kedua bola matanya, setitik harapan untuk melihat Sasuke dalam keadaan baik-baik saja muncul dalam benak keduanya. "Bukankah ada satu lagi, bernama Uchiha Sasuke yang juga ikut dalam rombongan itu?" tanya Itachi.
"Satu lagi?" Suster itu memberi jeda, seakan mengingat-ingat sesuatu. "Oh, dia sedang dalam penanganan tim dokter di ruang UGD karena keadaannya yang kritis, nah.. mari saya antar kesana." Itachi dan Naruto saling bertukar pandang sebelum mengekor perawat berpakaian serba putih itu ke suatu tempat.
._._. X ._._.
"Sa-suke..." Naruto, dengan penuh rasa haru ia berlari dan segera memeluk kekasihnya yang terbaring tanpa daya di atas ranjang. Sambil menangis seperti seorang gadis, ia peluk tubuh Sasuke. Ia rapalkan nama kekasih terus menerus. Itachi juga sama, ia tak henti-henti mengucap syukur saat mengetahui jika adiknya masih hidup.
"Kami tim dokter sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengeluarkan gas karbonmonoksida dalam tubuhnya, sayangnya ada beberapa bagian sel sarafnya yang rusak akibat terkontaminasi oleh gas tersebut. Dan itu membuat saudara Sasuke, koma untuk waktu yang tidak bisa ditentukan..."
Deg! Deg!
Satu lagi kenyataan menyedihkan menohok ulu hati keduanya. Seakan-akan, Tuhan tidak pernah rela untuk membuat ketiganya berkumpul dan hidup bahagia.
"Ti-tidak mungkin..." tangis Naruto makin menjadi, ia remas pundak Sasuke kuat dan mengguncang-guncangkan tubuh ringkih itu. "Bangun Sasuke, bangun... buktikan kalau anilisis dokter itu salah, 'Suke... bangun!..."
Itachi memejamkan mata, ia remas kuat jemari adiknya, ia adalah orang yang tegar. Tidak seperti Naruto yang malah menangis seperti anak perempuan. Karena sesedih apapun Itachi, yang ia dapat lakukan hanya menangis dalam diam.
._._. X ._._.
Seminggu berlalu sejak hari itu, dan tiga hari semenjak Sasuke dipindahkan ke Rumah Sakit Konoha dengan harapan, jika peralatan canggih yang ada disini dapat membuat Sasuke bangun dari komanya...
Pemuda bermarga Uchiha tersebut terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit bersprei biru muda. Matanya terpejam. Rona wajahnya nampak pucat pasi. Terdapat masker oksigen yang setia membantunya untuk tetap bernafas. Sementara selang infus juga tetap bertengger manis di pergelangan tangannya. Irama kadiograf menjadi musik diruangan yang begitu hening itu.
"Sasuke..." suara lirih pemilik pemuda berambut pirang acak-acakan itu memecah keheningan yang ada. Telapak tangannya yang halus, tengah mengusap punggung tangan Sasuke yang bebas dengan selang infus. "...aku yakin kau dapat mendengarku," ujarnya memulai obrolan sepihak. "Sasuke, semalam dokter memberitahu padaku dan Itachi-san, jika kemungkinan untukmu dapat sadar kembali sangat kecil, hanya lima banding satu," suaranya mulai terdengar bergetar. Seperti menahan sesuatu yang mulai menyesakkan dada dan tenggorokkannya. "..padahal aku sangat yakin jika kau akan siuman, kau akan bangun dari tidurmu, aku percaya akan hal itu," satu tetes airmata mulai meluncur turun melewati pipinya, dan jatuh ke atas tangan dingin Sasuke, yang terkulai di samping pinggangnya.
"Mungkin kau terlalu lelah dengan hal-hal yang sudah kau lewati beberapa waktu yang lalu, makanya, kau ingin istirahat, kau membutuhkan tidur untuk memulihkan tenaga dan pikiranmu, benarkan Sasuke?" tak hanya satu, kini tetes demi tetes cairan sebening embun itu mulai membasahi wajah tampannya. Wajahnya tertunduk, sesak dan sakit rasanya saat ucapanmu yang terdengar dramatis itu hanya dibalas dengan satu hembusan nafas panjang. "Sehari, dua hari, seminggu, tiga bulan, atau bahkan bertahun-tahun, aku yakin jika kau pasti akan bangun saat rasa lelahmu sudah sirna, kau akan membuka matamu, lalu tersenyum sambil menyebut namaku, benarkan Sasuke? Aku tidak salahkan?" Siapapun kau, pasti akan merasa miris mendengar ungkapan sang Namikaze yang sedang mengecupi punggung tangan kekasihnya. "Dan saat hari itu tiba nanti, aku akan langsung memelukmu, mendekap erat tubuhmu, dan aku akan mengajakmu ke taman Konoha, tempat dimana kita berjanji akan selalu hidup bersama dengan bahagia, kau masih ingatkan Sasuke?" dibelainya pipi halus Sasuke yang sedikit berkering karena tidak pernah mengkonsumsi air. "...Lalu, kita akan makan tomat sama-sama. Kau mau berapa, satu? Atau sepuluh, bahkan sejutapun pasti akan aku belikan untukmu saat kau bangun nanti, dan... sama-sama kita akan menghabiskannya sampai kau mual, ahahaha... pasti itu sangat menyenangkan, iyakan?" Naruto tersenyum kepada Sasuke yang sama sekali tak bergeming. "Jadi, aku ingin kau cepat bangun dari tidurmu, agar kita bisa bersama lagi... Aku ingin kita dapat berdua lagi seperti dulu, maka dari itu Sasuke, cepatlah bangun, selelah apapun tubuhmu, kau juga harus membuka mata, karena kau tau, dunia sedih jika kau terus seperti ini..." ia tersenyum getir, dikecupinya punggung tangan Sasuke yang sudah basah oleh air matanya.
"Aku, membutuhkanmu Sasuke. Aku sangat mencintaimu..." Sehembus nafas panjang, Sasuke keluarkan sesaat setelah Naruto menyudahi kata-katanya.
Naruto mengulas senyum tipis, "Aku tau kok, kau juga pasti sangat mencintaiku.." ujarnya, seakan-akan, helaan nafas Sasuke tadi menjawab ungkapan cinta sang Namikaze. "..hingga seperti ini..." lanjutnya menyerupai bisikan.
.
.
.
.
.
Menunggui Sasuke, adalah kegiatan rutin Naruto dan Itachi bila kesibukkan sedang tak membelenggu keduanya. Dengan telaten keduanya merawat Sasuke, menunggunya, dan selalu mengajaknya bicara layaknya orang sehat. Naruto dan Itachi tau, meski Sasuke tak pernah menimpali ucapan mereka, tapi keduanya sangat yakin Sasuke dapat mendengar apa yang mereka katakan. Hembusan nafas Sasuke, atau gerakan jemarinya adalah isyarat jika Sasuke memberi respon. Walau harapan terbesar dari dua orang itu adalah, sang Uchiha akan benar-benar membuka mata, lalu membalas perkataan mereka.
"Pagi Sasuke.." sapa Naruto riang, ia yang baru datang itu segera melempar tas selempangnya ke atas sofa, lalu berjalan menghampiri Sasuke dan memberikan satu kecupan singkat di bibir dingin Sasuke. "Maaf ya, aku telat, tadi aku lihat ada gereja yang baru selesai dibangun, ternyata arsitektur bangunannya sangat megah sekali, padahal diluar tidak terlihat menarik," cerocos Naruto usai mendudukkan diri di atas bangku di samping tempat tidur Sasuke.
Ia tatap lekat-lekat wajah pucat Sasuke sambil membelai-belai pipi putih kekasihnya, lalu ia kembali berkata, "Tadi, aku berdoa pada Tuhan. Aku... meminta padanya, agar aku bisa menggantikan posisimu sekarang ini..." nada bicaranya sedikit tercekat saat mengatakannya. Seakan menahan sesuatu yang menyumpal kerongkongannya. Dikecupnya punggung tangan Sasuke, lalu ia berujar, "Aku, tidak kuat jika harus melihat tubuhmu menderita dan hanya bergantung pada alat-alat medis, aku sudah tidak tahan melihatmu terus tertidur sambil menahan rasa sakit, maka dari itu, aku ingin menggantikan tempatmu, biar aku juga bisa merasakan penderitaanmu, rasa sakitmu, kesedihanmu, aku ingin Tuhan mengabulkan doaku itu, Sasuke..." lagi, sekali lagi Naruto tidak akan bisa mencegah agar butiran airmatanya tidak jatuh. Meleleh dan membasahi tangan Sasuke yang dingin.
"Yah, baik dirimu dan aku, kita sama-sama menderita saat ini, kau menderita karena sakit, dan aku menderita karenamu..." lirihnya, sambil terus terisak. "Kita memang sudah membagi penderitaan, tapi aku masih berharap jika akulah yang berada diposisimu, saat ini." Percaya atau tidak, saat mendengar pernyataan Naruto, setitik cairan bening bak embun meluncur dari kelopak mata Sasuke yang terpejam, menyusuri pelipisnya, dan jatuh meresap ke dalam bantal.
"Sa..suke," Naruto tercekat, ia tidak percaya Sasuke akan menangis karena ucapannya. "Kau jangan bersedih Sasuke," diusapnya airmata yang masih membasahi sudut mata kekasihnya, "Aku.. aku menyesal dengan baru saja kukatakan, tapi kau jangan terlalu memikirkannya, sampai menangis seperti itu. Aku tidak apa-apa, aku akan tetap bertahan kok..."
Kembali, cairan itu menetes jatuh dari mata Sasuke, "Iya, kita akan sama-sama bertahan, kita akan berjuang, sampai keajaiban itu datang.. yah. Jadi, jangan menangis, karena aku ada disini, hanya untukmu..." ucapnya sambil merengkuh pundak Sasuke dengan erat. Dikecupinya pipi Sasuke, ia terisak dalam diam saat itu. Menangisi betapa bodohnya ia yang sudah membuat Sasuke sedih olehnya.
'Sasuke, maafkan aku...'
.
.
.
.
.
'Keadaan adik anda, sama sekali tidak mengalami kemajuan Uchiha-san, kerusakan jaringan otaknya malah bertambah parah, dan itu makin membuat adik anda menderita.'
'Apakah tidak ada obat untuk menyembuhkannya Dok? Berapapun biayanya pasti akan...'
'Seperti yang sudah aku katakan, tidak ada obat yang paling manjur untuk adik anda kecuali keajaiban,' kata dokter itu dengan nada penuh sesal. 'Anda juga tau sendirikan, tidak pernah ada korban yang selamat usai menghirup gas CO, bahkan koma saja sudah merupakan keberuntungan yang di dapat oleh adik anda.'
"Haah..." Itachi menghempaskan badannya di atas sofa, ia sempat melirik ke arah Sasuke yang tak bergeming di tempat tidurnya. Perkataan Dokter tadi siang terus menganggu pikirannya. Kematian. Ia tau benar jika kata menyeramkan itu lambat laut akan segera menghampiri adiknya. Tapi untuk saat ini, demi Tuhan ia berharap, jika Sang Pencipta tidak terburu-buru untuk merenggut nyawa adik tercintanya. Ia masih ingin lebih lama bersama dengan Sasuke, melihat wajahnya, menyentuh tangannya, dan tersenyum padanya, Itachi masih ingin berlama-lama dengan satu-satu keluarganya yang masih ada. Sudah lama sekali ia terpisah dengan sang adik, dan apakah Tuhan tega untuk kembali membuatnya terpisah dengan Sasuke, apalagi untuk selamanya? Sejujurnya ia berharap, agar Tuhan sedikit saja memberinya waktu agar dapat bersama dengan Sasuke.
Itachi bangkit dari tempatmya, dengan langkah geram ia hampiri Sasuke.
Grep
Dengan kasar ia cengkram krah baju Sasuke, ia tarik hingga tubuh ringkih itu turut terangkat. "Bangun! Bangun Sasuke, bangun!" dengan brutal Itachi mengguncang-guncang tubuh Sasuke, hingga masker oksigen yang membantu jalan nafas Sasuke terlepas dari tempatnya. Ia seperti kesetanan saat ini. "Sudah cukup kau mempermainkan kami, sudah saatnya kau bangun dan menghentikan candaan tidak lucumu ini Sasuke!" ia hempaskan Sasuke yang tak bergeming sama sekali ke atas kasur dengan kasar seblum memukul dada sang adik. "Apa kau tidak tau, kami sedih melihatmu seperti ini, tapi kenapa kau tidak peduli, apa kau tidak kasihan pada kami!" airmatanya mulai berjatuhan, ia tak tahu harus bersikap seperti apa. Ia bingung.
PLAK
"Bangun bodoh! Ba-" Itachi terhentak kaget saat seseorang mencengkal lengan yang hendak ia gunakan untuk menampar Sasuke.
"Hentikan tindakkan konyolmu itu Itachi!" sergah seseorang.
"Kau?" setengah terkejut dan kaget, Itachi menatap lelaki berambut perak itu.
"Apa kau sudah gila? Apa maksudmu menyakiti Sasuke seperti itu?" bentak lelaki yang ternyata adalah Kakashi.
"Itu bukan urusanmu!" Itachi menyentakkan lengannya dari cengkraman Kakashi. "Dan, darimana kau tau jika Sasuke dirawat disini?" tanya pemuda berambut hitam sepinggang itu.
"Aku tau semua hal tentang Sasuke, dan aku kemari sebagai salah satu orang yang peduli padanya," ucap Kakashi disela-sela kegiatannya membentulkan masker oksigen dan letak tidur Sasuke, juga pakaian yang dikenakannya. "Mengenai apa yang baru saja terjadi, kuharap kau tidak melakukannya lagi!" pria berambut perak itu berbalik dan memandang Itachi dengan tatapan serius. "Aku tau kau sedih, dan aku juga sama. Tak ada yang menginginkan Sasuke dalam keadaan seperti ini. Tapi, semua adalah kehendaknya, kita hanya hanya dapat pasrah dengan apa yang sudah ia gariskan. Karena yang kutahu, itu adalah yang terbaik untuk kita semua," usai mengakhiri kalimatnya, Kakashi menarik pundak Itachi, membawa tubuh rapuh itu dalam pelukkannya. "Kita, harus ikhlas, sesulit apapun itu," bisik pria itu di telinga sang sulung Uchiha.
._._. X ._._.
Disiang itu, cuaca sedang tak bersahabat. Mendung dan udara yang dingin membuat orang-orang yang masih sibuk dengan pekerjaannya menjadi enggan untuk segera menyelesaikan tugasnya. Tapi, tidak untuk Namikaze Naruto. Makhluk ciptaan Tuhan yang satu itu tetap bersemangat menjalani hari yang terkesan menyebalkan itu. Beberapa saat yang lalu, ia baru saja membasuh seluruh tubuh Sasuke dengan air hangat, tentu saja maksudnya hanya satu, agar Sasuke nampak lebih bersih dan segar. Dengan telaten dan penuh kelembutan ia usap kulit pucat kekasihnya itu dengan handuk kecil yang sudah dicelupkan ke dalam air hangat. Wajah, kedua tangan, perut, dan kaki sang bungsu Uchiha itu tak luput dari hangatnya air.
"Beres..." pria berambut kuning cerah itu tersenyum bangga usai melihat hasil kerjanya. Ia puas telah membuat Sasuke nampak lebih segar dari biasanya. "Oya, aku lupa sesuatu!" ia menjentikkan jarinya sebelum merogo sesuatu yang berada dalam tas selempangnya. Ipod. Yah, benda mungil miliknya yang sudah lama ia tinggalkan di apartemennya kini ada dalam genggamannya, juga sebuah earphone berwarna putih yang menggantung-gantung ditangan sebelahnya.
"Kau tau kenapa aku membawa ini, 'Suke? Karena, dari situs yang kubaca diinternet, musik dapat membantu kerja otak agar lebih responsif. Kupikir, jika kau mendengarkan musik, kau akan mendapat semanagat baru agar segera pulih*," Naruto yang sedang duduk diatas kursi di samping ranjang Sasuke mulai menyematkan dua pasang earphone itu dimasing-masing telinga Sasuke. Ia putar lagu-lagu kenangannya saat bersama sang kekasih. Lagu-lagu bahagia, lagu ungkapan cintanya, lagu untuk membuat semangat hidup Sasuke kembali membara. Tapi, ada satu yang membuat miris batinnya. Entah kenapa, baterai Ipod miliknya mendadak padam, saat tanpa sengaja benda bersegi panjang itu hendak mem-play lagu Sayonara milik band favoritnya**. Ada desiran aneh dalam diri sang Namikaze muda. Ketakutan. Ia takut, Sasuke benar-benar akan pergi dan mengucap selamat tinggal padanya. Mata birunya mulai tersamarkan oleh airmata. Rasa sesak di dadanya membuatnya kesulitan untuk bernafas. 'Sasuke... kuharap apa yang sedang aku pikirkan tidak akan pernah terjadi...' desisnya sambil menenggelamkan wajahnya yang basah oleh airmata ke ceruk leher Sasuke.
.
.
.
.
.
Criing...
Suara gemerincing dari kalung yang baru saja Naruto pakaikan pada leher Sasuke membuat ruangan yang hanya dipenuhi oleh bunyi kadiograf menjadi lebih berwarna. Sebuah kalung dengan liontin tomoe hitam melingkar di leher jenjang Sasuke yang hampir tiga minggu ini tertidur dalam komanya.
"Kau tau kenapa aku memberikanmu kalung itu? Uum, ingat tidak kalau kita sudah bertunangan, dan... kau kan tau kalau aku belum sempat membelikanmu hadiah apapun saat itu. Jadi, aku persembahkan kalung itu untukmu 'Suke, sebagai hadiah pertunangan kita. Kuharap kau suka, yah... meskipun itu barang murah tapi aku ingin kau jaga benda itu, seperti kita yang selalu menjaga kesucian cinta kita." ia akhiri kalimat penjelasnya itu dengan mengecup lembut bibir dingin Sasuke.
"Kalung itu juga sebagai tanda jika kau hanya untukku, begitupula aku, yang hanya untukmu 'Suke." Tentu saja Sasuke tak bergeming dengan apa yang diucapkan oleh Naruto. Tapi selalu, pemuda bermata safir itu tau jika Sasuke menyetujui pendapatnya. "Aku, sangat-sangat mencintaimu 'Suke, saat ini, dan untuk selamanya..."
._._. X ._._.
Dengan perasaan galau dan cemas yang luar biasa, Itachi memandangi bilik kamar tempat para dokter menangani adik lelakinya di ruang UGD. Semenjang tadi sore, keadaan Sasuke makin memburuk. Tekanan darahnya, denyut nadinya, bahkan nafasnya menjadi pendek-pendek tak teratur. Pria bermata hitam itu mengatupkan kedua tangannya di depan dada, dengan pandangan mengiba ia terus panjatkan doa untuk keselamatan Sasuke. Disampingnya, Kakashi terus berusaha menenangkannya. Meyakinkan lelaki bermarga Uchiha itu, jika pemuda yang tengah mendapat perawatan medis di dalam sana, akan baik-baik saja.
Tak jauh dari Itachi dan Kakashi. Nampak sosok lain yang tengah duduk meringkuk di atas bangku. Wajah pucatnya sudah basah oleh airmata, ia benar-benar menghadapi ketakutannya sekarang ini.
'Bertahanlah 'Suke! Bertahan untuk kami... Kumohon...' lirihnya disela isak tangis yang makin menjadi.
.
.
#
.
.
FLASHBACK ON…
"Berbicara tentang hal yang tadi, aku ingatkan padamu agar tidak mencoba untuk menyusulku saat Tuhan lebih dulu mencabut nyawaku," tandas Sasuke.
"Kenapa? Aku hanya ingin menemanimu."
Sasuke tersenyum sarkartis, "Kau hanya akan membuatku sedih di alam baka nanti, lagipula roh yang mati karena bunuh diri itu tidak memiliki tempat dimanapun."
Naruto menghela nafas, "Sasuke, itu adalah bentuk dari rasa cin-"
"Dengan selalu mengirimiku doa, sudah cukup bagiku untuk tau seberapa besar cintamu," potong Sasuke.
"Tap-..mmhhnn..." Tak ingin Naruto membantah keinginannya, Sasuke langsung meraih bibir si pirang menciumnya dengan maksud agar lelaki itu mau diam.
Saat itu Sasuke berusaha mendominasi rongga lembab Naruto, tapi dirinyalah yang balik didominasi.
"Mmpphh.." Sasuke meremas helai pirang sang Namikaze, dan Naruto terus mengajak lidah aktif si raven untuk menari dengan indra perasanya. "ahh.. haaa..." segaris benang saliva tercipta sesaat setelah keduanya menyudahi pagutan bibir mereka.
"Aku mencintaimu 'Suke, dan kau hanya untukku..." Sasuke tersenyum lembut, "Aku tau kok."
"Kalau Tuhan tidak mengijinkan kita untuk bersama di dunia ini, aku yakin Tuhan sudah menyiapkan hal yang terindah untuk kita berdua di alam yang berbeda nanti," Naruto menyibak poni Sasuke yang sekarang sedang ia tindih. Orang yang membantunya, saat ia suka maupun duka. Ketika ia terpuruk jatuh ke dalam kegelapan, ada Sasuke yang slalu menyemangatinya, pemuda yang terus berada disampingnya.
FLASHBACK OFF…..
.
.
#
.
.
Sejam berlalu, lampu di atas bilik pintu ruang gawat darurat itu baru saja padam beberapa detik yang lalu. Kau, dan kedua orang yang lebih dewasa dari itu tentu saja berdebar-debar ingin mengetahui seperti apa keadaan Sasuke. Tunanganmu yang sempat krisis dan membuatmu cemas bukan main. Kau hampiri dokter berpakaian hijau muda yang baru saja muncul itu. Dan kau makin ketakutan saat melihat raut penyesalan di wajah pria paruhbaya itu. Kau menggeleng lemah, berusaha mengenyahkan pikiran terburuk yang tengah berkecamuk dalam otakmu.
"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" Pertanya calon kakak iparmu itu agaknya mewakili apa yang sedartadi ingin kau lontarkan.
"Kami tim Dokter, sudah berusaha semampunya, hanya saja Tuhan berkendak lain!"
Jleb!
Kau tersentak kaget, airmatamu makin deras mengalir. Jantungmu berpacu diluar batas, senada dengan deru nafasmu yang makin cepat. Pandanganmu memburam. Dan tubuhmupun ambruk. Namun, kau masih sempat mendengar suara histeris seorang pria yang memanggil-manggil nama Sasuke yang sedang coba ditenangkan oleh pria yang berbeda. Kau juga dapat merasakan tangan kekar dokter itu menopang tubuh lemahmu. Dan yang terakhir, kau dapat melihat sosok kekasihmu tengah mendekat kearahmu sambil tersenyum. Ia berbisik lembut kepadamu...
"Bangun 'Ruto!... Kau harus segera bangun dari mimpi burukmu..." Dan ketika senyuman dari sosok Uchiha Sasuke itu lenyap dari penglihatanmu. Saat itu pulalah, kau jatuh lebih dalam ke dunia yang gelap.
._._. X ._._.
TBC
._._. X ._._.
*Biasanya, lagu yang disukai oleh seorang pasien biasanya akan membantu memperlambat kerusakan fungsi kognitif sel-sel otak sehingga membuat orang tersebut bertahan hidup. Ingat pada ibu hamil yang memperdengarkan musik pada janinnya? Yah, nggak jauh beda sama itulah.
** Lagu Sayonara di dipopulerkan oleh Orange range, yang punya coba dengarkan? Lumayan nyesek. Ou...
Chapter depan adalah chapter terakhir, semua jawaban atas 'kematian' Sasuke akan terjawab. Okelah, fic ini emang gak menyentuh banget, tapi, Fu harap readers dan Senpai sekalian masih bersedia untuk R-E-V-I-E-W... Hehe...
