Harry Potter itu adalah milik J.K. Rowling.
Semua juga tau
Chapter 13 –
Rumah makan Three Broomstick tidak terlalu ramai di pagi hari. Ada beberapa orang yang sedang menikmati sarapan menjelang siang, ataupun orang-orang aneh seperti dalam perjalanan. Tidak tampak aneh kalau kau bisa melihat dua laki-laki berjengot tebal sedang makan dalam diam di bagian restoran di ujung ruangan.
"Apa kau membawa cadangan ramuanmu?" tanya pemuda berjengot keriting.
"Tentu saja, bagaimana kalau pertemuannya lebih dari satu jam," jawab pemuda berjengot kelabu sambil memperlihatkan botol ramuan kecil dari sakunya. "Kita aman, tenang saja."
"Kau yakin kita harus melakukan ini?"
"Entahlah. Tapi patut dicoba kan?"
"Aku rasa sebaiknya kita masuk kesini sebelum mereka datang." Dua pemuda itu sudah duduk selama hampir lima belas menit di restoran itu menunggu.
"Mom selalu datang lima menit lebih awal."
"Dan Father selalu datang tepat waktu." Tidak lama dari itu orang yang mereka tunggu datang Hermione menyapa pemilik restoran, wanita yang sudah berumur namun tetap seksi, madam Rosmerta. Hermione bercakap-cakap sebentar kemudian duduk tiga meja dari dua pemuda itu duduk. Hermione terlihat tampak tegang. Lima menit kemudian masuklah orang kedua yang mereka tunggu. Draco berhenti sebentar kepada Rosmerta dan kemudian berjalan ke meja tempat Hermione duduk. Mereka hanya saling menatap dalam diam.
"Kita tidak bisa mendengar dari jarak sejauh ini," kata pemuda berjenggot keriting.
"Tunggu disini." Pemuda berjenggot kelabu mendatangi konter, tidak lama kemudian dia kembali kemejanya.
Semalam setelah Hermione keluar dari aula, Eltanin dan Scorpius mengikutinya dari belakang dan mendengar pembicaraan mereka. Dan disinilah mereka mencoba menguping pembicaraan dua orang dewasa yang mungkin akan mempengaruhi masa depan mereka. "Sekarang kita hanya butuh melihat, ini!" Eltanin memberikan benda kecil seperti headset kepada Scorpius, "Modifikasi terbaru dari 'Telinga terjulur' tanpa benang, aku pasang transmisinya dibawah kopi yang mereka pesan pesan. Paman George mengirimi aku ini sebagai hadiah natal." Scorpius mengikuti apa yang dilakukan Eltanin dan mereka dapat mendengar percakapan dua orang itu.
Draco masih diam menunggu Hermione untuk bicara lebih dulu. Hermione mengepalkan tangannya dibawah meja untuk memantapkan hatinya.
"Lama tak bertemu Draco," kata Hermione pelan bibirnya membentuk senyum lembut. Draco menyeruput kopinya yang baru saja dihidangkan oleh pelayan.
"Yeah, kau telihat sehat Granger!" Eltanin memandang Draco tak percaya 'kenapa dia memanggil Granger. Selama ini aku selalu mendengarnya memanggil Hermione' batinnya.
"Bagaimana kabarmu?"
"Buruk," jawabnya pendek.
"Draco."
"Jelaskan saja padaku!" suaranya pelan namun mengintimidasi. Draco tak bermaksud untuk mengitimidasi, namun draco hampir kehilangan pertahanan dirinya
"Aku tak tau harus memulai dari mana." Hermione ikut mengecap kopinya, Eltanin semakin mengelengkan kepalanya tidak pernah dia melihat ibunya seperti ini. Eltanin menyadari Ibunya tak pernah minum kopi, mungkin cafein bisa sedikit membantu. Biasanya ibunya penuh percaya diri, sekarang terlihat begitu menyedihkan. Scorpius memberikan tatapan 'jangan terlalu mencolok nanti bisa ketauan'.
"Bagaimana kalau kau mulai dari, kenapa kau tak mengatakan padaku kalau kau sedang mengandung Eltanin?" tanya Draco suaranya tanpa emosi, ekspresinya tak terbaca. Hermione menghela nafasnya pelan kemudian menjawab. Scorpius menatap Eltanin yang sekarang ikut tegang.
"Aku baru tau aku hamil tiga hari setelah kau menikah." Tanpa sadar Draco menghentikan jari-jarinya yang dari tadi mengetuk-ngetuk meja, tatapan bingung tergambar di wajahnya.
"Tapi, bukannya ... Tetap saja. Harusnya kau mengatakannya padaku." Nadanya tetap sama.
"Aku mengirimkan surat untuk bertemu denganmu." Sekarang suara Hermione mantap penuh keyakinan. Kali ini jelas Draco terkejut mendengarnya.
"Kenapa ..."
"Ayahmu yang datang menemuiku," jawab Hermione sebelum pertanyaan Draco selesai. Kalau tadi Draco terkejut kali ini Draco tampak pucat. Draco mengeram tertahan menahan emosinya. "Lucius menemuiku, dia tak percaya kalau Eltanin adalah anakmu? Dan jujur saja saat itu aku bingung." Draco belum bisa berkata apa-apa.
"Lalu kenapa kau menikah dengan Krum?" Nadanya masih sama datarnya, tapi mereka bisa melihat matanya tak lagi dingin seperti pertama kali.
"Viktor sedang di Inggris dia mengetahui kondisiku, tepatnya dia menolongku waktu aku pingsan di jalan," kata Hermione melanjutkan.
"Bagai-"
"Aku memutuskan untuk membantunya mengambil hak asuh Ivor dan aku berharap bisa memberikan keluarga untuk Eltanin." Draco mengelengkan kepalanya tidak percaya. "Aku tau seharusnya aku tak melakukan itu Draco, aku benar-benar minta maaf padamu."
"Kau tak seharusnya melakukan ini padaku," Kata Draco menatap Hermione, jelas Draco benar-benar terluka dan tak menyangka ayahnya ikut terlibat. "Aku ... aku. Bagaimana dia?" Draco kehilangan kata-kata, Hermione tersenyum sedih untuknya.
"Kau tak perlu membenci ayahmu Draco." Draco mengelengkan kepalanya. "Ayahmu datang saat Eltanin lahir." Entah kata apa lagi yang bisa mengambarkan ekpresi Draco saat ini matanya menatap Hermione tidak percaya, mulutnya terbuka dan nafasnya tak beraturan. "Draco," Hermione memanggilnya pelan, bisa dilihat kalau Hermione takut kalau berita ini terlalu mengejutkan untuk Draco.
"And?"
"Dia yang memberikan nama untuk Eltanin. Katanya itu akan mengingatkanku siapa ayah Eltanin dan aku menyetujuinya," kata Hermione baik hati.
"Dia bukan orang yang mudah untuk berubah sebaik itu." Draco tak percaya dengan informasi bahwa ayahnyalah yang memberikan nama untuk anaknya, terlebih untuk cucu yang sebelumnya tak diinginkan.
"Lucius jatuh cinta pada Eltanin saat pertama kali melihatnya. Eltanin memiliki matamu," Draco mengelengkan kepalanya sedih, sungguh hebat seorang bayi bisa meruntuhkan ego seorang Lucius Malfoy.
"Ya, sudah lebih dari berabad-abad anak pertama dari trah Malfoy selalu laki-laki dan bermata biru abu-abu. Bagaimana aku tak menyadarinya? Mata Scorpius biru," katanya lebih kepada dirinya sendiri. Draco tertawa kecil tertekan dan aneh. "Dia tidak semudah itu!"
"Ya. Lucius ingin mengambil Eltanin saat itu juga."
"Bagaimana mungkin?"
"Dia ingin membuatnya sebagai kembaran anakmu Scorpius."
"No no. Itu tidak mungkin. Itu gila. Bagaimana mungkin anak yang baru lahir punya kembaran yang empat bulan lebih awal lahir. Aku pasti akan tau kalau itu terjadi," Draco mengerang tertahan tak percaya, ya dia tau kalau Eltanin lahir bulan juni.
"Tidak, sihir hanya mendeteksi jenis kelamin bayi. Teknik Muggle menggunakan USG lebih bisa diandalkan dalam hal ini," kata Hermione. Mau tak mau Draco membenarkan pernyataan 'Nona tau segala' ini. "Dan ya, Eltanin lahir 17 Juni," tambahnya tersenyum hangat pada Draco. "Aku jelas tak mau. Tapi aku juga tak tau kenapa setelah Scorpius lahir Lucius tak pernah lagi mengungkitnya."
"Dia melepaskannya begitu saja?" Draco semakin tidak mengerti. Membayangkan ayahnya bisa tiba-tiba menerima cucu berdarah campuran saja membuatnya terkejut, tapi Lucius bukan orang yang mudah menyerah kalau sudah menginginkan sesuatu. Hermione mengelengkan kepalanya.
"Lucius melakukan beberapa hal yang menyulitkan hidupku. Ya, aku cukup kesulitan, dia bukan orang yang mudah. Tapi Lucius sangat menyayangi Eltan. Dia yang membelikan sapu terbang pertama untuk Eltan saat ulang tahunnya yang kelima. Dia juga yang membelikan Nimbus 3000 dengan pesanan khusus saat ulang tahunnya yang kesebelas dan tongkat sihir khusus yang berisi rambutnya sendiri," jelasnya panjang lebar. Wajah Eltanin memelas entah harus digambarkan bagaimana, Scorpius melihatnya juga tak nyaman.
Hermione hanya tertawa kecil. Kali ini Draco mengangguk ya Lucius sangat arogan mengklaim apa yang diangap sebagai miliknya. "Aku tadinya menolak, tapi entahlah. Lucius sangat menyayangi Eltanin. Dia ingin menjadi bagian darinya dan kau tentu saja,"
"Lalu kalung itu?" Hermione tersenyum dia yakin sedikit banyak Draco pasti sudah mencari tau tentangnya.
"Itu adalah galeon yang kau pakai untuk menghubungi Madam Rosmerta ditahun keenam kemudian diubah menjadi Liontin." Draco mengangguk, Ya Liontin itu memang menggunakan mantra protean kalau begitu.
Mereka kembali dalam diam. Draco menyeruput kopinya lagi, Draco menatap Hermione yang menunduk menatap jari-jari tangannya yang ada di pangkuannya. Draco tersenyum kecil 'bagaimana dia bisa membenci wanita ini' pikirnya.
"Apa selama ini kau bahagia?" tanya Draco. Hermione menelan ludahnya, kemudian menjawab setelah agak lama berpikir.
"Ya. Aku bahagia. Setiap hari aku bisa melihat wajahmu di wajah Eltanin, bagaimana lagi aku bisa lebih bahagia." Produksi cairan di mata Hermione sudah mulai berkerja lebih ekstra.
"Aku minta maaf Hermione," kata Draco. Hermione menatapnya, dia kesulitan untuk membendung air matanya.
"Untuk?" jawabnya lirih.
"Karena aku menciummu. Seharusnya aku tak melakukannya." Draco kesulitan menahan suaranya tetap stabil. Hermione mengelengkan kepalannya kali ini air matanya jatuh tak tertahan. "Aku memutuskan untuk menceraikan Astoria," lanjutnya, Hermione membelakan matanya. "Kau tak perlu menyalahkan dirimu. Aku melakukannya bukan untuk mengambilmu kembali. Aku ingin kau bahagia. Dan kau sudah bahagia. Aku tak akan menganggumu."
"Lalu kenapa kau ingin bercerai dengan Astoria? Bagaimana dengan Scorpius?"
"Aku juga ingin bahagia Hermione. Aku hanya menyesal harus menunggu terlalu lama untuk membuat keputusan ini." Hermione menggelengkan kepalanya lebih keras, sekarang dia terisak. "Aku hanya berharap kau mengizinkanku untuk mengunjungi Eltanin sekali-kali atau mengajaknya pergi liburan mungkin. Atau mungkin aku akan mengajak Scorpius juga," tambahnya.
Draco menangkupkan tangannya ke wajah Hermione yang tertunduk dan menghapus air mata di pipinya. "Hei! Aku tak suka kau menangis."
"Draco. aku.."
"Srtt.. tak apa. Aku akan baik-baik saja, kau harus percaya padaku,"
"Aku selalu pecaya padamu Draco. selalu."
"So, keep the faith more." Hermione mengangukkan kepalanya. "Satu hal yang aku sesali Hermione, aku tak pernah mengatakannya langsung padamu kalau aku mencintaimu. Entah dari kapan, tapi sampai sekarang aku masih mencintaimu. I love you." Hermione hanya terisak di kursinya, ia ingin menjawab kalau dia juga masih mencintainya tapi dia tak sanggup mengatakannya. "Berjanjilah satu hal padaku Hermione. Jadilah Hermione yang dulu aku kenal, Hermione yang brilliant, yang kuat, bukan yang cengeng seperti ini," katanya lagi tersenyum mengejek. Hermione tersenyum dan mengangguk. "That's my girl," kali ini Draco memberikan senyuman tulus.
Draco memanggil pelayan untuk memesan makanan. Draco makan dalam diam sedangkan Hermione hanya memotong makanannya dengan pikiran entah kemana. Dua pemuda berjengot yang dari tadi memperhatikan mereka saling bertatapan. "Lebih baik sekarang kita pergi," kedua pemuda itu pergi meninggalkan Three Broomstick dan berjalan menuju Shrieking Shack.
.
.
Mereka sedang duduk dipingiran danau. Keduanya terlalu syok akan percakapan yang mereka dengar sebelumnya. Eltanin terlalu merasa seharusnya dia tak mendengar pembicaraan itu, tidak ketika Draco mengatakan akan menceraikan Astoria dan dia sedang duduk dengan Scorpius. Eltanin tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Scorpius sekarang. Eltanin juga sedang memikirkan ibunya, apa dia masih mencintai Draco atau Viktor yang entah belakang inipun Eltanin merasa jauh dengan ayahnya itu. Dia memang tak terlalu dekat dengan Viktor Krum tapi bukan berarti hubungan mereka buruk.
Scorpius sendiri hanya menatap Eltanin tanpa emosi bahkan sesekali dia menghela nafas panjang. Separuh darinya seperti lega, separuh darinya yang lain merasa kehilangan.
"Jadi bagaimana menurutmu?" tanya Eltanin pada Scorpius hati-hati.
"Aku sudah menduganya," jawabnya pendek, Eltanin menaikan alisnya tidak percaya.
"Serius?"
"Ya. Aku bahkan ikut menyarankannya untuk menceraikan ibuku," katanya tertawa kecil.
"Kau bohong."
"Wake up. Kau juga Malfoy, kita Slytherin. Aku lebih mengenal Father dari padamu. Aku kecewa padanya itu jelas tak perlu kau tanyakan, tapi aku tak pernah melihatnya bahagia, tidak ketika bertemu denganmu atau ketika tadi aku melihatnya bersama dengan ibumu. Dan itu menyedihkan." Eltanin masih memberikan tatapan tak percaya pada Scorpius. "Aku masih berharap dia bisa bersama ibumu, tapi kalau dia kehilangan semuanya dan tetap tak bisa bersama ibumu, bukankah dia terlihat lebih menyedihkan?"
"Tapi bagaimana dengan Ibumu? Kau tak memikirkannya? Aku hanya aku tak mengerti," balas Eltanin.
"Aku memikirkannya. Kau tau, terlepas dari ayahku tak mencintainya bagiku Mother adalah wanita paling sempurna. Dia baik, pengertian, penyayang, dia juga lemah lembut. Tapi waktu kau datang ke Manor aku melihat sisi lain darinya dan aku tak suka itu. Dia berubah menjadi dingin, bukan seperti ibu yang pernah aku kenal. Aku tak ingin membuatnya menjadi lebih buruk dari ini. aku ingin dia tetap menjadi malaikatku, wanita terbaik yang pernah aku kenal. Dan itu artinya tidak bersama Father, dia juga harus menemukan kebahagiannya sendiri," kata Scorpius panjang lebar.
"Tetap saja. Kau tidak berhak membuat mereka berpisah," balas Eltanin emosi.
"Kau tau. Kau benar-benar seperti Father. Dia juga mengatakan itu padaku. Aku tau kau memikirkan ayahmu kan?" kata Scorpius menyerigai. "Viktor Krum," jelasnya. "Mungkin bagimu ini adalah sebuah ancaman untuk keluargamu yang bahagia, tapi bagiku ini jalan agar kedua orang tuaku bisa bahagia. Aku hanya ingin mereka tetap menjadi orang terbaik bagiku." Eltanin masih memberikan tatapan tajam tak percaya akan pernyataan Scorpius tajam.
"Jangan coba menyangkal, kau melihat sendiri dengan matamu, kau mendengar sendiri apa yang mereka bicarakan. Dan kau tau ibumu bahkan tak menolak ketika Father menciumnya semalam, mereka masih saling mencintai," kata Scorpius tajam dan dia pergi meninggalkan Eltanin kembali ke kastil. Eltanin tertunduk lemas, benar kata Scorpius dia dapat melihat kalau ibunya masih mencintai Draco Malfoy, lalu bagaimana dengan ayahnya Viktor Krum? Walaupun Eltanin tak begitu dekat dengan ayahnya, tapi dia orang yang selama ini dia panggil ayah. Orang yang selalu membanggakannya didepan para kolegannya, yang mengajarinya terbang, yang memberinya saudara yang hebat 'Ivor'. Eltanin merasa hatinya tercabik.
.
.
"Jadi benar kalau dia anaknya?" Scorpius bisa mendengar suara ibunya dari dalam ruangan.
"Iya Mistress, Reg mendengar Mister Draco berbicara dengan tuan Eltanin di Perpustakaan dan Master Draco mengakuinya," kali ini jawaban itu terdengar dari peri rumah ibunya yang sangat setia. Scorpius dapat melihat ibunya tertawa lantang namun hampa, sungguh menyedihkan. "Apa yang akan anda lakukan Mistress?"
"Menurutmu apa Reg? Balasan yang pantas untuk teman kecil kita?" nada suaranya mengejek.
"Tapi Master Draco sangat protektif, dia menugaskan Pony untuk menjaganya terus." Terdengar suara geraman tertahan dan suara gelas pecah. "Mistress!" sekarang suara peri rumah itu terlihat takut dan sedih.
"Jadi sekarang aku hanya bisa melihat saja begitu? Dasar wanita sialan!" Scorpius berdiri di belakang pintu mendengar tangisan hampa ibunya. Dia sungguh tak menduganya, bagaimana mungkin ibunya bisa menjadi seperti ini. ibunya yang selalu lemah lembut dan memperlakukannya seperti anak kecil, sekarang seperti orang yang hilang kendali dan jahat.
.
.
Scorpius membuka pintu kamar yang selama ini selalu ditempati ayahnya jika ia sedang ingin sendiri. Kamar ini masih sama seperti yang pernah lihat ketika tanpa sengaja dia masuk ke sini waktu dia berumur sebelas, sehari sebelum keberangkatannya ke Hogwarts di tahun pertamanya. Dia masih mengingat bagaimana raut wajah ayahnya saat itu. Ayahnya sedang tiduran di kasur menatap langit-langit yang berhias bintang yang membentuk rasi bintang Draconis, dia tampak sangat bahagia saat itu, wajah yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Scorpius tak kuasa untuk menyapa ayahnya, namun ketika ayahnya melihatnya masuk ke kamar itu ayahnya langsung menegurnya, ayahnya tak marah padanya, tapi dari kata-katanya Scorpius tau bahwa dia tak di izinkan untuk masuk ke kamar itu lagi.
Scorpius meneliti bagian kamar itu dari sudut ke sudut. Dia mengamatinya, tak ada yang istimewa. Bahkan kamar ini lebih kecil dari kamar yang ditempatinya. Scorpius memeriksa bagian meja belajarnya masih banyak gulungan-gulungan perkamen tua. Scorpius menelitinya tenyata perkamen itu adalah esai tugas-tugas sekolah ayahnya dulu waktu di Hogwarts dan Scorpius dapat melihat catatan kecil di bawah perkamen itu 'Laporan minggu pertama bersama Hermione ramuan Veritaserum, pertanyaan pertama untuk Hermione kalau ramuan Veritaserum sudah siap kenapa kau tak pernah mau ku ajak naik sapu terbang?', lalu ada esai tugas mata pelajaran PTIH 'pertama kali berduel dengannya di PTIH' dan banyak catatan kecil di setiap perkamen. Scorpius meletakan tumpukan perkamen kemudian melihat dan mengambil salah satu buku berjudul 'Sherlock Holmes', Scorpius membuka halaman depannya terdapat catatan kecil dari pemberi buku 'cobalah membaca sesuatu yang lain' dan goretan bentuk hati di ujungnya. Scorpius menghela nafas dan meletakkan kembali buku itu ditempatnya.
"Harusnya kau tak masuk ke sini!" ternyata ayahnya sudah ada di depan pintu kamar itu. Nadanya masih sama seperti waktu pertama kali dia memperingatkan Scorpius dulu. Draco duduk di tempat tidur memandang Scorpius.
"Hanya sedikit tertarik, apa yang kau sembunyikan selama ini," kata Scorpius tak kalah dingin. Draco memperhatikan anaknya ini, jelas Scorpius tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
"Katakan saja yang ingin kau tanyakan padaku! Aku akan menjawabnya." Scorpius menaikan alisnya dan mendengus. "Jaga sikapmu Son!" kata Draco memperingatkan.
"Apa benar Eltanin adalah anakmu?" tanya Scorpius dingin.
"Ya," jawab Draco singkat, Scorpius tak suka. "Ya, dia anakku. Dia saudaramu." Scorpius membalikkan tubuhnya kembali menghadap meja belajar, dia melihat gambar bergerak dari coklat kodok, seorang penyihir wanita cantik berambut coklat yang sedang memandangnya tersenyum sedikit mengejek.
"Kau benar-benar kejutan Father. Berapa waktu yang harus aku habiskan agar aku bisa mengerti tentangmu?" tanyanya putus asa, Draco belum menjawab. "Apa kau masih mencintainya?"
"Ya," jawab Draco setelah menarik nafas panjang. "Dulu, sekarang dan mungkin selamanya." Scorpius mengelengkan kepalanya.
"Kau sangat kejam Father. Brengsek. Bagaimana bisa kau melakukan ini padaku. Bagaimana dengan Mother apa kau tak memikirkannya?" tanya Scorpius marah dan berteriak.
"Jaga bahasamu!" jawab Draco tetap dingin.
"Jaga Bahasamu? Jaga sikapmu! Semua yang kau katakan omong kosong!" kali ini Scorpius kesulitan menahan emosi, dia sudah ingin menonjok ayahnya sendiri.
"Kau tau kami menikah karena dijodohkan Scorp."
"Ya, tapi tak bisakah kau sedikit saja mencintainya dengan tulus."
"Aku mencobanya!" jawab Draco giginya mengeretak menahan emosi. "Tapi aku tak bisa. Aku tak bisa memaksakan hal seperti itu."
"Kau membuat ibuku menjadi orang yang tak memiliki hati Father. Jagalah anakmu baik-baik, aku tak menjamin apa yang mungkin bisa di lakukan Mother nanti," kata Scorpius berang.
"Scorpius!"
"Lalu bagaimana denganku?" tanyanya. Tatapan Scorpius masih tajam dan penuh kecewa. Dia menelengkup tangannya di dada.
"Kau anakku Scorpius, sama seperti Eltanin," jawab Draco tegas, seolah pertanyaan itu tak layak di ucapkan.
"Aku meragukanya," kata Scorpius masih dengan nada dingin.
"Aku mohon padamu jangan meragukan itu. Kasih sayang yang ku berikan padamu sama seperti yang kuberikan pada Eltanin."
"Apa selama ini kau bahagia," tanya Scorpius mencemoh.
"Selama ini kau yang membuatku bahagia. Kau yang membuatku bertahan." Scorpius bisa melihat kesungguhan pada kata-kata ayahnya.
"Berpisahlah dari Mother!" Scorpius memberikan tatapan dingin pada Draco yang membuat Draco sakit hati. Draco mengelengkan kepala tidak percaya atas apa yang di katakan anaknya.
"Walaupun aku melakukannya, itu bukan hakmu untuk memutuskannya," jawabnya tegas.
"Aku hanya ingin melihat Mother bahagia." Dan itu kata terakhirnya sebelum Scorpius meninggalkan kamar itu.
.
.
"So Father! Apa yang akan kau berikan padaku? Aku juara satu di angkatanku" kata Scorpius, dia baru saja kembali dari Hogwarts untuk liburan musim panas. "Apa kau banga padaku Father?" tanya Scorpius polos.
Draco memberikan senyuman terbaiknya, senyuman yang pernah Scorpius lihat ketika ayahnya menatap bintang di langit-langit kamar lamanya. "Tentu aku bangga padamu Son! Apa yang kau inginkan?"
"Apa yang kau harapkan dariku Father?"
"Aku berharap kau menjadi laki-laki yang kuat. Yang bisa mengambil keputusannya sendiri dan tak menyesalinya. Aku ingin kau bahagia." Scorpius mengangguk kepalanya dan Draco memberikan senyumnya lagi 'Aku akan membuatmu banga Dad, dan membuatmu tersenyum seperti ini padaku' batinnya.
.
.
"So, keep the faith more." Hermione mengangukkan kepalanya. "Satu hal yang aku sesali Hermione, aku tak pernah mengatakannya langsung padamu kalau aku mencintaimu. Entah dari kapan, tapi sampai sekarang aku masih mencintaimu. I love you." Hermione hanya terisak di kursinya, ia ingin menjawab kalau dia juga masih mencintainya tapi dia tak sanggup mengatakannya. "Berjanjilah satu hal padaku Hermione. Jadilah Hermione yang dulu aku kenal, Hermione yang brilliant, yang kuat, bukan yang cengeng seperti ini," katanya lagi tersenyum mengejek. Hermione tersenyum dan mengangguk. "That's my girl," kali ini Draco memberikan senyuman tulus kepada Hermione, senyum itu, senyum yang selalu dia inginkan dari ayahnya.
.
.
Eltanin melangkahkan kakinya ke Pondok Hagrid, dia janji bertemu ibunya disana. Dari undakan tangga batu itu dia bisa melihat ibunya sedang bercakap-cakap dengan guru Pemeliharaan Satwa Gaibnya.
"Mom!" sapanya menghampiri ibunya. Hermione seperti biasa selalu mencium pipi kanan, kiri dan dahinya.
"Eltan. Kau sehat?" Eltanin hanya menganggu. "Hagrid aku ingin bicara dulu dengan Eltanin," kata Hermione pada Hagrid.
"Tentu saja, Hermione. Aku juga harus mengurus Unicorn-unicorn ini untuk pelajaran besok," ucap Hagrid dan memberikan kedipan mata pada Hermione.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan di danau. Aku minta maaf padamu, kita tak banyak bicara waktu pesta dansa kemarin." Hermione mengalunkan lengannya di lengan Eltanin, mungkin kalau dari kejauhan orang akan melihat mereka seperti sepasang kekasih. "Ada yang perlu aku bicarakan padamu El," kata Hermione membuka percakapan.
"Tentang Mr Malfoy?" ucap Eltanin. Hermione tersenyum kepada anaknya itu. "Maafkan aku Mom, aku mendengar pembicaraanmu di Three Broomstick kemarin," kata Eltanin. Eltanin tak biasa berbohong kepada ibunya, dan dia tak tahan untuk menyimpannya lama-lama. Hermione memberikan tatapan pengertian kepada Eltanin.
"Jadi apa yang kau pikirkan?" tanyanya.
"Entahlah. Ini terlalu banyak dan cepat." Hermione mengangguk.
"Karena kau mencuri dengar pembicaraan kami, aku tak terlalu sulit untuk menjelaskannya padamu."
"Jelaskanlah padaku Mom!"
"Aku dan Draco memulai hubungan kami dengan angapan bahwa kami tak akan bersama. Seperti memang sudah seharusnya seperti itu, sampai pada waktunya dia harus menikahi tunangannya dan kami memutuskan berpisah. Tapi setelah tiga hari dia menikah aku mengetahui kalau aku mengandungmu. Aku bingung aku takut Draco tak mau mengakuimu."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" tanya Eltanin tak percaya
"Aku selalu meminum ramuan kontrasepsi setiap bulan dan aku tau Draco memasang mantra kontrasepsi jangka panjang. Tapi aku tak meminumnya lagi setelah bulan terakhir sebelum dia menikah karena aku tak berpikir kami akan bersama bahkan dua hari sebelum pernikahannya." Hermione memberikan senyum jahil melihat anaknya menatap bengong "Bukankah itu bodoh."
"Lalu bagaimana aku bisa?"
"Karena ternyata Draco sudah melepas mantranya sebelum dia menikah, itu prosedur kesehatan yang biasa dilakukan." Anaknya memberi 'tatapan dari mana kau tau'. "Lucius yang memberitahuku pada hari saat kau dilahirkan. Saat dia memintamu kembali." Eltanin tidak megenal Lucius Malfoy kakeknya, tapi entah kenapa dia kesal dengan pria ini dan dia tau ibunya juga tak nyaman.
"Mom!"
"Saat dia memintamu dan memintaku untuk kembali."
Eltanin menatapnya penuh tanda tanya ...
_TBC_
Hei, hei,
Kali ini gue nulis tentang Scorp, semoga ini bisa diterima kenapa dia mengambil keputusan meminta orang tuanya berpisah. Untuk chapter ini sendiri tidak sebanyak yang saya ingin aku tulis.
Di summary memang awalnya aku tulis mata Scorpius itu biru abu-abu, tapi di chapter 4 kalau tidak salah aku sudah menghapusnya sebelum di publish. Jadi mata Scorpius saya buat biru saja.
Dan ulang tahun Eltanin saya buat sama kayak Nino arashi, hehe sorry.
Dimana Victor?
Note: adakah dari kalian yang sudah mengoogle nama Eltanin? Itu adalah nama untuk Gamma Draconis yaitu bintang paling terang yang ada di rasi bintang Draco. nama Eltanin diambil dari bahasa arab yang artinya the great serpent, tapi ada juga yang bilang the eyes of Dragon.
Terima kasih
