THE SWEETEST TROUBLEMAKER

Bakehyun telah menyiapkan sebuah kejutan setelah merundingkan berbagai opsi dengan Luhan dan juga Kyungsoo melalui sambungan video call perihal kejutan apa yang harus ia berikan kepada Chanyeol yang akan bertambah usia tak kurang dari beberapa menit lagi. Gadis itu menyibak selimut perlahan setelah mengecup dahi Chanyeol yang mana lelaki itu sendiri sudah melanglangbuana di alam mimpi.

Kakinya terjulur ke lantai sebelum kemudian mengurai langkah di sana, senyumnya tersungging ceria saat menemukan kotak berlogo sebuah brand pakaian dalam ternama juga pada satu pasang lingerie yang berada di dalamnya. Tanpa bersuara, gadis itu mulai melepas satu persatu pakaiannya lalu menggantinya dengan lingerie tersebut.

Baekhyun menyempatkan diri melirik Chanyeol yg semakin terlelap di atas ranjang sebelum akhirnya keluar dari kamar menuju pantry. Gadis itu membuka lemari es, rasa haus mengurungkan niatnya yang hendak meraih birthday cake box yang ia simpan di sana sebelumnya. Lantas gadis itu mengambil satu botol air mineral. Baekhyun sudah bersiap meneguk air minum tersebut ketika secara tiba-tiba lampu ruangan padam.

"Huh? Kenapa lampunya mati?"

Baekhyun membenci gelap. Lebih tepatnya ia takut. Gelap selalu berhasil membangkitkan memori buruk yang tak pernah lenyap dari benaknya. Dan gelap tak pernah gagal menggali rasa panik serta cemas dalam dirinya.

"Babe.." Suaranya bergetar sementara tubuhnya terpaku, tak berdaya dan terlalu takut untuk sekedar melangkah. "Baby!" Gadis itu menaikkan volume suara berharap Chanyeol yang tengah terlelap mendengarnya.

Sunyi mengudara sementara panik semakin menguasai. Baekhyun mencoba untuk melawan rasa takut, pikirnya jarak kamar dan pantry tidak terlalu jauh, meski gelap ia yakin bisa sampai dengan selamat. Maka dari itu kini ia berbalik, berniat memutari pantry namun telah lebih dulu dibuat tercengang saat tubuhnya menambrak dada bidang seseorang. Gadis itu menjerit hebat, air mineral di tangan ia gunakan untuk memukul serta menyiram sosok lain yang berada di sana. "Pergi kau, hantu sialan! Pergi kau, pergi!" Serunya dengan lantang.

"Hei, ini aku! Baekhyun!" Chanyeol meringis kecil saat kekasihnya tak berhenti memukulinya dengan botol air mineral. Lebih buruk lagi gadis itu membiarkannya terbuka tanpa tutup. Alhasil Chanyeol basah kuyup.

Namun saat ini bukan itu masalahnya, Chanyeol telah lebih dulu cemas mendengar getar ketakutan dari nada suara kekasihnya. Hal yang membuatnya dengan sigap mencekal pergelangan tangan si gadis sebelum menariknya ke dalam pelukan.

"Ini aku, Park Chanyeol. Kekasihmu." Bisiknya setelah berhasil menenangkan Baekhyun yang semula meronta hebat.

"Aku takut."

"Ada aku di sini."

"Bawa aku ke kamar. Sekarang. Gendong."

Tanpa menyempatkan diri mencubit gemas pipi kekasihnya akibat rengekan manjanya, Chanyeol bergegas merangkul si mungil sebelum kemudian menggendongnya. Bridal.

"Kenapa listriknya bisa padam?" Gumam Chanyeol sebelum kemudian merebahkan kekasihnya. "Aku ambil lilin terlebih dahulu."

Lelaki itu kembali dengan tiga buah lilin yang menyala, cahaya yang dihasilkan cukup untuk membuat penglihatannya jelas sebelum kemudian terpaku pada sosok Baekhyun yang tengah melepas lingerienya yang basah. Namun sepertinya gadis yang tengah membelakangi Chanyeol itu mengalami kesulitan.

Setelah meletakkan lilin di atas nakas, Chanyeol bergegas menghampiri sang kekasih sebelum membantu membuka pengait bra yang membuat si mungil itu kesulitan. "Jadi, apa yang kau lakukan di pantry tadi?"

Baekhyun memejamkan mata, menikmati lembutnya setiap kecupan yang mendarat di bahu mulusnya. "Aku haus." Dalihnya.

"Kenapa tidak membangunkanku, hum?"

Si mungil berbalik tanpa merasa terganggu meski kini ia dalam keadaan tak berbusana. Ia menggeleng pelan lantas mengulurkan tangan dan membantu melepas pakaian Chanyeol yang semula memang sudah basah akibat perbuatannya. "Aku kira kau hantu. Maaf sudah membuatmu basah."

"Tidak ada hantu setampan diriku." Goda Chanyeol kemudian meringis ketika cubitan ngilu mendarat di perutnya.

Lelaki itu sempat tertawa sejenak sebelum apa yang menyita atensi membungkam segalanya. Kini ia bertahan pada wajah cantik yang dihujani cahaya lilin menguning, pada bibir yang mengilat basah, juga pada mata sayunya yang mengantuk.

Apa yang tergambar jelas sebagai bentuk keindahan itu melekat pada sebuah raga tak berbusana.

Tangan Chanyeol bergerak lambat, membelai wajah si mungil dengan lembut. Tak lama kemudian tubuh polos itu kembali berada dalam gendongannya sebelum membuatnya menyentuh permukaan lembut sprei.

Baekhyun menyambut tubuh besar itu ke dalam dekap, merespon setiap cumbuan yang mendarat di lehernya dengan lenguhan pelan, menyerukan nama yang sama setiap kali sengatan adiktif menjelajah titik sensitif.

Kecupan itu tak pernah usai, bahkan kini mulai memendam sebuah rasa penasaran pada perut hingga sampai pada pangkal paha.

Baekhyun terpejam erat, kepalanya terlempar ke belakang. Ia tidak tahu dari mana Chanyeol mempunyai bakat menenggelamkan kepalanya di antara kedua kaki Baekhyun yang terbuka, juga pada kelihaiannya menyapukan benda hangat bertekstur kasar itu pada setiap inci daerah terintim Baekhyun.

Chanyeol mencumbunya dengan lidah, dan Baekhyun tidak bisa lagi untuk tidak mendesah, mengalihkan apa yang dirasanya candu pada sebuah irama tersendat nikmat juga pada sprei kusut yang sedari tadi ia remas dengan kuat.

Gadis itu nyaris menjepit kepala kekasihnya dengan kedua paha, namun ia tidak bisa berbuat lebih memalukan dari sekedar mengoceh dan memohon dalam desah agar lelaki itu memberinya lebih.

Orgasmenya masih menyisakan bekas yang mendalam. Napas si mungil tersengal tanpa jeda, kelopaknya masih terpejam erat ketika sebuah kecupan lembut mendarat di keningnya.

Senyum kecil terulas di bibir Chanyeol saat mata mereka bertemu pandang dalam temaram.

"Happy birthday, baby.." Cicit Baekhyun sebelum kemudian menggigit bibirnya. "Seharusnya aku yang memberimu hadiah. Kenapa justru-"

Ucapannya diinterupsi oleh sebuah ciuman hangat yang mendarat di bibirnya. Suara sensual itu terdengar saat Chanyeol mengakhirinya lebih dulu. "Mulai sekarang, ini semua tentangmu."

"Hum?"

Chanyeol menyelipkan anak rambut Baekhyun ke telinga. "Jika aku yang berulang tahun maka kau yang dapat hadiah. Seperti itu contohnya." Lantas kembali mendaratkan kecupan pada kelopak mata sang kekasih.

"Kenapa seperti itu?"

Chanyeol menepuk pelan bibir Baekhyun yang mencebi kecil. "Karena kau istimewa."

"Jika seperti itu kenapa tidak kita selesaikan apa yang kita mulai beberapa saat lalu, bagaimana?" Tanya si mungil seraya menutup wajah, menyembunyikan rona merah yang sudah lebih dulu tertangkap oleh atensi Chanyeol.

Lelaki itu terkekeh di balik punggung tangan, tak lama kemudian ia menggeleng pelan. Kita memang berhasil melakukannya kemarin, tapi aku masih belum yakin pada diriku sendiri. Ia membatin.

Merasakan perubahan ekspresi dari wajah Chanyeol yang masih berada di atas tubuhnya, Baekhyun perlahan mengerti. Dibelainya wajah tampan itu seraya melempar senyum penuh pengertian. Si mungil sangat paham bahwa Chanyeol hanya tidak ingin mengambil resiko menyakitinya kembali.

"Tidak apa, sayang." Tukasnya sebelum menuntun Chanyeol berbaring, lalu memeluknya erat. "Lebih baik sekarang kau istirahat."

Si lelaki mengangguk, lantas balas memeluk gadisnya yang telah sibuk mengusakkan wajahnya di dada.

Yang tersisa adalah sunyi, merambat diiringi detak jarum jam yang mengejar waktu. Sebuah masa yang menuntun setiap pasang mata terperangkap ke dalam lelap.

••

Disebabkan oleh tindakan radikal Baekhyun semalam hingga membuat Chanyeol basah kuyup, maka pagi ini lelaki itu demam. Dan itu seharusnya bukan masalah bagi si mungil jika saja kekasihnya itu tidak mendadak menjelma menjadi bayi besar yang merapalkan beberapa rengekan tak masuk akal di sela-sela bahu sempitnya.

"Sayang, biar aku selesaikan ini dulu." Si mungil sedikit kewalahan, masih berdiri di seberang pantry dengan arahan salah satu pelayannya melalui sambungan telepon, gadis itu mencoba membuatkan bubur untuk kekasihnya.

Namun sosok jangkung yang sedari tadi memeluknya dari belakang seolah tuli, lelaki itu masih saja mengusakkan wajahnya di bahu mulus Baekhyun.

"Park Chanyeol.."

"Hum?" Lelaki itu akhirnya bersuara, meski hanya terdengar seperti gumamam mengantuk.

Baekhyun menggelengkan kepalanya maklum lantas meletakkan spatula sebelum kemudian berbalik menghadap kekasihnya.

Sebelah alis Chanyeol terangkat dengan kedua mata menyipit seperti hendak akan melayangkan protes.

"Ekspresi macam apa itu?" Heran Baekhyun sembari meletakkan telapak tangannya pada dahi Chanyeol, memastikan suhu tubuh sang kekasih.

Lagi-lagi bukan sahutan yang Baekhyun terima, ia malah mendapati lehernya menjadi sasaran empuk cumbuan Chanyeol secara tiba-tiba.

"Baby.." cicit si mungil dengan kedua tangan menahan dada Chanyeol.

"Aku tidak suka bubur." Bisik Chanyeol di sela-sela kecupan lembutnya pada leher Baekhyun.

Si gadis memutar bola mata, lantas menangkup wajah Chanyeol dengan paksa. Ia bahkan butuh tenaga ekstra untuk menahan kepala lelaki itu agar tidak kembali terbenam di lehernya. "Kau demam. Kau harus makan dan minum obat." Tegasnya langsung pada kedua iris kelam di hadapannya.

Chanyeol mengangguk. Bukan karena takut Baekhyun akan merajuk jika ia menolak memakan bubur buatannya yang rasanya masih penuh misteri -mengingat gadis itu bukanlah seseorang yang akan dipercaya oleh siapapun bahwa dirinya mampu menyulap beberapa bahan makanan menjadi sesuatu yang lezat di atas piring- melainkan raut cemas yang berkelebat di wajah mungil meronanya yang membuat Chanyeol tidak berpikir dua kali untuk mengangguk patuh.

Ya, tentu saja gadis itu mencemaskannya. Meski menurut Chanyeol ia baik-baik saja namun ia tahu kelembutan hati seorang perempuan bukanlah hal yang harus disepelekan.

Chanyeol kembali mengangguk sebelum kemudian meraih tangan Baekhyun dan mengecupinya dengan lembut.

"Anak pintar." Baekhyun terharu. Bahkan ia tidak bisa menahan rasa gemasnya dan mencium pipi Chanyeol bertubi-tubi. "Bagaimana jika hari ini kau mengambil cuti?"

"Sayang, aku baik-baik saja." Chanyeol mencoba menenangkan Baekhyun. "Aku masih kuat untuk sekedar duduk di depan komputer seharian, itu bukan masalah."

"Masalahnya-"

"Aku baik-baik saja." Pungkas Chanyeol, menyela ucapan Baekhyun dengan memeluk erat tubuh mungil itu.

"Kau yakin?" Baekhyun memastikan, wajahnya lebih dulu terusak di dada Chanyeol, namun tak ada sahutan berarti. "Babe?" Gadis itu kembali bersuara, lenguhan kecil mengemuka saat dirasanya ada sesuatu yang menelusup masuk di balik gaun tidurnya.

"Kau tahu? Aku suka strawberry." Bisik Chanyeol setelah memastikan bahwa yang saat ini ia remas adalah bokong sintal kekasihnya.

"Heunggg.. mana yang lebih kau suka? Aku atau strawberry?" Baekhyun menyelipkan jemarinya pada rambut sang kekasih sebelum membelainya seduktif.

Senyum kecil terulas di bibir Chanyeol disaat ia sibuk mencumbu bahu kekasihnya. "Strawberry.."

Jawaban yang tidak sesuai dengan harapan Baekhyun, gadis itu menarik wajah Chanyeol dari bahunya lantas menangkup seraya mendaratkan cubitan di kedua pipinya. Pikirnya kedua mata yang menyipit itu akan terlihat menyeramkan, namun nyatanya ia malah berakhir menggemaskan menurut Chanyeol.

"..strawberry yang menguar dari tubuhmu." Chanyeol kembali berbisik, dan Baekhyun harus menggigit bibirnya sendiri jika saja lelaki itu tidak mengucapkannya dengan setengah mendesah. "Aku tidak tahu, aroma strawberry yang selama ini mempunyai kesan kanak-kanak bisa semenggoda ini."

"Itu karena kau mesum." Baekhyun terkekeh pelan.

Chanyeol menarik dulu lantas menggeleng. "Aku normal."

"Oh ya, tentu saja kau Park Chanyeol tidak akan membiarkanku menang dalam berbicara."

Chanyeol terkekeh renyah. Wajah merajuk Byun Baekhyun memang selalu berhasil melahirkan rasa gemas. Hal yang tak pernah gagal membuat lelaki itu merengkuh tubuh mungilnya ke dalam sebuah dekap erat.

Lantas ada sunyi yang tiba-tiba mengudara.

"Lusa aku pulang."

Chanyeol tidak menyahut. Justru mengeratkan pelukannya. Sulit dipungkiri bahwa fakta akan hubungannya dengan Baekhyun yang terbentang jarak kerap melahirkan perasaan tak nyaman. Kehadiran Baekhyun selama beberapa hari ini benar-benar sebuah momen yang sangat berharga, maka ketika gadis itu mengatakan bahwa mereka akan kembali menjalin hubungan jarak jauh seperti semula perlahan ego Chanyeol membludak.

Dia ingin Baekhyun.

Dia ingin gadis itu hanya untuk dirinya, selalu di sampingnya.

"Sayang.."

"Aku di sini." Kecupan lembut itu mendarat di puncak kepala si mungil.

Kalimat yang hendak Baekhyun lontarkan tertahan di kerongkongan ketika bunyi bel terdengar memenuhi setiap indera pendengaran.

"Biar aku saja. Tunggu di ruang tamu sementara aku memeriksa siapa yang datang." Kata Baekhyun sebelum kemudian memutari pantry dan berjalan menuju pintu utama.

Setelah menarik pintu, Baekhyun di sambut oleh siluet seorang gadis yang berdiri di depan apartemen kekasihnya.

"Kau! Se..sedang apa kau di sini? Dimana Park Chanyeol?" Nayeon nyaris melompat dari tempatnya. Bukan hanya terkejut karena sosok gadis yang membukakan pintu untuknya adalah gadis yang tempo hari mempermalukannya di tempat spa pijat, Nayeon juga dibuat terperangah pada penampilan Baekhyun yang terlampau seksi dengan balutan gaun tidur tipis juga pada bercak merah yang menghias leher gadis itu. Selain wajah cantiknya, tubuh supermodel itu kembali melahirkan decak iri dalam hati Im Nayeon.

"Ahh.." Baekhyun membeo setelah mengingat dengan jelas siapa gadis yang bertamu sepagi ini ke apartemen kekasihnya. Gadis kampungan waktu itu. "Dan kau? Apa yang dilakukanmu sepagi ini di depan apartemen kekasihku?"

Kekasih?

Nayeon tidak tahu mengapa suhu di sekelilingnya mendadak begitu panas. Bahkan tanpa sadar ia mengepalkan tangan. "Bukan urusanmu! Di mana Chanyeol? Aku-"

Nayeon menggantung ucapan ketika usahanya memasuki apartemen Chanyeol dicekal oleh Baekhyun.

"Mau apa kau?"

"Tentu saja masuk. Aku kesini untuk menemui Chanyeol!"

"Kau masih tidak tahu caranya bertatakrama rupanya." Baekhyun mendengus jengah. "Yak! Siapa kau berani masuk ke dalam apartemen kekasihku? Huh?!"

Setiap kali kata 'kekasihku' itu terdengar, kepalan tangan Nayeon kian mengerat. Ia benci fakta itu.

"Sayang.. kemarilah, ada yang ingin menemuimu." Baekhyun menaikkan volume suara, berbicara pada kekasihnya. Mengenyahkan segala tanda tanya tentang hubungan Chanyeol dengan Nayeon.

"Siapa?" Chanyeol tiba, wajah mengantuknya menyipit seketika mendapati Nayeon berdiri di ambang pintu. "Kau, sedang apa di sini?"

"Benar 'kan?!" Baekhyun berseru sebelum kemudian bergelayut manja pada kekasihnya. "Tidak ada orang yang bertamu sepagi ini 'kan, sayang?"

Gerak Baekhyun yang tiba-tiba refleks membuat tangan Chanyeol melingkar di pinggangnya yang ramping, sembari bergumam lelaki itu memperingatinya untuk berhati-hati.

Chanyeol hanya mengenakan celana santai serta kaos tanpa lengan. Satu hal yang membuat pikiran Nayeon melanglangbuana jika dikaitkan dengan penampilan Baekhyun yang terlampau seksi. Dan ia semakin membencinya, cara Baekhyun bergelayut manja, cara Chanyeol merangkulnya dengan protektif.

Nayeon membencinya.

Kenapa harus Byun Baekhyun?

Kenapa harus gadis yang mempermalukannya tempo hari?

"Lupakan!" Nayeon berseru kesal sebelum kemhdian berbalik dengan langkah yang menghentak.

Chanyeol dan Baekhyun melempar tatap heran, sebelum kemudian mata Baekhyun menyipit sempurna.

Mereka masih di sana di depan pintu utama.

"Apa?" Kening Chanyeol berlipat, heran pada perubahan ekspresi di wajah kekasihnya.

"Siapa dia? Kalian saling mengenal? Kenapa dia tahu apartemenmu?!"

Chanyeol membeo. Seharusnya ia sudah mempersiapkan diri sedari tadi mengingat Baekhyun mempunyai tingkat kecurigaan yang begitu tinggi. Dan satu lagi fakta yang Chanyeol dapat. Gadisnya seorang pencemburu. Terbukti kedua bola matanya saat ini seolah mampu mengeluarkan sinar laser yang mematikan.

"Jawab aku!" Baekhyun meronta sebelum kemudian menarik diri dari rangkulan Chanyeol. "Kau belum lama di sini dan sudah ada seorang gadis yang datang ke apartemenmu?"

Baekhyun adalah seorang perasa. Setidaknya itu yang Chanyeol tahu, kekasihnya tak jarang menjadi gadis manja yang kerap merajuk dan sulit dibujuk. Dan Chanyeol seperti mempunyai sebuah tantangan, di saat kekasihnya mulai menunjukkan tanda-tanda marah dan kesal, yang dilakukan lelaki itu adalah mencoba semampu mungkin meredakan amarahnya.

"Dia putri dari atasanku." Lelaki itu maju satu langkah sebelum membelai pipi Baekhyun dengan lembut. "Aku tidak mengenalnya."

"Lalu kenapa dia kesini? Darimana dia tahu tempat tinggalmu?"

"Dia memang selalu menggangguku setiap kali kami bertemu. Aku tidak tahu darimana dia tahu tempat tinggalku, mungkin dia memanfaatkan jabatan ayahnya untuk menggali informasi tentangku." Chanyeol kembali memeluk kekasihnya, meredakan amarah yang mulai terkikis. "Percayalah, aku tidak pernah macam-macam selama ini." Lalu mencium pelipis Baekhyun.

"Cobalah untuk selingkuh maka aku akan membunuhmu."

Chanyeol tersenyum kecil. Merasa heran dan bertanya-tanya darimana Baekhyun mempunyai nyali untuk melontarkan kalimat berbahaya itu?

"Biar kulihat.." Baekhyun menarik diri lalu menangkup wajah Chanyeol. "Tampan sekali!" Kesalnya.

Tentu saja, jika kekasihnya setampan itu maka wajar saja jika ada ular berbisa yang mencoba mencari perhatiannya. Dan hal itu membuat sebuah alarm peringatan di dalam benak Bakhyun berbunyi dengan panik.

Baekhyun masih memikirkan beberapa siasat untuk menyelamatkan kekasihnya dari godaan setan yang terkutuk ketika bunyi bel kembali terdengar.

"Dia kembali?" Beo Chanyeol.

Baekhyun mengepalkan tangan, sepertinya ia harus memberi pelajaran pada gadis gatal itu.

"Enyahlah dari apartemen kekasihku sebelum- Tao Eonni!" Baekhyun terperangah saat membuka pintu.

Bukan Im Nayeon yang kali ini bertamu, melainkan pengawal pribadinya yang entah bagaimana caranya menyapa atensi.

Sosok itu berdiri di sana. Chanyeol melihat dengan jelas kilatan berbahaya selayaknya panglima neraka yang terpancar dari kedua bola mata Tao.

"Bagaimana bisa kau.."

Tao membungkuk sopan meski hatinya merasa cukup geram melihat penampilan Baekhyun, gadis yang yang selama ini ia jaga dalam pengawasannya. "Ketua ingin bertemu dengan kalian berdua."

"Huh?! Kakek tua ada di sini?" Baekhyun berseru panik. "Bagaimana bisa?"

"Sebaiknya kalian bergegas." Tegas Tao, menyempatkan diri melirik Chanyeol dengan wajah sengit yang kentara.

Dia berlebihan. Pikir Chanyeol.

••

Baekhyun masih menyipitkan mata, menatap kekasihnya dengan sengit di saat lelaki itu tengah sibuk terkekeh di balik punggung tangan.

"Berhenti menertawakanku!" Geram si mungil seraya mencubit perut Chanyeol.

Chanyeol nyaris tergelak, meski ada sebagian dari dirinya yang merasa cukup senang dengan penampilan Baekhyun kali ini.

"Jika bukan karena ulahmu semalam yang membuat leherku dipenuhi bercak merah, aku akan sangat tidak sudi memakai stelan ini!" Gadis itu berbisik dengan geram seraya mengutuk turtleneck berbalut mantel panjang yang ia kenakan.

"Tidak ada yang salah dengan penampilanmu. Kau cantik. Lagipula kau tidak pantas menyalahkanku. Sayang.. kau menikmatinya semalam."

Seharusnya Chanyeol tidak menggoda Baekhyun sampai sejauh itu, karena si mungil yang tengah menahan kesal semakin tersulut amarahnya, "Aku membencimu."

"Silahkan." Tukas Tao setelah menuntun mereka pada sebuah private room restoran ternama.

Pintu terbuka, menampilkan sosok tua yang tengah menikmati secangkir kopi beserta menu sarapan lainnya.

Sukar dipungkiri meskipun menurut Baekhyun sosok Dumbledore dirasanya lebih baik dan hangat namun siluet renta yang kini melempar senyum kecil kearahnya tak pernah gagal membuat hati Baekhyun dipenuhi perasaan senang. "Kakek!" Si mungil berseru sebelum berhambur dan duduk di pangkuan kakeknya.

Sementara Chanyeol masih terpaku, dahi cemerlangnya berlipat saat sosok yang Baekhyun panggil 'Kakek' tersebut menyita atensi.

"Kenapa kau masih di sana? Masuklah, nak."

Rasa terkejut Chanyeol membuyar saat orang tua itu berseru kepadanya.

Ya. Orang tua yang pernah menantangnya bermain baduk tempo hari.

Apakah sosok yang memiliki auta otoriter itu yang juga membuat Chanyeol mendadak mendapat cuti kerja?

Entahlah. Namun yang pasti Chanyeol merasa tidak nyaman dengan apa yang terjadi kini. Meski sosok orang tua itu menyambutnya dengan bersahabat.

"Jadi, kakek.. bagaimana jika kakek minta mereka memindahkan pekerjaan kekasihku ke Korea?"

Kakek berdeham keras. "Anak nakal! Bagaimana bisa kau memanggilnya seperti itu di depan kakekmu sendiri, huh?"

"Dia memang kekasihku. Benar 'kan, sayang?" Baekhyun menyempatkan diri merangkul lengan Chanyeol di sampingnya. "Lagipula kakek sudah terlanjur memata-mataiku selama aku di sini. Apa aku benar?"

Selanjutnya hanya ada interaksi antara cucu dan kakek tersebut.

Tentang segala rengekan yang Baekhyun tujukan pada kakeknya juga tentang berbagai petuah yang orang tua itu lontarkan.

Akan tetapi, Chanyeol hanya menikmati sarapannya dalam diam. Sesekali menyahut sopan saat kakek Baekhyun menanyakan sesuatu. Lelaki itu telah lebih dulu dibuat bungkam dengan topik pembicaraan Baekhyun dan kakeknya yang mana nyaris semua mengenai mereka adalah tentang status dan otoritas. Terlebih Baekhyun kerap kali menyinggung hubungannya dengan Chanyeol yang harus terhalang sebuah jarak karena pekerjaan.

Ini bukan dunia Chanyeol. Lelaki itu asing di dalamnya.

Baekhyun seolah berada jauh di atasnya, gadis itu seperti hal yang tidak mungkin Chanyeol gapai.

••

Baekhyun tidak lagi dijinkan tinggal di apartemen Chanyeol, karena untuk berbagai alasan masuk akal tentang lelaki dan perempuan yang tidak terikat oleh pernikahan kakek dengan tegas mengatakan bahwa Baekhyun harus ikut pulang ke Korea.

Meski begitu, kakek memberikan ijin pada Baekhyun untuk meluangkan waktunya bersama Chanyeol sebelum jadwal penerbangan ke Korea tiba.

"Hei.. kau baik?" Baekhyun bertanya sesaat setelah mobil yang kakek tumpangi melesat jauh. Kini ia berada di depan bangunan restoran bersama Chanyeol dan juga dikawal oleh Tao.

Sebenarnya Baekhyun merasa ada yang salah dengan Chanyeol selama mereka berkumpul. Gadis itu tidak tahu apa yang membuat kekasihnya lebih banyak diam saat ini.

Chanyeol menatap kekasihnya. "Kita perlu bicara."

"Katakan saja."

Chanyeol melirik Tao yang berdiri di belakang Baekhyun.

"Oh, Eonni bisa kau tunggu saja di mobil?"

Pengawal pribadinya itu mengerti lalu menuruti perintah majikannya.

"Apa maksudmu meminta kakekmu memindahkanku ke Korea?"

Kedua alis Baekhyun terangkat. "Tentu saja agar kita bisa selalu dekat. Tenang saja, kakekku bisa mengatur semuanya."

Chanyeol membuang napas di udara lalu memijat tulang hidungnya dengan kentara. "Semudah itu?"

"Huh?"

"Aku mengais ilmu dan mendapatkan segala yang kubisa kini dengan susah payah. Kau tahu betapa senangnya aku saat mereka memberiku kesempatan untuk mencicipi hasil dari usahaku selama ini. Dan semudah itu kau dengan segala apa yang kau punya dan-"

"Tunggu!"

Alis Chanyeol bertaut sempurna, ada sekelebat geram yang mengemuka karena Baekhyun dengan tidak sopan memotong ucapannya.

Si gadis mulai sadar apa yang ia lakukan beberapa detik lalu adalah kesalahan, ia tidak pernah melihat Chanyeol menatapnya dengan sengit seperti itu.

"Aku hanya.. aku hanya ingin yang terbaik untuk kita. Apa itu salah?"

Benar. Baekhyun hanya tidak mau disiksa oleh perasaan rindu.

"Aku hanya tidak mau berjauhan denganmu! Kau.. bahkan.. aku hanya takut gadis itu-"

"Byun Baekhyun!"

Si mungil terlonjak saat satu bentakan nyaris merobek gendang telinganya. Gadis itu memberanikan diri menatap Chanyeol. Lalu ia melihat kemarahan besar di kedua irisnya.

"Kau menjatuhkan harga diriku di depan kakekmu dengan mengandalkan segala otoritasnya hanya karena seorang gadis yang tidak kukenal berdiri di depan apartmenku pagi ini? Kau..."

Chanyeol kehilangan kosa kata.

Sementara Baekhyun telah lebih dulu mengigit bibirnya dengan takut. Chanyeol tidak pernah membentaknya, namun kali ini lelaki itu bahkan menatapnya dengan dingin hanya karena Baekhyun meminta bantuan kakeknya dengan tujuan agar hubungan mereka tidak lagi terkendala oleh jarak.

"Aku membencimu!" Teriak si mungil seraya mendorong tubuh Chanyeol sebelum kemudian berlari menuju mobil dan memerintahkan Tao meninggalkan tempat itu.

Sementara Chanyeol nyaris mengerang frustasi di tempat yang kini ia pijak. Tiada hal apapun yang mengganggu benaknya kini selain rasa bersalah.

Merasa bersalah karena tak dapat mengendalikan emosi dan berakhir membentak kekasihnya.

Dan ia pikir akan sangat sulit mendapat ampunan dari si mungil kali ini.

••

Namun nyatanya Baekhyun lah yang lebih merasa bersalah. Ia telah merenungkan apa yang telah diperbuatnya. Baekhyun menyesal karena telah bertindak sesuatu yang membuat Chanyeol tersinggung meski niatnya hanya ingin yang terbaik untuk hubungan mereka.

Baekhyun sadar seharusnya ia tidak merengek, meminta sang kakek mengandalkan otoritasnya untuk membuat pekerjaan yang Chanyeol hargai tampak seperti sebuah lelucon.

Oh maafkan aku.. aku tidak bermaksud menghinamu, sayang..

Gadis itu merangkai langkah dengan gusar di lobi apartemen setelah meminta Tao mengantarnya sebelum jam penerbangannya ke Korea tiba.

Baekhyun tidak bisa pulang dalam keadaan seperti itu. Ia tidak ingin ada masalah yang bernaung pada hubungannya dengan Chanyeol.

Baekhyun akan meminta maaf. Mulanya langkah Baekhyun terangkai dengan yakin menuju pintu apartemen kekasihnya, namun ketika pintu itu terbuka rasa bersalah Baekhyun menguap begitu saja.

"Sedang apa kau di sini?" Si mungil bertanya pada Nayeon yang sesaat lalu membuka pintu apartemen kekasihnya.

"Ya. Tuhan. Bukankah ini terasa seperti dejavu?" Nayeon memangku tangan, berdiri dengan angkuh seraya mengangkat dagu seperti tengah mengibarkan bendera kemenangan.

"Kau melupakan tas- Baekhyun?" Itu Chanyeol, berdiri di belakang Nayeon, telah lebih dulu terkejut dan cemas. Belum lagi ekspresi dingin yang Baekhyun lempar kearahnya seperti semua kesalahpahaman ini tidak akan dengan mudah gadis itu percayai.

"Kekhawatiranku ternyata terbukti. Sial! Apa yang kulakukan di sini dengan rasa bersalah sementara kau sedang bersama wanita lain."

"Babe.." Chanyeol tak peduli jika bahunya menabrak punggung Nayeon dengan kasar hanya untuk menghampiri kekasihnya yang tengah salah paham.

"Jangan menyentuhku!" Tukas Baekhyun dengan dingin. "Kau tahu, aku tidak pernah bermaksud menghinamu. Aku hanya.. aku mencintaimu maka dari itu.. aku.. aku tidak ingin berjauhan denganmu." Napasnya tercekat berkali-kali. Rasa sesak yang menguasai ulu hati telah sampai di pelupuk mata. Lantas cairan bening itu lolos.

"Sayang.. dengarkan aku-"

"Cukup, Chanyeol."

Lelaki yang tengah mengiba itu tidak diberi kesempatan sedikitpun.

"Aku tidak mau bertemu denganmu lagi! Aku membencimu!" Baekhyun berbalik, "Aku akan membunuhmu jika kau mengejarku." Lantas mengingatkan sebelum akhirnya berlalu dari sana. Meninggalkan Chanyeol yang tengah begitu kalangkabut.

"Oh sayang sekali dia pergi." Nayeon akhirnya bersuara setelah menjerit senang dalam hati, menikmati pertikaian antara sepasang kekasih itu.

"Keluar."

"Aku yakin kau sedang membutuhkan hiburan, Chanyeol." Gadis itu tampak tak peduli dengan suara rendah yang Chanyeol lontarkan. Bahkan ia memberanikan diri merangkul bahu lebar itu.

"Keluar!"

Namun bentakan itu tak membuat kesenangan Nayeon bertahan lama. Apa yang kini dirasakannya justru adalah ketakutan. Cara lelaki itu menatapnya seperti ingin mengulitinya hidup-hidup. Ada yang lain dalam sorot kemarahannya, seperti sosok seorang psikopat terpendam dalam auranya.

Nayeon tidak menduga lelaki itu bisa sangat menakutkan.

Hal yang membuat gadis yang semula datang hanya untuk memuaskan rasa penasaran akan sosok Chanyeol yang mendapat perlakuan istimewa di tempat kerja ayahnya kini berbalik dengan langkah tergesa meninggalkan apartemen lelaki itu.

••THE SWEETEST TROUBLEMAKER••

"Sudah kubilang aku tidak makan malam! Kalian ingin membuatku gendut? Huh?!"

"Tapi nona, ketua memerintahkan-"

"Aku tidak mau!"

Itu adalah satu dari sekian teriakan Baekhyun yang menggelegar memenuhi seisi rumah, hingga sampai pada gendang telinga para asisten rumah tangga. Alhasil mereka semua dibuat kalang kabut.

Bukan hanya itu, semenjak kepulangannya dari Amerika beberapa hari yang lalu, Baekhyun kerap membesar-besarkan hal sepele yang dilakukan para pelayan di rumahnya.

Tak jarang si mungil marah pada perkara sekecil apapun.

Gadis itu jadi lebih pemarah dari sebelumnya. Hal yang membuat Tao harus ekstra sabar dalam menghadapi tingkah sang majikan yang kini kerap memusingkan.

Sebenarnya ada apa dengan Baekhyun?

Tao mengibaskan tangan pada beberapa pelayan yang ditugaskan membawa hidangan makan malam ke kamar Baekhyun.

"Eonni juga keluar. Aku mau sendiri." Baekhyun menukas di balik bantal yang memendam wajahnya.

Tak ingin membuat suasana hati Baekhyun semakin memburuk, Tao memilih untuk menuruti keinginan majikannya.

Baekhyun meremas sprei ranjangnya dengan kuat sebelum kemudian membalik badan menghadap langit-langit kamar. Ketika mengingat lagi fakta bahwa Park Chanyeol benar-benar tidak mengejarnya tempo hari benar-benar sukses membuat amarahnya kembali tersulut. Meski sebenarnya beberapa hari ini lelaki itu tak pernah berhenti menghubunginya.

Tentu saja Baekhyun mengabaikannya.

"Jangan harap aku akan memaafkanmu begitu saja!" Gumam si mungil seraya menarikan jemarinya di atas layar ponsel yang menyala. "Kau pikir aku tidak bisa membuatmu marah?" Lantas dengan keyakinan yang membumbung tinggi Baekhyun menekan opsi 'post' di akun media sosialnya.

Beberapa detik kemudian foto yang ia unggah terpampang di halaman beranda.

Baekhyun tahu cara membuat Chanyeol marah. Tidak. Baekhyun tidak memposting foto seksi untuk mencari sebuah perhatian. Baekhyun tidak semudah itu. Ia hanya ingin membuat Chanyeol merasakan kemarahan yang ia rasakan saat ini.

Bukan rindu, Baekhyun hanya dendam. Dendam yang tak masuk akal karena hatinya menjerit senang mendapat sebuah nama masuk dalam kolom komentar postingannya.

"Aku tidak rindu padamu!" Serunya seraya menulis sebuah komentar balasan dengan geram.

I was here.

Satu baris kalimat yang terpampang di kolom komentar itu berhasil membuat si mungil terlonjak sebelum berakhir duduk di atas ranjang. Tangannya bergetar pelan saat satu pesan masuk.

From: Baby Boy

Aku di luar. Kau tega membiarkanku kedinginan?

Mata Baekhyun mengerjap berkali-kali.

From: Baby Boy

Pastikan memakai pakaian yang kau posting di Instagram.

Si mungil menggeleng pelan. Bibirnya telah lebih dulu menjadi sasaran kegundahan yang ia gigit dengan bergetar.

"Aku tahu!" Seru Baekhyun sesaat setelah Tao masuk ke dalam kamarnya.

Tak memerlukan indera keenam untuk tahu informasi yang akan wanita itu sampaikan.

"Nona ingin menemuinya?"

"Tentu saja." Jawaban Baekhyun terlalu cepat. Gadis itu berdeham seraya bangkit. "Jangan mengintip!" Tukasnya dengan mata memicing kepada Tao.

Sudah sangat hafal tingkat kepedulian serta tanggung jawab wanita keturunan China tersebut.

Setelah dibukakan gerbang utama oleh petugas keamanan, Baekhyun menyapukan atensi pada seluruh sudut komplek lalu mendapati siluet jangkung yang berdiri di bawah cahaya temaram di ujung blok.

"Dia benar-benar pulang?" Baekhyun menggigit bibirnya dengan gusar. Lalu mulai mengurai langkah seraya menancapkan atensi pada sosok yang tengah menyandarkan punggungnya pada badan mobil, kepalanya menengadah, kedua tangannya tersembunyi di balik saku celana.

Untuk ke sekian kali Baekhyun mempertanyakan keadilan Tuhan karena meski hanya terbias cahaya temaram sosok itu masihlah kekasihnya yang berparas sangat tampan.

Chanyeol menyadari kehadiran sosok lain di sekitarnya. Kemudian ia menoleh, meringis kecil mendapati wajah sengit yang Baekhyun lempar kearahnya.

Baekhyun masih mematung, di samping tengah menahan gigil karena suhu beku yang menusuk pori-pori, ia juga masih sangat marah pada sosok yang kini menyentakkan kepala, memberi isyarat padanya untuk masuk ke dalam mobil.

"Kenapa kursi belakang?"

"Karena aku ingin memelukmu." Chanyeol menyahut sebelum merengkuh tubuh kekasihnya ke dalam pelukan.

Si kecil meronta. "Lepaskan aku! Jangan sentuh aku! Aku membencimu!" Serunya seraya memukul dada bidang kekasihnya.

"Kumohon.." Chanyeol mempertegas suara, cukup ampuh menghentikan gerak Baekhyun yang defensif. "Aku putus asa, sayang. Aku merindukanmu."

Gerak Baekhyun semakin melemah. "Kau menyalahkanku karena aku berusaha membuat hubungan kita lebih baik, tapi pada akhirnya kau sendiri yang membuktikan kekhawatiranku."

Chanyeol mengangguk, mengusakkan wajahnya pada bahu sempit itu. "Aku salah. Maafkan aku. Dan untuk Nayeon, itu semua salah paham. Dia menerobos masuk ke dalam apartemenku waktu itu."

"Dan aku membencimu untuk itu!" Baekhyun menarik diri lalu bertemu pandang dengan kekasihnya.

Chanyeol menggeleng pelan mendapati kekasihnya merengut hebat. "Percayalah, aku tidak melakukan apapun yang berpotensi melukai hatimu." Diraihnya jemari lentik itu sebelum ia kecupi dengan lembut. "Oh tidak, kumohon jangan menangis.." Chanyeol mengiba hingga akhirnya ia merengkuh tubuh mungil berpakaian minim itu ke dalam pangkuannya. "Apa yang harus aku lakukan?"

"Tetaplah di sini, aku benci jauh darimu." Si mungil mencicit lalu menenggelamkan wajahnya pada rambut Chanyeol.

"Aku sudah memutuskan."

Baekhyun menarik diri lantas dengan sedikit menunduk ia menatap lawan bicaranya.

"Aku akan di sini."

"Benarkah? Kau mau menerima bantuanku?"

Chanyeol mengangguk. Seharusnya waktu itu ia tidak lebih dulu memusingkan harga diri ketika bahkan Baekhyun mempunyai niat baik. Ya. Tentu saja. Demi mereka dan hubungan yang terjalin.

Baekhyun tersenyum lantas menankup wajah Chanyeol yang posisinya lebih rendah mengingat kini ia berada dalam pangkuan sang kekasih. Dikecupnya bibir lelaki itu, niatnya hanya beberapa detik namun Chanyeol telah lebih dulu memerangkap bibir mungil itu di dalam mulutnya.

Tubuh mungil yang berada diatas pangkuannya adalah apa yang membuat Chanyeol menggila selama beberapa hari ini. Rasa rindunya membuncah dengan hebat hingga sanggup menuntun kedua tangannya melakukan tindakan radikal dengan merobek pakaian Baekhyun, di samping lelaki itu masih cukup merasa geram karena si mungil memposting dirinya demgan pakaian terlampau minim itu.

"Sayang, dingin.." Baekhyun mencicit, membiarkan pakaiannya tergeletak menyedihkan.

"Kau bisa memakai kaosku." Dari awal Chanyeol memang berniat merusak pakaian minim laknat itu dan menggantinya dengan kaos yang kini ia kenakan. Namun ketika pakaiannya itu lolos dari tubuh dan hendak ia kenakan pada si mungil kekasihnya, atensinya telah lebih dulu tertancap pada dua gundukan sintal di balik cup bra merah menyala. Ukurannya yang tak biasa untuk seorang gadis seperti Baekhyun membuat geraman itu lolos dari kerongkongan Chanyeol.

Lelaki itu mulai kehilangan akal sehat, tangannya melingkar di punggung Baekhyun sebelum jemarinya dengan lihai melepas pengait bra.

Desisan yang lolos dari mulut Baekhyun adalah sebentuk reaksi alami yang muncul ketika Chanyeol membungkam mulutnya dengan apa yang mencuat di pangkal payudaranya.

"Big baby.." Gumam Baekhyun seraya menengadah, meremas rambut Chanyeol lantas menekan kepala lelakinya hingga membuat wajahnya terpendam di antara kenyalnya belahan dada itu.

Chanyeol masih sibuk berlaku adil pada dua gundukan sintal yang menjadi sasaran mulut dan lidahnya, ia masih menikmati desahan kecil yang kerap lolos dari mulut Baekhyun juga pada pengalihan si gadis yang mengkambing hitamkan rambutnya dengan remasan juga cakaran sensual.

Ada yang menggilai setiap hisapan yang Chanyeol berikan, dan Baekhyun kembali mempertanyakan kelihaian Chanyeol dalam melahirkan sebuah sensasi candu di sekujur tubuhnya.

Si mungil masih menyapukan jemari di atas rahang kekasihnya sebelum kemudian menarik lantas menangkup wajah lelaki itu, hal yang membuat Chanyeol sangat tidak rela hingga melempar ekspresi merajuk seperti bayi kekurangan ASI.

Baekhyun melempar wajah sensual, ia menjilat bibirnya dengan perlahan sebelum menurunkan tubuhnya pada posisi lebih rendah, perlahan tapi pasti kini gadis itu telah berada di antara kaki Chanyeol yang terbuka.

Benaknya mulai memberi komando, lalu jemari itu perlahan mendaratkan sebuah elusan di atas perut dan berlanjut dengan gerak menurun ke bawah hingga ia sadar bahwa ada yang cukup terprovokasi di balik zipper yang tertutup rapat. Gadis itu melempar seringaian seksi pada Chanyeol yang masih setia memperhatikannya.

"Kau sudah mendapatkan susumu, dan kini giliran aku yang mendapatkan lollipopku." Si mungil itu terlampau nakal dengan kerlingan matanya.

Sedangkan Chanyeol tak kuasa menahan kekehannya. Adakah yang seajaib Byun Baekhyunnya?

Yang lebih mungil mulai muak membuang-buang waktu, ia menjulurkan kepala sebelum mengusak zipper sialan itu dengan giginya.

"Byun Baekhyun.." Gumam Chanyeol dengan kagum yang berdecak pada perbuatan seksi yang kekasihnya lakukan.

Ketika apa yang menegang den berurat itu mencuat dan meronta keluar dari balik zipper, Baekhyun dengan segera menggenggamnya dengan dua tangan. "Benar-benar besar." Gumamya dengan perasaan sedikit ragu dan bertanya-tanya bagaimana jika bibirnya robek?

Si mungil menggeleng kecil, pikirnya bukan masalah besar jika ia mampu memberi kepuasan terhadap Chanyeol meski harus mengorbankan bibirnya yang diprediksi akan robek jika mengulum batang 9 inci tersebut.

Dengan keyakinan dan tekad kuat Baekhyun mulai menepis jarak mulut dengan ujung kejantanan kekasihnya. Gadis itu bukanlah tipikal orang yang akan mudah putus asa, ketika bahkan pangkal rudal itu tak kunjung berhasil masuk ke dalam mulutnya, ia masih mencoba bersabar dan dengan cerdik mengakalinya dengan jilatan sensual.

Chanyeol mulai merasakan sengatan adiktif itu di sekujur tubuhnya, kepalanya mulai bersandar pada jok mobil sementara geraman kecil menyusul lolos dari tenggorokannya.

Lelaki itu tahu gadis mungilnya tengah kesulitan, maka dari itu ia mencoba memberikan dukungan dengan membelai puncak kepala kekasihnya tersebut.

Sentuhan yang diterima seperti sebuah yelyel yang membangun semangat, maka dengan gencar Baekhyun memutar batang besar itu hingga beberapa saat kemudian ia berhasil membenamkannya di dalam mulut.

Chanyeol merasa hangat. Apa yang semula adalah sebuah belaian pada rambut Baekhyun perlahan berubah menjadi remasan kecil saat gadis itu mulai menjelma menjadi pecandu eskrim.

Geraman itu kerap lolos, berkali-kali kepala Chanyeol terlempar ke belakang. Sambil mengumamkan segala jenis pujian pada kelihaian mulut Baekhyun yang bercinta dengan kejantanannya.

Mendengar lelakinya melontarkan kalimat pujian, Baekhyun semakin merasa bahwa sensasi batang kejantanan yang menggesek dinding mulut hingga membentur ujung kerongkongannya adalah sesuatu yang menyenangkan, ia bahkan mengenyahkan pasokan oksigen yang kian menipis, yang tertanam dalam benaknya hanyalah kepuasan yang harus ia berikan kepada kekasihnya. Baekhyun mulai menggilai kecepatan tempo, ia tidak peduli jika kepalanya pusing karena ia naik-turunkan dengan intens. Ia tidak peduli jika sudut bibirnya mulai merasa ngilu akibat bergesekan dengan urat-urat yang menegang, karena yang pasti saat geraman Chanyeol mulai terdengar lebih keras serta remasan pada rambutnya terasa putus asa, Baekhyun melakukan upaya terakhir dengan baik hingga ia merasa ada yang meledak di dalam mulutnya.

Rasanya hangat, jumlahnya tidak sedikit, bahkan Baekhyun yakin apa yang kini mengalir di sudut bibirnya adalah bagian dari pencapaian yang Chanyeol rasakan.

Lelaki itu tersengal hebat, napasnya memburu dalam kenikmatan. Ia tidak lagi dapat mendefinisikan kebahagiaannya yang membuncah, ada perasaan bangga luar biasa pada sosok mungil yang kini mencoba memisahkan rudal panas dan basah itu dari mulutnya.

Chanyeol menunduk, menancapkan segenap atensi pada si mungil di bawahnya. Lantas ia kembali menggeram gemas saat kekasihnya mengerjapkan mata dengan ekspresi jenaka, mungkin si mungil tengah mengecap pada rasa aneh yang tertinggal di lidahnya.

Sadar tidak ingin membiarkan kekasihnya lebih lama berada di bawahnya, lelaki itu dengan sigap membantunya bangkit sebelum kembali membawanya keatas pangkuan.

"Mau minum?" Chanyeol bertanya penuh perhatian seraya menyeka sudut bibir Baekhyun yang masih berhias cairan kental berwarna putih.

Si mungil mengangguk kecil sebelum meneguk air mineral yang Chahyeol berikan. "Bibirku sakit." Cicitnya kemudian mengusakkan wajah di leher lelakinya dengan manja.

Chanyeol tersenyum maklum. "Kau melakukannya dengan baik. Sangat baik. Kau luar biasa, Byun Baekhyun." Lantas menyahutinya dengan lembut. Menyambut raga mungil itu ke dalam dekap penuh rindu. Mengalirkan rasa hangat, menepis gigil yang menggrogoti.

Bahkan hawa dingin pun tidak akan kubiarkan menyentuh tubuhmu.

Karena kau adalah mutlak milikku seorang, Byun Baekhyun.

TBC

A/n:

Nyot nyot di kenyot nyooott~

Yang balik dari Amerika haus bener yak.. LOL