K A R A K U R A H O S P I T A L

Theme Song: Anata ni Aitakute by Seiko Matsuda

Disclaimer: BLEACH © Tite Kubo

Chapter. 12

"Apa? Ke Inggris? Bukankah seminggu yang lalu kakak baru saja pulang dari Korea?"

"Maaf, Rukia. Kakak tak bisa menemanimu setiap saat. Kakak memang tak berguna," kata Byakuya memasang wajah sedih. Rukia menjadi tak enak hati.

"Bu-Bukan begitu, Kak! Kakak sudah sangat berguna bagiku. Ehn, maksudku, apakah Kakak tak lelah berpergian terus?"

"Ini memang kewajibanku sebagai pengusaha, Rukia. Tak ada kata lelah di kamus pengusaha," jelas Byakuya dengan nada datar. Rukia hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja.

Kini kedua kakak-beradik itu sedang menikmati sarapan pagi yang memang menu-nya... menggugah selera. Byakuya yang sudah selesai pun mengelapi mulutnya dengan celemek besar di pangkuannya. Setelah itu, dia meminum kopi hangatnya.

"Bagaimana si Kurosaki itu, Rukia?" tanya Byakuya tiba-tiba. Itu membuat Rukia amat kaget karena tiba-tiba saja kakaknya itu bertanya tentang Ichigo.

"Eh, dia? Ehn, baik-baik saja kok," kata Rukia seraya tersenyum dan sedikit tersipu malu.

"Bukan itu. Bagaimana dia bekerja? Kupikir dia pasti sangat buruk dalam melayani pasiennya,"

Byakuya mengambil koran yang telah dibawakan oleh pelayannya. Dibukanya koran itu lalu dibacanya. Sebenarnya, apa yang dikatakan Byakuya memang benar. 'Dulu' Ichigo memang sangat buruk dalam melayani pasien. Namun, mungkin sekarang banyak perubahan dari seorang Kurosaki Ichigo.

"Sekarang dia menjadi dokter yang baik, Kak. Aku tahu, dari tampangnya sudah terlihat bodoh dan buruk. Tapi, sebenarnya dia adalah dokter yang baik," kata Rukia menjelaskan bagaimana seorang Ichigo.

"Aku belum bisa percaya..." kata Byakuya datar.

"Memang tampangnya meragukan, sih..." komentar Rukia atas kata kakaknya itu.

Hening.

Suasana sore lorong di Rumah Sakit Karakura sangat sepi. Semua pasien telah masuk ke kamarnya masing-masing karena cuaca seperti ini memang pantas untuk istirahat. Hujan berserta petir seperti menambah sepinya lorong rumah sakit yang dilalui Rukia. Dia berjalan terus sambil melihat awat hitam yang menyelimuti langit dari jendela.

"Aku tidak bersedih, aku juga tidak kesepian, Kak Hisana. Masih ada Ichigo, Kak Byakuya, dan Momo, Kak." katanya pada dirinya sendiri. Dia tersenyum. Tersenyum dan tertunduk. Sejenak dia berhenti di lorong itu.

"Tapi, aku tetap saja merindukanmu..."

.

"Kakak! Bangun, Kak! Jangan tinggalkan aku! Huwaaa! Hiks... hiks...! Kakak!"

.

"Hujan juga terasa dingin..."

GREB

Mata Rukia terbelak merasakan ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Dengan sekuat tenaga, Rukia menyikut perut orang itu.

DUAAAAK!

Orang itu pun terjatuh dengan keras. Rukia membalikan badanya yang ramping itu. Mata violetnya menulusuri siapakah orang yang berani-beraninya berbuat 'mesum' padanya. Apakah seorang maniak? Ataukah malah hantu yang seperti ada di Sadako in the Hospital? Kenapa juga hantu memeluknya? Apakah itu hantu kakaknya? Tapi, kakaknya di saat terakhirnya tak pernah sekali pun dirawat di Rumah Sakit Karakura. Itulah yang dipikirkan Rukia. Namun, semua itu salah.

"Dokter Jeruk?"

"Sial kau Cebol! Lihat, tanganku lecet!"

"Siapa juga yang menyuruhmu tiba-tiba memelukku begitu! Heh? Apakah itu sebuah sindrom? Dasar bodoh!" jawab Rukia kesal.

"Kau tadi berkata 'Hujan juga terasa dingin...'! Ya sudah, biar hangat, aku memelukmu!" kata Ichigo yang tadi sempat meniru gaya bicaranya Rukia.

"Hahahaha, bilang saja mau mencari kesempatan untuk memelukku. Aku memang menggemaskan seperti Chappy,"

"Jangan membuatku tertawa, hahahaha,"

"Hah?"

" Kau lebih menggemaskan dari Chappy, Rukia. Hampir menggemaskan seperti, kau tahu... monyet,"

"Oh, begitu?" Rukia berbalik arah dan hendak pergi.

"Ah! Jangan marah!" Ichigo menarik tangan mungil Rukia.

"Ichigo..." panggil Rukia.

"Hn?"

"Kita putus saja..." kata Rukia tiba-tiba. Keadaan menjadi serius. Mata Rukia menatap lekat-lekat mata hazel Ichigo.

Bagi Ichigo seperti ada petir yang menyambarnya.

"Ap-Apa!" pekik Ichigo yang sangat kaget.

"Bwahahahahaha! Ekspresimu seperti monyet!"

"Kau menipuku! Sialan kau!"

"Kurosaki-kuuuuuuuuuun!" terdengar seseorang memanggil Ichigo. Ichigo dan Rukia pun menoleh. Dilihatnya seorang gadis berlari dengan semangatnya menuju arah mereka.

Rukia's POV

Kulihat dari kejauhan seorang gadis memanggil Ichigo sambil berlari. Yak, benar, dia Inoue. Setelah sampai di depan kami gadis itu tersenyum manis. Pakaiannya basah kuyub. Rambutnya pun juga basah berantakan. Dia menyerahkan sebuah kotak makan kepada Ichigo.

"Ini! Untuk Kurosaki-kun, hehehe!"

"I-Inoue? Buat apa repot-repot sambil hujan-hujanan seperti itu! Lihat, badanmu basah kuyub begitu!" bentak Ichigo tampak marah. Gadis itu kemudian tertunduk.

"Maaf, Kurosaki-kun..."

"Ichigo! Dia sudah susah payah begini, kau malah memarahinya!" seruku pada Ichigo karena tak tega melihat gadis ini menjadi sedih.

"Eh? Kuchiki-san! Aku tak apa-apa kok!" kata Inoue kepadaku.

Aku tahu Ichigo membentaknya karena khawatir. Dan jujur saja, aku agak sedikit cemburu.

"Huh, maaf Inoue, aku sudah membentakmu. Sebelum aku makan bekalmu, ayo keringkan bajumu dulu. Rukia, aku ke ruanganku dulu, ya," kata Ichigo beranjak pergi bersama Inoue.

"Ya," jawabku singkat.

.

.

Aku kini berada di suatu kamar pasien. Dan pasien ini adalah anak-anak. Aku membenahi selimut pasien ini. Kulihat, dia sangat nyenyak dalam tidurnya. Entah betapa bersyukurnya aku yang kini telah menjadi seorang perawat. Aku sangat bahagia dapat merawat pasien-pasien dan membuat mereka menjadi nyaman.

Si Dokter Jeruk sekarang sedang apa ya? Sedang memeriksa pasien, atau bersama Inoue? Cukup Rukia! Kenapa dari tadi kau berpikir yang tidak-tidak pada Ichigo! Percayalah padanya! Dia kan hanya bersama Inoue, calon-

Benar, calon tunangannya...

Tidak, Aku harus optimis.

Aku melihat keluar jendela. Ternyata, hujan belum berhenti deras malah. Aku terus saja memandangi jendela sambil berdiri. Kota Karakura menjadi basah dan... redup tanpa adanya cahaya matahari. Jam masih menunjukan pukul 12.30 tapi dilihat dari keadaanya seperti sudah sore sekali. Kulipat tanganku kemudian ku berjalan menuju ranjang kosong di samping ranjang gadis itu. Aku duduk di sana sambil memandang ke luar jendela itu. Memandang dan termenung.

"Ibu... jangan pukul aku... Sakit bu... hiks..." kudengar gadis yang tidur itu sedang mengigau. Dia berkata seakan dia sedang disakiti oleh ibunya. Yang aku tahu, gadis ini adalah korban penganiyayaan. Tadinya wajahnya yang tenang kini menjadi sangat terusik. Aku segera berdiri dan mengahmpirinya.

"Ururu-chan?" panggilku menyebut namanya. Dia masih memejamkan matanya namun terus saja memohon agar ibunya berhenti menyiksanya. Aku segera memegang tangannya yang dingin itu.

"Ururu-chan?" panggilku lagi. Perlahan dia mulai membuka matanya. Dia melihat wajahku.

"Suster...?"

"Ada apa? Kau mimpi buruk, ya?" tanyaku. Tapi, dia hanya mengangguk pelan. Aku tahu dia berusaha agar tidak menangis dihadapanku. Ya Tuhan, gadis sepolos ini benar-benar dianiaya oleh ibunya sendiri?

"Suster, Ibu benar-benar membenciku ya...?" tanyanya pelan.

"Hah? Kau bicara apa? Ibumu pasti memiliki alasan sendiri berbuat seperti itu. Dia pasti menyayangimu," kataku sambil membelai rambutnya. Aku tahu mungkin kata-kataku salah, tapi, aku juga tak mau membuat hatinya semakin terluka.

"Suster benar... Ibu memukuliku karena Ururu nakal. Ururu mau diajak ayah yang sudah meninggalkan ibu. Ururu nakal..."

"Ururu-chan anak yang baik kok," ucapku sambil tersenyum.

"Tidak, Ururu telah membuat Ibu masuk penjara... Hiks, Ururu nakal... Ururu rindu Ibu..." anak itu tak kuat lagi. Dia pun menangis, terisak pelan. Dia tak membenci Ibunya yang telah menganiaya dirinya.

"Jadi, Ururu tidak mau Ibu masuk penjara? Ururu memaafkan Ibu?" tanyaku yang mungkin agak lancang.

"Iya, Ururu tidak mau Ibu masuk penjara... Ururu memaafkan Ibu..." ucapnya.

Aku berpikir aku mungkin harus membantunya.

End of Rukia's POV

Pukul 17.46

Terlihat Rukia sedang membungkuk kepada dua orang polisi di depan kamar pasien bernama Ururu Arashi. Dia mengucapkan terima kasih kepada dua orang polisi itu. Kemudian, dua orang polisi itu hanya mengangguk dan mengucapkan 'sama-sama' lalu meninggalkan Rukia. Kemudian, gadis itu kembali masuk ke kamar Ururu.

Tanpa Rukia sadar, ada Ichigo yang sedari tadi Rukia keluar dari kamar Ururu mengamatinya. Ichigo pun berjalan menuju ruangan pasien dimana Rukia berada. Setelah sampai di depan pintu, Ichigo pun masuk.

"Woi," sapanya yang membuat Rukia menoleh. Rukia sedang menyelimuti Ururu yang telah tertidur.

"Psssst! Kenapa kau ada di sini!" kata Rukia berbisik agar tidak membuat pasien terganggu.

"Sedari tadi kulihat kau sangat sibuk sekali. Tak tahunya kau sedang selingkuh dengan dua orang polisi," Rukia melihat Ichigo dengan senyumannya. Dia pun mendorong Ichigo keluar dari kamar itu.

DUAAAAK

Dipukulnya perut Ichigo setelah sampai di luar ruangan.

"Kau bilang apa? Selingkuh! Lalu, bagaimana dengan dirimu yang berduaan bersama Inoue!"

"Hei, aku bercanda! Lalu, apa kaitannya dengan Inoue? Aha!"

"Aha apa!"

"Kau cemburu ya?" goda Ichigo.

"Siapa? Aku? Tidak mungkin," sanggah Rukia.

Ichigo segera menarik tangan Rukia. Wajahnya berseri-seri seperti telah mendapatkan sesuatu. Rukia bingung dia mau diajak kemana. Ichigo terus menarik tangannya sepanjang lorong.

"Hei, kita mau kemana?" tanya Rukia.

"Pulang. Kau sudah selesai bukan?" kata Ichigo sambil berhenti di tempat.

"Iya sih, memang kau sudah?"

"Tentu! Hiyori sangat cepat kerjanya!"

"Oh..." Rukia berpikir jika kini ada yang lebih hebat menggantikan posisinya. Dia sangat rindu menjadi perawat asisten Ichigo.

"Kenapa?"

"Kelihatanya dia lebih cekatan ya?"

"Iya, tapi dia tak dirindukan pasienku seperti kau dirindukan mereka," kata Ichigo sambil tersenyum. Rukia membalasnya dengan senyuman yang manis.

"Ayo Cebol, aku ingin mengajakmu makan,"

"Sudah kubilang jangan memanggilku seperti itu!"

Ichigo mengenggam tangan Rukia. Kini mereka bergandengan melewati lorong rumah sakit yang sepi. Suasana memang masih sama saja seperti tadi siang, sepi, namun kini sedikit berbeda dengan atmosfir kedua insan itu yang sedang terkena virus merah jambu, cinta.

Rintik-rintik kecil air hujan masih membasahi malam kota Karakura. Seluruh jalanan juga masih licin. Tapi, syukurlah hujan sudah reda. Dari tadi siang hujan terus menguyur kota Karakura tiada hentinya. Terlihat Ichigo dan Rukia sedang berjalan berdamping berjalan di trotoar menggunakan payung yang bening. Rukia merangkul tangan kiri Ichigo sedangkat tangan kanan Ichigo sedang memegang payung. Kini mereka dalam perjalanan pulang setelah makan malam.

"Ichigo, kita ke halte itu yuk," ajak Rukia.

"Kenapa? Mobilku sudah dekat tahu,"

"Ayolah! Mumpung sepi!"

"Hah! Ta-tak kusangka Rukia Kuchiki dapat berpikir mesum...!" kata Ichigo sambil mengelus-elus dadanya.

"Bo-bodoh! Mana mungkin!" seru Rukia sambil menahan mukanya yang semakin memerah.

"Lalu, untuk apa?"

"Aku hanya ingin duduk berdua denganmu, Dokter Mesum!"

"Yah, yah, ok, ayo," ajak Ichigo. Rukia pun tersenyum lebar.

Sesampainya di halte bus, Rukia segera duduk. Disana dia terlihat senang. Maklumlah, dia sedikit rindu dengan halte bus karena akhir-akhir ini dia harus berangkat atau pulang dari rumah sakit diantar kakaknya atau Ichigo. Ichigo segera menyusul Rukia.

Ichigo hendak duduk di bangku halte, namun, tiba-tiba ia melepaskan payungnya dan memegangi kepalanya.

'Sial!'

"Kau baik-baik saja, Ichigo?" tanya Rukia yang melihat Ichigo memegangi kepalanya. Ichigo yang mendengar pertanyaan Rukia pun langsung melepaskan pegangan tangannya dari kepala kemudian berusaha bersikap biasa.

"Oh, aku baik-baik saja, jangan khawatir. Aku hanya sedikit pusing," kata Ichigo yang kemudian mengambil payungnya yang terjatuh kemudian duduk di samping Rukia.

"Makanya jangan terlalu berkerja terlalu keras," kata Rukia memberi saran kepada Ichigo.

"Tentu saja,"

Mereka kini duduk berdua di sana. Entah kenapa hujan semakin deras. Udara pun juga semakin dingin bercampur malam yang semakin larut. Rukia mulai menggosok-gosokan kedua tangannya karena mulai kedingina. Dikancingkannya kedua kancing jaket bagian atas yang tadinya ia lepaskan. Ichigo melihat gadis yang mulai kedinginan itu.

"Ichigo, kita pulang saja. Semakin di-"

Payung Ichigo dijatuhkan. Dilihatnya Ichigo yang mulai memegang kedua pipi Rukia dengan kedua tangannya. Ichigo mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Rukia. Ichigo memejamkan matanya. Rukia yang melihat Ichigo seperti itu pun juga ikut memejamkan matanya. Semakin lama semakin dekat wajah Ichigo. Akhirnya, bibir Rukia yang manis itu bisa menyentuh bibir Ichigo dengan lembut. Tangan Rukia mulai memegang dan meremat kemeja Ichigo. Mereka terhenyut pada kenikmatan itu.

Ciuman itu berlangsung lama. Hujan juga masih turun. Tanpa mereka sadari, kedua mata coklat sedang mengamati mereka dengan air mata. Rambut orang yang memiliki mata itu basah karena kehujanan. Rambut orange-kecoklatan yang indah itu kini menjadi kusut.

"Apakah itu alasanmu, Kurosaki-kun...?"

Aku terhenyut pada kenikmatan sesaat yang membuatku bahagia. Aku akan menyimpan kenangan indah ini dalam memoriku... Kusimpan dan tak akan pernah kubuang...

Bersambung...


A/N: Ehn... Minna, chapter ini pendek ea? Banyak typo? Gommenasai... Chapter depan Nica usahain panjang~ Maaf ya... Maaf juga kalau updetnya lama, hiks (.=_=.). Hehehe Ururu saya jadikan anaknya Kukkaku, kakak na Kaien X3, emang ga ada sih di atas~ Nica mau minta maaf jika selama ini ada salah pada minna-san sekalian^^ Semoga bisa dimaafkan^^ Maaf Typo!

Reply:

rukiahinata-ika:Iyaa! Thx ya! X3

tara:Yayaya! Thx ya~

Q-Ren: Iya~ cocok kan?

Mio 'IchiRuki' anezaki:Iya ini udah updet*lama cuy*

Terimakasih, Mohon maaf lahir dan batin,

See ya next chap and have a nice day, guys!

Karakura Hospital chapter 12 © NicaTeef