Yay! Akhirnya aku dapat laptop baru! Senangnya... nah sekarang aku bisa melanjutkan ceritaku dengan tenang, kecuali ada tugas sekolah lagi -_-

Kalian mungkin mengira ini adalah chapter 13, tapi salah! Ini adalah extra chapter. Extra chapter ini akan berfokus pada LuRo, yah semacam side story. Ini supaya kalian tidak bingung, kenapa LuRo-nya tiba-tiba muncul saja. Tentunya ada proses, dan itu akan diceritakan dalam extra chapter. Dan bukan hanya 1 saja, tapi akan aku lanjutkan. Jadi nikmati saja ya. Chapter ini juga sebagai jawaban atas eleamaya yang mengatakan kalau di chapter sebelumnya, Robin OOC. Jadi aku berusaha tidak akan OOC lagi. Semoga kalian senang! Terutama buat eleamaya, beritahu ya bagaimana chapter ini.

Dan jangan pikirkan ya, judulnya yang aneh. Sebenarnya aku mau buat judulnya dalam bahasa Inggris, biar keren sedikit (he he...) tapi nanti terasa janggal, karena judul-judul di chapter sebelumnya memakai bahasa Indonesia, jadi aku tidak ubah bahasanya. Dan juga dari awal pembuatan chapter ini, aku sudah konsisten sama diriku sendiri, terus memakai bahasa Indonesia di setiap aspek di setiap chapter. Cintailah tanah air kita dengan budaya bahasanya! (Lho kok malah jadi begini, make semangat '45, kapan ceritanya mulai nih?) Oke, lanjut saja ke cerita!

Robin : Ah, jadi chapter ini tentang aku dan Luffy? Boleh juga...

Shoojo : Ya, begitulah...hei! Bagaimana kau bisa muncul?

Robin : Fu fu fu... bukan masalah bagaimana aku mucul, tapi, *tangan-tangan muncul di sekeliling author* jika kau buat aku OOC lagi, kubunuh kau!

Shoojo : Ahh, tolongg... ucapkan disclaimer dulu, baru kubuat cerita ini!

Robin : Oke, jadi One Piece adalah hak cipta dari Eiichiro Oda. Tidak ada kaitannya dengan orang ini.


Extra Chapter: Luffy Sakit?

Setting waktu : Chapter 11

"Sanji! Cepat makan siangnya!" teriak kapten Mugiwara yang selalu penuh semangat kepada koki handalnya sambil mengetuk-ketukkan garpu dan pisau ke meja dengan cepat. Di meja makan, bersama Luffy, ada Usopp, Chopper, Franky, dan Brook. Sanji hanya menggelengkan kepalanya, melanjutkan kegiatannya yaitu meracik bumbu-bumbu masakan di hadapannya menjadi suatu karya seni, dan kalau bisa, menghiraukan suara-suara berisik dari orang-orang lapar yang bertindak gila di meja makan.

"Nih, kapten," kata Sanji sambil meletakkan makanannya di hadapan Luffy dan yang lainnya. "Aku mau mengantar es krim ke Nami-san, dia tampaknya murung hari ini. Mungkin kalau dia makan es krim, dia bisa ceria lagi."

"Es krim!" Luffy, Chopper, dan Brook berteriak bersamaan. Mata mereka berbinar-binar. "Sanji, kami mau! Es krim! Es krim! Es–" Sanji mendiamkan Luffy dengan tendangan super keras, membuat dia menerima benjol besar di kepalanya. Chopper lantas menjerit ketakutan melihat Luffy ditendang seperti itu.

"Makan dulu makan siangnya, baru makan es krim!" kata Sanji, kemudian dia pergi. Luffy mengusap kepala benjolnya, dan hendak menyantap makan siangnya ketika Robin datang ke ruang makan.

"Hai Robin!" sapa Luffy dengan ceria. Untuk alasan yang tidak jelas, dia merasa senang sekali di dalam hati melihat Robin.

"Hai," jawab Robin dengan senyum lebar.

"Yohohoho, Robin-san, kamu benar-benar ceria. Boleh tahu apa warna–" Robin menutup mulut tengkorak afro itu dengan tangan yang dimunculkan dari kekuatan Hana Hana no Mi miliknya.

"Kalian melihat Nami?" tanya Robin.

Semuanya menggelengkan kepala. Robin mendesah kecewa.

"Hmm...padahal ada yang ingin kutunjukkan kepada dia sekarang, ya sudahlah. Mungkin nanti saja." Kemudian dia pergi ke luar ruang makan. Usopp dan yang lain di ruang makan mulai menyantap makanan mereka dengan lahap , semuanya – kecuali Luffy.

"Hmm? Luffy? Kenapa kau tidak ikut makan? Tanya Usopp, melihat Luffy tidak makan dengan rakus seperti biasanya, tapi hanya sesekali mencomot-comot daging di hadapan dia. Tatapan Luffy pun seperti loyo, tak bersemangat.

"Hmm... Usopp, aku..."

"Apa? Apa kau sakit?" tanya Chopper dengan nada khawatir. Sebagai dokter kapal, jelas dia cemas dengan kondisi kesehatan nakamanya.

Luffy menghela nafas kecil, lalu mendorong piringnya sedikit ke meja. "Aku rasanya tidak lapar."

Diam.

Diam lagi.

Sunyi senyap.

"EEHHH!" semuanya berteriak dengan muka horor.

'Luffy tidak bernafsu makan? Apa dunia sudah mau kiamat?' batin mereka.

.

.

Vivi menutup pintu gym, tapi matanya masih menangkap pemandangan di dalam sekilas. 'Apa yang ingin dibicarakan Nami ya? Sampai dia ingin bicara sendiri dengan Zoro,' tanya Vivi dalam hati penuh ingin tahu. Karena tidak ada yang ingin dilakukan saat ini, Vivi memutuskan berjalan ke dek. Di sana, dia melihat Robin sedang melirik ke kiri dan ke kanan, seperti mencari sesuatu. "Hai, Robin-kun. Ada apa?" Vivi menyapa Robin.

Robin melihat ke arah Vivi. "Oh, Vivi-san. Aku sedang mencari Nami. Kau tahu di mana dia?"

Secara spontan mata Vivi hampir mengarah ke arah gym. Dia tahu Nami sedang ada urusan dengan Zoro, jadi dia berpura-pura tidak tahu, terlepas dari kenyataan yang sebaliknya. "Tidak. Aku belum bertemu dia hari ini."

"Oh begitu," kata Robin simpel.

"Hei, bagaimana kalau kita bicara-bicara sebentar di dek? Mumpung tidak ada yang kita lakukan sekarang ini," usul Vivi, mecoba mencairkan suasana yang terasa kaku. Robin tersenyum dan menganggukkan kepala.

.

.

"Apa kau Luffy!" Usopp menerawang wajah Luffy dari lup besarnya dengan gaya seorang detektif. "Jangan-jangan kau mata-mata dari angkatan laut atau pemerintah dunia! Katakan mana Luffy asli!"

"Luffy! Apa perutmu sakit? Atau kepalamu pusing?"

"Jangan-jangan, kau sekarang sedang dalam program pengurangan makan," kata Franky sambil mengusap dagunya.

"Yohohoho, anak muda zaman sekarang tidak menghargai makanan, ya," ucap Brook, yang entah bagaimana sudah memakan setengah dari daging jatah Luffy.

Luffy memandang heran keempat nakamanya. Dia mengangkat tangannya, menandakan mereka berempat diam. "Aku tidak mengerti dengan kalian. Memang ada masalah apa kalau aku tidak mau makan?"

"Justru itu masalahnya!" sanggah Usopp tiba-tiba. "Luffy yang kukenal selalu mau makan makanan apapun, terutama daging, dan dia tidak pernah menolak makanan apapun. Jadi, kau pasti bukan Luffy." Usopp mendekatkan lupnya ke Luffy. Tiba-tiba dia menarik muka Luffy dengan satu tangan, hingga pipinya melar.

"Uggh, awwpa wyanng kwau wakuwan?" kata Luffy dengan suara kurang jelas akibat pipinya ditarik.

"Topengmu susah sekali dilepas," gerutu Usopp, kini menarik muka Luffy dengan kedua tangan, "Ternyata angkatan laut sudah membuat topeng penyamaran yang sangat bagus. Bahkan kalian mampu membuat topeng yang bisa melar, meniru Gomu Gomu no Mi, tapi aku tidak akan tertipu."

Chopper bertanya ke Luffy, yang sekarang berusaha melepaskan diri dari Usopp, "Luffy, apa kau ada masalah?"

Akhirnya Luffy berhasil melepaskan diri dari tangan Usopp. Dia menghadap ke Chopper. "Hai, memang ada," jawab Luffy.

Kini mereka menatap Luffy dengan serius, termasuk Usopp meski sensor kewaspadaannya tetap menyala.

Luffy mengambil nafas, lalu dia berbicara dengan nada agak halus, "Ini soal... Robin."

"Eh?" kata mereka berempat serempak.

"Jangan-jangan, Nico Robin merencanakan untuk mengkhianati kita lagi?" kata Franky tiba-tiba. Chopper terkejut mendengar perkataan Franky.

"Benarkah?" tanyanya gugup, "Benarkah Robin mau mengkhianati kita? Padahal kukira dia sudah jadi Robin yang baik, kok dia mau pergi lagi sih..." Kini Chopper mulai mengeluarkan air mata.

"Bukan," Luffy berkata dengan nada sedikit tinggi. Mereka berempat menatap kapten kapal mereka lagi. "Robin tidak salah apa-apa. Maksudku, entah bagaimana...ada sesuatu pada Robin. Setiap kali aku dekat dengan dia, dia seperti beda. Susah menjelaskan, tapi aku sepertinya mau terus bersama dengan dia, seperti dekat dengan Robin itu menyenangkan. Bahkan aku merasa tidak lapar lagi. Dan kalau dia merasa sedih aku juga seperti merasa sedih, dan aku tidak merasa ingin makan lagi. Dan kalau dia tidak ada di sini juga, rasanya aku tidak lapar, tidak senang." Luffy mengakhiri ceritanya. Chopper tetap kebingungan, tapi mulut Usopp, Franky, dan Brook menganga lebar.

"Mustahil..."

"Masa sih..."

"Yohohoho, benar-benar gawat..."

Chopper menatap ketiganya dengan muka takut. "Eh? Eh? Kenapa? Jangan-jangan Luffy sakit?"

Tiba-tiba air mata bercucuran dari muka Franky. Dia mulai menangis keras sambil memainkan gitarnya, "Uooo! Benar-benar pemandangan langka! Seumur hidup aku belum pernah menyaksikan seperti ini. Sangat, sangat hebat! Perasaan seorang manusia yang mampu mengalahkan perut..."

"Yohohoho, mari kita bermain musik untuk merayakan kebahagiaan ini!" Kini Franky dan Brook sama-sama memainkan instrumen musik mereka dalam duet cyborg-tengkorak paling aneh sepanjang masa. Chopper hanya membatu melihat mereka berdua, bingung apa yang terjadi.

"Usopp," tanya Chopper, "Luffy kenapa sih?"

Usopp, yang masih menganga, akhirnya menemukan kembali kontrol dirinya. Dia menatap Luffy dengan serius. "Luffy, kau memang ada masalah. Kau sedang sakit."

"Eh? Sakit? Sakit apa? Apa penyakitnya parah?" tanya Chopper tiba-tiba.

"Sakit? Tapi aku merasa tubuhku baik-baik saja kok," kata Luffy kebingungan.

"Tentu saja," ujar Usopp. "Kau sedang sakit cinta."

.

.

"Jadi menurutmu miniskirt cocok tidak untukku?" tanya Vivi.

"Entahlah," jawab Robin simpel. Matanya tiba-tiba tertuju pada pintu ruang makan yang terbuka lebar, menunjukkan penghuninya yang sedang ribut. "Mereka kenapa ya?"

"Sepertinya ada keributan. Dan entah kenapa, Luffy tidak terlalu ribut seperti biasanya, atau cuma perasaanku saja?"

Robin hanya mengangkat bahu. Sunyi sesaat, Vivi angkat bicara, "Hei, menurutmu Luffy bagaimana?"

"Hmm? Maksudmu?"

"Maksudku, apa pandanganmu tentang Luffy. Kalau aku sih, dia memang agak bodoh, juga pikiran lambat, tidak terlihat seperti sudah berusia 17 tahun, tapi terlepas dari semua itu, dia pemberani dan tidak pernah takut, selalu optimis. Menurutmu?"

"Aku juga sama," kata Robin. "Ditambah lagi, dia cukup tam–" Robin tiba-tiba menutup mulutnya ketika dia sadar dia hampir kelepasan ngomong. "Er, tadi aku bilang apa?"

Vivi buru-buru menggelengkan tangannya. "Tidak, tidak ada apa-apa," dusta dia.

"Oh, begitu," nada lega keluar dari bibir Robin walau hanya sedikit. Dalam hati Vivi tersenyum senang. 'Jadi begitu eh, Robin-kun. Berpura-pura dengan muka kalemmu, tapi aku tidak akan tertipu. Senang rasanya ada romantisme di kapal ini juga.'

.

.

"Sakit cinta?" tanya Luffy, tidak mengerti apa yang dimaksudkan Usopp.

"Benar Luffy, kau sedang jatuh cinta kepada Robin!" teriak Usopp dengan keras, diikuti Franky yang terus membanjiri ruang makan dengan air mata, dan Brook yang mulai menggesekkan biolanya dengan tempo cepat. Chopper hanya menatap rekannya dengan heran. Dia tidak ada ide sedikitpun apa yang sebenarnya sedang terjadi. Sementara Luffy juga sama. Dia menatap Usopp dengan mata bingung, kepalanya miring sedikit, tanda tanya muncul di atas kepalanya.

"Jatuh cinta? Apa itu?" tanya Luffy kepada dirinya sendiri.

Usopp memandang heran ke arah Luffy. Telinganya tidak percaya dengan apa yang didengar oleh dia. Dia mendekat ke Luffy, "Tadi kau bilang apa?"

"Aku bilang, apa itu jatuh cinta?"

"EH?" Usopp dan Franky terkejut. "Kau tidak tahu jatuh cinta itu apa?" Seumur hidup mereka, mungkin baru kali ini mereka melihat orang yang sepolos, atau kalau bisa dibilang sebodoh Luffy.

Tiba-tiba Usopp merasakan ada yang menarik lengan bajunya. Dia melihat ke arah orang tersebut, yang rupanya Chopper. "Usopp, aku juga tidak tahu jatuh cinta itu apa," kata dia dengan polos.

Usopp menghela nafas, berusaha mengendalikan diri. "Tidak masalah. Pokoknya yang terpenting, Luffy, kau suka dengan Robin. Kau mau bersama dengan dia, mau melihat dia senang, dan segalanya yang kau ucapkan tadi, berarti kau betul-betul suka, dan itu juga berarti kau jatuh cinta. Jatuh cinta berarti suka. Mengerti?" Luffy hanya mengangguk bego. "Nah, sekarang yang kau perlukan hanyalah menyampaikan perasaanmu kepada Robin. Dan itulah kegunaan kami," kata Usopp bangga sambil menunjuk dirinya sendiri.

Franky ikut menimpali, "Wahaha, benar, kita akan berusaha membuat Luffy berpasangan dengan Nico Robin! Ini pasti menyenangkan!"

"Yohohoho, aku ikut! Sepertinya seru sekali nih!" ujar Brook.

Usopp berteriak dengan nyaring, "Baiklah! Sudah diputuskan! Misi kru Topi Jerami kali ini adalah menjodohkan Monkey D. Luffy dan Nico Robin! Aye aye!" Franky dan Brook mulai berduet kolosal hancur-hancuran dengan penontonnya adalah Chopper yang terkesima dengan musik mereka, yang sebenarnya bagus kalau mereka main sendiri-sendiri, tapi entah kenapa jadi sumbang begitu mereka bermain bersama-sama. Luffy tetap saja bingung dengan apa yang terjadi, toh dia juga malas berpikir. Dia hanya memandang teman-temannya sambil menyantap daging miliknya. Sepertinya nafsu makannya telah kembali.

Setelah lama berpesta ria, Usopp kembali menghadap Luffy. "Nah, satu-satunya cara untuk menyembuhkan penyakit cintamu adalah dengan menyatakan perasaanmu kepada Robin. Dan untuk itulah gunanya kami sebagai temanmu. Kami akan membantu kau dalam menyampaikan perasaanmu." Muka Luffy mendadak sedikit ceria. Tentu bukan karena dia akan ditolong dalam menyampaikan perasaannya, tapi karena dia merasa apa yang akan dilakukan oleh Usopp pasti akan menarik. "Tenang saja, aku ini adalah ahli yang sangat berpengalaman dalam hal cinta. Dulu di desaku, aku sangat terkenal sebagai agen jodoh paling handal, dan semua orang selalu datang pada aku–"

'Ah? Kebohongan macam apa lagi tuh?" timpal Franky ketika mendengar bualan Usopp.

"–dan cara terbaik untuk kau adalah 3M," Usopp melanjutkan ceritanya, menghiraukan timpalan Franky. Luffy bingung mendengar perkataan Usopp. (A/N : Sepertinya aku membuat Luffy terlalu banyak kebingungan ya, maaf kalau ada yang tidak suka, lagian dia kan kapten kita yang polos^^)

"3M?"

"Ya, 3M. Mulai, Masuk, Maju. Ini adalah cara yang paling baik untuk orang yang belum mengenal cinta atau pun yang love sick akut. Pertama, Mulai. Ini adalah awal langkahmu dalam meyampaikan perasaan. Bagian ini penting, karena sekali gagal, susah untuk mengulang kembali. Pada bagian ini, kau harus mengajak orang yang kau suka – dalam kasus ini adalah Robin – dalam percakapan yang biasa, tapi bawalah hal-hal yang istimewa sedikit. Jangan sampai kau terlihat gugup, karena itu bisa membuat kesan kalau kau ada maksud tersembunyi. Bersikap biasa seperti hari-hari normal. Banyak orang yang gagal di tahap ini karena gugup atau kebingungan. Untuk mengatasinya, aku akan membantu bagaimana tips-tips yang baik pada saat Mulai," Usopp menjelaskan panjang lebar kepada Luffy. Sepertinya Luffy bias mengerti sedikit, karena mukanya tidak menyiratkan kebingungan lagi.

"Bagaimana caranya?" tanya Luffy penuh ingin tahu.

Usopp menjelaskan lagi, "Pertama, bawalah pembicaraan yang gampang, tidak menyusahkan, dan enak untuk diperbincangkan. Biasanya kau bisa memulai dengan mengatakan hal-hal di sekelilingmu, seperti cuaca."

"Ah, maksudnya seperti ngomong "Hari ini cerah, ya", begitu?" Franky menanggapi. Tapi Usopp menggelengkan kepalanya.

"Tidak, tidak. Itu sudah hal yang biasa, semua orang juga tahu hal itu. Lagipula, orang tolol juga tahu kalau hari ini hari yang cerah." Franky mendengus kesal mendengar perkataann Usopp yang dirasa mencelanya. "Nah, kalau mau yang lebih bagus, katakan seperti "Hari ini cuacanya lain ya" atau "Cerah sekali hari ini dibanding kemarin", yang penting buat apa saja yang kau mau." Luffy menganggukkan kepalanya lagi. "Nah, kalau sudah, tahap kedua adalah Masuk. Pada tahap ini, ajak dia dalam situasi yang spesial, yang benar-benar berbeda dan terutama, romantis. Pokoknya ajak dia dalam pembicaraan yang lain, dan buat dia menjadi seperti spesial. Untuk kasus Robin, ya, misalnya buat dia tertawa." Tiba-tiba terdengar dengusan dari belakang Usopp.

"Ah? Membuat Nico Robin tertawa? Memangnya bisa?" kata Franky tidak percaya. Usopp menghiraukan Franky lagi.

"Jika tahap ini sudah selesai, lalu masuk ke tahap yang paling akhir dan paling penting, yaitu Maju. Di sini kau harus tembak dia, ungkapkan perasaanmu, dan yang terakhir,yang paling penting dari semuanya, katakan kata sakral itu, yaitu..." Usopp menundukkan kepalanya, membuat efek dramatis ditambah dentuman drum dari Franky, "'aishiteru'!" Luffy hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Usopp menghadap Luffy dengan tatapan tajam lagi. "Nah, sekarang kita coba latihan, setelah itu kau mulai tembak Robin..."

.

.

"Ingat, Luffy, 3M!" Mulai, Masuk, Maju!" kata Usopp penuh semangat kepada Luffy. Mereka kini bersembunyi di balik dek. "Lakukan apa saja kata-kataku, dan kau akan terbebas dari sakit cinta. Mengerti?"

"Oke deh," Luffy membalas dengan ceria, seolah tidak tahu betapa serius situasi yang akan ditemui nanti. Dengan muka ceria, Luffy berjalan menuju ke tempat Robin berada, yaitu di pinggir pagar dek kapal. Dia sedang asyik membaca buku, seperti biasanya, dengan ditemani semilir angin laut. Dia memakai T-shirt berkerah abu-abu dan celana panjang hitam. Kacamata hitam menghiasi mata hitamnya. Luffy tersenyum sendiri tanpa sadar begitu melihat Robin.

Di balik dek, Usopp merenung sendiri. "Kenapa Luffy bisa begitu tenang dalam situasi seperti ini?" tanyanya.

"Mungkin karena dia memang idiot yang lagka. Coba dipikir lagi, dia bahkan tidak tahu apa itu jatuh cinta," timpal Franky.

"Yohoho, rasanya indah sekali melihat anak muda yang sedang jatuh cinta. Jadi ingat masa muda," kata Brook dengan penuh gairah.

Chopper hanya mengikuti apa yang terjadi, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya sedang berlangsung. Matanya tiba-tiba menangkap kerang kecil bentuk aneh di tangan Usopp. "Usopp, itu kan Vision Dial. Memangnya kau mau ambil gambar apa?" tanya Chopper. Usopp langsung kelabakan.

"Er...ini, ini...bukan apa-apa kok," jawab Usopp segera, berusaha menyembunyikan gugupnya. Sementara itu, Luffy sudah menghampiri Robin.

"Hai, Robin," sapa Luffy dengan ramah. Robin mendongakkan kepalanya dari buku di hadapannya, dan senyum kecil mengembang di bibirnya melihat siapa yang memanggil dia tadi.

"Hai Luffy. Ada apa?"

"Ah tidak." Sunyi sesaat. "Hei, cuaca hari ini bagus ya?" kata Luffy lagi, berusaha meretakkan kesunyian yang ada.

Robin melihat ke arah Luffy dengan heran. Sejak kapan dia jadi bicara soal cuaca? "Ya, begitulah?" jawab Robin singkat, lalu mereka terdiam lagi.

Di balik dek, Usopp, Chopper, Franky, dan Brook terus mengawasi – atau lebih tepatnya, mengintip – kegiatan Luffy dan Robin. Usopp tentu saja melihat bagaimana kakunya suasana di sana. Dia berpikir keras bagaimana caranya mencairkan suasana.

"Usopp, kayaknya Luffy gagal deh, menurutmu bagaimana – Usopp?" Chopper melihat ke arah Usopp, yang sedang berpikir keras. Dipanggil, Usopp secara refleks berbalik ke arah Chopper. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya begitu melihat cerpelai kecil itu. Dia memanggil Chopper, "Chopper, ke sini dulu sebentar." Chopper menurut dan mendekat ke arah Usopp. Tanpa diduga, dengan refleks cepat dia menjepitkan penjepit di hidung biru Chopper, lalu mendorongnya keluar dari tempat persembunyian mereka.

"Aahh!" teriak Chopper dalam kesakitan. Sontak Robin dan Luffy menolehkan kepala ke arah Chopper. Mereka segera berlari menghampiri Chopper.

"Daijobu, Chopper?" tanya Robin dengan penuh kekhawatiran, sambil melepaskan penjepit dari hidung Chopper. Chopper masih meringis kesakitan. Dia melihat Usopp di tempat persembunyian menyilangkan kedua tangannya, tanda agar menyuruh Chopper diam. Chopper membalas dengan mendengus kesal secara pelan.

"Da-daijobu," jawab Chopper pelan, membuat Robin lega. Dia mengusap hidung Chopper pelan dengan keibuan, sementara Luffy melihat dengan seksama.

.

.

"Kenapa kau lakukan itu?" tanya Franky kepada Usopp.

"Supaya suasana antara Luffy dan Robin mencair, tadi mereka terlihat tegang. Tentu itu tidak bagus buat acara 'tembak'-nya, kan?" jawab Usopp simpel. Tanpa disadari, Chopper sudah kembali, dalam wujud manusia, mengendap dari belakang Usopp, dan memukul kepala si hidung panjang ini sekerasnya.

DUAK!

"Aduhh!" erang Usopp, mengelus kepalanya yang dipukul.

"Apa maksudmu, Usopp? Menjepit hidungku dengan penjepit itu, lalu tiba-tiba melemparku ke luar dek begitu saja!" teriak Chopper penuh kejengkelan.

"Hei, dengar dulu, aku bukannya bermaksud mengerjaimu, hanya saja itu kan supaya rencana kita menjodohkan Luffy dan Robin sukses, jadi aku haru berpikir sesuatu, kau tahu, dan itu hanya yang bisa kupikirkan tadi," Usopp menjelaskan panjang lebar. Tapi dia heran melihat ubun-ubun Chopper bertambah banyak.

"Maksudmu aku ini tumbal, hah?" tanya Chopper lagi dengan penuh kemarahan, bersiap menghajar Usopp lagi.

"U...uwaaa! Tolong! Bukan begitu maksudku, Chopper! Aku hanya–"

"AHAHAHA!"

Mereka berempat, terhenyak dengan suara tertawa yang belum pernah mereka dengar, secara refleks menoleh ke arah suara. Di sana, Luffy sedang asyik bercerita dengan mimik wajah lucu, dan di samping dia, Robin yang mendengarkan denagn serius, tertawa mendengar cerita Luffy yang lucu.

Dan reaksi mereka? Tentu saja menganga kaget, terutama Franky.

.

.

"Ahaha...terus, bagaimana?"

"Setelah itu, aku dan Ace pergi ke hutan yang menyeramkan, mencari Sabo. Tapi tiba-tiba ada monster datang dari belakang kami, jadi kami lari ketakutan. Pas sudah sampai di luar hutan, monster itu masih mengejar kami, jadi kami terus saja lari ke rumah Dadan. Di sana, kami dimarahi Dadan karena pulang telat. Dan ternyata monster itu masih mengikuti kami. Pas dia tepat di depan rumah, kami mengintip, rupanya itu banteng dan di atasnya ada Sabo, yang tertawa keras. Dan Dadan juga lainnya ikut tertawa. Rupanya mereka mengerjai kami. Jadi kami membalas dengan menghancurkan seisi rumah, dihukum lagi deh oleh Dadan. Muka Ace paling parah, dia kena tepung dan telur, jadi kayak adonen kue yang ditempel di mukanya."

Robin tertawa lagi mendengar cerita Luffy. Luffy tersenyum sendiri dan melanjutkan cerita. Dia sebenarnya sudah lupa apa langkah selanjutnya – dugaan kuatnya, M kedua adalah "Makan" – jadi dia menceritakan soal makanan, yang entah kenapa di tengah-tengah cerita justru mengarah ke cerita masa kecilnya. Tapi sepertinya ini berhasil, sih. Luffy berhasil mendapatkan perhatian Robin.

Setelah bercerita sekian lama, tiba-tiba sesuatu di kepala Luffy mengatakan, 'Ini saatnya untuk ke tahap terakhir,' jadi dia berhenti bercerita dan menggarukkan kepalanya, berpikir apa yang dibilang Usopp tadi. 'Tadi dia bilang apa ya, yang terakhir... kalau tidak salah tentang mundur, ya...atau, kayaknya ada juga soal tembak dan apa lagi...'

Robin memperhatikan Luffy yang terlihat gelisah, jadi dia mendekat dan bertanya dengan nada khawatir, "Luffy, ada apa? Kau terlihat gelisah."

Luffy melihat ke arah Robin. Dia buru-buru menggelengkan kepalanya. "Ah, tidak, tidak ada apa-apa, hanya saja..."

"Hmm? Apa?" tanya Robin penuh ingin tahu.

"Anu, itu..." Tiba-tiba ada gelombang besar menghantam Thousand Sunny. Kapal bergerak dengan kasar, kehilangan keseimbangan dan miring sedikit ke arah samping. Robin kehilangan keseimbangan dan dia hampir terjatuh ke arah laut, jika saja Luffy tidak bereaksi cepat dengan melingkarkan tangannya di pinggang Robin, mencegah dia jatuh.

.

.

"Uwooo!" Franky dan Brook bersorak melihat "keromantisan" antara Luffy dan Robin. Chopper melihat dengan mata berbinar cerah. Dan Usopp...

Dia memotret setiap sudut dari pemandangan di hadapannya dengan cepat.

.

.

"Lu-Luffy?" Robin terpana melihat kaptennya melingkarkan lengannya di tubuhnya, kedekatan fisik tubuh mereka, mata hitam yang menunjukkan penuh perhatian dan kekhawatiran, dan dia bisa merasakan radiasi kehangatan dari tubuh manusia karet itu. Tapi dia masih bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya dengan baik.

'Daijobu?" tanya Luffy, melepaskan tangannya dari Robin, yang sudah bisa mengatur keseimbangan tubuhnya. Robin mengangguk pelan, wajahnya kembali seperti biasa – kalem, tanpa emosi, dan juga agak cute, atau setidaknya yang dipikirkan Luffy yang polos.

"Jadi, apa yang tadi kau mau katakan?" tanya Robin lagi.

Luffy kaget mendengar pertanyaan Robin, tidak menyangka dia masih mengingatnya. "Ah, anu, itu..." Sial! Apa, sih, yang tadi dikatakan Usopp, kalau tidak salah maju, apa mundur, tapi kayaknya ada juga soal tembak...masa aku disuruh membunuh Robin? Tapi katanya ada yang paling penting, kalau tidak salah...aha!

"Aku tahu!" teriak Luffy dengan muka ceria, lalu menghadap Robin dengan sarius, seperti apa yang diajarkan Usopp. "Robin..."

"Ya?" tanggap Robin dengan tersenyum kecil. Sementara itu, Usopp, Chopper, Franky, dan Brook terus memperhatikan mereka dengan tajam, berusaha melihat setiap momen dengan baik.

Luffy berusaha mengucapkan "kata" itu, tapi entah kenapa terasa susah sekali keluar dari mulutnya. "Er...aishiteru?" kata Luffy ragu-ragu, tidak terlalu paham apa yang harus dilakukan selanjutnya. Usopp dan Franky menepuk dahi mereka, tidak percaya dengan apa yang dilakukan Luffy. Tapi yang paling mengejutkan adalah reaksi Robin. Begitu mendengar perkataan Luffy, sontak dia sangat kaget. Dia membiarkan topeng di wajahnya jatuh. Mukanya memerah cerah.

"Na-nani?" tanya Robin, tidak percaya dengan apa yang tadi didengarnya.

"Aku bilang a–aahh, shimaa~~~" teriak Luffy penuh kesenangan, berlari ke pinggir kalap, berusaha melihat bayangan pulau yang samar-samar ditutupi awan kabut. Sementara itu, Robin tersenyum sendiri melihat tingkah Luffy.

xxxxxxxxxxxx bersambung xxxxxxxxxxxxxx


Extra chapternya sudah selesai. Huah... lelah juga. Ini adalah kali kedua ya, di cerita "Navigator's Boyfriend" yang panjangnya 14 halaman! Tapi buat kalian readers, aku sih lanjut dengan santai. Mungkin chapter 13 bakalan telat keluar lagi, karena banyak sekali tugas sekolah yang menumpuk, dan aku juga harus menyelesaikan "utang" update fic lain yang ditinggalkan terus. Jangan sedih ya... tapi cerita ini akan menjadi prioritas utamaku saat ini, jadi aku tetap akan melanjutkan. Tunggu saja.

Review ya! Berikan segala tanggapan, kritik atau saran. Apakah ceritanya OOC lagi, karena memang membuat cerita romantis di OP lumayan susah susah gampang, atau ada misstypo, dan lainnya. Menurutku, mungkin pas Luffy menceritakan perasaannya kepada Robin yang OOC, karena aku tidak tahu bagaimana membuat jalan pikiran orang yang polos dan bego ^^, kalian readers bagaimana?

Sekian dan terima kasih!

Review response :

Nar-Ice : Sama-sama, aku terima ucapan terima kasihmu. Oki doki, ini chapter selanjutnya.

bountyvocca : Wah, terima kasih kamu (atau kalian, karena ini kan akun collab? ^^) mau singgah di fic gaje ini. Yeah! Sesama fans ZoNa harus saling bertukar review ya... ^^

koizumisevty : speechless ya... tapi nggak apa-apa. Kutunggu reviewnya!

edogawa luffy :Tau aja lah, siapa yang ditemui Zoro dan Nami. Dan usul pairingnya, SanVi, kok pikiran kita sama ya? Aku memang rencana memakai pairing ini, kecuali ada yang minta UsoVi, kubuat pairing itu he he...

eleamaya : Akhirnya ada yang benar-benar review soal OOC! Jangan salah sangka, aku memang suka juga kok kalau dikritik, soalnya aku jadi tahu kesalahanku. Ah, terima kasih sebelumnya, karena kamu menganggap LuVi dan KoVi di ceritaku yang lain, serta ZoNa di cerita ini tidak OOC. Memang Robin agak OOC sih. Tapi memang kayaknya karena aku belum buat cerita soal LuRo. Mungkin chapter ini bisa memuaskanmu.

Ririn Cross : Ung..oke *menurunkan kitetsu* toh si pemiliknya juga sudah protes, karena belum dibalikin pedangnya. Oke deh, buat ZoNa kutambah romancenya.

Mugiwara piratez : Wah, jadi aku bisa ambil kesimpulan, kau suka dengan petualangan dan aksi di cerita ini? Mantap. Memang cerita tentang One Piece lebih segar kalau tentang petualangan ya. Setuju?

Melody-Cinta : Begitu? Kemampuanku menurun? Memang aku sadar, soalnya sudah lama aku juga tidak menulis fic lagi, beda ketika pertama kali, rasanya semangat sekali. Jujur menurutku gaya penulisanku yang dulu lebuh bagus, mungkin nkarena sekarang aku lebih banyak menjawab soal dan PR daripada menulis fic. Tapi aku akan berusaha mengembalikan kemampuanku. Dan entahlah, apa Robin bantu Vivi atau tidak...

rin kage no kurokaze : ini chapter selanjutnya. Hei, temanmu datang tuh! Bilang hai sama ricuchan! *lebay mode on*

Cendy Hoseki : Terima kasih ya, sudah mereview. Senang deh dipuji oleh kamu.

LunaticV : Ah, sebenarnya, jika dilihat baik-baik di chapter 10, aku bilang sih pairing lain boleh dipilih, kecuali Zoro/xxx dan Nami/xxx, berarti tidak boleh ada pairing yang mengandung Zoro atau Nami yang lain. Jadi sebenarnya sih kayak ZoRo tidak bisa lagi, tapi toh, bukankah semua pembaca di sini datang untuk ZoNa? ^^ Hmm...coba kita lihat, siapa tahu dengan chapter ini, kamu jadi suka ama LuRo.

ricuchan : Selamat datang di chapter ini! Hmm, ZoNa-nya membingungkan kenapa ya? Trus LuRo-nya memang baru di chapter ini muncul. Pokoknya, terima kasih sudah mereview!

Extra chapter selanjutnya :

Rencana pertama gagal, bukan berarti Usopp berhenti begitu saja. Misi menjodohkan Luffy dan Robin berlanjut. Dan kali ini, mereka mendapatkan bantuan. Siapakah orang yang dimintai bantuan itu? Dan berhasilkah mereka?