A/N: Halo… Aku sedang dalam libur UTS (Cuma 4 hari sih, pft) well, UTS-ku bisa dibilang lumayan lancar karena ada satu matkul yang udah ketauan nilainya cuma B+ (sedih tapi bersyukur banget sih, I have mixed feelings about this). But anyway, karena kegabutan di kos dan aku lagi kehabisan stok anime, aku memutuskan untuk menuntaskan update kali ini lebih cepat hehe. Doakan UTS ku yang lain lancar jaya nilainya bagus ya hahaha, aamiin…
Anyway, kalau ada kritik dan saran bisa disampaikan di review, atau bisa PM, atau bisa lewat media sosialku yang lain, hahaha. Happy reading~
oOoOoOo
Shion melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil berdecak kesal. Gaun cantik berwarna broken yellow yang ia kenakan tidak membuatnya senang sama sekali. Padahal jujur saja, ini merupakan gaun favoritnya.
Semuanya adalah karena Uchiha Sasuke.
Pria tampan itu adalah idola semua wanita. Wajahnya sering terpampang di majalah bisnis dan akun penggemarnya. Siapa yang tidak akan jatuh cinta padanya yang sudah sukses dalam bisnis dan tampan? Sepertinya wanita yang akan menikahinya adalah wanita yang nyaris sempurna atau luar biasa beruntung.
Shion sudah berkecimpung di dunia peran dan tarik suara sejak ia kecil. Menjadi salah satu brand ambassador produk MI adalah suatu prestasi tersendiri baginya. Uchiha Group tidak akan memilih sembarang public figure untuk menjadi bagian dari bisnisnya. Saat itu, Shion senang bukan main. Imajinasinya sudah berjalan jauh, memikirkan kemungkinan untuk bisa bertemu dan menjalin sebuah hubungan yang romantis dengan cucu dari Uchiha Madara tersebut.
Ketika Shion pertama kali melihatnya secara langsung dalam anniversary M&I yang ke-3, Shion langsung jatuh cinta. Dia tidak akan bisa melupakan mata onyx yang dalam dan cantik itu. Dia bahkan tidak peduli dengan rumor yang mengatakan bahwa Uchiha Sasuke adalah seorang gay. Itu hanyalah omong kosong baginya.
Karena dia percaya bahwa suatu saat Sasuke akan menyadari keberadaannya.
Setidaknya, dia mempercayai itu sampai beberapa jam yang lalu. Sekarang, hatinya sudah hancur berkeping-keping dan terbakar dalam api cemburu dan amarah.
Beberapa jam yang lalu, atasannya meneleponnya untuk segera datang ke The Grand Uchiha Hotel. Shion pikir tadinya ada rapat dadakan untuk para brand ambassador, tapi atasannya memintanya untuk mengenakan pakaian terbaik dan berpenampilan sebaik mungkin.
Dan ditengah perjalanan, ia baru tahu kalau ia akan menghadiri pesta pernikahan Uchiha Sasuke. Pesta pernikahan pria idamannya.
"Shion-chan, kau harus berhenti menautkan alismu seperti itu. Berhenti menekuk wajahmu. Dimana Shion yang menjadi 'adik' negara ini?"ujar Manager-nya, berusaha menghibur Shion.
"Ini semua terlalu mendadak! Aku yakin ini semua hanyalah kebohongan entah untuk urusan apa! Hari ini adalah hari kerja dan tiba-tiba saja undangannya sampai kepadaku!"gerutu Shion sembari mengambil tisu untuk mengelap air matanya yang tiba-tiba turun.
"Ah.. sesungguhnya itu undangan untuk Tuan Ma, atasanmu. Beliau tidak bisa hadir karena ada acara penting lainnya. Undangan itu sampai dua hari yang lalu."
Ucapan sopirnya sama sekali tidak membantu. Shion jadi semakin ingin menangis. Itu berarti seharusnya dia bahkan tidak bisa hadir dalam pesta tersebut.
"Kupikir aku sudah semakin dekat dengannya, tapi ternyata…"
"Sudahlah…" Miwa meletakkan tangannya di pundak Shion. "Kau pasti akan menemukan lelaki yang lebih baik daripada Uchiha Sasuke."
"Siapa yang lebih baik daripada dia?!"seru Shion tiba-tiba, membuat Miwa salah tingkah. "Oh, sudahlah. Jadi, gadis seperti apa yang luar biasa beruntung ini?"
"Entahlah, tapi kurasa beberapa orang yang hadir di upacara pernikahan mereka sudah melihat gadis beruntung itu. Kurenai-san mungkin tahu."
Oh, Yuhi Kurenai. Aktris papan atas yang juga menantu dari salah satu politisi penting di sini. Tidak heran kalau seniornya itu diundang ke tiap acara penting. Beruntung, Shion terbilang cukup dekat dengannya. Mungkin Shion bisa banyak bertanya padanya nanti. Kurenai juga sebenarnya tahu betapa Shion sangat mengagumi Uchiha Sasuke.
Mereka sampai di hotel tersebut, dan sudah ada karpet merah yang menunggu. Acara ini benar-benar megah, sepertinya. Mobil Shion berhenti dan Shion menginjakkan kaki di karpet merah yang cantik itu. Sudah ada banyak reporter yang sibuk memotret dan mengajukan banyak pertanyaan. Shion hanya memberi mereka senyuman terbaik.
Begitu masuk ke bagian dalam gedung, Shion segera disambut oleh seorang panitia. Ia membantu Shion untuk menuju ballroom terbaik di hotel tersebut. Tempat yang sangat megah dan hanya sebagian orang yang bisa menyewanya. Oh, Shion pernah bermimpi untuk merayakan hari pernikahannya bersama Uchiha Sasuke di sana.
Sayangnya itu semua tidak akan menjadi kenyataan.
Hanya orang tertentu yang bisa mengakses lantai tersebut, karena itu setiap tamu akan didampingi seorang panitia yang memegang akses. Shion yakin penjagaannya akan sangat ketat.
Ketika Shion masuk ke dalam ballroom, Shion harus menahan diri untuk tidak membuka mulutnya lebar-lebar. Ballroom itu sangat luas dan mewah. Ada banyak lampu kristal namun lampu kristal utama sangat besar dan indah. Warna yang mendominasi adalah putih, emas dan hijau. Warna hijau berasal dari tanaman hias yang ada di tiap meja dan beberapa tempat tertentu. Pencahayaannya begitu luar biasa indah. Shion juga melihat sebuah lambang khusus tepat di tengah lantai ruangan. Sepetinya itu inisial, S dan S. Oh, inisial gadis itu adalah S. Andai saja S itu adalah S untuk Shion. Well, yang pasti, ini tidak akan kalah dari royal wedding manapun.
"Ah, Shion-chan." Kurenai mendekatinya. Sheath dress berwarna maroon dipadukan dengan heels berwarna perak, ditambah dengan clutch berwarna perak keluaran brand ternama. Sebuah tampilan yang sangat elegan dan cocok untuknya. Rambutnya juga ditata dengan style updo yang sangat cantik.
"Kurenai-san. Kau terlihat cantik, seperti biasanya."
Kurenai tertawa kecil. "Umur tidak bisa berbohong Shion-chan. Gadis muda sepertimu tentu saja lebih menarik." Betapa Shion tahu bahwa itu hanyalah basa-basi belaka. "Ah, kuharap kau tidak sedih dengan kabar mendadak ini."
Shion tersenyum. "Aku tidak sefanatik itu, kok." Jelas, dia berbohong. "Omong-omong, orang seperti apa dia?"
"Maksudmu mempelai perempuannya?" Seorang pelayan menawari keduanya minuman dan mereka mengambil segelas. "Dia sangat cantik, dan warna rambutnya tidak biasa. Tapi aku rasa dia bukan seseorang yang terkenal. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya."
Oh, berarti gadis itu sangat beruntung.
Mereka berbincang tentang hal lainnya untuk beberapa saat sebelum Master of Ceremony meminta mereka semua untuk fokus pada mempelai yang akan segera memasuki ruangan. Shion dan Kurenai berjalan mendekat agar bisa melihat dengan lebih jelas.
Saat itulah Shion melihat Uchiha Sasuke berjalan bersama gadis berambut merah muda. Shion mengakui bahwa gadis itu cantik, tapi tidak luar biasa. Bentuk tubuhnya juga bagus, tapi tidak luar biasa. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan senyum yang menghiasi kedua wajah mereka.
Uchiha Sasuke, tersenyum. Shion merasa hatinya seperti ditusuk sebuah jarum. Pria itu terlihat jauh lebih tampan, tetapi dia tersenyum karena perempuan lain.
Di belakang mereka ada keluarga Uchiha yang lengkap. Uchiha Madara, Uchiha Mikoto, Uzumaki Karin, serta Akasuna no Sasori dan Yamanaka Ino, tunangannya. Sepertinya keluarga dari pihak perempuan hanya tiga orang. Seorang wanita berambut hitam yang menggandeng anak kecil berambut merah muda dan seorang wanita lain berambut blonde yang mengenakan kimono. Wanita berambut blonde itu terlihat sangat cantik, dan tubuhnya bisa dibilang luar biasa seksi. Shion cukup iri dengannya.
Kedua keluarga duduk di kursi paling depan sementara yang duduk di panggung hanyalah kedua mempelai. Shion kira acara akan segera dimulai seperti biasanya, dengan kata sambutan dan lain sebagainya, tetapi ternyata ada sebuah kejadian yang luar biasa.
Kedua mempelai meminta seseorang naik ke panggung, kemudian wanita berambut hitam bersama dengan gadis kecil itu naik ke panggung. Shion kira mempelai wanita butuh bantuan mengenai pakaiannya, tapi ternyata tidak. Wanita berambut hitam turun setelah membantu gadis kecil itu duduk diantara kedua mempelai.
"Kenapa gadis kecil itu duduk disana?"tanya Shion.
Kurenai terlihat tidak nyaman, namun ia menjawab, "Kau tahu? Dia adalah anak dari mereka berdua."
Shion menutup mulutnya dengan satu tangan. "Astaga, kau serius?"
Kurenai mengangguk. "Begitulah yang kudengar dari upacara pernikahan mereka. Ini memang sangat mengejutkan, entah apa yang akan dipikirkan masyarakat selanjutnya. Kuharap ini tidak akan berdampak buruk pada perusahaan mereka."
Shion tidak bisa fokus ada apapun yang terjadi selanjutnya. Perasaan dan pikirannya bercampur aduk. Jadi, alasan kenapa Uchiha Sasuke tidak pernah terlihat menjalin hubungan dengan siapapun adalah karena dia sudah punya hubungan rahasia dengan wanita lain, dan mereka sudah punya anak yang sudah sebesar itu?
Tapi ini semua sangat tiba-tiba. Dan kenapa tidak ada satupun berita atau gossip mengenai hal ini? Paparazzi yang mengikuti Uchiha Sasuke itu cukup banyak, mana mungkin tidak ada satu pun yang pernah menangkap momen kebersamaan mereka? Bahkan Uchiha Itachi pernah tertangkap kamera sering mendatangi sebuah bar, dan dikabarkan di sana adalah tempatnya bertemu dengan kekasih rahasianya.
Memang itu ternyata hanya sebuah rumor belaka, tapi setidaknya seseorang pernah menangkap momen itu.
Atau jangan-jangan ini hanyalah skenario dengan tujuan tertentu?
"Shion-chan!"
Shion terkejut, dan tersadar dari lamunannya. Di hadapannya, gadis kecil tadi sedang menatapnya dengan pandangan kagum. Well, Shion memang salah satu idol yang menjadi idola anak-anak, dan sepertinya putri kecil dari grup raksasa Uchiha ini juga salah satu penggemarnya.
"Ah, halo."sapa Shion sambil mencoba tersenyum ramah. "Siapa namamu?"
"Ayumi. Haruno Ayumi."jawabnya sambil membalas uluran tangan Shion. Mereka berjabat tangan dan gadis bernama Ayumi itu terlihat sangat senang.
"Haruno? Bukankah kau anak dari Uchiha Sasuke-san?"tanya Shion.
"Ah, Kaa-chan memang menyuruhku untuk menjawab 'Uchiha Ayumi' saat ditanya begitu. Aku lupa, hehe. Namaku Uchiha Ayumi."
Kalau dipikir-pikir, sepertinya keberadaan anak ini memang dirahasiakan dulu, entah untuk alasan apa. Ah, Shion jadi sangat penasaran! "Dulu, dimana kau tinggal, Ayumi-chan?"
Gadis kecil itu terlihat berpikir sejenak. "Umm, maksudnya sebelum aku dan Kaa-chan pindah? Aku hapal alamatnya, Kaa-chan sudah mengajarkanku untuk menghapal alamat!"
Oh, gadis ini terlihat cukup pintar. "Benarkah? Hebat! Jadi dimana tempatmu tinggal?"
"Untuk apa kau tahu, Shion-san?"
Seketika, Shion merasa gugup. Shion segera berdiri, memperbaiki posisinya yang tadi berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan Ayumi. Uchiha Sasuke ada di hadapannya dengan tatapan dinginnya yang biasa. Tidak ada senyuman, dan dia terlihat lebih berbahaya. Oh, pria ini sepertinya mendengar pertanyaan Shion tadi. Pertanyaan itu memang ditujukan agar Shion bisa memeriksa latar belakang mereka. Shion tidak menyangka ia akan tertangkap basah oleh Uchiha Sasuke.
"Um, aku hanya mencoba untuk berbicara dengannya…"
"Kau bisa menanyakan hal lain, kau tahu itu. Jika kau ingin tahu tentang kediaman Uchiha, buka ponselmu dan carilah. Atau kau punya tujuan lain?"
Untungnya tidak ada banyak orang di sekitar mereka, Shion tidak ingin merasa lebih malu daripada ini. "Tidak, aku…"
"Sasuke!"
Sang mempelai wanita datang dan dia tersenyum ketika melihat Ayumi di samping Sasuke. "Untunglah kau menemukannya. Ino sudah hampir histeris karena kehilangan Ayumi." Dia mengalihkan pandangannya pada gadis kecil yang kini sudah memeluknya. "Kenapa kau tiba-tiba menghilang, Ayumi?"
"Aku melihat Shion-chan!"
Istri dari Uchiha Sasuke itu tersenyum padanya. "Ah, maaf merepotkan. Dia memang sangat menyukaimu."
"Ah, ya tidak apa-apa. Senang mendengarnya."jawab Shion canggung.
"Sasuke, Ibu mencarimu. Ayo kita pergi."ucapnya kemudian sembari berjalan menjauh dan diikuti oleh Ayumi.
Sasuke berdeham. "Aku minta maaf karena tiba-tiba bersikap tidak sopan. Kuharap kau bisa memaafkanku." Sebelum lelaki itu berbalik, ia berkata "Kau bisa mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalamu beberapa hari lagi."
Oh, Shion akan sangat menunggu hari itu.
oOoOoOo
Sakura sedang duduk di tempat tidurnya sembari bersandar pada headboard. Di tangannya terdapat sebuah majalah terkemuka yang memuat artikel tentang dirinya, Ayumi, dan juga keluarga Uchiha. Hari pernikahannya adalah hari dimana ia resmi membohongi seluruh dunia. Mulai saat ini ia harus lebih berhati-hati lagi.
Dua hari setelah hari pernikahan mereka, keduanya datang ke hotel dan menempati salah satu kamar terbaik untuk wawancara. Temari, yang ternyata juga kenalan Sasuke, adalah orang yang mewawancarai mereka. Sasuke memilihnya karena Temari adalah orang yang paling dapat dipercaya. Ia tidak ingin mengambil resiko kemungkinan berita yang dimuat di majalah akan ditambah dengan rumor yang tidak-tidak.
Sakura membaca artikel mengenai mereka yang ternyata memenuhi sekitar lima halaman dari majalah itu. Foto pernikahan mereka juga tercetak dengan jelas, beserta beberapa orang penting yang menghadiri acara tersebut.
Artikel tersebut sesungguhnya hanya berisi tentang semua skenario mereka dari awal hingga hari tersebut. Tentang bagaimana mereka bertemu, bagaimana mereka akhirnya memutuskan untuk go public, dan bagaimana harapan mereka kedepannya. Untungnya, artikel tersebut dapat meredakan pertanyaan masyarakat yang membludak sehari setelah pernikahan mereka.
Sakura sudah melihat beberapa komentar negatif di foto-foto yang diunggah Ino, dan dia juga melihat beberapa orang yang meminta agar Ino memberi mereka klu. Tentu saja Ino tidak menanggapi mereka dan langsung menonaktifkan kolom komentar. Ino tidak ingin ambil pusing dengan hal tersebut dan lebih fokus pada kliniknya yang sedang ramai.
Sakura juga mendapat banyak telepon dari tetangga-tetangganya dulu, dan dia menjawab mereka dengan jawaban seadanya. Sakura tidak ingin dianggap sombong, tetapi juga tidak ingin terlalu mengekspos kehidupannya yang sekarang. Itu beresiko. Dan tentu saja, Uchiha Mikoto tidak akan menyukai dia yang dekat dengan orang-orang dari kehidupannya dulu.
Ayumi akan masuk sekolah mulai esok hari. Sakura dan Sasuke sudah setuju untuk mengantarnya bersama. Hal itu juga untuk memberi tambahan bumbu pada skenario mereka. Ayumi sudah didaftarkan di sekolah terbaik dengan penjagaan yang baik, tetapi Madara masih memberikan penjagaan tambahan. Dia tidak ingin Ayumi mengalami masalah.
Ponsel Sakura berbunyi, menandakan ada notifikasi yang masuk. Wanita itu mengeceknya dan ternyata itu dari salah satu media sosialnya. Ya, Sakura memutuskan untuk membuat akun baru. Hal itu juga menjadi bagian dari rencana, tentunya. Dengan begitu, kehidupan mereka tidak akan terlalu misterius, dan Sakura bisa memperlihatkan kebersamaan mereka agar opini masyarakat terhadap mereka semakin membaik. Menurut Mikoto, ini juga penting untuk menunjang posisi Sakura sebagai Nona Muda Uchiha. Sakura butuh tempat untuk menyalurkan pendapatnya tentang kondisi-kondisi tertentu, dan juga untuk mengabarkan kegiatan mengenai bisnis mereka.
Sakura membuka media sosialnya, dan ternyata isinya hanyalah notifikasi tentang orang yang baru saja mengikuti akunnya dan berkomentar. Orang tersebut juga bukanlah orang yang ia kenal. Sakura hanya mengunggah foto pernikahannya dan sudah ada banyak sekali yang berkomentar. Sebagian besar memuji dirinya dan sebagian lagi menghujat penampilan dan bagaimana seorang dari keluarga biasa-biasa saja sepertinya dapat merebut hati Sasuke. Oh, bahkan ada yang mempertanyakan pekerjaan lamanya.
Sesungguhnya, Sakura sudah memberi penjelasan saat diwawancara oleh Temari. Dia bekerja keras karena ia memang suka bekerja dan tentunya agar tidak ada yang mencurigai dirinya. "Jangan sampai orang melihatku tidak pernah bekerja tapi hidup enak." Itu yang dikatakan Sakura dan seharusnya itu sudah cukup. Tetapi ada banyak orang yang masih membuat teori-teori tidak jelas.
"Sedang apa?"
Sakura menatap Sasuke yang kini telah duduk di sampingnya. Lelaki itu menatap layar ponsel Sakura lalu menghela nafas. "Kalau bukan karena perintah Ibu, kurasa kau tidak akan mau berurusan dengan hal seperti itu."
"Tentu saja, Sasuke, tentu saja."ucap Sakura sembari mengunci layar ponselnya dan meletakkannya di nakas. Sakura memperbaiki posisinya, ia kini berbaring sepenuhnya, sudah siap untuk tidur pulas.
Laki-laki disampingnya masih mengerjakan sesuatu pada tabletnya. Itu mengingatkan Sakura terhadap malam setelah pesta pernikahan mereka. Mereka sangat kelelahan dan langsung tertidur pulas. Malam berikutnya, ketika Sakura sudah berpikir mereka mungkin akan melakukan sesuatu, ternyata mereka tidak melakukan apapun. Sasuke mengerjakan pekerjaannya dan Sakura tidur.
Entahlah, dengan berbagai kejadian yang lalu, Sakura mengira akan ada sesuatu yang berbeda antara dia dan Sasuke, tapi tenyata mereka masih sama saja. Sikap Sasuke memang lebih baik dan ramah padanya, tapi tidak ada hal lain selain itu. Mereka hanya sebatas partner. Sakura mungkin sempat melupakan fakta itu.
"Besok kita harus berangkat lebih pagi, jangan tidur terlalu malam, Sasuke."ujar Sakura.
"Ya, aku tidak akan lupa, tenang saja."
Sakura sudah menutup mata untuk tidur saat ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Sakura bangkit dari posisi tidurnya dan menatap Sasuke. Sasuke hanya mengangkat bahu, sepertinya Sasuke berpikir itu adalah salah seorang pelayan.
Sakura turun dari tempat tidurnya. Ia membuka pintu dan terkejut saat melihat Ayumi di depan pintu. Gadis kecil itu memeluk salah satu bonekanya di depan dada. Boneka itu cukup besar hingga menutupi wajahnya.
"Ada apa, sayang?"tanya Sakura sembari berjongkok, menyamakan tingginya dan Ayumi.
"Aku… aku tidak bisa tidur."ucapnya.
Sakura tersenyum sambil mengacak-acak rambut putrinya. "Mungkin kau gugup dan terlalu bersemangat. Itu bukan hal yang buruk. Kenapa kau seperti ingin menangis?"
"Aku… malu, tapi aku ingin tidur bersama kalian."
Sakura memang pernah mengajarkan bahwa Ayumi harus mulai terbiasa tidur sendiri. Sejak saat itu, Ayumi tidak pernah tidur berdua dengannya lagi. Mungkin ini bisa jadi pengecualian. Sakura menatap Sasuke yang sudah berhenti mengerjakan pekerjaannya.
"Boleh, asalkan mulai besok kau tidak akan melakukannya lagi."ujarnya. "Masuk sekolah berarti kau tidak boleh bermanja-manja lagi, bukan?"
Sakura tersenyum, begitu juga dengan Ayumi yang langsung melompat menuju tempat tidur mereka. Sakura sangat menghargai rasa peduli Sasuke yang sudah jauh lebih baik daripada saat pertama mereka bertemu. Padahal itu baru dua minggu yang lalu. Kejadian-kejadian yang mereka lewati selama dua minggu itu sepertinya sudah membangun hubungan yang jauh lebih baik.
"Tou-chan, boleh aku memelukmu?" Pertanyaan Ayumi itu Sakura dengar ketika ia bergabung dengan keduanya.
"Boleh." Sasuke tidak menunggu lama untuk menjawabnya. Sakura jadi semakin terharu. Ayumi melupakan bonekanya dan langsung memeluk tubuh Sasuke. Tangan kiri Sasuke menepuk-nepuk puncak kepala Ayumi.
"Apa?" Sakura akhirnya sadar bahwa pertanyaan itu dilontarkan padanya. Sepertinya Sakura sudah menatap keduanya cukup lama sampai Ayumi saja sudah tertidur, dan Sasuke memberinya tatapan skeptis.
"Tidak, aku hanya senang karena kau sangat perhatian pada Ayumi sekarang. Kau sudah melakukan hal yang baik, sesuai dengan kontrakmu."ujar Sakura.
Sasuke menghela nafasnya. "Aku memang bertindak seperti pengecut dulu. Sekarang aku berusaha memenuhi kontrak kita, dan memenuhi janjiku dengan Tsunade-san."
"Oh ya? Kalian punya kesepakatan, begitu? Apa?"
Sasuke menatapnya lalu mengalihkan pandangannya ke langit-langit kamar. "Aku berjanji untuk melindungi kalian berdua."
Sakura terdiam, dan akhirnya ikut mengalihkan pandangannya pada langit-langit. Ia memeluk boneka Ayumi dengan erat, untuk meredam detakan jantungnya yang luar biasa cepat.
oOoOoOo
Sasuke mengira Sakura akan melakukan hal yang berbeda, setelah pengakuan memalukannya semalam. Tapi ternyata tidak, wanita itu tetap bertingkah seperti biasanya meskipun semalam dia hanya diam dan langsung tertidur.
Sekarang, Ayumi sedang berada di kamar mereka. Gadis kecil itu sudah mandi dan mengenakan pakaian sekolahnya. Rambutnya sudah ditata oleh Sakura dengan ikat rambut yang lucu. Ya, lucu. Sasuke suka ikat rambut berbentuk tomat itu.
Sakura sedang duduk di depan meja rias. Wanita itu membiarkan rambut pendeknya tergerai seperti biasanya. Wanita itu sedang mengenakan sesuatu di bulu matanya. Ia melakukannya setelah sepuluh menit sebelumnya sibuk dengan kelopak matanya.
"Kenapa kau repot-repot berdandan heboh begini?"
"Ini bukan dandanan heboh, Uchiha. Ini hari penting, tentu saja aku harus berdandan. Lagipula ini tuntutan peran, kau tahu?"
Sasuke memutar bola matanya. "Sadarlah bahwa kau juga seorang Uchiha, Sakura."
"Oh, kau hampir membuatku mengoleskan mascara di pipiku, Jenius. Diamlah, jangan katakan apapun lagi."gerutu Sakura.
Sasuke tidak mengerti, apa salahnya? Tapi ia mengalah dan tidak mengatakan apapun lagi. Ia mengecek pekerjaannya sekali lagi untuk memastikan bahwa tidak ada yang salah. Beberapa menit kemudian, Sakura sudah selesai dengan dandanannya. Sasuke mengakui bahwa dandanan itu membuat Sakura lebih cantik, tetapi Sasuke rasa ia lebih menyukainya tanpa polesan make up.
Mereka bertiga berangkat menuju sekolah Ayumi dengan mengendarai mobil pribadi Sasuke. Sasuke selalu mengenakan mobil ini ketika ia akan bepergian tanpa sopir. Mobil ini adalah mobil yang Sasuke beli dengan uangnya sendiri, bukan hadiah dari ayahnya atau siapapun itu.
Sekolah Ayumi adalah sekolah yang sama dengan yang Sasuke masuki saat dia seusia Ayumi dulu. Sekolah itu sudah terjamin kualitasnya, baik dari segi fasilitas maupun pengajarnya. Bangunannya megah dan tidak sembarang orang bisa masuk karena pos sekuriti ada di tiap gerbang yang menjadi satu satunya tempat masuk maupun keluar. Ketika mereka sampai di depan gerbang, sudah banyak wartawan yang sibuk mengambil gambar, tetapi saat mereka masuk ke dalam sekolah, tidak ada satupun wartawan yang terlihat.
Setelah mendapat tempat parkir yang bagus, Sasuke dan Sakura turun bersamaan. Sasuke membantu Ayumi turun dari mobil. Sakura merapikan seragam putrinya itu dan ketiganya bergandengan tangan sembari berjalan menuju aula. Sakura dan Sasuke memberikan senyuman terbaik pada orang tua siswa lain yang menyapa juga pada staf dari sekolah. Mereka memasuki aula, dan seorang guru menghampiri mereka. Guru itu menggenggam tangan Ayumi untuk membawanya menuju kursi yang disediakan, sementara para orang tua dipersilakan untuk menunggu di ruangan yang terpisah.
Sasuke dan Sakura duduk di kursi bagian depan, dimana mereka bisa melihat kegiatan Ayumi dari layar. Upacara penerimaan siswa baru berjalan dengan lancar. Ada beberapa siswa yang diminta untuk menceritakan berbagai hal dan Ayumi menjadi salah satunya. Gadis itu menceritakan pengalamannya saat pergi ke Tanzaku bersama Sakura dan Sasuke. Karena keberaniannya itu, Sakura dan Sasuke diberi berbagai pujian dari sesama wali murid dan dari guru-guru.
"Ayumi-chan terlihat cerdas, seperti yang diharapkan dari seorang Uchiha."puji seseorang.
"Terimakasih. Ayumi memang anak yang cerdas, terlepas dari dia seorang Uchiha ataupun tidak. Yato-kun juga terlihat pandai saat menyanyi tadi."balas Sakura, terdengar bijak. Sasuke senang dengan jawaban Sakura.
Beberapa menit setelah itu, kegiatan belajar perdana akan dimulai. Orang tua dipersilakan untuk pulang.
"Saat aku masih TK, Tsunade-Shishou akan menungguku sampai kelas selesai."ujar Sakura, saat mereka berjalan menuju tempat parkir.
"Sistemnya disini berbeda. Mereka mengajarkan pada anak-anak agar mandiri sejak awal. Mereka akan diberi pelajaran yang menyenangkan agar mereka tidak selalu teringat orang tua mereka."jelas Sasuke. "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Hm, entahlah. Kurasa aku akan menemui Ino. Kau sendiri?"
Sasuke baru ingat dia belum menghubungi Shikamaru untuk meminta jadwalnya untuk hari ini. Sasuke segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Shikamaru.
"Astaga, kenapa kau menggangguku di waktu libur?"
"Apa maksudmu? Bangun dan katakan apa jadwalku hari ini."
"Hei, aku tahu kau segera bekerja sehari setelah pernikahanmu karena memang ada jadwal yang tidak bisa diganti, tapi kau tidak lupa kalau hari ini kau dan Sakura akan bulan madu ke Mizu no Kuni kan?"
"Itu besok, bodoh."
Shikamaru memutus telepon dan mengirimkan foto tiket yang sudah ada di laci meja Sasuke saat ini. Di sana tertulis jelas, bahwa tanggal keberangkatan mereka adalah hari ini.
Crap.
Sasuke menekan speed dial nomor 7.
"Kenapa kau mengganggu tidurku, Teme?!"
"Oi, Dobe! Aku membiarkanmu mengurus itu, dan aku sudah berikan jadwalku padamu."
"Iya, karena itu aku sudah menyiapkan banyak hal spesial…"
"Kenapa kau menjadwalkannya hari ini, bodoh?"
"Apa? Sebentar, tanggal berapa ini." Kemudian terdengar suara berisik, entah karena apa. Lalu Naruto berteriak kencang. "Astaga! Maafkan aku, Teme! Aku salah menjadwalkan… Tapi kau tidak bisa re-schedule! Ada hal spesial yang hanya terjadi malam ini jadi…"
Sasuke segera mematikan ponselnya. Dia melihat jam tangannya dan hanya ada 3 jam sebelum jadwal keberangkatannya.
"Sakura, kau bisa mengemasi barangmu dengan cepat kan?"
"Apa maksudmu?"
Sasuke menghela nafas. "Kita harus berangkat ke Mizu no Kuni 3 jam lagi."
"Tunggu, kenapa?"
Sasuke kehabisan kata-kata untuk menjawab Sakura. Tadinya dia akan memberi tahu Sakura dengan baik dan santai, tapi saat ini pikirannya sudah campur aduk. Perjalanan ke bandara akan memakan waktu yang cukup lama, sedangkan mereka sedang dikejar-kejar waktu.
"Bisnis. Ini masalah bisnis. Lakukan semuanya dengan cepat, oke?"
Sakura menatapnya dengan pandangan skeptis namun akhirnya mengangguk.
Nah, sekarang yang harus Sasuke pikirkan adalah, pekerjaan apa yang harus ia siapkan di Mizu no Kuni?
