Kisah ini adalah kisah beberapa tahun yang lalu
Di mana seluruh dunia diselimuti kebahagiaan, di mana para malaikat dan iblis masih sering bercengkrama bersama-sama
Di dalamnya terdapat empat makhluk yang selalu bersama—tidak memandang perbedaan wujud mereka
Dua malaikat, dua iblis, dua dunia, berjuta perasaan yang bersinggungan

Yang kini hanya terkunci rapat dalam memori

.

Tuhan, apakah kami tidak dapat kembali seperti dulu lagi?
Hari-hari yang dipenuhi canda tawa, bukan yang dipenuhi air mata seperti ini!
Dan kumohon, bila Kau mendengarku… Tolong, tolong, kembalikan dia

Dia, yang kucintai sampai mati


Angel, Devil and Forbidden Love Story

.

A Kuroko no Basuke fanfiction

Special for KiyoHana Day 2015

.

Disclaimer

Story ©kiyoha + ShanataS

Characters ©Fujimaki Tadatoshi

.

Rate:
M untuk yang asem asem itu /apa/

.

Pairing

KiyoHana, dan banyak onesided lainnya /heh/ ada pair khusus chap ini

.
Presented by Kiyoha


.

.

.

Selalu, sejak pertama kali bertemu, aku jatuh cinta padanya.

Ceroboh, tidak bisa apa-apa, bertingkah seperti seorang pengecut

Mengapa?

.

Selalu, sejak pertama kali bertemu, aku jatuh cinta padanya

Sangatlah pendiam, bermulut pedas, cuek dan tidak peka

Mengapa?

.

Lama kelamaan, aku jatuh cinta padanya

Dirinya yang absolut, ego tinggi, penuh kebanggaan

Apakah boleh… Aku yang seperti ini?

.

Lama kelamaan, aku jatuh cinta padanya

Dirinya yang kekanakan, tidak peka, tidak mau kalah

Apakah aneh… Aku merasa begini?

.

.

"Akashi-kun, mau tambah tehnya?" seorang malaikat bersurai kebiruan mengangkat teko teh yang harum semerbak. Iblis beriris heterokrom di hadapannya menyodorkan cangkirnya yang hampir kosong sembari tersenyum.

"Boleh. Terima kasih, Tetsuya. Teh buatanmu memang yang terbaik. Aku tidak pernah bosan datang ke dunia ini hanya untuk minum teh,"

"Benarkah? Aku senang jika banyak yang menyukai tehku."

"Kuroko, kau terlalu memanjakan Akashi!" salah seorang iblis berucap kesal, "Biasanya juga dia tidak begini. Harusnya 'kan dia di dunianya sendiri, mengerjakan berkas-berkas."

"…Kau berisik, Taiga. Sendirinya datang ke sini dan mengabaikan tugas."

"Cih. Ngajak ribut nih, chibi?!"

"Apa katamu? Bisa ulang sekali lagi, Kagami Taiga?!"

"U-Uwaaa! Ka-Kagami, Akashi-san, kumohon jangan bertengkar di sini… Di sini kan lembah kedamaian…" seorang malaikat berusaha menengahi dua iblis bersurai merah yang hampir saja bertengkar di hadapannya—Tetsuya masih cuek. Tapi, dengan tubuh gemetaran seperti itu, bisakah ia menengahi mereka? Yang benar saja.

"…Puh."

Tanpa diduga-duga, Akashi dan Kagami malah tertawa lepas melihat tingkah cerobohnya yang begitu spontan. Lucu sekali, seperti biasanya. Furihata Kouki—ia pribadi yang selalu saja dapat membuat ketiga sahabatnya tertawa dengan segala perbuatannya.

Selalu saja, mereka berempat hidup di dalam kedamaian—

—sampai cinta datang dan merusak segalanya.

"EEEEEEEEEEEHHHH?!" teriakan keras itu memenuhi udara. Tidak tidak tidak, ia tidak bisa percaya. Tidak mungkin Akashi yang pemimpin dunia iblis bisa—

"Sudah kubilang, sepertinya aku jatuh cinta padamu, Kouki. Apa itu sesuatu yang aneh? Tidak, 'kan?"

"Tentu saja aneh, Akashi-san! Maksudku—kita saja berbeda dunia…" balas malaikat yang bernama Furihata itu dengan ragu. Namun iblis di hadapannya terlihat begitu serius. Mengapa?

'Mengapa harus aku yang seperti ini? Maksudku, banyak yang lain… Kuroko misalnya.'

…Tidak dapat terucapkan.

"Kouki, kau tidak menyukaiku?"

"Bu-Bukan begitu, Akashi-san! Hanya saja, maksudku… Err…"

Akashi menghela napas melihat tingkah ragu sang malaikat. "Haah. Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Kau juga tidak perlu memikirkannya terlalu keras, jalani saja kehidupan dengan biasa. Kita juga akan berkumpul berempat seperti biasa. Aku… Hanya merasa harus mengatakannya padamu."

"Be-begitukah… Baiklah kalau Akashi-san bilang begitu."

…Sampai saat itu, tidak ada hal yang aneh. Hanya setitik perasaan yang berubah di hati kedua makhluk yang berbeda itu.

.

.

Hari-hari penuh kedamaian berlalu seperti air yang mengalir. Tanpa terasa, sudah berbulan-bulan sejak kejadian mengejutkan itu. Entahlah—lama kelamaan Furihata juga merasakan sesuatu yang mulai bergerak di hatinya.

'Apakah ini…?'

Tanda… Rasa cinta mulai tumbuh, kah?

'Harus… Kukatakan. Tapi, dia sedang di dunia sana, ya?'

Furihata Kouki, memutuskan untuk membuang sisi pengecutnya jauh-jauh dan pergi ke dunia iblis. Rasa cinta ini asli, ia harus mengatakannya, ia tidak ingin membuat sang emperor menunggu terlalu lama. Walau ia tidak mengatakannya, tapi pasti selama ini ia menunggu perasaannya terbalas, 'kan?

"Tidak apa-apa… Kalau aku ke sana, 'kan ya?"

.

Sakit, sakit, sakit, sakit. Ia tidak tahu rasanya sesakit ini kehilangan sayap-sayap hitam megahnya. Ini bahkan melampaui segala rasa sakit yang pernah ia rasakan. Begitu perih—seperti tombak yang menghunus.

Akashi Seijuurou, pemimpin dunia iblis sana, kini sedang meringkuk kesakitan di sebuah rumah kosong di dunia manusia. Bisa makin merepotkan urusannya jika iblis-iblis melihatnya dengan keadaan seperti ini. Bisa-bisa mereka mengira macam-macam. Tapi, Akashi sendiri baru mengetahui ada 'perkembangan hati' seperti ini. Tidak pernah ia melihat kasus seperti ini sebelumnya.

'Apa aku harus bertemu dengan Kouki…? Tapi, aku tidak ingin ia melihatku dengan keadaan seperti ini. Aku tidak ingin membuatnya cemas.'

'Apakah… Hidupku hanya sampai di sini?'

.

.

Senja mulai menyelimuti dunia.

Kagami memandang sesuatu yang aneh dari balkon mansion. Aneh sekali, tidak biasanya iblis-iblis berkumpul lalu ribut seperti itu—setidaknya sampai hari ini. Ada apa sebenarnya? Ada pertengkaran?

Didorong rasa penasaran, ia mengepakkan sayap hitamnya dan menghampiri kelompok yang tengah ribut-ribut di tengah jalan itu.

"Penyusup!"

"Rasakan ini! Beraninya kau mendekati pusat para iblis tinggi!"

"Bagaimana kalau kurobek sayap putihmu agar kau jera?"

Seruan dan ucapan yang asing. Kagami semakin penasaran dan mencoba untuk mendekat—tapi sulit. Karena tidak dapat melihat apa yang sebenarnya terjadi di tengah kumpulan sayap hitam itu, ia mencoba bertanya.

"…Sebenarnya ada apa di sini? Penyusup? Apa maksudnya?"

"Ah… Kagami-san. Ini, ada malaikat yang berani-beraninya mendatangi pusat pemerintahan, tempat menyimpan berkas-berkas tanpa seijin penjaga! Pastinya dia penyusup, 'kan! Bisa jadi ia mata-mata dari dunia para malaikat!"

'…Malaikat? Jangan bilang kalau—'

"Jangan bilang kalau… Malaikat yang 'menyusup' itu… Bersurai kecoklatan, dan lemah?"

'Pasti. Pasti dia. Pasti Furihata hanya ingin bertemu Akashi, lalu dia datang ke dunia ini, sehingga disangka penyusup oleh iblis-iblis yang tidak mengenalnya!'

"KALIAN SEMUA, HENTIKAN! DIA TIDAK BERSALAH! AKU MENGENALNYA!"

...

...

'Akhir-akhir ini, aku mendengar kabar bahwa Akashi-kun menghilang dari tahtanya. Duuh, ke mana sebenarnya dia? Aku tidak bisa mencarinya karena harus mengerjakan pekerjaanku di sini…'

Kuroko masih saja sibuk menekankan stempel di atas tumpukan berkas-berkas yang sepertinya takkan pernah berakhir itu, sambil sesekali menghela napas. Lagipula, Furihata menghilang juga. Ia tidak bisa meminta tolong untuk menyeduhkan teh, deh.

"Kuroko! Ini gawat, ayo keluar sekarang juga!" seorang malaikat—yang diketahui bernama Hayama—mendobrak pintu ruangannya dengan wajah panik. Kuroko memiringkan kepalanya bingung, apa yang sebenarnya terjadi? Tapi yah, sebaiknya ia mengikuti Hayama saja.

"O-ooi! Kagami, dia kenapa?"

"Tolong! Ambil obat-obatan, ada yang terluka parah di sini!"

Iris sapphire Kuroko membulat sempurna tatkala melihat Kagami masuk ke mansion dengan terengah-engah, menggendong seorang malaikat penuh luka, bersayap compang-camping… Telah dianiaya.

"Furihata…kun…?"

"Haa… Kuroko! Apakah ada ruangan kosong? Furihata… Furihata…"

Tuhan, katakan kalau ini hanyalah kebohongan.


.

.

Perlahan iris kecoklatan itu membuka. Yang pertama kali terpantul di pandangannya adalah Kagami yang memandangnya cemas dan Kuroko yang terisak. Ada apa ini sebenarnya…?

"Furihata-kun! Akhirnya kau sadar juga…"

Kuroko, tanpa basa-basi lagi langsung memeluk sahabat baiknya erat. Sial, sial, dia khawatir sekali! Ia harap sahabatnya itu tidak apa-apa. Furihata juga, langsung mengerti apa yang Kuroko rasakan tanpa ia harus mengucapkannya.

"Kuroko, maaf membuatmu khawatir seperti ini…"

"Tidak apa, yang penting kau tersadar…"

Kagami menggertakkan giginya, kemudian berseru kepada Furihata yang masih bingung dengan keadaannya saat ini. Seruan yang penuh rasa marah, dan rasa cemas.

"Dasar! Sudah kubilang, kalau kau ingin bertemu Akashi, hubungi aku dulu! Jadi begini, 'kan! Mengapa kau tidak menghubungiku sebelumnya?!"

"Kagami-kun, kumohon jangan berteriak…" pinta Kuroko sambil menyeka air mata yang masih setia mengalir di pipi porselennya. "Ini… Tempat kedamaian."

"Tapi—"

Furihata tersenyum lembut, kemudian menjawab.

"Maafkan aku, Kagami. Tapi, aku tidak bisa memberitahu padamu kalau aku akan bertemu Akashi. Ini… Masalah pribadi. Karena itu." Namun, Kagami tampak tidak puas.

"Kalau begitu 'kan setelah aku mengantarmu ke Akashi, kau bisa menyuruhku pergi—"

"Kagami-kun, cukup. Furihata-kun, apa kau tidak mendengarkan penjelasanku kalau Akashi-kun sudah menghilang beberapa hari ini?" tanya Kuroko. Setelah sejenak berusaha mencerna perkataan Kuroko barusan, Furihata membelalakkan mata.

"…Eh?"

.

.

'Pilihlah.'

'Pilihlah.'

'Apa kau ingin tetap seperti ini… Atau kau ingin hidup sebagai malaikat? Jika kau memilih untuk menjadi seperti ini, aku akan mengembalikan sayapmu ke bentuk semula, kau tetap bisa menjadi pemimpin para iblis. Sebaliknya, jika kau memilih menjadi malaikat, aku akan memberimu dua sayap putih megah, penghargaan dari kesabaranmu selama ini.'

Jawabannya sudah pasti. Akashi yakin sekali.

"Ubah aku… Menjadi malaikat!"

Dan di senja yang hangat ini, seorang malaikat dengan sayap paling megah dari yang lain lahir.

...

...

"Aku memang bodoh… Tidak mendengarkanmu maupun Kagami." Furihata terbaring lemah di ranjang, lengannya menutup kedua matanya yang mulai sembap. Kuroko hanya duduk di sampingnya, diam seribu bahasa.

"Padahal, aku ingin menunjukkan… Aku bukan seorang pengecut. Aku bisa melakukannya. Aku ingin mengatakan padanya… Aku mencintainya."

"Furihata-kun…" Kuroko akhirnya membuka suara, kemudian menggenggam erat tangan kiri sahabatnya. "Aku… Tahu benar perasaan itu. Sebenarnya akhir-akhir ini aku juga merasa…"

"…Kagami, 'kan?"

Sekali lagi, sapphire kembar itu membulat sempurna.

"Furihata-kun… Mengapa?!"

"Yah… Aku hanya merasa begitu. Kuroko, kau tidak pernah menampakkan emosimu, jadi pasti ia tidak menyadarinya sama sekali. Kurasa Akashi-san juga tahu."

"Be-begitu…"

...

Untuk sesaat, ruangan yang dipenuhi harum chamomile itu hening. Tidak ada suara apapun, hanya gemerisik angin yang menerpa pepohonan di luar jendela. Furihata dan Kuroko… Sama-sama memikirkan tentang perasaan masing-masing.

"Ne, menurutmu kita masih bisa terus bersama… Berempat?" tanya Furihata pelan sembari mencengkram pinggiran ranjangnya. Kuroko terdiam sejenak, kemudian menggeleng.

"Kurasa… Tidak mungkin. Akashi-kun menghilang, Kagami-kun sibuk mengurus bagian yang ditinggalkan Akashi-kun, sementara kita… Sudah terperangkap dalam perasaan ini." lirihnya. Furihata memandang sahabatnya dengan wajah sendu.

"Ah… Begitukah? Benar juga, ya… Tadinya, jika masih ada harapan kita berkumpul kembali… Aku memutuskan untuk berjuang. Percuma saja, ya." Suara itu terdengar putus asa—Kuroko tidak mengerti apa maksudnya.

"Furihata-kun… Aku tidak mengerti apa maksudmu."

Furihata hanya tersenyum pilu mendengar pertanyaan sahabatnya itu.

"Kuroko… Maaf, mungkin kau tidak menginginkan ini, tapi… Sejujurnya, aku tidak dapat merasakan tubuhku lagi—apalagi sayapku. Kau tahu 'kan, sayap kiriku hampir seluruhnya menghilang… Seluruh tubuhku penuh sayatan dan luka, hanya sayap kananku yang compang-camping ini yang masih bertahan. Karena itu aku… Apakah sebaiknya… Aku menyerah saja?"

Kuroko menggigit bibirnya. "…Jangan bilang…"

Furihata tertawa kecil melihat wajah Kuroko yang mulai memucat. "Kudengar, seorang malaikat akan berakhir hidupnya jika kehilangan kedua sayapnya."

"Furihata-kun. Jangan main-main denganku." Suara Kuroko mulai menegas, namun tak dapat mengalahkan Furihata yang sudah putus asa.

"Kuroko. Aku tahu hanya kau yang bisa. Kau yang memiliki kekuatan untuk mencabut—ya 'kan? Karena itu, ini permintaanku yang terakhir." Suaranya semakin serius. Namun tubuhnya tidak dapat berbuat apa-apa, hanya genggaman tangan mereka yang semakin erat.

"Furihata-kun, aku tidak bisa. Aku tidak bisa kehilangan satu lagi sahabatku. Tidak lagi." tolak Kuroko, sekaligus mencoba memberikan harapan pada sahabatnya untuk melanjutkan kisah mereka.

Namun suara itu terasa memaksa.

"Kumohon."

Kuroko masih tak bergeming. Furihata akhirnya mengumpulkan kekuatannya, bangkit dari bantalnya kemudian menggenggam kedua tangan Kuroko erat.

"Kumohon… Bila Akashi menghilang, izinkan aku untuk menghilang juga—setidaknya itu bisa membuatku merasa tetap di sampingnya."

Saat itulah, Kuroko Tetsuya, malaikat yang tak pernah menunjukkan ekspresi apapun mengalirkan air mata tanpa dapat berhenti.

Sementara di selembar kertas, Furihata menggoreskan seluruh perasaannya.

.

.

.

"Kagami. Karena emperor sudah menghilang, aku utus kau untuk menjadi penggantinya sementara, sampai ia kembali." tunjuk salah satu petinggi. Kagami menggigit bibir, ia tahu akan jadi begini. Karena pangkatnya tepat di bawah Akashi, sebagai panglima.

"Tunggu, saya keberatan." sanggah petinggi yang satu lagi.

"Itu benar. Menurut kesaksian banyak iblis, Kagami Taiga adalah pribadi yang sangat dekat dengan para malaikat."

"Bahkan menurut desas-desus, ia tengah menjalin hubungan dengan salah satu malaikat besar di sana!"

—dan banyak argumentasi lainnya. Kagami mengeratkan kepalannya, ia tidak terima.

"Memangnya kenapa?! Bukankah selama ini kita telah menjalin hubungan yang baik dengan para malaikat?! Apa salah jika aku berteman dengan mereka?! Bukankah begitu?! Aku—"

"Ya, dulu memang begitu. Pada waktu pemerintahan emperor—Akashi Seijuurou." potong salah satu petinggi. "Kini tidak lagi. Berkat kejadian naas ini."

"Sudah kubilang kalian salah paham, Furihata tidak—"

"Cinta-lah yang membawanya menuju kesengsaraan, Kagami Taiga." Suara para petinggi mulai menegas. "Kami tidak ingin hal ini terulang lagi."

Cih. Iblis-iblis tua itu…

"Karena itu… Imayoshi, Susa. Kami serahkan pada kalian mulai sekarang. Imayoshi, gantikan Akashi menjadi pemimpin. Susa, gantikan Kagami sebagai panglima."

"Baik." Kedua iblis itu menunduk patuh,

"AP—MENGAPA AKU JUGA—" Kagami tidak terima posisinya digantikan. Namun, tetap saja ia tidak bisa menolak titah dari para tetinggi.

"Kagami Taiga, kami tidak bisa memiliki panglima perang yang memiliki empati terhadap para malaikat, itu akan membuat pasukan berkali-kali lebih lemah. Jika kau ingin posisimu kembali, maka hilangkan dulu perasaanmu. Camkan itu."

...

...

Seorang malaikat bersurai biru langit terduduk, menangis meraung-raung. Di sampingnya tombak cahaya mulai memudar. Sementara di hadapannya, malaikat bersurai brunet yang kehilangan kedua sayapnya terbaring tak bernyawa, hanya senyuman manis yang setia mengembang di wajahnya.

Damai. Wajahnya terlihat damai. Seakan tanpa beban memberatkan punggungnya.

Di waktu ia tidak sadar, suara langkah kaki mendekati ruangan yang hangat terpapar cahaya senja tersebut. Sungguh bercahaya—bayangan yang semakin mendekat tersebut sungguh bercahaya. Hampir saja Kuroko tidak dapat mempercayai penglihatannya. Karena malaikat bersayap megah yang berdiri di hadapannya—

"Akashi…kun? Mengapa sayapmu... Putih bersih..."

Seorang malaikat putih bersurai kemerahan yang berkibar terpapar angin.

"Tetsuya… Ada apa ini? Di mana… Kouki?"

Kuroko terperanjat. Ia menulikan indranya, tidak ingin menjawab. Penasaran, Akashi melangkah menuju ranjang yang sunyi.

Mata heterokromnya membulat tidak percaya.

"Kuroko, mengapa Kouki—"

"Akashi-kun, maafkan aku. Sungguh, maafkan aku. Ini… Permohonan darinya…"

Iris heterokrom yang selalu tampak tenang itu terbelalak.

Saat itulah, Akashi meneriakkan kesedihannya, melepaskan segala kenangan yang menghimpitnya, meneteskan berjuta air mata—untuk yang terakhir kalinya dalam hidupnya.


...

...

"Tidak mungkin…" Kiyoshi menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Tidak, katakan kalau ini bohong. Hal sekejam ini, mengapa…

"Inilah kenyataan." Akashi tersenyum pilu kemudian beralih memandang Kuroko. "Kalau saja saat itu Tetsuya tidak menerimaku dengan hangat di tempat tinggalnya, mungkin aku sudah berada di tempat yang sama dengan Kouki sekarang. Ya, bisa-bisa aku mencabut kedua sayapku sendiri. Syukurlah tidak."

Kuroko menunduk, wajahnya sendu. Kenangan yang menyakitkan itu terputar kembali dalam otaknya. Kenangan-kenangan itu—yang berusaha ia lupakan sejak lama.

"Nah, pada saat itulah aku menetapkan aturan di mana malaikat dan iblis dilarang untuk bersama—yang langsung disetujui oleh para iblis. Maaf ya jika aku jadi memberatkan hubungan kalian. Karena… Dulu pernah terulang lagi, 'kan? Sakurai itu… Makanya sekarang peraturan itu sangatlah ketat." Akashi meletakkan cangkir teh dan setangkai bunga chamomile di meja.

"Tetsuya juga. Maaf kalau aku merepotkanmu sekarang."

"Ti-tidak! Akashi-kun sama sekali tidak merepotkanku. Justru kau berguna untuk dunia ini." Kuroko menempelkan telapak tangannya di dada. "Syukurlah… Akashi-kun tidak menghilang saat itu."

Akashi kembali menyunggingkan senyum. "Terima kasih, Tetsuya."

Kiyoshi terdiam. Setelah mendengarkan cerita sang emperor, hatinya kembali penuh keraguan. Berdasarkan ceritanya, berdasarkan cerita Sakurai, maka…

Iblis dan malaikat… Takkan pernah dapat bersama.

.

"Yak, sekarang…" Akashi bangkit dari tempat duduknya yang empuk, kemudian melangkah mendekati Kiyoshi yang memandangnya ragu. "Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, karena kau… Mirip denganku. Namun, peraturan adalah peraturan. Kau mengerti 'kan, Kiyoshi?"

Kiyoshi mengangguk pasrah. Kuroko menutup wajahnya dengan tangan—tidak kuasa menghadapi kenyataan. Namun mereka berdua tahu, kalau 'hal ini' memang harus mereka hadapi.

"Aku mengerti. Namun sebelum itu… Bisakah anda… Mengizinkanku untuk bertemu Hanamiya, sekali lagi saja? Aku tidak ingin menghilang secara mendadak dari hidupnya. Aku tidak ingin membuatnya shock."

Akashi menghela napas, kemudian mengangguk. "Baiklah, jika itu maumu. Sekali lagi, maafkan aku. Sayang sekali, sayapmu tinggal separuh saja. Itu berarti kau…"

"Sudah, emperor. Tidak perlu kau bahas lagi. Aku tanpa keberatan akan menerimanya. Ini salahku juga, 'kan?" Kiyoshi mencoba untuk tersenyum—walau hanya senyum palsu. Ia tidak ingin membuat emperor khawatir dengan keadaannya sehingga bersikap tak adil.

"Baiklah. Aku akan mengirimmu ke bukit Utara malam hari nanti."

.

.

.

Sepi. Sakit. Rindu. Hanamiya Makoto, merasakan segala rasa yang merasuki dirinya. Walau ia mencoba memejamkan mata, ia tetap tidak bisa tidur. Sepinya malam hari terasa menghimpitnya. Ia ingin bertemu Kiyoshi, sekarang juga.

Tok tok tok

Pintu kayu kamarnya diketuk. Hanamiya perlahan bangun dari ranjangnya, walau rasa sakit ini masih menusuk punggungnya. Siapa yang datang malam-malam begini? Apa Riko?

"Siapa di sana?"

"Kira-kira siapa, Hanamiya?"

…Suara ini.

"Kiyo…shi? Kiyoshi, 'kan? Si bodoh itu? Aku tidak bermimpi, 'kan ya?" Hanamiya mengucek-ucek mata, memastikan ini kenyataan atau hanya bunga tidurnya.

"Duh, kejam sekali kau memanggilku bodoh. Tapi yah, ini Kiyoshi Teppei, kekasihmu."

Tanpa ragu-ragu lagi, Hanamiya membuka pintu. Benar saja, yang berdiri di hadapannya adalah Kiyoshi Teppei tercinta—masih utuh, walau hanya dengan sebelah sayapnya. Ia tidak terluka. Segera saja, pasangan berbeda dunia itu saling berpelukan hangat.

"Dasar, lama sekali sih… Aku terus menunggumu, tahu. Aku khawatir kau kenapa-kenapa, dasar bodoh…" protes Hanamiya sambil membenamkan wajahnya di bahu sang kekasih, merasakan kehangatan tangannya. Ya, ini Kiyoshi yang biasanya, tidak ada yang berubah.

Merasakan pelukan Hanamiya semakin erat, Kiyoshi terkekeh pelan.

"Maaf ya. Aku tidak apa-apa. Aku hanya… Habis berbincang-bincang dengan emperor. Soal masalah ini."

"…Emperor? Emperor yang itu?" Hanamiya memasang raut bingung, yang ditanggapi dengan senyuman khas kekasihnya. Yah, Hanamiya tidak tahu sejak awal jadi Kiyoshi rasa ia harus menjelaskannya panjang lebar.

"Hmm… Kurasa harus kuceritakan dari awal, ya?"

.

.

"Tetsuya… Aku mau tanya sesuatu." ujar sang emperor ketika malaikat manis bersurai biru itu tengah membereskan buku-buku yang berceceran di meja. Tanpa berkata apapun, ia mengangguk pelan.

Merasa permintaannya diterima, Akashi melanjutkan, "Apa kau benar-benar tidak masalah mengurusku di dunia ini?"

Kuroko terperanjat, beberapa buku tebal jatuh dari pelukannya. Menenangkan diri, ia mencoba untuk menjawab pertanyaan sang emperor. Kelihatannya ia begitu serius menanyakan hal ini.

"…Tentu saja, Akashi-kun. Aku sama sekali tidak keberatan."

"…"

"Lagipula… Aku yang memutuskan membawamu ke tempatku, aku juga yang mengabulkan permintaan Furihata-kun, jadi…"

"…Bagaimana dengan Kagami?"

Sang emperor—Akashi nampak belum puas.

"…Kagami-kun tidak ada hubungannya dengan masalah sekarang, Akashi-kun." jawab malaikat manis itu seraya memalingkan wajahnya. Akashi masih belum puas dengan jawaban seperti itu.

"Ada. Jangan pura-pura membohongiku, Tetsuya. Aku tahu ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku, untuk diketahui berdua saja. Ada hubungannya dengan masalah Kouki, kah? Apa ada hubungannya denganku? Dan lagi, aku tidak melihat Kagami bersamamu sedetikpun sejak malam itu." Kembali ia bertanya panjang lebar. Kuroko semakin mengeratkan pelukannya pada buku-buku tebal di dekapannya.

"…"

Tidak, ia tidak dapat menjawab pertanyaan ini. Kuroko Tetsuya, merasa dirinya ingin lari dari kenyataan—walau sesungguhnya ia sudah lari.
Tidak, tidak, ini bukan masalah yang harus diketahui Akashi.

"Maaf, Akashi-kun. Aku belum dapat menjawabnya… Belum sekarang."

.

.

.

"Begitu, ya. Jadi dia selama ini memimpin di sini, lalu kau akan memecahkan masalah ini dengannya, begitu?" Hanamiya menempelkan jarinya di dagu, mengangguk-angguk tanda mengerti. Kiyoshi hanya dapat tersenyum, senyum yang terasa sedih.

"…Ya."

Melihat reaksi kekasihnya yang suram, Hanamiya menautkan alisnya. "Hei! Mengapa muram begitu, sih? Bagus dong ada yang mau membantumu menyelesaikan masalah ini! Petinggi, lagi 'kan! Seharusnya kau lebih—"

"Hanamiya."

Suara bariton itu memotong ucapannya. Hanamiya menjadi tidak dapat berkutik tatkala Kiyoshi memandangnya dengan sorot mata yang begitu serius. Sebenarnya ada apa…?"

"A-Apa, sih?"

Telapak tangan besar itu meraih lengan Hanamiya, menariknya agar kembali jatuh dalam pelukannya. Sekali lagi, itu mengejutkan sang iblis. Seakan tidak ingin melepaskannya, pelukan Kiyoshi yang melingkari tubuhnya semakin menyesakkan.

"Ki-Kiyoshi? Ada apa? Sakit—"

"Hanamiya, aku mohon… Biarkan aku melakukannya?"

Eh?

Mengerti maksud sang kekasih, pipi ricotta Hanamiya memerah sewarna mawar. Sebentar, saat terlalu banyak hal yang berputar-putar dalam pikirannya, lalu mengapa mendadak Kiyoshi meminta hal seperti ini? Ia benar-benar tidak mengerti.

"Ah—tidak bisa, ya? Aku mengerti, dalam kondisi tubuhmu yang parah seperti ini, tidak mungkin kita bisa melakukannya. Aku juga tidak ingin membuatmu merasa kesakitan. Namun, aku… Aku…"

Terdengar begitu memohon.

"…Hanamiya…?"

Kiyoshi memandang bingung saat iblis kekasihnya itu mendadak menelungkup pipinya dengan dua tangan. Tangan yang terasa begitu hangat.

"Kiyoshi, dasar bodoh, bukannya kau yang bilang?" ucapnya setengah terkekeh. "Seluruh bagian diriku… Milikmu seorang. Jadi, kau pikir permintaan seperti ini akan kutolak—setelah kau benar-benar memohon seperti itu?"

"Eh-?"

Kedua iris kecoklatan Kiyoshi semakin membulat tatkala Hanamiya menjatuhkan tubuhnya ke ranjang—membuka satu per satu helaian kain yang menutupi tubuh polosnya. Ia tersenyum, seakan tanpa beban.

Walau dengan sayap yang hampir seluruhnya hancur itu… Ia tetap menerima permintaannya. Entah karena tubuhnya yang juga menginginkannya… Atau karena perasaannya.

"Kemarilah, Kiyoshi."

.

.

.

TBC


A/N

Fiuuuh, bagian dua kisah emperor selesai juga, otsukareee~ ini sebenernya bagian yang sama dari chap yang kemarin, tapi karena kayaknya kepanjangan, jadi dipotong dua deh lulululu~

Ah ya, aku nggak pengen ada yang salah faham sama hubungannya Akashi, sih :') jadi, pada awal dia masih iblis, sama Furi, waktu jadi malaikat sama Kuroko. Adil kan? Adil ga? /ngacirkepojokan/ soalnya gapengen bikin satu pair aja kan reader-tachi ada yang mau AKR sama AKF QwQ

Yah okee, ini hampir mencapai salah satu ending. Kalau ada yang masih penasaran sama Kuroko, maybe bakal dijelasin di chap depan. Untung aja chap ini lagi semangat ngetiknya, kan sebenernya nyambung sama chap kemarin tapi dipotong :'D

Oke tidak perlu lama-lama, mari balas ripiu :3

.

Kurotori Rei

Uwaaa, jangan, diusir ke pelukan Susa aja xD /hush/ ah, deduanya ada kok untuk keadilan :'D itu gara2 perkembangan hatinya gituuu~ oke ini bagian 2 dari chap yang kemarin xD

Hanaciel Jaeger

Iya, udah jadi malaikat... Hana-chan tinggal menunggu sang kekasih pulang ya eaaaak xD hmm, gimana ya? Mending baca aja deh lanjutannya ini xD

Mey Chan Love Kagami 5862

Kagami baru aja muncul di sini, pas banget ya xD iya, hana-chan tinggal tunggu Kiyoshi pulang, ya. Imayoshi walau bisa suka sama banyak orang tapi nggak peka-peka niih XD doakan mereka ya~ fufufu~ ah, baik furi-chan maupun kuro-chan ada kok disini, biar adil xD Kemanaaa kemaanaa kemaaanaaaa /hush/ oke, ini lanjutannya :3

Cookie Kouki Cookies

Susa selalu menyimpan dalam hati :') hee, belum tentu AKR kok, baca ya~ xD Sakurai nggak peka, Imayoshi juga nggak peka. Semuanya nggak peka ya xD Imayoshi juga maruk sih...eh nggak deh, dia cuma lagi galau :') Bisa bisaaa wwww

Ryuki chan

Salam kenal, ryuki :3/ yaaay, lama nunggu ya x'D /nangis/ Akashi memang kereen xD dan, yang mau AKF ada kok disini~

.

Lastly, maukah meninggalkan jejak? :3

kiyoha