Dia pasti sengaja.
Haechan mungkin memang polos dan naif hampir sepanjang waktu tapi seringai kecil yang Mark lihat sekilas saat ia berlari menuju Taeyong tadi tidak mungkin salah. Ia penasaran bagaimana rupanya saat mematung seperti orang bodoh tadi.
Mark membalik-balik tubuhnya di kasur penginapan bagai makanan yang sedang dipanggang. Ia menatap langit-langit kamar yang remang-remang. Pikiranya-atau perasaannya-tidak mau diajak tidur. Bayangan pemuda berwajah manis bersurai coklat membayangi kelopak matanya. Mark berpikir apakah Haechan merasa segusar ini saat ia menciumnya sembarangan. Ah, apa jangan-jangan yang tadi itu balas dendam?
Huh? Berani juga dia. Walaupun kalau dibandingkan dengannya tidak ada apa-apanya-
-ngomong apa dia? Kalau boleh jujur Mark tidak tahu apa yang mendorongnya melakukan itu pada Haechan. Tidak hanya sekali pula. Guilty pleasure. Kalau Mark harus mendeskripsikan perasaannya saat melakukan hal itu. Dan seberapa bersalahpun dirinya merasa, dia tidak dapat menemukan penyesalan dalam dirinya. Di situlah letak bahayanya.
Lagi-lagi pikiran Mark melayang pada pemuda yang sekarang sedang bergelung di kamar Taeyong di sebelah. Dia bisa saja menyelinap masuk tapi kemungkinan besar Taeyong akan membunuhnya.
Ia mendesah frustasi, langit pasti sedang mempermainkannya hingga ia dibuat kesusahan oleh seorang bocah. Ia tertawa di kegelapan penuh ironi.
This call for a cold shower then.
π
"Selamat pagi."
Haechan nyaris melompat satu meter di atas lantai begitu ia memasuki dapur dan sapaan tak kasat mata menyapa gendang telinganya. Ia mengedarkan pandangannya hanya untuk mendapati Mark berdiri menyandar pada meja pantry, satu tangannya memegang secangkir kopi panas. Haechan mengernyit tak suka mencium bau minuman pekat pahit itu.
"Selamat pagi?" balas Haechan tak yakin sambil melangkah menuju kulkas dengan kaku. Ini sangat canggung, oke.
Manik hitam Mark mengukuti gerakan Haechan yang ragu-ragu, matanya tidak sedetikpun lepas dari sosok yang mengenakan jumper abu-abu kebesaran yang tudungnya ia tarik-tarik agar menutupi wajahnya. Saat ini bahkan ia dapat dibilang merayap di dinding. Mark mendengus melihatnya, bagaimanapun juga Haechan harus melewatinya kalau ingin meraih lemari pendingin.
"Tidak usah berlebihan, aku tidak akan memakanmu," ujar Mark kalem berbanding terbalik dengan kata-kata sarkasmenya.
"Aku tidak," balas Haechan ketus sambil membuka pintu kulkas dengan keras. "Hyung sudah sarapan?"
"Hmm," ia membalas dengan gumaman dan secangkir kopi yang diangkat.
"Maksudku sarapan sungguhan bukan minuman pahit dan asam itu," Haechan memutar bola matanya malas. Ia kini tengah sibuk menjarah isi kulkas yang tidak seberapa. Yah, setidaknya cukup untuk tiga orang. Sementara Mark sibuk meneliti wajah Haechan yang diterpa sinar biru kulkas. "Pancake?"
π
Mark memerhatikan dari sebrang meja pantry bagaimana pisau itu menari lincah di atas papan potong, mengiris membujur kiwi dan strawberry yang tampak segar.
Tangan lihai itu memecah telur lalu mengaduknya agar bercampur dengan adonan dengan gerakan anggun yang terlatih. Jangan tanya Mark isi adonannya apa, ia payah kalau urusan masak-memasak.
Sesekali ia mencolek sedikit adonan dengan jari kelingking untuk menguji rasanya sebelum menuangnya ke atas teflon. Bagaimanapun juga ia tidak mau meracuni anak orang.
Bunyi alat masak yang bertubrukan memenuhi dapur saat Haechan membuat saus dari buah beri.
"Hyung mau mencobanya?" tawar Haechan. Keheningan yang tercipta cukup lama membuatnya jengah juga. Biasanya ada Taeyong yang membantunya, entah kenapa pria itu masih betah di alam mimpi hari ini.
"Oke," Mark berjalan menghampiri Haechan-dan adonan syrup yang langsung disodorkan Haechan. "Bagaimana aku tahu itu tidak beracun?"
Haechan mendengus mendengar kemampuan memasaknya diragukan. Sebagai pembuktian ia melumuri telunjuknya sedikit dengan syrup buatanya lalu memasukan ke dalam mulutnya dengan gerakan berlebihan untuk membuat Mark kesal. "Sudah tuh, manis kok."
Mark hanya menggumam. Haechan berpikir Mark akan ikut mencicipi cairan kental manis itu, alih-alih ia mengangkat dagu Haechan dan menempelkan bibirnya di bibir berbentuk hati milik Haechan. Bulu kuduk Haechan meremang saat benda basah menyapu permukaan bibirnya dan menyesapnya singkat. Tubuh Haechan membeku.
"Manis," Mark berbisik tepat di bibirnya tanpa melepas kontak mata. "Aku akan membangunkan Taeyong. Omong-omong, kau perlu membalik pancake itu sebelum gosong."
Setelah mengatakannya, Mark melenggang pergi tanpa dosa meningalkan Haechan yang jiwanya masih terombang-ambing. Begitu bau hangus tercium Haechan buru-buru membalik adonan. Beberapa detik kemudian barulah ia tersadar, mukanya memerah hendak meledak.
"MARK LEE KAU SIALAN! BEDEBAH! Mati saja sana! ARRGHSSFHJ-"
Haechan menghentak-hentakkan kakinya kesal sambil mengutuk Mark dengan segala umpatan yang ia pelajari dari Jaemin.
Sepanjang pagi itu Haechan terus memaki Mark dalam hati. Taeyong setengah berpikir akan menanyai kenapa Haechan terlihat tersipu sekaligus bersungut-sungut namun perasaannya buruk. Haechan terlihat dapat meledak kapan saja. Salah bicara mungkin Taeyong yang akan jadi korbannya. Ia memutuskan mengabaikan gelagat aneh Haechan dan memilih untuk menikmati pancake buatan adiknya.
"Sirup berinya manis."
Demi tuhan Taeyong bersumpah yang dilontarkan adalah pujian. Dia tidak punya niat jahat. Karena itu ia bingung melihat wajah Haechan yang makin merah-menahan baik itu malu ataupun jengkel, dan tangannya yang memutih karena mencengkeram garpu terlalu kuat. Taeyong sedikit banyak khawatir akan nasib garpu itu.
Di lain sisi, Haechan sekuat tenaga mencegah untuk tidak melihat ke depan. Ia dapat merasakan seringai tipis di wajah Mark yang dilontarkan ke arahnya. Haechan tidak yakin ia dapat menahan diri dari meninju wajah Mark kalau benar-benar melihatnya.
π
"Lama tidak bertemu, Profesor."
Orang yang disebut profesor itu memandang pemuda di hadapannya dengan nanar. Darahnya berdesir tidak nyaman mendengar nada yang terselip di suaranya. Di sampingnya, pupil hitam Taeyong bergerak waspada, tangannya terkepal kuat hingga prmbuluh darahnya terlihat.
"Apa maumu Jaehyun?" Taeyong bertanya dingin dihadiahi senyuman miring laki-laki pucat itu.
"Aku hanya ingin mengunjungi mantan guruku," ujarnya ringan.
Taeyong menggeram rendah melihat polah Jaehyun seakan ia tidak berada di sarang musuh. Taeil yang sedari tadi diam memerhatikan pergantian percakapan itu akhirnya angkat suara.
"Sebaiknya kau jangan main-main Jaehyun. Katakan saja apa maumu," ujar Taeil, matanya bergulir menyelidik pada dua orang di belakangnya.
"Maksud kedatangan kita tidak jauh beda dari yang kemarin. Kurasa anda tahu apa maksud kami profesor," Sicheng, dengan suara sedingin dan setajam es, berkata pada laki-laki paling tua di ruangan itu.
Laki-laki paruh baya itu memandang jauh menerawang sambil menghembuskan nafas panjang. Ia tahu benar apa mau tiga pemuda ini, atau lebih tepatnya orang di balik semua kekacauan ini. Mata yang menyorot rasa lelah itu memandang miris pemuda yang dulu diasuhnya.
"Kalian tidak perlu repot-repot datang kemari."
"Bagaimana ya? Ini perintahnya langsung, anda tahu sendiri dia itu seperti apa," jawab Jaehyun dengan nada penyesalan dibuat-buat. Mata Taeyong memicing tajam.
"Aku tahu, aku akan datang berkunjung kapan-kapan."
"Ayah-"
"-Karena itu kalian tidak perlu datang ke sini lagi dan menumpahkan darah secara cuma-cuma."
Seringai dingin tumbuh di wajah Jaehyun mendengarnya. Ia lalu menoleh pada lantai dan dinding koridor yang dihiasi sedikit cairan merah berbau besi hasil karya Jungwoo dan Sicheng. Bukan apa-apa, itu hanya sambutan. Toh, tidak ada nyawa yang dikorbankan juga.
"Kami akan menunggu kedatanganmu, peofesor," ujar Jaehyun kelewat santai sambil berlalu pergi diikuti Jungwoo dan Sicheng. Sebelum mereka benar-benar menghilang, beberapa patah kata yang menggelitik darah mereka sempat dilontarkan.
"Aku hampir lupa menyampaikannya. Two can play this game, but time is running out."
π
"Kenapa mukamu ditekuk begitu?" ujar Mark tanpa basa-basi.
"Bukan apa-apa."
"Anak baik tidak berbohong," sahut Mark.
"Ck, kenapa hyung jadi ingin tahu begini?" timpal Haechan ketus.
"Aku hanya masih ingin bersama Taeyong hyung. Itu saja," Haechan membalas cepat sambil membuang wajahnya keluar jendela. Mark tahu Haechan tidak sepenuhnya jujur namun memutuskan untuk tidak memojokan anak itu lebih jauh. Lagipula ia sedikit banyak tahu apa yang dipikirkan Haechan.
"Omong-omong," celetuk Haechan kemudian sambil menatap sisi wajah Mark yang sedang mengemudi. "Hyung kenal dengan Wong Yukhei?"
Mendengar nama itu disebut secara reflek ia mengeratkan cengkraman pada kemudi. Rahangnya mengeras dan matanya berubah dingin tanpa sepengetahuan Haechan. "Tidak."
Kalaupun Mark berbohong, Haechan tidak mengatakannya. "Ah, begitu ya."
"Kenapa kau menanyanyakan itu?"
Haechan mengedikan bahu acuh tak acuh. "Kau terlihat mengenalnya saat di restoran waktu itu."
Mark tidak menjawab itu dengan mengalihkan fokus pada jalanan di depannya. Hanya ada suara samar-samar dari radio yang melantunkan lagu The Weekend yang memenuhi mobil sepanjang perjalanan ke Seoul.
π
"Kau menciumnya dan lari begitu saja?" ucap Jaemin sambil menunjuk-nunjuk wajah Haechan menggunakan garpu yang dipegangnya, Renjun mengernyit tajam melihat saus spaghetti yang berceceran akibat ulah Jaemin. "Kalau Taeyong hyung tahu dia akan membunuhmu."
Kalau Taeyong hyung tahu apa yang dia lakukan, Mark sudah habis di tangan kakakku. Haechan membatin kecut sambil meringis pelan.
"Aku tidak berpikir dengan jernih waktu itu," bela Haechan.
"Aku tidak berpikir dengan jernih waktu itu," Jaemin mengulang kalimat Haechan dengan nada mencibir membuat yang ditiru mendelik tidak suka.
"Memang apa yang kau harapkan!? Aku juga kaget waktu itu jadi yang pertama kali melintas di otakku ya-kabur," sungut Haechan muak melihat wajah Jaemin yang dibuat-buat. Pemuda jangkung itu baru saja akan membalas namun kalah start dari Renjun.
"Intinya adalah. Apa kalian menyukai satu sama lain?" sela Renjun (berusaha) kalem.
"Aku tidak tahu," sahut Haechan cepat, lugas, dan judes. Entah karena ia benar-benar tidak tahu atau takut mendeklarasikan cinta sepihaknya.
"Dilihat dari responmu sepertinya sih cinta sepihak ya."
Terkutuklah Jaemin dan mulut yang tidak pernah disaring dengan benar. Renjun melirik Jaemin penuh penghakiman, dalam hati bertanya-tanya bagaimana bisa ia dulu mengiyakan permintaan Jaemin untuk menjadi pacarnya. Pemuda bersurai madu itu mendesah pelan sambil melihat Haechan yang tangannya mencengkeram gelas dengan erat-ia gatal ingin menyiram Jaemin dengan infused water yang masih utuh itu.
"Untungnya dia tidak tersinggung karena perilaku lancangmu itu sih," sambung Jaemin santai. Amat tidak peka.
Kalau kau mau tahu perilakunya itu lebih lancang, bodoh! Harusnya aku yang dendam!
Tapi pada kenyataannya toh, ia tidak dendam. Lebih tepatnya tidak bisa, entah untuk alasan apa.
"Lupakan tentang itu tapi kalian baik-baik saja kan? Maksudku bagaimanapun juga kau tinggal di apartemennya. Tidak lucu kalau kau tiba-tiba didepak keluar gara-gara hal ini," Renjun berkata cepat-cepat agar Jaemin keluar dari kantin dengan keadaan baik-baik saja.
"Iya," Haechan menjawab datar lalu memakan spaghetti di hadapannya dengan bar bar.
Daripada baik-baik saja Haechan hubungannya dengan Mark-secara umum-lebih tepat dibilang gamang. Abu-abu. Ia tidak tahu apakah perilakunya benar-benar menyinggung laki-laki itu (tingkahnya memang agak aneh akhir-akhir ini). Kalaupun iya, dia tidak peduli. Toh, bukan cuma dia yang suka bertindak seenaknya. Haechan belum sempat membicarakan hal itu karena beberapa hari setelah tiba dari Pyeongchang ia ditugaskan diluar Seoul. Tugas seperti apa, Haechan tidak mau tahu, ia muak dengan segala kerahasiaan yang mengelilingi hidupnya saat ini.
Mungkin aku harus mendepak diri sendiri dari apaertemen sialan itu.
π
Haechan memandang langit-langit kelas dengan tatapan merana. Lengannya ditekuk memegang sebuah benda persegi panjang tipis yang terbuat dari metal sejak setengah jam lebih yang lalu. Ia menghela nafas berat entah untuk yang keberapa kalinya.
"Tapi Doyeon," Haechan mengeluh saat tangannya mulai mati rasa. "Sampai kapan aku harus memegang ponselmu seperti ini!?"
Wanita yang dipanggil Doyeon itu mengalihkan pandangan dari ponsel yang digunakan sebagai cermin sejenak untuk mendelik galak pada Haechan.
"Sebentar lagi. Jangan cengeng, fokusku bisa hancur," desisnya.
"Kau mengatakan hal yang sama sepuluh menit yang lalu," Haechan kembali mengeluh yang dihadiahi lirikan tajam super galak khas ibu tiri Cinderella dari Doyeon. "Kenapa kau tidak dandan di toilet saja sih?"
"Jauh," sahut Doyeon pendek terkesan acuh tak acuh.
"Sebenarnya, kenapa kau harus berias sejauh ini? Kau sadar kita akan meminta asistensi profesor bukannya pergi kencan buta kan?"
"Aku tahu kok," ujar Doyeon setelah selesai melukiskan eyeliner pada matanya. "Aku juga tahu seperti apa Profesor Wong itu, siapapun pasti akan berusaha sejauh ini kalau berada di posisi kita-ah, lebih tepatnya aku," lanjutnya setengah menyindir.
Kalimat 'dasar wanita modus tukang tebar pesona' sudah berada di ujung lidah, tapi melihat bagaimana Doyeon bisa berubah menjadi Medusa kapan saja membuatnya berpikir dua kali. Walaupun Haechan harus menahan kalimat pedas sepanjang asistensi karena, demi dewa-dewi yang bersemayam di atas sana, Doyeon bahkan tidak berusaha untuk menutupi aksi tebar pesonanya di hadapan Yukhei. Haechan merinding membayangkan hal yang sama saat Yukhei harus menghadapi orang-orang semacam Doyeon-yang mana hampir semuanya. Melihat kelakuan Doyeon, entah mengapa Haechan yang merasa malu.
"Haechan bisa tinggal sebentar?"
Lamunan Haechan terpecah saat suara berat Yukhei menginvasi pendengarannya, di hadapannya Doyeon mendelik seolah ia menusuknya dari belakang. Dalam pikirannya ia bisa membayangkan bagaimana Doyeon akan membunuhnya.
"Iya," jawab Haechan ragu-ragu setengah horor karena picingan mata yang dilayangkan Doyeon serasa menusuk tengkoraknya.
π
Benda persegi bersampul kulit disertai tali cokelat itu tersodor di hadapan Haechan. Ia mengenali benda itu sebagai jurnal pribadinya yang menghilang akhir semester kemarin.
"Sebenarnya aku hendak memberikan ini padamu waktu kita berada di kafe," ujar Yukhei sambil menumpu badannya di tepi meja. "Tapi, yah, timingnya tidak pas karena kau harus buru-buru pergi waktu itu."
Wajah Haechan agak memanas mengingat kejadian tersebut ditambah nada bicara Yukhei yang menggodanya. Ia meringis malu saat kekehan ringan Yukhei mengisi keheningan di ruang kerjanya.
"Terima kasih," cicit Haechan pelan yang dibalas dengan anggukan singkat dari profesor yang kini sedang tersenyum kalem. Haechan hendak beranjak dari ruangan itu saat sebuah saklar seolah menyala di otaknya. Ia tahu baik Taeyong maupun Mark tidak akan menyukai idenya ini. Kendatipun Haechan masihlah remaja yang keras kepala dan kadang berbuat tanpa pikir panjang. Sejak selembar foto yang ditunjukan oleh orang bernama Jaehyun melintas si kepalanya, ia tidak berpikir terlalu rasional. "Oh ya, profesor Wong."
Yukhei menaikkan satu alisnya, menunggu Haechan melengkapi kalimatnya. "Apa profesor mengenal seseorang bernama Jaehyun?"
Sedikit lama Yukhei menatap Haechan dengan pandangan menilai. Mata teduhnya meninjau wajah dan gerak-gerik Haechan dan berakhir menatap mata Haechan yang naif tapi sarat akan keingintahuan dengan dalam. Haechan membuang wajahnya di lantai, tidak sanggup menerima intensitas tatapan yang diterimanya. Kakinya bergerak resah di lantai dan tangannya makin erat memegang jurnal hitam miliknya.
"Maaf, aku tahu itu aneh. Lupakan sa-"
"Aku mengenalnya," potong Yukhei ringan berbanding terbalik dengan beban tatapan yang Haechan rasakan.
"Oh," respon Haechan tanpa dicerna terlebih dahulu, ia merasa bodoh. Ragu-ragu ia menambahi,"kalau begitu profesor mengenal Lee Taeyong?"
"Aku tahu siapa itu kakakmu." Senyum tipis terukir di wajahnya sebelum nadanya berubah menjadi serius dan hati-hati. "Aku juga tahu siapa ayahmu."
Haechan mendongakkan kepalanya secepat kilat. "Benarkah? Kalau begitu-"
"Sayangnya aku tidak bisa membicarakannya," lagi-lagi Yukhei memotong kalimatnya. Haechan menunduk lesu mendengar jawaban Yukhei. Sama saja.
"Well, setidaknya tidak di sini."
Haechan kembali mendongak. Matanya berbinar seperti anak kecil yang diberi cokelat atau permen warna-warni. Berikutnya yang ia sadari ia sudah duduk manis di kursi penumpang dan melakukan kebiasaan rutinnya-memandangi pepohonan, tiang listrik, kafe, bangunan, dan apapun itu yang berjajar di sisi jalan, menatap objek-objek yang berlari melaluinya. Di sampingnya, laki-laki jangkung bersurai coklat tengah anteng mengontrol kemudi mobil yang mendengkur halus membelah jalanan Seoul yang mulai menggelap.
Bukankah ini sangat familier? Seolah seperti déjà vu.
π
A/N: chap 14 sudah up :" selamat dinikmati(?) dibaca ?
Pengen nangis aja rasanya wkwkwk
Mohon kritik dan sarannya yaa^^
See you next chap~~
N/B: kalau mau lebih mudah bayangin fotonya, bayangin aja foto mereka pas jejer-jejer di Ukraine kek ikan teri :" tapi bajunya gak se ekstra itu sih, lebih yang ke seragam item tapi gaada rantai2nya *halah
