Author : uwalaaaahhh maaf lama update!

Russia : America menyebalkan da?

Author : Err…

Disclaimer : Hetalia milik Himaruya Hidekaz

Warning : Drama!


Sesampainya di rumah sakit terdekat, Amelia dibawa Alfred dengan cepat menuju pendaftaran. Beberapa perawat langsung kalang kabut melihat keadaan Amelia. Gadis itupun dibawa menuju ruang UGD, setelah direbahkan, kami menuju ruang tunggu. America tak mau berkomentar apa-apa, Canada juga sama.

Ia menundukkan wajahnya dan menutup menggunakan kedua tangan. Terlihat sebuah butiran bening terjatuh, celana jeans America menjadi berwarna lebih gelap setelah terkena tetesan air mata. Canada mengusap punggung America, tapi ia tak berani mengucapkan sepatah katapun. Mereka terdiam di dalam salah satu rumah sakit di negara bagian yang terkenal dengan sebutan 'The Big Apple' itu.

"Aku harus menelepon seseorang, mungkin England… ah tidak, bosnya saja! Lalu bosku, Canada" suara America serak

Canada hanya mengangguk. America mengeluarkan telepon genggam miliknya, sebuah nomor telepon bertuliskan nama kontak Istana Buckingham terlihat jelas. Iapun menyentuh pilihan menelepon.

"Hello? You majesty? Ini tentang organisasi yang hangat diperbincangkan beberapa tahun kemarin…"

Beberapa jam setelah panggilan

"BLOODY HELL!" England sudah misuh-misuh tak jelas, sepertinya masalah berdatangan untuknya. Disaat seperti ini entah kenapa menurut author alis milik personifikasi UK itu bertambah tebal.

Sepertinya author lebih baik tutup mulut daripada terkena semprotan.

"Okay… England… tarik nafas panjang, tak mungkin organisasi itu nyata! Walaupun America baru saja mengklarifikasi keberadaan organisasi gila itu, tetap saja kalau belum diteliti… apalagi dia berkata ada beberapa orang intern miliknya terlibat! That bloody twat! Dan kenapa harus MENELEPON BOSKU? ! THAT BLOODY AMERICAN!?" langsung saja kakinya ia hentakkan

Orang malang yang tak sengaja lewat hanya merinding karena mendengar banyak kata-kata kotor dengan mudahnya meluncur dari mulut seorang anak muda(menurut si staff sial).

Kau tahu? Ia sebenarnya sedang asyiknya mempersiapkan diri untuk nanti saat libur musim dingin. Membeli teh serta beberapa barang yang dibutuhkan, ia sedang menikmati hari tanpa pekerjaan. Namun, harus terganggu karena panggilan dari istana Buckingham langsung dari sang ratu dan mendapat berita dari personifikasi negara adidaya.

Ia berencana meminum teh hangat ditemani scone dan buku berkualitas, damn it! Rencana selanjutnya ia juga akan menonton Doctor Who serta Sherlock, kenapa harus ada yang mengganggu? !

Ia tak ingin natal tahun ini menjadi bloodbath seperti kemarin. Dimana ia harus bertelanjang dada disertai mabuk parah berkeliling Eropa. Untung saja ia tak ditangkap pihak keamanan!

Ini sebuah berawal dari gadis itu, sudah dibilang bukan kalau dekat dengan manusia yang tak seharusnya dekat dengan personifikasi akan berakibat hal bermacam-macam. England facepalm di tempat, kenapa dia itu keras kepala? Dengarkan orang yang sudah mengalaminya sesekali! Tapi kalau ia ingat-ingat zaman dirinya masih bajak laut, langsung saja ekspresi maklum menghiasi wajahnya.

"After all, he is still young…" pikirnya

"Yah, terpaksa World Meeting dadakan diadakan di rumahku sekarang"

Ia kembali sibuk berkutat pada telepon genggam di tangannya, terdengar ia menelepon beberapa pihak untuk mempersiapkan world meeting secepatnya. Walaupun pada akhirnya terkena semprotan dari Germany karena hal ini dan dibalas sengit oleh England juga. Untung saja si bos memaklumi hal mendadak seperti ini, apalagi mendengar berita America pihaknya sampai memesan sebuah tempat pertemuan privat di salah satu hotel ternama dan ia sedang tidak sial karena tempat tersebut kosong tak ada yang memakai.

England menyetop taxicab untuk menuju tempat pertemuan privat, ia hanya berharap cuaca di London sedikit berbaik hati untuk cerah seharian.

Di dalam taxicab, telepon genggam England bordering. Saat diangkat, ternyata France yang tumbennya menelepon. Bahkan biasanya percakapan mereka ini akan berakhir dalam perdebatan. Tapi melihat nada France, sepertinya cukup serius. Mata hijaunya menatap jalanan London, mendengar alasan France bahwa ia tak akan datang dan akan diwakili Monaco.

England sebenarnya sedikit kesal. Tapi langsung memaklumi saat mengatakan akan mengunjungi America yang anehnya tak datang juga walaupun laporan ini datang darinya. Mungkin, yah sebuah perkiraan muncul kalau France pastinya akan berbicara tentang si gadis. Entah kenapa ia jadi mengingat tentang Joan of Arc.

"Pasti ada beberapa anggota PBB bakalan mengomel dihadapanku"

Beberapa jam kemudian dimana rumah sakit America berada

Orang dengan rambut sebahu dan pakaian kasual tapi terlihat bukan merk yang bisa diremehkan mendatangi pusat informasi pasien. Ia berbincang sebentar untuk mengetahui dimana ruangan Amelia F. Jones berada. France bertaruh kalau America ada di ruangan tersebut dan tidak ikut pertemuan mendadak.

Benar saja, matanya mendapati America sedang termenung dengan wajah menunduk. Sebenarnya kedua tangannya menutup wajahnya sehingga tak terlihat bagaimana ekspresi si negara adidaya. Tapi, melihat Amelia dalam keadaan cukup mengerikan bagi personifikasi yang memang biasa luka namun cepat sembuh dan jangan lupa abadi. Jadi, France masuk ke ruangan secara diam-diam. Ia bisa melihat wajah tanpa ekpresi si gadis. Yah, ia menerima alasan utama kenapa America mau berhubungan khusus jika melihat wajahnya.

"France, tak baik melihat wajah pacar orang lain" suara America mengagetkan personifikasi country of love tersebut

"Ah, Amerique! Kukira kau tak menyadari kalau aku sudah datang!" ia mencoba suaranya untuk tidak ada sedikitpun memberi isyarat bahwa dirinya terkejut

"ahahaha… memangnya aku tak memiliki perasaan peka, terutama para penyusup? bagaimana bisa aku mengalahkan England hanya dalam tujuh tahun di perang itu? Apa mengalahkan Russia hanyalah keberuntungan? Cross finger? I think impossible."

Ah, sepertinya France mendapati America dalam bad mood dan kata-katanya harus ia jaga. France mengambil kursi tersisa disamping America. Ia melihat beberapa bagian dari si negara muda ada bekas luka. Sehabis berkelahi, pikirnya.

"Oh, Amerique! Tidak ikut meeting?" France mencoba mencairkan suasana

"Canada mewakilkan, kau sendiri?"

"Aku diwakilkan Monaco dan… apa yang membuatmu berada di sini?"

"Menunggu seseorang."

Ada sedikit jeda dalam percakapan kedua orang tersebut.

Alis kanan si negara cinta terangkat, "huh? Siapa dia? Beruntung sekali orang penting macam kita mau menunggu, maksudku… kita personifikasi yang artinya setara dengan pemerintah dan dalam konteks ini adalah dirimu"

"Kau sudah lihat di hadapanmu sendiri bukan?" untuk pertama kalinya America memperlihatkan wajahnya (karena ia menunduk dan ditutupi dengan kedua tangan) dan terlihat jelas bekas menangis.

France menjadi tak enak hati. Yang ia tahu, America terakhir menangis saat entah sudah lama. Tapi, kalau tidak salah Canada pernah mengatakan setelah tragedy 11 September.

"Err… dia terkena apa? Tembakan? Tusukan atau pukulan?" France akhirnya to-the-point melihat wajah America

"Tertusuk di perut" suara America serak

"America-err… kalau hanya di perut tak apa kan? Maksudku bukan titik vital manusia! Jadi kau tenang saja. Aku percaya ia akan tetap hidup sampai akhir hayatnya."

America tak berkomentar, ia hanya mengeluarkan jam saku terlihat tua nan mahal. Senyuman lembut terkembang di bibir.

"America, kau sudah tahu kan kalau aku pernah dekat dengan Jeanne d' Arc atau dalam bahasa Inggris menyebutnya Joan of Arc?"

America mengangguk pelan.

"Hanya England dan Canada yang tahu, aku bahkan sudah hampir meminang dia? Memintanya menikah dan itu sangat gila!"

America mendengar itu tak bergeming, tapi selanjutnya dirinya memilih berdiri dan meninggalkan ruangan Amelia. France pada awalnya ingin membiarkannya, namun lengan America dipegang. Ia baru ingat akan mengatakan beberapa hal tentang si gadis. Ataupun seperti apa sebenarnya keadannya dari awal bertemu hingga 'terbakar' tak tersisa.

"America, aku tahu kau tak suka seseorang menceramahi dirimu. Aku tahu saat melihat Prussia, ada nada benci disaat perang kemerdekaanmu. Dan aku juga tahu kalau England hanya dianggap saudara, bahkan sebenarnya ingin kau mengatakan kalau dia bukanlah siapa-siapamu. Err… tapi, aku tak akan ceramah kok! Hanya berbagi pengalaman dan mungkin kita bisa salang mencurahkan hati?" France mengedipkan mata dengan centil

America menghela nafas, tapi ia memilih duduk. "Baiklah."

France hanya tersenyum, matanya ditutup untuk mengenang si gadis Orleans.

"30 Maret… 1431 dan aku sampai sekarang masih bersalah. Oh, kau masih kecil saat itu bahkan kalau tak salah mungkin belum diketahui siapapun. Yah, benar-benar tak bisa kuungkapkan" France mengambil bunga mawar putih yang ditaruh di meja dekat tempat tidur pasien, ia memainkannya di tangan dan tentu saja dicium

"Dia… meninggal karena dibakar England, maksudku… rakyatnya" America memperhatikan France

"Wah, kukira kau tak terlalu tertarik dengan sejarah negara lain? Mungkin kuceritakan ulang saja ya? Ia benar-benar gadis yang luar biasa. Bisa meyakinkan raja yang setengah hati sampai berhasil membuat pengangkatan Louis VII menjadi raja. Bahkan memenangkan beberapa perang melawan England. Hanya dalam empat bulan saja"

"Terdengar seperti Amelia bagiku"

"Amelia ini?"

"Earhart"

"Ahh… gadis pilot! Dia terlihat seperti orang yang menyenangkan! Oh tentang perang itu, aku masih ingat wajah England terlihat kesal namun ada sedikit kagum. Ohonhonhon~ nah, aku sudah menceritakan tentangku bagaimana denganmu?"

"Kau tak menceritakan kenapa bisa hampir meminang dia"

France tersenyum.

"Baiklah kalau kau meminta… yang kuingat itu seminggu sebelum ditangkap dimana aku meminta seorang blacksmith membua cincin terindah terbuat dari emas dan permata. Aku akan meminangnya, walaupun sebenarnya aku tahu kondisiku dan bagaimana seorang negara tetap muda"

America tak mau berkomentar apa-apa.

"Tapi karena cinta sudah tak bisa dibendung, mau bagaimana lagi? Namun, mungkin karena tuhan tak menghendaki cinta terlarang ini… jadi yang maha kuasa lebih baik memainkan sejarahku, membuatnya ditangkap dan tak ada yang membantu. Tapi aku selalu berdoa, orang-orang yang seperti itu. Orang-orang yang dimainkan oleh sejarah, aku berharap mereka hidup normal, diberi kesempatan untuk jatuh cinta, dan hidup di suatu tempat"

"Lalu, apa harapanmu terkabul, France?"

"Yup! Tuhan melakukan hal luar biasa, aku bertemu Lisa dan ia terlihat bahagia sekali"

"Kau bertemu dengannya kapan? Lalu, apa yang kau lakukan?"

"Aku tak ingat, tapi aku bertemu dekat Gereja St. Michele dan dia semanis dulu seperti saat memakai baju zirah. Bedanya pakaiannya biasa saja, tapi sayangnya ia bukan warga negaraku sepertinya. Aksennya terlalu asing buat seorang warga negaraku walaupun ia memakai bahasa Perancis. Logatnya… hmm… terdengar seperti wargamu!"

"Maksudmu,kau berasumsi Lisa orang Amerika? Warga negaraku? Tunggu, jangan katakan ia berambut pendek berwarna pirang kecokelatan dan… ia memang warga negaraku, aku bertemu dia sedang menceritakan tentang bertemu denganmu… kukira kau… jadi, maksudnya?" mata America menyipit saat menyadari wajah si gadis

"Yah?"

"Jadi maksudmu kau sengaja mendekatinya bahkan mengatakan nama aslimu karena dia adalah reinkarnasi Joan of Arc? Seriously?"

"Itu sih menurutku"

Mereka terdiam lagi setelah bicara panjang.

"Lalu, apa tujuan utamamu untuk bercerita panjang padaku?"

"Aku ingin menunjukkan kalau cinta itu tak salah, bahkan satu-satunya kekuatan terkuat adalah cinta. Dan cinta itu bermacam-macam bentuknya, bahkan rasa rindu terhadap pemimpin sebelumnya juga disebut cinta. Dan untuk kita… boleh saja jatuh cinta namun ada saatnya kita melepas orang beruntung sekaligus sial tersebut"

"Sial?"

"Aku percaya, kalau seriap manusia yang jatuh cinta atau malah kita pasti akan terkena kutukan. Apa kau tahu Anastasia? Russia menyukainya"

America menatap France dengan pandangan tak percaya. Russia, negara semenakutkan (dan menyebalkan) macam begitu bisa menyukai seorang manusia. Bahkan menurut catatan sejarah, banyak sekali manusia kehilangan nyawa di tanahnya!

"Russia?"

"Yup!"

"Psikopat macam dia?"

France hanya mengangguk yakin.

Disaat keheningan mulai mengambil alih, iPhone milik America berbunyi. Ternyata sebuah pesan singkat dari Canada dan England. Hal pertama yang ia sadari adalah permintaan maaf sebesar-besarnya. Tentu dirnya merasa bingung. Namun saat membaca kelanjutannya, matanya membesar.

"Ada apa America?" France merasa khawatir

"England dan Canada memberitahu tentang… Amelia" America memasukkan iPhonennya ke kantung

"Kalau begitu kita bersiap, aku mau membantumu nanti dihadapan semua negara, kok!"

Mata America berbinar, ia sangat senang.

"Benarkah?"

"Oui! Parisian selalu membela cinta! Ohonhonhon~"

"Memang kau seperti itu, France"

France nyengir, America berdiri dari tempat duduknya dan mencium kening Amelia. France hanya tersenyum melihat America seperti itu. Ia berdiri dan duluan keluar dari ruang perawat. America mengikuti keluar dan mereka tanpa banyak bicara menuju ruang parkir. America tahu kalau France menggunakan pesawat komersil dan taksi.

Di tengah perjalanan, keduanya tak ada sepatah kata keluar dari mulut masing-masing. France lebih peduli pada telepon genggam, sepertinya panggilan dari Monaco. America teringat, iapun memanggil orang kepercayaannya lewat alat komunikasi yang disediakan dalam mobil. France terkejut melihat bahwa mobil America ternyata sangat canggih, melebihi miliknya di rumah.

"Err… mobilmu?"

"HAHAHA! Ini kudapat karena memesan dan meminta dari menteri pertahanku, sebenarnya ini tadinya milik IMF tapi… diberikan padaku"

Sebuah video call dan terlihat beberapa orang memakai pakaian tentara Amerika. France berasumsi kalau mereka bukan di wilayahnya, pasti di kapal induk. Mengingat peralatan canggih terlihat dilayar. France penasaran dan ikut memperhatikan.

"Oh, hello Rick! Aku menelepon saat ini tak mengganggu, bukan?" America tersenyum lebar

"No,sir! Ada butuh apa? Tapi kenapa saat sedang ada beberapa orang di ruangan ini? Aku takut dimarahi atasanku" salah satu prajurit membalasnya, sepertinya ia kenal baik America

"Tenang, atasanmu mudah kuurus. Err… posisi kapal induk terdekat dimana?"

"Err… Evertt, Washington?"

"Aku sedang berada di New York"

"Tapi jet pribadi anda ada disana, sir"

"Tunggu, 'disana'? maksudmu kau bukan berada di kapal induk tersebut?"

"Bukan,sir"

America menghela nafas.

"Baiklah… aku akan pergi ke sana"

France kebingungan, kau tahu kan kalau New York ke Washington itu jauh?

Beberapa meni kemudian kebingungan France terjawab dan ia tak menikmati perjalanan tersebut sama sekali.

Hilton Metropole Hotel London, UK

England dan Canada sedang tak enak hati, apalagi tatapan kekesalan diluncurkan kepada mereka. Tak bisa dipungkiri, karena mereka telah menutupi kesalahan fatal si negara adidaya. Beberapa negara terutama yang tak menyukai America makin membencinya. Mulai banyak bisikan membicarakan America. England dan Canada saling menatap, akhirnya bersepakat untuk menghela nafas lelah.

"Kau tahu Canada? Saudaramu kelewat idiot" gumam England

"Walaupun idiot ia tetap saja paling hebat dan terkuat diantara kita" balas Canada

"Aku… yah…"

"Ia bahkan tak menangis sesudah mengalahkanmu, kan?"

England mengangguk.

BRAK

Pintu meeting terbuka, terlihat America serta France nafasnya tersengal-sengal. Sepertinya mereka berlari.

"Hah-hah-hah! Ini semua salahmu, Amérique! Kalau saja tak salah membaca peta, kita tak tersesat!" France mengambil air minum terdekat dan menghempaskan badannya ke kursi

"Excuse me! Kau juga membantuku tapi ternyata salah juga! Maaannn! Capai sekali!"

America tak sadar kalau Russia mendekatinya. Hingga sebuah benda dengan cepat terarah padanya dan si negara yang sedang lelah langsung melakukan backflip. Membuat suara 'ooh' diantara negara-negara lain. Mata America langsung menajam bahkan menurut orang melihatnya seperti lebih 'menyala' dari biasanya.

"Russia, aku sedang lelah karena berlari dari jauh ditambah aku tak membawa apa-apa. France memakai Euro jadi susah juga karena harus ditukar Poundsterling. Jadi, jangan buat moodku bertambah buruk"

"Moodku malah lebih buruk setelah mengetahui tentang dirimu, Америка"

"Bukankah kau sudah tahu tentang diriku sejak Cold War, Russia?"

"Kolkolkol"

America tak bicara apa-apa.

"Tapi… kau pasti mengenal Amelia F. Jones, da? Si gadis pengantar?"

"Lalu?"

Germany berdiri, ia berdehem untuk menghentikan keadaan yang sempat memanas.

"America, jelaskan bagaimana bisa kau berhubungan dengan gadis bernama Amelia F. Jones dan itu wargamu kan?"

America diam ditempat, ia bahkan merasa tak bisa nafas saat itu.


Author : Yo! Akhirnya saya kembali dari alam kubur, hahahahaha!

Luciano Fyro : MAKASIHH! Tapi disini banyaknya hedkenon saya semua XDDD

Wahhh makasih!

Salam awesome juga!

Noir-Alvarez : Selamat udah satu tahunnya! Wink-wonk #ditendang

Wah, makasih buat masukannya. Nanti dibikin POV Amelia lagi

Makasih buat review!

Author : rencananya sih bakalan selesai sebentar lagi, tapi nggak tau deh terus chapter ini lebih banyak drama XDDD oh dan trivianya, saya sampe nyari dari kapal induk sampai hotel terluas tempat pertemuannya selama beberapa jam!

Italy : RnR-nya Veee~