Cast : [YoonMin Couple] Min Yoongi a.k.a Suga, Park Jimin ,Jungkook

Seme!Jimin , Uke!GS!Yoongi

Support Cast : Namjoon ,GS!Heechul

WARNING!

Ada adegan kekerasan ,psyco dan lain-lain yang bisa mengakibatkan mual dan kantuk yang berbahaya. Pokoknya bahaya lah

A/N : Hmm Well, another remake dari novel salah satu penulis terkenal Tante Santhy Agatha yang berjudul "From The Darkest Side" ,lagi-lagi ini dengan pairing MinYoon tersayang dan termungil.

Happy reading

BAB 10-Chapter 14

Jungkook menggedong Yoongi memasuki rumah itu. Para pelayan tampak sibuk menyiapkan segala sesuatunya, suasana begitu sibuk tidak kelihatan kalau sekarang sudah dini hari.

Lelaki itu mendudukkan Yoongi di ranjangnya yang berseprai satin, lalu memberikan beberapa instruksi kepada para pelayannya. Setelah air panas dan perban serta obat-obatan lain diletakkan, para pelayan melangkah pergi dan meninggalkan Yoongi sendirian di dalam kamar bersama Jungkook.

Yoongi terdiam, berusaha menggenggam jari-jarinya yang gemetaran. Dia masih mengenakan jas Jungkook yang diselimutkan di bagian depan dadanya, menutupi pakaiannya yang robek. Dia sangat ketakutan, usaha pemerkosaan yang dilakukan Hoseok telah menguras seluruh emosinya, dan kemudian pemandangan mayat Hoseok yang bersimbah darah dengan mata dan ekspresi terkejut akan selalu menghantuinya. Ditatapnya Jungkook dengan pandangan ragu.

"Apakah kau akan membunuhku?"

Jungkook hanya tersenyum misterius dan kemudian bergumam tenang. "Buka jas itu."

Yoongi langsung berjingkat dari ranjang, terkejut. Apakah dia dilepaskan dari mulut buaya hanya untuk masuk ke kandang harimau yang lebih ganas? Apakah lelaki itu akan memperkosanya?

Digigitnya bibirnya. Dia tidak akan menyerah kepada Jungkook, dan membiarkan lelaki itu menguasainya dengan mudah.

"Tidak." Jawabnya dengan menantang.

Jungkook mengangkat alisnya, "Keras kepala, padahal kau begitu lemah. Buka jas itu."

"Tidak!" suara Yoongi makin keras, dia benar-benar ketakutan.

"Aku tidak akan memperkosamu. Aku tidak tertarik dengan perempuan yang acak-acakan setelah dipegang lelaki lain, dan terluka di mulutnya, tidak akan enak untuk dicium." Jungkook tampak tidak sabar, "Biarkan aku melihat lukamu."

Yoongi gemetar. Aura menakutkan itu masih ada, memancar jelas dari tubuh Jungkook.

Benarkah lelaki itu akan melakukannya? Ataukah lelaki itu akan memperdayanya? Jungkook mendekatkan meja yang berisi baskom air hangat, obat-obatan, kapas, perban dan beberapa obat luar lainnya ke dekat ranjang. Kemudian dia menarik kursi, duduk tepat di depan Yoongi yang terduduk di tepi ranjang. Matanya menatap tajam, memaku Yoongi di tempat sehingga Yoongi tidak bisa berbuat apa-apa ketika Jungkook melepaskan jas yang melindungi buah dadanya yang terpampang jelas karena pakaiannya yang robek.

Otomatis Yoongi langsung menutupi buah dadanya. Tetapi Jungkook mencengkeram pergelangan tangannya lembut, dan menyingkirkan tangannya ke samping tanpa kata. Pipi Yoongi memerah ketika telanjang dada di depan lelaki itu tampaknya tidak tertarik dengan pemandangan ranum buah dadanya. Matanya terpaku pada bekas cakaran dan goresan yang menimbulkan bilur-bilur merah di pundak Yoongi.

Dengan seksama Jungkook meraih pergelangan tangan Yoongi, memeriksa memar-memar kemerahan yang beberapa mulai membiru dengan mengerikan di sana. Lelaki itu lalu menggunakan jemarinya untuk mengangkat dagu Yoongi. Memiringkan bibirnya agar terkena sinar lampu sehingga lukanya terlihat jelas.

Sejenak suasana hening. Tetapi aura kemarahan terasa kental. Memenuhi ruangan, membuat suasana menjadi menakutkan. Lelaki itu menggertakkan gerahamnya sambil mengamati luka-luka Yoongi. Dan kemudian terdiam lama seolah mencoba menahan diri.

Lalu dalam keheningan pula Jungkook mengambil kapas dan mencelupkannya ke dalam cairan alkohol antiseptik kemudian mengusap bilur-bilur kemerahan yang sedikit berdarah di pundak Yoongi. Yoongi mengerang atas sentuhan pertama kapas itu. Tetapi Jungkook memperlembut gerakannya,

"Shhh..." dia berbisik pelan, mencoba menenangkan Yoongi ketika sekali lagi dia mengusap bilur-bilur itu dengan cairan alkohol dan antiseptik, membersihkannya. Yoongi mengernyit merasakan pedih di kulitnya ketika proses itu.

Kemudian lelaki itu mencelupkan kapas di air hangat dan menggunakan jemarinya sekali lagi untuk mengangkat dagu Yoongi, dengan gerakan lembut tetapi pasti, diusapnya luka bekas tamparan Jung Hoseok di ujung bibir Yoongi.

"Ini akan membiru dan rasanya akan sedikit sakit." Jungkook mengucapkan kata-kata yang memecah keheningan, dia mengerutkan keningnya seakan tidak suka,

"Aku tidak akan bisa menciummu untuk beberapa lama."

Yoongi melotot, memandang Jungkook dengan marah. Seluruh tubuhnya sakit dan dia hamper diperkosa dengan memar dan luka di semua sisi tubuhnya, dan lelaki itu malahan mencemaskan tidak bisa menciumnya? Yoongi makin yakin Jungkook lelaki yang jahat dan tidak punya empati.

Tetapi lelaki jahat inilah yang menyelamatkannya dari pemerkosanya. Yoongi tiba-tiba menyadari kenyataan itu. Kalau Jungkook tidak datang dan menancapkan pisaunya ke punggung Jung Hoseok tadi, mungkin Jung Hoseok sudah berhasil memperkosanya. Yoongi bergidik ngeri membayangkan apabila hal itu benar terjadi.

Jungkook mengamati perubahan ekspresi Yoongi. Tetapi dia tetap diam. Tangannya masih sibuk membersihkan darah di sudut mulut Yoongi. Setelah yakin sudah bersih, lelaki itu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya dengan bilur-bilur bekas goresan dan cakaran di tubuh Yoongi, dioleskannya dengan antiseptik.

"Selesai. Sekarang buka bajumu."

"Tidak mau." Yoongi kembali melindungi dadanya dengan kedua lengannya. Lelaki itu bermimpi kalau dia bisa membuat Yoongi telanjang secara sukarela di depannya.

Jungkook menatap Yoongi dengan marah. Sejenak ada api di matanya, seolah dia bertekad akan membuat Yoongi menuruti kemauannya. Tetapi kemudian lelaki itu melihat penampilan Yoongi yang mengenaskan dan acak-acakan, dan entah kenapa memutuskan mundur dan mengalah.

"Oke. Ganti bajumu dengan itu." Lelaki itu menunjuk piyama sutra warna hitamnya yang terlipat rapi di meja. "Aku akan membalikkan badan."

"Kenapa kau tidak keluar dari ruangan ini?"

"Karena aku tidak mau." Tatapan Jungkook kejam dan mengancam, mengingatkan Yoongi kalau perempuan itu sudah terlalu jauh mencoba batas kesabarannya,

"Cepat ganti bajumu."

Jungkook melangkah ke jendela yang membelakangi Yoongi dan menatap ke arah luar. Sejenak Yoongi terpaku menatap punggung Jungkook, tak menyangka kalau Jungkook mau mengalah untuknya.

Kemudian dia berusaha membuka gaunnya. Roknya sobek dan menggantung dengan menyedihkan di pinggangnya. Yoongi melepaskan gaunnya hingga dia hanya mengenakan pakaian dalam. Diliriknya Jungkook dengan waspada. Lelaki itu masih membelakanginya dan menatap ke luar jendela. Kaku bagaikan batu.

Dengan cepat Yoongi meraih celana piyama itu yang kebesaran dan mengenakannya. Ketika hendak memakai piyama hitam itu, dia harus mengenakannya dengan susah payah. Lengannya kaku karena memar, dan kegiatan mengancingkan kemeja itu sangatlah susah dilakukan karena jemarinya kesakitan dan gemetar.

Air matanya menetes, berusaha mengancingkan kemeja itu berkali-kali tetapi tidak berhasil. Dia mengutuk ketikdak berdayaannya.

Jungkook membalikkan badannya ketika mendengar isakan tertahan Yoongi, dan menemukan gadis itu sedang berusaha mengancingkan kemejanya dengan tangan gemetar dan air mata bercucuran. Lelaki itu mengumpat pelan, lalu menghampiri Yoongi.

Tatapan Yoongi kepadanya sungguh meluluhkan hati, bahkan untuk lelaki berhati kejam seperti Jungkook. Air mata yang menetes tanpa henti mengalir di pipi Yoongi,

"Aku... aku sudah berusaha... tapi ini susah sekali." Tangan Yoongi gemetar tak terkendali.

Hingga Jungkook menangkupkan jemarinya ke jemari Yoongi, berusaha menghentikan gemetarnya,

"Biarkan aku yang melakukannya." Lelaki itu menyingkirkan tangan Yoongi dan mengancingkan kemeja Yoongi satu persatu. Ketika sudah tertutup sampai ke atas, dia menghela Yoongi supaya berbaring ke atas tempat tidur satin hitamnya.

"Tidurlah." Jungkook bergumam memerintah, tetapi rupanya dia tidak perlu melakukannya karena begitu berbaring, Yoongi langsung tertidur pulas.

Semalaman Jungkook tidak tidur. Dia bersandar di jendela, sambil mengamati Yoongi yang tertidur pulas.

.

.

.

Taehyung menghadapnya pagi-pagi sekali, dan Jungkook menemuinya di ruang kerjanya.

"Sudah kau bereskan?"

"Semuanya." Jawab Taehyung tenang, "Tidak akan ada yang tahu bahwa Jung Hoseok telah lenyap. Dia menghilang begitu saja dari muka bumi. Dan apartemennya sudah bersih, dari semua bercak darah, dari semua sidik jari dan jejak kaki. Tidak akan ada yang bisa mengaitkan kita dengan apartemen itu."

"Bagus." Jungkook masih tampak tak puas, "Apakah Jung Hoseok punya keluarga?"

"Dia punya seorang kakak laki-laki, kakaknya seorang wartawan juga. Dan juga seorang tunangan di luar kota." Taehyung mengerti apa yang diinginkan bosnya,

"Apakah anda ingin saya 'membereskan' seluruh keluarganya?"

"Ya." Jungkook menggeram. "Jangan habisi mereka, cukup hancurkan kehidupannya, aku ingin mereka hancur perlahan dan menderita pelan-pelan."

Bayangan akan goresan luka di pundak Yoongi, memar-memarnya dan bekas tamparan keras di pipi dan ujung bibirnya membuatnya marah besar. Jung Hoseok sudah mati untuk bisa menerima pembalasannya. Tetapi keluarganya tidak.

Jungkook tidak tanggung-tanggung kalau membalas dendam. Siapapun yang berani menyentuh apa yang menjadi miliknya, dalam hal ini merusaknya, maka akan menerima pembalasan yang setimpal.

.

.

.

Yoongi terbangun hampir tengah hari. Kali ini seluruh tubuhnya benar-benar terasa sakit. Ujung bibirnya terasa bengkak sehingga dia susah berbicara. Dengan susah payah dia berusaha duduk di ranjang. Tetapi lalu berbaring lagi dengan lemah.

"Jangan duduk dulu. Kau akan merasakan kesakitan yang tidak menyenangkan setelah beberapa hari, tetapi setelah itu kau akan membaik."

Suara itu terdengar lagi dari sudut gelap di dekat jendela. Yoongi menolehkan kepalanya dan mendapati Jungkook berdiri di dekat bayang-bayang di jendela, lelaki itu sedang mengamatinya. Kepala Yoongi terasa pening, bahkan sekarang dia ditempatkan di kamar Jungkook.

Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan dirinya?

"Kau sudah berhasil menahanku di rumah ini. Sesuai obsesimu. Sekarang apa yang akan kaulakukan padaku?"

Jungkook tertawa pelan dan melangkah mendekati Yoongi, "Kau benar-benar tidak takut padaku ya..." Lelaki itu membuat Yoongi menghadapnya lalu sebelah jemarinya mencengkeram leher Yoongi yang mungil.

"Seharusnya kau tidak pernah mencoba kabur..." Suara Jungkook mendesis penuh kemarahan, dan menatap Yoongi mencoba-coba. "Aku bisa meremukkan leher mungilmu ini dengan sebelah tangan. Membunuhmu dengan tangan kosong... Kau tahu aku pernah melakukannya pada seorang pelacur. Aku membunuhnya dengan tangan kosong, lalu pergi. Aku melakukannya hanya untuk mengganggu Jimin, meninggalkannya terbangun dengan mayat wanita yang mati tercekik di ranjangnya. Lalu tertawa terbahak-bahak sambil mengamati dia berusaha membereskan semuanya."

"Kalau begitu lakukan saja." Yoongi memejamkan matanya. Toh dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kalaupun dia harus mati di tangan Jungkook, mungkin itu jalan yang terbaik.

Jemari Jungkook mengencang di lehernya, seakan benar-benar ingin mencekiknya. Tetapi kemudian pegangannya mengendur dan lelaki itu melepaskan pegangan tangannya di leher Yoongi.

Yoongi membuka matanya dan melihat Jungkook sedang mengamatinya dengan pandangan menilai.

"Kenapa kau tidak membunuhku?"

"Karena kau akan lebih bernilai bagiku kalau kau hidup." Jungkook menyeringai dengan tatapan jahat, "Aku menyimpanmu di sini bukan untuk kubunuh. Kalau aku ingin membunuh perempuan, aku tinggal menjentikkan jari dan membuat mereka datang kepadaku. Mereka bahkan tidak akan sadar sampai mereka sudah di ambang kematian."

Mata Yoongi membara, "Seperti yang kau lakukan pada Heechul, ibuku."

"Itu kecelakaan." Jungkook tampak tidak menyesal, bahkan tampak sangat puas, "Ibumu menyelinap masuk ke dalam kamarku, dengan baju seksi transparan yang dikiranya bisa membujukku untuk jatuh dalam pesona tubuhnya." Jungkook mengernyit jijik.

"Dan rasa ingin tahu membuatnya membuka koleksi album foto milikku." Jungkook tersenyum, tahu bahwa Yoongi mengetahui apa maksudnya, dia yakin Namjoon sudah menjelaskan semuanya kepada perempuan ini, "Jadi dia harus kubunuh."

"Apakah begitu mudahnya bagimu untuk membunuh seseorang? Apakah kau memang tidak punya perasaan?"

"Perasaan?" Jungkook tertawa keras, "Cukup Jimin yang selalu dikuasai perasaannya, perasaan hanya akan membuatmu lemah. Sama seperti ibu kandungku yang dikuasai perasaan cinta membabi butanya kepada ayahku, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku dihajar dan dipukuli ketika usiaku masih kecil"

Yoongi memandang Jungkook dengan terkejut. Jimin tidak pernah menceritakan hal itu kepadanya. Apakah yang dikatakan Jungkook itu benar, ataukah Jungkook hanya berusaha memanipulasinya.

"Jimin tidak ingat apa-apa, dia tahu kalau dipukuli, tetapi itu hanya karena dia terbangun dengan bilur luka di punggungnya." Mata Jungkook tampak gelap penuh amarah. "Ayahku itu monster yang suka memukuli anak-anaknya, kalau aku tidak sesuai dengan standarnya, dia akan mengayunkan tongkatnya dan memukuli punggungku tanpa ampun. Aku muncul karena peristiwa itu." Jungkook tersenyum dingin kepada Yoongi,

"Kau pasti bertanya apakah Jimin memilikiku sejak awal. Jawabannya mungkin tidak. Aku adalah pertahanan diri Jimin ketika dia merasakan sakit yang amat sangat ketika dipukuli oleh ayahnya. Jimin menenggelamkan kesadarannya dan lari dari kesakitan itu. Dan akulah yang kemudian terbentuk dari alam bawah sadarnya, terbangun untuk sadar penuh ketika ayahku memukuli punggunghku dengan tongkat. Akulah yang menanggung kesakitan atas pukulan-pukulan itu untuk Jimin."

Yoongi menutup bibirnya dengan tangan. Terkejut atas cerita Jungkook, dia pasti masih sangat kecil ketika harus menanggung kekejaman orangtuanya seperti itu.

Jungkook menatap Yoongi tajam. "Semua kemarahan Jimin, kebenciannya kepada orang tuanya, kebenciannya kepada dunia, semuanya terkumpul pada diriku. Jimin yang membentukku menjadi seperti ini. Sampai kemudian aku tidak tahan lagi menerima pukulanpukulan ayah. Aku merenggut tongkat itu dari tangannya dan memukul kepalanya sampai berdarah. Ibuku berteriak-teriak, dia membela ayahku, bayangkan, anaknya dipukuli dengan tongkat sampai tidak bisa berdiri dia hanya diam... dan ketika suaminya dilukai dia membelanya sekuat tenaga, sungguh ibu yang tidak berguna," Jungkook mencibir sinis,

"Aku lalu mengancam kedua orang tuaku, kalau mereka berani bertindak kasar kepadaku lagi, aku akan membunuh mereka."

Jadi Jungkook terbentuk karena kemarahan terpendam Jimin di masa kecilnya. Kepribadian itu kemudian tumbuh bebas dan kuat, mencari waktu di saat Jimin lemah, lalu menjadi individu yang benar-benar berdiri sendiri.

"Apakah Jimin tidak akan kembali lagi?"

Jungkook tersenyum lambat-lambat, "Tidak sayang, dia sudah lemah dan tak sadarkan diri di sana, aku bahkan tidak bisa merasakan kehadirannya. Kau tahu, aku selalu lebih kuat dari Jimin. Ketika dia menguasai tubuh ini, aku masih tersadar, mengamati dari sudut yang paling gelap di dalamnya. Tetapi ketika aku menguasai tubuh Jimin, dia sepenuhnya tertidur, dan mungkin akan terbangun dengan ingatan samar-samar akan perbuatanku. Hanya saja ketika itu aku masih merasakan kehadirannya, tertidur dalam tubuh ini. Sekarang aku tidak bisa merasakannya." Senyum Jungkook melebar puas, "Tubuh ini sekarang menjadi milikku sepenuhnya."

Wajah Yoongi pucat pasi, benarkah yang dikatakan oleh Jungkook? Bahwa Jimin sudah lenyap? Kalau begitu... apakah sama saja Jimin sudah mati? Itu tidak mungkin. Yoongi menggelengkan kepalanya tanpa sadar. Jimin pasti masih hidup jauh di dalam sana. Dia hanya lemah. Kalau Yoongi ingin menyelamatkan Jimin, dia harus bisa membangunkan kembali Jimin.

Tetapi bagaimana caranya? Lelaki ini tampak begitu kuat dan berkuasa. Dan juga begitu percaya diri. Akankah Yoongi bisa membangunkan Jimin lagi?

.

.

.

Jungkook menemui Namjoon di rumah sakit. Kedua tangan Namjoon yang patah sudah dipasang pen dan di gips. Lelaki tua itu tampak tak berdaya duduk di atas ranjang rumah sakit, benar-benar sesuai dengan apa yang diinginkan Jungkook.

Para penjaga berjaga ketat di dalam dan dl luar ruangan rumah sakit di kamar paling privat itu. Jungkook memasuki kamar itu, dan berdiri sambil mengamati Namjoon. Namjoon memalingkan muka, tidak mau melihat Jungkook. Bayangan anaknya, menantunya, dan cucunya yang masih kecil dan api yang membakar masih begitu menghantuinya.

Seharusnya Jungkook membunuhnya juga karena sekarang dia sudah tidak pantas hidup lagi. Tetapi entah kenapa Jungkook tidak membunuhnya. Namjoon tidak tahu alasannya.

"Aku berhasil mendapatkan kembali Yoongi." Jungkook bergumam lambat-lambat dengan puas, dia seakan hendak menilai reaksi Namjoon.

Namjoon memejamkan matanya, merasakan kesedihan yang menusuk jiwanya. Semuanya gagal. Bahkan usaha satu-satunya menyelamatkan Yoongi pun gagal. Tuan Jimin pasti akan kecewa kepadanya.

"Lain kali, kalau mau merekrut orang, jangan hanya melihat pada hasil penyelidikan di atas kertas. Nilailah moralitas dan kejujurannya." Jungkook bergumam lagi, membuat Namjoon akhirnya menolehkan kepalanya dan menatap Jungkook dengan bingung.

Apa maksud kata-kata Tuan Jungkook?

"Jung Hoseok langsung meneleponku, menawarkan kesepakatan yang lebih besar." Jungkook tersenyum mengejek. "Dia berpikir bahwa menjalin kesepakatan denganku akan memberikan keuntungan yang lebih besar daripada dengamu."

Namjoon mengernyitkan dahinya. Dasar wartawan bodoh! Namjoon benar-benar menyesal mempercayakan tugas sebesar itu kepada Jung Hoseok.

"Dan aku menyelamatkan Yoongi dari Jung Hoseok pada waktunya."

Hening. Lalu Namjoon menatap Jungkook dengan pandangan bertanya-tanya.

"Apa maksud anda?"

"Rekananmu itu mencoba memperkosa Yoongi, aku datang tepat pada waktunya."

"Apakah anda membunuhnya?" Namjoon tetap bertanya meskipun dia sudah tahu jawabannya.

Jungkook terkekeh, "Tentu saja."

Namjoon menarik napas panjang, baru kali ini dia merasa lega atas pembunuhan kejam yang dilakukan Tuan Jungkook. Kalau memang benar Jung Hoseok mengkhianati kesepakatan mereka dan kemudian malah mencoba memperkosa Nona Yoongi, maka dia pantas mati.

"Aku seharusnya menghukummu karena sudah menempatkan Yoongi dalam situasi seperti itu. Dia milikku dan lelaki itu hampir menyentuhnya, dan sudah melukainya."

Namjoon menatap Jungkook dengan tatapan datar. Tuannya itu sudah mematahkan kedua lengannya, hukuman apa lagi yang akan diterimanya? Apakah Tuan Jungkook akan mematahkan kedua kakinya juga?

"Aku akan memikirkan hukuman itu nanti. Sekarang aku sedang cukup senang karena Yoongi telah kembali kepadaku lagi." Jungkook melangkah pergi sambil terkekeh mengejek kepada Namjoon. Ketika berada di pintu, tiba-tiba dia memutar langkahnya,

"Dan omongomong, aku tidak membunuh anak, menantu, dan cucumu, mereka baik-baik saja dan berhasil pindah ke tempat antah berantah yang kau sediakan buat mereka. Sayangnya aku tahu di mana tempat antah berantah itu berada." Tawa mengejek Jungkook semakin keras,

"Aku mengatakan bahwa aku membunuh mereka, hanya untuk menyiksamu." Lelaki itu pergi sambil menutup pintu di belakangnya. Tetapi tawa mengejeknya masih menggema keras dari lorong rumah sakit itu.

Yang bisa dilakukan Namjoon hanya menangis. Air matanya bercucuran. Ia menangis sejadi-jadinya.

Tangisan syukur dan kelegaan yang luar biasa.

.

.

.

Jungkook menatap bayangannya di cermin dan dia mengernyitkan keningnya. Dia merasakan Jimin, yang kini berada di dalam cermin, membalas tatapannya. Jimin ternyata masih ada. Beberapa lama ini Jimin tidak dirasakannya lagi sampai Jungkook mengira dia telah berhasil mengenyahkan Jimin selamanya. Tetapi sekarang Jimin sepertinya menggeliat lagi, bangun dari tidurnya yang panjang.

Apakah jangan-jangan, kehadiran Yoongi juga membuat Jimin menjadi kuat?

"Aku pikir kau sudah mati." Jungkook tersenyum mengejek kepada bayangannya di cermin.

Jimin menatap tajam Jungkook, "Aku masih ada di sini, Jungkook. Kau tidak bisa menguasai tubuh ini sendirian. Dan aku merasakan kehadiran Yoongi."

Jungkook mengernyit. Jadi benar, Yoongilah yang menggugah Jimin agar terbangun. Tetapi bagaimana mungkin? Jungkook yakin Yoongi membuatnya kuat karena gadis itu membuatnya terobsesi, obesi membuatnya fokus dan makin kuat sehingga bisa menguasai tubuh ini.

Tetapi, bagi Jimin, perasaannya kepada Yoongi adalah perasaan cinta. Dan cinta bagi Jungkook adalah sesuatu yang melemahkan. Bagaimana mungkin perasaan cinta bisa membuat Jimin menjadi kuat? Jimin tersadar lagi padahal Jungkook sudah mengusirnya jauh ke dasar.

"Kau tidak akan bisa menguasai Yoongi." Jimin menatap Jungkook dengan pandangan mengancam, "Aku tidak akan membiarkannya."

"Oh ya?" Jungkook tertawa, "Kita lihat saja nanti."

Ketika meninggalkan cermin itu, geraham Jungkook mengeras. Dia harus menguasai Yoongi segera dan menunjukkan kepada Jimin bahwa dia lebih kuat.

.

.

.

Yoongi berdiri mondar-mandir di kamar Jimin. Kamar itu terletak di lantai dua sehingga dia tidak bisa melompat, dan pintunya pun di kunci. Benak Yoongi dipenuhi oleh pikiran-pikiran membingungkan. Dia ingin membangunkan Jimin, tetapi bagaimana caranya? Yoongi sama sekali tidak punya pengalaman ataupun pengetahuan tentang hal-hal psikologi seperti orang-orang berkepribadian ganda.

Mungkin kalau bisa membujuk Jungkook supaya mengizinkannya ke perpustakaan, dia bisa menemukan buku-buku psikologi yang bisa memberikannya petunjuk bagaimana caranya membangunkan kembali Jimin. Jungkook mengatakan dia sudah tidak merasakan Jimin di dalam dirinya, dan dari senyum puasnya, Yoongi tahu Jungkook tidak bohong. Dan itu membuat Yoongi ketakutan. Jiminnya tidak mungkin mati dan hilang begitu saja bukan?

Tiba-tiba terdengar bunyi klik dari luar, dan Yoongi melompat mundur dari pintu, menatap waspada ke sana. Tahu bahwa musuh besarnya, Jungkook akan masuk ke kamar ini.

Dan benar, Jungkook memang masuk, dengan pakaian hitam-hitamnya yang khas. Lelaki itu menatap Yoongi dengan intens dan kemudian mengunci pintunya.

Yoongi mundur selangkah, menyadari tekad yang sangat kuat di mata Jungkook. Tekad yang hampir sama seperti hasratnya untuk membunuh. Tubuh Yoongi gemetaran. Apakah lelaki ini memutuskan bahwa sudah pantas baginya untuk mati?

"Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Jungkook tidak menjawab. Lelaki itu malahan melepas kancing jasnya dan kemudian membuang jas itu di lantai. Dasinya menyusul kemudian. Dan lelaki itu mulai membuka kancing kemejanya.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Yoongi menatap panik ketika Jungkook melemparkan kemejanya ke lantai, memamerkan tubuh indahnya yang sempurna. Otot-otot itu begitu pas dan keras di lengannya, bisepsnya membentuk lengkungan yang indah, begitupun otot dadanya dan perutnya yang kencang. Semuanya otot yang keras dan maskulin, tidak ada sedikitpun lemak di sana.

Jungkook melangkah maju, dan Yoongi melangkah mundur. Jungkook melangkah maju selangkah lagi dan dengan refleks Yoongi melangkah mundur lagi.

"Apa yang akan kau lakukan?" Yoongi setengah berteriak, dengan panic menyadari bahwa dia sudah menempel pada pinggiran kasur, tidak bisa mundur lagi.

Jungkook tidak tersenyum, tatapan matanya tampak kejam tetapi penuh tekad, "Aku akan bercinta denganmu."

TBC

PS:

Sudahkah kalian nonton Kill Me Heal Me ? mungkin melalui drama itu kalian bakal sadar untuk tidak terlalu membenci kuki :"

Ini udah panjang yaa ,jangan protes bilang pendek lagi huhu

Terimakasih untuk semua review yang masuk. Love you all! Sangat membantu menaikkan mood tiap review dari kalian hehe

Hmm dengan ini aku juga mau mengumumkan bahwa aku akan sedikit hiatus :( maaf karna sebentar lagi lebaran aku bakal sibuk dirumah dan setelah lebaran aku bakal disibukkan sama beberapa event hingga akhir tahun. Tapi akan kuusahakan update sebisa aku tapi yaa gak sesering sekarang ini yaa huhu

So ,review gengsss. Semakin banyak review yang masuk semakin semangat aku mencuri waktu ditengah kesibukan mahasiswa akhir ini buat update hihiw

Paypay

And Mohon maaf lahir bathin yaaa