LeChi's project proudly presents
.
.
.
CAFEIN for SKIES : Pick Up Line
.
.
.
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengeruk keuntungan materil atau komersil sama sekali dalam membuat fanfiksi bersama ini.
Pick Up Line:
.
.
By Yuialea Arianne
.
.
.
Warning: OOC, Typo, AU, Shounen-Ai.
.
Fokus Akashi sebelumnya tertuju pada buku, hingga kemudian dialihkan menuju sosok manis yang terlelap. Entah terlelap karena apa, mungkin kelelahan belajar? Atau materinya terlalu membosankan? Akashi berspekulasi.
Ia menumpukan dagu pada sikut yang tergeletak dimeja kayu tempat mereka belajar bersama, memperhatikan wajah tidur Furihata yang polos sembari tersenyum meski kurva berharga itu berada tenggelam diantara kulit. Akashi yang tersenyum, rasanya hanya ada di mimpi Furihata.
Akashi seorang perempuan yang memancarkan aura mendominasi dan kemutlakan aneh, terlalu kuat bahkan mungkin dapat dikategorikan sebagai anomali. Tetapi ketika yang dihadapannya Furihata, ia tak segan menyampirkan gurat wajah ekspresif.
Menurut Akashi, Furihata pun bagian dari anomali. Ia dapat mengacak persona female dominationnya menjadi agak melenceng, menjadi seperti perempuan 'biasa', seperti Furi, seperti gadis-gadis lain.
Mungkin kata 'biasa' kental dengan kesan meremehkan. Karena Akashi, bagaimanapun, tidak 'biasa' sama sekali.
Tapi ia tidak peduli, selama berada di dekat Furi, ia ingin menghilangkan sebisa mungkin sekat 'luar biasa' dan 'biasa' diantara mereka.
Akashi menarik diri, menegakkan tubuh. Rambut merah indahnya terjulur hingga punggung. Jemari-jemari jenjang lentik ia bubuhkan diantara rambut Furihata yang berceceran. Disampirkannya helai-helai yang menganggu pemandangan wajah sang terkasih ke belakang telinga.
Ia dan Furihata memang tidak memiliki hubungan yang solid, dirinya pun tidak mengharapkan apa-apa dari sang gadis. Setidaknya, untuk saat ini.
Tetapi Akashi yakin, perasaannya terhadap Furihata nyata. Tidak perlu diganggu gugat.
Ia membebaskan Furihata untuk menginterpretasikan hubungan 'pertemanan' mereka seperti apa. Menahan diri, memberi waktu dan menghargai. Itulah yang akan ia lakukan seterusnya. Entah sampai kapan...
Netra sanguinnya berkilat sendu. Ia berusaha menanamkan kepercayaan bahwa suatu saat Furihata pasti menyadari kilatan afeksi dan kesungguhan cinta dalam diri ini. Terlepas dari apa gender yang melekat hakiki.
Ya, suatu saat ia pasti dapat menjadikan Furihata sebagai—
"Akashi-san?"
Jemari-jemarinya mengusap mata dengan gerakan repetitif, kanan-kiri. Akashi menghempas lamunan segera saat Furihata menggeliat dalam sentuhannya.
"Jangan memanggil namaku seformal itu, Furi. Meskipun kau menolak untuk menggunakan nama kecilku, tak seharusnya kau membuatku geli dengan caramu memanggil seseorang yang cukup lama kau kenal."
Ah, mungkin untaian kata itu agak kasar untuk diucapkan, tapi bagi Furi, tidak terdapat intonasi yang cukup untuk membuatnya tersinggung. Justru cenderung diabaikannya perkataan Akashi, kemudian menatap jarum pendek pada jam dinding.
"Maafkan aku karena ketiduran." Ia merapikan buku-bukunya yang teronggok, termasuk salah satu yang menjadi alas tidur. "Ini sudah cukup malam, apa kau mau pulang?"
Akashi mengangguk, seraya memasukkan buku ke ransel hitamnya. "Ya."
Mereka keluar, beriringan menuju gerbang. Mobil yang menjemputnya sudah tiba.
"Furi." Akashi memanggil, Furihata mengerti. Ia membuka kedua belah lengannya dan memagut Akashi. Erat, seakan ingin menghapus dingin yang menyisipi epidermis lewat angin.
Bagi Furihata, ini adalah pertukaran tanda afeksi antara gadis sebaya. Bagi Akashi, ini adalah momentum dimana ia merasa bahwa Furi dan dirinya tercipta untuk bersama.
'Furihata, suatu hari nanti...'
"...Jadilah patner hidupku."
Angin membawa larik yang diungkapkannya. Furihata hanya mendengar samar.
"Kenapa, Akashi? Aku tidak dengar."
Akashi melepas rengkuhan satu sama lain. Tak ingin pulang terlalu malam lagi karena menghayati pagutan diantara ia dan Furi. Atau berdelusi pada ruang privasi yang bertendensi membubuhkan rasa sakit di hati.
"Tidak. Bukan apa-apa. Furi, aku pulang."
Furihata tersenyum, "Hati-hati dijalan, Akashi."
'Ya, suatu saat nanti...
Pasti akan kudobrak sekat fana yang menghalangi, menutup diri dari cinta sejati.'
Kakinya berpijak, menghentak, selaras dengan desahan lirih yang disembunyikannya dari dunia.
Karena aku mutlak, begitupun cinta yang terlarang ini.
Karena aku mutlak, begitupun kasih yang menjalari hati.
Sekat membentang memang penghalang.
Tetapi perasaan ini tak turut menghilang..
.
~Fin~
Special thanks: Yuialea Arianne.
Readers and Reviewers, mind to give review? ;)
