A/n: Hey guys special thanks for you, yang sudah mereview dan membaca fic ini. Mohon maaf karena di cerita chapter ini belum bisa menampilkan moment Sasuhina. Karena seperti yang sudah saya peringatkan dari chapter pertama DTN, cerita ini pada awalnya akan menampilkan multipairing.
Namun tenang saja karena saya Sasuhina FC, akhir akan tetap Sasuhina kok :D Disisi lain saya mau memberikan berita gembira kalau moment Sasuhina dan Gaahina will come soon after Kurohina. Dan untuk Kurohina FC, hiks bersiap untuk menangis bombay :'(
Sekilas untuk chapter ini adalah bagi para reader yang mulai menyukai pairing lain, yakni Kurohina. Peringatan rate adalah T, saya tambah semi-M deh biar aman pokoknya di chapter ini.
Sekali lagi bagi kalian yang menyukai fic DTN, mohon untuk tetap setia mereview dan membaca ya.
Yang terakhir, happy reading… ^^
Bulan purnama merah. Ya, tinggal sedikit lagi, waktunya akan tiba. Pemilik dari nama Uchiha Madara itu menyeringai dari balik topengnya. Memandang keluar dari jendela markasnya yang berada di suatu tempat terdalam di hutan berseberangan dengan desa Amegakure. Tempat yang begitu terpencil dan tidak diketahui oleh siapapun. Tempat yang selalu gelap tanpa ada sinar matahari yang masuk.
Pria itu lantas menengok kembali keatas. Ekspresinya berubah tajam dan dingin. Sharingan merahnya terlihat disalah satu lubang di topengnya. Akhirnya setelah lama ia menantikan… saat itu akan segera tiba.
Akhir dari seluruh bencana dan peperangan di dunia.
Saat dimana Juubi akan bangkit dan dia akan menjadi penguasa dari seluruh dunia.
"Saat itu akan tiba." Bisiknya dengan nada berat dan berbisa seolah dari sekarang, pria keturunan Uchiha itu sudah bisa merasakannya. Dimana seluruh dunia tunduk dan takluk berada di bawah kakinya.
"Madara-sama."
Mata sharingan milik Madara beralih kesebelahnya. Salah seorang anggota Akatsuki yang tersisa. "Bagaimana, apakah persiapan dari Kabuto sudah selesai, Zetsu?" tanya dingin. Makhluk yang memiliki dua kepribadian itu mengangguk. "Hampir selesai, Madara-sama. Tinggal sedikit lagi persiapannya. Tinggal mencari orang-orang untuk dikorbankan sebagai tumbal edo-tensei."
Uchiha Madara terdiam membisu. Ia tampak berpikir sejenak. Entah apakah ia harus mempercayai Kabuto sebagai salah satu bawahannya atau tidak. Jujur saja, semenjak Orochimaru keluar dari Akatsuki, sejak saat itu juga Madara mengumumkan salah satu dari tiga sannin itu sebagai musuh. Terlebih lagi, Kabuto terkenal sebagai salah satu ajudan Orochimaru yang sangat setia dan terpercaya. Haruskah ia mengambil resiko dan mempercayai orang seperti itu?
"Apakah tuan masih tidak bisa mempercayainya?" tanya Zetsu lagi. Bukan! Bukan hanya dia, ada satu lagi orang yang ada dalam pikirannya saat ini. Iblis yang sudah sengaja ia lepaskan bertahun-tahun silam. Seseorang yang paling ia waspadai semenjak dulu. Seorang yang dipanggil Kuro Maoh, karena kebiadabannya dalam membunuh.
Meskipun mereka berdua telah mengikat perjanjian. namun tidaklah mustahil apabila suatu saat nanti Kuro, iblis itu bisa berkhianat.
"Bagaimana dengan Kuro? Apa kau sudah memastikan jejaknya?" tanya Madara kemudian.
"Ya, saat ini bagian tubuhku sudah pergi ke Konoha untuk mengawasinya."
Madara menaikkan sudut bibirnya sedikit keatas, "Pastikan kau terus mengikuti dan memata-matai keduanya." Ujarnya sambil berlalu. "Aku tidak mau Kuro sampai berkhianat hanya karena gadis Hyuuga itu."
.
.
.
(-)
Inspirasi dari berbagai sumber :
Warning : CANON, danger, spoiler, typo, abal, dll
Darker than Night by Lightning Chrome
I do not own Naruto
Summary : Ketidakberdayaan dan kelemahan Hinata, memancing perhatian dari Iblis Yomi bernama Kuro yang kemudian menjadi sensei sekaligus musuhnya di masa mendatang. "Kegelapan" adalah unsur utama yang ada dalam cerita ini, dimana Hinata akan melalui kehidupannya dengan amat sulit dan tragis semenjak dirinya mengetahui "kebenaran " dari semuanya. Tentang rahasia klan Hyuuga, asal usul Uchiha, darimana "kekuatan bernama ninjutsu itu berasal dan untuk apa" dan tentang siapa sesungguhnya ia….
And this story has just begin…
(-)
.
.
Darker Than Night~
Chapter sebelumnya,
"Apa? Benarkah itu Kiba-kun?" Hinata terperangah tidak percaya. Ia baru saja keluar dari kediamannya, dan berniat menyusul senseinya sebelum Kiba Inuzuka salah seorang rekannya di kelompok delapan tiba-tiba muncul digerbang. Temannya itu langsung memberitahukan berita terbaru didesanya. Kalau para penduduk tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri dan Godaime berikut para ninja medis berusaha mencari cara untuk menolong mereka. Salah satunya adalah dengan mengutus Kiba untuk mencari pelaku tersebut.
Kiba, langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan dari Hinata. Ia sendiri juga tampak tidak percaya dan tidak habis pikir, pada apa yang terjadi didesa. "Aku sendiri juga tidak percaya Hinata tapi-" perkataannya terpotong seketika, tampaknya Kiba kesulitan mencari kata-kata.
"Aku juga diberitahu oleh nona Tsunade, kalau genjutsu itu tidak bisa dihilangkan selain oleh pemilik genjutsu itu sendiri." Sesal Kiba sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Yah, mau bagaimana lagi. Satu-satunya jalan adalah dengan mencari pelaku misterius itu." Kiba menambahkan. "Karena itulah aku dan kau Hinata kita diminta Godaime-sama untuk mencari orang itu."
Hinata, gadis itu langsung terdiam membisu. Otaknya mulai merangkai semua peristiwa yang terjadi. Semua berawal dari kedai ichiraku, dimana dirinya dan Naruto sedang makan ramen dan bercakap-cakap. Kemudia tiba-tiba Kakashi-sensei datang menghampiri mereka berdua. Disana Kuro-senseinya tampak tidak senang dengan kemunculan dari Hatake Kakashi. Ia lantas mengajak Hinata untuk pergi, saat itulah tangannya ditarik oleh Naruto dan Kakashi yang tidak mengijinkannya untuk berlatih.
Entah apa yang terjadi selanjutnya, tubuh Kuro diselimuti dengan amarah. Detik berikutnya seluruh penduduk jatuh pingsan, dan dirinya menarik paksa iblis tersebut untuk keluar dari desa. Mereka menuju hutan, bertarung dan….
Wajah Hinata blushing seketika, mengingat kejadian selanjutnya. Ia bahkan tidak mendengar suara teriakan Kiba yang dari tadi memanggil namanya. Gadis itu baru sadar, ketika Akamaru sedikit menggigit pergelangan tangannya. "Aduh!" pekiknya dan kembali sadar. Kiba memandang bingung, "Kau tidak apa-apa Hinata?" tanyanya sedikit khawatir.
Gadis itu tersenyum, menutupi perasaannya, "Y-ya, aku tidak apa-apa. Maaf tadi aku kurang memperhatikan." Kiba memakluminya. "Kalau begitu apa lagi yang kita tunggu? Kita cari orang itu!" seru Kiba dengan semangat 45 yang disambut dengan gonggongan dari Akamaru pada tuannya.
Hinata tampak ragu, ia tidak mungkin turut mencari Kuro bersama dengan Kiba. Gadis itu sudah tahu siapa pelakunya dan dimana sensei-nya itu sekarang. Namun tidak mungkin ia membiarkan Kiba untuk turut serta bertemu dengan iblis itu. Kuro bisa marah dan mengamuk padanya. "A-ano, K-kiba-kun m-maaf…"
Kiba menoleh, "Ya ada apa Hinata?"
"Maaf, tapi bisakah kau pergi dengan Shino-kun? A-aku…" Hinata mulai gugup dan terbata-bata. Maafkan aku Kiba-kun. "Maaf tapi a-aku dipanggil oleh Tsunade-sama. Jadi aku harus pergi! Jaa-ne…!" kata gadis itu cepat-cepat dan lekas pergi. Meninggalkan Kiba yang masih terbengong-bengong, berdua dengan Akamaru. Dalam hati Hinata meminta maaf sudah membohongi Kiba.
"Maafkan aku Kiba-kun." Batin Hinata bersalah. Sebelum kembali berlari menuju tempat sensei iblisnya berada.
Sementara Kiba hanya bisa menatap punggung gadis itu yang telah menjauh, dengan tatapan bingung. Bukankah ia baru saja dari kantor Hokage? Dan Hokage itu meminta dirinya dan Hinata bersama-sama untuk mencari pelaku yang sudah memasangkan genjutsu itu pada para penduduk. Lalu kenapa Hokage-sama masih bisa menyuruh Hinata untuk kembali kesana? Kiba berdiri menyilangkan tangannya dan berpikir keras.
"Ini yang bodoh aku atau Hokage-sama sih?" tanyanya pada Akamaru kemudian.
.
.
(-)
Lightning Chrome Present
~Darker Than Night~
Rate : T Semi M
I do not own Naruto
Character : Hinata, Sasuke, Kuro (OOC), Gaara, Kakashi, Naruto
Genre : Adventure, Action, Hurt-comfort, Mystery, Angst, Drama, Romance
Warning : Multipairing inside, dedicated for Hinata centric, Bloody, Danger, Inspiration from Comic and Imagination.
.
.
~Darker Than Night~
By : Lightning Chrome
Chapter 13 : Reality
.
(-)
"Ku-kuro-sensei?" Gadis itu tampak terkejut, bukan hanya dirinya tapi dua orang didepannya juga terlihat sama. Satu orang yang berdiri didepannya itu tidak lain adalah Kuro-sensei yang dicarinya, dan seorang lagi adalah… Mata lavender itu membulat seketika melihat orang tersebut.
"Na-naruto-kun?" tanya Hinata kaget berusaha memastikan. Matanya bergerak-gerak menjelajahi pemuda yang dipanggil dengan Naruto itu. Pemuda itu berambut pirang dikedua pipinya terdapat kumis dan memakai jaket berwarna orange kehitaman. Itu persis pakaian milik Naruto. Namun yang membuat gadis itu heran adalah mata pemuda itu yang berwarna merah dengan pupil hitam yang tampak meruncing, disekitar tangannya tumbuh kuku panjang dan gigi taring yang keluar dari mulut. Bagian luar dari telinganya meruncing dan bekas kumisnya semakin terlihat jelas seolah bagaikan tumbuh lagi.
Hinata tidak percaya kalau orang yang berada didepannya ini adalah Naruto. Dia benar-benar berbeda! Dia adalah Naruto tapi seperti bukan Naruto.
Sosok yang kini mengambil alih tubuh Naruto, hanya memandang gadis Hyuuga itu datar. Tak berminat sama sekali. Berbeda dengan Kuro yang tampak bereaksi dan memandang gadis itu dengan tatapan berbeda seolah telah mengenalnya. Kurama baru saja hendak bertanya tentang hubungan gadis itu dengan pangerannya, sebelum Kuro bersuara dan mengeluarkan perintahnya.
"Kurama, tinggalkan kami berdua." Katanya serius, nadanya terdengar begitu dalam dan berat.
Kyuubi melirik kearah Kuro dan kemudian gadis yang berdiri didepannya. Sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan prihal 'masalah tersebut' kepada Kuro. Bagaimanapun juga pangerannya itu telah mengeluarkan perintah dan tentunya Kurama tidak mau memancing amarah dari seorang Karasu.
"Baiklah, pangeran. Aku akan pergi." Kata Kurama. "Tapi ingat aku akan kembali untuk berbicara lagi denganmu." Bijuu itu langsung menghilang dibawah kepulan asap.
Hinata bertanya-tanya seketika dalam hati. Siapa sosok yang mendiami tubuh dari Naruto itu? Jika benar itu adalah 'Kurama Kyuubi' kenapa ia bisa muncul keluar dan mengambil tubuh Naruto? Bukankah Naruto terkena genjutsu dan tidak dapat bergerak? Selain itu apa maksud dari kata-katanya pada Kuro? Apakah mereka berdua saling mengenal? Dan bagaimana bisa? Rentetan pertanyaan itu muncul seketika dalam benaknya. Terlebih lagi perihal percakapan mereka berdua yang tidak sengaja didengar oleh Hinata ketika menuju kemari.
Untuk sesaat pikiran Hinata dari Naruto teralihkan begitu mendengar suara berat dari seseorang didepannya.
"Sekarang katakan apa yang ingin kau bicarakan." Kata Kuro dingin tanpa sedikitpun menatap wajah Hinata. Pria itu lebih memilih untuk berdiri membelakangi sang Hyuuga. Tak berminat untuk menunjukkan wajah atau sekedar menatap lawan bicaranya. Sikap sensei-nya itu langsung membuat Hinata menjadi tidak enak dan merasa jatuh seketika.
Meskipun demikian, Hinata mencoba mengesampingkan rasa sakit hatinya dan fokus pada tujuannya untuk bertemu dengan Kuro.
"I-ini tentang para penduduk desa."
Tampak pria tersebut sedikit bereaksi, kemudian kembali seperti semula. Tetap acuh tak acuh. "Lalu…"
"A-apa benar Kuro-sensei meng-menggunakan genjutsu pada mereka. A-anu maksudku.."
Entah kesal karena gadis itu malah membicarakan orang lain atau kesal karena kebiasaan gadis itu yang selalu gagap, Kuro memotong cepat. "Benar. Lalu kenapa?"
"Ke-kenapa sensei melakukan itu?"
"…"
Hinata melanjutkan lagi, "Seharusnya sensei tidak-"
Kuro menggeram tak tertahankan, "LALU APA? Kau menyuruhku untuk tidak melakukannya? KAU MENYURUHKU untuk bersikap 'BAIK' pada orang-orang itu? Manusia-manusia itu?" ada penekanan dalam tiap katanya, seakan Kuro ingin membuktikan seberapa tinggi derajatnya dan seberapa rendah derajat mereka. "Kau menyuruhku untuk berubah menjadi lebih baik. ITU MAKSUDMU KAN?"
"Sensei aku tidak-"
"CUKUP HYUUGA!" bentak Kuro dengan nada tinggi. Ia tidak sanggup lagi. Selama beberapa hari belakangan ini dia merasakan dirinya mulai berubah menjadi aneh. Tidak seperti Kuro yang dulu. Dan semua karena salah gadis itu!
"… Bukankah sudah pernah kukatakan padamu. Aku akan melakukan apapun yang kumau. Kau jangan pernah menyuruhku untuk melakukan sesuatu sesuai keinginanmu!" ujarnya lagi membuat Hinata terpaksa kembali mengingat pertemuan pertama dirinya dengan Kuro.
Perlu kuingatkan, aku tidak akan bersikap baik atau lembut kepada siapapun termasuk dirimu. Aku adalah iblis bukan dari duniamu, jadi aku tidak akan pernah menahan diri dari segala sesuatunya. Aku tidak memiliki emosi seperti kalian, manusia, aku tidak memiki perasaan cinta atau peduli pada siapapun. Inilah aku, jangan pernah coba untuk mengubahku.
Kuro menyeringai sinis, "Apa kau sudah mengingatnya?" gadis itu mengepalkan tangannya, pandangannya semakin tertunduk. Iblis itu melanjutkan. "Tak ada yang perlu kau khawatirkan soal manusia-manusia itu. Pemuda yang kau kagumi itu, Naruto Uzumaki sudah sadar karena bijuu yang ada ditubuhnya sudah melepaskan genjutsu itu sendiri. Tinggal menunggu waktu bocah itu sadar dan berganti tempat dengan Kurama!" Kuro mengingatkan.
"Dan untuk para penduduk…" mata Kuro berubah sadis. "Tak ada untungnya kau membela orang-orang yang tidak kau kenal."
Hinata terlonjak seketika mendengar tuturan sensei-nya itu yang terlampau kejam. Jadi Kuro berniat membiarkan mereka terus terperangkap dalam genjutsu selamanya?
"Pembicaraan selesai! Sekarang pulanglah!" bentak Kuro sambil berlalu pergi.
Tapi gadis itu tidak beranjak dari tempat berdirinya. Hanya bisa mematung dengan raut wajah sendu.
Butiran air mata turun dari kelopak matanya turun membasahi kedua pipinya. Kuro berhenti berjalan. Ia tampak bimbang, seakan tidak suka melihat gadis itu menangis. Kenapa? Bukankah selama ini ia bersikap biasa saja ketika gadis itu menangis. Seperti ketika gadis itu menangis karena berhadapan dengan ayahnya atau karena sifatnya yang mudah putus asa dan lemah serta cengeng. Perasaan aneh mulai mencuat dalam diri iblis tersebut. Membuatnya tampak semakin bingung dan darahnya kian bergejolak aneh.
Hinata mengusap air matanya. "A-aku tahu… kalau selama ini Kuro-sensei, selalu membenciku. Dari dulu hingga sekarang. Apapun yang kulakukan… seberapa besar aku berusaha… itu sama sekali tidak ada artinya bagimu. Aku tetap masih menjadi Hinata lemah seperti saat kau menemuiku dulu!" ada jeda sejenak sebelum Hinata menatap Kuro sedih.
"Kau selalu mengolok-olokku… memukuliku tanpa belas kasihan sedikitpun. Karena itulah dirimu, kau yang iblis berbeda denganku yang manusia. Meskipun aku menangis atau meminta tolong kau sama sekali tidak pernah menengok kearahku."
Entah apa yang terjadi padanya, kali ini gadis itu bisa berbicara tanpa gagap sedikitpun. Seakan-akan itu adalah perasaannya yang terdalam dan harus segera diutarakan.
"… Aku berusaha untuk mengerti. Aku mencoba memahaminya. Aku berusaha untuk menerimamu sebagaimana dirimu. Seperti kata-mu dulu. A-aku mencoba.. untuk bertahan…" gadis itu mulai terisak.
"Ta-tapi, aku tidak bisa menahannya lagi, kalau kau sampai melukai para penduduk desa yang tidak ada sangkut pautnya."
"SUDAH KUBILANG HENTIKAN HYUUGA!" bentak Kuro pada akhirnya.
"Aku tidak peduli!" balas Hinata, "Aku sudah tidak peduli."
"Entah kau mau membunuhku setelah ini atau tidak, aku sudah tidak peduli." Hinata kembali memohon, agar Kuro berubah pikiran dan mau sekali ini saja mendengar permintaannya.
"Tapi sensei aku mohon… Kembalikan mereka semua. Hilangkan genjutsu-mu itu dan biarkan mereka tetap hidup. Mereka masih memiliki keluarga yang menunggunya. Kau boleh melakukan apa saja padaku asalkan mereka bisa selamat. Biarkan mereka tetap hidup… Kumohon sensei…"
"Kumohon…."
Tubuh Kuro bergetar, ia tampak bimbang. Tidak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia merasakan situasi seperti saat ini. Dimana gadis itu mengajukan permohonan padanya sampai berlutut seperti itu.
Kenapa? Kenapa gadis itu mati-matian membela orang-orang yang tidak dikenalnya?
Kenapa mereka para manusia mengorbankan nyawa mereka demi orang lain?
Kenapa?
Tiba-tiba kepalanya terasa begitu sakit.
"Pergi Hyuuga." Bisik Kuro tiba-tiba. Ia memegangi kepalanya dan menjauh dari Hinata.
"Kuro-sensei!" teriak Hinata. "Tidak bisakah kau menolong mereka barang sekali ini saja?" gadis itu mulai putus asa. Tak henti-hentinya ia memandangi senseinya itu, berharap senseinya itu akan berbalik dan mengabulkan permohonannya. Namun tidak, pria yang dipanggil senseinya itu malah berjalan menjauh dari dirinya.
Hinata akhirnya hilang kesabaran, dan berbalik pergi.
"Baik kalau itu maumu!" Hinata akhirnya pasrah. "Kurasa memang benar apa kata 'Kakashi-sensei' kalau kau itu memang tidak memiliki perasaan. Aku menyesal sudah menolak tawaran Kakashi-sensei. Aku tidak sudi lagi menjadi muridmu. Aku akan menemui Kakashi-sensei. Lebih baik kalau Kakashi-senseilah yang menjadi guru-" belum sempat Hinata melanjutkan, tiba-tiba Kuro sudah muncul didepannya. Mata Hinata melebar seketika, manakala pria tersebut tiba-tiba menariknya kesebuah ciuman dalam.
0-0-0
"Apa kalian sudah menemukannya?" tanya sang Hokage wanita, Tsunade Senju. Keduanya, yakni Sakura dan Sai menggeleng seketika. "Kami sudah mencarinya kemana-mana. Tapi Naruto masih belum ditemukan." Ujar Sai serius. Pemuda mantan Anbu Ne itu melirik kesebelahnya, tampak wajah Sakura yang begitu sedih dan khawatir. Sekelebat Sai melihat wajah gadis berambut pink itu tampak berkaca-kaca. "Begitu…" Tsunade hanya bisa pasrah.
"Apa kita tidak bisa mengirimkan tim lain untuk mencari Naruto, sensei?" Sakura tiba-tiba bersuara. Tsunade menggeleng, "Tidak bisa. Saat ini ninja lain yang tersisa sedang kutugaskan untuk mencari pelaku misterius yang menyebarkan genjutsu aneh kepada para penduduk."
"Genjutsu aneh?" tanya Sai tiba-tiba.
"Kau belum memberitahu Sai, Sakura?" tanya Tsunade heran. Ada jeda sejenak sebelum gadis itu menatap Sai bersalah dan bergumam, 'maaf aku lupa memberitahumu'. Tsunade menghela nafas panjang dan kembali menjelaskan pada Sai.
"Naruto dan beberapa penduduk ditemukan tidak sadarkan diri di kedai ramen Ichiraku. Menurut dugaanku, kuat kemungkinan ini karena pengaruh genjutsu. Aku sudah menggunakan berbagai cara untuk menghilangkan jurus ilusi ini namun tidak berhasil. Satu-satunya cara yang tersisa adalah menemukan orang yang menggunakan genjutsu ini dan memaksanya untuk melepaskannya."
"Lalu apakah nona Hokage sudah menemukannya?"
"Belum. Karena itulah aku meminta bantuan Yamato dan Kakashi untuk menemukannya. Juga kelompok Kurenai."
"Tapi bukannya itu aneh? Naruto adalah salah satu korban dari genjutsu itu. Seharusnya ia tidak dapat bergerak. Tapi kami menemukannya sudah hilang di rumah sakit. Dari bukti-bukti di kamar Naruto, tidak ada bukti kalau dia telah diculik. Justru malah sebaliknya, kami menduga kalau Naruto sudah sadar dan meninggalkan tempat itu sendiri." Sai mencoba menganalisa.
"Itu benar, nona Tsunade." Sakura menyetujuinya.
"Kalau begitu, Ini benar-benar aneh." Gumam sang Hokage.
"Nona Tsunade." Seru Shizune tiba-tiba datang dari balik pintu. "Ada apa Shizune?"
"Ada surat dari desa Suna."
0-0-0
Dulu Hinata tidak pernah berpikir untuk bisa menjalin hubungan pertemanan atau bahkan sekedar hubungan guru dan murid layaknya Naruto dan Jiraiya atau bahkan seperti Sakura dengan Tsunade. Ia tidak pernah berpikir kalau ia bisa menjalin hubungan yang normal seperti orang-orang pada umumnya. Selama ini bahkan tidak ada seorangpun yang tahu kalau Hinata telah memiliki seorang sensei sSelain Kurenai.
Semenjak pertemuannya dengan Kuro beberapa tahun silam, sejak itulah sebuah sebuah tali tak terlihat, mulai terhubung dan mengikat keduanya. Tak pernah sekalipun mereka bisa menjalin hubungan normal layaknya guru dan murid. Tak pernah sekalipun juga mereka menjalin pertemanan layaknya dirinya dengan Kiba ataupun dengan Shino. Mereka juga tidak bisa disebut dengan orang asing.
Meskipun pada kenyataannya tidak banyak yang Hinata tahu dari iblis tersebut selain namanya. Selama ini sensei-nya itu begitu tertutup dan misterius. Tidak banyak bicara dan tidak suka membicarakan tentang dirinya.
Meskipun mereka berdua menghabiskan banyak waktu bersama, namun kenyataannya seakan ada pembatas. Sosok Kuro tidak bisa didekati. Sifatnya yang begitu dingin dan emosional kerap kali membuat gadis itu takut setengah mati. Tidak peduli dan juga angkuh. Selalu berbuat sesukanya dan membuat gadis itu tersiksa dan hampir mati. Entah apa alasannya, Hinata masih bisa bertahan sampai saat ini. Masih bisa bertahan ditengah kekejaman dan siksaan yang diberikan oleh iblis itu padanya.
Sampai waktu berlalu, perasaan takut itu perlahan menghilang dan berganti dengan perasaan khawatir dan nyaman. Nyaman karena ia tidak lagi sendirian dan kini ada seseorang yang selalu menemaninya menghadapi apapun. Dan perasaan khawatir… karena takut suatu saat nanti dirinya akan kehilangan sosok itu yang selama bertahun-tahun selalu bersamanya.
Gadis itu membulatkan matanya lebar-lebar. Benar-benar bingung pada apa yang terjadi. Ini adalah kali kedua Kuro menciumnya. Pertama mereka melakukannya, adalah ketika mereka sedang bertarung dan diselimuti hawa nafsu untuk membunuh. Masih tidak jelas sampai sekarang alasan kenapa Kuro melakukannya. Hal yang pertama Hinata pikirkan adalah karena kondisi pria itu yang masih tidak sadar. Dan dipenuhi dengan nafsu serta emosi yang tidak terkendali sehingga tidak bisa berpikir dengan jernih.
Namun kali ini tidak, pria itu sadar seratus persen! Terlebih lagi mereka berdua sempat berbicara sebelumnya. Hinata membelalakkan matanya, melihat wajah Kuro yang persis didepannya. Dan bibirnya menempel dengan bibir lelaki itu kuat.
Hinata bergerak mencoba untuk mendorong pria tersebut menjauh darinya. Namun yang ada dirinya semakin tertarik kedalam. Kuro mengurung gadis itu dan menangkap kedua pergelangan tangannya. Tidak sampai disitu ia lantas mendorong gadis berambut indigo itu hingga membentur pohon dan tidak bisa lagi memberontak. Dengan liar dan buasnya ia mulai mencium dan melumat bibir gadis tersebut. Mengesap dalam-dalam rasa bibir tersebut dan sesekali menjilatinya.
Tindakan agresif dari Kuro itu lantas menciutkan nyali Hinata. Berulang kali ia berupaya melepaskan diri namun gagal. Kuro terus menerus mencumbunya dan mendesaknya dengan ciuman-ciuman maut. Gadis itu tampak tersengal-sengal. Ia mencoba untuk menutup mulutnya, namun upaya itu tidak behasil tatkala Kuro yang menyadarinya langsung menggigit ujung bibir gadis itu yang kemudian dilumatnya habis. Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, kali ini Kuro menjulurkan lidahnya dan memainkan lidahnya. Memaksa gadis itu untuk membalas ciumannya. Wajah Hinata kian memerah, tubuhnya menjadi panas. Tak pernah sekalipun ia berciuman dengan seorang laki-laki selain dengan Kuro. Ini adalah kali keduanya ia berciuman, dan gadis itu sama sekali tidak bisa menyaingi tempo permainan dari Kuro.
Ciuman Kuro begitu liar, ganas dan begitu menuntut. Seakan-akan seluruh emosi dan perasaannya, Kuro tuangkan melalui kecupan tersebut. Perasaan dan emosi yang iblis itu rasakan dalam dirinya yang selama ini ia pendam. Perasaan terlarangnya pada gadis tersebut.
Hinata juga merasakan hal yang serupa. Ia yang awalnya menolak lambat laun mulai menerima dan balas menciumnya. Pikirannya akan sifat jahat Kuro dan perlakuan iblis itu padanya seketika sirna manakala dua makhluk berbeda dunia dan jenis itu saling mengaitkan bibirnya. Mendalami dan merasakan perasaan masing-masing yang terpendam dan tak dapat diutarakan.
Sekian menit telah berlalu namun kedua orang itu masih belum berhenti. Hinata sudah merasakan pasokan oksigen di tubuhnya kian menipis, dan berharap pria tersebut segera mengakhirinya. Ia hampir lega ketika Kuro berhenti. Namun kembali menarik nafas, ketika pria tersebut malah mengalihkan ciumannya dari bibir turun ke leher. Kuro menyapukan lidahnya keleher jenjang gadis tersebut dan mengigitnya perlahan. Gadis itu mendesah seketika. Hinata merasakan aliran aneh mulai merasuki tubuh dan pikirannya. Sesuatu yang selama ini tersembunyi jauh didalam. Kantong emosi besar yang tiba-tiba membuka meluncur seketika. Dan merasuki tubuhnya.
Kuro juga merasakan hal yang sama. Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukannya. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Dan begitu mengetahui hal itu, ia lantas menyerang Hinata. Menciumnya dan tidak memberikan gadis itu kesempatan untuk kabur dari genggamannya. Menumpahkan seluruh emosi, kebingungan, hasrat dan kebencian yang dikiranya selama ini, kepada gadis tersebut. Berharap salah seorang dari mereka akan mengerti.
Hinata mulai mendesah tidak karuan. Tidak… ia tidak bisa begini terus. Ia tidak boleh membiarkan… ukh.. Kuro-sensei terus menciumnya seperti ini. Ia tidak mau mereka berdua sampai lepas kendali.
Memikirkan itu, Hinata perlahan membuka matanya dan mencoba mengingatkan. "K-kuro-sensei..!" bisiknya hampir tidak terdengar. Lagi-lagi tubuhnya kembali memanas. Jantungnya semakin terpompa cepat, wajahnya sudah semerah kepiting rebus. Mata Kuro masih tertutup dan wajahnya yang tampan tampak dekat dengannya. Cukup membuat Hinata menjadi gila.
Kuro tidak mendengar dan masih meneruskan ciumannya dan beralih mengesap ujung telinga gadis itu. Membuat gadis itu terkesiap dan hampir jatuh. Jemarinya bergerak membelai wajah gadis itu dan mengecupnya. Sebelum kembali melumat bibir gadis itu dengan keganasan luar biasa untuk kedua kalinya. Hinata lemas dan hampir pingsan menghadapinya. Menyadari itu, Kuro sontak melepaskan genggamannya dan menatap gadis itu baik-baik. Pandangannya yang semula menatap gadis itu lembut dan hangat berubah menjadi dingin dan galak.
"Jangan pernah menyebut nama orang itu dihadapanku. Sejak awal kau adalah muridku dan bukan muridnya. Ingat itu baik-baik, Hyuuga!" bisiknya langsung didepan wajah pewaris Souke.
Hinata jatuh lemas seketika. Nafasnya masih memburu. Pertanyaan demi pertanyaan berkumpul menjadi satu diotaknya. Namun tak ada satupun yang bisa keluar. Keduanya dihinggapi keheningan yang dalam. Nafas Kuro yang semula memburu perlahan kembali menjadi stabil. Matanya berhenti memandang Hyuuga dan bergerak menjauh, meninggalkan gadis itu yang tertinggal dibelakang. Hinata masih kaku tak dapat bergerak ditempat jatuhnya. Setelah ciuman panjang itu, ia merasakan seluruh tubuh dan pikirannya merosot seketika. Sepertinya roh Hinata masih belum kembali ke tubuhnya dan masih melayang-layang diudara.
Melihat gadis dibelakangnya itu malah jatuh terduduk dan sama sekali tidak bereaksi, mau tidak mau membuat Kuro berhenti melangkah. Merasa kesal karena tidak diikuti, ia lantas berbalik dan membopongnya. Membuat gadis itu terkejut seketika bagaikan disetrum oleh listrik beribu-ribu volt.
"A-a-apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" perintah gadis tersebut menyaksikan dirinya tiba-tiba naik diangkat oleh iblis tersebut.
"Diam dan ikut saja!" bentak Kuro lagi membuat gadis itu menutup mulutnya. Ia benar-benar bingung dengan sikap Kuro. Sebentar dingin, sebentar diam, sebentar galak dan kemudian berubah aneh dan egois.
Meskipun tidak suka akan sikap egoisnya, tidak dapat dipungkiri jauh didalam hatinya, gadis itu memiliki perasaan terhadap Kuro. Perasaan nyaman dan suka yang berbeda dengan perasaan cintanya dengan Naruto.
Perasaan yang berbeda.
Wajah gadis itu blushing seketika ketika memikirkannya. Pasrah pada apa yang akan terjadi, ia kemudian menundukkan wajahnya tidak berani memandang wajah Kuro. Akibatnya gadis tersebut bahkan tidak menyadari kalau dari tadi Kuro tengah memandanginya dengan ekspresi lembut yang bahkan tidak pernah diketahui oleh gadis itu sebelumnya.
Tidak jauh dari sana ada sepasang mata yang tengah mengamati. Ekspresi shock bercampur terkejut menghinggapi mimik wajahnya. Ia tidah menyangka atas apa yang dilihatnya beberapa saat yang lalu. "Tidak mungkin…" batinnya terperangah. "Kuro Karasu, tidak mungkin kau…!"
0-0-0
Glek, Hinata meneguk ludahnya, menyaksikan para penduduk tengah mengamatinya, atau lebih tepatnya mengamati keduanya. Saat ini mereka berdua telah sampai kedesa. Hinata tidak bisa berhenti untuk tidak malu mengingat posisi mereka berdua saat ini. Kuro yang tengah menggendongnya dengan posisi bridal padahal dirinya tidak mengalami cedera apa-apa. Disamping itu keberadaan sensei-nya itu yang tiba-tiba muncul ke depan para penduduk, makin memperparah situasinya.
"KYAA! Lihat-lihat pria itu begitu tampan dan mempesona!"
"Siapa itu? Kenapa pria itu menggendong pewaris Hyuuga? Apa dia kekasihnya?"
"Masa? Setahuku bukankah gadis itu menyukai Naruto Uzumaki?
"Kalau begitu kasian sekali pria itu hanya menjadi pelampiasan dari sang Hyuuga."
"Hati-hati jangan sampai dia dengar…"
Kuro menatap tajam para wanita yang tengah menggunjingkannya dan Hinata. "BERISIK!" serunya dengan nada tinggi ditambah dengan deathglare andalannya. Membuat gerombolan wanita tukang gosip itu langsung kocar-kacir ketakutan.
Dasar makhluk menyebalkan –umpat Kuro dalam hati. Perhatiannya teralihkan ketika gadis itu bergerak-gerak meminta untuk dilepaskan. Entah karena disengaja atau tidak, Kuro langsung menghempaskannya tiba-tiba. Gadis itu langsung menjerit kesakitan karena terjatuh dari posisinya. "A-aduh kenapa?" kata-katanya langsung disambung oleh Kuro. "Salah sendiri siapa suruh kau memberontak." Ujarnya dingin sambil berlalu.
Hinata hanya bisa memandang sendu Kuro, dan mengusap-usap pantatnya. Lagi-lagi dia kembali seperti semula –batin Hinata memperhatikan. Ia tidak tahu harus senang atau sedih. "Dimana?" tanya Kuro tiba-tiba. Hinata menatap Kuro bingung. Iblis itu menghela nafas panjang. "Dimana orang-orang itu?" jelasnya sambil bertanya. "Katakan sebelum aku berubah pikiran."
Perlahan wajah Hinata yang semula bingung berubah sumringah. Gadis itu sontak berdiri dan menarik tangan sensei-nya itu masuk kedalam rumah sakit. Kuro sedikit tersentak namun mau tidak mau mengikutinya.
Melihat gadis itu yang tampak bercahaya dan tersenyum bahagia, seakan menjadi virus yang menulari pikiran sang Maoh. Secara tidak sadar, pria berparas tampan itu menyunggingkan senyum menawannya. Membuat para suster yang tidak sengaja melihatnya, menjerit tertahan. Terpukau dan merona pada saat yang bersamaan. Bertanya-tanya siapa sosok tampan tersebut yang belum pernah dilihat oleh mereka selama ini didesa. Dan mulai berbisik dan bergosip antar sesamanya.
Mereka akhirnya sampai disebuah ruangan ICU, gadis keturunan Hyuuga itu memutar kenop pintunya dan melangkah masuk. Didalam sana terbaring tiga orang dewasa dan satu orang anak kecil. Salah seorang diantaranya adalah Paman Teuchi, pemilik dari kedai ramen Ichiraku, langganan Naruto. "Siapa kalian?" tanya salah seorang perawat pria yang menjaga disana -Kira.
Hinata membungkuk meminta maaf, "M-maafkan kami. Kami hanya-" ucapan Hinata terpotong melihat Kuro-senseinya itu lebih dulu maju. "Minggir! Kau mengganggu!" perintahnya dengan nada tinggi.
"APA kau bilang?" Melihat suster itu yang mulai emosi, Hinata lekas mendekati dan menahannya. "M-maafkan dia. T-tapi dia kemari hanya untuk menyembuhkan mereka." Ungkap Hinata halus.
Kuro berdiri disebelah keempat pasien itu. Masih bingung dan heran akan tindakannya kali ini. Entah apa yang terjadi pada dirinya saat ini, sampai mau membantu sekelompok manusia yang dibencinya. Iblis itu lantas menaikkan jemari telunjuknya seakan membentuk segel dan membisikkan kata 'kai' pada keempatnya.
Ajaib, hanya dengan kata itu, keempat orang itu yang semula kaku tidak bergerak, mulai menunjukkan perubahan. Mulai dari jari jemari hingga tubuh bagian atas kembali bergerak seperti semula. Tidak menunggu waktu lama keempatnya perlahan siuman. Hinata tersenyum senang, melihat mereka kembali sadar.
Pandangannya perlahan beralih kearah sensei-nya itu. Merasa diperhatikan iblis tersebut menengok seketika. Gadis itu tersenyum lembut seolah mengatakan 'terima kasih' dari lubuk hatinya yang terdalam. Kuro tertegun sejenak, perasaan itu kembali muncul dihatinya yang gelap. Cepat-cepat ia membuang mukanya. Menyembunyikan semburat pink yang muncul disana.
"Huh, sudah puas kan. Sekarang kita pulang." Katanya sambil lalu pada Hinata. Gadis itu mengangguk setelah memastikan kondisi keempatnya yang tidak ada masalah karena segera ditindaklanjuti oleh Kira, gadis itu mengikuti pria tersebut berjalan keluar.
Mereka baru saja hendak beranjak dari sana. Ketika seseorang menyapa dari arah pintu. "Hinata." Katanya tiba-tiba. Gadis itu meneguk ludahnya, menyadari siapa yang datang.
"Ka-kakashi-sensei."
0-0-0
"Siuman benarkah itu?" tanya Tsunade kaget dan seketika itu juga bangkit dari tempat duduknya. Perawat bernama 'Sana' itu mengangguk. "Benar nona Tsunade, saat ini keempatnya sudah pulih. Mereka sudah bisa dibawa pulang ke rumahnya masing-masing." Terang wanita muda itu lagi.
"Lalu siapa yang sudah melepaskan genjutsu mereka?" tanya Tsunade penasaran.
Mendapat pertanyaan itu wajah Sana berangsur memerah seketika. "A-anu Hokage-sama. Sa-saya tidak tau tapi…"
"Tapi…?" Tsunade menaikkan alisnya, tidak mengerti maksud dari Sana.
Sana ragu untuk menjawabnya, ia tampak tertahan merasa malu untuk melanjutkannya. "Ta-tapi orang itu adalah seorang pria yang benar-benar tampan dan mempesona Hokage-sama." Akhirnya kata hati dari gadis itu keluar juga. Wajahnya tampak merona bahagia.
Melihat ekspresi berbunga-bunga dan raut wajah berbentuk hati dari gadis itu langsung membuat Tsunade paham pada satu hal. Kalau wanita-wanita disekelilingnya tidak berdaya dihadapan seorang pria berwajah tampan.
Tsunade menepuk keningnya melihat saat ini kedua ajudannya, baik Sana dan Shizune yang sudah melihat pelaku dari pemasangan genjutsu justru malah terpesona padanya. Terbukti dari keduanya yang malah asyik mengobrol tentang sosok misterius dirumah sakit itu dan melupakan tugas mereka.
"Heh, tidak bisakah mereka bersikap biasa saja?" keluh Tsunade dalam hati. Wanita itu jadi ingin melihat sosok misterius yang menjadi perbincangan keduanya sekaligus memastikan kemampuan dan kekuatan orang tersebut.
0-0-0
Karin menatap takjub pada sosok yang berdiri dihadapannya. Didepannya saat ini berdiri sosok yang menyerupai Sasuke kedua. Namun lebih tinggi, lebih tampan dan lebih gagah. Kenyataan itu bergulir dan berputar-putar bagaikan kondominium, menyaksikan keajaiban dunia tepat didepan kedua matanya.
Gadis berambut merah itu tidak menyangka, ia bisa menemukan seseorang yang setara dengan Sasuke, bahkan yang lebih hebatnya lagi. Melebihi ketampanan Uchiha tersebut. Untuk sejenak, perasaan marah dan kesalnya karena tertangkap oleh Konoha, berubah menjadi rasa syukur yang mendalam. Ya, rasa syukur karena mempertemukan gadis berambut merah itu dengan pangeran pujaannya.
Gadis itu tidak henti-hentinya memandangi pria berpakaian gelap itu meskipun dari jauh. Air liur menetes dari sudut bibirnya, dan cepat-cepat ia lap dengan bajunya. Dalam sekejap, gadis itu telah masuk kedalam pikirannya sendiri dan membayangkan fantasi liar, antara pria misterius itu dan dirinya.
Tidak hanya Karin, dalam sekejap operasional rumah sakit Konoha hampir lumpuh seketika. Penyebabnya tiada lain adalah mayoritas pegawai rumah sakit yang dokter dan susternya adalah wanita memilih untuk mengikuti pria misterius itu keluar dan diam-diam mengintainya. Tidak hanya para perawat dan dokter, beberapa kunoichi juga tampak mengendap-endap dan mengintai dari jarak jauh. Seperti halnya Ino Yamanaka dan Haruno Sakura. Keduanya begitu penasaran, kenapa para dokter dan suster bertingkah laku aneh dan senyum-senyum sendiri. Betapa terkejutnya, mereka mengetahui penyebab itu tidak lain bersumber dari seorang pria berpakaian gelap.
"Itu dia! Kau lihat itu, Sakura! Dia pria tampan yang kumaksud itu!" bisik Ino dengan nada bahagia. Gadis berponi pirang itu bersorak gembira, dapat bertemu kembali dengan pangeran pujaannya yang dikiranya hanya halusinasi.
Masih ingat kasus pada waktu Hinata masih dirumah sakit. Saat itu Ino berniat mengintai Kakashi yang hendak memberikan bunga lavender pada seseorang. Penasaran akan siapa gadis yang dituju, Ino langsung menggunakan jurus 'shintensin' dan menyamar menjadi kupu-kupu. Saat itulah secara tidak sengaja ia ditangkap oleh seseorang. Dan orang itu… adalah sosok yang persis sama dengan seseorang yang berdiri lima puluh meter didepannya.
Pria misterius yang kadar ketampanan dan kegagahannya bahkan jauh melebihi Sasuke Uchiha!
Sakura memandang cengo Ino. Ia tidak menyangka gadis tersebut begitu cepat berpaling dari Sasuke dan kini menjadi salah satu penggemar orang misterius itu. Namun tidak salah juga sih, dulu Sakura ketika pertama kali melihat pria tersebut di hutan, sikapnya itu tidak jauh berbeda dengan Ino. Hanya saja, gadis berambut pink itu tidak mengerti. Kenapa pria tersebut tidak pernah menampakkan diri dan baru muncul sekarang. Terlebih lagi sepertinya pria itu memiliki hubungan dengan Hinata.
"Hei, Sakura. Menurutmu apa hubungan pria tersebut dengan Hinata-chan? Kenapa mereka berdua datang bersama?" tanya Ino penasaran. Sakura hanya bisa menggeleng. "Entahlah aku sendiri juga tidak tahu, Ino."
Terjadi keheningan yang panjang diantara keempatnya. Kuro memberikan death glarenya kepada dua orang yang berdiri didepannya, Kakashi dan Yamato. Meskipun begitu, tatapannya itu tidak lebih kejam dibandingkan sorot matanya ketika melihat para wanita yang bersembunyi dibelakangnya.
Dasar wanita menyebalkan!- umpat Kuro dalam hati. Kesal karena dirinya selalu diikuti semenjak ia memilih untuk menampakkan dirinya didepan para manusia. Tidak hanya Kuro yang merasa risih, Hinata yang berdiri disebelah Kuro juga merasakan hal yang sama. Ia tidak suka pada pandangan orang-orang disekitarnya yang seolah mengintimidasinya. Samar-samar ia mendengar kalau mereka berdua –Kuro dan dirinya, tidak cocok sebagai sepasang kekasih.
Hinata meneguk ludah, entah kenapa ia merasa dongkol. Karena berbagai komentar menusuk yang ditujukan padanya. Kenapa mereka semua mengikuti kami? Apa Kuro-sensei menggunakan genjutsu lagi pada mereka? –batin Hinata. Untuk sesaat ia berpikir, Kuro telah menggunakan genjutsu lagi.
"Aku tidak sedang menggunakan genjutsu, bodoh!" bisik Kuro hampir tidak terdengar kecuali oleh Hinata. Gadis itu sweatdrop seketika. Kalau tidak menggunakan genjutsu, kenapa mereka semua tiba-tiba datang dan mengikuti mereka? Mata Hinata beralih memandang salah seorang gadis yang mencoba bersembunyi. Dari matanya ia bisa melihat simbol hati muncul disana. Gadis itu meneguk ludahnya dan berpaling menatap Kuro kemudian para wanita yang bersembunyi disekelilingnya.
"Jadi? Mereka mengikuti karena benar-benar jatuh cinta pada Kuro-sensei?" batin Hinata tidak percaya.
Kakashi menengok kesekelilingnya, ia tidak menyangka kemunculan pria itu lagi bisa sampai sericuh ini. Untuk sesaat ia mengerti akan alasan kenapa orang itu tidak mau menampakkan diri. Jounin bermasker itu tadinya pergi untuk mencari Kuro bersama dengan Yamato dan Karin yang dipaksa untuk membantu. Namun ditengah pencarian itu, tiba-tiba muncul hiruk pikuk dari arah rumah sakit Konoha, yang mengatakan kedatangan seseorang misterius bersama Hyuuga Hinata untuk menemui keempat orang pasien di ruang ICU.
Tanpa berpikir panjang lagi, mereka bertiga lantas masuk dan bertemu dengan keduanya. Demi menghindari masalah yang timbul, Kakashi menyuruh Karin untuk menjauh dan berbicara dengan mereka berdua dibelakang kebun rumah sakit. Tidak mengira kalau permintaannya justru malah dijadikan kesempatan bagi para wanita itu untuk mengintip dan memata-matai Kuro dari berbagai arah.
Kakashi hanya bisa mengerutkan keningnya, melihat sikap para wanita tersebut yang sudah melewati batas kewajaran. Disisi lain Yamato berdiri dan memperhatikan Kuro.
"Jadi ini orang misterius yang disebut oleh senior." Batin Yamato mengamati.
Dari yang bisa dilihat oleh mantan Anbu Ne itu, sosok pria yang berdiri didepannya itu memiliki hawa cakra yang mengerikan. Meskipun tidak memiliki kekuatan untuk medeteksi cakra, namun kenyataannya seperti yang dikatakan oleh Kakashi, bahwa pria tersebut sangatlah berbahaya. Pandangannya kemudian beralih ke sosok gadis indigo disebelahnya, gadis itu berdiri persis disamping pria misterius itu. Apakah mereka berdua saling mengenal? –tanya Yamato penasaran dalam batinnya.
Diam-diam Kakashi memperhatikan kedekatan keduanya.
Jujur saja ia masih kesal, karena Hinata menolak tawarannya untuk menjadi salah satu muridnya dan lebih memilih bersama pria misterius itu. Padahal selama ini banyak sekali ninja yang ingin berguru padanya, namun tak pernah sekalipun ia menerima seorang murid selain kelompok tujuh yang dibimbingnya. Terkenal sebagai ninja elite dan jenius tentu saja merupakan sebuah kebanggaan menjadi murid seorang Hatake Kakashi, tapi seolah tidak mengerti, gadis manis itu dengan serta merta membuang kesempatan untuk menjadi salah satu ninja kuat setingkat Hokage. Dan memilih bersama dengan Kuro. Mengingatnya kembali, membuat jounin bermasker itu kembali mengepalkan tangannya. Ia sungguh tidak suka.
Kakashi hanya bisa menatap Kuro tajam, sebelum kembali fokus. "Hinata." Panggilnya membuat gadis tersebut mengangkat wajahnya dan tersenyum kaku, "I-iya Kakashi-sensei." Ada nada sejenak sebelum Kakashi melanjutkan, "Kurasa kau sudah sadar apa kesalahanmu bukan?"
Deg, tubuh Hinata mendadak kaku tidak dapat digerakkan. Ia sadar betul kesalahan apa yang diperbuatnya. Merahasiakan keberadaan Kuro sehingga keberadaan makhluk tersebut akhirnya menjadi ancaman bagi para penduduk Konoha. Meskipun Kuro akhirnya mau melepaskan jurusnya pada para penduduk, tapi tetap saja… sikapnya itu merupakan salah satu tindak kriminal. Hinata hanya bisa meneguk ludah, membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya dan sensei-nya itu.
"I-iya maafkan kami." Hinata hanya bisa menunduk.
Maaf? –tanya Kuro dalam batinnya.
Iblis itu yang semula melirik Hinata berganti menatap para jounin didepannya dengan tatapan benci. Hei, yang melakukan genjutsu adalah dirinya, bukan Hinata. Kenapa malah gadis itu yang minta maaf? Bukankah seharusnya mereka berterimakasih, Kuro sudah melepaskan jurusnya itu.
"Berhentilah menunduk, Hinata." Kuro tiba-tiba bersuara. "Kau tidak perlu minta maaf pada mereka. Kau tidak salah apa-apa." Ujar Kuro dingin. "Tapi Kuro-sensei…" kata-kata Hinata terpotong mendengar keributan dari belakang.
Suara-suara ribut seperti, "Kyaaa suaranya benar-benar seksi!" "Jadi namanya Kuro?" dan suara-suara mengelu-elukan lainnya. Kuro mendecih kesal, namun tidak berniat untuk menghakimi. Ia kembali fokus pada tujuannya. "Aku yang menggunakan genjutsu itu pada mereka. Bukan oleh Hyuuga. Dan kau!" Kuro menunjuk kearah Kakashi dan menyeringai sinis. "Seharusnya berterimakasih karena aku sudah melepaskan genjutsu itu!"
Kakashi mengerutkan keningnya, ia benar-benar tidak suka pada pria tersebut. Dia terlalu angkuh dan sombong. Jounin itu tahu kalau pria tersebut benar-benar kuat tidak seperti lawan-lawan yang dihadapinya sebelumnya. Terbukti dari intonasi dan nada suaranya. Juga hawa cakra yang dimilikinya, persis menyerupai bijuu. Bahkan Karin yang terkenal bisa mendeteksi hawa cakra saja mengakuinya, kalau pria tersebut sangatlah berbahaya.
Ngomong-ngomong soal Karin, mata Kakashi melirik sudut belakang kanannya. Wanita itu tampak terpukau dan tergila-gila dengan pria yang baru dilihatnya itu. Padahal justru wanita berambut merah itu yang mengatakan kalau Kuro sangatlah berbahaya. Tapi kenapa justru malah dia yang terpesona? Kakashi tidak bisa untuk tidak heran. Namun lebih memilih mengabaikannya dan kembali pada fokus utamanya.
"…Ya, aku tahu kau yang sudah melakukannya. Tapi peraturan tetap saja peraturan. Kuharap kau bisa menger-" tiba-tiba pandangan mata Kakashi berpaling keleher gadis itu.
Meskipun tertutup oleh jaket, Kakashi bisa melihat sedikit bekas kemerahan disana. Matanya membulat begitu menyadari arti dari tanda tersebut. Bekas merah dileher itu adalah salah satu tanda kiss-mark yang sering dibacanya di novel icha-icha paradise miliknya.
Mustahil!- batin Kakashi tidak percaya. Matanya berpindah seketika ke pria disamping sang Hyuuga. Mendapat tatapan tajam dari Kakashi, iblis itu menyeringai angkuh. Seolah bisa membaca apa yang ada dipikiran Kakashi, Kuro meletakkan jemarinya disekitar leher gadis tersebut. Tersenyum sinis seolah berkata, -tanda itu berasal dariku, jadi mau apa kau?!
"Brengsek kau Kuro!" tiba-tiba saja Kakashi bergerak cepat dan menyerang pria tersebut. Emosinya tiba-tiba naik dan meluap begitu saja, mengetahui kenyataan itu. Ia tidak bisa menerima apa yang sudah dilakukan oleh Kuro terhadap gadis yang disukainya.
Tanpa babibu, mantan Anbu terkuat itu lantas memukulkan tinjunya kearah pria tersebut dan membuatnya terpental. Semuanya langsung berteriak histeris, tak terkecuali dengan Hinata. Gadis itu tidak mengira pada apa yang telah terjadi. Semua orang langsung keluar dari tempat persembunyian. Demikian pula Ino dan Sakura yang tampak begitu tercengang. Mata mereka langsung beralih dari pelaku menuju arah korban.
Kuro yang mendapatkan pukulan justru malah tersenyum sinis. Dirabanya ujung bibirnya yang berdarah dan kemudian menjilatinya. Seolah apa yang dilakukan oleh pria bermasker tersebut padanya adalah bentuk lain dari kemenangan sang iblis.
Berbeda dengan Kakashi yang diselimuti kemarahan, pemuda berambut raven bak Sasuke itu justru terlihat tenang. Mata merahnya menatap tajam, sementara tubuhnya perlahan mulai bangkit. "Itu saja yang kau bisa? Menyedihkan sekali..." sindir Kuro tajam. "Kalau kau memang kuat pukullah aku dengan segenap kekuatanmu!" tantang pemuda bermata merah itu lagi.
Hinata yang tidak tega melihat keduanya langsung berdiri ditengah untuk melerai namun sayang Kakashi yang terlanjur kalap mulai kehilangan akalnya dan berniat menghajar Kuro untuk kedua kalinya. Pria tersebut menyeringai seketika. Niatnya untuk berduel dengan Kuro, terhapus seketika. Manakala jounin itu merasakan ada sesuatu yang menahan gerakannya. Ini kan… Jurus pengikat bayangan?
Mata semua orang terpaku menatap satu titik. Tampak seorang pemuda dari klan Nara yang tengah menggunakan jutsu-nya dan menghentikan gerakan Kakashi. "Shikamaru Nara!" seru orang-orang disana. Pemuda yang dipanggil Shikamaru itu menghela nafas panjang. "Syukur belum terlambat."
Tiba-tiba tiga orang wanita muncul dari belakangnya. Salah satunya adalah hokage kelima dari desa tersebut. Tsunade Senju, cucu dari hokage pertama sekaligus salah satu dari tiga sannin legendaris. "Apa yang sudah kau lakukan, Kakashi? Aku menyuruhmu untuk menangkapnya bukan menghajarnya. Sejak kapan kau jadi emosian dan tidak berpikir panjang seperti Naruto?"
Kakashi menundukkan wajahnya, merasa bersalah. "Maafkan saya." Tuturnya menyesal.
"Dan lagi? Kenapa semua malah semua berkumpul disini?" tanya Tsunade marah. "SEMUANYA KEMBALI KE TEMPAT MASING-MASING!" teriak Hokage lantang.
Semua bergegas kabur dan kembali ketempat pekerjaannya masing-masing. Demikian pula dengan Ino dan Sakura. Sementara Karin dipaksa pergi oleh Yamato meski menjerit-jerit 'tidak ingin berpisah dari pangerannya' sehingga menyisakan lima orang saja disana. Tsunade, Shikamaru, Hinata, Kakashi dan juga Kuro.
Kuro mendelik, wajahnya berubah galak. "Sial terlalu lama disini." Batinnya menyesal terlalu lama memperlihatkan wajahnya. Hingga membuatnya dilihat banyak orang. Disisi lain Shikamaru akhirnya melepaskan jurusnya, dan Kakashi bisa bernafas lega.
Tsunade mencoba meluruskan. "Kalian semua sekarang ikut aku kekantor. Jangan ada satupun yang membantah." perintah Godaime. "Termasuk kau pria asing!"
Kuro menggeram marah, seumur-umur ia tidak pernah diperintah oleh manusia. Dan baru kali ini ada seorang yang berani memerintahnya terlebih lagi seorang wanita. Ia baru saja berniat untuk menyerang wanita berumur 50-an tahun itu sebelum Hinata gadis itu menghalanginya. "Apa yang kau-"
Gadis itu berlutut menyamakan posisinya dengan Kuro dan mengeluarkan saputangan. Dengan lembut Hinata mengusap wajah Kuro yang terluka. "Maaf Kuro-sensei, aku tidak bisa menggunakan ninjutsu medis. Tapi kuharap kau akan segera pulih dari lukamu. " tuturnya dengan ekspresi lembut. Membuat iblis itu tertegun seketika.
Tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ada seorang manusia yang memperlakukannya sebaik ini. Semua manusia didepannya itu sama, selalu bermuka dua. Mengatakan kebaikan tapi dibelakang justru malah tertawa memandang kejatuhan sesamanya. Semua selalu takut dan menyebutnya sebagai monster. Menyumpahi dan melaknatnya, membencinya serta menjauhinya. Tidak ada satupun yang mendekati apalagi menyayanginya. Tidak pernah ada!
Tapi sekarang…
Mata merah Kuro menatap mata lavender Hinata didepannya seolah memberikan cahaya. Ada seorang manusia dihadapannya yang kini melihat kearahnya, berada didekatnya dan memberikannya kehangatan. Menerimanya sebagai monster. Hal yang sudah hilang dari dalam hidupnya lama sekali semenjak ia menjadi penghuni Yomi.
Hinata menatap sensei-nya itu dengan perasaan khawatir. "Kuro-sensei?" tanyanya mencoba mendapatkan perhatian dari Kuro. Iblis berwajah nan tampan itu menengok dan memegang tangan Hinata. Gadis itu langsung memerah dan salah tingkah. Tiba-tiba bayangan mereka berdua yang berciuman memenuhi pikiran gadis itu. "G-gawat, aku tidak sanggup melihat wajahnya." Batin Hinata gugup.
Melihat gadis itu yang mendadak gugup, membuat Kuro sedikit terperangah. Sadar karena gadis itu memerah karena tangannya dipegang, Kuro terdiam sejenak sebelum mengurai seutas senyum. "Dasar bodoh! Lukaku akan cepat sembuh. Kau tidak usah panik begitu!" ujarnya ketus sambil menepuk kepala Hinata. Gadis itu mendongak dan mendapati wajah Kuro yang tengah tersenyum padanya.
Tersenyum? Tubuh Hinata mendadak kaku, mendapati hal tersebut.
Pantas saja banyak wanita yang jatuh cinta ketika pertama kali melihatnya. Sensei-nya itu memiliki wajah yang benar-benar tampan dan mempesona. Serta kharisma yang sangat kuat. Selama ini gadis Hyuuga itu tidak pernah memperhatikannya karena dimatanya, hanya kekejaman sang iblis yang nampak.
Tak pernah sekalipun iblis itu tersenyum padanya. Yang ada hanyalah sebuah seringaian menakutkan.
Dan hari ini iblis tersebut tersenyum padanya untuk pertama kali.
Jantung Hinata tiba-tiba berdebar begitu kencang. Mendapati kenyataan kalau senyum Kuro yang asli sangatlah hangat dibandingkan dengan senyum seorang Uzumaki Naruto, pemuda yang dikaguminya.
Kakashi menengok kebelakang. Emosinya kembali bangkit melihat kemesraan keduanya. Jauh didalam hatinya, jounin tersebut merasakan sakit yang luar biasa. Seolah-olah hatinya ditusuk dengan ribuan jarum. Jauh lebih menyakitkan dibandingkan dengan tusukan dari pedang atau pukulan dari ninja yang menjadi lawan-lawannya. Tidak ingin melihatnya lagi, pria keturunan ninja terkenal Hatake langsung memacu larinya dan pergi meninggalkan kedua orang dibelakangnya.
0-0-0
Sasuke terduduk sendirian disana. Perang dunia shinobi keempat sebentar lagi akan dimulai. Awal dari kebangkitan klan Uchiha dan pembalasan dendamnya terhadap para ninja Konoha. Pemuda pemilik mata sharingan itu sudah memutuskan untuk turut berperang disisi Madara. Meskipun tahu dirinya hanya dijadikan alat, Sasuke tidak peduli itu. Baginya sudah cukup apabila ia menghabisi para ninja di Konoha berikut para penduduknya.
Untuk itu ia sudah siap akan segala resikonya.
"Apa kau sudah memutuskan berada dipihak mana Sasuke?" Kabuto kembali mendatangi pemuda tersebut. Tujuannya hanya satu, dirinya ingin mendapatkan kepastian dari murid terbaik dari Orochimaru. Pemuda berlambang Uchiha dipunggung itu hanya melirik sekilas sebelum kembali tenggelam didalam pikirannya.
"Aku sudah memikirkannya." Jawab Sasuke datar. "Dimanapun pihakku, asalkan bisa membalaskan dendam pada Konoha aku tidak peduli."
Kabuto menatap Sasuke sedikit berekspresi. "Jadi… kau akan mengikuti jejak Madara?"
"Tak ada pilihan lain." Jawab pemuda itu gamblang.
"Tidak, kau salah." Kabuto menyeringai, "Ada satu pilihan lagi."
0-0-0
"Apa kau bilang? Menampakkan diri di desa?" Madara tampak sangat terkejut. Salah satu makhluk yang menjadi bawahannya di Akatsuki mengangguk. "Benar, Madara-sama. Kuro menampakkan diri pada para penduduk desa untuk menyelamatkan nyawa beberapa orang disana." Zetsu memperjelas.
Madara terperangah makin tidak percaya. Seorang seperti Kuro? Iblis itu… Menyelamatkan penduduk desa? Sungguh tidak bisa dipercaya! Madara hanya bisa tertawa garing, matanya berpindah kemana-mana. "Terus apa lagi yang kau dapati disana?"
"Kuro juga bertemu dengan siluman rubah ekor sembilan, Kurama Kyuubi." Ada penekanan disana.
Madara terkejut untuk dua kalinya. Huh, bagus sekali. Tanpa sepengetahuannya, rupanya keduanya sudah bertemu. Apa iblis itu sudah lupa tentang perjanjian mereka bertahun-tahun yang lalu? Kalau Kuro akan membantunya menangkap para bijuu? Kenapa sekarang ia sudah bertemu tapi tidak menangkapnya? Apa sebenarnya yang ingin dilakukan iblis tersebut? Jauh dalam pikiran Madara, ia sangat takut apabila Kuro tengah berusaha untuk mengkhianatinya.
"Apa penciptamu itu seorang yang mudah berpindah pendirian Zetsu?" tanya Madara tiba-tiba.
Zetsu sedikit tercengang sebelum membuka rahasianya. "Tidak juga. Sebelum menciptakanku dari tanah Yomi, Kuro-sama adalah seorang yang sangat kokoh dalam berpendirian. Tidak hanya itu, ia juga salah satu dari tujuh makhluk tingkat atas yang ditakuti di Yomi." jelas Zetsu sambil menerawang masa lalu Kuro. "Mungkinkah karena gadis itu?" Zetsu mencoba menebak.
Madara menaikkan alisnya, Zetsu memperjelas. "Sepertinya ada kemungkinan karena gadis itu yang secara tidak langsung mulai membuatnya ingat kembali pada emosi bernama 'perasaan' yang sudah dikuburnya dalam-dalam.
"Perasaan?"
Zetsu mengangguk. "Madara-sama tidak tahu? Sebelum menjadi iblis dan masuk kedunia Yomi… Kuro-sama dulunya adalah seorang manusia."
"Manusia?" Madara mengulang kembali jawaban Zetsu, masih tidak mengerti pada apa yang ada.
Zetsu kemudian menceritakan sekilas dari masa lalu Kuro yang diketahuinya. Pria bertopeng tersebut, makin tercengang dan tidak percaya pada nasib yang dialami oleh pria bercakra gelap tersebut. "Begitu, entah aku harus prihatin atau kasihankah padanya." Ujar Madara berkomentar.
Kalau memang benar begitu, wajar saja jika Kuro begitu membenci manusia.
"Itulah yang kutahu dari Kuro-sama sebelum beliau menciptakanku untuk membantumu."
Madara berbalik sembari menggaruk belakang kepalanya. "…Lalu apa maksudmu dengan gadis itu yang yang mulai mengubah pendirian Kuro?"
Zetsu tampak berpikir sejenak. Bingung antara harus memberitahu atau tidak. Bagian dalam dirinya yang putih tidak ingin memberitahunya karena itu adalah privasi dari penciptanya, namun sebelah lagi Zetsu bagian yang hitam, sudah berseru dan berniat untuk memberitahukan atas perintah majikannya yang sekarang. Jadi mana yang harus dipilih?
Melihat Zetsu hanya terdiam, Madara tidak habis pikir. "Apa yang kau tunggu cepat katakan. Apa hubungannya?" Mendapat desakan dari Madara, mau tidak mau bagian hitam Zetsu-lah yang menang. "Mung-kin karena Kuro-sama menyuka-inya?" Zetsu menjawab sambil setengah berpikir. Tidak mau kalau apa yang dikatakannya ternyata justru malah berbeda dengan kenyataannya. Karena bagaimanapun ia diciptakan untuk tidak berbohong karena penciptanya -Kuro sangat membenci kebohongan.
Madara pria tersebut mengernyitkan dahinya. Mendengar dua kata, 'Kuro' dan 'suka' yang sama sekali tidak nyambung menurutnya. Dan bertanya balik. "Memangnya gadis mana yang Kuro sukai? Dan apa alasannya?"
Inilah yang ia tidak tahu, "Aku tidak tahu apa alasannya. Yang pasti dari penglihatanku, gadis itu adalah muridnya yang bernama Hyuuga Hinata. Tidak sengaja Zetsu putih memergoki mereka berdua tengah berciuman di hutan dan…"
Ucapan Zetsu terputus seketika, mendapati majikannya yang tertawa terbahak-bahak dan menggegerkan seisi markas. Dalam hati Zetsu putih bertanya pada sisi lainnya yang berwarna hitam, "Memang apa yang kukatakan tadi lucu ya? Kenapa dia tertawa?" batin Zetsu bingung.
0-0-0
"Apa yang terjadi?" tanya Kisame tiba-tiba. Ia segera beranjak dari ruangannya dan pergi bersama Suigetsu dan Jugo. Sesampainya diruang utama, mereka mendapati keduanya, Zetsu dan Madara yang tengah bersama. "Apa yang terjadi Madara?" makhluk yang mirip dengan ikan hiu itu bertanya dengan nada bingung. Sementara keduanya yang lain Suigetsu dan Jugo bertanya hal yang sama. Hanya ada dua orang yang tidak tampak disana, Kabuto dan Sasuke yang entah pergi kemana.
Madara berusaha mengendalikan diri, terkenal karena irit bicara dan tidak pernah tertawa tentunya membuat mereka semua para anggota Akatsuki bertanya-tanya, pada apa yang terjadi. Pandangan mereka kemudian jatuh ke Zetsu. Makhluk yang menyerupai tanaman itu hanya diam sambil berpikir keras.
"Tidak ada apa-apa. Kembalilah kalian." Perintah Madara yang langsung disambung dengan gerutuan dari para anggotanya. Mereka balik pergi, sebelum Kisame menoleh memberi komentar. "Jangan pernah lagi tertawa seperti itu. Kau membuatku jijik Madara!" umpatnya sebelum akhirnya menghilang dari ruangan.
Madara tidak menggubrisnya, pikirannya masih menyambung fakta dan opini yang disodorkan oleh Zetsu kepadanya. Sungguh itu merupakan hal paling menggelikan yang pernah didengar seumur hidupnya. Prihal hubungan cinta terlarang antara iblis dari Yomi dengan gadis manusia. "Apa kau baik-baik saja Madara-sama?" Tanya Zetsu kemudian.
"Ya, aku tidak apa-apa." Jawab Madara mencoba mengambil nafas. "Hanya saja…. Aku tidak menyangka, bahwa kecurigaanku selama ini benar dan ketakutanku akan gadis itu dan Kuro benar-benar menjadi kenyataan."
Zetsu kembali berpikir, "Ketakutan?"
Madara mengalihkan pandangannya keluar jendela. Menatap bulan putih yang sebentar lagi akan berubah merah.
"Pada awalnya, aku sama sekali tidak keberatan akan permintaan Kuro yang memilih untuk menetap di Konoha dan mengajari seorang gadis Hyuuga. Namun lambat laun aku mulai menyesali keputusanku." Madara mulai memicingkan matanya, seolah hal yang buruk akan terjadi. "Begitu melihat sikapnya yang belakangan ini berubah dan sifat protektifnya pada gadis itu muncul… "
Kalau kau berani menyentuhnya, saat ini juga aku yang akan jadi lawanmu!
Gadis ini adalah milikku. Dan kau tidak berhak mencampuri urusan kami. Ingat itu, manusia.
"Aku mulai sadar satu hal."
Madara bertambah geram, apalagi setelah mengetahui prihal masa lalu Kuro dari Zetsu. Sesuatu yang dikiranya 'mustahil' benar-benar berubah menjadi kemungkinan 'bisa terjadi'setelah ini.
Mungkin memang benar saat ini Kuro masih belum sadar. Tapi lambat laun kalau dia tetap bersama dengan gadis Hyuuga itu, 'perasaannya sebagai manusia' bisa muncul kembali kepermukaan. Iblis itu bisa mengingat kembali emosinya sebagai manusia, dan itu sangat berbahaya bagi Madara. Buktinya adalah ciuman itu, sesuatu yang tidak mungkin iblis itu lakukan jika tidak memiliki perasaan pada sang pewaris Hyuuga. Wajah Madara berubah serius.
"Saat ini Kuro pasti tengah bingung pada emosi yang dirasakannya pada Hyuuga." Katanya menambahkan. "Sebelum dia menyadari perasaannya sendiri, kita harus bertindak."
"Memangnya apa yang harus kita lakukan Madara-sama?" tanya Zetsu hitam.
Madara membalikkan badannya, mangekyou sharingannya aktif dan seakan tumbuh membara. Pendiri dari klan Uchiha itu tidak mungkin membiarkan keduanya terus bersama, ia tidak mungkin membiarkan suatu hari nanti Kuro mengkhianatinya dengan alasan gadis tersebut.
Tidak ada cara lain.
"Kita harus melenyapkan gadis Hyuuga itu." Madara akhirnya menurunkan titah.
.
.
Ya, kita harus melenyapkan gadis bernama Hyuuga Hinata itu tanpa sepengetahuan dari Kuro.
.
.
.
To be continued…
Darker Than Night Chapter 13 Complete
-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-0-
Note : Special thanks for you guys who already review this fic for chapter 12 and 13, diantaranya adalah aindri961, astia morichan, hinahyuu, cherllina, g, black rose, re-chan,ikeya, Cassy Dy Hime, lmntrx15, Uzumaki Na Ma, Afa faikah, Fiora, Umaru, Stupid Panda23, Efraim Bethoven, Yuni, Nick, Ryuuki, Aheleza kawai, A-chan, Biru-violet, Tia123, Yama, , SAO, hyuuga razmess, Nu, , n, HinaTama, Yurika-chan, Guest, Aisyahputri, Juni, Cahya Uchiha, Natsu no Midori, hyacinth uchiha, tiasiambaton, Dark Rav3n, siskap906, Nurul1851, namika ashara, Vampire Uchiha, onyz dark blue, Noorzha, Ashura Darkname, Mimi chan, Cassi Hime, 44tia, eda-chan, Guest, Strife831, Hime chan, DrakAngel, Guest, Ameterasu, Sabaku no yuhi, Yuka chan, Yuu zari-himechan, riri11, cutelavender, no name, intan, Lavenderiaz19, SasuhinaLavenOnix, Guest, Guest, Masamune434, Guest, Ichira Ryuu-Gaki, Aheleza kawai, biru-violet, icha, indah Jutekabiee,lavender bhity-chan, nanase, uzzie, Masalah buat loe, Tokta Viyana, Shu, hakamLinda, Lavenderiaz19, louvi, rosda28, fitrisj, Lluvia Pluviophile, scarletriaz, apikachudoodoll, una-chan, guest, april, LMNTRX-SKY, cika, eigaralinafiah, stupidpanda23, , hiru nesaan, hina-chanever, dan para silent reader sekalian. Mohon maaf apabila ada nama para reader yang belum tercantum. Karena review yang baru saya save hanya sebatas orang-orang diatas saja.
Untuk comment para reader sekalian sudah saya tampung, semoga chapter ini memuaskan para reader sekalian pecinta, 'DTN'. Ada beberapa yang ditanyakan oleh para reader yang saya perlu garis bawahi kalau multipairing disini tergantung dari isi alur cerita. Dimana cerita akan sampai dimana Hinata bertemu dengan karakter pria, contohnya adalah Kuro dan disana mulailah kisah mereka berdua. Seperti halnya dengan Kakashi, Gaara, Naruto atau Sasuke yang akan muncul belakangan. Jadi… tolong jangan salah menduga, kalau inti dari cerita ini hanya terfokus pada satu pairing saja. Akan tiba saatnya nanti para reader tahu bagaimana nasib dari pairing selain Sasuhina selanjutnya hohohoho *evil smirk.
Khusus untuk reasder yang bernama re-chan, glek semoga anda tidak mengejar saya dengan golok setelah membaca chapter ini, para reader lain yang meminta untuk happy ending seperti hyacinth uchiha, mmm bagaimana ya? Jujur saya lebih suka sad ending#plak ditabok rame-rame. Nantilah saya pikirkan untuk itu. Untuk seseorang yang pm saya secara pribadi, maaf kalau usulan fic yang anda minta tidak bisa saya tuliskan. Maklum saya tidak begitu pandai membuat fic ber-rate seperti itu, namun sebagai penyesalan saya menuliskan chapter ini, semoga anda suka :)
Untuk ameterasu, waduh emailnya salah say. Addnya ke sayakisaragi30 . Coba deh tengok diprofil saya lagi. Bagi para reader lainnya yang sudah mereview, memfolow dan memfavourite fic ini, terima kasih banyak atas partisipasinya. Apabila ada yang ingin bertanya pribadi soal fic-fic saya jangan sungkan-sungkan untuk pm saya. Dukung terus Darker Than Night ya guys, ciao ^0^
Lightning Chrome
05092015
