Tears of Us
Shiroi Kage's project
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Rate : T+ for this chapter
Pair : ItaFemNaru || SasuFemNaru
WARNING : FEMALE NARUTO, NO EYD, MISS TYPO, A LITTLE LIME, FULL FLASHBACK FOR THIS CHAPTER, E.T.C
Thanks for my beloved Seme who gave me some review ! Love ya ~
.
.
.
"Itachi menyuruh kita bersiap untuk operasi terakhir."
.
.
.
Bab 14 [ Misi Terakhir Diterima ]
Crash crash
Yahiko menggunting rumput liar yang tumbuh subur di depan gubuk tempat tinggalnya. Sementara tangannya sibuk membabat habis rumput liar, pikirannya melayang pada sosok Sasuke yang beberapa saat yang lalu datang menghampirinya.
"Apa yang harus aku katakan pada Itachi?"
Gumam Yahiko putus asa.
"Katakan saja yang sebenarnya!"
Crash
AAARGH!
"Ya! Kau mau membunuhku ya?"
Jari telunjuk Yahiko menunjuk sosok bersurai pirang dihadapannya. Yang muncul seperti jelangkung. Datang tak di undang pulangnya diusir. Abaikan.
"Kalau aku berniat membunuhmu, mana mungkin kau masih bisa berkebun di tempat ini. Lihat betapa baiknya aku un!"
Yahiko tertawa. Benar juga, kalau bukan karna rekan pirangnya mungkin sekarang dia sudah menyusul Konan di alam baka. Tunggu, ada yang salah disini! Yahiko memandang rekan pirangnya heran. Pandangannya menelisik dari atas hingga kebawah lalu keatas lagi. Ah ketemu!
"Kau bosan hidup ya!"
Deidara –nama rekan pirangnya mengorek lubang telinganya yang berdengung akibat suara cempreng Yahiko.
"Kau mau membuatku tuli? Itu balas budimu padaku un?"
Sret
Yahiko segera menarik Deidara untuk masuk kedalam gubuk tuanya. Siapa tahu ada yang memata-matai mereka. Bisa bahaya jika anak buah bos besar tahu dia masih hidup. Tidak, cukup sekali Yahiko mempertaruhkan nyawanya.
"Kenapa kau kemari tanpa menggunakan penyamaran? Cih anak ini benar-benar!"
Plak
"Siapa yang kau sebut 'anak ini' ha? Dasar tidak sopan! Aku lebih tua darimu un!"
Yahiko mengelus kepalanya yang berdenyut nyeri setelah menerima jitakan 'sayang' Deidara.
"Jadi, ada apa kau kemari?"
Hampir saja Deidara lupa tujuan awalnya mendatangi gubuk derita Yahiko. Dibukanya gulungan kertas yang tadi bersembunyi di balik jas hitam yang di kenakannya.
"Itachi menghubungiku."
.
.
.
.
.
Dari semua kejadian buruk yang terjadi. Ada satu orang yang paling dirugikan. Seseorang yang sejak awal menjadi pihak yang dilindungi tapi justru menjadi umpan empuk untuk memukul mundur si sulung Uchiha. Siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke.
Bungsu Uchiha itu bahkan awalnya sama sekali tidak mengerti kenapa mereka melakukan ini padanya. Mematahkan tulang rusuknya, hampir memecahkan tempurung kepalanya, lalu memaksa Sasuke cuti sekolah selama satu tahun penuh untuk proses penyembuhan.
Setelah kondisi mulai kondusif, mereka menyekapnya dan membawa serta si pirang. Menanamkan bom di tubuh si pirang dan memasang pemicu di tenggorokannya. Hampir membuatnya menjadi pembunuh jika Itachi tidak datang tepat waktu. Membuatnya terpaksa menjadi bisu selama bertahun-tahun.
'Aku lelah!'
Sasuke memandang tulisannya sendiri di dinding kaca cafe yang disambanginya.
"Mau pesan apa tuan?"
Suara pramusaji cafe berhasil mengalihkan perhatian Sasuke. Sasuke menunjuk gambar kopi hitam dan satu piring dango.
"Baiklah, saya permisi."
Sasuke menatap pramusaji yang baru saja bertanya padanya. Surai pirangnya bergerak lincah saat gadis itu melangkah bak model papan atas.
Pirang kah?
Sasuke jadi penasaran, bagaimana kabar kakak iparnya saat ini. Apa dia masih belum mau membuka matanya?
"Silahkan pesanan anda tuan."
Pramusaji pirang itu datang lagi membawa pesanan Sasuke. Menatanya diatas meja Sasuke.
"Saya permisi. Silahkan dinikmati!"
Sret
Sasuke menahan tangan si pramusaji dan membuat gesture agar pramusaji pirang itu duduk di depannya.
'Aku butuh teman.'
Sasuke menyerahkan notenya kepada pramusaji pirang.
"A-ah tapi aku harus bekerja lagi, kalau aku dimarahi bos bagaimana?"
Gumam si pramusaji dengan suara mencicit di ujung kalimatnya.
'Panggilkan manajer cafe ini kalau begitu.'
Si pramusaji pirang mengangguk pasrah, entah magnet apa yang membuatnya mau saja menuruti perintah si raven. Tampan sih memang, tapi sayang bisu ups! Aih, manusia itu memang tidak ada yang sempurna kan?
"Ada apa anda memanggil saya tuan?"
Manajer cafe mendatangi Sasuke. Rambut merah itu –
'Sasori-nii? Kau manajer cafe ini?'
Sasori mengangguk. Yah, kalau bukan karena perintah Itachi mana sudi dia duduk manis di belakang meja kerja sambil menyeruput secangkir kopi panas. Kalau diberikan pilihan, Sasori lebih memilih terjun lagi ke lapangan seperti dulu. Tapi mendengar penuturan Itachi yang mengatakan bahwa mereka perlu berkamuflase untuk menangkap kelompok Hebu membuatnya menyerah.
'Boleh aku meminjam dia.'
Sasori menoleh kearah salah satu pegawainya.
"Maksudmu Ino-chan?"
Sasori menatao Ino tanpa berkedip. Lalu pandangannya beralih kearah Sasuke. Lalu sebuah bola lampu imaginer muncul di kepalanya.
"Kau tertarik pada si pirang berisik ini?"
Tanya Sasori polos.
"Saso-nii!"
Seru Ino kesal. Wajahnya sudah hampir menyamai warna rambut Sasori.
"Silahkan pinjam saja. Gratis kok!"
Sasori tersenyum lebar dan mengedipkan sebelah matanya kepada Ino yang membuat si pirang semakin salah tingkah.
"Kalau begitu aku permisi!"
.
.
.
.
.
Brak
"Ya! Kau mau merusak pintu cafe ku ha?"
Sasori mendelik tidak suka melihat dua orang berbeda warna rambut tiba-tiba datang membuat keributan di cafenya.
"Ini penting un!"
Seru seorang laki-laki bersurai pirang sambil memamerkan sebuah kertas berwarna hitam kepada Sasori.
"Cih, kenapa tidak bilang dari tadi? Cepar masuk!"
Sasori menuntun kedua rekannya untuk masuk kedalam ruang kerjanya. Sasuke memandang Yahiko yang tadi datang bersama Deidara tanpa berkedip.
'Bukankah dia bilang tidak mau keluar dari gubuk reyot itu?' Batin Sasuke.
"Kau juga lihat laki-laki bersurai pirang masuk ke ruangan Saso-nii tidak?"
Tanya Ino tanpa mengalihkan perhatiannya pada pintu ruang kerja Sasori. Sasuke mengangguk, mengiyakan pertanyaan Ino.
"Berati aku tidak sedang berhalusinasi kan?"
Sasuke menyerahkan notenya pada Ino.
'Maksudmu?'
Ino menghela nafas, ekspresinya berubah muram.
"Aku pikir tadi aku melihat Dei-nii, dia kakakku satu-satunya. Tapi aku kehilangan jejaknya. Dia menghilang begitu saja. Sampai sekarang aku tidak tahu keberadaannya."
Sret
Ino terkejut, begitupun Sasuke. Melihat tangan besarnya bertengger di atas tangan Ino membuat aliran darah Sasuke meningkat tajam.
'Ah maafkan aku!'
Ino mengangguk kaku. Yabbe! Ini tidak akan baik! Ino mengintip Sasuke dari balik ponu pirangnya yang menjuntai kebawah.
'Aku tidak sedang jatuh cinta pada pandangan pertama kan?' Batin Ino ragu.
'Kau tidak apa? Wajahmu memerah?'
Ino tersenyum kaku membaca catatan di note Sasuke.
"Hahaha a-aku mau ke t-toilet dulu ya!"
Pengecut!
.
.
.
.
Sementara itu di dalam ruang kerja Sasori, suasana berat begitu terasa.
"Katakan apa isi surat itu!"
Suara Sasori memecah keheningan.
"Itachi menyuruh kita bersiap untuk operasi terakhir."
Sasori mengangguk. Tapi kemudian matanya membola tidak percaya.
"Apa maksudmu operasi terakhir?"
Yahiko menyerahkan sebuah koran edisi satu tahun yang lalu kepada Sasori.
"Kelompok Hebi sudah melampaui batas. Kau tahu berapa jumlah korbannya?"
Sasori menggeleng. Kedua matanya terpaku pada judul headline berita yang viral tahun lalu.
'Kasus hilangnya Mahasiswi Konoha University'
"Sampai sekarang jumlah korban hilang mencapai angka tiga ratus an."
Sasori menggeleng tidak percaya. Uso daro?
"Jadi ini ulah kelompok hebi?"
Deidara mengeratkan pegangannya pada pinggiran meja. Tangannya tiba-tiba mengalami tremor mengingat ekspresi ketakutan dari para korban. Lalu sekarang, apa bedanya aku dengan mereka?
"A-Aku yang bertanggung jawab untuk kasus itu."
Yahiko menahan tangan Sasori yang akan melayangkan tinju gratisnya pada Deidara. Yahiko menggeleng melihat raut kemarahan tergambar jelas di wajah Sasori.
"Dia jauh lebih menderita, harusnya kau tahu itu. Dia terpaksa melakukannya."
Bruk
Prang!
Yahiko memandang kondisi meja kerja Sasori yang sudah tidsk berbentuk. Pecahan kaca berhamburan di lantai, tetesan darah segar mengalir dari sela-sela tangan Sasori.
"Harusnya kau bisa menolah perintah itu? Sekarang katakan apa bedanya kau dengan mereka ha? Kau terlalu jauh mendalami peranmu!"
Geram Sasori. Deidara mengepalkan tangannya. Tidak terima dengan tuduhan yang diberikan Sasori kepadanya.
"Kau pikir aku bisa menolak perintah si brengsek itu dan membuat identitasku terbongkar? Kau pikir dia akan melepaskan Itachi begitu saja saat dia tahu ada dua penyusup di kelompoknya? Kau mau usaha kita selama ini sia-sia? Begitu maumu!"
Bruk
Sasori jatuh terduduk. Ucapan Deidara seolah menamparnya pada kenyataan. Tentang neraka dunia yang mereka tinggali saat ini.
"Cih sial!"
Sasori mengacak surai merahnya frustasi. Air mata itupun lolos begitu saja. Pertama kali dalam hidupnya Sasori meneteskan air matanya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
.
.
.
.
Flashback
.
.
.
.
"Nii-san aku pergi dulu!"
Sasori melihat Gaara keluar dari rumah sambil melambaikan tangannya.
"Hati-hati, titipkan salamku untuk Sakura!"
Gaara mengangguk singkat sebelum masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah.
"Kenapa perasaanku tidak enak?"
Gumam Sasori melihat bayangan mobil Gaara yang hilang di tikungan jalan. Diam-diam Sasori mengaktifkan alat pelacak di mobil Gaara dan bergegas menuju garasi untuk menyusul adiknya.
"Semoga tidak terjadi apapun."
.
.
.
.
.
Sasori melihat Gaara yang bersandar di pintu mobilnya sejak dua jam yang lalu. Beberapa kali Gaara memainkan ponsel pintarnya dan menghubungi seseorang. Tapi raut kecewa itu menjawab semuanya. Sasori akan keluar mobil dan menghampiri Gaara, tapi tiba-tiba dia melihat Gaara menerima sebuah panggilan. Raut wajah Gaara mengeras, kemudian dia melihat Gaara masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya membelah jalan dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Apa yang terjadi?"
.
.
.
.
.
.
Sasori melihat Gaara masuk kedalam kantor polisi dengan tergesa. Mau tidak mau Sasori keluar dari mobil menyusul Gaara, memastikan tidak ada hal buruk yang menimpa adiknya. Tapi sepertinya harapannya tidak terkabulkan.
"S-Sakura?"
Sasori terdiam di tempat. Dihadapannya Gaara menatap kosong kantong mayat yang menyimpan kepala seorang gadis tanpa satu helaipun rambut di kepalanya.
"T-tidak mungkin!"
Suara Gaara tercekat di kerongkongan.
"Lalu dimana anakku?"
Langkah Sasori terhenti. Anak? Itukah alasan Sakura merengek ingin pulang kerumah orang tuanya? Astaga, padahal setiap hari Sasori melihat Sakura berkeliaran di rumah tapi kenapa dia tidak sadar kalau adik iparnya itu sedang mengandung keponakannya?
"Maaf, kami hanya bisa menemukan kepalanya di tkp."
"Tidak mungkin hahaha kalian bohong kan? Dia bukan Sakura! Haha Sakuraku masih hidup, aku harus menjemputnya! pasti dia sudah lama menungguku di stasiun."
Gaara jatuh terduduk saat kakinya terasa seperti jelly.
Tes
Dan cairan bening itupun lolos tanpa perlawanan.
"Gaara."
Sasori menyentuh pundak Gaara yang bergetar hebat.
"Saso-nii Sakura baik-baik saja kan? Wanita itu bukan Sakura kan?"
Hug
Sasori langsung menghamburkan Gaara kedalam pelukannya.
"Aaaaaaargh!"
.
.
.
Flashback off
.
.
.
.
"Setelah kejadian itu, Gaara sering mengamuk dan aku terpaksa memasukkannya kedalam rumah sakit jiwa."
Sasori mengakhiri ceritanya. Sorot matanya meredup. Sementara Deidara hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa bisa mengatakan apapun. Dia ingat wanita gulali yang di ceritakan Sasori. Bagaimana bisa dia bisa lupa senyuman tulus yang diberikan Sakura saat itu. Bagaimana pancaran kebahagiaannya saat mengatakan bahwa dia sedang mengandung. Dan bagaimana air mata itu jatuh terakhir kali saat dia menghembuskan nafas terakhirnya. Bagaimana bisa dia melupakannya?
"Aku ingin sekali membunuhmu Dei, tapi kau juga pasti merasa tertekan bukan? Melakukan sesuatu yang tidak kau sukai demi menunaikan tugas. Cih, kenapa kita hidup di dunia yang seperti ini?"
Sasori tersenyum pahit.
"M-maafkan aku."
Sasori menggeleng.
"Sudahlah, kau minta maaf juga tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula kan?"
Yahiko melirik kearah pintu ruang kerja Sasori.
"Apa yang kau lakukan disana?"
Baik Sasori maupun Deidara sama-sama mengalihkan pandangannya kearah pintu.
"Masuklah, Sasuke."
.
.
.
.
.
'Apa ada yang bisa aku bantu?'
Sasuke menyodorkan notenya kepada tiga orang yang kini duduk mengelilinya.
"Jangan melibatkan dirimu, ini berbahaya!"
Sasori mengingatkan.
'Aku mau membantu baka Aniki!'
Yahiko menarik nafas lelah. Kalau Itachi tahu mereka melibatkan Sasuke pada operasi kali ini, entah apa yang akan dilakukan si sulung Uchiha itu.
"Sasuke dengarkan aku, kau tahu kan kalau Itachi sangat menyayangimu?"
Sasuke mengangguk.
"Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan di lakukan Itachi saat tahu kami melibatkanmu dalam kasus ini. Kau mau melihat kami merenggang nyawa sia-sia di tangan Itachi?"
Injak
"Aw! Kenapa kau menginjak kakiku?"
Yahiko mendelik saat kaki Deidara bertengger manis diatas kakinya. Sadar akan kesalahannya, Yahiko segera menutup mulutnya.
"Kau serius mau ikut bergabung dengan kami?"
Pertanyaan Sasori membuat Sasuke mengangguk semangat.
"Walaupun kau mungkin akan kehilangan nyawamu?"
Sasuke tersenyum tipis, kemudian memberikan notenya pada Sasori.
'Itu yang aku inginkan!'
Tbc
OMAKE
"Hei kau, tinggalkan kami berdua. Aku yang akan mengurusnya."
Seorang penjaga yang sejak tadi berdiri di belakang Deidara mengangguk, lalu berjalan pergi meninggalkan Deidara dan Yahiko.
"Aku akan melenyapkanmu."
Yahiko mengangguk. Ya, memang begitulah seharusnya.
"Terimakasih Dei. Aku berhutang nyawa padamu."
Dor
Satu identitas hilang bersama suara tembakan diruangan kedap suara itu.
Deidara memandang sosok Yahiko yang terbaring diatas lantai. Berjalan mendekat, dia melihat Yahiko yang begitu menghayati perannya.
"Oi bangun! Kau pikir ini hotel?"
Deidara menendang pelan kaki Yahiko, manik birunya melirik kebelakang. Berjaga-jaga siapa tahu ada yang mengintipnya dari luar.
Yahiko membuka kelopak matanya.
"Apa sudah aman?"
Deidara mengangguk.
Tangannya bergerak membuka sebuah tuas yanh ada di belakang Yahiko, lalu menyeret tubuh Yahiko masuk kedalam ruangan sempit itu.
"Aku hanya bisa membantumu sampai disini. Awas kalau aku menemukan mayatmu membusuk disini."
Yahiko mengangguk yakin, tangannya berusaha merangkak masuk kedalam terowongan gelap yang disiapkan Deidara untuknya bisa kabur.
"Selamat tinggal!"
.
.
.
.
.
Setelah memastikan Yahiko keluar dengan selamat, Deidara segera mengeluarkan karung mayat yang tersimpan di dalam lemari pendingin. Tangannya merogoh pilok berwarna orange dan menyemprotkannya di rambut mayat malang itu. Setelah yakin penampilannya mirip dengan Yahiko, Deidara mengarahkan moncong pistolnya kearah mayat itu dan -
Dor!
Genangan darah segar membasahi lantai marmer yang dingin.
"Maafkan aku, Yahiko."
End Omake!
