Wanita itu mengecup pipi kedua jagoannya sebelum memasuki sebuah mobil Silver Ford yang akan membawanya ke Busan. Untuk beberapa hari, atau bahkan lebih, dia tidak ingin memikirkan berapa lama. Ia memikirkan apakah suaminya bisa mengurus semua keperluan di rumah. Semoga saja.

Mereka masih melambai memerhatikan mobil yang menjauh itu.

"Appa."

"Hm?"

"Tae minta sesuatu, boleh?"

"Boleh. Mobil mainan? Tembakan? Nanti appa belikan."

"Bukan itu."

"Lalu?"


Lifeline

another fanfic story by winwey

Jongin x Kyungsoo

slight of Chanbaek Hunhan Chenmin

Drama, GS for uke's, Typo's, OOC, Rated T-M


Jongin tak akan pernah menyangka permintaan putra pertamanya adalah sesuatu yang amat sangat sederhana tapi luar biasa. Taeoh Kim, putra pertamanya yang lahir enam tahun lalu, setiap hari tidak pernah tidak mengoceh meminta kepadanya.

Sementara pekerjaan menyita waktu, Jongin tidak ingin mengutamakan meski hal ini di lakukan untuk keluarga. Karena Minseok sibuk mengurus Daeul yang masih balita, putra kecilnya dengan Jongdae, Kyungsoo pergi ke Busan menangani pemilihan pemimpin cabang cafe di sana. Edawn di tugasi mengambil alih beberapa cabang di Seoul, dia melakukannya dengan baik.

Hal itu membuat Jongin tidak bertemu Kyungsoo satu minggu penuh, dia paling tersiksa dengan perpisahan. Tentu saja, tidak ada yang dapat menandingi orang sempurna yang bisa menangani si berandal kecil Taeoh. Orang sempurna itu hanya satu, orang sempurna itu di sebut sebagai istri, di sebut sebagai eomma, di sebut sebagai..

"Kyung," Orang sempurna itu Kyungsoo. Jongin menggerutu di ponselnya sambil melonggarkan dasi, tidak ada yang dapat dia lakukan selain mengeluh pada istrinya di seberang telepon. "Di mana kau? Katamu pulang hari ini. Oh, ayolah sayang. Aku tidak sanggup harus bangun pagi-pagi sekali, memasak, membangunkan Tae, membangunkan suami—"

"Yah! Tentu saja kau tidak membangunkan suami karena kau adalah suami, Jonginku. Jangan khawatir. Aku di sini."

Pintu ruangannya terbuka, Jongin mengalihkan pandanganya pada sosok wanita yang baru saja masuk. Mereka bahkan belum mematikan sambungan ponsel.

Kyungsoo berjalan mendekat, langkah kakinya yang terbalut heels tujuh senti mengetuk lantai. Gaun merah itu membalut tubuhnya ketat, pengaruhi Jongin tak berpaling, bahkan sekedar menarik napas. Rambut panjangnya di cat cokelat pekat dari terakhir kali bertemu, nyaris membuat sosoknya seperti remaja. Sekarang Jongin berpikir, dia tidak percaya bahwa istrinya pernah melahirkan. Apakah benar dia istriku?

Damn. Why she more beautiful. Love it.

Kyungsoo sudah mematikan sambungan telepon, memasukkan ponsel putih itu ke tas tangannya. "Kedipkan matamu, Jongin. Kau belum berkedip sejak aku datang." Wanita itu berjalan mengitari meja kerja Jongin, terkekeh ketika suaminya tampak mengedipkan mata cepat-cepat karena perih. "Sepertinya kau bekerja cukup keras. Kau capek? Biar kupijat."

Jongin mendesah nyaman mendapat tekanan jemari lentik Kyungsoo di bahunya. Wanita itu berdiri di belakang, tapi dia dapat mencium aroma bunga khas Kyungsoo. "Tadi pagi setelah mengatar Tae ke sekolah, aku menghadiri rapat tiga kali berturut-turut."

Sementara masih memijat pundak Jongin yang terbalut jas, Kyungsoo menggumam mengerti. "Maaf aku pergi terlalu lama. Kau tahu aku tidak mudah percaya pada seseorang. Untung Edawn merekomendasi teman wanitanya yang tinggal di Busan untuk mengurus cafe lebih cepat. Kupikir mereka pacaran. Dia wanita pekerja keras."

"Sudahlah sayang. Aku sudah cukup senang kau kembali. Satu minggu ini menyiksaku. Kemarilah, aku rindu padamu." Jongin meraih tangan Kyungsoo di bahunya, menuntun mengitari kursi hingga wanita itu duduk menyamping di pangkuannya. "Kau mengecat rambutmu? Brown cocok buatmu."

Kyungsoo tersenyum selagi tangannya mengalung di leher Jongin, "Kupikir aku hanya perlu tampilan baru."

"Tidak apa-apa kalau kau sering pergi ke salon. Tadinya aku mengira menjadi ayah akan sangat berat karena bekerja siang malam. Tapi aku sadar, tugasmu jauh lebih berat." Kyungsoo diam mendengarkan ucapan suaminya. "Kau harus bangun pagi-pagi untuk membangunkanku, membangunkan Tae. Aku beruntung memiliki istri yang bisa memasak dengan baik. Meskipun kadang aku iri kalau kau memandikan Tae sementara aku tidak."

Pukulan main-main mendarat di bahu Jongin, Kyungsoo menyadari dirinya tidak akan pernah kebal dengan perkataan mesum pria itu. "Jadi kau kapok menjadi ibu?"

"Tentu saja sayang. Taeoh semakin aktif semakin bandel. Jagoan kecil itu benar-benar." Jongin mendekatkan wajah mereka, ingin merasakan manis bibir istrinya, "terutama sering mengganggu kalau kita—"

"Appa! Taeoh pulang!" Bocah dengan seragam taman kanak-kanak memasuki ruangan Jongin, sejenak terkejut melihat ayahnya ingin mencium wanita. Taeoh adalah anak cerdas, pikirannya menepi membangkitkan emosi melihat wanita dengan gaun merah seksi itu cepat-cepat bangkit dari pangkuan Jongin. Setelah tahu itu adalah ibunya, Taeoh spontan ceria. "Eomma pulaaang!" Dia menghambur ke pelukan Kyungsoo.

"Hai sayang. Ugh, eomma rindu." Kyungsoo mencium pipi gembil putranya. Sesaat tertawa pelan melihat Jongin berubah masam, ingat bahwa pria itu belum mendapat ciuman. "Bagaimana sekolahmu?"

"Menyenangkan, eomma. Tadi paman Kang terlambat menjemput karena jalan macet, tapi tidak apa-apa. Tae kan bisa bermain dengan teman-teman dulu."

Well, terutama sering mengganggu kalau mereka ingin bermesraan.

Jongin meraih Taeoh dalam gendongannya, mengecup pipinya. "Jagoan appa senang sekali hari ini. Karena eomma sudah pulang ya?"

Anggukan semangat bocah tampan itu pengaruhi Kyungsoo terkekeh. "Appa, mana?" Taeoh menengadahkan tangannya di dagu Jongin.

"Mana apanya jagoan?"

"Tae kan minta adik. Kata appa kalau eomma sudah pulang akan di buatkan adik. Mana adik Tae?"

Yes, this is it, ini yang Jongin sebut dengan permintaan Taeoh yang sederhana tapi luar biasa. Jongin meringis merasa bersalah melihat dahi Kyungsoo mengernyit. Tidak seharusnya suaminya membuat Taeoh meminta adik seperti meminta uang.

"Ya sudah, Tae ingin main dengan Jackson dulu ya." Taeoh menggeliat hingga Jongin membungkuk melepaskan bocah itu. "Eomma, appa, Tae minta adik hari ini juga. Jangan lupa lagi ya!" Ia berseru riang sebelum berlari keluar, meminta paman Kang mengantar ke rumah Chanyeol.

"Kim Jongin." Kyungsoo bicara lembut, tapi penuh penekanan. "Apa yang kau katakan pada jagoanmu, hm?"

Jongin nyengir, "Yah.. Tae hanya minta adik kok. Mudah kan?" Katanya sambil duduk, merengkuh Kyungsoo kembali ke pangkuannya.

Wanita itu mengusapi helai rambut Jongin ke belakang, menatap garis lelah di wajah tampan suaminya, lalu mendekat menekan satu ciuman di kening pria itu. Fakta bahwa kebiasaan Jongin masa muda datang lagi sejak setengah tahun bekerja, kali ini Kyungsoo harus rutin bangun lebih pagi untuk membangunkannya. Ya, Jongin yang sulit di bangunkan telah kembali.

"Apa kau tidak merindukanku?" Dia bergumam sambil menikmati sentuhan tangan Kyungsoo di rambutnya.

Kyungsoo terkekeh, lalu memilih pipi Jongin sebagai sasaran kecupannya kali ini. "Aku merindukanmu." Katanya, kemudian beralih mencium bibir suaminya. "Apakah satu minggu seperti satu bulan bagimu?"

"Lebih tepatnya satu abad."

"Jangan berlebihan." Tawa Kyungsoo meledak. Ekspresi tawanya membuat Jongin tersenyum, seiring mereka bertambah usia bahkan Kyungsoo tidak menampakkan hal itu. Tawanya terhenti, tepat ketika Jongin meraih tengkuknya, mencium bibir Kyungsoo yang ingin dilakukannya sejak awal.

"Jongin, ngh.. please.." Kyungsoo berusaha memanggil sesaat Jongin beralih menyesap lehernya. Menahan tangan besar yang meraba pahanya memasuki gaun merah itu semakin dalam. "..ini masih di kantor."

Shit.

Sepertinya Jongin perlu mengajak Kyungsoo pulang sekarang.


FINAL END


Fyuh, cuma bisa nulis epilog segini doang. Maaf. Yang lagi nunggu Hottest Meet sabar ya. Soal oneshoot Bad Couple wey lagi gali ide, moga aja nongol sequel.

Terima kasih sudah baca teman-teman ^^

wey~