::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Kesenangan di Antara Dua Dunia
—What's Happening Beside You—
Chapter 14 . Nightfall
The Creation-Story © Yoshina Vanatala
VOCALOID © Yamaha Coorporation, beserta perusahaan lainnya yang berhak membuat dan memiliki mereka semua
::::::::::::::::::::::::::::::
Meiko adalah Meiko, Maria adalah Miriam, Roshi adalah Lola, dan Yohio adalah Yohio. Nama disesuaikan dengan setting tempat mereka yang berada di daerah Jepang.
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Senja hari. Atau bahasa lainnya, magrib.
Banyak film yang mengaitkan kata "senja" ini dalam sebuah adegan. Entah itu adegan romansa, ataupun adegan horor. Adegan romansa itu, ah sudahlah. Kita tidak akan membahas itu. Aku tidak punya kemampuan untuk menjelaskan hal semacam itu.
Adegan horor identik dengan senja hari.
Tidak, bukan itu maksudku. Kau pasti pernah mendengar mitos bahwa orang tua sering menyuruh anak-anak mereka untuk segera pulang sebelum senja hari, bukan?
Itu bukan sekedar mitos belaka. Karena aku sendiri pernah mengalaminya.
Hal-hal yang mistis ini lebih sering terjadi di pedesaan, di mana beberapa masyarakatnya masih percaya dengan yang namanya mitos dan keberadaan makhluk halus.
"Hei, hei! Kita main apa lagi nih!" seru Meiko antusias.
"Uhm, bagaimana kalau main petak umpet?" Maria menyahuti dengan tenang.
"Bosan ah! Kita main boneka-bonekaan aja!" Roshi menyela cepat.
"Aku gak mau main itu! Aku ini cowok, tau!" Sementara itu, Yohio membantah saran itu dengan dahinya tertekuk dalam.
Aku yang masih berumur 10 tahun hanya diam memperhatikan teman-temanku berceloteh dengan berisiknya. Ya, aku sering bermain bersama mereka pada saat aku masih tinggal di desa. Dan kurasa aku tidak perlu menjelaskan apa saja yang kami mainkan. Kau pasti sudah tahu.
"Bagaimana kalau kita bercerita hantu aja?" Ketika aku yang mengusulkan ini, semuanya langsung terdiam dan menatapku dengan tidak percaya. Seolah-olah baru saja aku menyuruh mereka untuk terjun bebas dari gedung lantai 10.
"... oh, oke oke. Ayo." Meiko memecah keheningan dengan menyetujui usulku. "Dimulai dari Yohio-kun ya."
"Uhm, aku?" Kami mengangguk untuk menjawabnya. "Baiklah. Kalian tahu, bukan? Kebun pepaya yang ada di sebelah kantor kepala desa itu?"
Kami mengangguk lagi.
"Nah, ada yang bilang. Kalau kau berjalan mengelilingi kebun itu dengan mengatakan 'merica', kau akan dihantui oleh penunggu kebun itu."
"Memangnya kau sendiri pernah melakukannya, Yohio-kun?"
"Gak pernah sih. Aku pernah mendengar dari tetangga rumahku saja," anak itu menjawabnya dengan tenang. "Hantunya itu perempuan rambut panjang loh, katanya."
Tiga anak lainnya pun mulai terlihat ketakutan. Dan sungguh aku tidak tahu di mana letak seramnya. Mungkin karena hanya aku dan Yohio anak cowok di sini.
Sementara itu suhu udara mulai menurun. Menandakan bahwa sebentar lagi akan malam.
"Hei, dari dulu aku bingung, kenapa hantu itu selalu perempuan berambut panjang? 'Kan itu termasuk inmidiasi."
"Initimadi, Meiko-chan."
"Yang benar itu, intimidasi. Kalian ini," Yohio meralat dengan benar. "Entahlah. Aku tidak tahu juga."
Aku bergumam pelan. "Aku lagi yang bercerita ya."
"Silakan, Kaito-kun."
"Kebetulan sekarang sudah magrib nih. Kalian hati-hati ya, kalau pulang ke rumah." Aku memulai sesuatu yang begitu simpel.
"Memangnya kenapa, Kaito-kun?"
"Kalau dalam perjalanan pulang kalian ketemu anjing yang menghadang kalian, apalagi kalau dia mengikuti kalian, jangan lari ya. Tetap jalan dengan tenang."
Hening.
Semua orang menatapku dengan tidak percaya. Dan aku tidak peduli. Itu memang benar. Tapi aku tidak tahu darimana datangnya kepercayaan diri itu.
"Nanti dia bakal mengejar kita ya? Yohio-kun, aku jadi takut mendengarnya."
"Tapi di daerah sini tidak ada anjing, bukan? Jadi tidak mungkin tiba-tiba dia muncul begitu saja untuk menakuti kita."
Setelahnya tidak ada yang berbicara.
"Aku jadi ingin pulang sekarang juga."
"Yaudah. Aku pulang."
"Aku juga."
"Yohio-kun! Aku ikut kamu!"
Akhirnya kami pun membubarkan diri. Beberapa ada yang tidak berani pulang sendirian, jadi kami pun berjalan berpasang-pasang. Kebetulan jumlah kami genap.
Yohio dengan Roshi, dan Meiko dengan Maria. Aku berjalan dengan seorang anak laki-laki. Tapi rasanya aku tidak pernah melihatnya sebelumnya. Apa dia anak baru?
"Hei, kamu orang baru di sini ya?" Aku mencoba mencairkan suasana, karena kulihat dia begitu diam sepanjang kami berjalan pulang.
"Uh, iya." Suaranya pun begitu pelan. Tapi karena suasana sedang sunyi, jadi aku masih bisa mendengarnya.
"Rumahmu dekat rumahku, lebih tepatnya di mananya?"
"Sebelum rumahmu."
"Oh oke."
Lalu hening lagi.
Kami berjalan tanpa berbincang apapun lagi. Sebenarnya aku tidak begitu nyaman dengan situasi seperti ini tapi apa boleh buat. Aku tidak kenal dengannya.
Tunggu, sepertinya aku baru menyadari sesuatu.
"Ah?"
Aku kaget saat dari semak-semak di sebelah kanan kami, keluarlah seekor anjing yang langsung duduk diam memandangi kami dari tempatnya. Aku tidak begitu ingat anjing apa itu, tapi badannya berwarna coklat dan matanya hitam.
Mata hitamnya yang menatap lurus padaku itu membuatku merinding.
Ugh, inilah kenapa aku tidak begitu suka memulai sebuah cerita seram. Karena aku tahu, pada akhirnya cerita itu akan kembali pada diriku sendiri. Yah, meskipun aku tahu bahwa ceritaku barusan sama sekali tidak menyeramkan.
"..."
Kami berusaha untuk mengabaikannya dan tetap berjalan ke depan. Kami memang berhasil melewatinya, tapi ketika aku menoleh ke belakang, ternyata dia mengikuti kami.
"Ayo kita jalan saja, Kaito-kun. Tadi katamu kita harus tetap tenang dan jangan lari, 'kan?"
Aku mengangguk pelan, sembari menatap ke depan lagi. Tapi entah kenapa suara anak itu mulai terdengar aneh bagiku sekarang.
"Tapi rasanya belum pernah ada anjing yang lewat di sini?" gumamku pelan. Tapi dia hanya diam, tidak menyahutiku. Jadi aku ikut diam juga.
Rumahku belum bisa dibilang dekat, tapi tidak begitu jauh dari sini. Anak itu tiba-tiba berhenti. Aku menoleh padanya.
"Hei, rumahku di sini. Kapan-kapan kita main lagi ya?"
Aku merasa jantungku serasa mencelos saat itu juga.
Kedua kakiku secara otomatis membawaku pergi menjauh dari tempat itu. Perasaan gelisah mulai menyerangku saat aku menyadari bahwa rumahnya... adalah... rumah... kosong.
Kalau rumah kosongnya masih bagus sih, aku bisa berpikiran bahwa dia baru saja pindah rumah. Tapi ini lantai rumahnya sudah setengah ambruk karena sudah lama sekali ditinggal pemiliknya.
Aku yang saat itu masih bocah tiba-tiba merasa sangat takut. Apalagi ternyata anjing itu masih mengikutiku.
Oh Tuhan.
Aku mulai mengabaikan ceritaku tadi. Aku memasang ancang-ancang hendak berlari, sembari berjalan cepat. Aku tidak peduli lagi dengan anjing itu. Aku hanya ingin pulang sekarang juga!
Aku sudah memasuki halaman rumahku, dan betapa leganya aku melihat ada Akaito di depan rumah.
Aku langsung menerjangnya saking takutnya.
"H-hei! Ada apa?!"
"Akaito, kau harus tahu apa yang sudah kualami tadi."
"Memangnya kenapa, Kak?"
"Tadi aku bercerita hantu dengan teman-temanku mengenai anjing bermata hitam. Lalu di tengah perjalanan, aku bertemu dengan anjing itu. Dan tidak sampai di situ, ternyata teman yang menemaniku pulang tadi adalah hantu. Dan ternyata anjing itu masih mengikutiku..."
Aku tidak tahu darimana datangnya halusinasi ini.
Ketika aku mengangkat kepalaku—saat itu aku sedang tenggelam dalam dekapan adikku, atau sesuatu—aku tidak melihat wajah Akaito. Yang kulihat adalah wajah anjing itu.
Aku berhalusinasi bahwa Akaito tiba-tiba berubah menjadi anjing menyeramkan itu.
Aku langsung pingsan setelah menjerit sekeras yang kubisa.
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Aku terbangun dengan tubuh panas-dingin. Kepalaku terasa pusing sekali.
Ketika membuka mata, yang pertama kali kulihat adalah ibuku. Wajahnya terlihat sangat khawatir sekali. Lalu aku melihat ayahku sedang duduk tidak jauh dari tempatku berbaring, dan Akaito sedang menonton TV.
"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya ibuku.
"Ugh, kepalaku rasanya pusing sekali, Bu..."
Tiba-tiba wajah anjing itu langsung menyerang ingatanku lagi. Aku spontan menjerit nyaring. Sungguh aku merasa tidak akan ada yang mengerti betapa menakutkannya wajah anjing itu.
Sebenarnya itu hanya anjing biasa. Tapi karena dia sama sekali tidak menggonggong selama mengikutiku, aku jadi merasa bahwa itu bukan anjing dan aku pun takut.
"H-hei! Ada apa, Kaito-kun?!" Ibuku panik. "Ini, minumlah dulu."
Setelah aku tenang, aku pun menerima sodoran gelas berisi air minuman dan meminumnya dalam beberapa tegukan keras. Aku tidak peduli seandainya kelakuanku tadi membuat keluargaku risih atau jijik, mereka seharusnya tahu aku baru saja mengalami hal menakutkan.
"Baiklah, Nak. Tenanglah dulu. Ibu ada di sini, ada ayah dan Akaito juga. Cerita pelan-pelan. Apa yang baru saja terjadi." Dengan telaten, ibuku berusaha menenangkanku dan mengambil kembali gelasku yang sudah kosong.
Aku tidak langsung menceritakannya. Aku memperhatikan wajah ibuku yang terasa begitu menenangkanku. Aku menoleh untuk melihat ayahku, dan aku berusaha untuk tidak melihat Akaito untuk sementara. Aku langsung teringat dengan kejadian itu lagi kalau melihatnya.
Lalu dengan pelan-pelan, aku menceritakan apa yang telah terjadi padaku tadi.
"Sialan kau, Kak. Aku disamakan dengan anjing." Aku bisa mendengar Akaito mengumpat padaku setelah aku selesai bercerita.
"Ayolah, aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu!"
"Hush, sudah, sudah. Akaito, kau tahu itu bukan kemauan Kaito." Ibuku berusaha membelaku. "Kamu kecapekan, Kaito-kun. Sebaiknya kamu istirahat. Apa kamu mau Ibu temani?"
"Iya. Kumohon, Bu."
Aku tidak peduli kalau sikapku ini membuatku dicap sebagai anak manja oleh orang lain. Toh, waktu itu aku masih berumur 10 tahun. Masih bocah. Jadi itu wajar saja, 'kan?
Akaito sadar bahwa kehadirannya hanya akan menakutiku—karena, sekali lagi, dia mengingatkanku dengan anjing itu—jadi dia memutuskan untuk masuk kamar duluan karena memang sudah malam.
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
Tapi kadang-kadang, aku masih terbayang, anjing itu terus mengikutiku sampai sekarang.
Dan aku juga baru saja sadar.
Pada saat itu, bukannya kami hanya berlima? Kenapa tiba-tiba bisa jadi genap?
::::::::::::::::::::::::::::::
.
.
.
::::::::::::::::::::::::::::::
To be continued.
::::::::::::::::::::::::::::::
14072015. WHBY14. YV
