Malam itu‚ Luhan tidak bisa tidur. Matanya terus saja memandang langit-langit kamar dengan senyum di wajah. Luhan rasa ia memang sudah sinting. Sebab bayangan saat dirinya dan Sehun berciuman di bawah guyuran hujan itu terus saja berkeliaran di depannya. Astaga‚ saking senangnya Luhan‚ ia jadi tak bisa tidur.

Luhan mendudukkan diri‚ menepuk-nepuk pipinya yang terasa panas. Kemudian bayangan ciuman mereka kembali menari-nari di depannya. Luhan menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia memekik kencang‚ lega rasanya setelah itu.

Tapi bayangan itu datang lagi dan lagi. Luhan yang frustasi akhirnya menutup wajahnya dengan bantal. Ia memekik lagi di sana. Bukannya senang‚ sekarang Luhan justru merasa kesal. Kenapa bayangan itu terus muncul dan membuat Luhan salah tingkah?!

"Aish! Berhenti memikirkan itu!" teriaknya. Ia ingin mengumpat namun tiba-tiba getaran dari ponsel membuatnya mengurungkan niat. Luhan menyingkirkan bantal dari wajah‚ meraih ponselnya‚ lalu membuka pesan masuk yang ternyata dari Sehun.

Sehun : Sudah tidur?

Luhan menahan senyum senang. Dengan segera ia membalas pesan tersebut.

Luhan : Belum. Kenapa kau belum tidur?

Sehun : Aku tidak bisa tidur.

Sehun : Memikirkanmu.

Luhan tak bisa menahan senyum lebarnya setelah membaca pesan itu. Ia membalas lagi.

Luhan : Coba pikirkan domba-domba yang lucu supaya kau bisa tidur.

Sehun : Sudah kubilang aku memikirkanmu.

Sehun : Bayanganmu menggangguku‚ tapi aku suka.

Luhan : Jangan menggombal.

Sehun : Aku serius omong-omong.

Luhan : Cepatlah tidur.

Sehun : Tidak mau.

Luhan : Jangan membuatku kesal.

Sehun : Dan jangan membuatku semakin merindukanmu.

Luhan : Kita baru saja bertemu.

Sehun : Ya‚ kau benar. Bahkan kita juga berciuman.

Luhan mendelik‚ merona‚ dan tak tahu harus menjawab apa.

Sehun : Ah‚ aku jadi ingin menciummu lagi.

Dan itu membuat Luhan kesal setengah mati. Ia sudah dibuat salah tingkah dan entah mengapa itu membuatnya kesal.

Luhan : Mesum!

Sehun : Tapi kau suka‚ kan?

Luhan : Cepat tidur!

Luhan sudah mengomel-omel dengan layar ponselnya saat itu‚ menunggu balasan Sehun. Selama beberapa menit ke depan‚ tak ada balasan untuknya. Luhan kembali memeriksa ponsel. Benar-benar tak ada balasan. Sehun sudah tidur‚ ya? pikirnya. Maka dengan segera ia mengirim pesan untuk Sehun.

Luhan : Baiklah kalau kau sudah tidur.

Luhan : Jalja~ :*

Sementara di seberang sana‚ Sehun tak bisa menahan senyum lebarnya setelah membaca pesan itu. Ia membalas dalam hati; ya‚ jalja kemudian menarik selimut sampai menutupi kepala. Sehun harus tidur sekarang atau kalau tidak ia akan tersenyum-senyum sampai pagi hanya karena hal semacam ini.



"Kau ingin makan apa?"

"Terserah yang memasak saja."

Luhan berhenti memeriksa kulkas dan menoleh ke arah Sehun dengan kening berkerut. "Kau memintaku kesini pagi-pagi hanya ingin aku membuatkanmu makanan‚ sementara isi kulkasmu kosong melompong. Kau sinting‚ ya?" ujarnya kesal. Sehun tersenyum geli dibuatnya.

"Ya‚ sinting." Sehun mengangguk-angguk kecil. "Sarapan di luar bagaimana?"

Luhan cemberut‚ bergumam. "Tahu begitu aku tidur saja di rumah."

Sehun yang mendengar gumaman itu pun tertawa. Ia menghampiri Luhan yang mengomel-omel tanpa suara di dapur kemudian. Sehun hanya mendekati Luhan‚ dan itu sudah membuat Luhan dengan waspada menghadap Sehun. Sehun tersenyum geli. Ditepuknya kening Luhan hingga perempuan itu memekik kecil. Luhan cemberut lagi.

"Kau bisa membuat sandwich kan?"

"Kau sendiri?" Luhan bertanya balik‚ setengah kesal. Sehun memiringkan kepalanya dan itu membuat Luhan ingin sekali memukul kepala Sehun. "Memangnya kau tak bisa membuatnya sampai-sampai harus minta tolong padaku?"

"Apakah aku harus minta tolong Baekhyun?"

Luhan menyipitkan matanya. "Kau ingin membuatku jengkel‚ ya?"

Sehun tersenyum. "Lebih baik kau tersenyum saja." ujarnya. Ia menarik kedua ujung bibir Luhan menjadi senyum yang terlihat lucu. Sehun tertawa kecil melihatnya. "Jangan jengkel padaku. Kalau aku jauh nanti‚ kau pasti merindukanku."

Lantas Luhan menatap Sehun. "Memangnya kau mau pergi?"

"Seminggu lagi aku harus ke luar kota." jawab Sehun sembari menggidikkan bahu sekilas.

Mendengarnya‚ Luhan menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Luhan tak melihat Sehun lagi setelah itu. Sementara itu‚ Sehun menghela napas. Ia biarkan dulu Luhan yang mulai membuat sandwich dengan bahan seadanya. Nanti ia bisa jelaskan.

"Jangan terlalu dipikirkan." ujar Sehun sembari menerima sandwich yang Luhan berikan padanya. Ia tersenyum saat Luhan meliriknya‚ dan mendesis saat Luhan kembali sibuk dengan sandwich bagiannya. "Hanya lima hari."

Lima hari kepalamu!

"Aku harus ke sana‚ tahu."

Ya sudah‚ pergi sana!

"Kalau tidak‚ aku dapat nilai jelek lagi semester ini."

Luhan berhenti mengunyah sandwich dan menatap Sehun. Jadi itu tugas? tanyanya dalam hati‚ tak ingin bertanya langsung karena ia yakin Sehun akan menggodanya karena Luhan sudah salah paham dulu.

Sehun terkekeh pelan begitu menyadari arti dari ekspresi Luhan. "Kau pikir aku pergi kemana‚ hm?" tanyanya. Luhan mendengus dan kembali mengunyah makanannya. "Dalam bayanganmu aku pergi ke luar negeri‚ atau pergi darimu dan tak kembali―auch!"

"Jangan bicara macam-macam." ujar Luhan setelah berhasil memberi hadiah cubitan di pinggang Sehun. "Kalau bicara seperti itu lagi‚ aku akan membunuhmu."

Bukannya merasa terancam atau bagaimana‚ Sehun justru tertawa. Lelaki itu meletakkan sisa sandwich pada piring kosong di meja‚ lalu memeluk Luhan. Luhan bergerak-gerak minta dilepaskan. Ia sedang makan tapi Sehun sudah membuatnya jantungan karena pelukan itu.

"Juga jangan berpikiran macam-macam." ujar Sehun. Ia mengeratkan pelukan dan itu membuat Luhan meliriknya‚ meminta melepaskan pelukan itu karena Luhan tak mau ia pingsan setelah ini. "Karena aku begitu menyukaimu‚ jadi aku tak akan melakukan beberapa hal yang ada di pikiranmu."

Luhan menaikkan alis. "Beberapa hal?" beonya. Sehun mengiyakan dengan anggukan kecil.

"Kau pikir aku bisa membaca semua pikiranmu dan melakukan semua yang ada di sana‚ begitu?"

Luhan berdecak. Ia melepas paksa pelukan Sehun di sekitar perutnya kemudian. Luhan menatap Sehun yang juga menatapnya. Tatapan mereka bertemu untuk beberapa detik sebelum Luhan mengalihkan pandangan. Aih‚ tatapan mata Sehun membuat Luhan meleleh.

"Kenapa kau menyukaiku?" Luhan bertanya dengan pelan sambil menunduk kemudian.

Sehun menaikkan kedua alis. "Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Kenapa kau bertanya balik?" Luhan berdecak pelan. "Aku kan hanya bertanya." lanjutnya berlirih.

Sehun menunduk‚ mencoba untuk melihat bagaimana wajah Luhan saat ini. Ia tersenyum begitu tahu bahwa Luhan sedang menghindari tatapannya. Malu? Atau salah tingkah? Sehun tidak tahu. Tapi ia masih bisa untuk menjawab dengan kalimat‚ "Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah jawabannya sudah jelas?"

Luhan melirik Sehun‚ berdeham kecil‚ dan kembali berlirih‚ "Aku hanya ingin memastikan ka―"

"Aku menyukaimu karena itu kau. Jika itu bukan kau‚ aku tak akan menyukaimu."

Lantas Luhan mengangkat wajah untuk menatap Sehun. Kalimat itu terasa familiar‚ ia ingat kalau Yifan pernah menjawab pertanyaannya dengan jawaban seperti itu. "Karena itu kau…" Luhan mulai merasa bahwa Sehun dan Yifan punya kemiripan dalam beberapa hal. Namun Luhan masih belum tahu mereka mirip dalam hal-hal apa saja.

"Kenapa diam?" pertanyaan Sehun membuat Luhan tersadar dari lamunan singkatnya. Sehun tersenyum dan mengusak puncak kepala Luhan dengan lembut setelah Luhan balas menatapnya. "Apakah ada yang salah dengan jawabanku?"

Luhan menggeleng. "Jawabanmu mungkin ada benarnya juga." kata Luhan dan mencoba untuk tersenyum di depan Sehun. "Kau menyukaiku karena itu aku. Jadi kalau kau menyukai Baekhyun‚ kau tak akan menyukaiku."



"Ya‚ ya‚ ya. Kau bisa melakukan apa saja setelah ini."

Baekhyun mengurungkan niat untuk berbalik karena mendengar suara Sehun di belakangnya. Menjauhkan tangan dari gagang pintu secara perlahan‚ Baekhyun mencoba untuk melirik Sehun yang kali ini sedang tertawa. Di ekor matanya‚ Baekhyun melihat Sehun sedang merangkul seorang perempuan‚ dan berjalan menjauh. Apakah itu Luhan? Mungkin saja iya.

Baekhyun mengernyitkan kening. Setahunya Sehun tak lagi bekerja sebagai direktur di kantor. Lalu kenapa Luhan ada di apartemen Sehun sepagi ini? Baekhyun berusaha mencari jawabannya sendiri. Kemudian ia melihat Sehun dan Luhan sudah menghilang di balik belokan sana. Namun Baekhyun masih dapat mendengar suara mereka samar-samar.

"Apakah aku harus melakukan ini?"

"Jangan."

"Kenapa?"

Perlahan‚ secara tidak sadar‚ Baekhyun melangkah mendekat. Dilihatnya Sehun dan Luhan sedang menunggu lift di sana. Baekhyun bersembunyi di balik dinding‚ juga mengintip. Dan tiba-tiba ia merasa seperti seorang penguntit. Untuk apa dia bersembunyi? Toh Baekhyun tak akan mendapatkan banyak masalah karena ketahuan mengikuti mereka?

Eh‚ mengikuti? Tidak! Baekhyun juga ingin keluar bertemu dengan Chanyeol‚ tahu!

"Jangan melihatku seperti itu."

"Hei‚ kau belum menjawab pertanyaanku."

Itu suara Luhan. Suara perempuan itu terdengar sedetik setelah Baekhyun keluar dari persembunyiannya. Baekhyun melihat Luhan sedang menunggu jawaban Sehun sementara Sehun menatapnya dengan sayang. Baekhyun tahu tatapan itu karena ia juga pernah merasakannya. Dan jujur saja‚ Baekhyun merasa iri. Sebab terkadang ia juga masih memikirkan Sehun.

Menyadarkan dirinya sendiri‚ Baekhyun memutuskan untuk melangkah mendekat‚ menuju lift lebih tepatnya. Ia harus cepat karena Chanyeol pasti sudah menunggu. Namun baru saja mengangkat kaki untuk mengambil langkah pertamanya‚ Baekhyun melihat Sehun mengecup kening Luhan singkat. Baekhyun kembali mengurungkan niat. Dilihatnya Sehun yang tertawa karena Luhan mengerjap dengan wajah memerah. Setelah itu Sehun merangkul Luhan dan masuk ke dalam lift yang terbuka.

Baekhyun diam. Bahkan ketika Sehun menyadari keberadaannya saat lift mulai tertutup‚ Baekhyun tetap diam. Entah mengapa ada yang mencubit hatinya. Ia merasa sakit‚ tapi tak tahu kenapa. Baekhyun bingung. Memangnya ada apa dengan dirinya?

"Bukankah itu tadi Baekhyun?"

"Hm?" Sehun menoleh pada Luhan yang bertanya. Perempuan itu terlihat berpikir‚ lalu mengulang lagi pertanyaannya pada Sehun. "Ya. Itu Baekhyun." jawab Sehun.

"Kenapa Baekhyun tak masuk ke lift bersama kita?"

Sehun menggidikkan bahu. "Tidak tahu." jawabnya dengan singkat. Dan dalam hati ia meralat‚ pasti Baekhyun sakit hati. Sehun tahu dari ekspresi dan tatapan mata Baekhyun untuknya tadi. Perempuan itu mencoba untuk berkata‚ "Kenapa kau bersamanya?"

"Apa karena ada aku?"

Sehun berdecak mendengarnya. "Jangan berpikiran seperti itu." ujarnya. Ia mengusak puncak kepala Luhan dengan gemas kemudian. "Mungkin dia harus kembali ke apartemennya untuk mengambil sesuatu. Kadang Baekhyun juga pelupa."

Luhan mengangguk-angguk kecil‚ Ia mendongak untuk melihat Sehun yang menatap lurus-lurus ke depan. Luhan tersenyum. "Kau tahu banyak tentang Baekhyun."

Dan lantas Sehun balas menatapnya. "Karena kami sudah berteman lama. Tentu saja."

Luhan tersenyum‚ mengangguk lagi. Alasan itu cukup masuk akal juga. Dadanya sedikit mencelus tenang‚ sisanya masih terasa sakit. Ia tak mengatakan apa-apa lagi setelah keluar dari lift. Sementara Sehun juga diam‚ Luhan tak ingin memulai suara lagi. Sebenarnya ia sudah tahu kalau tadi Baekhyun sempat menatap Sehun. Hanya saja ia pura-pura tak mengerti. Luhan ingin tahu sisi Sehun tentang Baekhyun. Dan lelaki itu menunjukkan reaksi diluar dugannya.

Luhan maklum. Untuk waktu yang sedemikian singkat‚ tak mungkin bisa melupakan dan membenci Baekhyun dengan mudah. Mereka sudah berteman lama. Sama seperti yang dikatakan Sehun. Jadi akan terasa sulit untuk melepasnya.



"Jadi apa yang membuatmu memintaku kemari?"

"Ada yang ingin kutanyakan." jawab Luhan. Ia menyamankan posisi duduknya saat melihat Kyungsoo menatapnya penuh pertanyaan. Luhan berdeham kecil. "Kau pernah bilang kalau Sehun dan Baekhyun hanya berteman‚ padahal mereka sama-sama suka‚ benar?"

Kyungsoo mengangguk kecil.

Luhan menunduk dan menelan ludah. "Apa kau tahu itu kenapa?"

Kedua alis Kyungsoo terangkat. "Tentang itu?"

Luhan terlihat mengangguk dengan kaku. Kyungsoo tertawa kecil melihatnya.

"Aku tak tahu dengan pasti. Tapi Sehun bilang Baekhyun yang menginginkannya." ujar Kyungsoo sembari menggidikkan bahu sekilas. "Kalau kau tanya alasan Baekhyun apa‚ aku tidak tahu. Aku tak terlalu dekat dengannya. Hanya tahu beberapa hal tentang Baekhyun dari Sehun."

Luhan mengangguk-angguk kecil. Ia mulai mengerti.

"Kenapa kau bertanya tentang itu padaku?" tanya Kyungsoo kemudian.

"Ti-tidak apa-apa." jawab Luhan tergagap. Ia berdeham pelan. "Aku hanya ingin tahu. Mereka terlihat dekat‚ jadi―"

"Kau cemburu?"

Luhan mengerjap. Ia menggeleng dengan cepat dan mengibaskan kedua tangannya di udara. "Tidak‚ bukan ma―"

"Ah… Santai saja padaku." Kyungsoo tersenyum lebar‚ yang perlahan membuat Luhan merasa adem ketika melihatnya. "Tidak apa-apa. Aku tahu kau cemburu. Kau tak perlu menyembunyikannya kalau sudah tertulis dengan jelas di keningmu." ujarnya. Ia tertawa karena Luhan secara refleks menutup keningnya.

Aduh‚ Luhan ini lebih tua dua tahun darinya tapi kenapa tingkah dan wajahnya seperti anak kecil? Menggemaskan sekali.

"Apakah jelas sekali?" tanya Luhan dengan suara pelan. Wajahnya sudah merona karena malu. Dan itu membuat Kyungsoo harus menahan diri agar tak mencubit pipi Luhan sekarang.

"Ya." Kyungsoo mengangguk. "Sungguh tidak apa-apa. Itu wajar dan aku bisa maklum."

Luhan tersenyum canggung sebagai tanggapan. Mungkin Kyungsoo bisa jadi tempatnya bercerita selain Yixing. Kyungsoo baik dan bisa mengerti. Luhan merasa nyaman karenanya.

"Oiya‚ apa kau dan Sehun berpacaran?" tanya Kyungsoo tiba-tiba. Lantas Luhan menatapnya sebentar. Ada yang salah dengan pertanyaan Kyungsoo yang bernada cemas itu―eh?

"Kalian berpacaran?" ulang Kyungsoo karena Luhan tak juga menjawab pertanyaannya. "Hei‚ jawablah."

"Eung… Entahlah." jawab Luhan pada akhirnya. Ia menggidikkan bahu setelah berpikir lama tentang hubungannya dengan Sehun. "Apakah itu bisa dibilang pacaran kalau Sehun hanya bilang dia menyukaiku sementara ia masih memperhatikan perempuan lain?"

Kyungsoo tertawa. "Astaga‚ kenapa kau berpikir seperti itu?" tanyanya gemas. "Sehun hanya menyukaimu. Soal ia masih memperhatikan Baekhyun atau tidak‚ sepertinya itu adalah urusan belakangan. Sehun menyukaimu‚ aku yakin hal itu."

"Kenapa kau bisa yakin tentang hal itu?" tanya Luhan pelan.

Kyungsoo kembali menggidikkan bahu. "Karena aku baru melihat Sehun seperti ini. Sebelumnya ia tak pernah terlihat berbeda dari yang sekarang." jawabnya. Ia melihat Luhan ragu dengan jawabannya dan itu membuat Kyungsoo tersenyum. "Apakah alasanku sudah cukup untuk membuatmu percaya bahwa Sehun menyukaimu?"



Sedari tadi yang dilakukan Sehun hanyalah termenung. Semenjak ia melihat Baekhyun menatapnya tadi pagi‚ Sehun pikir ada yang salah dengan dirinya sendiri. Entah mengapa‚ ia merasa kalau Baekhyun harus tahu tentang hubungannya dengan Luhan. Jadi Baekhyun bisa mengerti dan tak lagi menatapnya seperti itu. Tapi kenapa pula Sehun harus mendeklarasikan pada Baekhyun bahwa ia ada hubungan dengan Luhan? Balas dendam?―Ha-ha! Aku bukan lelaki seperti itu!

Melirik Jongin dan Jongdae yang asyik bermain playstation di sebelahnya‚ Sehun mendesah pelan. Ia bangkit dari rebahannya di sofa dan meraih makanan ringan untuk mengisi perutnya yang sudah menggelar konser tak jelas. Berpikir membuatnya lapar.

"Eh‚ Sehun." Jongin menginterupsi meskipun matanya masih fokus pada permainan. Sehun berdengung sebagai tanggapan. "Apa kau dan Luhan sudah baikan?"

Sehun mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah makanan jadi ia tak bisa menjawab.

"Jawab aku‚ setan!" seru Jongin kesal. Ia merasa Sehun mengabaikannya karena matanya masih fokus pada permainan.

"Aku sudah menjawab‚ hitam! Kau saja yang tidak tahu." balas Sehun setengah bersabar. Ia menghela napas. "Kami sudah baikan." jawabnya.

"Tapi kenapa wajahmu kusut begitu?"

"Ya. Seperti pakaianku yang belum ku setrika." timpal Jongdae menyetujui.

Sehun menggerutu. Ia kembali mengunyah makanan dan merebahkan tubuh pada sofa. Malas saja bercerita pada kedua temannya itu. Bisa repot kalau mereka tahu. Nanti yang ada hanyalah berbagai macam godaan yang membuat Sehun ingin lenyap dari bumi. Kalau Jongdae saja‚ sih‚ tidak masalah. Tapi kalau ada Jongin‚ duh! Sehun ingin menyumpal mulut makhluk eksotis itu dengan tissue toilet! Berisik sekali kalau sudah mengoceh.

Jongin dan Jongdae kembali berisik dengan playstation mereka‚ sementara itu Sehun mulai mengantuk. Matanya terasa berat dan ia memutuskan untuk tidur saja. Lagipula sebentar lagi malam‚ tak ada kegiatan juga. Namun baru saja ia ingin terjun ke dunia mimpi‚ ponselnya bergetar mengganggu. Sehun kembali membuka mata dan merogoh ponsel dari saku celana. Ada sebuah panggilan masuk untuknya‚ dari Baekhyun.

"Halo‚" suara Baekhyun terdengar setelah Sehun menerima panggilan tersebut. "Sehun‚ kau ada di mana?"

"Kenapa memangnya?" tanya Sehun malas.

"Bisakah kau ke kafe biasa?"

Lantas Sehun mendudukkan diri. Ia dengarkan Baekhyun yang meminta bertemu kemudian. Butuh beberapa detik untuk berpikir sebelum ia mengiyakan ajakan itu. Jadi setelah memutuskan panggilan‚ Sehun pamit pada kedua temannya‚ dan pergi menemui Baekhyun.



"Mungkin kau sibuk‚ jadi maaf mengganggumu. Aku tak akan bertele-tele." ujar Baekhyun mengawali perbincangan sesaat setelah Sehun duduk di seberangnya‚ dan menatapnya. "Aku hanya ingin bertanya soal tadi pagi."

"Apa yang kau lihat tadi pagi memang sudah jelas." ujar Sehun cepat. Baekhyun dibuat menelan ludah susah payah karenanya. "Aku dan Luhan memang berpacaran."

"Sehun…" Baekhyun menahan napas saat Sehun menatapnya datar. "Kau―itu―"

"Apa masalahnya?"

Baekhyun mencoba untuk tenang sementara matanya mulai terasa panas. Baekhyun bertanya‚ "Apakah kau tahu kenapa aku memintamu agar kita berteman saja?"

Sehun terdiam tak menjawab. Ia tak tahu alasannya karena memang Baekhyun tak pernah memberinya alasan itu.

"Sebab aku ingin ayahmu tak membuatmu sengsara karena aku. Aku tak ingin membuatmu sedih karena aku. Aku ingin melihatmu tersenyum bahagia tanpa ayahmu. Sudah itu saja." jelas Baekhyun. Ia mendesah pelan. "Kau tak paham dengan keputusanku saat itu?"

Mendengarnya‚ Sehun bungkam. Alasan Baekhyun itu membuatnya tercubit. Dulu‚ ketika Baekhyun meminta agar mereka berteman saja‚ Sehun merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Maka ia terus bertahan supaya Baekhyun dengan senang hati membuka hati untuknya‚ supaya mereka bisa menjalin hubungan sepasang kekasih yang dinanti-nantinya. Namun tiba-tiba Luhan datang‚ memporak-porandakan perhatiannya. Disusul Baekhyun yang menyatakan bahwa ia telah jatuh cinta pada lelaki lain bernama Chanyeol. Sehun baru menyadari bahwa ia menyukai Luhan‚ fakta yang baru ia ketahui juga bahwa Baekhyun berkorban untuk dirinya. Astaga‚ kemana saja dirinya selama ini? Sehun merasa dirinya sudah masuk dan jatuh ke dalam lubang dan tak menemukan apa-apa di sana. Bodoh.

Baekhyun yang melihat Sehun terlihat tepekur karena alasannya tadi‚ menghela napas. Ia kembali menjelaskan. "Kau tahu sendiri ayahmu mengincarmu dan ibumu sedari dulu. Kau bercerita kalau kau hampir kehilangan ibumu karena ibunya Soo Hyun oppa. Dan kau juga hampir mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya karena aku. Jadi aku mundur‚ aku memilih untuk melihatmu bahagia dibanding membuatmu bahagia. Apakah kau masih tak paham?"

Bodoh‚ bodoh‚ bodoh! Sehun memaki diri sendiri dalam hati. Melihat Baekhyun dengan mata lembab itu membuat Sehun merasa terpukul. Sebenarnya yang salah di sini siapa? Sehun yang tak mengerti keadaan atau Baekhyun yang tak pernah menjelaskan?

"Kalau kau ada hubungan dengan Luhan‚ sebaiknya sembunyikan saja. Aku tak ingin melihatmu terpuruk lagi. Kau terlihat menyedihkan dan aku tak ingin mengasihanimu untuk yang kesekian kalinya." ujar Baekhyun. Ia melirik ke arah lain supaya Sehun tak tahu kalau ia sedang sakit hati. "Sudah ada Luhan di sampingmu. Jaga dia‚ jangan sampai kau kehilangan kebahagiaanmu lagi."

Sehun masih diam ketika Baekhyun memutuskan untuk pergi dari kafe itu. Ia tak berniat mencegah untuk meminta penjelasan lebih. Apa yang dikatakan Baekhyun tadi mampu membuatnya tersandung. Sehun kalah dan merasa bersalah.



Saat itu sudah malam. Luhan baru saja keluar dari taksi dan kini berjalan menuju rumahnya. Langkah yang ia buat adalah pelan‚ Luhan sedang berpikir saat ini. Tentang hubungan Sehun dan Baekhyun. Kenapa Baekhyun meminta untuk berteman saja? Padahal mereka sama-sama saling suka. Selain tentang kedua orang itu‚ Luhan juga berpikir kenapa akhir-akhir ini banyak yang bertanya‚ "Apa kau berpacaran dengan Sehun?" padanya. Mereka yang bertanya seperti itu terlihat cemas. Terlebih ekspresi Kyungsoo tadi. Luhan masih kepikiran. Memangnya ada apa kalau ia berpacaran dengan Sehun?

"Jangan sampai tahu ayahku kalau kau dan Sehun dekat."

Tiba-tiba kalimat Soo Hyun terlintas dipikirannya. Luhan berhenti melangkah‚ kembali berpikir.

Tapi ujung-ujungnya‚ Luhan tak tahu jawabannya. Ia mengerang‚ menghentakkan sebelah kakinya dengan kesal. "Kenapa aku memikirkan ini?!" monolognya pada diri sendiri. Luhan kembali berjalan dengan wajah tertekuk. Kepalanya pusing memikirkan itu.

Baru beberapa langkah ia buat‚ Luhan kembali berhenti melangkah. Ia melihat Baekhyun baru saja keluar dari kafe sambil menangis. Baekhyun mengusap pipinya saat itu dan berjalan dengan cepat. Luhan mengerutkan kening bingung. Baekhyun menangis karena Chanyeol membuatnya sakit hati atau bagaimana? Maka untuk mencari jawabannya‚ ia menoleh ke arah kafe. Dan disitulah Luhan menemukan jawabannya.

Ada Sehun di sana. Sedang duduk sendiri sembari menunduk‚ seperti menyesali perbuatannya. Luhan tak menemukan tanda-tanda keberadaan Chanyeol di dalam sana. Jadi Baekhyun menangis karena Sehun?

Luhan menggenggam erat tali tasnya dan menggigit bibir bawah. Sehun bertemu dengan Baekhyun‚ dan Luhan tak tahu tentang apa yang mereka bicarakan. Namun entah bagaimana‚ Luhan melangkah masuk ke dalam kafe. Ia tak sadar akan hal itu. Luhan baru sadar ketika Sehun sudah berada di depannya. Luhan menelan ludah. Perempuan itu duduk di kursi yang tadi diduduki Baekhyun dan itu membuat Sehun mengangkat kepala menatapnya.

"Luhan?" panggil Sehun tak percaya. Luhan tersenyum mendengar namanya dipanggil seperti itu.

"Ya‚ ini aku." jawab Luhan. "Jangan menatapku seperti itu. Kau seperti baru melihatku untuk yang pertama kali setelah lama tak bertemu."

Sehun mendengus geli. Ia menegakkan tubuh‚ berkata‚ "Berikan tanganmu." pada Luhan.

Luhan heran dengan permintaan itu. Namun begitu‚ ia tetap memberikan kedua tangannya di depan Sehun. Lelaki itu meraihnya‚ menggenggamnya‚ lalu menempelkannya ke sebelah pipi. Luhan terdiam melihat Sehun yang merasa tenang karena tangannya. Meski wajahnya memanas‚ Luhan berusaha untuk tak terlihat salah tingkah.

"Pasti kau tidak sengaja melihatku sendiri di sini dan langsung kemari." tebak Sehun. Luhan tersenyum karena tebakan itu benar adanya.

"Kau kelihatan punya banyak pikiran." sahut Luhan. Ia tersenyum lagi saat Sehun membuka mata dan menatapnya. "Jadi aku kemari karena mungkin jika aku ada didekatmu‚ kau merasa lebih baik."

Sehun balas tersenyum. "Kau benar." jawabnya. Ia membuat kedua tangan Luhan menangkup kedua pipinya dan kembali memejamkan mata. "Astaga‚ betapa hangatnya tanganmu…"

Luhan tertawa entah karena senang atau karena ingin menutupi kegelisahannya.



"Sehun‚"

"Ya?"

"Aku ingin mengatakan sesuatu"

Sehun mengalihkan perhatiannya dari televisi menuju Luhan yang duduk di sebelahnya. "Katakan saja."

Luhan berdeham pelan setelah menelan ludahnya susah payah. Dalam hati ia berharap supaya nanti Sehun tak marah jika ia mengatakan hal ini. "Pagi tadi aku melihat Baekhyun menatapmu."

Lantas Sehun mengubah ekspresinya. Luhan yakin Sehun sadar akan hal itu‚ namun mencoba untuk menyembunyikannya dari Luhan. Sehun tak membalas apapun bahkan saat Luhan memberinya kesempatan untuk membela diri.

"Baekhyun melihatku dan cemburu padaku‚ benar?"

"Aku tidak tahu soal itu." balas Sehun seadanya.

"Karena hal itu Baekhyun memintamu untuk bertemu di kafe?" kali ini Luhan yang bertanya dengan hati-hati. Ia melihat Sehun yang sepenuhnya terfokus padanya. "Aku tadi melihat Baekhyun keluar dari kafe. Kupikir ada Chanyeol. Tapi ternyata ada dirimu."

"Kau tak berpikiran macam-macam kan?" giliran Sehun yang bertanya. Luhan diam tak menjawab. Sehun menjelaskan‚ "Baekhyun hanya bertanya tentang hubungan kita. Dan aku menjawab kalau kita berpacaran."

"Apa kau tahu kalau Baekhyun menangis?"

Sehun terdiam sebentar. "Aku hanya tahu kalau dia menahan air matanya." jawabnya pelan. "Baekhyun pergi setelah berpesan padaku kalau aku harus menjagamu."

Luhan menghela napas pelan. "Lalu apa yang membuatmu termenung setelah ditinggal Baekhyun?" tanyanya.

"Kau."

"Kau bohong." ketus Luhan pelan. "Kau pasti memikirkan Baekhyun." gumamnya.

"Aku tidak berbohong."

"Lalu?"

"Aku hanya teringat tentang dirimu‚ juga ibuku." jawab Sehun dengan pandangan kosong. "Aku mengkhawatirkanmu‚ juga merindukan ibuku. Kalau sesuatu terjadi padamu‚ maka begitu pula dengan ibuku. Aku takut kau sakit‚ dan aku juga takut kalau ibuku sakit. Aku takut kejadian itu akan terulang kembali. Aku takut mengambil keputusan yang salah‚ dan justru itu akan membuatmu sengsara atau ibuku yang sengsara. Aku tak bisa berhenti memikirkan itu. Lalu tiba-tiba kau datang‚ dan jujur saja itu membuatku tenang."

Luhan berusaha mencerna apa yang dikatakan Sehun barusan. Lelaki itu terlihat menerawang‚ bingung‚ lalu sedih. Luhan tak mengerti kenapa Sehun berbicara soal dirinya dan ibunya. Jika ia dalam masalah‚ berarti ibunya Sehun juga dalam masalah. Luhan bingung. Ia masih berpikir‚ memproses kalimat-kalimat itu sementara ia menarik Sehun untuk jatuh ke pelukannya. Sehun butuh tempat untuk bersandar dan menenangkan pikiran. Maka dari itu Luhan menawarkannya pada Sehun.

"Jangan sampai tahu ayahku kalau kau dan Sehun dekat."

"Kalian berpacaran?"

Mata Luhan membulat. Ia baru menyadari sesuatu. "Apakah ini… Berhubungan dengan ayahmu?" tanyanya hati-hati.

Perlahan Sehun mengangkat kepala dari bahu Luhan. Mereka saling bersitatap sebelum akhirnya Sehun mengangguk. Luhan menatapnya tak percaya‚ dan Sehun menangkup pipi Luhan dengan kedua tangannya.

"Jangan beritahu pada siapa pun tentang hubungan kita. Pada Yixing noona‚ atau pada Soo Hyun hyung sekali pun." ujar Sehun. Giliran ia yang memeluk Luhan. "Aku tak ingin kau terluka. Jadi kalau kau tak terluka‚ ibuku akan baik-baik saja. Aku hanya bisa memastikannya darimu. Jangan membuatku khawatir."

Luhan mengangguk. Ia tersenyum dalam pelukan Sehun karena merasa lega. Beberapa pertanyaan yang ia pikirkan hari ini terjawab sudah. Luhan paham‚ ia bisa maklum. Setidaknya ia sudah tahu jawabannya.

"Luhan‚"

Luhan mendongak. "Ya?" sahutnya. Ingin ia bertanya lagi saat Sehun tak juga bersuara dan justru menatapnya. Namun Sehun sudah terlanjur menciumnya. Luhan memejamkan mata karena Sehun melumatnya sekali―Luhan benar-benar terkejut. Ketika Sehun menjauh darinya‚ dan Luhan ingin protes karena tindakan Sehun‚ lelaki itu kembali menciumnya. Selalu seperti itu‚ berkali-kali Luhan mendapat ciuman tepat dibibir dari Sehun. Sampai Luhan kesal dan membuat Sehun tertawa.

"Biasakan hal itu. Aku suka menciummu."

Luhan makin merengut. "Mesum‚" gumamnya.


To be continue…


Haaai~ Aku balik! Dan untuk seterusnya mungkin aku bakal update lebih cepat karena lagi musim liburan hehe.

Untuk chapter ini‚ kalian paham ngga sama pengenalan konfliknya? Itu masih spoiler konfliknya sih. Ngga berat juga kok‚ cuma masalah orang dewasa yang berimbas ke Sehun. Itu aja deh kode-kodenya hehe.

Sorry for typo(s) yaa... Aku udah ngecek dan semoga aja ngga ada yang ketinggalan. Jangan lupa untuk review~ Aku bakal balik lagi kok. Dah!