Gambaran tentang bagaimana senyuman cerah Luhan yang selalu menggetarkan hatinya mampu membuat Sehun merasa nyamannya berada di surga. Seperti berada di pinggir danau jernih yang menghembuskan angin sejuk, membawa aroma bunga semerbak dan kupu-kupu warna cerah yang menari terbang mengelilingi senyuman indah di paras cantik Luhan.

Namun, saat detik selanjutnya, gambaran itu berubah menjadi punggung kecil Luhan yang membelakanginya, berjalan menjauh darinya. Semua gambaran pemandangan indah tentang surga di sekitar Sehun runtuh, seperti layar kaca yang retak, pecah dan jatuh ke ruang hampa hitam tak berujung di bawah kakinya. Sehun berteriak, berlari di dalam kehampaan dengan tangan terulur kedepan, namun jaraknya dengan punggung kecil Luhan semakin menjauh. Rasanya seperti ia jatuh dalam kegelapan yang lebih mengerikan dari neraka dan ditinggalkan oleh Luhan begitu saja, seorang diri dalam kesepian.

Setiap kali Sehun terbangun dari mimpi buruk itu –dengan keringat yang nyaris membasahi seluruh wajahnya– ia berharap. Terus berharap –bahkan pada bintang jatuh yang sempat ia lihat dari balkon kamarnya– akan ada seseorang yang mau menolongnya. Seseorang yang setidaknya mau mengulurkan tangan untuk menarik Sehun keluar dari lubang kehampaan itu.

Siapa pun itu. Sehun sungguh berharap.

"Tunggu," Sehun masih ingat dengan jelas bagaimana di hari pertama kali ia berkenalan dengan pemuda mungil berambut hitam saat berada dalam ruang locker siswa laki-laki sekolah elit mereka. "Kau sudah menolongku dua kali, tapi kita bahkan belum sempat berkenalan." Tak peduli dengan penampilannya yang agak kotor karena lemparan makanan para siswi, pemuda mungil itu tetap bisa memperlihatkan senyuman imutnya. "Namaku Byun Baekhyun."

Byun Baekhyun….

Entah dengan alasan apa, Sehun sadar betul jika pemuda mungil itu mampu menarik perhatiannya. Mungkin karena postur tubuhnya, bentuk wajahnya, pribadinya, atau senyumannya yang semuanya mengingatkan Sehun pada Luhan. Baekhyun nyaris mirip dengan Luhan sepenuhnya. Ah, tidak, senyuman Baekhyun berbeda. Meski senyuman imut Baekhyun bisa membuat Sehun ikut tersenyum, tapi senyuman itu belum mampu membuat hatinya bergetar seperti senyuman yang diciptakan paras cantik Luhan.

Namun…

Seiring kebersamaan mereka, dan semakin mengenal kepribadian Baekhyun. Sehun semakin sadar, Baekhyun berbeda dengan Luhan.

Sangat berbeda.

Entah dimulai sejak kapan, perasaan ingin memiliki itu muncul dalam diri Sehun. Semakin hari, perasaan itu semakin besar dan semakin Sehun tidak ingin kehilangan Baekhyun, seperti ia yang sudah kehilangan Luhan.

Nyanyian dari suara merdu Baekhyun yang selalu menolongnya tiap malam dari mimpi buruk Oh Sehun. Seperti sebuah lantunan lagu indah dari surga yang tiba-tiba muncul diantara kegelapan yang selama ini menjebak Sehun dalam lubang kehampaan –selepas peninggalan Luhan.

Sehun tidak yakin, apa ini bisa disebut ia jatuh cinta lagi, atau hanya sekedar obsesi saja. Yang jelas ia ingin memiliki Baekhyun, dan tak ingin ditinggalkan lagi. Bahkan setelah Luhan kembali di hadapannya, Sehun tetap ingin memiliki Baekhyun sepenuhnya. Tak ingin kehilangan nyanyian merdu yang menemaninya tiap malam.

Karena itu, saat Baekhyun mendesak Sehun untuk membongkar sandiwara mereka, Sehun pun memutuskan untuk menyampaikan keinginannya.

"Ottoke?" kalimat itu pun meluncur begitu saja dari bibir Sehun, seiring tatapannya yang semakin tenggelam ke dalam hazel jernih milik Baekhyun. "Aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu, Baekhyun-ah," ucapan penuh keyakinan itu bukan sekedar untuk meyakini Baekhyun. Tapi juga meyakini dirinya sendiri kalau ia benar-benar sudah jatuh hati pada Baekhyun.

"Bisakah kau memberiku kesempatan? Ayo menjalin hubungan yang sesungguhnya." Sehun berharap kali ini ia bisa mendapatkan kebahagian lain dari Baekhyun. Berharap bisa membuat Baekhyun selalu menatapnya dan tak akan meninggalkannya. Berharap…

Baekhyun mau mengulurkan tangannya dan mampu menarik Sehun keluar dari lubang kehampaannya selama ini.

Namun…

Genggaman tangan Sehun pada tangan letik Baekhyun terlepas secara paksa seiring munculnya tubuh tinggi yang hadir di antara mereka.

"Cukup," terdengar suara berat Chanyeol yang dalam dan penuh penekanan. Pemuda tinggi itu tak menghiraukan Sehun dan terus menatap Baekhyun. "Kubilang cukup." Bahkan sebelum Sehun sempat merespon perilaku Chanyeol yang telah mengganggu pembicaraannya. Ia dikejutkan dengan tindakan tidak terduga dari pemuda tampan tersebut.

Yaitu mencium bibir Baekhyun begitu saja di hadapan Sehun.

Ini terlalu tiba-tiba dan emosi Sehun langsung terkumpul dalam satu titik di detik itu juga. Tanpa bisa berpikir lagi, tangan kiri Sehun menarik kasar bahu Chanyeol untuk melepas ciuman itu. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Sehun dengan berani melayangkan sebuah tinju ke rahang sang ketua X4.

Bruuk!

Chanyeol tersungkur ke lantai.

.

.

.

.

.

L3Y

By Sayaka Dini

Main Cast: Baekhyun; Chanyeol; Sehun

Pairing: Chanbaek / Hunbaek / Hunhan and Kaisoo

Disclaimer: This story belong to me, but the character not be mine

Hope You Enjoy It~ ^_^

_o0o_

.

.

.

.

.

...

Baekhyun memekik. Chanyeol yang sama sekali tidak mengantisipasi serangan tersebut langsung terjatuh ke lantai.

"Chanyeol-ah!" Baekhyun segera duduk menghampiri Chanyeol.

Tiba-tiba ini mengingatkan Sehun saat Chanyeol juga pernah meninjunya di hadapan Baekhyun tempo hari lalu. Namun saat itu bukannya mengahmpiri Sehun yang jadi korban, Baekhyun malah memeluk tubuh Chanyeol untuk menahannya. Lalu mengapa sekarang Baekhyun tidak memeluk Sehun dan menahannya?

Tangan Sehun semakin terkepal, emosinya kembali naik sebagai wujud rasa tak terimanya dengan kenyataan bahwa bagaimana pun keadaannya Baekhyun akan selalu memilih Chanyeol darinya.

Selalu dia yang kalah dari sang ketua X4 itu.

Baru satu langkah Sehun ambil kedepan untuk menghampiri Chanyeol dan mungkin akan menghajarnya lagi sebagai rasa melampiaskan amarahnya, namun seseorang tiba-tiba memeluk lengan Sehun dari samping.

"Sudah hentikan Sehun-ah!"

Luapan emosi itu mampu membutakan Sehun untuk sesaat, membuatnya menghempaskan tangannya dengan kasar tanpa menoleh ke samping.

"Akh!" dan suara Luhan yang merintih keras segera mengejutkan dan menyadarkan Sehun. Ia menoleh, melihat tubuh kecil Luhan yang terhempas olehnya sudah ditahan Kai dari balik punggung Luhan agar tidak terjatuh ke belakang. Kai beralih menatap Sehun tak percaya dengan perilaku kasarnya pada Luhan.

"Apa-apaan kau maknae?"

Mata rusa Luhan menatapnya sedih. Sehun segera memalingkan wajahnya dan kali ini ia mendapatkan tatapan berbeda dari Baekhyun dan Chanyeol yang masih duduk di lantai.

Wae? Mengapa semua orang kini menatapnya seolah ia adalah penjahatnya di sini? Bukankah ini semua salah Chanyeol yang sudah mengacaukan semua rencana Sehun dan merebut Baekhyun darinya? –pikir Sehun seorang diri.

Tidak tahan dengan situasi yang seolah sedang menyudutkannya. Sehun segera beranjak pergi meninggalkan markas X4, sambil membanting pintu dengan keras, melampiaskan amarahnya pada benda tak bersalah tersebut.

Luhan ikut beranjak mengejar kepergian Sehun. Kai menggeleng tak mengerti, semua kejadian ini terlalu tiba-tiba dan diluar pemikirannya selama ini. Pemuda berkulit tan itu menoleh ke samping, hendak menanyakan sesuatu namun suaranya tersendat begitu melihat perilaku Baekhyun dan Chanyeol yang masih duduk di lantai.

"Gwencana?" Baekhyun menangkup wajah Chanyeol dengan sangat hati-hati sambil menatapnya penuh khawatir.

Dan yang membuat Kai semakin tidak habis pikir saat Chanyeol tidak menolak dan malah memasang wajah tersiksa berlebihan. "Ah-appo," rintih Chanyeol, merengek seperti anak kecil dengan bibir sedikit mengerucut.

Kai memberinya pandangan aneh.

Kening Baekhyun berkerut lucu. "Jeongmal? Apa benar sesakit itu?"

Chanyeol mengangguk lemas. "Coba kau cium aku, mungkin sakitnya akan hilang."

"Heol," dan Kai memasang wajah sejijik-jijiknya. "Kau yakin kau adalah Chanyeol homophobic yang selama ini kukenal?"

Chanyeol melirik Kai sinis. Baekyun jadi ingin tertawa. Bukannya menjawab pertanyaan Kai, kaki panjang Chanyeol lebih memilih menendang pemuda tan itu sambil mengibaskan tangan dengan gesture mengusir anjing.

"Aish!" Kai bergeser mundur dua langkah, memasang wajah tak terima.

Chanyeol kembali menatap Baekhyun, tapi pemuda Byun itu malah sedang memandangi pintu keluar markas X4 dengan tatapan menerawang. Baekhyun teringat tentang kepergian Sehun dan rasa bersalah itu muncul dalam dirinya saat tergiang tatapan putus asa yang sempat Sehun tujukan padanya.

Apa Sehun akan baik-baik saja?

"Hei," Chanyeol menepuk lembut pipi Baekhyun agar kembali menatapnya. Hanya selang berapa detik melakukan kontak mata, pemuda tinggi berkharisma itu sudah tahu apa yang mengganggu pikiran namja cantik-nya. Chanyeol mengulum senyuman tampan yang membuat wajahnya semakin mempesona. Seraya tangan kiri mengenggam lembut tangan Baekhyun dan sebelah tangan kanannya yang masih menangkup sebelah pipi pemuda berparas cantik itu, Chanyeol berkata, "Tenang saja. Jika sudah ada Luhan, ia akan baik-baik saja. Percayalah."

Baekhyun tertegun, untuk kesekian kalinya –terlepas dari segala sikap Chanyeol yang sempat membuatnya jengkel– Chanyeol selalu mampu membuatnya terpesona melebihi siapa pun. Mampu membuat debaran nyaman itu selalu muncul dalam diri Baekhyun. Byun muda itu membalas Chanyeol dengan senyuman lembut. Ikut menangkup tangan besar Chanyeol yang –begitu hangat– menyentuh pipinya.

Hal yang sama pun dirasakan oleh Chanyeol saat melihat senyuman indah Baekhyun yang bagaikan bidadari mungil di mata Chanyeol. Begitu mempesona dan menggemaskan.

Sesaat... dunia terasa kecil dan hanya milik berdua, ketika keduanya hanya saling berbagi tatapan memuja dan senyuman kebahagiaan.

"Ah, Jinjja. Tidak adakah dari kalian yang ingin menjelaskan sesuatu padaku?" dan keluhan Kai sukses merusak suasana tersebut.

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

Sehun melangkah, memasuki sebuah lift kosong yang letaknya tak jauh dari markas X4 dan juga berada di bawah basemant gedung bertingkat tersebut. Meski emosinya meluap, Sehun masih bisa berpikir untuk tidak mengendarai mobilnya dalam kondisi seperti ini. Ia hanya ingin sendiri.

Pintu lift itu sudah siap menutup kembali, tapi sebuah tangan yang terulur di sela kecil antara kedua benda geser itu membuat pintu lift kembali terbuka secara otomatis. Luhan segera masuk, berhadapan dengan Sehun yang masih menunduk menatap lantai lift.

Sehun sadar Luhan ada di depannya, tapi ia tidak ingin menatapnya. Setelah semua kejadian di markas X4 tadi, Sehun merasa dirinya seperti pecundang dan terlalu malu untuk bertatap muka dengan Luhan. Masih dengan kepala menunduk, tangan Sehun terulur menekan tombol agar pintu lift tetap terbuka. "Keluar," bisiknya kecil.

"Shiro."

Penolakan Luhan tidak membuat Sehun terkejut. Sehun masih ingat betul bagaimana ia tak pernah bisa menang dari keras kepalanya Luhan.

Sehun mendengus kecil, siap berdebat dengan Luhan. "Keluar," pintanya lagi, masih dengan kepala menunduk. "Aku hanya ingin sendiri."

"Aku tidak ingin kau sendiri," balas Luhan dengan nada tegas.

Sehun tersenyum miring, untuk beberapa alasan dan pikiran negatif yang merasukinya, Sehun merasa dirinya pantas dihina saat ini. "Wae? Apa kau ingin menertawaiku sekarang?"

"Apa kau pikir aku akan melakukan hal itu?"

Tak tahan lagi, Sehun pun mengangkat wajahnya. "Kau tidak ingin keluar dan tidak ingin menertawakanku, lalu kau mau apa?"

"Aku hanya tidak ingin kau sendiri," tegas Luhan kembali, penuh keyakinan. Terlihat dari bagaimana ia menatap Sehun tanpa gentar.

Sehun sempat tertegun, hanya sesaat. Karena detik berikutnya ia kembali mengingat kesalahan Luhan di masa lalu yang membuatnya sangat terluka. "Apa pantas orang yang sudah meninggalkan aku berkata seperti itu padaku?" nadanya menyindir.

"Itulah mengapa aku kembali, karena aku tahu aku salah," ungkap Luhan penuh penyesalan. "Dan aku ingin memperbaikinya."

"Lalu, kau pikir aku akan menerimamu kembali?" nada Sehun tajam, namun sirat luka yang coba ia tutupi itu tetap terpancar dari binar matanya..

Luhan tak menyangka kalau Sehun akan sedendam ini padanya. Ia bertanya-tanya. Apa sebegitu sakitnya saat ia pergi tanpa kata meninggalkan Sehun? Sampai Sehun tak ingin memaafkannya hingga kini? Luhan memang sangat menyesal, tapi bukan berarti ia akan menyerah begitu saja. Ingatan tentang bagaimana dulu Sehun yang berjuang dan tidak menyerah saat mencintainya, membuat Luhan bertekad. Kini adalah giliran Luhan. Gilirannya untuk tidak menyerah begitu saja pada Sehun.

"Mianhe, jeongmal mianhe," meski ia tahu permintaan maaf itu tak bisa menyembuhkan luka Sehun dalam sekejap, tapi Luhan tetap mengungkapnya dengan tulus. "Tapi..." sebisa mungkin Luhan ingin menyampaikan seluruh perasaannya melalui tatapan mata yang lekat pada pemuda yang lebih tinggi darinya itu. "Seberapa keras kau menyuruhku untuk pergi, aku tidak akan melakukannya." Luhan menggeleng pelan, "Aku tidak akan pergi lagi."

Sehun tidak bisa mengabaikannya. Melihat bagaimana mata Luhan yang begitu indah itu menatapnya dalam, penuh harap. Seperti anak rusa yang memohon pada pemburu untuk tidak mengambil tanduknya yang berharga.

"Aku sudah bertekad," lanjut Luhan lagi, "Tidak akan membiarkanmu sendirian lagi. Tidak akan, Hunnie." janjinya.

Tangan Sehun lemas, ia pun luluh dengan kalimat terakhir Luhan. Jari telunjuk yang sejak tadi menekan tombol terbuka pada lift kini Sehun lepas, membiarkan dua benda persegi itu bergerak menutup, mengunci keduanya dalam lift.

"Aku tidak tahu..." ucap Sehun pelan kemudian. Pertahanannya runtuh, menunjukkan tatapan putus asa dengan mata yang mulai berair menatap Luhan, memperlihatkan bahwa dirinya benar-benar sakit dan frustasi dengan semua kejadian yang sudah menimpanya. "Apa aku masih mencintaimu atau tidak?" ungkapnya.

"Gwencana," mata Luhan pun berair. Sejak ia memutuskan untuk kembali ke Korea, kembali ke Sehun, Luhan tahu resiko ini ada kemungkinan akan terjadi.

Seperti sebuah gelas kaca yang pecah pasti akan sulit untuk diperbaiki lagi. Namun...

"Yang penting aku masih mencintaimu," sebutir liquid itu jatuh dari mata Luhan, seiring dengan ucapan yang begitu tulus dari dalam hatinya.

Luhan yakin. Asal ia masih memiliki kemauan. Seberapa pun sulitnya itu, meski kelak tangannya ikut terluka karena pecahan gelas kaca yang coba ia sambungkan. Tapi pasti...

Pemuda berparas cantik itu melangkah lebih dekat, bibirnya yang gemetar ia gigit. Tangan kanannya terulur, bergerak pelan meraih tangan kiri Sehun, menggenggamnya lembut, mencoba meyampaikan perasaannya. "Aku akan membuatmu mengingat perasaanmu itu lagi. Perasaan bahagia saat mencintaiku."

Luhan percaya ia mampu melakukannya. Merangkai gelas kaca itu dan menjadikannya lebih berharga.

Tangan Sehun balas menggenggam Luhan, lebih erat, tak akan dibiarkan lepas lagi. "Aku akan membunuh diriku sendiri kalau kau menyakitiku lagi."

Meski menyindir, tapi kalimat itu sudah menjadi jawaban bagi Luhan. Dan perasaan Luhan terasa begitu campur aduk. Perasaan bersalah, lega, senang, terharu, dan tekad pada janji yang telah ia buat. Menyatu, menimbulkan danau kecil yang semakin meluap di ujung kelopak matanya. "Aku tidak akan menyakitimu lagi."

"Apapun yang terjadi?"

"Apapun yang terjadi."

Tangan Sehun yang bebas pun terbuka, membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukan yang selama ini Luhan rindukan. Tangis Luhan pecah seiring dengan tangan yang meremas kaos punggung Sehun. Luhan tidak tahu apa ia sedang tersenyum atau terus menangis. Karena air matanya tidak mau berhenti, namun bibirnya yang bergetar juga tidak bisa menahan senyumannya.

"Kau jahat," Sehun berbisik, dengan bibir yang menempel pada pelipis Luhan. Menghirup aroma khas Luhan yang sudah lama tak ia rasakan, sambil meneteskan sebutir air mata sebagai pelampiasan perasaanya. "Kau sangat jahat, Lu," pelukannya mengerat. "Kau tahu itu kan?"

Luhan mengangguk kecil, sambil terisak di dada Sehun. "Mian, mianhe..."

Dan kisah mereka berdua yang pernah tertunda, kini kembali dimulai dari awal...

.

.

.

Pada akhirnya, hanya Luhan yang bisa mengulurkan tangan dan menarik Sehun keluar dari lubang kehampaannya selama ini...

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

Sepanjang perjalanan pulang, tangan kanan Chanyeol yang tak memegang setir kendali mobil, terus menggenggam tangan lentik Baekhyun yang duduk di sampingnya. Saat mobil mewah Chanyeol berhenti di lampu merah, pemuda tinggi yang menyetir itu menyempatkan diri mencium punggung tangan Baekhyun.

"Mwoyaaa~" Baekhyun merengek protes. Namun pipinya merona dan ia juga tak menarik tangannya dari sentuhan bibir Chanyeol.

"Wae? No Shiro?" (Kenapa? Kau tidak suka?)

"Ani," Baekhyun menggeleng, lalu berpaling, menoleh ke arah jendela mobil membelakangi Chanyeol, menyembunyikan senyuman lebarnya. "Lanjutkan saja," nadanya memang terdengar acuh, tapi anak kecil pun tahu kalau Baekhyun menyukainya.

"Tch, dasar," Chanyeol mendengus geli, tak tahan dengan rasa gemasnya, ia menarik lengan Baekhyun agar lebih dekatnya. "Iroewa." (Sini)

"Waeeee~" tubuh mungil Baekhyun miring ke samping, tertarik ke arah Chanyeol.

"Nan poppo." (Cium aku)

"Yaaa~" Baekhyun refleks mendorong wajah Chanyeol sambil memundurkan tubuhnya.

"Wae~" giliran Chanyeol cemberut. "Jangan menolak kalau kau juga mau."

Baekhyun merona, antara malu dan kesal karena tuduhan Chanyeol benar. "K-kau... kalau menyetir setir saja, tidak perlu minta yang macam-macam."

"Apanya yang macam-macam? Aku hanya ingin cium," bela Chanyeol dengan alis tertekuk, tidak terima. "Lupakan!" Ia melepaskan tangan lentik Baekhyun dari genggamannya. Mulai menyetir dengan kedua tangannya saat lampu lalu lintas sudah kembali berubah warna.

Wajah Chanyeol tertekuk, tak bersahabat, dan Baekhyun yang duduk di sampingnya tentu saja menyadari hal itu.

"Chanyeol-ah... Kau marah?" Baekhyun memiringkin kepalanya menghadap samping. Tampak imut sekali dari sudut pandang Chanyeol. Tapi pemuda tinggi itu mencoba mengabaikannya, tetap memasang wajah menekuk.

"Kau benar-benar marah? Hmm~" Kepala Baekhyun semakin miring, dengan bibir mengerucut dan suara dengungan lucu di akhir kalimat. Aegyo sempurna dengan level kegemasan mencapai puluhan persen. "Chanyeoliiieee~ iing~" Kepala Baekhyun bergerak kecil ke kanan kiri, mengayunkan rambut pirangnya dengan senyuman menggemaskan. Tak ada yang tak bisa luluh dengan itu. Dan Chanyeol yang sejak tadi menahan ekspresi menekuknya, berubah dengan munculnya senyuman geli di wajah tampannya.

"Oh, kau senyum!" tuding Baekhyun semangat.

Meski begitu, Chanyeol tetap tak mau menanggapi tingkah Baekhyun di sampingnya. Ia memutar stirnya ke samping, memasuki wilayah mansion keluarga Park.

Baekhyun mencibir kesal. "Kau masih mengabaikanku?"

Mobil mewah Chanyeol pun berhenti. Para pelayan yang sudah berdiri di depan pintu rumah utama, siap menyambut tuan muda mereka. Membukakan pintu mobil dikedua sisi mobil mewah berwarna merah hitam tersebut.

Chanyeol keluar lebih dulu tanpa mengatakan apapun pada Baekhyun, membuat pemuda yang diabaikan itu sedikit cemberut saat melangkah keluar dari mobil. Tapi Chanyeol berjalan cepat mengitari mobil, menghampiri Baekhyun. Ia menutup pintu mobil di belakang Baekhyun lalu menghimpit pemuda mungil itu dengan kedua tangan panjang Chanyeol yang bertumpu pada atap mobil.

Baekhyun mengerjap, sedikit terkejut. Ia mendongak melihat Chanyeol yang menyeringai kecil padanya.

"Well, aku tidak sedang menyetir sekarang jadi kau tidak ada alasan lagi untuk menolak." Wajah Chanyeol makin mendekat.

Tangan Baekhyun meraih pinggang Chanyeol, meremas mantelnya dengan rona yang kembali muncul di pipinya. "Ji-jigem?"

Chanyeol yang sedikit menunduk itu sudah menempelkan kening mereka berdua. Dengan suara beratnya yang mampu membuat Baekhyun merinding, Chanyeol berbisik di depan belahan bibir tipis cherry tersebut, "Aku tidak bisa menahan diriku lagi."

Dan kedua bibir itu pun bertemu.

Untuk kedua kalinya dalam sehari, Chanyeol benar-benar bertindak mengikuti instingnya tanpa memikirkan pandangan orang lain terhadap dirinya. Mencium Baekhyun dengan perasaan yang meletup-letup membuat Chanyeol tak peduli lagi jika ada seribu atau mungkin jutaan orang yang melihatnya dengan pandangan berbeda. Ia hanya ingin merasakan debaran nyaman itu yang tidak pernah bisa ia dapatkan darimana pun.

Baekhyun -untuk kesekian kalinya- tak mampu menolak. Hal sama dirasakan olehnya dan ia tak bisa menyangkal pertanyaan Chanyeol sebelumnya. Bahwa ia memang menyukainya. Sangat menyukainya. Karena pada dasarnya, apapun yang Chanyeol berikan padanya, Baekhyun akan menyukainya.

Pelayan pribadi Chanyeol yang berdiri paling dekat, berbalik memunggungi tuan muda mereka, diikuti oleh semua pelayan yang masih berbaris di sana. Bertindak sopan untuk memberikan hak privasi pada majikan mereka, meski ada beberapa yang sesekali mengintip kebelakang lalu tersenyum malu, seolah dia yang berada di posisi dua pemuda kasmaran tersebut.

Selang sekitar lima menit, Chanyeol melepas tautan bibir mereka. Pemuda tinggi itu cukup sadar bagaimana tubuh Baekhyun mulai bergetar menggigil dengan hawa dingin di musim salju begini. Tapi Chanyeol menempelkan kening keduanya, masih ingin menatap hazel jernih milik Baekhyun lebih dekat dan membiarkan dirinya terjerat lebih dalam.

Baekhyun masih merona, dan tersenyum kecil -malu- menyadari bagaimana Chanyeol menatapnya dengan penuh sayang.

"Ottoke?" bisik Chanyeol, tangannya bergerak melingkari pinggang Baekhyun, memeluknya. "Kau membuatku semakin tidak ingin melepaskanmu."

Baekhyun tertawa kecil. "Kenapa kau tiba-tiba bicara begitu? Dasar aneh."

"Hei, aku serius." Tampang Chanyeol pun meyakinkan. "Aku tidak ingin melepaskanmu." Pelukannya makin erat. "Aku ingin terus memelukmu seperti ini." Ciumannya kini mendarat di puncak kepala Baekhyun.

Si mungil tersenyum bahagia, membenamkan wajahnya di dada yang lebih tinggi sambil membalas pelukan pemuda tampan tersebut. Begini pun rasanya sudah cukup hangat bagi Baekhyun.

"Maaf tuan muda," suara pelayan yang baru saja datang menghampiri keduanya, membungkuk dengan sopan.

Chanyeol hanya menoleh tanpa ingin merubah posisinya. Baekhyun mengintip dari dekapan Chanyeol. "Hm?" Chanyeol berdehem malas.

"Saya ingin menyampaikan kalau Nyonya sudah pulang sejak satu jam lalu, dan Nyonya meminta anda untuk bertemu dengannya sekarang."

Alis Chanyeol bertaut. Suasana tiba-tiba berubah. Baekhyun langsung merasakannya karena Chanyeol melepaskan pelukan hangat itu dan segera berbalik menghadap si pelayan dengan wajah serius.

"Nyonya?" tanyanya memastikan. "Kau bilang nyonya? Uri Oemma?"

Setelah si pelayan mengangguk, Chanyeol segera beranjak memasuki rumah dengan langkah cepat, mengabaikan dan melupakan Baekhyun dalam sekejap.

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

Baekhyun menggigit kuku ibu jarinya dengan gugup. Duduk di sisi ranjang king size sendirian dalam kamar mewah Chanyeol yang sudah ia tempati selama 4 bulan ini.

Terhitung sekitar lima belas menit lalu sejak Chanyeol pergi menemui Nyonya Park di kamar pribadi wanita tersebut. Dan selama itu pula Baekhyun menunggu dengan perasaan gugup luar biasa.

Ottoke? Dia tidak pernah mengenal ibunya Chanyeol sebelumnya. Bagaimana rupanya, sikapnya dan kepribadiannya?

Apa ini akan berjalan dengan baik? Beribu pertanyaan menghantui pikiran Baekhyun dan membuat rasa gugupnya semakin menjadi.

Bunyi pintu kamar yang dibuka dari luar mampu menyentakkan Baekhyun. Tak ada pelayan yang berani membuka pintu itu tanpa mengetuk lebih dulu. Jika itu bukan Chanyeol yang membukanya maka...

Park Boom dengan mantel panjang sepanjang mata kaki yang membuatnya sangat berkelas dan elegan melangkah masuk dengan angkuhnya.

"Eomma," dan suara berat Chanyeol yang memohon, menyusul di belakang seiring dengan pemuda tinggi itu yang mengikuti ibunya.

Baekhyun segera berdiri dengan kaki gemetar seperti jelly. Ia membungkuk 90 derajat di hadapan Park Boom saat wanita berpakaian anggun itu berdiri di hadapannya. "A-annyeong haseyo. Byun Baekhyun imnida." Ia kembali berdiri tegak. "Naneun... na-naneun..." suara Baekhyun tersendat di tenggorokannya saat wanita itu menatap Baekhyun dengan pandangan menilai, dari ujung kaki sampai ujung kepala dan kembali ke kaki lagi.

Mata Baekhyun mencoba melirik Chanyeol yang berdiri di belakang ibunya, meminta bantuan. Namun Chanyeol malah memijat ujung hidungnya sambil memejamkan mata, tampak frustasi sendiri. Dan itu membuat Baekhyun semakin gugup luar biasa.

Selama hidupnya Baekhyun tidak pernah segugup ini.

"Berbalik," perintah Park Boom terdengar angkuh, dengan nada absolut yang tidak bisa ditolak siapa pun.

Meski sempat terkejut dengan kalimat pertama itu, Baekhyun langsung menurutinya. Ia berbalik, menunggu dengan diam, berdiri memunggungi Chanyeol dan Park Boom. Sampai sepasang tangan tiba-tiba muncul dari belakang, menyentuh dada dan gundukan kecil di celana Baekhyun, lalu meremasnya.

"Gyaa!" Baekhyun memekik, melompat maju, sebelah tangan bersila di depan dada dan satunya lagi menutupi area privasi di bawahnya. Mata pupy-nya berkaca-kaca, menoleh ke belakang dengan pandangan takut.

Rahang Chanyeol terbuka lebar. "Eomma!" ia menghentakkan kaki tak terima.

Park Boom malah membuka tutup kedua tangan yang sudah digunakan untuk perbuatan 'asusila' tersebut. Dengan wajah tanpa dosa ia menatap putra tunggalnya. "Wae? Aku hanya ingin memeriksa apa dia benar-benar namja atau bukan?"

Chanyeol mengerang. "Eomma tidak perlu melakukan hal itu!" kesalnya.

"Ooh, gereu." Park Boom mengangguk, kembali menatap Baekhyun. "Kalau begitu buka semua bajumu sekarang."

"Eomma!" Dan Chanyeol segera beranjak, berdiri menghalagi pandangan ibunya dari Baekhyun. "Sudah hentikan main-mainnya. Eomma membuatnya menangis."

"A-aku tidak menangis kok," bela si mungil dengan bibir gemetar di balik punggung Chanyeol. Mengabaikan fakta bahwa matanya tampak berkaca-kaca.

Park Boom malah tertawa puas dengan angkuhnya.

Chanyeol menghela nafas. Frustasi dengan perilaku ibunya yang tidak pernah berubah sejak dulu.

Angkuh... namun juga kekanakan dalam waktu bersamaan.

...

Lima belas menit yang lalu...

Chanyeol berdiri di depan pintu kamar Ibunya. Sudah sejak 3 tahun saat ibunya pergi meninggalkan rumah dan dirinya. Tidak ada penjelasan atau kata-kata perpisahan saat itu. Dan selama ini pula ibunya menghilang dan tak ada kabar tentangnya, atau memang tak ada yang ingin memberikan informasi apapun pada Chanyeol tentang keberadaan ibunya.

Namun sekarang. Sang Ibu telah kembali. Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Chanyeol saat ini. Ia sendiri pun tak tahu apa yang akan terjadi jika ia sudah berhadapan dengan ibu yang selama ini ia rindukan.

Apa wanita itu akan tetap menjadi ibunya? Atau akankah berubah menjadi sosok asing baginya?

Setelah memantabkan dirinya, Chanyeol menarik nafas lebih dalam, mengeluarkannya perlahan seiring dengan tangan yang mendorong pintu kamar ibunya.

"Oh?" Wanita itu berbalik. Ketika matanya bertemu, senyuman teduh yang sudah lama tak pernah Chanyeol lihat kini terukir dalam paras sang wanita berumur 30-an tersebut. "Kau sudah pulang, Chanyeolie?"

Dan dalam detik itu juga semua keraguan Chanyeol menghilang. Persis seperti anak kecil yang sudah lama tidak pernah bertemu bertemu dengan ibunya. Air mata meluap begitu saja dari wajahnya. Benar-benar seperti anak kecil.

"Eomma..."

"Ouh uri Chanyeolie, kemarilah," Park Boom merentangkan kedua tangannya. "Katakan pada eomma-mu ini, siapa yang sudah membuatmu menangis. Eomma pasti akan langsung melempar orang tak tau diri itu ke planet pluto."

Jika itu Chanyeol yang dulu, yang masih anak-anak, ia pasti dengan semangat akan melapor pada ibunya dan percaya begitu saja dengan kalimat absurd tersebut. Tapi untuk Chanyeol yang sudah remaja sekarang, hanya bisa tersenyum geli -diantara tangisnya- mendengar candaan kekanakan dari ibunya tersebut.

"Aku hanya ingin pelukanmu," ungkap Chanyeol, berjalan mendekat sampai memeluk ibunya.

Park Boom tersenyum. "Uri Chanyeolie benar-benar sudah sangat besar ya, seperti dalam foto." Ia mengelus rambut dan punggung putranya dengan sayang.

Chanyeol tidak banyak lagi berbicara. Beribu hal yang ingin ia sampaikan dan beberapa pertanyaannya selama ini, ia simpan lebih dulu. Biarkan ia memanjakan dirinya dalam pelukan dan belaian sayang dari sang ibu.

Selang berapa menit dalam keheningan -melepas rindu, Park Boom kembali mengeluarkan suaranya, "Jadi... dimana calonmu itu?"

Tubuh Chanyeol langsung menegang. Ia menatap ibunya dengan pandangan terkejut sekaligus horor.

"Darimana eomma tahu?"

"Tentu saja eomma tahu," Ia tersenyum angkuh dengan bangganya. "Tidak ada yang eomma tidak tahu mengenai dirimu sayang." Park Boom menepuk-nepuk bahu Chanyeol, lalu beranjak pergi. "Ja, mari bertemu dengannya."

"Tu-tunggu eomma!"

"Tenang saja uri Chanyeolie. Eomma-mu yang baik ini tidak akan sampai hati memakannya. Palingan hanya memberinya sedikit salam perkenalan." Wanita itu tertawa angkuh seiring dengan langkahnya.

Itu justru membuat Chanyeol semakin khawatir. "Eomma," pemuda tinggi itu pun menyusul sang ibu.

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

Luhan tersedak ludahnya sendiri. "I-ibunya Chanyeol sudah kembali?" tanyanya mengulang dengan ekpresi horor.

Ibu Luhan malah tertawa mendapati ekpresi putra cantiknya. "Iya. Kau tidak tahu? Aku kira kau sudah bertemu dengannya. Dia pulang sejak kemarin, bahkan satu pesawat dengan dirimu."

Membayangkannya saja membuat Luhan merinding. Ia bersyukur tidak bertemu dengan ibunya Chanyeol saat itu. Bukanya Luhan membenci ibu dari temannya itu. Wanita itu sebenarnya sangat baik, hanya saja... 'perilaku'nya itu (dalam tanda kutip) selalu berhasil membuat Luhan kerepotan dan lebih memilih tenggelam dalam lautan daripada bertemu dengan Ibunya Chanyeol.

Tiba-tiba Luhan teringat perkataan Kai tentang Baekhyun yang sudah tinggal serumah dengan Chanyeol. Luhan menghela nafas. "Semoga dia baik-baik saja."

Yeah, hanya doa yang bisa Luhan kirim untuk keselamatan teman barunya itu...

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

"Haaatchim," Baekhyun bersin. Dengan jarinya yang lentik ia mengusap hidung mungilnya yang merah. Setelah itu pandangannya kembali kosong menatap pantulan dirinya dalam cermin salon di hadapannya.

Ini seperti dejavu...

Duduk di salah satu kursi client di depan cermin salon dengan beberapa tangan yang mengikat rambut pendeknya hingga rapi. Jika dulu Baekhyun melakukan ini karena keinginannya sendiri demi mendapatkan sebuah mobil. Kini, Baekhyun melakukannya karena tak bisa melawan perintah absolut dari seorang wanita yang berdiri angkuh di sampingnya.

"Pastikan warna wignya serupa dengan rambut pirangnya, buat ini senatural mungkin, arrasho," perintah wanita angkuh itu dengan mutlak pada pemilik salon kecantikan tersebut.

"Baik nyonya," dan pria berkacamata dengan lambaian tangan kirinya tersenyum centil, sambil merapikan rambut Baekhyun.

Park Boom tersenyum puas. Baekhyun ingin menjerit dalam hati berada dalam situasi tak berdaya seperti ini. Jangan tanya dimana Chanyeol. Pemuda tinggi itu mungkin dengan santainya sedang bermain game di rumah.

"Anggap saja kau sedang mengakrabkan diri dengan ibuku," itu pesan Chanyeol satu jam yang lalu saat ibu dari pemuda tampan tersebut mengajak Baekhyun keluar dengan alasan jalan-jalan di mall.

Apa benar ini disebut dengan usaha untuk mengakrabkan diri dengan camer? Baekhyun menghela nafas dalam hati, saat sebuah wig panjang sebahu berwarna pirang dipasangkan di atas kepalanya.

Well, ini benar-benar seperti dejavu...

...

"Yogi," satu set dress wanita diambil oleh Park Boom dari salah satu rak yang berjejer rapi dalam butik itu. Dress itu kemudian ia serahkan pada Baekhyun di sampingnya. "Hmm," Park Boom kembali memilih. "Yogi, yogi,yogi." dan disusul dengan tiga set dress lainnya yang juga dia ambil dan diberikan pada Baekhyun –pemuda mungil dengan wig pirang panjang di kepalanya.

"Untuk apa?" tanya Baekhyun dengan tatapan polosnya, menatap keempat dress tersebut.

Tangan Park Boom berhenti memilah baju. Ia menoleh. "Tentu saja untuk kau pakai."

"Eh?"

"Wae? Kau tidak mau?" ada nada ancaman dalam suara wanita itu. "Atau kau mau aku yang pakaikan padamu?"

"A-aniyo," Baekhyun menggeleng dengan panik.

"Jadi kau akan memakainya kan?" tatapan Park Boom sangat tajam.

Baekhyun benar-benar tidak bisa menolak. Ia mengangguk lemah. "N-ndeh."

Park Boom pun tersenyum puas dengan angkuhnya.

...

Ini bahkan lebih buruk, pikir Baekhyun.

Jika dulu ia masih terselamatkan dengan celana jeans cewek (ketat) milik Taeyeon, sekarang dia malah meggunakan pakaian yang benar-benar khusus untuk 'perempuan'. Dress dengan rok pendek yang hanya berhasil menutupi separuh pahanya. Memperlihatkan kakinya –yang Baekhyun sendiri tidak sadar tampak begitu mulus dan putih–. Rasanya begitu janggal tiap kali ia melangkah ada angin dingin yang meraba paha dalamnya. Baekhyun merinding –tak terbiasa.

"Ah, Yeoppo..." Park Boom menatapnya berbinar. Baekhyun merona –antara kesal dan malu setengah mati. "Nah, yang seperti ini, baru kau pantas dengan putraku." Wanita itu tersenyum puas.

Raut wajah Baekhyun tiba-tiba berubah. Ia mulai merasa aneh di sini.

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

Tatapan Chanyeol tak pernah lepas dari Baekhyun sejak ia kembali ke rumah bersama ibunya. Pemuda mungil itu benar-benar sangat cantik. Sangat cantik. Dengan rambut pirang panjang, berponi, dan dress mungil yang tampak sangat pas di tubuh pemuda cantik itu. Membuatnya tampil sangat cantik dan menggemaskan melebihi gadis manapun. Nyaris menyerupai boneka Barbie versi hidup –bedanya Baekhyun lebih terlihat seperti versi chibinya karena kaki yang tidak begitu panjang dan parasnya yang jauh lebih imut.

Rahang Chanyeol yang jatuh tak bisa tertutup lagi. Dan bola matanya tampak seperti magnet yang terus mengikuti kemana Baekhyun melangkah.

Baekhyun mengambil sebuah bantal, lalu melemparnya tepat mengenai wajah Chanyeol yang hampir meneteskan air liurnya. "Hentikan tatapan bodomu itu, idiot!"

Chanyeol hampir terjengkal kebelakang. Ia kembali duduk bersila di atas sofa singgle dalam kamarnya –hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu. "Apa uri eomma baru saja membawamu ke rumah sakit dan melakukan operasi?"

"Enak saja!" sangkal Baekhyun cepat. "Aku masih laki-laki tulen." Refleks ia mengangkat roknya ke atas, sekedar ingin membuktikan kebenaran itu tanpa berpikir lebih panjang.

Wajah Chanyeol langsung memerah. Bibirnya gemetar. "Ka-kau... juga memakai celana dalam wanita?"

Oh Shit. Baekhyun melupakan hal itu. Tangannya segera menurunkan kembali rok pendek yang ia kenakan. Wajah Baekhyun juga ikut memerah. "Ja-jangan dilihat, bodoh!" bentaknya malu.

Chanyeol menutup mulut dan hidungnya. Bisa ia rasakan ada sesuatu yang mengalir di hidungnya –darah. Buru-buru pemuda tinggi itu lari menuju kamar mandi dalam kamar tersebut.

Dan Baekhyun melampiaskan rasa malunya dengan teriakan melengking sambil menghentakkan kakinya. "Pabbo. Pabbo! PABBO!"

...

Chanyeol masih berada dalam kamar mandi saat pintu kamarnya diketuk dari luar. Baekhyun menjawab, mempersilahkan masuk. Lima pelayan melangkah masuk, berbaris, lalu membungkuk memberi salam.

"Nyonya menyuruh kami untuk memindahkan barang-barang tuan Byun ke kamar depan," ungkap salah satu dari mereka.

Alis Baekhyun berkerut. "Maksudnya?"

"Nyonya menyampaikan kalau mulai sekarang tuan Byun akan memiliki kamar sendiri."

Baekhyun terdiam. Perasaannya kembali tak enak.

...

Chanyeol tak bisa membantah keputusan ibunya, ia juga tak sampai memikirkan alasan lain mengapa ibunya melakukan hal itu. Jadi dia hanya diam saja saat Baekhyun pindah kamar malam itu. Tapi, ketika jam hampir menunjukkan waktu tengah malam, pemuda tinggi itu menyelinap keluar dan diam-diam masuk ke kamar Baekhyun.

Baekhyun hampir menjerit saat sebuah tangan memeluknya dari belakang ketika ia tidur menyamping di atas ranjang. Lampu kamar sudah padam kala itu, tapi untungnya wangi tubuh Chanyeol yang sudah dihafal Baekhyun membuat pemuda mungil itu tidak jadi panik.

"Waegerue?" tanya Baekhyun, masih dalam posisi menyamping dan membiar lengan besar itu memeluk pinggangnya dari belakang.

Chanyeol mencium rambut pendek Baekhyun dari belakang. "Ani," jawabnya pelan. "Aku hanya sudah terbiasa tidur dengan memelukmu."

Baekhyun tersenyum. Ia menggenggam telapak tangan hangat yang berada di atas perutnya. "Nado," balasnya. Mata Baekhyun mulai terpejam. Ia baru merasa kantuk setelah dua jam lalu tanpa Chanyeol di sampingnya membuat ia terjaga.

Chanyeol yang berada di belakangnya juga ikut tersenyum sambil memejamkan mata. Rasanya begitu nyaman saat mendekap tubuh mungil itu dalam pelukannya.

Di luar sana, dari jendela kaca dalam kamar tersebut, terlihat ribuan butir salju putih jatuh melayang menghiasi bumi.

Dan dalam kalender yang digantung menunjukkan waktu bahwa besok adalah hari natal...

Baekhyun tiba-tiba bermimpi tentang ayahnya.

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

Pagi itu, Baekhyun bangun terlebih dulu. Ia berjalan keluar, turun ke lantai bawah, menuju dapur. Baru saja ia meminum segelas air putih untuk menghilang dahaganya, suara pekikan di belakang mengejutkan pemuda mungil tersebut.

"Ige mwoyaaa?" Park Boom, dengan jubah tidurnya, menatap Baekhyun tidak suka dengan alis yang menukik tajam. "Dimana rambut panjangmu? Dan apa-apaan pakaianmu itu? Bukankah kemarin aku sudah membelikanmu semua pakaian imut itu?"

Baekhyun terkejut dengan nada tajam itu. Kemarin ibu Chanyeol hanya bersikap angkuh, namun kenapa sekarang tampak lebih mengerikan lagi. "Kupikir..." suara Baekhyun tersendat, telalu takut menjawab saat kedua bola mata besar itu menatapnya tajam, seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.

"WAE?" bentak wanita itu. "Kau pikir semua perawatan dan fasilitas kemarin yang kuberikan percuma padamu itu hanya sekedar main-main? Tentu saja tidak. Aku melakukan itu agar kau tampak pantas bersanding dengan uri Chanyeolie. Jangan mengecewakanku dengan penampilan mengerikanmu itu!"

Baekhyun mematung, terlalu terkejut dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh wanita angkuh tersebut.

"Apa lagi yang kau tunggu! Cepat pergi sana dan rubah penampilanmu itu!" bentaknya lagi.

Tangan Baekhyun gemetar, untungnya ia masih bisa meletakkan gelas kaca ke atas meja dapur. "Joe-joesonghamida." Ia membungkuk 90 derajat. Air mata mulai muncul di sudut kelopaknya, siap jatuh kapan saja. Dengan kepala terus menunduk, Baekhyun melangkah cepat meninggalkan dapur.

...

Saat kembali ke kamarnya, Chanyeol baru saja bangun. Pemuda tinggi itu duduk bersila di atas ranjang dengan mata tak fokus –habis bangun tidur.

Baekhyun berdiri di samping ranjang, mengusap matanya agar tampak kering. "Chanyeol-ah..." panggilnya pelan.

Chanyeol menoleh, masih tak fokus, tak menyadari raut wajah Baekhyun yang tampak sedih. "Hm?"

Baekhyun mengigit bibirnya, sesaat tampak ragu, ia pun memutuskan mengungkapkan pikirannya. "Menurutmu... apa ibumu menyukaiku?"

Alis Chanyeol berkerut. Mulai mengambil kesadarannya kembali setelah mendengar pertanyaan itu. "Apa?"

Baekhyun mencelos, melihat reaksi Chanyeol yang tampak tak percaya dengan pertaanyaannya, seolah mengatakan 'apa kau bodoh?' dari raut wajah yang ia tujukan pada Baekhyun. "Lupakan," pemuda mungil itu berbalik pergi.

Chanyeol tidak terima, ia bisa merasakan ada yang tak beres dari raut wajah Baekhyun sebelumnya. Pemuda tinggi itu beranjak dari atas ranjang. "Tunggu," Ia menarik lengan Baekhyun untuk kembali berdiri menghadapanya. "Waegerue?" desaknya.

Mata Baekhyun tertuju ke lantai, ia menghela nafas sebentar, lalu mendongak. "Aku pikir... ibumu mungkin tidak menyukaiku."

Kening Chanyeol semakin berkerut, tampak tak suka dengan pernyataan itu. "Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"

"Aku..." Baekhyun tidak tahu bagaimana menjelaskannya. "Ibumu menyuruhku berpenampilan perempuan. Karena itu aku–"

Chanyeol tersenyum geli, tak sadar itu membuat Baekhyun menatapnya tak percaya. "Bukankah dari awal sudah kubilang. Ibuku memang seperti itu, terkadang ia bertindak tidak masuk akal. Luhan-hyung bahkan sempat kewalahan menghadapinya." Chanyeol mengusap puncak rambut Baekhyun. "Jangan berprasangka buruk. Ibuku sebenarnya sangat baik, percayalah. Dia menyukaimu." Pemuda tinggi itu pun berjalan melewati Baekhyun, hendak menuju kamar mandi.

"Ani."

Suara Baekhyun menghentikan langkah Chanyeol.

"Dia tidak menyukaiku," lanjut Baekhyun, menghadap ke arah Chanyeol.

Pemuda tinggi itu menatap Baekhyun dengan serius. "Berhenti berpikir buruk tentangnya." nada Chanyeol tajam, tak suka. "Sudah kubilang ibuku menyukaimu. Dia tidak seburuk yang kau pikirkan."

Baekhyun menatap Chanyeol sedih. "Kau tidak percaya padaku?"

Ditatap seperti itu membuat Chanyeol mengerang frustasi. Ia yakin dirinya benar, tapi tatapan sedih Baekhyun berdampak lain pada hatinya. "Dengar Baek, jika ibuku tidak menyukaimu dia pasti sudah mengusirmu sejak kemarin. Tapi nyatanya dia malah mengajakmu jalan dan kalian bersenang-senang di luar kemarin. Iya kan?"

Baekhyun menggeleng. "Ibumu membawaku ke salon, dan menyuruhku berpenampilan seperti perempuan. Dan tetap menyuruhku berpenampilan begitu meski kita sudah ada di rumah. Apa kau tidak berpikir itu aneh?"

Chanyeol menggeleng. "Dia hanya sedang bermain-main."

"Ani," Baekhyun balas menggeleng. "Ibumu serius," ia meyakinkan. "Ia tidak suka denganku karena aku laki-laki. Tidakkah kau juga berpikir ini aneh saat ia tiba-tiba menyuruhku pindah kamar? Dia tidak menyukaiku, yeol. Aku bisa merasakannya."

Tangan Chanyeol mengepal, ia sangat menyayangi ibunya, dan ia masih lebih mempercayai ibunya dari siapapun. "Kau salah. Kau hanya tidak suka saat ibuku menyuruhmu berpakaian perempuan, padahal dia hanya ingin bermain dan lebih dekat denganmu dengan caranya sendiri. Seharusnya kau bisa memahami itu Baek."

Baekhyun tersenyum miring. "Gereu." Ia tak bisa menang jika Chanyeol sudah sekeras kepala ini. "Bagaimana pun dia adalah ibumu..."

Chanyeol tidak merasa puas dengan hal itu, karena Baekhyun masih menatapnya sedih dengan binar kecewa.

Baekhyun menutuskan kontak mata dengan menatap lantai. "Hari ini aku mau pergi," ungkapnya tiba-tiba.

Kening Chanyeol berkerut. "Kemana?"

"Aku ingin menjenguk ayahku, sudah tiga hari ini aku tidak ke rumah sakit lagi."

Chanyeol mengangguk paham. "Arrasho." Ia berbalik, kembali melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.

"Kau tidak ingin menemaniku?"

Lagi-lagi langkah Chanyeol terhenti, kembali menoleh. "Mian, hari ini ibu sudah menyuruhku menemaninya ke pesta koleganya, ia sudah memintaku sejak kemarin."

Baekhyun berkedip. "Sampai jam berapa?"

"Entahlah," Chanyeol mengangkat bahu.

"Tapi Chanyeol-ah, kau tahu kan kalau malam ini..."

"Malam natal," sambung pemuda tinggi tersebut. "Tenang saja, kami pulang tidak terlalu larut. Setelah ini semua selesai, kita akan merayakan natal bersama yang pertama dengan ibuku."

Baekhyun tersenyum kecil. "Gereu, aku akan menunggumu."

Chanyeol ingin mendekat untuk sekedar mengacak rambut Baekhyun lembut atau mencium bibirnya dengan sayang. Namun atmosfir perdebatan mereka sebelumnya masih membekas, dan ekspresi sedih Baekhyun saat Chanyeol lebih mempercayai ibunya masih tampak di paras pemuda mungil tersebut.

Ini bukan suasana yang tepat untuk melakukan sebuah skinship. Chanyeol menahannya, menunggu sampai malam nanti yang mungkin suasana di antara mereka menjadi lebih baik. Dalam hati Chanyeol berencana membelikan hadiah natal terbaik untuk Baekhyun. Pemuda tinggi itu pun hanya mengangguk kecil, lalu berbalik menuju kamar mandi.

Saat Chanyeol sudah selesai dengan urusannya dan keluar dari kamar mandi. Baekhyun sudah menghilang.

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

Beberapa hiasan natal sudah dipasang di pinggir jalan perkotaan. Suasana memang terasa spesial tiap tahunnya, dan setidaknya mampu menaikkan mood Baekhyun di sepanjang jalan menuju rumah sakit. Bahkan saat dalam gedung rumah sakit, suasana natal itu tetap terasa kental. Beberapa keluarga pasien sengaja memesan pohon natal dan merayakan bersama orang terkasih mereka.

Baekhyun tersentuh. Apa dia juga perlu melakukan hal yang sama? Pemuda mungil itu tersenyum, yang terpenting sekarang dia ingin bertemu dengan ayahnya dulu. Dan memikirkan hal natal itu nanti saja.

"Appa~" Baekhyun menyapa dengan riang sambil membuka pintu kamar vvip tempat ayahnya dirawat. Tak peduli jika sang ayah masih terbaring koma di atas tempat tidur. Baekhyun akan selalu menyapanya dengan riang, berusaha menyemangati sang ayah. "Appa, Selamat nat-" Baekhyun terhenti, ia mematung, ekspresi riangnya berubah seketika.

Baru tiga hari Baekhyun tidak menjenguk ayahnya, dan ia langsung dikejutkan dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.

Pohon natal kecil lengkap dengan hiasannya berdiri di samping ranjang ayahnya. Ada sosok lain juga di sana, pria tinggi 180cm berwajah familiar denannya, sang kakak kandung, Byun Baekboom, menatapnya diam.

Dan sang ayah yang kini duduk bersandar pada bantal, menatap kedatangan Baekhyun dengan pandangan teduh. Mulut Byun Yunho terbuka, meski dengan suara parau dan pelan-pelan, sang ayah memanggil. "Baek...hyu...nah..."

Tak ada yang bisa menggambarkan bagaimana perasaan Baekhyun saat ini, kecuali mata anak anjingnya yang tampak berkaca-kaca meluapkan isi hatinya. "Appa..." ia terisak, menghambur ke pelukan sang ayah.

Ini adalah hadiah natal terbaik bagi Baekhyun...

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

Sekaleng cofie hangat diberikan oleh Baekboom pada Baekhyun. Dua saudara kandung yang tidak memiliki hubungan baik sejak dulu itu, kini duduk berdua di bangku panjang di sisi koridor rumah sakit.

Baekhyun merasa sedikit canggung, tapi secara bertahap ia mulai merasa nyaman. Karena bagaimana pun, pria tinggi di sampingnya adalah kakak kandungnya.

"Aku tahu ini tiba-tiba," suara berat sang kakak yang tampak begitu beribawah -bawaan dari ayah mereka- segera membawanya kedalam suasana pembicaraan yang serius. "Tapi karena kita tidak punya waktu, aku langsung ke intinya saja."

Baekhyun mendengarkan hal itu dengan baik. Namun menit berlalu seiring pembicaraan kakaknya, ekspresi Baekhyun berubah gelisah.

"Jadi," Baekboom mengakhiri penjelasannya dengan sebuah pertanyaan yang membuat Baekhyun sangat bimbang. "Apa pilihanmu Baekhyun-ah?"

Apa yang harus ia lakukan?

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

"Soojung-ah..." Jessica memanggil putrinya ketika bel pintu berbunyi. Di hari natal seperti ini, semua pelayan di rumah mereka diliburkan. Membuat Jessica harus mengurus masakan di dapur dengan tangannya sendiri.

"Ndeh~" Krystal menuruni tangga dengan riang. Ia sudah tahu siapa yang datang hari ini. Sepuluh menit lalu Baekhyun sudah mengirim pesan tentang kedatangannya hari ini. Dan itu membuat Krystal senang mengira saudara (tiri) kesayangannya itu akan merayakan natal bersamanya tahun ini.

Krystal membuka pintu depan dengan senyuman lebar. "Hai BaconBaek~" candanya mengejek.

Namun tidak seperti biasa, Baekhyun menanggapinya dengan diam.

Di luar sudah turun salju dengan ringannya. Beberapa butiran salju itu pun menghiasi rambut pirang Baekhyun. Perlahan ia mengangkat wajahnya yang sejak tadi menunduk. Matanya tampak berkaca-kaca, dengan suara lemah pemuda mungil itu berbicara, "Na ganda..." (Aku pergi)

Dan senyuman Krystal menghilang.

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

"Apa-apaan ini?" Chanyeol memprotes, ketika akhirnya ia bisa berbicara berdua dengan ibunya -sebelumnya ia berusaha menarik ibunya menjauh dari keramaian pesta dalam gedung tersebut. "Katakan padaku eomma. Apa maksudmu melakukan hal ini?"

Chanyeol tak habis pikir dengan tindakan ibunya. Selama dalam pesta, sang ibu terus memperkenalkan Chanyeol pada putri-putri sesama koleganya, bercerita dengan semangat tentang bagaimana kelebihan sang putra seolah-olah sedang mempromosikan sang anak sebagai calon menantu terbaik.

"Memangnya kenapa? Kau tidak menyukai mereka?" tanya Park Boom heran. "Padahal putri mereka sangat cantik."

Chanyeol mengerang. "Eomma, kau tahu aku sudah memiliki Baekhyun."

"Lalu kenapa?"

Chanyeol tertegun. Ia menatap tak percaya pada sang ibu yang masih menampilkan ekspresi santainya -merasa tak bersalah sama sekali. "Eomma..." tiba-tiba tergiang perdebatannya dengan Baekhyun pagi tadi, dan kini semuanya terasa begitu masuk akal.

Tangan Chanyeol meremas kain celananya, ia menatap sedih ke arah sang ibu yang masih menampilkan wajah angkuhnya. "Apa benar eomma tidak menyukai Baekhyun?"

Park Boom mengalihkan pandangan saat melihat tatapan kecewa yang diberikan putra tunggalnya.

"Aku..." mata Chanyeol sendu. "...sangat mencintainya, eomma..." ungkapnya sedih setelah sadar bagaimana sang ibu tetap memalingkan wajah dan tampak tak menerima hal itu. "Jebal..." air mata itu tiba-tiba saja menetes dari mata kanan Chanyeol, saat bagaimana ia juga mengingat wajah sedih Baekhyun yang ia terima tadi pagi.

"Ibumu mungkin tidak menyukaiku..." –suara Baekhyun kala itu.

"Eomma..." Chanyeol memohon, sambil menangis. "Jebal..."

.

.

.

~ L3Y ~

.

.

.

"Baekhyun-ah..."

Pemuda mungil yang sedang menatap salju dari jendela bandara itu, menoleh.

"Kajja," Baekboom mengedikkan dagunya, memberi isyarat padanya.

.

.

.

.

Mobil Chanyeol melaju dengan kecepatan penuh, diantara gerimisnya salju yang mulai menghiasi kota Seoul di malam natal ini. Beberapa kalimat Jaejoong -dokter keluarganya- semenit lalu melalui telepon membuat Chanyeol semakin gelisah.

"Oh ayahnya Baekhyun? Kukira kau sudah tahu. Kemarin pagi aku memberi tahu pelayanmu untuk menyampaikan pesan kalau Yunho-sshi sudah sadar."

Tak perlu pertanyaan lain lagi dan Chanyeol sudah tahu penyebab pesan itu tak tersampaikan padanya.

Ibunya.

.

.

.

.

Suara wanita di interkom bandara memberitahukan batas waktu penumpang untuk segera masuk gate sebelum pesawat melakukan take off.

Diantara calon penunpang yang berbaris untuk diperiksa passpordnya satu persatu, ada Byun Baekboom, lalu Byun Yunho yang duduk di kursi roda dengan Baekhyun yang mendorong kursi sang ayah dari belakang.

Diam-diam Baekhyun tersenyum sedih.

"Chanyeol-ah... nan ganda..."

.

.

.

.

Mata Chanyeol memerah, berkaca-kaca menatap butiran salju yang jatuh melayang pada jalanan trotoar di hadapannya.

.

.

.

.

Ini menjadi natal terburuk sepanjang hidupnya...

.

.

.

.

.

.

...

To Be Continue

...

.

.

.

.

.

~L3Y~

Lie, Life, and Love to You

_o0o_

Review?

~Sayaka Dini~

[12 Desember 2015]

.

.

.

.

_o0o_

Thanks to

Reviewers

(maaf, tidak bisa membalas satu-satu *muka sedih*)

_o0o_

A/N :: Mian, telat update, dan ada beribu typo yang nyelinap *Bow* (saya benar-benar terburu-buru ngerjakannya)

Dan hanya satu lagi yang ingin ku katakan...

Sampai jumpa di akhir chapter... menuju tamat.

Annyeong~