MASK
"Semua orang memakai topeng untuk kau cintai.
Jika kupakai topeng burukrupa, akankah kau mencintaiku?"
.
.
CHAPTER 14
.
.
.
.
"Saya Oh Sehun menerima Do Kyungsoo menjadi satu-satunya istri saya untuk saling menjaga dan menyayangi. Dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun suka, pada waktu sakit maupun sehat, sampai maut memisahka kita."
Sehun menggenggam tangan Kyungsoo erat dan menatap matanya lembut, "Giliranmu, Kyung!"
Kyugsoo semakin bingung, ia belum siap masuk dalam keluarga Oh tapi ia juga tak bisa membuat Chanyeol khawatir padanya sepanjang waktu dengan menolak menikah. Dengan menguatkan hatinya Kyungsoo mulai mengucapkan janjinya.
"S-saya Do Kyungsoo – "
DOORRRR! Suara tembakan terdengar membuat para tamu undangan menjadi riuh karena panik. Polisi sudah berjejer rapi mengepung altar. Kyungsoo merasakan tubuhnya ditarik dalam dekapan Sehun. Ia dapat melihat tangan kanan Sehun memegang pistol. Sehun melakukan tembakan untuk memberikan tanda.
"Maafkan aku, Kyung! Aku terpaksa melakukan ini, kemarin memang tujuanku agar aku dan Luhan bisa bersama tapi sekarang ini murni keingin seorang anak untuk appa-nya. Appa-ku harus membayar nyawa yang telah ia hilangkan," ucap Sehun.
"Kupikir kau membakar semua berkasmu," ujar Kyungsoo bingung.
Sehun tersenyum kearahnya, "Awalnya niatku begitu. Maaf aku juga tak bisa menikahimu. Luhan menelponku kemarin. Dia meminta maaf dengan tulus dan dia akan menerimaku jika aku mau kembali. Aku mulai goyah dan kau juga sepertinya tak siap menikah. Maaf, Kyung!"
"Aku yang harusnya minta maaf padamu. Karena aku yang membujuk Luhan untuk minta maaf padamu. Aku belum siap dan kau terus bersikeras menikahiku. Jadi aku pergi ke China beberapa hari, menghadiri pemakaman appa-nya dan menjelaskan semuanya yang telah kau lakukan selama ini untuk mempertahankannya. Termasuk lukamu yang parah itu."
"Appa-nya meninggal?" cicit Sehun kelihatan shock.
"Ya, tapi Luhan sudah memaafkan segalanya. Aku lega akhirnya kalian dapat bersatu kembali."
"Terima kasih, Kyung! Aku tidak tau apa yang harus kulakukan untukmu. Sebenarnya aku bersikeras memepertahankanmu karena – " Sehun tak dapat melanjutkan kalimatnya.
Suara Tuan Do mengalihkan perhatian Kyungsoo. Ayahnya memimpin penangkapan ini dengan anggota kepolisian lain di belakangnya untuk membantu mengamankan para tamu. "Kami dari kepolisian Seoul bekerjasama dengan kepolisian Beijing akan melakukan penangkapan pada Oh Jinhwan atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana kepada keluarga Zhang dan melakukan penipuan di China sehingga menyebabkan beberapa usaha kecil mengalami kebangkrutan,"
"Appa!" guman Kyungsoo tanpa sadar. Sehun tersenyum miring mengingat betapa susahnya menyakinkan Tuan Do untuk membantunya. "Aku bahkan dikatai anak durhaka oleh appa-mu dan memakimu karena berani mencuri berkas kasusnya. Tak kusangka appa-mu akhirnya mau membantuku."
Tuan Oh terlihat sangat terkejut, bagaimana tidak...dirinya di tangkap di tengah pesta pernikahan putranya sendiri, oleh calon besannya sendiri. Polisi mulai memborgol tangannya, ia menatap Sehun dengan pandangan tak percaya. Putranya yang ia besarkan tega memenjarakan dirinya.
"Kurasa appa-mu ingin mengatakan sesuatu. Pergilah kehadapannya!"
"Sekali lagi maafkan aku, Kyung! Akan kulakukan appa pun untuk mengurangi bebanmu dan aib yang kau dapat," ucap Sehun sangat merasa bersalah. Ia memeluk Kyungsoo dan mendaratkan kecupan panjang di bibir hatinya.
Sehun melepaskan Kyungsoo dari pelukannya sambil memberikan wejangan. Matanya sudah berkaca-kaca sekarang."Jangan terlalu percaya pada Chanyeol..."
Kyungsoo mengangguk.
"...dan jangan mau kembali pada Jongin. Anak itu harus di beri pelajaran."
Kyungsoo mengangguk lagi.
"Jika kau butuh suami, hyung-ku siap menerimamu!"
Ini ketiga kalinya Kyungsoo mengangguk namun kali ini ia membalas ucapan Sehun. "Akan ku pertimbangkan. Tapi aku sedang tak butuh suami sekarang."
Entah kenapa Sehun tiba-tiba menitikan air matanya sambil mengusap pipi Kyungsoo. Kyungsoo agak kaget bercampur bingung. "Padahal aku mulai menyukaimu, Kyung! Mungkin di kehidupan selanjutnya kita dapat bersama, itu pun kalau Jongin tidak mendahuluiku lagi."
Sehun menyeka air matanya, "Baiklah, sekarang giliranku meminta maaf pada appa-ku. Kau pergilah dekat Xiumin-ssi, aku sudah memberitahunya untuk menjagamu dari Kris. Dia datang hari ini."
Untuk kesekian kalinya Kyungsoo mengangguk lagi.
Sehun berjalan ke hadapan appanya dengan langkah berat. Menekuk kakinya hingga berlutut sempurna. Dengan pandangan menunduk Sehun mulai memberikan penghormatan sebagai permintaan maaf. Ia berlutut dan bersujud.
"Maafkan aku, appa! Appa selalu mengajariku bertanggung jawab atas apa yang ku lakukan. Ini saatnya appa mempertanggungjawabkan dosa appa sendiri. Aku tidak ingin appa terus mengancamku dengan melukai orang-orang di sekitarku."
"Kau pikir yang kau lakukan ini adalah hal benar? Hah? Tanpaku, perusahaan akan bangkrut. Banyak karyawan yang akan diberhentikan, kau pikir tindakanmu ini tidak merugikan banyak orang? Pikir lagi!" maki Tuan Oh pada Sehun.
"Aku bicara soal keadilan appa! Perusahaan bisa ku urus dengan hyung, atau tangan kanan appa lainnya...ini soal nyawa yang appa hilangkan. Apa appa tidak malu dengan mendiang keluarga Zhang?"
"Mereka yang menipu appa dulu! Tak akan appa biarkan yang berani main-main dengan keluarga kita. Ini semua kulakukan demi kebaikanmu dan hyungmu!"
"Aku tau appa! Aku tau...Tapi kali ini saja kumohon pertanggungjawabkan apa yang sudah appa lakukan. Maafkan aku menjadi anak yang tak tau di untung seperti ini, maaf appa!"
Suho yang juga datang hari ini melihat adiknya merendahkan dirinya sampai seperti itu. Walaupun ayahnya sudah ditangkap tapi ia bisa saja menggunakan kekuasaannya untuk membalikan semua fakta. Makanya Sehun sampai mengemis pada ayahnya untuk menyerah. Perasaan tidak tega melihat adiknya memikul beban sendiri. Suho pun ikut berlutut di samping Sehun.
Suho mulai bersuara, "Aku tidak tau apa a-appa...". Lidah Suho mendadak gagap memanggil ayahnya sendiri, selama ini ia sangat membenci ayahnya bahkan sudah tak menganggap Tuan Oh ayahnya lagi.
"Aku tidak tau apa aku masih Anda anggap sebagai anak. Tapi aku berlutut disini untuk adikku, Oh Sehun. Sampai detik ini aku belum bisa memaafkan Anda. Tapi jika Anda mau bertanggungjawab atas apa yang Anda lakukan, aku akan kembali untuk mengambil alih perusahaan sampai Sehun siap."
Tuan Oh tau sekali jika putra sulungnya ini paling tidak mau mengurus perusahaan. Yang ia khawatirkan hanya keluarga dan perusahaannya. Jika begini tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi. "Tolong tunjukkan aku jalannya!" pinta Tuan Oh pada polisi yang mengawalnya.
"Terima kasih, hyung!" ucap Sehun pada Suho yang ada di sampingnya.
Salah seorang anggota kepolisian mendatangi mereka berdua. "Tolong ikut kami untuk mempelancar penyelidikan, Tuan Oh Sehun dan Kim Suho! Kami butuh keterangan dari kalian berdua."
"Tungggu! Tunggu!" instrupsi Xiumin yang datang tergoproh-goproh. "Nona Do...Nona Do menghilang. Saya melihatnya dipaksa masuk mobil Kris, saya tak bisa mengejarnya namun saya bisa melacak melalui nomor plat mobilnya. Saya butuh bantuan Anda, Tuan muda Oh Sehun!"
"Maaf, tapi kami membutuhkan Tuan-tuan ini untuk penyelidikan. Kalau Nona Do Kyungsoo benar di culik, alangkah baiknya Anda melapor ke polisi. Kami punya banyak anggota yang siap membantu."
Raut wajah Xiumin jelas tergambar bahwa ia tak percaya pada pihak kepolisian. Sehun juga tau kerja kepolisian lambat dan tidak akan dapat menangkap Kris karena yang ia tau pihak kepolisian takut pada mafia sekelas Kris. Jika macam-macam keluarga mereka jadi incarannya. Mereka juga tak cukup bukti untuk menangkap. "Aku setuju, lapor pada appa Kyungsoo saja. Aku yakin beliau tidak membiarkan putrinya di culik. Walaupun aku tak bisa berharap banyak juga."
"Tapi – " Xiumin ingin menyela.
"Tenang saja, aku akan minta bantuan Jongin. Terpaksa." Ucap Sehun final. "Hyung, bisa kau ke kantor polisi duluan? Aku akan menghubungi Jongin dulu," pintanya pada Suho. Suho mengangguk mengiyakan. Ia percayakan semua pada adiknya.
Sehun memencet nomor telepon Jongin namun tak segera di angkat. Baru setelah panggilan ketiga kalinya akhirnya tersambung. "Apa, Albino jelek?" sapa Jongin tak bersahabat, maklmum saja Sehun memukulinya dan mengambil Kyungsoo darinya.
"Kyungsoo di culik Kris. Cepat cari dia!" perintah Sehun tanpa basa-basi.
"Kyungsoo! " pekik Jongin di sebrang sana diikuti bunyi benda jatuh. Sehun tidak tau benda apa itu, atau mungkin Jongin yang jatuh. Karena Sehun mendengar ringisan kesakitan juga.
"Bangun, HITAMMM ! Kau pasti sedang terjatuh dari tempat tidur!" caci Sehun. "Ya Tuhan, semoga keponakanku tidak sepertimu."
"Bukankah kalian sedang menikah, bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Cepat hubungi Xiumin-ssi dan cari Kyungsoo sampai dapat. Kris mungkin melakukan sesuatu yang buruk. Kau harus bergerak cepat sebelum menyesal."
"Berhenti memerintahku, brengsek! "
Sehun mengela nafasnya mencoba menahan emosinya. Ini keadaan mendesak, meladeni Jongin hanya membuang waktu. "Aku tidak jadi menikah. Apa ini cukup membuatmu bangun dari tempat tidurmu dan mulai mencari Kyungsoo?"
"Aku sudah bangun dan tergeletak di lantai, dasar albino bodoh! Punggungku patah sepertinya. Tapi tak masalah, aku akan menyelamatkannya dan membawakan payung! " ucap Jongin heroik.
"Kenapa pakai kau bawakan payung segala, bodoh! Kau pikir Kyungsoo sedang atraksi topeng monyet! " maki Sehun.
"Di luar gerimis bodoh!" maki Jongin balik.
Reflek Sehun melihat keluar, benar rupanya gerimis mulai mengguyur di luar altar. "Bahkan langit saja menangis di hari pernikahanku, " guman Sehun.
"Itu artinya kau sedang dikutuk karena menyakiti sahabatmu ini, " caci Jongin tanpa sengaja mendengar gumanan Sehun.
"Aiishhh... Kenapa aku masih menelponmu! CEPAT BERGERAKK BUKAN MALAH MENCACIKU DENGAN OMONGAN TAK BEERGUNAMUUUU!" teriak Sehun lalu menutup teleponnya.
.
.
MASK
.
.
Kyungsoo terbangun dengan keadaan tangan terikat di belakang, begitu juga pergelangan kakinya juga terikat kuat. Dirinya disandarkan pada tiang dengan posisi duduk di lantai yang masih terbuat dari semen bukan keramik maupun kayu. Keras dan berdebu. Mata bulatnya memandangi sekeliling, namun yang ada hanya kursi kayu usang yang di tumpuk di pinggir ruangan, tiang-tiang beton, atap yang jebol. Ini lebih seperti bangunan tak terpakai atau mungkin sebuah gudang tua.
Suara langkah kaki mendekatinya, membuat Kyungsoo berhenti mengobservasi sekelilingnya berpindah ke seseorang yang berjalan ke arahnya. "Chan!" panggil Kyungsoo senang menemukan Chanyeol disini. Namun perasaan senangnya seketika luntur ketika sadar Chanyeol tak datang sendiri.
"Kau terkejut?" tanya Kris sembari mengambil kursi untuk Chanyeol duduk.
Kyungsoo menatap penuh tanya ke Chanyeol yang sudah duduk dengan tenang. "Aku juga tawanan, bedanya aku tidak di ikat."
"Terlalu berbahaya meninggalkannya di rumahku, jadi aku bawa saja. Sekalian menemanimu disini, " jelas Kris.
Chanyeol menggeleng lemah dan bibirnya menyunggingkan senyum mengejek, "Dia takut jika aku di luar pengawasannya, aku menyusun rencana untuk menghianatinya...dan takut mati tanpa melihatku untuk terakhir kalinya. Menggelikan sekali bukan?"
"Perhatikan kata-katamu, Chan!" tegur Kris.
Kemudian Kris berjongkok di depan Kyungsoo agar sejajar dengannya. "Sebenarnya aku hanya ingin salinan file laptopku. Salah satu bawahanku mengatakan seseorang telah menyalin isi laptopku. Aku tidak bodoh kalau hanya menebak pelakunya."
"Jadi serahkan padaku. Maka kau akan ku bebaskan."
"Aku tidak tau apa yang kau bicarakan,"sahut Kyungsoo tak terima di tuduh.
"Hanya kau orang asing yang masuk kamarku," ujar Kris. "Maaf aku terpaksa melakukan ini. Tapi file itu akan berbahaya bagi kelompokku jika sampai ke tangan ke polisian."
"Sudah kubilang aku tak punya file apa pun" ucap Kyungsoo kesal.
"Baiklah mungkin sudah tak ada padamu, jadi mari kita tebak. Apa pada appamu? Hmmm.. Kurasa tidak, buktinya tidak ada yang menggerebek markasku. Pada Sehun? Atau Jongin? Atau pada sahabatmu ini?" Kris mengacungkan pistolnya pada Chanyeol.
"Tenang saja, Kyung... Aku sekarang susah terbiasa di todong seperti ini" ujar Chanyeol agar Kyungsoo tidak panik dan melakukan hal bodoh.
"Filenya masih ada padaku!" ucap Kyungsoo sambil membuang mukanya. Chanyeol berdecih tak suka dengan pengakuan Kyungsoo.
Kris berbalik menatap Chanyeol. "Kau bilang Kyungsoo sudah tak membawanya." Tangan Kris semakin menekan pistolnya ke kepala Chanyeol.
Chanyeol mengangkat bahunya dengan sangat santai. Tanda ia benar-benar tidak tau. "Mungkin dia berbohong."
"Jangan membuatku bingung. Katakan saja dimana file itu sekarang. Jika masih ada pada dirimu Nona Do, katakan dimana kau menyimpannya! Jika sudah kau berikan ke orang, katakan siapa orangnya! "
Kyungsoo masih tetap bungkam.
Kris memilih menurunkan pistolnya pada Chanyeol."Baik, mungkin aku tak bisa menggunakan Chanyeol untuk mengancamu lebih dari ini. Kau sangat tau aku tak sanggup membunuhnya. Jadi aku harus memaksamu dengan cara yang lain."
Kyungsoo dapat melihat Kris semakin mendekatinya. Tangannya melewati pahanya dan berhenti di daerah pribadi. Memasukan sesuatu ke liang kewanitaannya. Mata Kyungsoo yang bulat semakin membulat saat benda itu mulai melakukan tugasnya.
"Karena kau gagal menikah. Kurasa kau tak perlu memikirkan malam pertamamu. Jadi mari kubantu menyenangkanmu." Kris nenekan tombol 'on' pada remote dari vibrator tersebut dan terus menambah kecepatan getarannya.
""Ahhh sshhh.. A-aakhhhh," suara Kyungsoo tak mampu mengimbangi getaran yang ia terima. Apalagi bagian miliknya itu masih belum sembuh betul pasca insiden dengan Jongin.
"Semoga itu membuatmu buka mulut. Akan ku tunggu selama apa pun, sampai milikmu hancur pun akan ku tunggu, " ucap Kris sambil tersenyum licik.
"Akan ku tinggal sebentar. Tidak usah takut kesepian, anak buahku akan menungguimu disini. Jadi jangan takut memberikan tontonan erotis untuk mereka," lanjut Kris dibarengi beberpa pria berjas hitam masuk ke ruangan.
"Ayo, Fan!" ajak Chanyeol pada Kris untuk segera pergi. Di luar gerimis sudah menjadi hujan. Ini akan memperburuk situasi. Ini gara-gara dirinya yang tak segera menentukan dimana ia berpihak. Menyerahkan benda kecil itu ke Kris sama saja menghianati perjuangan Kyungsoo. Namun jika menyerahkan ke polisi, ia sungguh tidak mau Kris ditangkap. Ia sungguh ingin hidup bahagia dengan Kris.
Di area abu-abu memang lah tak pernah menyenangkan.
Kris membawa Chanyeol menyingkir di ruangan sebrang. Hanya ada satu meja berdebu dan Kris langsung menyuruh Chanyeol duduk di sana. "Kemarikan handphonemu!"
Chanyeol langsung menyerahkannya. "Kau mencurigaiku?"
"Ya." jawab Kris dengan tegas sambil menyuruh salah satu anak buahnya untuk menghancurkan handphone Chanyeol. "Mereka bisa melacak handphonemu."
"Cabut saja baterainya, kenapa harus di hancurkan?" tanya Chanyeol dengan nada tinggi. Masalahnya satu-satunya fotonya dengan Kyungsoo disana. Itu foto yang berharga untuknya.
"Meminimalisir kau menghianatiku. Memang kita belum cukup lama saling mengenal, tapi aku tau benar kau bukan pria jahat sepertiku. Kebalikan dari diriku."
"Jangan terlalu yakin dengan apa yang kau yakini. Jika aku orang baik, aku sudah menembak kepalamu dan membawa Kyungsoo pergi."
"Sangat di sayangkan kau tak melakukannya. Aku siap mati hari ini asal kau yang membunuhku. Apa pun yang kau katakan tak mengubah pandanganku tentang dirimu,"
Kris duduk di samping Chanyeol. Menghirup udara lembab karena hujan yang turun. "Kau tau kenapa aku seyakin ini?" Kris menoleh ke arah Chanyeol. Chanyeol menggeleng.
"Kita pernah bertemu sebelum ini, Chan. Kau pernah bertemu seorang pemuda dengan banyak luka di tubuhnya?"
"Ya, dia mungkin anak imigran gelap yang jadi gelandangan dan kebetulan kutemui. Apa itu kau?"
Kris tertawa sekilas. "Aku semenyedihkan itu rupanya. Bisa di bilang aku imigran ilegal. Eommaku orang China dia menyiksaku dan memaksaku berhubungan intim dengannya sampai akhirnya aku membunuhnya."
"Appamu - "
"Appa kandung ku orang Kanada. Dia tak menganggapku karena lahir dari seorang jalang. Eommaku simpanannya. Aku juga membunuhnya ketika menjualku ke Kanada. Aku berhasil melarikan diri ke Korea, hingga bertemu denganmu yang memberiku sweater hangat dan roti isi daging panggang."
"Well, ini klasik sekali. Tau begitu ku acuhkan saja dirimu."
"Setelah itu aku masuk panti, banyak yang memusuhiku karena aku bukan orang Korea. Sampai akhirnya ada orang China yang yang mengambilku. Dia membesarkanku menjadi mafia di kelompoknya. Kau tau selanjutnya pasti."
"Kau bertemu denganku lagi di kantor polisi dan menggunakan Kyungsoo sebagai umpanku. Kau tak yakin aku gay karena begitu dekat dengan Kyungsoo."
"Karena kedekatan kalian, aku juga meragukanmu kenapa menerimaku. Aku tidak tau motifmu, Chan."
Chanyeol tertawa renyah. "Keadaanku sama sepertimu, bedanya Kyungsoo bukan memberiku sweater hangat dan roti isi daging panggang. Melainkan dia memberiku cara pandang lain tentang diriku."
"Memang aku gay tapi saingan terberatmu tetap perempuan. Sebelum kita cari tau apa motifku, sebaiknya kau pastikan yang ini dulu." Chanyeol membawa tangan Kris menyentuh dadanya tempat jantungnya berdetak sekarang. "Agar jika salah satu dari kita mati, kita tak bertanya pada mayat seperti orang bodoh."
.
.
.
Entah sudah berapa kali Kyungsoo mengelijang dan menggeliat hingga mencapai puncak. Celana dalamnya pasti sudah basah kuyup karena cairannya sendiri. Tubuhnya jadi lemas. Para anak buah Kris diam-diam mengocok miliknya sendiri di balik celananya, melihat tawanan pimpinannya begitu menggairahkan ketika tersiksa.
Dari pandangan matanya yang mulai kabur karena lelah, Kris dan Chanyeol akhirnya kembali. Mereka berdua dalam mood yang tidak baik, Kyungsoo menduga mereka sudah bicara serius dan sedikit di bumbui sentuhan. Liat saja baju mereka yang sudah kusut.
"Kau terlihat akan pingsan setelah ini. Jadi lebih baik katakan saja dimana file itu sekarang! Aku sedang tidak dalam keadaan berpikir jernih, jadi jangan membuatku marah!" seru Kris pada Kyungsoo.
"Kalian pegangi Chanyeol! " teriak Kris pada anak buahnya. Chanyeol hanya menurut saja.
Kris mendekati Kyungsoo yang terkulai lemah. Mencengkram rahangnya kuat lalu berteriak, "KATAKAN ATAU KUSURUH SEMUA YANG DISINI MENGGILIRMU PAKSA!"
Kyungsoo tak bisa berucap dengan benar karena di dalam sana masih bergetar dan mengobok-obok paksa miliknya. Kris menekan tombol off untuk memberhentikan. Kyungsoo dapat sejenak istirahat dan mengatur nafasnya sekarang.
Bukan jawaban yang diterima Kris melainkan Kyungsoo malah meludah mengenai wajahnya. "CUIIHH! Kenapa tak membunuhku saja, huh? Aku sudah dengar semua perilaku bejatmu itu! Aku tak akan membiarkan kejahatanmu terus menambah korban!"
"Lalu kenapa tak segera bawa file itu lalu kau laporkan polisi? Kenapa kau malah membuatku menculikmu dan memaksamu buka mulut seperti ini? Sebenarnya apa rencanamu?" tanya Kris sudah marah di ubun-ubun tangannya meninju ke arah Kyungsoo.
BUGGG! Chanyeol yang kaget sampai tanpa sadar melangkah maju namun kedua tangannya tetap di pegangi. Ketika melihat tinjuan Kris hanya mengenai tiang di belakang Kyungsoo, Chanyeol kembali tenang.
"Tuan, ada banyak mobil polisi di bawah! Mereka sepertinya mencari nona ini." ucap salah satu anak buah Kris melapor dengan panik.
"Katakan pada mereka jika ada yang berani masuk ke gedung ini, Nona ini akan ku bunuh,"
Sementara anak buah Kris bersiaga dan menjalankan perintahnya. Dirinya kembali fokus ke Kyungsoo. "Baik.. Baik.. Jika kau tak mau bilang.. Lebih baik aku membunuhmu! "
Kris berjalan mundur dengan langkah pelan. Dengan jarak dirasa tepat, ia mulai mengangkat senjatanya. Chanyeol mulai kembali resah, apakah ini saatnya mengaku untuk menyelamatkan Kyungsoo?
"WU YIFANNN! JANGAN MAIN-MAIN!" seru Chanyeol memperingatkan.
"Bukankah dia sainganku, Chan? Dia juga yang membuatmu ragu ikut hidup denganku?" ujar Kris sinis. "Kalau dia mati, kau akan berlari kearahku,"
"Dia benar, Chan... Jika aku mati jangan merasa bersalah. Kau dapat hidup dengan Kris, aku tau kau menyukainya juga kan. Kau pernah bilang padaku kau ingin membangun keluarga sederhana namun bahagia kan? Kris menawarkan itu padamu, tunggu apa lagi?" kata Kyungsoo membuat Chanyeol semakin bimbang.
"KYUNGGG..!"
.
.
.
Di tengah hujan yang mengguyur, mobil polisi berjejeran mengepung di luar gedung tua tersebut. Para pria berseragam mulai bersiaga untuk melakukan penangkapan hanya tinggal menunggu komando dari Tuan Do. Namun Tuan Do tak juga memberikan arahan untuk masuk ke dalam gedung karena ancaman Kris yang akan membunuh putrinya.
"Sebenarnya apa yang dilakukan anak nakal itu sampai jadi incaran penjahat," gerutu Tuan Do kesal seraya memandangi gedung yang menjulang namun tak terawat itu, disana putrinya dalam bahaya.
Xiumin ingin sekali mendobrak masuk ke dalam, ia tak mampu menunggu lama lagi. Namun posisinya yang bukan anggota kepolisian yang bisa melakukan penangkapan secara legal membuatnya terus diam di dalam mobil. Sambil terus menghubungi Chanyeol.
Jongin yang datang terlambat akhirnya sampai juga. Melihat siluet Jongin, Xiumin melihat ada sedikit harapan. Tuannya yang keras kepala dan nekat, akan sangat membantunya dalam situasi ini. Xiumin langsung menghampirinya.
"Tuan Kim Jongin - " ucapan Xiumin langsung terpotong. "Langsung saja intinya! Dan kenapa orang-orang ini hanya berdiam diri?" potong Jongin yang datang dengan pakaian serba hitam lengkap dengan jaket anti air dan topi hitam.
"Kris meminta kita tak boleh memasuki gedung, jika kita masuk mereka akan membunuh Nona Do Kyungsoo, "jelas Xiumin. "Saya juga melihat dari teropong bahwa sekarang Kris mengacungkan pistolnya pada Nona Do,"
"Berikan aku pistol dan peluru!" pinta Jongin. Xiumin menyerahkan pistol dan hanya 5 peluru pada Jongin. "Jangan boros peluru, apalagi kau tak punya ijin."
Jongin memasukan peluru ke pistolnya lalu berjalan dengan mantap menembus barisan polisi. Ketika akan memasuki pelataran dekat gedung, seorang berpakaian polisi mencegahnya. Ia tak tau siapa, tapi mungkin itu komandan mereka.
"Mau apa kau, nak? Kau mau nona Do mati gara-gara ulah sembronomu ini?" ucap polisi itu sambil menarik kaos bagian lehernya.
Jongin langsung memberikan kuncian dan membanting polisi malang itu. Sontak Jongin menjadi pusat perhatian para polisi disana termasuk Tuan Do yang berdiri dengan dipayungi anggotanya.
"APA DENGAN KALIAN BERDIRI DISINI, KYUNGSOO TAK AKAN DI BUNUH? KALIAN PERCAYA UCAPAN SEORANG PENJAHAT?" teriak Jongin mencoba menyaingi suara hujan yang mengguyur dan begitu berisik.
Mereka semua terdiam.
"Kami sedang memikirkan cara yang tepat tanpa melukai banyak orang, nak! Jadi jangan gegabah mengambil tindakan, tunggu waktu yang tepat!" suara Tuan Do membalas ucapan Jongin.
"TOLONG KATAKAN SAMPAI KAPAN SAYA HARUS MENUNGGU?"
"Aku tidak tau siapa kau sampai berani senekat ini. Nyawa putriku taruhannya disini, jadi jangan main-main."
"SAYA KEKASIH PUTRI ANDA! SAYA JUGA MENYAYANGI PUTRI ANDA, JADI TOLONG IJINKAN SAYA MASUK KE DALAM! SAYA TAK BISA HANYA DIAM DISINI TAK MELAKUKAN APA PUN, SEDANGKAN PUTRI ANDA DI DALAM SANA SEDANG BERMAIN DENGAN MAUT "
Tuan Do menagkap perasaan frustasi dalam suara Jongin. Pemuda itu bahkan mengiba padanya. "Setauku putriku hanya dekat dengan Sehun. Dia juga tak punya kekasih. Aku hanya ingin bertanya, jika putriku satu-satunya meninggal karena ulahmu ini, apa kau dapat siap bertanggungjawab?"
"ANDA BOLEH MEMBUNUH SAYA SEBAGAI GANTINYA."
"Baik, aku bisa lakukan itu nanti. Tapi kau tak punya pasukan, nak! Aku juga tak mau mengorbankan anggotaku, "
Xiumin mulai ambil bagian dia mendekati Tuan Do lalu berkata, "Saya dan rekan-rekan saya akan membantu Tuan Jongin. Saya di tugaskan melindungi tuan saya," ucap Xiumin sambil memberikan hormat.
"Aku juga akan ikut, Xiumin-ssi, " suara Sehun yang baru datang. "Saya berhutang banyak pada putri Anda, Tuan Do... Jadi biarkan saya membalas kebaikan putri Anda. Dan maaf perihal gagalnya pernikahan."
Tuan Do tersenyum simpul. "Jadi pemuda itu yang disukai Kyungsoo?" tanyanya sambil menatap Jongin yang seperti serigala liar yang tak sabar berburu.
"Ya, Anda benar sekali." Sehun mengangguk mengiyakan. "Tapi Anda jangan percaya jika dia mengaku kekasih Kyungsoo," tambah Sehun.
"Kalau begitu masuklah dan bawa putriku dengan selamat. Beri tanda jika butuh bantuan."
"Saya mengerti." ucap Xiumin dan Sehun berbarengan.
"Dan tolong, bantu pemuda itu... Jangan biarkan dia mati juga."
"Maaf Tuan Do, walaupun tuan saya serampangan dan seenaknya sendiri. Juga dimanja oleh Tuan Kim tapi saya pernah mambantu Tuan Jongin menyelamatkan putri Anda di klub malam. Tuan Jongin yang sebagian besar menghabisi lawan dengan tanpa senjata," ujar Xiumin sedikit menyanjung Jongin agar memperlancar tuannya itu mengambil hati Tuan Do.
"Baiklah, aku paham maksudmu Xiumin-ssi. Akan kupertimbangkan tuanmu itu."
Setelah itu mereka berdua pamit lalu menghampiri Jongin yang sendirian di tengah anggota kepolisian. "Jangan salah sangka. Aku meminta bantuanmu kesini bukan berarti aku sudah memaafkanmu atas apa yang kau perbuat pada Kyungsoo. Tapi mari kita singkirkan itu dulu, Kyungsoo membutuhkan kita sekarang!" ucap Sehun merangkul Jongin.
"Aku semakin curiga pada hubungan kalian berdua," guman Xiumin.
"Xiumin-ssiiiii!"
.
.
.
Rombongan kenegaraan ikut hadir dalam peristiwa ini. Siapa lagi kalau bukan Bapak perdana menteri yang kehilangan putra semata wayangnya. Jongin meninggalkan pesan pada kepala maid bahwa dirinya akan keluar sebentar. Tentu Tuan Kim langsung tau jika putranya sedang mencari Kyungsoo yang di culik.
"Tuan perdana menteri Anda tidak seharusnya disini. Disini sangat berbahaya." ungkap pengawalnya sembari memayungi. Tuan Kim tak menghiraukannya, ia malah menghampiri Tuan Do yang berdiri di barisan paling depan.
Mendengar ada keributan di belakang Tuan Do langsung menengok dan mendapati seorang perdana menteri jauh-jauh kesini menghampirinya, di tengah hujan seperti ini. Dirinya langsung membungkuk memberi hormat. "Apa kabar Tuan Perdana Menteri? Saya sedikit terkejut mendapati Anda di tempat berbahaya seperti ini."
"Aku turut berduka atas acara pernikahan putrimu dan penculikan ini."
"Terima kasih atas perhatian Tuan."
"Aku kemari hanya untuk mencari putraku. Apa kau melihat pemuda berkulit tan, cukup tinggi, matanya tajam, aku sebenarnya tidak mau mengatakan ini... Putraku terlihat punya aura seksi model majalah porno."
"Mmm.. Itu.. " Tuan Do bicara sambil menunjuk ke arah bangunan, ia bingung harus mengatakan apa. Akhirnya Tuan Do memilih membungkuk minta maaf. "Maaf, saya tidak tau kalau dia putra Anda. Kalau saya tau - "
"Aku mengerti. Kau larang pun, dia akan tetap masuk ke dalam sana."
"Joesonghamnida, Tuan perdana menteri!"
"Aku yang harusnya minta maaf, putraku membuat berita miring sebelum pernikahan putrimu."
"Maaf saya tidak sempat membaca berita belakangan ini. Apa hubungan putriku dengan putramu begitu dekat? Sehun memang memberitahuku putriku menyukai pemuda.. Mmm maaf maksudku putramu. Tapi saya tidak mengira kalau yang dia sukai adalah putra perdana menteri."
"Nama putraku Kim Jongin. Kau bisa mencarinya di artikel berita, kurasa mereka cukup dekat sampai ada gambar mereka berdua di majalah gosip. Sebenarnya aku sedikit senang putrimu tak jadi menikah, dengan begitu kita bisa berbesan."
Tuan Do memasang wajah kaget. "Ya Tuhan apa yang dilakukan anak itu, kenapa berani-beraninya menyukai anak perdana menteri, apa tak ada pria lain?" rutuknya lirih.
Ehem! Tuan Kim berdehem keras. "Aku memaksa!"
"Begini putri saya tidak secantik dan dia keras kepala. Anda tidak tau bagaimana tingkahnya di luar, saya saja sampai pegal memarahinya. Saya tidak mau Anda menyesal memilih putri saya."
"Mau bagaimana lagi, putraku - " Tuan Kim menengok kanan kiri lalu berbisik ke telinga Tuan Do. "Putraku sudah mengambil keperawanan putrimu," bisiknya.
"MWOO !"
"Mian !" ucap Tuan Kim bernada menyesal sambil menepuk-nepuk punggung Tuan Do.
Tuan Do memijat pelan pelipisnya. Dia sangat pusing sekarang. "Aku tidak tau kenapa putramu se-blak-blakan itu menceritakan perihal tabu seperti itu pada appanya."
"Aku mengajarinya untuk selalu terbuka padaku maupun eommanya. Ku akui ia salah tapi ia tetap putraku. Kesalahannya tak luput dari peranku. Jadi kuharap putraku kau perbolehkan mempertanggungjawabkan kesalahannya."
"Tentu, saya sangat terhormat bisa mempunyai besan orang terhormat seperti Anda."
Tuan Kim menyunggingkan senyumnya. "Kuharap mereka berdua keluar dengan selamat. Dengan begitu aku segera menimang cucu. Apa putrimu belakang ini mual-mual, pusing, lelah, letih, lesu, lunglai?"
"Kami hidup terpisah tapi sepertinya Kyungsoo baik-baik saja bahkan ia pamit melakukan penerbangan ke China sebelum menikah. Kurasa dia sehat...sangat sehat malah." ucap Tuan Do yakin.
Tuan Kim mengangguk-angguk dengan wajah kecewa.
"Apa puteramu belakang ini mual-mual, pusing, lelah, letih, lesu, lunglai?" tanya Tuan Do balik untuk membalas perhatian Tuan Kim pada puterinya.
"Tidak, dia sehat. Jika dia mual, aku akan menyeret Sehun untuk menikahinya."
Tuan Do tak bisa berkata-kata lagi.
.
TBC
.
.
Note:
Gimana udah bingung belom?
Sepertinya bang Jongin harus banyak bersabar untuk beberapa chapter kedepan, orang sabar disayang mantan... Eh(?) Malang nian nasibmu, bang... Udah ngga dibikinin sub unit, di tinggal Chanhun, di ff saya nistain lagi. *puk puk online*
Btw mau end di chapter ke berapa? Ngrasa ngga sih, nih ff panjang bgt kek drama saeguk yang ngga kelar-kelar? Di tunggu jawabannya.
Selamat bermalam mingguan dengan kekasih tercinta. (‿)
