Title: Black Angel
Summary: Sebuah dunia dimana North muda adalah pemburu, dan sang Nightmare King benar-benar hanyalah malaikat bersayap hitam yang diburu.
Pairing: hint of past OC/Pitch, YoungNorth/Pitch, one-sided Sandy/Pitch, Aster/Jack, OC/OC, Sandy/Tooth.
Rate: T. Tidak untuk lama lagi. Nais.
Disclaimer: Bukan yang saia. Lol.
Bacotan: no offense, but…
Zarya is bae and I want her to crush my head with her biceps. Pass it on.
Ahueh. Happy reading~!
Wajah Mariah tidak pernah terlihat senang sejak Ascott mulai membawanya ke perburuan, padahal Mariah tidak perlu khawatir! Dirinya adalah pemburu yang handal dan dia akan selalu baik-baik saja. Sungguh. Wanita itu terlalu perasa saja.
"Nicholas, akan kuberikan kau ini," bisik Mariah suatu hari, jauh dari tenda Ascott yang dipenuhi oleh pemburu-pemburu setengah mabuk yang merayakan tangkapan mereka hari itu. Mungkin Mariah akan memberikannya permen, atau kue. Ascott jarang mengizinkannya memakan itu dan mereka berdua akan berada dalam masalah besar kalau ketahuan.
Wanita itu menyerahkan sebuah kantung kain padanya. Jantungnya berdebar, membayangkan rasa manis yang sebentar lagi akan memenuhi mulutnya, tetapi apa yang dia temukan dalam kantung itu bukanlah permen. Ataupun kue.
"Apa ini, Mariah?"
"Ini salah satu dari sedikit hartaku, milyy moy, dan aku ingin kau memilikinya."
Kristal-kristal panjang berwarna-warni yang tampaknya berubah warna itu memukaunya. Ini jauh lebih baik dari permen. "Kau benar-benar memberikan ini padaku?"
"Iya, sayangku. Tapi berjanjilah satu hal."
"Apapun, Mariah!"
"Jangan biarkan Ascott tahu kau memilikinya. Dan rahasiakan setiap kepergianku darinya."
Dia mengangguk dan menatap Mariah menunggangi kuda kesayangannya jauh ke dalam hutan.
Kian hari dia semakin marah, dan kian hari Mariah terlihat semakin lelah. "Aku tidak suka kau berburu, nak."
"Aku akan berhenti kalau Ascott membiarkan aku membunuh satu saja malaikat."
"Tidakkah kau lelah menyimpan dendam, Nicholas?"
Dia memandang mata biru Mariah. "Itu satu-satunya dorongan hidupku."
"Oh, Nicholas… Kolya moy, aku berdoa agar kau menemukan kedamaian." Mariah kemudian menaiki Petrov, hartanya satu lagi. "Dendam tidak akan membawamu kemana-mana selain kehancuranmu dan orang-orang sekitarmu, milyy moy. Jangan biarkan matamu buta olehnya. Cukup Ascott saja." Dengan itu, Mariah pergi meninggalkannya, sendiri dan meluap dengan amarah.
Mariah tahu apa? Dirinyalah yang kehilangan orangtua karena malaikat! Oh, makhluk-makhluk terkutuk itu…!
"Nikka, dimana Mariah?"
"Aku tidak tahu, Ascott, dia menunggangi Petrov dan pergi ke arah itu," jawabnya kesal sambil menunjuk arah hutan tempat Mariah pergi, tidak tahu dia baru saja menentukan nasib wanita yang membesarkannya itu.
"Apa yang kau lakukan, Ascott?!"
"Malaikat terkutuk telah menghasut Mariah, Nikka, aku tak punya pilihan lain."
"Kita tidak seharusnya menyakiti manusia!"
"Dia akan membebaskan malaikat yang akan kita bunuh. Ini untuk kebaikan kita semua, nak."
Wanita itu terbaring di atas tanah, di tengah-tengah genangan darahnya yang semakin melebar. Napasnya tersengal dan terdengar bunyi kumur tiap tarikan napasnya, bersamaan dengan keluarnya buih-buih darah dari luka menganga di dadanya.
Ascott berbalik dan beranjak pergi diikuti oleh pemburu-pemburu lainnya, darah menetes dari pedangnya sepanjang langkahnya.
"Nicholas… Kolya moy…"
"Aku disini Mariah… kau akan baik-baik saja… kumohon, jangan tinggalkan aku…"
"Sayangnya waktuku… sudah tiba, nak…"
"Jangan…"
"Berjanji…lah… berjanjilah padaku, milyy moy…?"
"Apapun, Mariah… apapun."
"Di balik… di balik hutan ini… temukan dia…"
"Siapa…?"
"Kebenaran… Nicholas… kebenaran ada di balik hutan ini… temukan dia… kumohon…"
"Sudahlah, Sandy, kau tahu dari awal kau memang tidak punya kesempatan."
Lucu sekali baginya melihat Sandy setengah berbaring di meja sambil terus-menerus menenggak anggur dengan teman-temannya mencoba menghentikannya. Dia memang bilang Sandy mirip dengan tunangan Pitch yang sudah mati, tapi dia tidak menyangka prajurit terlalu polos satu itu malah benar-benar menggunakan alasan itu untuk menyatakan cintanya.
"Lalu… lalu dia bilang kami sebaiknya tetap berteman saja, Leroy… aku tidak tahu aku salah dimanaa…"
"Hey, Pendek, ketika aku bilang kau mirip dengan Artia, bukannya aku menyuruhmu menyatakan cintamu pada Pitch."
Lalu Sandy terisak lagi. "Dia bilang dia tidak mau tidak adil padaku… Nooorth… kenapa patah hati rasanya sesakit ini?"
Ini menyedihkan. "Pendek—Sandy, kuberikan kau ini sebagai terima kasihku karena sudah melepas belengguku." Dia mengeluarkan botol dari kantong mantelnya. "Nih, arak tua yang dibuat oleh petapa gunung Mueller. Kujamin cukup kuat untuk membuatmu melupakan sakit hatimu."
Sandy menatapnya tidak yakin.
"Ayo coba minum."
Memutuskan bahwa mati keracunan arak bukanlah hal terburuk yang bisa terejadi padanya hari ini, Sandy langsung meneguk habis isi botol itu, mengecap lidahnya sedikit, lalu jatuh tak bergerak.
"North! Dia mati!"
"Bukan mati, temanku, dia tidur."
"Apa itu benar-benar arak?"
"Bahaha! Kau percaya? Air rendaman bunga belladona. Obat tidur ampuh."
"Oh."
Sandy tidak bergerak, hanya sesekali bergumam tidak jelas dalam tidurnya. "Setidaknya dia tidak ribut lagi dan kita bisa pulang sekarang," desah Leroy sambil memapah Sandy yang benar-benar seperti beban hidup di pundaknya keluar dari bar.
"Terima kasih kembali!" seru North pada prajurit itu. Lalu dia memandang botolnya yang kosong. Sepertinya malam ini dia harus mencoba tidur tanpa bantuan obat tidurnya sambil berharap mimpi buruknya yang terus berulang tidak akan menghampirinya malam ini.
Mariah memandangnya dengan rongga mata yang kosong dan meneteskan cairan kental bergumpal berbau amis. Lucu, dia masih bisa merasakan amarah dari rongga kosong dan berbelatung itu.
"Kau membiarkanku mati!"
Napasnya tercekat. Dia tidak bisa membalas.
"LIhat?!" teriak wanita itu, berkali-kali menikam dadanya sendiri dengan kuku-kuku panjangnya yang berkerak oleh darah. Dagingnya yang terlihat membusuk tercabik dan bergelantung pada tangan kurus itu. "Kau membunuhku!"
Matanya panas.
"Argh! Aku mendoakan kedamaianmu dan ini balasanmu?! Ini salahmu!"
"Maafkan aku…"
"Maafmu tidak akan membangkitkanku! Anak tidak tahu diri!"
"Mariah… Mariah, maafkan aku…"
Dia terbangun oleh sentuhan dingin di pipinya yang langsung dia tepis. Keringat membasahi tubuhnya meskipun udara kamar dingin minta ampun dengan salju yang mulai menumpuk di luar. Napasnya tersengal, dadanya sesak, nama Mariah terus bergulir dari mulutnya, disertai isakan kecil. Dia merasa lemah, tak berdaya, dan kecil.
"North…"
Menyedihkan sekali. Dia menangis di depan buruannya dan buruannya mengasihaninya. Tangan lentik pucat kembali mencoba meraihnya, kali ini dia tidak menolak, sedikt mendesah dengan rasa sejuk pada wajahnya. Pitch menimang kepalanya, sesekali membelai rambutnya, bisikan-bisikannya lembut dan entah kenapa terasa familiar. "Ys ka rhea muyh," bisik si malaikat, "im shur ys ka rhea muyh."
Dimana dia pernah mendengar itu?
Ah.
"Ys ka rhea muyh," bisik Mariah menenangkannya ketika dia terbangun tengah malam oleh mimpi buruk yang tidak bisa dia ingat. Itu satu-satunya saat Mariah tidak menggunakan bahasa ibunya atau bahasa yang mereka gunakan sehari-hari. "Im shur ys ka rhea muyh."
Dia tidak pernah tahu apa artinya, dan darimana asal bahasa itu, tapi kalimat itu selalu berhasil menenangkannya dan menghalau mimpi buruknya kala dia kembali tertidur, dan itu cukup untuknya saat itu.
"Apa artinya?" gumamnya lemah setelah isakannya berhenti, saat kantuknya kembali menyerang.
Sayup-sayup terdengar suara Pitch menjawab; "Kau akan baik-baik saja."
"Aku berjanji kau akan baik-baik saja."
Napasnya terpotong oleh rasa berat yang menekan lehernya. Cekikan lagi. Sudah keberapa kalinya bulan ini? Cekikan itu selalu datang kala dia tertidur lelap lalu menghilang begitu saja. Apa dia sebaiknya khawatir suatu hari nanti akan tiba waktunya cekikan itu meremukkan lehernya?
Napasnya kembali bersamaan dengan terdengarnya desahan kecewa, diikuti oleh langkah yang menjauh darinya.
Mungkin nanti, putusnya; dia akan khawatir saat cekikan itu kembali erat.
Dengan sebuah napas yang kembali lega, Pitch kembali tertidur.
Matanya terbuka lebar memandang langit-langit kamar, jantungnya serasa mau loncat dari mulutnya. Oh, mimpi terkutuk itu telah membangunkannya lagi, seperti malam-malam sebelumnya. Berharap mimpinya takkan kembali lagi hanya dengan sedikit bisikan seorang malaikat nampaknya terlalu muluk. Menyesal dirinya telah memberikan obatnya pada Sandy minggu lalu.
Dan seperti malam-malam sebelumnya—sejak mimpi buruknya kembali menghantui—dia berkeliling rumah Tooth yang besar itu, berharap dirinya akan cukup lelah saat kembali tidur agar pagi langsung tiba. Tidak banyak yang bisa lakukan selain itu. Sayang sekali rumah sebesar ini begitu kosong. Apa gunanya, coba?
"Dulu sekali, moyangku punya banyak anak, jadi dia membangun rumah agak besar biar semuanya tinggal bersamanya."
Oh, ya. Benar.
Harus kemana dia sekarang? Di dapur, toples kue sudah kosong melompong. Mungkin ulah Jack. Karena dia anak bandel. Susu juga sudah habis, gelas terakhir diminum Seraphina tadi pagi setelah mengalahkan Nightlight bermain suit. Dan dia sedang tidak ingin minum teh.
Apa dia sebaiknya mencoba tidur lagi?
Tangga yang terbuat dari kayu berderit di bawah pijakan kakinya, bergema memenuhi rumah itu, menambah kesan suram yang disebabkan oleh kurangnya penerangan dari lampu minyak yang sudah padam. Dari jendela terlihat salju yang kembali turun dengan deras. Pantas saja hari ini dingin sekali.
Dia sampai ke anak tangga paling atas, di sebelahnya terlihat pintu kamar Pitch yang dibiarkan terbuka, seperti biasa. Malaikat itu cari mati.
Dengan mudah dia memasuki kamar itu, mendekati ranjang tempat Pitch terbaring tanpa pertahanan. "Kak glupo," gumamnya seraya membungkuk di atas malaikat itu dan melilitkan jemarinya ke leher Pitch, seperti yang sudah rutin dia lakukan selama sebulan ini.
Kenapa diriya tak kunjung berani meremukkan leher kurus itu?
Dia tidak bereaksi apa-apa ketika sepasang mata emas terbuka, menatap balik mata birunya.
"Ternyata memang kau…" gumam Pitch dari bawahnya. "Sebulan terakhir ini, seseorang masuk kemari dan mencekikku tiap malam."
"Kau sadar?"
"Ya, dan aku sadar cekikannya tidak cukup untuk membunuhku."
North mendengus lalu tertawa miris. "Setiap malam aku kemari, setiap malam juga aku mencekikmu, dan tiap kali aku merasakan lilitan tanganku semakin kendur. Katakan padaku, dengan apa kau mengutukku?"
"Tidak ada kutukan apa-apa."
"Lalu apa ini?"
Sungguh malang, wajah pemuda itu dipenuhi oleh amarah, benci, serta ragu yang becampur menjadi satu; air mukanya persis seperti anak tersesat yang mencari jalan pulang.
"Apa kau masih membenci malaikat, Nicholas?"
"Dengan seluruh jiwa dan ragaku."
Tangan Pitch menggamit tangannya yang lepas begitu saja dari leher pucat itu, membawanya naik ke pipi tirus si malaikat. "Bagaimana denganku? Bukan aku sebagai malaikat, tetapi diriku sebagai Pitchiner."
Kening North berkerut, dia terlihat lelah dan terkoyak oleh dilema. "Apa kau tengah merayuku?"
"Apakah berhasil?"
Setelah sebuah diam yang berkepanjangan, si pemburu membungkuk, bibirnya sedikit bersentuhan dengan bibir Pitch. "Dengan sangat menakutkan," jawabnya sebelum menyatukan bibir mereka.
Angin bertiup, menutup pintu kamar yang biasanya terbuka, seakan-akan memberikan persetujuan atas apa yang akan terjadi berikutnya.
Suara ciuman dan gemerisik kain dengan kain menggantikan kata-kata, sesekali diselingi oleh desahan ketika panggul mereka bertemu dan bergesekkan. Satu-persatu pakaian ditanggalkan dan terlupakan di lantai dingin.
Lengan Pitch melingkari lehernya, kepala menengadah, membiarkan leher jenjang itu terbuka dan menerima ciuman-ciuman darinya. Tangannya perlahan menyusuri tiap ruas tulang punggung malaikat dalam pelukannya, lalu dia berhenti ketika menyentuh bagian kulit yang terasa seperti jaringan parut.
Sayap.
"Sesaat kukira kau tidak mau kembali karena kehilangan niat balas dendammu, Nicholas."
Dia mendorong Pitch jauh-jauh, wajah malaikat itu terkejut dan sedikit risau.
"Nicholas…?"
North menggelengkan kepalanya, "Tidak, ini tidak benar… aku hanya tidak sedang berpikir lurus." Dia lalu turun dari ranjang yang mulai memanas, memunguti pakaiannya di lantai dan cepat-cepat keluar tanpa berbalik lagi.
Pagi tiba dan dia masih tidak kunjung tertidur. Jantungnya masih berdebar cepat kalau dia mengingat hal bodoh yang dia lakukan semalam. Dia sebaiknya pergi dari tempat ini sebelum terjerumus lebih dalam. Tinggal lama-lama disini tidak akan membuahkan hal baik.
Buru-buru dia mengganti bajunya dan memakai mantel merahnya kesayangannya, lalu berjalan menuju rumah Sandy.
Sandy tidak terlihat senang terbangun oleh bunyi gedoran pintu yang brutal dan melihat wajahnya pagi-pagi, tapi tetap saja mempesilakannya masuk dan membuatkan secangkir teh.
"Jadi, ada apa kau pagi-pagi kesini?"
"Kau ingat pertemuan kita dengan Ascott waktu musim gugur lalu?"
"Uh-huh. Meskipun aku tidak ingin mengingatnya."
"Bagus. Apa kau bisa membiarkanku kembali padanya secepat mungkin?"
Si pirang mengernyit. Dia mengingat benar ancaman Ascott saat itu. "Tapi bukankah sekarang terlalu cepat? Kau sebaiknya pergi saat akhir musim dingin. Dia janji memberikanmu beberapa bulan kan?"
"Sandy, teman pirangku, bahkan aku tidak bisa memastikan dia akan menepati janjinya."
Setelah memepertimbangkan satu dan lain hal, Sandy menghela napas. "Baiklah. Kapan kau akan pergi?"
"Malam ini."
Makan malam hari itu terasa canggung.
Tidak ada seorang pun yang berani memecah keheningan di ruang makan. Nyaris semuanya cepat-cepat menyelesaikan makanan mereka dan membawa piring kotor mereka ke dapur, lalu mempersiapkan diri untuk tidur.
Hanya tinggal dirinya dan satu malaikat yang mengunyah makanannya lebih lama dari siput merayap di atas tanah kering.
"Aku akan pergi dari sini secepatnya."
Malaikat itu mengangkat wajahnya yang dari tadi terpaku pada piringnya. "Oh?"
"Aku sudah bicara pada Pen—Sanderson."
"Apa katanya?"
"Dia memberiku izin."
"Begitukah?"
"Apa kau marah padaku?"
Pitch berhenti mengunyah. "Marah? Tentang apa?"
"Kemarin malam."
Sang malaikat menghembuskan napas. "Kau sudah bilang kau tidak sedang berpikir lurus saat itu. Kurasa aku tidak punya alasan untuk marah."
"Lalu kenapa kau merengut?"
Pitch tidak menjawab, hanya sedikit mempercepat makannya, lalu pergi dari ruangan itu.
Semua telah tertidur, penghuni rumah ini maupun kehidupan desa di luar, membiarkan diam mengisi malam itu dan membiarkan kebiasaan buruknya mengambil alih; berpikir terlalu cepat dan membaca terlalu dalam segala macam yang terjadi padanya. Benaknya terus bertanya; apakah Artia tengah mengutuknya karena telah melupakannya dan jatuh hati pada seorang pemburu malaikat yang sudah merebut banyak nyawa kaumnya?
Tidak. Kutukan bukan keahlian malaikat bersayap putih seperti Artia-nya.
"Kalau aku tidak bisa tinggal di langit bersamamu, aku tidak perlu tinggal di langit lagi."
Tolol. Itu membuatnya terbunuh. Membuat Katherine-nya terbunuh.
Dadanya terasa ngilu.
"Aku ingin menamai anak kita 'Katherine'. Dan aku berharap semua ini sudah selesai ketika dia lahir."
Katherine bahkan tidak pernah selesai bertumbuh.
Salju bertumpuk tinggi di luar. Seperti malam Artia berhenti bernapas dan tak kunjung membuka mata. Seperti malam dia tidak merasakan lagi kehidupan dalam rahimnya.
Sebuah ketukan mengganggu angannya. North berdiri di ambang pintunya. Dia benar-benar harus menghentikan kebiasaannya membiarkan pintu terbuka.
"Ada apa lagi, North? Kau sebaiknya bersiap tidur."
"Kau ingat aku bilang aku akan pergi secepatnya?"
"Ya?"
"Maksudku adalah secepatnya. Aku akan pergi sekarang."
"Oh."
Pemuda itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Kau keberatan mengantarku ke gerbang desa?"
Dia keberatan. Hatinya masih belum puas merajuk. Tetapi dia mengangguk. Ini mungkin akan menjadi terakhir kalinya mereka bertemu. Dan walaupun dia benci, separuh hatinya tahu dia akan merindukan North untuk waktu yang lama. Tolol.
Keduanya berjalan dalam diam. Desa itu sudah gelap, tak ada sumber penerangan kecuali beberapa lentera yang menerangi gerbang tak berpenjaga. Sandy menyuruh mereka tidak menjaga malam itu. Dan North berterima kasih akan hal itu. Lebih sedikit wajah familiar yang mengantar kepergiannya, lebih baik.
"Kurasa ini akhirnya?"
"Ya. Ini akhirnya."
Pitch berbalik untuk pulang. Tugasnya mengantar North sudah selesai.
"Pitchiner!"
Tubuhnya dingin dan dia sungguh ingin pulang dan segera memulai mencoba melupakan North. Tidak puaskah pemburu ini menyiksanya? "Apa?"
"Aku tidak pernah berbohong. Tidak padamu."
"Aku tidak pernah bilang kau berbohong."
"Maka percayalah; aku tidak membencimu," ujar North, "aku tidak membenci Pitchiner."
Dia berbalik, menatap wajah North yang sama tersiksanya. Itu hal terdekat dengan pernyataan cinta yang bisa dia dapat dari North. Tapi memangnya apa artinya? Dalam kehidupan lain, mungkin, mereka bisa bersatu. Tapi tidak di kehidupan ini. Hidup tidak pernah semurah hati itu.
"Kau hanya sedang tidak berpikir lurus, North."
"Mungkin."
"Kau akan berubah pikiran begitu kakimu melewati gerbang ini."
"Aku tidak bisa menyangkal kemungkinan itu. Tapi saat ini, aku yakin aku tidak membencimu."
Dia sedikit tertawa, mencoba membohongi tubuhnya agar tidak meneteskan airmata. Hatinya teriris-iris. Dia harus membalas apa?
"Udaranya semakin dingin," akhirnya dia bersuara setelah yakin matanya takkan mengkhianatinya.
"Ya, semakin dingin."
Aneh, apa yang harus mereka ucapkan satu sama lain di keadaan ini? Sama seperti Pitch tidak pernah berpisah dengan seorang pemburu yang tidak sedang mencoba membunuhnya, North tidak pernah berhadapan dengan malaikat yang akan dia biarkan bebas. 'Selamat tinggal' terasa pahit sementara 'sampai jumpa' tidaklah tepat; keduanya tahu apa yang akan terjadi kali berikut mereka bertemu.
"Ambil ini," ujar North memecah diam mereka, menanggalkan mantel merahnya dan melingkarkannya pada pundak bergetar malaikat di hadapannya, "Kau bisa mati kedinginan kalau tidak. Dan ya, aku punya cadangan, jangan khawatir denganku."
"Terima kasih, North, tapi kurasa aku tidak cocok dengan warna merah."
"Hah! Omong kosong, siapapun terlihat bagus dengan merah!" balasnya. Sesaat kemudian, mulutnya terbuka kembali, "Kau terlihat bagus dengan merah."
Lalu North memberanikan dirinya untuk menarik tangan Pitch dan menaruh sebilah belati di telapak tangan yang terasa beku itu. "Kali berikut kita bertemu, salah satu dari kita akan mati."
"Ah… kau benar."
"Dan jika waktu itu tiba, aku mau kau membunuhku."
"Kau tahu itu berarti apa untukku?"
"Aku tahu. Tapi kalau ada sedikit saja kesempatan untuk kau hidup, kurasa itu lebih baik dari tidak sama sekali."
Tangan North bertengger sedikit terlalu lama di atas tangan Pitch dan wajah mereka begitu dekat, napas mereka saling menerpa, keduanya sadar akan hal itu dan tidak satupun yang ingin melepas duluan. Tetapi perpisahan ini tidak terelakkan. North menarik tangannya yang sudah terlalu nyaman dan memalingkan wajahnya dengan sebuah tarikan napas tajam sebelum dia goyah oleh keinginannya menyatukan bibir mereka.
"Nicholas…!"
Pemuda itu menatapnya, separuh darinya berharap Pitch akan memintanya tinggal, separuhnya lagi tahu itu mustahil.
Tidak satupun kata keluar dari mulut berbibir tipisnya, hanya sebuah napas panjang yang nyaris berubah menjadi isak, membentuk kabut dan menghilang.
North berbalik sambil menuntun Petrov menuju gerbang. Lebih cepat lebih baik, sebelum dia tergoda untuk kembali ke dalam lilitan lengan ramping yang mengajaknya melanjutkan apa yang terputus kemarin malam.
'Selamat tinggal' terlalu dingin sementara 'sampai jumpa' terlalu berharap.
Begitu dia melangkah melewati gerbang desa, dia kembali menjadi si Pemburu.
'Selamat tinggal' tak memberi kesempatan bertemu sementara 'sampai jumpa' hanya berarti mati.
Kakinya melewati gerbang. Kudanya meringkik pelan dan dia langsung menaiki punggung kuda itu.
Untuk terakhir kali, si Pemburu menoleh, menatap sang Malaikat yang memandang sendu, saling melukis wajah di belakang mata untuk sekadar menjadi obat di kala rindu. Bibir keduanya bergerak tanpa suara.
'Selamat tinggal' terasa pahit sementara 'sampai berjumpa' tidaklah tepat.
Mereka memilih pahit.
Derap kaki kuda memenuhi keheningan malam dingin itu, sebelum akhirnya menghilang dan digantikan oleh tangisan Malaikat yang tengah patah hati.
End of Chapter 14
Note:
-Milyy moy (милый мой): sayangku
-Kolya moy (Коля мой): Kolya-ku (Kolya: nama panggilan sayang buat nama Nicholas)
-Kak glupo (как глупо): dasar bodoh
Smua terjemahan ini diambil dari mesin penerjemah yang katanya jauh lebih bisa diandalkan dari gugel, tapiiii saia tetap ga bisa terlalu yakin, hahah. Kalo ada yang salah, tolong saia dikabar-kabari ya.
Nyeh.
Minta ripiu?
