Penulis: ksomm814
Penerjemah: Mini Marauder
Harry Potter series © JK Rowling
Informasi selengkapnya, kembali ke Bab I
Bab 14 Kenyataan Pahit
Sisa liburan anehnya berlangsung damai. Ron dan Hermione sekali ini tidak bertengkar, yang mana… tidak wajar. Keduanya terkesan tidak menyinggung satu sama lain sebisa mungkin demi menghindari konflik. Agar Harry tidak marah. Mereka berganti-gantian dari ekstrim kanan ke ekstrim kiri, sampai Harry ingin menjambak rambutnya sendiri. Mengapa mereka tidak mencari saja penengah yang berbahagia?
Setelah semua murid kembali dari liburan selewat tahun baru, Harry dipojokkan oleh Oliver yang cemas karena Seeker timnya tidak punya sapu terbang. Rahang Oliver hampir menabrak lantai ketika Harry membocorkan hadiah Natal misteriusnya, mengabaikan dugaan sapunya dikutuk. Harry juga dipaksa mengaku Profesor Lupin membantunya mengatasi masalah Dementor, yang sepertinya sangat melegakan Oliver.
Dimulainya pelajaran memberikan distraksi bagi Harry. Dengan begini, Harry tidak perlu mencemaskan sapunya setiap bangun tidur, kecuali di luar jam pelajaran. Pemeliharaan Satwa Gaib dilaksanakan di depan api unggun yang dipenuhi salamander si pecinta api, yang merayapi balok-balok kayu bakar putih panas. Profesor Trelawney kembali untuk melancarkan balas dendam. Topik mereka sekarang adalah membaca garis tangan. Trelawney tidak membuang-buang waktu membaca garis tangan Harry dan mengkonfirmasi bahwa Harry punya garis usia paling pendek dari yang selama ini pernah dilihatnya.
Profesor Lupin masih kelihatan sakit, meski bulan purnama sudah lewat seminggu lalu. Harry menahan diri berkomentar, tetapi dia tidak bisa tidak khawatir. Bagaimana Lupin bisa melalui semua ini setiap sebulan sekali? Kekhawatiran-kekhawatiran tambahan muncul bertubi-tubi. Harry ingat kalau Manusia Serigala tidak boleh punya anak, tetapi dia masih tidak tahu soal adopsi. Dengan banyaknya hal yang terjadi, Harry tidak sempat mencari tahu.
Mengaduk-aduk tasnya, Harry menemukan perkamen keriput pemberian Profesor Snape dan bersumpah dia akan mencari tahu apakah wali sementaranya itu bisa menjadi wali permanen baginya. Sekarang ini, hanya itu yang paling ditunggu-tunggu Harry. Itu juga menjadi distraksi tambahan baginya.
"Kau tahu, aku penasaran apa ada yang salah dengan Profesor Lupin," kata Ron, ketika mereka berjalan ke Aula Besar untuk makan malam setelah pelajaran. "Apa dia mengatakan sesuatu kepadamu, Harry? Apa kamu bertanya kepadanya?"
Harry tampak gelisah, Hermione memperhatikan. Dia harus berpikir cepat. Ron jelas tidak mau menerima jawaban 'aku tidak tahu'. "Er—well—dia bilang, tidak membahayakan nyawa sih," kata Harry. "Aku—er—tidak bertanya lagi karena kayaknya dia tidak mau membicarakannya."
"Oh," Ron puas dengan jawaban Harry. "Well, baguslah kalau begitu."
Ron berjalan mendahului dan Harry mengembuskan napas lega. Dia baru akan menyusul, ketika Hermione menahannya. Dari ekspresi wajahnya, Harry tahu Hermione tidak akan menerima jawabannya begitu saja. "Kamu mengerjakan esainya, kan?" Hermione menyatakan, bukan menanyakan.
Harry menunduk, pandangannya jatuh ke lantai, dan mengangguk. Hanya itulah konfirmasi yang Hermione butuhkan. Mereka berjalan dalam diam menuju Aula Besar. Masing-masing yakin kalau yang lain tahu rahasia Profesor Lupin dan sementara ini, mereka memutuskan untuk menjaga rahasia itu.
Setelah makan malam, Harry berhasil menyelinap dengan bantuan Jubah Gaib. Tahu dia tidak punya banyak waktu sebelum seseorang menyadari dia telah menghilang, Harry bergegas ke Perpustakaan dan mencari buku yang dia butuhkan. Dia tahu apa resikonya, tetapi dia harus tahu seberapa 'sementara'-nya perwalian ini.
Tidak butuh waktu lama menemukan apa yang dia cari. Harry membuka-buka halaman sampai dia menemukan seksi Manusia Serigala. Menggunakan tongkat sihirnya sebagai sumber cahaya di ruangan gelap itu, Harry membaca sekilas ayat demi ayat Undang-Undang sampai dia tiba di seksi Anak-anak. Harry tidak sadar dia berhenti bernapas selama menyiapkan diri. Inilah saatnya menemukan kebenaran. Tidak ada jalan kembali, sekarang.
Individu yang terinfeksi terbukti tidak dapat diprediksi, mengenai keadaan mental dan emosi setiap waktu, tidak hanya saat didiagnosa. Oleh sebabnya, hukum seseorang yang terinfeksi dalam mengasuh anak-anak atau siapapun yang tidak dapat menghidupi dirinya sendiri adalah ilegal. Demi keamanan si anak, seluruh individu terinfeksi diharuskan disertai oleh pihak ketiga dimanapun selama mereka berada di sekitar anak-anak. Siapapun individu terinfeksi yang melanggar ketentuan ini, akan dipidana atas tuduhan tindakan ancaman terhadap anak-anak.
Begitulah. Harry tidak percaya. Bukan hanya Profesor Lupin tidak boleh memiliki anaknya sendiri, dia tidak boleh dibiarkan berada sendirian bersama seorang anakpun. Dia tidak akan bisa tinggal bersama Profesor Lupin. Dia harus kembali ke Keluarga Dursley. Dia harus kembali ke Bibi Petunia dan Dudley, dengan mereka berdua tahu Vernon dipenjara disebabkan dia.
Tongkat sihir dan bukunya terjatuh. Harry mundur sampai menabrak dinding. Dia tidak bisa berpikir. Perlahan, dia merosot ke lantai. Menuruti insting, Harry duduk saja di sana sambil mendekap lututnya. Otaknya tidak bisa memproses apapun. Bagaimana bisa orang berpendapat Profesor Lupin berbahaya? Guru itu hanya sekali saja meninggikan suara dan itupun kepada Profesor Snape.
Harry bahkan tidak sadar tubuhnya bergetar. Rasanya seakan-akan seluruh dunianya runtuh. Dia tidak tahu berapa lama waktu bergulir. Dia tidak sadar ketiadaannya diketahui. Dia duduk saja di sana dalam keheningan, syok; berdoa dalam hati dunianya tidak akan terbalik lagi. Selama ini dia mengharap-harapkan sebuah keluarga lebih dari apapun dan telah mendapatkannya dalam figur Profesor Lupin. Dia telah mendapatkan apa yang dia impikan, hanya untuk tahu bahwa ternyata itu adalah sebuah kebohongan. Semuanya yang tahun ini berikan adalah kebohongan.
Pintu terbuka, diikuti sebuah cahaya terang, namun Harry tidak bergerak. Tapak-tapak kaki menggaung. Seseorang menyisir lorong-lorong di antara rak-rak buku, semakin mendekati posisi Harry di lantai. Akhirnya, langkah kaki itu berhenti mendadak ketika cahaya terang itu menimpa sosok Harry. Sebuah suara napas tercekat menyusul, diikuti langkah-langkah tergesa dan cahaya semakin terang.
"Harry!" Profesor McGonagall berseru, seraya berlutut di sampingnya. "Harry Potter, apa yang kaulakukan di sini!" Harry tidak bergerak. Bahkan tidak ada tanda-tanda kalau dia mendengar sang Profesor. "Mr Potter!" desaknya, sambil mengguncang pelan bahu Harry, namun tetap tidak ada reaksi.
Mulai panik, Profesor McGonagall memandang berkeliling dan menemukan sebuah buku terbuka tergeletak di lantai. Dia melihat buku itu dari dekat dan seketika pucat pasi. Menyambar buku itu, McGonagall berlari keluar Perpustakaan dan mencari rekan-rekan kerjanya. Dia belum berlari jauh sebelum nyaris menubruk Profesor Dumbledore. Secepat mungkin, Profesor McGonagall meringkas kejadian yang baru dia temukan dan menyerahkan buku di tangannya.
Dumbledore segera mengakhiri pencarian dan memanggil Profesor Lupin, mengajaknya ke Perpustakaan. Memasuki Perpustakaan, Profesor Dumbledore melambaikan tangan dan penerangan merebak. Profesor Lupin langsung masuk dan mengikuti Profesor McGonagall sampai dia melihat Harry terduduk di lantai, gemetaran. Tanpa berpikir, Lupin bergegas ke sisi Harry dan merengkuhnya ke dalam pelukan.
"Remus, sepertinya Harry menemukan masalah hak asuh kita," kata Profesor Dumbledore, suram.
Profesor Lupin memandang Dumbledore, terperangah, kemudian kembali menghadapi ke Harry. Berpindah posisi sehingga dia berada di depan si remaja, Lupin mengangkat wajah Harry sehingga mereka bertemu mata. "Harry, dengarkan aku," kata Profesor Lupin, sabar. "Kita akan menemukan cara untuk mengatasi ini. Aku tidak peduli apa yang hukum-hukum abad pertengahan itu katakan. Kau adalah anakku dan akan selalu begitu, tidak peduli apa yang dikatakan oleh selembar perkamen. Kita ini keluarga, sesimpel itu dan itulah yang terpenting."
Harry seperti lepas dari syoknya. Dia menggeleng pelan. "Aku tidak mau kembali ke sana," dia berkata, suaranya bergetar. "Kau sudah berjanji."
Profesor Dumbledore dan Profesor McGonagall bergabung dengan Lupin, berlutut di hadapan Harry. "Remus benar, Harry," kata Dumbledore, lembut. "Kami sedang mencoba menemukan lubang di Undang-Undang. Aku mengerti kamu syok mengetahui hal ini, tapi kamu harus percaya kepada kami. Kamu bisa kan, Harry?"
Harry memandang Dumbledore sekilas, lalu kembali memandang Lupin. Dia ingin mempercayai mereka, tetapi setiap kali dia begitu, dia malah menemukan banyak hal baru yang disembunyikan darinya. Profesor Dumbledore menyembunyikan keberadaan Sirius Black selama bertahun-tahun, Profesor Lupin menyembunyikan fakta tentang dirinya sebagai Manusia Serigala, dan sekarang Harry tahu mereka menghadapi masalah hak asuh. Mengapa dia harus menemukan semuanya dengan cara seperti ini? Mengapa semua orang tidak bisa berterus terang kepadanya?
Beberapa hari ke depan dirasa menegangkan di antara Harry dan sebagian besar staf pengajar. Harry tidak tahu apa yang harus dia pikirkan setelah kejadian yang lalu, dan tidak bisa berpendapat banyak. Dia tahu keluarga-nya akan melakukan apapun yang mereka mampu agar dia tidak kembali ke Keluarga Dursley. Namun faktanya, Harry tidak bisa menjadi bagian legal dari satu-satunya keluarga yang dia punya.
Masih ada juga fakta bahwa Kementrian tidak akan mengizinkan Anak-Yang-Bertahan-Hidup tinggal bersama Manusia Serigala.
Pelajaran Patronus diadakan kembali pada Kamis malam dan barangkali sekaligus pelajaran paling canggung yang pernah Harry ikuti. Baik Harry maupun Profesor Lupin, tidak ada yang tahu apa yang baiknya dikatakan kepada satu sama lain, sementara Profesor Dumbledore tidak hadir karena menghadiri rapat di Kementrian. Sebenarnya, Harry lega Profesor Dumbledore tidak ada. Harry tidak sanggup menghadapi mata biru cemerlang Dumbledore malam ini.
Menyiapkan diri menghadapi Boggart yang akan dikeluarkan Lupin, Harry kesulitan berkonsentrasi pada kenangan bahagia. Bagaimana dia bisa berkonsentrasi dengan kegilaan yang membayangi kehidupannya? Mengapa semuanya tidak semudah ketika semua orang membencinya sebagai orang aneh? Yah, memang masa-masa itu adalah masa tidak menyenangkan, tetapi setidaknya tidak sesulit sekarang.
"Siap, yak!" kata Lupin, seraya menarik tutup koper yang berisi Boggart.
Ruangan langsung mendingin. Kegelapan membayangi penglihatan Harry, namun dia masih bisa mengenali figur Dementor melayang mendekatinya, tangan busuk mengarah kepadanya. Dia tidak bisa bernapas. "Expecto patronum!" Harry berteriak. "Expecto pat—"
Dia tidak sanggup lagi. Gambaran-gambaran kabur berkelebatan di depannya. Suara seorang laki-laki memenuhi telinganya, terdengar panik. "Lily, bawa Harry dan pergilah! Dia yang datang! Pergilah! Lari! Aku akan menahannya—!" Suara itu digantikan oleh suara-suara baru. Seseorang berusaha meninggalkan ruangan. Pintu menjeblak terbuka. Tawa melengking, yang membuat Harry merinding, membahana.
"Harry! Harry, bangunlah!"
Butuh beberapa saat bagi Harry untuk menyadari seseorang tengah mendekapnya. Kepalanya bersandar pada dada seseorang. Mulutnya dibuka dan sepotong coklat diselipkan masuk. Kehangatan lambat laun menyebar di tubuhnya. Harry membuka mata dan menemukan wajah khawatir Profesor Lupin. Tidak bisa menahan diri, Harry membenamkan wajah di dada Lupin, menyembunyikan kemunculan air mata.
Profesor Lupin mendekap erat anak itu dan sabar menunggunya sampai tenang. Setelah Harry rileks, Lupin mengendurkan pelukannya. "Tidak apa-apa, Harry," katanya, lembut. "Coba dan fokuslah pada sesuatu yang lain."
Harry menggeleng dan menarik diri. Dia tidak mau melupakan suara ayahnya yang pemberani. "Aku—aku mendengar ayahku," katanya, lirih. "Dia baru akan menghadapi Voldemort." Dia menjatuhkan wajahnya ke tangannya. "Kenapa mereka harus mati? Kenapa Voldemort ingin membunuhku? Aku cuma bayi! Bagaimana bisa bayi menjadi sebuah ancaman?!"
Lupin meletakkan tangan di bahu kiri Harry dan memberikan remasan lembut. "Tetapi kamu memang ancaman baginya, Harry," katanya. "Aku yakin bekas lukamu adalah bukti dari yang kauperlukan. Aku tahu ini sulit, tetapi cobalah mengingat betapa orangtuamu menyayangimu. Fokus pada kasih sayang mereka, Harry. Fokus pada sisi baik, bukan sisi buruknya."
Mendesah, lelah, Harry mengangguk meski belum berani mempertemukan mata dengan Lupin. Masalahnya, sulit sekali untuk tidak terperangkap dalam sisi buruk kenangan itu. Dia paham. Adalah sebuah mekanisme bertahan hidup baginya. Kalau tidak meninggikan harapan, apapun akan dia lakukan asalkan tidak menambah kekecewaan. Mungkin itulah masalah utamanya. Untuk pertama kalinya sejak lama, Harry memiliki harapan besar terhadap konsep sebuah keluarga yang menyayanginya. Dia telah mendapatkan apa yang dia mau, dan tidak pernah memikirkan apa yang harus dia hadapi sebelum impian itu terwujud.
Mendongak dan memandang Lupin, Harry menyadari bahwa bukan hanya harapan dan mimpinya yang terancam. "Maafkan aku," katanya. "Hanya saja, ini sangat sulit. Aku pikir aku menemukan sesuatu yang bisa menjadikan kita keluarga, tapi yang kutemukan malah kalau kau tidak boleh ada bersamaku tanpa kehadiran orang lain… aku tidak bisa menerima itu. Aku—aku tidak tahu…."
Profesor Lupin memeluk Harry lagi. "Tidak apa-apa, Harry," katanya. "Aku paham. Dengan segala yang terjadi, kami tidak ingin kamu mencemaskan hal yang tidak bisa kaukontrol. Aku ingin melindungimu dari cara Kementrian menangani kaumku. Kurasa, aku harus berterima kasih pada Severus karena berkat dia kau bisa tahu soal itu."
Harry langsung menegang dan bergerak mundur. "Tolong jangan marah," katanya, cepat. "Aku yang bertanya tentang hukum adopsi—"
"—yang tidak mungkin terpikir olehmu seandainya Severus tidak lancang di kelasku," Lupin menyela. "Harry, kau harus mengerti kalau Severus akan selalu membenciku dan ayahmu. Dia benar-benar bukan tipe orang yang akan memaafkan kesalahan di masa lalu, yang menurutku agak munafik."
"Kenapa?" tanya Harry.
Profesor Lupin meringis. "Er—tidak kenapa-kenapa, Harry," katanya, cepat. "Lupakan perkataanku tadi. Nah, sekarang, apa kau siap mencoba lagi atau kita simpan Boggart-nya untuk lain waktu?"
Harry tahu pembicaraan di antara mereka dialihkan, tetapi mengira itu karena dia menyentuh topik privasi yang dia tidak seharusnya tahu. Jadi, dia membiarkan. "Aku akan coba lagi," dia berkata dan berdiri, sambil meraih tongkat sihirnya dari lantai. Dia berbalik dan menghadapi koper berisi Boggart. Dia menutup mata dan berkonsentrasi. Mungkin tadi ada yang salah. Barangkali yang dia butuhkan itu persisnya bukan sekadar memori. Mungkin yang dia butuhkan adalah perasaan yang dikandung memori itu. Dia ingat apa yang dia rasakan ketika Profesor Lupin memanggilnya 'anak' beberapa malam lalu. Harry tersenyum. Dia benar-benar merasa seperti punya keluarga.
Profesor Lupin perlahan berdiri dan berpindah ke sekitar koper. "Bagus, Harry," dia menyemangati. "Kita mulai." Dia membuka penutup koper itu lagi dan Dementor melayang keluar.
Hawa dingin memenuhi ruangan ketika Harry membuka mata dan berhadapan satu lawan satu dengan Dementor. "EXPECTO PATRONUM!" dia berteriak. Jerit ketakutan ibunya terdengar sayup-sayup, hampir tidak terdengar sama sekali. Sebentuk kabut perak besar membuncah dari ujung tongkat sihirnya, memadat di antara dia dan Dementor. Perlahan, kabut peraknya mendorong mundur Dementor, mendesaknya kembali ke koper. Harry tidak bisa menjelaskan, tetapi untuk pertama kalinya sejak dia berlatih dengan Boggart, dia tidak merasa lemah. Rasanya seperti kehangatan menyebar ke sekujur tubuhnya, memberinya kekuatan dari dalam. Melindunginya.
"Riddikulus!" seru Lupin pada akhirnya.
Suara seperti lecutan keras memenuhi udara bersamaan dengan hilangnya Dementor, disusul memudarnya kabut Patronus. Menurunkan tongkat sihirnya, Harry perlahan melangkah mundur sampai menabrak dinding dan merosot sampai dia terduduk di lantai. Dia hampir-hampir tidak melihat Profesor Lupin, yang sekarang memaksa Boggart berbentuk bola keperakan kembali ke dalam koper. Apa yang barusan terjadi?
Profesor Lupin berputar dan bergegas menghampiri. "Tadi itu luar biasa, Harry!" dia berkata, senang. Tetapi senyumnya memudar cepat ketika dia mengamati wajah Harry. "Harry, kau tidak apa-apa?"
Harry menengadah, gugup. "Apa yang terjadi?" dia bertanya. "Ba—bagaimana… Aku—aku tidak…."
Lupin sepertinya memahami apa yang Harry berusaha katakan. "Kau ingin tahu kenapa kau tidak merasakan efek yang diberikan Dementor seburuk yang biasanya," katanya, seraya duduk di lantai. "Dengar, Harry, kau tidak perlu takut. Kekuatan sihirmu sedang mematangkan diri. Sekarang ini, kalau sihirmu menyembur, rasanya seperti ketika kau membebani Mantra di awal pelajaran kita dulu itu."
Ketakutan Harry berubah menjadi kebingungan. Kalau hal ini normal, mengapa dia tidak pernah mendengarnya sebelum ini? "Jadi, hal seperti ini terjadi juga pada orang-orang?" tanya Harry.
"Bisa dikatakan begitu," kata Profesor Lupin, berhati-hati. "Bagi kebanyakan orang, kematangan kekuatan sihir terjadi secara bertahap dan perlahan-lahan seiring waktu. Sepertinya latihan yang kaujalani di musim panas mempercepat sedikit pertumbuhan kekuatan sihirmu. Yang seperti ini bukannya belum pernah terjadi. Hanya saja, tidak biasa. Sekarang ini, kita hanya perlu waspada sehingga kau tidak membebani Mantra selama pelajaran di kelas."
Harry menunduk, memandangi tongkat sihirnya di tangan kanannya. Jadi, itu sebabnya dia mengalami banyak masalah selama belajar Mantra Patronus. Memang, Harry sempat mengira aneh ketika dia gagal memunculkan sesuatu dan di detik berikutnya, dia terlempar sampai menabrak dinding. Satu hal yang pasti, Harry akan menuruti nasehat Profesor Lupin dan bersikap lebih hati-hati.
Di akhir pekan berikutnya, diadakan pertandingan Quidditch Slytherin melawan Ravenclaw. Slytherin menang tipis. Hasil pertandingan ini membawa berita bagus untuk tim Gryffindor. Kalau mereka menang melawan Ravenclaw, mereka bisa menyalip tim-tim lain, langsung ke peringkat pertama. Untuk meyakinkan kemenangan di tangan Gryffindor, Oliver Wood menambah jumlah latihan menjadi lima kali seminggu. Dengan Hermione dibanjiri PR, Harry berakhir mengurangi separo jatah kelas Patronus-nya untuk mengerjakan PR. Profesor Lupin membantunya kalau dia bisa, tetapi seringkali berupa petunjuk-petunjuk.
Harry dan Ron tahu betul harus menjauhi Hermione agak lama kalau Hermione sedang mengerjakan PR. Padahal Hermione sering sekali terlihat berkutat dengan PR-nya. Hermione selalu menggunakan banyak meja sekaligus, karena banyaknya PR dari berbagai mata pelajaran. Dia menyalak kepada siapa saja yang menyela. Setelah lama begitu terus, Ron tidak tahan lagi dan mulai melayangkan keingintahuannya kepada Harry.
"Aku tidak mengerti," Ron berbisik, sehingga Hermione tidak mendengar. "Bagaimana dia hadir di semua kelasnya? Jam Aritmatika bebarengan dengan Pemeliharaan Satwa Gaib. Telaah Muggle bersamaan dengan Ramalan! Itu, kan, tidak mungkin!"
Harry cuma bisa mengangkat bahu. Dia sudah belajar menghormati rahasia orang lain lewat cara sulit. Dia menyembunyikan banyak hal dari Ron dan Hermione tahun ini. Kalau Hermione memilih menyembunyikan misteri kecil itu untuk dirinya sendiri, pasti ada alasannya.
Masih ada masalah tambahan: Harry belum punya sapu terbang. Sudah menjadi pola bagi Harry setiap pagi melirik Profesor McGonagall sewaktu sarapan, berharap tidak ada yang salah dengan sapu terbangnya, tetapi dia hanya mendapat gelengan kepala. Dia belum bertanya langsung bagaimana status sapu terbangnya, meski beberapa anggota tim Quidditch bertubi-tubi menanyainya. Oliver adalah yang paling ngotot, diikuti oleh si Kembar Weasley. Mereka semua tahu, memiliki Seeker yang mengendarai Firebolt adalah jaminan kemenangan.
Ketika Februari tiba, Harry mulai berpikir dia tidak akan pernah melihat sapunya lagi. Dia mengalami sedikit kemajuan dengan latihan Mantra Patronus, tetapi baik Profesor Lupin maupun Profesor Dumbledore belum bisa menentukan apa bentuk Patronus-nya. Frustasi dan lelah, Harry mulai berpikir Patronus-nya tidak akan pernah memiliki bentuk.
Tahu jeleknya suasana hati Harry, Profesor Lupin memutuskan untuk mengakhiri latihan mereka hari itu dan mengenalkan menu istimewa dari Hogsmeade kepada Harry: Butterbeer. Profesor Dumbledore pergi, sekarang tahu betul bahwa Harry hanya mau berbicara terbuka dengan Lupin. Tanpa kata, dia meminta guru muda itu untuk berbicara dengan anak asuhnya. Memandangi anak itu, Lupin memperhatikan Harry seperti tenggelam dalam pikirannya sendiri sambil menyeruput minumannya.
Mereka meneruskan menyesap minuman mereka, sampai Harry memecah keheningan. "Di balik tudung Dementor, ada apa?" dia bertanya lirih.
Profesor Lupin menghela napas, seraya meletakkan botolnya. "Itu pertanyaan yang sulit, Harry," katanya, menimbang-nimbang. "Dementor hanya menurunkan kerudungnya untuk memberikan, apa yang disebut, Kecupan Dementor. Sebuah hukuman yang lebih buruk daripada kematian." Dia memandang Harry lurus-lurus dengan simpati. "Ketika seseorang di-Kecup, jiwa mereka disedot sampai yang tersisa hanyalah jasad kosong. Itulah hukuman yang menanti Sirius Black."
Harry menatap Profesor Lupin, syok. Dia pikir Dementor itu sendiri makhluk yang kejam, tetapi ternyata masih ada Kecupan Dementor. Dia tidak sanggup membayangkan Midnight, anijng penyayang dan penyabar yang pernah dia kenal, hidup tanpa jiwa. Dia tahu Sirius Black seorang pembunuh. Dia tahu Sirius Black itu Midnight, namun entah mengapa dia tidak bisa membenci sosok anjing yang telah membantunya ketika masih di Privet Drive Nomor 4. Dia tidak tahu kapan perasaan semacam ini mulai tumbuh. Yang dia tahu, dia harus tahu alasan mengapa Black mengkhianati orangtuanya dan mengapa Black menyelamatkannya.
"Bagaimana kalau nanti mereka—er—ternyata tidak bersalah?" tanya Harry, gugup. "Apa jiwa mereka bisa dikembalikan?"
Lupin kentara menegang. "Harry, kenapa kau bertanya begitu?" dia balik bertanya, nadanya mengayomi. "Kau belum bertemu Black lagi sejak setelah Haloween, kan?"
Harry menggeleng, menjatuhkan pandangan ke label Butterbeer. "Aku hanya ingin tahu," katanya, lirih. "Di dunia Muggle, orang-orang dinyatakan bersalah. Tapi nanti ternyata mereka tidak bersalah. Sering ada kejadian seperti itu. Orang toh tidak luput dari berbuat salah."
Profesor Lupin memalingkan wajah dan berdehem. "Itu benar, tapi kita punya banyak cara untuk mengorek kebenaran dari seseorang," dia berkata, tidak enak hati. "Ada sebuah ramuan, namanya Veritaserum. Yaitu, Serum Kejujuran. Hanya butuh tiga tetes, dan orang akan menjawab semua pertanyaan dengan jujur."
"Oh," kata Harry, lirih. Dia bisa melihat Profesor Lupin merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan. Kentara jelas apapun yang menyinggung Sirius Black adalah topik menyakitkan bagi Lupin. "Maaf," katanya dengan suara sama pelannya. "Kurasa aku masih belajar bagaimana sistem di sini."
"Bisa dimengerti," kata Profesor Lupin dengan senyuman. "Sebenarnya aku terkesan, Harry. Tidak banyak yang bertanya bagaimana dunia sihir menangani para kriminal. Kebanyakan yakin hal itu bukan urusan mereka, jadi mereka enggan repot-repot. Agak menyedihkan, memang, melihat banyaknya orang yang suka mengkritik, tapi tidak mau memperbaiki diri kalau menghadapi kritikan."
Harry mengangguk. Dia paham Profesor Lupin tidak hanya membicarakan tentang para kriminal. Dia juga membicarakan tentang ketidakadilan hukum terhadap Manusia Serigala. Harry ikut sedih melihat Profesor Lupin dianiaya dan tidak berdaya. Saat itulah Harry bertekad akan melakukan apapun agar Profesor Lupin tidak kesepian lagi. Walinya itu benar. Mereka berdua adalah keluarga, apapun yang terjadi.
Teruntuk
(1) Nyanmaru desu, makasih x3
Di bab ini juga masih membahas kekhawatiran. Mungkin karena memang masa-masanya sih. Harry kan remaja. Remaja itu galau-ers *plak*
Wkwkwk, Profesor Trelawney itu… sesuatu.
Ganbarimasu!
(2) EstrellaNamikaze, iya u_u Jangan khawatir, nggak akan pedot nang mdalan, meski tersendat-sendat update-nya. Harap maklum ya ;-;
(3) Aoi YU Hara, maaf lama T_T nggak bermaksud. Skripsi itu… gampangnya, karya penelitian wajib dibuat biar lulus perguruan tinggi. Makasih doanya w
Hohoho. Siap, laksanakan!
(4) Miya-Chan, baru dipuji, di bab ini Harry pingsan lagi. Hyahaha.
Iyaaa, gitu dong, Harry! Jadi lebih enteng, kan, nggak banyak rahasia.
Semangat!
Mumpung ada waktu nge-update.
Semoga harimu menyenangkan dan selamat tidur!
Mini Marauder
