Disclaimers: Naruto © Kishimoto Masashi

Issei no Sei © Kita Shuhei OST Natsume Yuujinchou

Boku ni Dekiru Koto © How Merry Marry OST Natsume Yuujinchou

Mayonaka no Orchestra © Aqua Timez OST Naruto OVA

Thanks to You © Richard Marx

If You could See Me Now © The Script

Genre: Romance/Drama

Rating: T

Pairings: Naruto x Sasuke, slight KakaIru

Warnings: AU, Shonen-Ai, Yaoi, OOC, OOC, OOC, typo(s), pengulangan kata, mute alert, penggunaan majas yang berlebihan. Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't feel easy to read it. I've warned you already.

A/N: Update! InsyaAllah Kyou bisa terus update fanfic meskipun bakal lebih lama masanya. Hontou ni gomennasai… bener-bener maap yah lama banget update-nya… Chapter ini yang paling panjang, sampe 10k. Semoga bisa sedikit membayar penantian temen-temen.

Summary from before: Sasuke, yang melarikan diri dari rumahnya dan di'pungut' oleh Naruto yang bisu—yang seorang fotografer juga musisi, memulai langkah pertama demi mencapai impiannya. Setelah debut dan tur konser, ia semakin akrab dengan Naruto yang sudah putus dengan Gaara, hingga pada titik di mana Naruto bersedia memberitahunya bahwa ia adalah orang yang dipungut oleh ketiga kakaknya sekarang. Orang-orang dari masa lalu Naruto pun muncul dan mengaku sebagai Kiseki-band. Sang vokalis, Kiba, adalah orang yang dulu pernah mencuri hati sang Uzumaki. Di tengah masalah itu, Sai muncul sebagai kakak Sasuke, dan setelah menandatangani kontrak dengan sah, Sasuke meluncurkan single debutnya dan membuat posisi aman di agensi Sunny Days maupun di tangga lagu Iwa. Lagu yang di'ciptakan'nya pun membuat Naruto mampu menyelesaikan masalahnya dengan Kiba. Perasaan Gaara terhadap Naruto pun perlahan bisa ia kendalikan. Namun, kini ada yang mencari-cari Sasuke dan bermaksud membawanya pulang. Belum lagi kenyataan bahwa orang yang mencari Sasuke juga bermaksud mencari Naruto. Di lain pihak, Itachi mengetahui kabar Sasuke dari Sai. Sedikit banyak, ia pun tahu letak keberadaan adiknya. Maka dari itu, ia meminta izin untuk liburan pada Fugaku yang tak terduga mengabulkan permintaannya. Ibiki pun telah sampai ke kota Iwa dan berhasil menemukan Sasuke dan Naruto—bahkan membeberkan marga asli Sasuke, juga desa asli Naruto di depan ketiga pendiri Sunny Days. Ditambah dengan perkataan bahwa Iruka membutuhkannya, apakah masa lalunya akan segera terkuak di depan orang-orang yang ia sayangi? Dan bagaimana dengan Sasuke? Apakah ia harus menurut pulang?

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Mau jalan-jalan, Chibi?"

Anak yang dipanggil chibi atau si kecil itu menolehkan pandangan dari terowongan yang baru selesai ia bangun di tengah kotak pasir taman Konoha. Mata birunya menatap lekat pada kompas lain warna di hadapannya. "Ke mana?"

Pria yang biasanya menutup sebelah matanya dengan eye-patch itu menyunggingkan seulas senyum dari balik masker-nya. "Ke mana pun yang kau mau. Aku akan menggendongmu di punggung~" tawarnya kemudian.

Dua pipi menggembung dalam sebal. "Aku ini besar, Kaka-sen! Punggung Kaka-sen bisa patah nanti!" serunya sambil melipat tangan. Pria yang ia panggil 'Kaka-sen' itu tertawa kecil.

"Percayalah~ Aku ini kuat untuk menggendongmu bahkan setelah kau dewasa nanti, Chibi!" sahut pria yang lantas mengacak-acak helaian pirang si kecil yang hendak protes namun terpotong oleh suara seorang lainnya.

"Di sini rupanya, 'Kashi-san! Aku mencarimu ke mana-mana!"

Chibi dan Kaka-sen menoleh untuk melihat sosok seorang lelaki yang sepantaran dengan pria pertama tetapi lebih pendek dengan tubuh yang sedikit lebih kurus.

"Iruka-san, aku baru mau menjemputmu setelah ini," sapa lelaki bernama Kakashi itu. Ia berdiri dari posisi jongkok di depan si kecil untuk menghampiri Iruka yang tersenyum rindu padanya.

"Kupikir kau akan langsung pulang ke rumah. Memangnya kau tidak capek?" tanya Iruka yang kini melingkarkan kedua lengannya di leher sang kekasih.

Kakashi, yang memang baru pulang dari pekerjaannya di kota sebelah, menggeleng pelan. Kedua tangannya melingkar di pinggang sang pemuda sebelum menariknya erat dalam sebuah pelukan hangat di sore itu. "I miss you, Iruka," bisiknya di telinga sang kekasih.

Iruka tersipu malu sebelum membalas dengan sebuah kecupan pada dahi Kakashi. "Miss you tooHome, now?"

"Yeah… home. Now."

Dan suara langkah cepat terdengar menjauhi mereka, membuat dua pasang mata yang tadinya bertaut menoleh hanya untuk mendapati kekosongan menempati kotak pasir tersebut.

Chibi pergi meninggalkan mereka, membiarkan sekop oranye kesayangannya tergeletak di atas terowongan pasir buatannya.

Ia tahu bahwa ajakan sang pria adalah suatu tindakan sia-sia.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Song for Mute Musician

© Kionkitchee

Track 14: If You could See Me Now

© The Script

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

.

.

I still look for your face in the crowd, oh, if you could see me now

Would you stand in disgrace or take a bow, oh, if you could see me now?

.

.

"Iruka membutuhkanmu."

Bola mata biru membelalak dengan sempurna, menatap pria besar di hadapannya dengan tidak percaya. Apa katanya tadi? Iruka? Iruka membutuhkannya? Kenapa? Bukankah justru Iruka tidak pernah menyukai keberadaannya? Kenapa tiba-tiba—

"Iruka? Siapa itu?" tanya Konan tiba-tiba. Ia menatap tajam bukan pada Naruto melainkan pada sang detektif yang sama sekali belum melepaskan pandangan dari adiknya. Firasatnya mengatakan bahwa pria tersebut mempunyai andil besar dalam masa lalu Naruto.

Ibiki tak menjawab melainkan berjalan mendekati sosok pria yang masih berdiri tegak menghalanginya mencapai target. "Akatsuki Yahiko, mantan penghuni Panti Asuhan Akatsuki yang sekarang menjadi direktur Sunny Days. Minggir, jangan halangi jalanku!"

Konan dan Nagato terkejut mendapati nama 'rumah' mereka dulu disebut dengan gamblang, sementara Yahiko semakin mengerutkan dahi. "Senang mengetahui ada yang peduli dengan profilku tapi sayangnya aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu!" tegasnya. "Mengorek masa lalu orang memang keahlianmu ya, Detektif," cibirnya kemudian.

Tidak merasa dihina, Ibiki menatap lekat pria berambut oranye itu sebelum beralih ke pemilik rambut merah dan hitam kebiruan. "Akatsuki Nagato dan Akatsuki Konan, kalian juga mantan penghuni Panti Asuhan Akatsuki yang sekarang bekerja untuk perusahaan ini." Kemudian, ia beralih pada remaja yang berlindung di belakang mereka. "Uchiha Sasuke, putera bungsu keluarga Uchiha yang melarikan diri dari rumah semenjak dua-tiga bulan yang lalu dengan alasan mencari jati diri—" ia mendengus mengucapkannya, "—alasan payah. Lalu—" kini ia menatap pemuda bersurai mentari yang masih menatapnya tajam, "—Uzumaki Naruto—tidak, bukan—Namikaze Naruto."

Nama terakhir sukses membekukan ketiga pendiri Sunny Days.

Namikaze Naruto? Namikaze?

Kali ini Naruto yakin bahwa detektif itu memang memburunya—atau setidaknya menjadikannya sasaran akan penyelidikan seseorang seperti halnya Sasuke yang ternyata memang melarikan diri dari rumahnya. Ia takkan tinggal diam.

"Sepertinya kau mempunyai informasi menarik, Detektif Morino," kata Yahiko, "Perlukah kusuguhkan teh untukmu di kantorku?" tawarnya kemudian, membuat Konan dan Nagato menatapnya heran.

Sang detektif kembali menatapnya. "Kopi, atau tidak sama sekali."

Dan tawa Yahiko meledak. Di sela kejengkelannya, ia dapat mendeteksi rasa humor dari pria itu—atau hanya pemikiran kalutnya saja? "OK. Satu kopi hitam menunggu di kantorku." Ia pun berbalik menuju elevator dengan mengetahui bahwa pria itu akan mengikutinya. Sembari berjalan, ia melirik ke kedua saudaranya. "Kalian berempat juga."

Konan mengangguk dan bergegas ke resepsionis untuk memberitahu bahwa siapapun tidak ada yang boleh mengganggu mereka. Kemudian, wanita itu menuju sekretariat agar pertemuan yang dijadwalkan hari itu segera dibatalkan. Sementara Konan bertindak demikian, Nagato meyakinkan Naruto dan Sasuke agar ikut ke kantor sang direktur.

"Yahiko tahu apa yang ia lakukan, dan aku yakin ia takkan membiarkan siapapun menyakiti orang-orang yang berharga baginya." Nagato berkata pada Naruto yang masih memandang tempat sosok detektif itu berdiri tadi. Lelaki berambut merah itu tidak melanjutkan penjelasannya karena ia tahu bahwa Naruto mengerti maksudnya.

Sang Uzumaki sendiri paham maksud saudaranya, dan bahwa ia tak bisa selamanya bersembunyi di balik tirai bisu yang menutupi kebenaran. Ia tahu bahwa hari di mana ia harus menceritakan masa lalunya akan tiba. Sempat ia merutuki diri yang harus menceritakan kondisinya dalam keadaan terpaksa seperti ini. Namun, hal itu bisa saja ia anggap sepele karena yang lebih memenuhi pikirannya sekarang adalah remaja yang masih berlindung padanya. Seorang remaja yang sedari tadi gemetaran di sisinya. Naruto lalu menyetarakan pandangannya dengan sang Hino—atau yang dipanggil Uchiha oleh detektif tadi. Ia letakkan kedua telapak tangannya di sisi wajah sang remaja dan menyentuhkan kening mereka.

Oniks Sasuke memandang lurus pada safir Naruto setelah sempat terpejam erat dalam kecemasan yang masih dapat terlihat di dalamnya. Ia mendapati kesungguhan yang tak terelakkan dari bola mata tersebut. Kesungguhan yang mengatakan bahwa ia dilindungi.

It's gonna be okay, Sasuke.—itulah yang dikatakan Naruto melalui gerakan bibirnya. Untuk sejenak, Sasuke hanya menatap bibir yang baru berisyarat itu sebelum kembali menatap birunya langit di hadapannya. Ia pun mengangguk. Ia yakin Naruto tidak akan mengecewakannya.

Melihat interaksi kedua orang itu, Nagato tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Ia seperti melihat masa di mana Konan menenangkan Naruto ketika mimpi buruk menyerangnya. Senyumnya memudar mengingat hal itu karena sebentar lagi ia akan mengetahui asal usul adik kesayangannya tersebut… seberapa pahitnya itu…

Mereka pun bergerak menuju kantor sang direktur.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Ayah, kita mau ke mana?"

"Kita akan berkunjung ke rumah sahabat ayah. Sahabat ayah itu pandai bermain gitar loh!"

"Semoga saja mereka senang dengan kedatangan kita ya, Minato-san!"

"Aku harap begitu, Kushina-chan! Sudah lama sekali kita tidak bertemu mereka."

Dan suara ban mendecit kencang terdengar tak lama sebelum sesuatu yang sangat keras beradu. Mementalkan badan mobil ke pagar pembatas hingga rusak dan sebuah sepeda motor terpelanting ke arah semak-semak.

"Masih hidup! Anak ini masih hidup!"

"Ibunya juga masih hidup! Segera panggil ambulans! Cepat!"

"Bagaimana dengan yang satu lagi?"

"Ah… Kami-Sama… pria ini sudah…"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Suasana di kantor direktur utama SD sangatlah tegang seakan menantikan terkaman binatang buas yang masih memburu mereka hingga sekarang. Sedemikian tebalnya suasana tersebut sampai membuat AC di dalamnya terasa jauh lebih dingin… seakan mereka sedang berada di kutub utara tanpa pemanas sedikitpun. Sang pemilik ruangan menatap tajam sang detektif yang menatap tajam pada kedua targetnya yang balik menatap tajam kepadanya dan sesekali melirik pada kedua orang di samping mereka. Lalu terdengarlah helaan napas berat dari mulut sang direktur.

"Oh, sudahlah! Kalau seperti ini terus, kapan selesainya?" rengeknya bak anak kecil yang sudah menunggu lama makanan yang dipesan namun tak kunjung datang. Yahiko pun beralih pada sang detektif. "Kau yang mulai, Pak tua!" perintahnya.

Ibiki tidak suka diperintah. Ia tak pernah mengindahkan perintah orang lain termasuk kliennya yang bermarga Uchiha di kota Oto nun jauh di pulau seberang. Ia hidup bukan untuk diperintah oleh orang lain. Ia hanya akan mengikuti perintahnya sendiri, dan tidak ada yang bisa mengganggu gugat prinsipnya itu. Karena itulah, jika ia memulai perkataannya, itu bukan karena diperintah melainkan karena keinginannya sendiri… demi penyelidikannya sendiri… demi keingintahuannya sendiri.

"Seperti yang kukatakan di lobi, waktu bermain untuk Uchiha Sasuke telah usai. Sudah waktunya ia pulang."

Yahiko mendecak, "Elaborasi, Pak tua! Kalau hanya seperti itu semua juga sudah tahu!"

Sang detektif menatap sang Uchiha muda tanpa memedulikan protes lelaki berambut oranye tersebut. "Tumbuh dan besar di keluarga Uchiha tidak menjadikan seseorang bermartabat seperti pendahulunya, dan kau telah berhasil membuat malu keluargamu dengan melakukan tindakan pengecut seperti melarikan diri dari masalah dengan alasan tidak ingin dikekang. Ditambah dengan tidak sengaja mengerahkan massa dari pihak yang tidak semestinya, apa kau puas dengan keadaanmu ini, Uchiha Sasuke?"

Semua mata—kecuali sepasang safir dan oniks—menatap sang Hino lekat. Remaja itu sendiri tidak memberikan reaksi apa-apa kecuali tatapan tajam untuk sang detektif. Bibirnya masih menutup dalam kebisuan, sama sekali tidak berniat membeberkan dirinya.

"Massa dari pihak yang tidak semestinya itu maksudnya apa?" tanya Nagato kepada Ibiki setelah lama menunggu reaksi sang remaja.

Awalnya Ibiki enggan menjawab. Namun, setelah mempertimbangkan hukum kausalitas, ia menjelaskan. "Anggap saja ada antek lain yang mempunyai tugas sama sepertiku."

Banyak yang terkejut dengan kenyataan itu, terlebih Konan yang menyuarakan kecurigaannya. "Seperti polisi?" Dan seringai Ibiki mengkonfirmasi dugaannya, membuat mereka—kecuali Sasuke—semakin terkejut, tidak menyangka keluarga artis mereka akan berbuat sejauh itu meskipun mereka memang pernah mengetahui seberapa besar pengaruh nama Uchiha di bidang tertentu.

Yahiko mendecak kagum. Ini bukan pertama kalinya ia menghadapi hal semacam ini—sudah sering terjadi ketika ia dan kedua saudaranya masih di panti asuhan. Namun, hal itu terjadi lagi ketika ia sudah melepaskan diri dari rumahnya—di agensinya pula! Ingin rasanya ia bertepuk tangan untuk keluarga Uchiha. "Ingatkan aku untuk memberi salam pada ayahmu, Hino-kun~" cibirnya kemudian sembari menatap Sasuke.

Remaja yang baru berusia 17 tahun itu hanya meliriknya dengan tajam. Jangankan mengingatkan sang direktur untuk memberi salam pada sang ayah, Sasuke sendiri tidak ingin bertemu dengan lelaki itu. Lebih baik ia menghilang dari permukaan bumi daripada harus kembali ke rumah. Sebesar itulah keinginannya untuk memisahkan diri dari keluarganya terutama sang ayah. Ia tidak ingin lagi dilarang melakukan hal yang disukainya. Ia tidak ingin dikurung dan dipaksa mengerjakan sesuatu yang bukan minatnya. Memangnya ia robot yang tidak bisa berpikir sendiri?

"Katakan padanya aku tidak akan kembali lagi!" ketus Sasuke kepada sang detektif. "Aku tidak akan menjadi penerus Keluarga Uchiha. Katakan padanya aku sudah mati!" tegasnya kemudian.

"Hino-kun!" Nyaris setiap orang yang ada di sana terkejut. Sebegitu tidak inginnya ia kembali ke rumahnya?! Ada apa sebenarnya?!

"Baiklah, mari tenangkan diri sebentar," ujar Nagato berusaha mencairkan suasana. "Saya mengerti pekerjaan Anda, Ibiki-san, tetapi Anda—dan juga kami—harus mengetahui permasalahan yang sesungguhnya. Saya yakin Hino-kun mempunyai alasan kuat di balik pelariannya," jelasnya. Pria berambut merah itupun beralih ke sang remaja, bermaksud memintanya untuk menjelaskan alasannya.

"Aku punya alasan tapi tidak akan kukatakan sampai aku menemukan petunjuk." Sasuke menjawab dengan nada final.

"Tipikal bocah ingusan," cibir sang Morino.

"Terserah." Sasuke balas tak peduli dan masih teguh dengan keputusannya.

Yahiko menaikkan sebelah alis, "Sedikit penjelasan, Hino-kun? Perintah buchou~" ucapnya dengan nada yang berarti tidak boleh tidak dituruti.

Sasuke memejamkan matanya dengan tenang tanpa membalas apapun.

"Kau mau mencoba penalty, Hino-kun~?" Yahiko mulai menyeringai sembari memberikan sedikit ancaman. Nagato dan Konan yang mendengar menghela napas sambil berharap bahwa remaja itu segera mengutarakan alasannya meskipun hanya sedikit. Mereka tidak ingin remaja yang sedang naik daun itu mendapat hukuman dari sang direktur.

Oniks yang tadinya bersembunyi di balik pelupuk putih perlahan memperlihatkan tahtanya. Begitu penuh dengan tekad dan begitu kuat akan hasrat. Kedua belah bibir yang turut menghiasi keindahan tersebut pun membuka.

"Aku ingin bernyanyi."

Tiga kata yang terucap dalam bisikan justru terdengar begitu keras dan mengema dalam hati ketiga pendiri Sunny Days. Sebuah alasan sederhana yang justru melekat erat dalam sanubari, menggaungkan napasnya dalam sebuah impian yang terdengar begitu sulit diraih. Sedehana, namun mampu menyingkirkan alasan-alasan lain yang terdengar sombong dan bertele-tele. Alasan yang membuat seorang musisi yang mendengar otomatis tersenyum dan puas.

Sasuke hanya ingin bernyanyi. Ia ingin menumpahkan segala perasaannya dalam nyanyian. Seluruh perasaan yang menumpuk dalam diri karena ditahan mati-matian di balik pintu berkarat tanpa kunci mendobrak keras dan memaksanya kembali pada diri yang sempat hilang selama ini. Ia hanya ingin bernyanyi bebas dan mengungkapkan kata-kata yang bersemayam dalam jiwanya. Bernyanyi bebas tanpa takut akan tangan besi seseorang yang seharusnya mendekapnya lembut. Bernyanyi bebas tanpa takut akan perkataan kasar yang seharusnya menuntunnya teguh. Bernyanyi bebas tanpa takut apapun.

Andai sang ayah memahami betapa berharganya musik bagi dirinya…

"Omong kosong!" Ibiki mendengus. "Kalau hanya ingin bernyanyi, kau tidak perlu sampai melarikan diri seperti ini, Uchiha Sasuke! Kau hanya mencari masalah dengan bertindak demikian!"

"Aku tidak bisa bernyanyi di rumah itu! Aku tidak bisa bebas bernyanyi di rumah itu!" ketus remaja itu.

"Kau sudah mencoba membicarakan keinginanmu pada ayahmu—"

"Lalu apa? Menunggu sampai orang itu memukulku lagi?! Menunggu sampai orang itu mengurungku lagi?!"

Dan kenyataan menghentak tiap orang yang mendengar. Sedikitnya mereka mengetahui salah satu faktor penyebab sang Hino melarikan diri. Wajar saja. Siapa yang tidak akan lari kalau sampai seperti itu?

Lelaki berambut pirang yang kembali menatap tajam sang detektif menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Gerakan minimalis itu justru mengundang kewaspadaan ketiga pendiri Sunny Days. Rupanya musisi itu benar-benar kesal dengan perlakuan Morino terhadap Sasuke tadi. Yah, siapa yang tidak kesal jika melihat seseorang tak bersalah disudutkan seperti itu?

"Intinya, Hino-kun bukanlah Hino Sasuke-kun melainkan Uchiha Sasuke-kun, dan sedang dalam pelarian dari kejaran keluarganya yang tidak menyetujui pilihan hidupnya, begitu?" Yahiko menyimpulkan dengan santai meskipun masih terdengar jelas keseriusan dalam nadanya.

"Kau berkata seolah-olah Hino-kun seorang penjahat, Yahiko," tegur Nagato. Lelaki berambut oranye di sampingnya hanya menggidikkan bahu tidak peduli... dan hal itu membuat Naruto tambah kesal.

"Lalu apa hubungannya Naruto dengan Sasuke?" tanya Konan. "Jelas Anda mencarinya karena permintaan keluarga Uchiha, tapi Naruto sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga itu." Ia memicingkan mata, "Belum lagi nama 'Namikaze' yang terlontar tadi..." lalu terdiam dalam pikirannya sendiri. Demikian pula dengan kedua saudaranya.

Namikaze. Nama itu seolah membangkitkan kembali kenangan yang terkubur jauh di dalam karena sudah lama tak pernah muncul ke permukaan. Sekarang, nama itu disinggung kembali dan menyeruak dengan cepat dalam pikiran ketiga anggota keluarga Panti Asuhan Akatsuki. Sebuah nama yang begitu kerasan dalam hidup mereka terutama bagi pria berambut merah.

"Mungkinkah yang Anda maksud adalah Namikaze Minato?" Kali ini Nagato sendiri yang memastikan pada sang detektif.

Pria bermarga Morino tersebut menatapnya sejenak sebelum beralih pada sang Uzumaki yang terlihat begitu kokoh dengan posenya. "Kenapa tidak kau saja yang menjawab, Anak muda?" tawarnya. "Bukankah kau yang lebih tahu tentang pria itu?"

Tidak boleh lari! Tidak boleh lari! Itulah yang sedari tadi bermain di balik topeng kekesalan Naruto. Ia mati-matian berusaha menahan bulir keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Ia tidak ingin terlihat pucat dan ragu di depan mereka terutama ketiga kakak angkatnya. Ia harus kuat dan menghadapi masalah dengan tegar. Maka, ia pun menoleh untuk menatap ketiga saudaranya—terutama Nagato yang bertanya—lalu mengangguk... otomatis membuat mereka melebarkan mata. Namun, sebelum mereka sanggup bertanya lebih jauh, ia sudah keburu menggelengkan kepala seraya berisyarat: akan kuceritakan nanti.

Alis sang Morino menekuk ke tengah dalam tanya ketika melihat gerakan tangan sang pemuda. Ia mulai mencurigai sesuatu yang tidak beres dengan lelaki itu. "Katakan sesuatu, Namikaze-kun," ucapnya kemudian dengan nada tenang namun tegas. Setiap pasang mata memandangnya. "Katakan bahwa kau putera dari Namikaze Minato."

Yahiko, Nagato, dan Konan yang sedikit banyak sudah menduga hal itu melirik adik angkat mereka. Sementara itu, Sasuke, yang masih diam di sebelah sang musisi, mulai mengepalkan tangan dalam kemarahan. Ia tidak suka dengan situasi tersebut—di mana Naruto dipaksa bicara oleh orang lain dengan seenaknya tanpa mengetahui akar permasalahannya. Tangannya semakin gatal untuk menghancurkan sesuatu—atau seseorang dalam kasus ini.

Naruto sendiri, setelah berhasil meredam ketakutannya, balas memandang sang detektif dengan tatapan menantang. Ia gerakkan jemarinya perlahan membentuk rangkaian kata yang kalau bisa didengar akan tampak seperti ejekan untuk sebuah jawaban.

Namaku Uzumaki Naruto, dan aku memang putera dari Namikaze Minato. Lalu, apa hubungannya denganmu, Tuan Detektif?

"Really?!" kaget Yahiko yang serta merta menatap adiknya. "Dunia memang sempit tapi aku tak menyangka akan sesempit ini..." gumamnya masih dalam keterkejutan. Ia lalu beralih pada saudaranya yang berambut merah, "Nagato..."

Yang dipanggil masih menatap Naruto dengan lekat. Ia memang sedikitnya telah menduga hal tersebut sejak mendengarkan permainan piano Naruto yang bergaya mirip dengan sang Namikaze. Namun, bertemu dengan kebetulan seperti ini sungguh membuatnya terkejut dan senang karena Namikaze Minato adalah salah satu musisi yang menjadi panutannya. Ah, apakah ia pernah mengindikasikan bahwa dirinya pun dapat memainkan piano dengan indah? Tidak, karena ia memang tidak ingin mengumbarnya di depan umum. Ia bermain piano hanya ketika ia menginginkannya. Dan mendapati putera sang Namikaze ternyata adalah adik angkatnya sendiri benar-benar membuatnya bersyukur dan mampu tersenyum seperti orang berbunga-bunga... jika bukan karena permasalahan yang sedang terjadi.

Konan mendecak. "Yang kutanyakan adalah hubungan Naruto dengan Sasuke! Kenapa kau mencarinya juga kalau yang membayarmu adalah keluarga Uchiha?!" Itulah yang sedari tadi ingin ia dapatkan kejelasannya—sampai membuatnya menggunakan bahasa kasar dari 'anda' menjadi 'kau'. Mau Naruto anak dari Namikaze Minato atau bukan, ia lebih ingin mengetahui maksud detektif itu terhadap adik angkatnya. Kalau detektif itu berniat buruk, ia tidak akan segan menghancurkannya.

Sang Morino, masih berkutat pikirnya mengingat bahasa isyarat yang dilakukan pemuda berambut pirang itu, ganti menatap wanita tersebut. "Bukan uru—"

Dan sebuah pulpen melayang tepat di sisi kanan wajah bercodet sang detektif. Tampak segaris tinta hitam mewarnai permukaan kecokelatan itu.

"Katakan itu dan akan kulubangi wajahmu dengan pulpen berikutnya," ucap Konan pelan namun mematikan. Yahiko dan Nagato, yang mengetahui tabiat wanita itu jika sedang marah, bersyukur bahwa yang dipegang Konan bukanlah kertas origami andalannya. Jika benar itu kertas yang dimaksud, maka bisa dipastikan wajah sang Morino sudah terluka. Konan bisa sangat mengerikan jika sudah berkaitan dengan apa yang diinginkannya. Dan Sasuke yang berada di sebelahnya sedikit menggeser posisi duduknya menjauhi sang wanita. Ia tak ingin memancing kemarahan kedua.

Ibiki, tidak terpengaruh dengan ancaman wanita itu, bertanya, "Apa yang kau ketahui tentangnya?" Ia mendelik satu per satu dari mereka. "Melihat reaksi kalian sudah cukup untuk membuatku menyadari bahwa kalian sama sekali tidak mengenalnya. Sudah berapa tahun kalian bersamanya tanpa inisiatif untuk lebih mengetahui masa lalunya?" Lelaki ini seperti mengejek mereka yang dianggapnya tak ingin tahu apa-apa mengenai siapa Naruto sebenarnya. Dan hal itu membuat ketiga bersaudara itu terdiam... dan seorang lagi menggebrak meja tamu sang direktur dengan keras.

Safir menusuk obsidian dengan tajam. Jarak yang tadinya jauh kini mendekat dengan cepat. Tubuh yang tadinya bertahan di atas sofa kini condong ke depan dalam tantangan, menguak kemarahan yang sedari tadi ditahan. Untuk sejenak, tak ada yang bergerak. Sejenak, suasana seakan semakin hening oleh kebisuan. Lalu, jemari kecokelatan mengambil tisu yang ada di atas meja dan pulpen yang senantiasa berada di sakunya.

Jangan seenaknya menuduh yang macam-macam! Kau tidak tahu apa-apa, Morino-san!—itulah yang tertulis di atas tisu putih yang kemudian disodorkan secara kasar ke depan wajah sang detektif.

'Lebih baik tidak menyimpulkan secara sembarangan, Morino-san. Kita masih belum tahu kebenarannya.'

Sepintas ingatan menyentak detektif itu dari kebiasaannya yang suka bermain kata meskipun tidak penting dilakukan. Ia memang terlalu sibuk menelaah dengan pola pikirnya yang ambigu tanpa menjelaskan sebab-akibat yang mendasarinya. Mendapati teguran seperti itu sungguh mengingatkannya akan sosok seorang Namikaze Minato yang cenderung lebih berkepala dingin darinya. Dan sosok yang berada di hadapannya tak lain adalah putera pria itu sendiri. Entah ia harus senang atau tidak karena bisa bertemu langsung dengan darah daging sang Namikaze. Yang jelas, ia harus mengetahui penyebab anak itu berkomunikasi seperti ini.

"Tidak perlu repot menuliskan sesuatu untukku, Anak muda. Kau bisa bicara, 'kan?" ujarnya tenang meskipun terdapat keraguan dalam hati kecilnya. Balasan yang diterimanya adalah siraman air hitam kental yang berasal dari cangkirnya sendiri di kepalanya... membuat semuanya terkejut kecuali si pelaku. Ternyata, yang melakukan hal itu adalah Sasuke yang terlihat menekuk alisnya dalam kerutan tak berkesudahan. Pelipisnya pun mengedutkan nadi yang seharusnya tersembunyi di dalam. Oh, ia seperti Dewa Neraka yang bermaksud memberi hukuman!

"Hino-kun?" kaget Nagato menyuarakannya ke permukaan, mewakili ketiga saudaranya.

"... Selalu saja... selalu sama... membuatku naik pitam saja..." Gumaman Sasuke yang masih memegang cangkir dan menatap sang detektif dengan tajam dari balik poninya terdengar berat dan penuh amarah. Jemarinya kemudian menghentak cangkir ke meja dengan keras sebelum mulutnya kembali mengucap sesuatu dengan tegas. "Kalau Naruto tidak bisu seperti dugaanmu, biarkan dia mengeluarkan suaranya ketika dia mau! Semua selalu saja memaksa! Apa kau juga akan mematahkan jarinya dengan kursi hanya untuk memastikan bahwa dia bisa bicara?! Apa kali ini kau akan menggunakan senjata yang kau bawa untuk memaksanya bicara?! Tidak Inuzuka... tidak kau... kalian manusia barbar!"

Perkataannya membuat semua terdiam. Sang detektif, yang mendapat semprotan itu, melirik jemari kiri sang Uzumaki yang berperban, menduga bahwa apa yang barusan remaja itu bilang benar terjadi sebelumnya. Dan nama Inuzuka yang terlontar tadi semakin memperkuat dugaannya. Sementara itu, bagi Yahiko, Nagato, dan Konan yang memang penasaran dengan masa lalu Naruto, kalimat sang remaja bagai menyentil hati mereka. Tadinya mereka begitu ingin mengetahui alasan kebisuan Naruto dan kalau memang sang adik bisa bicara, mereka ingin mendengarnya. Namun, kini mereka berpikiran lain. Tepat seperti perkataan Sasuke, Naruto akan kembali berbicara jika ia memang sudah siap... itu pun kalau memang Naruto benar tidak bisu.

Bagi Naruto sendiri—yang masih terpana dengan perbuatan Sasuke—ucapan remaja itu perlahan mengikis kemarahan yang bercokol dalam hatinya. Ia tidak menyangka bahwa Sasuke akan berbuat sejauh itu hanya untuk membelanya—melawan detektif yang terkenal kasar pula! Belum pernah ia mendapatkan perlakuan seperti itu kalau berkaitan dengan suaranya yang hilang. Selama ini, jika ada yang menyinggung alasan kebisuannya, semua langsung terpatri pada pemikiran kenapa dan mengapa, bukan pembelaan seperti yang dilakukannya. Karena itulah Naruto merasa senang dan bersyukur atas tindakan sang Hino—tidak, sang Uchiha. Akhirnya ia mengetahui sedikit kebenaran dari Sasuke karena semenjak awal ia memang menduga bahwa nama yang diberitahukan remaja itu adalah nama samaran. Syukurlah perbedaannya tidak terlalu jauh. Ia masih tetap bisa memanggilnya Sasuke, nama yang kini kerasan di telinganya dan lumayan disukainya.

"Tipikal Uchiha. Tindakan lebih cepat ketimbang kata-kata," ucap Ibiki yang kini menyeka wajahnya dengan saputangan. "Rest assured. I mean no harm," tambahnya. Pria itu lalu kembali menatap sang Namikaze yang masih menatap sang Uchiha dengan teduh, dan ia bagai melihat bayangan Namikaze Minato ketika berhadapan dengan orang-orang yang disayanginya.

"Iruka berada dalam keadaan koma. Sepertinya dia mencoba membunuh dirinya sendiri."

Bagai mendengar halilintar di siang hari, berita itu sungguh mengejutkan mereka yang mendengarnya… terutama Naruto. Keseluruhan dirinya mengeras, kaku bagai batu. Waktunya seakan terhenti, napasnya pun bagai tercekat. Apa katanya tadi? Iruka… koma? Mencoba bunuh diri?! Kenapa?! Tidak ada alasannya untuk—

Dan Naruto berhenti berpikir. Tubuhnya yang tadi mengeras kini melemas. Sedikitnya ia mengetahui alasan Iruka mencoba membunuh dirinya sendiri. Dan tadi, detektif itu bilang bahwa Iruka membutuhkannya? Untuk apa? Untuk memastikan kematiannya? Untuk meningkatkan persentase percobaan bunuh dirinya, begitu? Jemarinya yang masih lemas berusaha menuliskan sesuatu.

Kalau aku menemuinya, Iruka-san tidak akan membuka matanya lagi untuk selamanya.

Naruto pun bangkit dari kursi sambil mengandeng tangan Sasuke lalu keluar ruangan, meninggalkan keempat orang yang masih terpaku dengan tulisan yang tertera di tisu.

Sebenarnya, seperti apa kehidupan Naruto sebelum mereka bertemu dengannya?

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sasuke membiarkan dirinya dibawa oleh sang Uzumaki entah ke mana. Melewati studio, melewati lorong, memasuki elevator, lalu menjejaki basement tempat mobil Jeep Army Naruto diparkirkan. Ia menyadari bahwa pemuda itu bermaksud membawanya pulang ke apartemennya, membuatnya menghembuskan napas lega karena masih dapat bertahan di sana. Ia pun segera memasuki mobil dan menunggu hingga Naruto menyalakannya lalu bergerak pulang.

Dalam perjalanan, Sasuke terus menatap sang Uzumaki yang tadi menuliskan kalimat menyedihkan itu. Kenapa ia berpikiran begitu? Apakah kata-kata yang tertera tadi benar adanya? Jika Naruto menemui orang yang bernama Iruka, maka Iruka malah akan mati? Kenapa seperti itu? Apakah Naruto akan mem—ah, tidak! Pasti bukan itu! Lantas, apakah Naruto malah akan membawa pengaruh buruk bagi Iruka? Sebetulnya Iruka itu siapanya Naruto?! Kekasihnya yang dulu kah?

Sebersit rasa sakit melintasi hati Sasuke tanpa terduga. Ia sempat tertegun sebelum kembali berkutat dengan pikirannya.

Kenapa Naruto bisa kenal dengan detektif itu? Apa mereka berasal dari kampung halaman yang sama? Kenapa Naruto tidak ingin kembali ke sana? Dan kenapa Naruto tidak menceritakan masa lalunya kepada ketiga orang itu? Bukankah mereka seperti sosok kakak bagi Naruto? Apa ia juga akan menutup diri padaku?

Dan rasa sakit itu kembali melintasi hati Sasuke. Sungguh, saat ini ia tak ingin mengetahui penyebab sakit yang dirasakannya.

Mobil memasuki kawasan Apartemen Iwa, menaiki lorong parkir hingga lantai 6. Naruto mematikan mesin lalu bergerak turun yang langsung diikuti Sasuke. Ia meraih kunci masuk apartemen dari dalam tasnya dan membuka pintu terdekat. Sasuke berusaha menyamai langkahnya yang bisa dibilang tergesa-gesa bagai hendak menghindari sesuatu. Sang Uchiha mendapati dirinya bingung dengan tingkah sang pemuda. Bukannya ia tidak mengerti tetapi bukankah mereka sudah aman sekarang? Bukankah mereka sudah jauh dari cengkeraman sang detektif?

"Naruto…" panggil Sasuke ketika mereka melewati tangga menuju lantai 7. Sayangnya, Naruto tidak mendengar atau justru tidak mengindahkannya dengan sengaja? Sasuke pun meraih pergelangan tangannya dan efektif menghentikan langkahnya. Sang Uzumaki belum memperlihatkan wajahnya yang masih menghadap depan. "Naruto?"

Helai pirang sang Uzumaki menutupi ekspresi yang bermain di wajah kecokelatan. Kepala itu pun menunduk dalam seakan tidak ingin menunjukkan apapun yang tergaris di sana pada dunia. Namun, jemari putih membawa keseluruhan dirinya untuk berbalik dan menatap langsung oniks yang menunggu. Ketika warna malam itu menyaksikan pendaran muram bertopeng senyum, kedua tangannya langsung menarik tubuh yang memilikinya dalam dekapan erat nan lembut.

Sasuke tidak tahu apa yang tengah ia lakukan. Yang ia ketahui pasti adalah bahwa ia tak ingin Naruto tersenyum menutupi luka yang terlihat jelas dari raut wajahnya. Ia tak ingin Naruto tampak begitu menderita dan menerima segalanya dengan lapang dada yang lebih kepada pasrah. Ia ingin Naruto yang menunjukkan emosinya ketika berkutat dengan musik dan fotografi juga menunjukkan emosinya ketika dihadapkan dengan dirinya dan masa lalu. Ia ingin Naruto mengungkapkan kesedihan, kepedihan, kemarahan, dan rasa tak berdaya kepadanya. Ia ingin Naruto memercayainya dan membagi perasaannya yang terdalam. Ia ingin Naruto memperlakukannya lebih seperti ketika ia memperlakukan kekasih—

Apa… yang dipikirkannya tadi?

Apa… yang baru saja… ia pikirkan?

Ia ingin Naruto bagaimana? Ia ingin Naruto memperlakukannya bagaimana? Tapi dirinya 'kan hanya ingin membantu lelaki itu! Ia hanya ingin meringankan beban sang musisi! Bukan berarti ia—

Sejak kapan ia membayangkan sosok itu mendekapnya lembut? Sejak kapan ia memimpikan sosok itu menyayanginya? Sejak kapan ia memikirkan sosok itu melebihi pikirannya akan musik? Sejak kapan ia merasakan getaran aneh menjalari tubuhnya dan berdiam di perut dan dadanya? Sejak kapan ia merasakan sakit melintasi hatinya saat pikirannya membesit kata kekasih sang pemuda? Sejak kapan?!

Ah, sedikit banyak ia mengetahui jawabannya.

Dan dekapan hangat yang menyelubungi tubuhnya sebagai balasan atas tindakannya yang memeluk terlebih dahulu? Dekapan yang terasa nyaman dan menentramkan?

Apa yang terjadi pada dirinya?

Apakah ia mulai memiliki perasaan lebih… yang tak—belum—ingin diakuinya? Apakah ia sungguh mengerti akan perasaan itu sendiri?

"Di sini hanya ada kau dan aku. Hanya aku yang berada bersamamu. Karena itu, kau bisa menumpahkan perasaanmu sebebas mungkin," bisik Sasuke. "Kau tidak perlu menahannya lagi. Aku tidak mau melihatmu tersenyum saat kau tidak ingin melakukannya!" Ia mempererat pelukannya dan membuat sang Uzumaki menenggelamkan wajahnya pada lekuk lehernya… yang tak lama terasa basah.

Ia tak perlu mengerti sekarang. Perasaan yang tumbuh di hatinya tidak perlu dimengerti saat ini. Hanya Naruto, hanya perasaan sang musisi yang kini memenuhi benaknya. Ia ingin meringankan beban yang menumpuk di pundak lelaki itu. Ia ingin meringankan masalah yang mengurung pemuda itu. Ia ingin… ia hanya ingin…

"You're gonna be okay. I'm here with you, Naruto…"

Sasuke hanya ingin menjadi penopang dalam hidupnya… suatu harapan yang muncul begitu saja dalam benaknya.

"I'm here with you…"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Semua dimulai ketika seorang pria idaman seluruh gadis lajang di desa jatuh cinta pada sesosok perempuan yang datang dari luar. Pria itu terkenal akan kebaikan dan ketulusan hati bersamaan dengan sikap tegas dan kewibawaannya dalam membawa diri sehingga siapapun akan terpesona oleh aura yang dipendarkannya. Dan dirinya jatuh cinta kepada perempuan dari luar desa adalah suatu hal yang ditentang karena tradisi desa tidak mengizinkannya. Namun, ia tidak mengindahkannya dan lanjut mempersunting gadis tersebut. Mereka pun hidup secara sederhana di rumah kecil yang hijau dan tentram yang terletak di pinggiran desa.

Setahun setelah pernikahan mereka, seorang anak yang sehat lahir dan melengkapi kebahagiaan. Anak itu memiliki surai yang sama dengan sang pria dan bentuk wajah yang sama dengan sang wanita. Mereka sangat menyayanginya bahkan hingga ke titik di mana sang pria ingin memamerkan puteranya ke semua orang, khususnya sahabat tersayang. Sudah begitu lama mereka tidak bertemu dengan para sahabat yang berpisah tanpa sempat mengucap salam. Rindu hati tak terbantahkan hingga mereka mencari tahu alamat sahabat mereka yang baru. Saat mereka menemukannya, sepuluh tahun telah berlalu. Namun, mereka tak berputus asa dan tetap berniat untuk menemui mereka. Sayangnya, dalam perjalanan mereka mengalami kecelakaan dan menewaskan sang pria.

Sang wanita sempat tenggelam dalam kesedihan mendalam yang tidak bisa terobati dengan kehadiran buah hatinya. Wanita itu bahkan sempat berpikir untuk menghentikan napasnya sendiri jika bukan karena rumor di desa yang menyudutkan putera semata wayangnya. Ia mendekap kenyataan bahwa anaknya menyukai orang dengan jenis kelamin yang sama dan syok akan hal itu. Namun, hatinya tak ingin menyakiti sang anak sehingga ia menerima dengan lapang segala gunjingan, cercaan, makian, dan hinaan yang datang pada mereka. Tidak hanya itu, siksaan fisik yang kerap diterimanya melalui lemparan batu para penduduk yang sedari awal menentang kehadirannya pun ia terima dengan sabar dan tegar. Tidak akan ia biarkan penduduk desa senang karena penderitaannya. Ia akan membuktikan bahwa ia bisa melalui semua itu bersama anaknya. Ia akan berjuang membesarkan anaknya hingga dewasa dan ia berharap bahwa puteranya pun mampu berjuang bersama hingga titik darah penghabisan. Ia berharap bahwa puteranya akan tetap tabah dan kuat dalam menjalani hidup.

Takdir berkata lain. Dua tahun setelah kepergian sang pria, sang wanita pun menyusul karena sakit yang dideritanya. Bukan sebuah penyakit parah tetapi dapat menyebabkan akibat yang fatal jika dibiarkan. Wanita itu terkena demam tinggi yang seharusnya bisa pulih jika diberi obat dan istirahat yang cukup. Hanya saja, tempo itu mereka tak mempunyai obat sedikitpun dan tak ada yang bersedia memberikan obat. Bahkan hingga sang anak berkata bahwa ia akan membeli obat yang dibutuhkan semahal apapun harganya, tidak ada hati yang tergerak. Semua menjauh dan tidak menghiraukannya sama sekali. Sang anak pun berlari keluar desa untuk mencari obat. Ia berkeliling hampir ke tiga desa sampai akhirnya berhasil mendapatkan obat. Namun, ketika ia kembali pulang, sang wanita tak lagi membuka matanya. Saat paman yang sering membantunya datang usai pekerjaannya yang memakan waktu seminggu karena jarak tempuh yang sangat jauh, semua sudah terlambat. Sang anak kini sebatang kara dan teraniaya hingga pada tahap kelaparan dan sakit karena mental yang semakin lama semakin terkikis oleh buruknya kata-kata yang dilontarkan untuknya.

Sang paman, yang pernah menjadi adik kelas sang pria yang telah pergi lebih dahulu, menyesali ketidakpekaannya dan bersumpah untuk melindungi anak itu bersama dengan pasangannya. Ia akan merawat anak itu menggantikan pria yang selama ini menjadi panutannya. Hal itu ia lakukan sebagai penebusan dosa karena terlambat bertindak sehingga menyebabkan sang wanita meninggal dunia dan sang anak sengsara. Ia akan membayar segalanya dengan memberikan keluarga bagi anak itu.

Sedikit demi sedikit, anak itu kembali membuka diri. Tersenyum dan tertawa sudah bisa dilakukannya lagi, membuat sang paman sedikit lega karena setidaknya ia berhasil membawa sang anak selangkah menuju cahaya. Ia, bersama dengan pasangannya, mencurahkan kasih sayangnya kepada sang anak sampai anak itu berani melangkahkan diri keluar rumah dan menikmati udara segar.

Hingga dewa kembali menguji sang anak dengan mengambil sang paman dari sisinya.

Hari itu hujan deras. Sang anak tengah menunggu sang paman yang terjadwal untuk pulang dari pekerjaannya hari itu. Anak itu tahu bahwa jarak tempuh dari jalan besar ke rumah mereka cukup jauh dan bertanah merah sehingga licin jika tidak berhati-hati. Anak itu menggenggam payung besar dan berkata kepada pasangan sang paman bahwa ia akan menjemput sang paman ke jalan besar. Ia lalu bergegas ke sana dan menunggu tepat di pinggiran jembatan, berteduh di bawah halte usang yang mulai karatan. Ketika safirnya mendapati bis yang ditumpangi sang paman tiba, ia maju selangkah untuk memperlihatkan dirinya pada sang paman. Lelaki yang ditunggunya menyadari keberadaannya dan melambaikan tangan padanya sembari berjalan mendekat. Sang anak, begitu senang melihat sang paman yang dirindukannya karena sudah lama tak bersua, berlari mendekat ketika sebuah mobil oleng menghantam halte tersebut dengan sangat kencang. Tak terhindari, mereka terpental ke tengah jalan dan mobil oleng tersebut menabrak pagar pembatas lalu terbakar.

Anak itu merasakan dingin dan hangat dalam waktu bersamaan. Dinginnya hujan bagai menusuknya dengan jarum-jarum kecil yang tak bisa ditarik kembali. Hangatnya dekapan yang memeluknya erat dan belaian pada rambutnya bagai menyiramnya dengan kasih sayang terakhir yang tak dapat dirasakan kembali. Dan yang jelas terlihat olehnya adalah merah menyala serta seulas senyum tipis dari wajah sang paman yang kesehariannya selalu mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya karena alergi debu. Senyum itu tampak jelas menghiasi wajah sang paman yang perlahan memutih dan terkulai lemas di atas tubuhnya. Ia tak bisa bergerak, tak juga berpikir. Benaknya kosong, otaknya berhenti. Ia tak bisa mendengar apa-apa. Hanya perlakuan kasar yang jauh lebih hebat dari tangan orang yang biasa memeluknya yang kini tinggal seorang dirilah yang menemaninya. Dan kata-kata yang terasa lebih pedih dari luka menganga lebar yang diolesi garam adalah lagu pengantar tidurnya.

Hilang. Kata-kata pembelaan yang jarang terlontar dari mulutnya kini telah hilang. Ucapan maaf atas kesalahannya pun tak pernah terdengar lagi, seakan menguap dan lenyap begitu saja. Keberadaannya perlahan memudar hingga kakinya melangkah menjauh dalam ketiadaan dan kesunyian. Rasa sakit, sepi, dan sedih yang membuatnya ingin mati adalah teman seperjalanan. Seorang diri berusaha mencari arti hidup, ia berjalan tanpa arah, tanpa bimbingan, tanpa tujuan. Harapan yang berdiam kecil di sudut hati pun perlahan terkikis oleh keputusasaan yang datang menerjang bagai badai tak berkesudahan. Dan ketika ia sungguh tak sanggup lagi, ketika cahaya tak lagi menerangi langkahnya, ia memutuskan untuk menyudahi segalanya. Ia berniat untuk mengabulkan permintaan keluarga terakhirnya yang tidak menginginkan keberadaannya…

hingga tiga malaikat dewa turun menyelamatkan dan membagi kehangatan sekali lagi.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Morino Ibiki berdiri di depan sebuah gedung mewah yang akan dipakai untuk konser tunggal Uzumaki Naruto. Ia berdiri di sana karena direktur agensi Sunny Days memberikannya tiket VVIP untuk konser tersebut. Begitu mengetahui bahwa kursinya berada hanya lima meter dari panggung, ia menyadari bahwa lelaki itu ingin ia memerhatikan Naruto dan Sasuke dari dekat dan mengambil keputusan setelah melihat aksi mereka. Yahiko ingin agar dirinya tidak terburu-buru sehingga malah buta akan hal yang seharusnya jelas terlihat. Morino menyetujuinya. Kini, ia berada di sana untuk melihat gladi resik dan merekam sekilas apa yang mereka katakan sebagai hasrat dalam bermusik. Ia akan menentukan segalanya setelah melihat konser yang akan berlangsung lusa.

Detektif itu lalu berdiri di deretan paling belakang arena festival dan memposisikan dirinya di tengah agar matanya dapat dengan cermat melihat gladi resik yang akan segera dimulai. Ia mendapati gerombolan bocah Inuzuka itu dan pemuda Hyuuga yang sudah lama meninggalkan desa. Tak lama berselang, ia pun mendapati kedua targetnya memasuki panggung dengan membawa alat musik masing-masing: biola untuk sang Uzumaki, dan harmonika untuk sang Uchiha. Tampak di matanya bahwa remaja Uchiha itu masih kesulitan dalam mengatur permainan alat musiknya, membuatnya mendengus. Kalau saat gladi resik saja masih tidak bisa menguasai alat musik yang diamanatkan, bagaimana anak itu akan membuktikan diri padanya? Ibiki mendecak dalam ejekan karena menganggap bahwa Uchiha bungsu itu hanya membual dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Kemudian, suara lain terdengar. Gesekan biola mulai memenuhi gedung itu. Mulai dari percobaan yang menghasilkan suara ragu-ragu hingga keraguan tersebut hilang dan digantikan dengan suara keyakinan yang berbuah dari rasa percaya diri yang tinggi. Permainan biola yang ditangkap indah di tiap sudut gedung dan penjurunya. Begitu jelas dengan resonansi mewah bagaikan mendengar sebuah orkestra utuh yang dikomandoi oleh konduktor mapan, berbakat, dan profesional. Penuh dengan perasaan, sarat akan makna, dan ini baru terjadi di gladi resik! Bagaimana ketika konser dimulai lusa nanti? Akan menjadi seperti apa suara ini? Sang Morino terdiam dengan mata yang cukup terbuka lebar. Lalu ia mengingat sesuatu.

Dulu, ia pernah mendengar suara seperti ini. Telinganya pernah mendengar gaung bersih seperti ini. Sebelum pekerjaan membawa kemurniannya pergi, ia pernah merasakan takjub seperti ini. Sebuah perasaan yang mengaliri hatinya dengan hangat, membantu jiwa pemberontaknya untuk beristirahat sejenak. Ia memejamkan mata, berusaha merekam melodi yang menenangkan hati yang kerap terisi oleh jejak negatif dari hasil penyelidikannya. Ia berusaha untuk mengingat kembali nada-nada yang pernah kerasan dalam hari-harinya. Nada yang tercipta dari seseorang yang berbakat dan dinyanyikan oleh orang yang berbakat pula, ia ingin mendengarnya kembali. Dan saat nada itu menggema dalam benaknya, ia tersentak lalu mendecak. Tak disangka ia akan menemukan kembali salah satu pion pembangun hidupnya. Tak diduga ia akan mendengar kembali melodi awal dirinya mengenal pria bermarga sama dengan yang berdiri di atas panggung. Ia sempat melupakannya. Ia sempat tidak menyadarinya. Padahal begitu dekat dan mereka mempunyai koneksi yang sama. Mereka memburu target yang sama.

Lelaki besar itu beranjak dari tempatnya berdiri dan berjalan keluar gedung. Ia merogoh saku untuk mengambil ponsel yang kemudian tersambung ke salah satu orang yang dulu akrab dengannya. Kalau informasi yang didapatkannya nanti sesuai dengan dugaannya, maka permainan sia-sia ini akan ia akhiri. Ia tidak akan ambil andil dalam permainan tanpa arti ini.

"Asuma, apa yang terjadi dengan kelima anggota—"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Itachi baru tiba di pulau Iwa. Bersama dengan sepupunya, Uchiha Shisui, ia menemui Uchiha Obito—atau yang lebih dikenal dengan nama Tobi—yang merupakan manager agensi Rainy Weeks. Ia menjelajahi kota itu dan menemukan bahwa banyak musisi jalanan bertebaran. Mulai yang asal-asalan hingga yang terdengar lebih tertata, ia mendapatinya di sepanjang jalanan Iwa menuju tempat pertemuannya dengan Tobi. Ketika mobil yang disewa Shisui berbelok ke jalan tertentu, matanya menangkap baliho besar bertuliskan Uzumaki Naruto Live Concert: Five Years "BRANCH" dengan wajah kecokelatan bergaris tiga seperti kumis kucing, bermata sebiru langit dengan helaian mentari. Ekspresi senyum teduh yang tertera pada kemiringan pose sebesar 20 derajat ke kanan dan tatapan yang mengarah pada kejauhan seakan menatap masa depan membuat napasnya tercekat sesaat.

Ia mengetahui senyum itu. Ia mengetahui ekspresi itu. Senyum sederhana yang seakan puas dengan hasil yang telah dicapai selama lima tahun namun dengan pancaran mata membara yang masih tidak menyerah akan kemungkinan yang bisa dicapai di masa depan, ia pernah melihatnya. Di mana? Di mana ia melihatnya? Ia belum pernah mendengar nama Uzumaki Naruto sebelumnya karena pekerjaan yang sama sekali tidak menyentuh dunia seni tetapi ia yakin pernah melihat ekspresi itu. Apa ia tidak salah ingat? Apa ia salah mengira? Di mana ia pernah—ah! Ya… ya, ia memang pernah melihatnya.

Itachi pernah melihat orang itu di foto usang milik sang ayah yang tidak sengaja ia lihat di buku memo. Akan tetapi, di baliho tertulis bahwa konser itu merupakan acara musik untuk memperingati lima tahun berlalu semenjak pertama musisi itu menjejaki langkah di dunia musik. Kalau yang ada di foto sang ayah sama dengan yang terpampang di baliho, seharusnya musisi itu sudah setua ayahnya sekarang. Foto yang berada di baliho menunjukkan dengan jelas bahwa orang itu masih muda. Apa bukan orang yang sama? Tapi ekspresi itu?

"Sesuatu menarik perhatianmu, Itachi?" tanya Shisui setelah menyadari diamnya sang sepupu sedikit berbeda dengan ketenangan yang biasa ia rasakan.

Itachi menatap sepupunya sejenak sebelum melontarkan tanyanya sendiri. "Siapa itu Uzumaki Naruto?"

Shisui menyeringai kecil. "Tobi bisa menjawab siapa orang itu untukmu."

_Luce Café_

"Uzumaki Naruto itu seorang Branch di dunia musik. Pengalamannya memang baru lima tahun tetapi sudah banyak karya yang diciptakannya sehingga banyak pula penyanyi yang mempopulerkannya dan Naruto pun diteladani oleh musisi lain karena bakatnya yang luar biasa. Tidak hanya itu, Naruto juga seorang fotografer handal yang bukunya sudah tersebar ke mana-mana. Karyanya unik dan tidak seperti fotografer pada umumnya. Baginya, tumpukan sampah bau pun bisa menjadi karya seni yang indah di tangannya," jelas Tobi ketika Shisui menanyakan hal yang ingin diketahui Itachi. Lelaki itu menyisir rambutnya yang berantakan ke belakang sambil menyesap kopi susu yang dipesannya. "Memangnya kenapa dengan Naruto?" tanyanya kemudian.

Shisui menggidikkan bahu. "Itachi penasaran dengannya." Pria itu menyambar kentang goreng milik Tobi yang manyun mendapatinya.

"Aku hanya merasa pernah melihatnya," Itachi membela diri sebelum meneguk kopinya.

Tobi menaikkan sebelah alisnya. "Yang benar? Naruto jarang mau difoto loh apalagi tampil di media! Bisa dihitung keberadaan wajahnya di media cetak ataupun elektronik! Kalau kau pernah melihatnya dari Oto, berarti kau pernah menonton acara 2-hours Dream!" jelasnya bersemangat, senang mengetahui bahwa Itachi mempunyai ketertarikan di dunia yang digelutinya. Sayang yang didapatinya adalah gelengan.

"Aku belum pernah menonton acara itu. Aku hanya merasa pernah melihat fotonya di suatu tempat," sanggah Itachi. Ia masih memikirkan kemungkinan pemuda yang dilihatnya dalam foto milik sang ayah. Perawakannya begitu mirip, auranya pun demikian. Kalau mereka orang yang berbeda, apa itu berarti mereka punya hubungan dekat seperti keluarga? Tunggu dulu. Kenapa ia begitu penasaran? Apa karena kenyataan bahwa foto itu berada dalam memo sang ayah terlepas milik siapa foto tersebut? Masalahnya adalah foto itu sudah jelas bernuansakan sebuah band yang baru selesai manggung. Kenapa ada di memo ayahnya?

"Di mana kau melihatnya?" tanya Tobi lagi. Ragu menjawab, Itachi hanya menyesap kopinya. Tobi kembali manyun karena pertanyaannya yang tak mendapat respon. Shisui yang melihat hanya menepuk pundak sepupunya itu. "Ya sudahlah! Karena kalian jauh-jauh datang ke sini, besok temani aku nonton konser Naruto ya!" ajaknya kemudian.

"No, thanks. Aku tidak begitu suka dengan keramaian," tolak Itachi halus. Pundaknya lalu dirangkul Tobi.

"Ayolah, Itachi! Kursiku itu Very Very Very Very Important Person loh~ jadi sama sekali tidak berdesakan dan malah bisa menikmati dengan leluasa di ruangan AC yang melihat jelas ke panggung! Bahkan boleh merekam juga~" bujuk Tobi. "Shisui-san juga ikut ya!"

Pemilik rambut ikal dengan tubuh yang agak besar itu menaikkan gelasnya. "Tidak masalah, Tobi." Membuat sepupunya nyengir kuda.

"Kujamin kau tidak akan menyesal, Itachi! Apalagi kau akan menemukan orang yang kau cari di sana~"

Penasaran, Itachi menatap oniks sepupunya itu. "Orang yang kucari?"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Hari konser berlangsung pun tiba. Gedung sudah memuat massa yang begitu banyak seperti tur konser beberapa bulan yang lalu di tiga kota. Para fans setia sang musisi jelas terlihat terutama ketika mereka melambaikan kipas dan lightstick bertuliskan nama Naruto. Ada yang mengenakan baju yang mirip dengan yang pernah dikenakan sang Uzumaki ketika tampil di media. Ada pula yang mewarnai rambutnya menjadi pirang dan menatanya berantakan. Bahkan ada yang sengaja menggambar narutomaki yang biasa ada di mangkuk ramen di peralatan yang mereka pakai. Semua karena ingin membuktikan bahwa mereka menyukai sang musisi dan ingin menjadi bagian dari konsernya hari itu.

Tidak hanya fans Naruto, banyak juga penggemar Neji dari Byakugan band dan Hino si Pendatang Baru. Fans yang kebanyakan adalah para gadis yang menyukai cowok-cowok tampan mencetak foto-foto mereka dan menjadikannya sebagai atribut untuk digelar di konser. Ditambah lagi mereka yang mengakui diri sebagai fujoshi mencetak foto-foto dengan tema 'Hino-kun yang dipinjam sebentar sama Neji-san dari Gaara-kun' atau 'Neji terlibat cinta segitiga dengan Hino dan Gaara', dan sebagainya. Persimpangan itu muncul berkat konser Sunny Days dan Blue Line Production beberapa bulan lalu yang memamerkan hubungan persahabatan Gaara dan Hino yang disamarkan dalam musikalisasi drama 'Dua Sahabat: Gerard dan Zack'. Padahal Gaara diberitakan tidak ikut dalam konser kali ini karena pekerjaan yang menumpuk sebagai model.

Yang tak terduga adalah fans dari Kiba yang berasal dari Kiseki band. Kiba terbilang sangat baru di ranah musik Sunny Days apalagi jika dihubungkan dengan sang Musisi. Band Kiba memang memenangkan penghargaan label Sunny Days dalam kompetisi band tetapi belum pernah tampil dalam acara sebesar ini. Dapat dibilang bahwa konser ini merupakan debut Kiba yang mampu mendobrak audisi penuh syarat yang diselenggarakan Sunny Days. Oleh karena itu, fans yang telah mengikuti sepak terjangnya pun datang untuk memberikan dukungan mereka.

Konser tunggal Uzumaki Naruto itu sendiri terbilang sebentar. Yang biasanya memakan habis tiga sampai empat jam, konser peringatan lima tahun karirnya di bidang musik itu hanya memakan waktu dua jam. Diperkuat dengan hanya sepuluh lagu yang sudah termasuk instrumentalia dan orkestra dari paduan suara Rainy Weeks dan konduktor Orkestra Iwa beserta tiga penyanyi utama dan tentu saja musisi itu sendiri, waktu yang terpakai hanya satu jam empat puluh delapan menit. Sisanya akan dipakai untuk menyapa dan menyambut para penonton yang datang hari itu serta menutup acara. Singkat, benar? Itulah yang diinginkan sang Uzumaki. Lelaki itu tidak ingin lama terekspos di atas panggung seperti biasanya karena ia lebih senang penyanyi lain yang mengambil lampu sorot sementara ia mendukung dari belakang. Kenapa? Karena hal itu akan membuatnya lebih bangga dan memacunya untuk terus menciptakan karya yang lebih baik lagi.

Kini, tirai akan segera dibuka. Para musisi dan artis sudah bersiap di balik panggung, menunggu host memanggil mereka. Kebanyakan terlihat tegang tapi itu hanyalah terjadi di awal karena begitu mereka melangkahkan kaki memasuki wilayah panggung, aura bintang mereka akan keluar dan memendarkan rasa percaya diri yang menutupi segala kekurangan. Mereka akan berusaha semaksimal yang mereka bisa bahkan menembus kemampuan yang selama ini belum pernah dikeluarkan. Demi menyukseskan acara, demi sang musisi yang mereka hargai dan teladani. Demi seorang Uzumaki Naruto.

"SELAMAT DATANG DI UZUMAKI NARUTO LIVE CONCERT: FIVE YEARS BRANCH!"

Acara pun dimulai. Sorak sorai para penonton yang bersemangat terdengar riuh memenuhi seisi gedung. Mereka begitu ingin menyaksikan seperti apa konsep konser kali ini. Apakah akan ada musikalisasi drama lagi? Featuring artis luar—yang mungkin saja menjadi kejutan? Tema yang berbeda dari sebelumnya? Mereka menantikannya. Yang belum mereka tahu adalah bahwa konser kali ini tidak dikonsep dengan mewah, hanya kesederhanaan yang mewakili perasaan syukur sang musisi. Lagu-lagu yang akan dibawakan bersamaan dengan paduan suara dan orkestra pun mengacu pada rasa terima kasih yang takkan habis terungkap. Tema yang merangkum semuanya adalah Solitary Gratitude, sebuah frasa di mana sang musisi tak hentinya mengucap syukur di bilik kesendiriannya hingga kini ia tak sendiri lagi. Teman, sahabat, rekan, dan keluarga telah didapatkannya karena perasaan yang takkan hilang dari dirinya itu. Melalui perjuangan keras yang menguras tenaga serta air mata, pengorbanan dari penderitaan yang begitu sakit melanda, dan kerelaan serta ketulusan hati yang menerima dengan lapang dada, sang musisi bermaksud membagi perasaannya ke dunia. Ia ingin menyampaikan bahwa segala sesuatu membutuhkan perjuangan dan kerja keras serta rasa syukur yang tak terhingga, bahwa setiap usaha akan membuahkan hasil yang setimpal. Kesederhanaan itulah yang mendasari konser kali ini.

Ketiga pendiri Sunny Days, yang telah berada di kursi khusus deretan terdepan yang tentu saja memahami tema konser dengan baik, tersenyum ketika mendapati adik mereka melontarkan makna yang ingin ia sampaikan. Mereka terharu akan penjelasan sang Uzumaki yang menitikberatkan pada ungkapan syukur kepada dewa karena telah mengirimkan tiga malaikat untuk menolongnya ketika impiannya masih membara jauh di dalam lubuk hati. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut akan gerangan ketiga malaikat tersebut, mereka sudah mengerti. Maka, mereka pun mengerahkan seluruh kemampuan untuk menyukseskan konser tersebut sebagai balasan rasa syukur yang sama karena dewa telah memberikan adik yang begitu menyayangi mereka. Semoga perasaan mereka tersampaikan dengan baik dan konser pun dapat berjalan dengan semestinya.

Di lain pihak, agensi Rainy Weeks yang dimanajeri oleh Tobi, kini berada di ruangan yang berseberangan dengan panggung tapi tepat di tengah. Dengan bantuan kamera yang terpasang dalam ruangan yang penuh manusia, mereka dapat melihat dengan jelas aksi para artis di atas panggung. Bertiga, yakni Tobi, Shisui, dan Itachi, menyaksikan konser dengan tenang. Saat itulah oniks kembar mereka mendapati sosok adik dan/atau sepupu yang mereka cari.

"Jadi sebenarnya kau sudah tahu kalau Hino itu Sasuke," Itachi memberi pernyataan akan hal yang sudah diketahui Tobi.

"Tentu saja! Sasuke itu punya perawakan yang unik. Mau diubah seperti apapun gaya rambut, berpakaian, ataupun warna mata, aku pasti tetap mengenalinya! Dia 'kan sepupuku yang imut~" jelas Tobi sambil nyengir.

"Lalu kenapa tidak kau beritahu ke ji-sama?" tanya Shisui padanya meskipun ia sudah mengetahui jawabannya.

Manajer Rainy Weeks itu menggidikkan bahu. "Aku nggak berkewajiban melaporkan apapun ke Fuga-jiji. Apalagi Sasuke bisa ada di kota ini tanpa Itachi ataupun keluarga Uchiha lain, berarti dia datang dengan kemauannya sendiri, dan kalau boleh berpendapat, kemungkinan saja Sasuke melarikan diri dari rumah. Aku tahu seperti apa Fuga-jiji itu, makanya aku diam saja dan membiarkan Sasuke melakukan apa yang dia mau. Lagipula ada Sai yang menjadi walinya di sini," jelasnya lagi.

Shisui tersenyum malas. "Kau memang baik hati, Tobi-chan~" Yang bersangkutan menjulurkan lidah. "Aku tahu rasanya dikekang, Shisui-san. Makanya aku ingin Sasuke bebas berekspresi di sini," ujarnya lirih, membuat sepupunya yang berambut ikal itu menepuk kepalanya dengan lembut.

Melirik kedua sepupunya sejenak sebelum kembali menatap panggung, Itachi merasa setuju dengan Tobi. Sasuke ingin mengecap kebebasan berekspresi yang selama ini diidamkannya. Melalui nyanyian, Sasuke menemukan caranya sendiri. Berjuang untuk menyampaikan makna dalam dirinya, Itachi tahu bahwa adiknya itu sebenarnya hanya ingin diakui oleh sang ayah yang selama ini terkesan mengacuhkannya. Ia tahu bahwa sang adik ingin membuat sang ayah bangga dengan jalan yang dipilihnya meskipun dengan melarikan diri dari rumah. Memang tipikal adik kecilnya yang manja namun berdedikasi penuh terhadap apa yang dilakukannya. Dan kini, ia melihat Sasuke beraksi di konser seorang musisi yang dijuluki branch dan telah menciptakan banyak karya, Itachi tak bisa mengungkapkan betapa bangga dirinya terhadap pencapaian sang adik.

"Tobi-san," panggilnya kemudian.

"Ya, Itachi?"

"Arigatou."

Balasan yang diterimanya adalah senyum cerah sang sepupu yang menularkan cahaya pada dirinya. Itachi bersyukur bahwa perasaan adiknya tersampaikan sehingga membuatnya memiliki teman di jalan yang dipilihnya. Dirinya pun akan menjadi salah satu pendukungnya.

Kembali ke panggung, lagu pertama yang berjudul Issei no Sei baru saja selesai membuka konser. Lagu itu dinyanyikan oleh Neji yang diiringi oleh gitar Naruto dan di-backup oleh orkestra Iwa. Sambutan penonton sangat meriah karena sang Hyuuga mampu membawakannya dengan baik, mengirimkan aura kesederhanaan yang menjadi topik malam itu. Kini, lagu kedua yang berjudul Boku ni Dekiru Koto tengah dinyanyikan oleh Kiba dengan gayanya sendiri. Suaranya yang cukup matang dan pembawaannya yang santai menarik perhatian para penonton terlebih fansnya yang sedari tadi bergoyang bersamaan dengan petikan gitar Naruto dan hentakan drum yang mengiringi. Orkestra pun tak kalah mengiringi dengan serasi. Usai lagu kedua, Kiba mengajak Neji untuk naik kembali ke atas panggung dan mereka pun menyanyikan lagu ketiga: Mayonaka no Orchestra. Bersama dengan orkestra Iwa yang kali ini dipimpin langsung oleh Naruto, Kiba dan Neji menyanyikan lagu itu dengan enerjik.

Itachi, yang sedari tadi menunggu penampilan adiknya, semakin geregetan—meskipun tetap dengan wajah kalem—karena tidak melihat tanda-tanda sang adik akan menyanyi. Ia ingin menyaksikan sendiri bagaimana adiknya sekarang. Apakah ada yang berubah darinya atau tetap seperti dulu? Itachi tak sabar ingin melihatnya. Tak lama, ketidaksabarannya itu berbuah. Lagu ketiga berakhir dengan kedua penyanyi yang meninggalkan panggung, dan lagu keempat akan segera dimulai. Lampu panggung dimatikan, hanya dua lampu sorot yang menerangi seorang pemuda berambut pirang berantakan yang membawa biola perak dan seorang remaja berambut raven klimis dengan aksen merah bata di bagian ujungnya. Keduanya baru menapaki panggung dan kesunyian pun melanda ruangan megah itu.

Penonton sudah mengerti bahwa jika lampu sorot diredupkan dan yang muncul adalah Naruto dengan biolanya dan satu penyanyi, maka lagu yang akan dibawakan adalah lagu mellow. Mereka menunggu dengan sabar hingga kedua orang itu duduk di tengah panggung dan melodi awal dibunyikan. Napas yang sempat tertahan karena penantian disertai degup jantung yang mulai menderu adalah yang dirasakan mereka yang menyaksikan. Begitu nada tercipta dari biola sang musisi, mereka mendengarkan dengan seksama. Tak lama, suara sang vokalis pun turut menggema.

Itachi terpaku. Ia terdiam di tempat mendengarkan suara sang adik yang menyatu bersih dengan musik yang tercipta dari sebuah biola. Suara jernih Sasuke yang melantunkan bait demi bait lagu dengan indah membuatnya tak bisa mengatakan apa-apa, hanya bisa mematung di atas kursi yang disediakan untuknya. Pandangannya tak lepas dari sosok sang adik yang tampak lebih hidup ketimbang saat di rumah dulu. Wajah yang dalam ingatannya jarang menunjukkan ekspresi teduh kini terlihat mengenakannya dengan sempurna seolah menerima segalanya dengan ketegaran hati. Dan lirik yang terdengar, ia mengetahuinya sebagai lagu dengan judul Thanks to You. Ternyata lagu yang juga salah satu kesukaannya itu merupakan ciptaan sang Uzumaki. Tak disangka ia akan berada di tempat yang sama dengan yang menciptakan lagu itu.

"Tobi-san," panggil Itachi setelah mampu mengeluarkan suaranya, "aku ingin rekamannya," pinta Itachi tanpa mengalihkan pandangannya.

"Beres~ Aku sedang merekamnya untukmu~" balas Tobi sambil menunjuk ke seperangkat DVD yang entah dari kapan menyala. Pria itu tahu bahwa Itachi mengerti maksudnya.

Itachi lalu melanjutkan perkataannya, "Kabel data iPad-ku bisa disambungkan ke DVD itu? Aku ingin memperlihatkan video ini pada seseorang."

Tobi bergerak dan memasangkan kabel data milik Itachi ke DVD. Kemudian, ia mengutak-atik peralatan rekaman yang ada di sana dan membuat sambungan ke iPad-nya sehingga siapapun yang dihubungi Itachi via web-cam dapat langsung melihat konser saat ini. "Kau ingin memperlihatkan Sasuke pada Mikoto-ba-chan?" tanyanya.

"Seperti itulah," jawab Itachi sekenanya, tidak mengiyakan maupun sebaliknya. Ia tahu ia tengah mengambil resiko tapi ia tidak bisa tidak memperlihatkan sosok Sasuke yang sedang berusaha keras meraih mimpinya. Ia ingin orang itu memahami betapa tulusnya hati anak itu dalam menekuni bidang yang digelutinya… meskipun itu berarti ia harus membongkar lokasi keberadaan sang adik.

Apapun yang terjadi, ia akan melindungi impian Sasuke.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Dalam sebuah ruang kerja yang temaram karena lampu utama yang sengaja dimatikan dan hanya berbekalkan lampu meja, seorang pria duduk di kursi kantornya dengan tenang. Matanya terpejam, alisnya menekuk ke tengah dengan jemari yang memijat pelipis pelan-pelan. Kelelahan terpancar darinya, menyelimuti sosok gagahnya dengan aura redup yang sudah lebih dari 15 tahun menemaninya. Ia ingin beristirahat. Namun, jika ia melakukannya, ia akan mengingat hal yang tak ingin diingatnya. Ia akan mengingat kenangan yang ingin dilupakannya. Ia tak mau. Sudah cukup. Pikiran dan hatinya sudah lelah dalam penantian yang tak kunjung berbalas. Ditambah dengan anak bungsunya yang melarikan diri entah ke mana, ia semakin merasa lelah. Bagaimana caranya agar ia bisa menghilangkan semua? Bagaimana caranya agar ia bisa merasa lebih baik? Apakah tetap dengan topeng dingin yang dikenakannya dalam menjalani hidup? Apakah tetap dengan tangan besi yang dimilikinya dalam menghadapi keluarga dan pekerjaannya? Ah, ia tak tahu. Ia tak mengerti. Ia tersesat dan ia tak tahu bagaimana menemukan titik terang dari labirin yang selama ini mengurungnya.

Ternyata, ia memang membutuhkan pertolongan. Ia membutuhkan pertolongan dari kenangan yang selama ini ingin dilupakannya. Ia membutuhkan pegangan agar tidak semakin terperosok dalam jurang kegelapan yang selama ini membuatnya begitu kejam. Ia membutuhkan cahaya tapi tidak ingin sembarang cahaya. Yang ia ingin meneranginya adalah cahaya orang itu. Cahaya yang mampu menenangkannya di saat terburuk sekalipun. Cahaya yang mampu membuat hatinya terasa ringan bagai memiliki sayap. Cahaya yang selalu dikaguminya meskipun kini telah jauh pergi dari hidupnya. Cahaya yang semakin meredup bersamaan dengan harapan yang semakin terkikis oleh keputusasaan. Ia menginginkan cahaya itu kembali padanya. Ia membutuhkan cahaya itu dalam hidupnya.

Bagaimana? Bagaimana cara mendapatkannya kembali?

Laptop-nya berbunyi, menunjukkan sebuah pesan diterima. Ia menghela napas sebelum meraih laptop tersebut dan membacanya. Memahami makna dalam pesan, ia membuka jendela baru untuk menyalakan video yang dikirim untuknya. Sebuah siaran langsung dari suatu konser. Oniksnya menyipit dalam kekesalan karena video itu justru memperkeruh suasana hatinya. Namun, begitu ia mendapati satu sosok yang familiar, pupilnya mengecil dalam keterkejutan. Sosok yang sedang bernyanyi itu tak lain adalah putera bungsunya yang melarikan diri dari rumah. Ekspresi anak itu dalam bernyanyi terbaca jelas, semakin membuatnya terdiam dan terpaku, tak menyangka akan melihat emosi seperti itu di sana.

Kenangan itu kembali menyerangnya. Dan ia tahu takkan pernah bisa melupakannya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Desahan haru dan lega terdengar menggema di gedung konser usai lagu keempat dibawakan. Yang mendengar bagai mendapatkan ungkapan terima kasih itu dari seseorang yang begitu bersyukur akan hidupnya. Meskipun dengan beberapa gubahan nada dan lirik dari lagu aslinya, mereka tetap mendengar makna yang luar biasa. Dan kini mereka menyaksikan kedua penyanyi yang telah turun dari panggung naik kembali ke atas dengan membawa mic masing-masing. Berarti, kali ini lagu akan dinyanyikan oleh mereka bertiga.

"Lagu kali ini adalah lagu yang memiliki arti penting bagi musisi kita," Neji menyapa penonton untuk pertama kalinya, "dan juga bagi kami. Semoga semua dapat menikmati!"

[Andai kau bisa melihatku saat ini]

Sasuke membuka lagu sebelum Naruto memainkan piano. Lalu ia mundur dan mempersilakan Kiba untuk menyanyikan bagiannya, yakni rap, dibantu dengan Neji sebagai suara kedua di bagian tertentu. Setelah itu, Sasuke kembali bernyanyi.

[Aku masih mencari wajahmu di keramaian]

Lirik yang menghentak jiwanya, sama seperti yang dirasakan sang Uzumaki yang sudah lama sekali tidak bersinggungan dengan keluarga sebenarnya karena ia tak bisa. Kenyataan tak seindah khayalan.

[Akankah kau merasa malu atau terharu ketika melihat diriku saat ini?]

Dan lagu kembali pada bagian rap yang kali ini dinyanyikan oleh Neji, dibantu oleh Kiba sebagai suara kedua. Sasuke menimpali dengan improvisasi yang mengiringi melodi yang diciptakan. Semua dikerahkan dengan sungguh-sungguh, dari lubuk hati terdalam karena beberapa dari mereka memang mengalami kenyataan yang sama dengan lirik yang dinyanyikan.

[Akankah kau menyebutkan sebagai pendeta atau pendosa? Akankah kau menyayangiku sebagai pecundang atau pemenang? Karena ketika aku memandang cermin dan menemukan wajahmu membayangi wajahku, aku tak bisa menghentikan gemuruh di hati yang kerap merindukanmu.]

Selintas kalimat mendera sang Hino. 'Andai kau melihatku, tou-sama…'

Tanpa ia sadari, sang ayah memang menyaksikan penampilannya saat itu.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Jemari besar dengan kerutan yang mulai tampak di permukaan sedang memegang sebuah foto yang robek di sisi kanan atas. Jemari itu membawa foto tersebut ke hadapan sepasang mata oniks yang memerhatikan dengan cermat pada satu bagian tepat di sebelah sosok yang wajahnya tak kelihatan karena robek. Sosok dengan senyum teduh yang memendarkan kepuasan karena alasan yang masih diingatnya.

This is the last but not the least! We'll meet again someday, and when that time comes, let's reminiscence together!

Kemudian oniks itu berpindah ke laptop dan berpusat ke sosok yang memainkan piano. Memperhatikannya hingga lagu nyaris berakhir, ia menghela napas. Punggungnya tersandar ke punggung kursi dengan berat namun tersirat kelegaan di dalamnya. Jemari yang memegang foto pun meletakkan kertas tersebut di atas meja. Mulutnya kembali menghembuskan napas panjang.

Akhirnya… setelah sekian lama menanti, ia menemukannya. Akhirnya ia menemukannya.

"… Minato."

-.-.-TBC-.-.-

Aaaaaaaaaaaaaahhhh! Akhirnya Kyou bisa update fanfic ini jugaaaaa! Mahap ya lama banget! Kyou sempet WB untuk fanfic ini, apalagi setelah tahu ending terakhir Naruto yang agak bikin Kyou 'ngek' terus tenggelam dalam lautan makanan /plak makanya sempet 'kosong' beberapa bulan dan cuma bisa bikin oneshot. Yah, akhirnya Kyou bikin ending versi Kyou sendiri buat Naruto sih dalam fanfic Koko ni Iru, dan Kyou juga lagi bikin insert story-nya. Judulnya Ikiteiru. Nanti kalau udah selesai, bakal Kyou post kok. Sekarang mau fokus ke SfMM dulu sampe kelar. Tinggal 3-4 chapter lagi. Semoga Kyou bisa lebih cepet update! Doakeun Kyou ya! ^^

Okeh, jadi Ibiki lagi menunda penyelidikannya karena diminta Yahiko supaya melihat aksi Sasuke dan Naruto terlebih dahulu baru mengambil keputusan. Masa lalu Naruto juga udah sedikit terkuak, tinggal bagaimana ia menghadapi kenyataan bahwa Iruka mencoba membunuh dirinya sendiri. Hubungan antara Naruto dan Sasuke pun sepertinya mengalami perkembangan dari dalam diri Sasuke sendiri. Bagaimana kelanjutannya? Apakah Ibiki tetap dengan pekerjaannya sementara ia mulai menyadari sesuatu yang berkaitan dengan lima orang yang berpengaruh dalam hidupnya? Apakah ketiga kakak angkat Naruto akan memaksa Naruto pulang setelah mengetahui masa lalunya nanti? Apakah Sasuke akan bertemu dengan Itachi yang berada sangat dekat dengannya? Dan Minato yang disebutkan Fugaku, apa hubungan mereka? Nantikan chapter selanjutnya ya~

Uhm, ripiu? Ndak usah pake flem ya.

_KIONKITCHEE_