BECAUSE YOU ARE MINE

—BETH CERY—

Remake Dari Novel Dengan Judul Yang Sama.

KIM JONGIN—OH SEHUN

It's HUNKAI.

Previous

"Aku sendirian di Penthouse. Aku tidak bisa berkerja atau berkonsentrasi."

"Aku pikir kau mengatakan akan bersenang-senang."

"Aku memang mengatakannya. Tapi ketika hendak melakukannya, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Tidak pernah ada orang yang melakukan ini padaku."

BAB 13

Nafas Jongin tercekat. Terjadi sesuatu padanya—karena Sehun terlihat begitu jujur.

"Itulah mengapa aku pergi ke studio dan melihat lukisan yang kau lukis kemarin. Itu brilian, Jongin. Tiba-tiba, aku merasa harus menemuimu."

Jongin menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan betapa senangnya dia pada ucapan Sehun. "Baiklah. Aku yakin sekarang."

Inilah yang ia ragukan, tapi kemudian ia menggapai dan memutar knop pintu. Pintu terbuka. Sehun melambaikan tangan dan Jongin masuk ke dalam kamar dengan hati-hati. Sehun menyentuh tombol control dan beberapa lampu bersinar dengan cahaya keemasan.

Ini adalah kamar yang indah, tenang, penuh perasaan, dan mewah.

Sebuah ranjang dan beberapa kursi diatur di area tempat duduk di depan perapian. Sebuah rangkaian bunga menakjubkan Calla Lili dan Anggrek Merah dalam vas Ming besar diletakkan di atas meja di belakang sofa. Diatas perapian terdapat lukisan impresionis tentang ladang bunga poppy—jika dia tidak lupa, ini adalah lukisan Monet asli. Luar Biasa. Pandangan matanya jatuh pada poster besar di atas ranjang dengan ukiran di empat sisinya seperti ruang santai—kaya akan warna coklat, gading, dan skema warna merah tua.

"Penguasa dari tempat pribadi bangsawan." Sehun berbisik, memberi senyuman yang menggetarkan.

Sehun melambai pada pintu yang lain. Jongin mengikutinya ke kamar mandi yang lebih lebar dari kamarnya. Sehun membuka laci mengambil kain yang terlipat dan dibungkus plastik bening. Dia meletakkannya di meja.

"Pergilah mandi dan pakailah jubah ini. Hanya jubah. Tanggalkan semua pakaianmu. Kau akan menemukan semua yang kau butuhkan di dua laci itu. Baumu seperti asap rokok dan whiskey."

"Aku minta maaf kau tidak setuju."

"Aku menerima permintan maafmu."

Kemarahan Jongin menyala lagi pada jawaban cepat Sehun. Sebuah senyum kecil miring di mulut Sehun ketika dia melihat pembangkangan Jongin kembali. Sehun jelas menyukai hal itu.

"Kau membuatku senang, Jongin. Luar biasa."

Mulut Jongin terbuka karena terkejut atas pujian itu. Bisakah dia belajar untuk memahami Ian?

"Tapi kau harus belajar untuk menyenangkan aku di ranjang," katanya.

"Aku ingin melakukannya," Jongin berkata pelan, terkejut akan kejujurannya.

"Bagus. Dan untuk memulainya, aku ingin kau mandi dan memakai jubah ini. Ketika kau selesai, datanglah ke kamar, dan aku akan memutuskan hukumanmu."

Sehun berjalan keluar kamar mandi tapi kemudian berhenti. "Oh ya, dan tolong cuci rambutmu. Rambutmu seperti sebuah kesalahan untuk semua kepuasan karena baunya yang seperti asbak," gumamnya pelan sebelum ia keluar, dan menutup pintu di belakangnya dengan cepat.

Jongun hanya berdiri disana beberapa saat di atas lantai marmer asli. Sehun pikir rambutnya indah? Jongin membuat Sehun senang? Bagaimana mungkin Sehun berfikir seperti itu tentangnya? Bagaimana mungkin Sehun menciumnya hingga ia berfikir Jongin bisa terbakar dengan spontan dan sekarang melihatnya seolah-olah Jongin sangatlah menarik seperti lukisan di dinding?

Jongin mandi secara menyeluruh, menikmati pengalaman lebih dari yang dia pikirkan. Pintu kaca tertutup uap dengan cepat, sulur kabut hangat seakan membelai kulit telanjangnya. Nyaman sekali untuk menyabuni dengan sabun gilingan tangan dari Inggris, membuat dirinya bersih, berbau rempah. Untung saja, dia bercukur sebelum pergi ke McGill's, jadi dia tidak perlu khawatir pada kakinya yang berbulu.

Apakah Sehun akan memukul pantatnya ketika dia telanjang?

Tentu saja dia akan melakukannya. Jongin menjawab sendiri pertanyaannya ketika membuka pintu kaca di kamar mandi dan keluar.

Sehun mengatakan terus terang apa yang dia inginkan, yaitu Jongin telanjang di balik jubahnya. Jongin membuka pakaian itu dari pembungkus plastik.

Apakah ini baru? Apakah Sehun menyediakan jubah untuk persedian bagi wanita yang "menghiburnya"? Pikiran itu membuat Jongin sedikit sakit, jadi dia segera menghapusnya dari pikirannya—lebih memusatkan untuk menemukan sisir untuk rambutnya yang basah, deodoran, sikat gigi baru, dan sebotol pembersih mulut.

Semuanya teratur dengan rapi di lemari kaca dimana dia mengambil perawatan special yang dia ambil—untuk dikembalikan ke tempat semula.

Jongin melipat bajunya dan menaruhnya di tempat duduk berlapis. Bayangan di cermin menarik perhatiannya. Bayangan itu menatapnya, matanya terlihat besar di wajahnya yang pucat, rambut panjangnya menggantung basah. Dia tampak agak takut.

Jadi bagaimana kalau aku takut?

Sehun mengatakan akan memukul pantatnya dan itu akan menyakitkan. Jongin setuju pada pelatihan seksual menyesatkan yang nyata dari Sehun karena dia begitu menginginkan Sehun.

Dan menjadi lebih besar. Ketakutan—keinginannya untuk menyenangkan Sehun.

Jongin berjalan ke arah pintu dan membukanya. Sehun duduk di sofa, tablet di pangkuannya. Sehun mengatur perangkat minum di meja kopi ketika Jongin datang.

"Aku menyalakan api untukmu," kata Sehun, tatapannya menelusuri Jongin dari ujung kepala hingga kaki. Ia memakai baju yang sama yang dipakai ketika dia berada di studio tato—celana setelan abu-abu gelap dan kemeja bergaris putih-biru. Kakinya yang panjang disilangkan santai. Dia terlihat sangat nyaman. Cahaya dari api menyala di matanya. "Malam ini keren. Aku tidak ingin kau masuk angin."

"Terima kasih," gumam Jongin, merasa canggung dan ragu.

"Lepaskan jubahmu, Jongin," Sehun berkata pelan.

Jantungnya berdetak kencang. Jongin meraba ikat pinggang dan menarik jubah dari pundaknya.

"Letakkan di sana," Perintah Sehun, menunjuk kursi di samping Jongin, matanya tidak pernah meninggalkan Jongin.

Jongin meletakkan jubah itu di belakang kursi dan berdiri di sana, berharap lantai akan terbuka dan menelannya, mengamati motif rumit dari karpet Oriental di bawahnya seolah hal itu memegang rahasia dari alam semesta.

"Lihatlah aku," Sehun berkata.

Jongin mengangkat dagunya. Ada sesuatu yang ia lihat di mata Sehun yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Kau indah. Menakjubkan. Kenapa kau melihat ke bawah, apakah kau malu?"

Jongin menelan ludah. Rasa malu datang menusuk dari tenggorokannya. "Aku... Aku dulu kelebihan berat badan. Sampai usia Sembilan belas tahun atau lebih... Aku pikir aku masih tetap memiliki keyakinan dari diriku yang dulu," dia menjelaskan, suaranya nyaris seperti bisikan.

Ekspresi yang halus terlihat di seluruh wajah Jongin yang berani. "Ah...ya. Tapi kau tampak begitu percaya diri saat ini."

"Ini bukanlah kepercayaan diri. Ini tantangan."

"Ya," Sehun merenung. "Aku mengerti sekarang. Lebih dari yang mungkin kau pikirkan. Ini adalah caramu mengatakan pada dunia bahwa kau mencintai dirimu sendiri dan tidak perlu orang lain melihatmu menderita." Sehun tersenyum. "Bravo, Jongin. Waktunya kau belajar untuk menyadari seberapa cantik dirimu. Kau seharusnya mengontrol kekuatan yang kau miliki, jangan pernah membiarkan mereka merana atau, membiarkan orang lain mengontrol mereka untukmu. Berdirilah di depanku, tolong."

Jongin berjalan ke arah Sehun dengan kaki gemetar. Matanya melebar dalam kebingungan ketika Sehun mengambil botol dari tempat duduk di dalam bantal di sampingnya. Botol itu kecil, dan Sehun benar-benar mengisi pikirannya—sampai Jongin tidak menyadari botol itu sebelumnya. Sehun melepaskan tutupnya dan mengambil sedikit cairan putih bening dengan jarinya. Melihat ke atas, Sehun menyadari Jongin kebingungan.

"Ini adalah perangsang klitoris. Meningkatkan kepekaan dari syaraf," Sehun berkata.

"Oh, aku tahu," Jongin berkata, meskipun dia tidak mengerti.

Matanya turun diantara kakinya. Klitnya terjepit oleh gairah, tatapannya cukup menstimulasi.

"Aku sangat egois ketika ini berurusan denganmu."

"Apa maksudmu?" Jongin bertanya.

"Aku selalu memberikan submisive kenikmatan jika mereka menyenangkanku. Bagaimanapun juga, Aku biasanya tidak terlalu memperhatikan jika mereka merasakannya sementara mereka dihukum. Mereka mungkin harus menahannya untuk mendapatkan hadiah. Aku merasa aku... merubah sedikit sikapku padamu, bagaimanapun juga."

"Submisive?" Jongin bertanya lemah, otaknya melekat pada bagian itu dari jawaban Sehun.

"Ya. Aku dominan kalau menyangkut seks, walaupun aku tidak memerlukan unsur penyerahan diri atau kekuasaan agar gairahku terbangkitkan. Hal itu adalah pilihan untukku, bukan kebutuhan."

Sehun duduk di sofa. Kepalanya hanya beberapa inci dari perut Jongin, hidungnya berada dekat pada organ Jongin. Jongin melihat Sehun menarik nafas dan kemudian memejamkan mata.

"Manis sekali," Sehun berkata, terdengar sedikit terlepas.

Jongin tidak punya waktu untuk mengetahui apa yang akan dilakukan Sehun selanjutnya. Sehun memasukkan jari langsingnya diantara bibir vagina Jongin dan menggosokkan krim di klitorisnya, sentuhannya begitu... nikmat. Jongin menggigit bibir bawahnya agar dia tidak berteriak selama dirinya gemetar terpusat pada gairah.

"Malam ini, aku akan menghukummu, dan aku tidak berbohong. Aku akan menikmatinya. Sangat menikmatinya. Tapi aku juga ingin kau menikmatinya juga. Kaulah yang paling menentukan, tapi krim ini akan membawamu terbuai kearah yang benar." Sehun berkata sambil melanjutkan memijat bagian lunak di klitoris Jongin. Sehun memandang keatas dan melihat Jongin kebingungan. "Aku tidak ingin membuatmu takut akan hal ini. Aku tidak mau kau membenci hukumanmu. Artinya, aku tidak ingin kau takut padaku, Jongin."

Sehun meletakkan tangannya di pangkuannya. Pandangannya kembali ke puncak paha Jongin. Lubang hidungnya mengembang, dan wajahnya kaku sebelum ia tiba-tiba berdiri.

"Sebelah sini, tolong," Sehun berkata. Jongin mengikutinya ke arah Sehun berdiri di depan perapian. Kakinya terhenti ketika ia melihat Sehun mengambil sebuah tongkat hitam panjang.

"Mendekatlah. Kau bisa melihat ini," Sehun berkata ketika melihat kekhawatiran Jongin.

TBC

geser ke kananㅋㅋㅋㅋ