Tales of the Steel Flower Princess


[Hip hip horeee! Chapter 14 sudah bisa di-release dan aliansi bubar! Oh iya, jawaban Quiz dulu ya! XD

Q: "Apakah sumpah yang diucapkan Sun Jian ada hubungannya dengan stempel kerajaan dan apakah yang diucapkan Sun Jian?"

Kaien: Kalian pasti tau 'kan kalau Sun Jian memegang stempel atau segel kerajaan itu? Nah, ia memang menyimpannya tetapi tidak memberitau siapapun kecuali anak buahnya sendiri.

Cao Yin: Tetapi siapa sangka, ada anak buahnya yang membocorkan rahasia itu sehingga Yuan Shao dan Yuan Shu jadi mencurigai Sun Jian. Yap, sumpah itu jadi ada hubungannya dengan stempel kerajaan.

Cao Cao: Demi menyembunyikan kebenaran itu, Sun Jian berkata, "Jika aku memang menyimpan segel kerajaan itu, maka aku akan tewas tertembak panah!".

Kaien: Wah... sayang sekali tidak ada yang berhasil menjawab yang satu itu. Namun ada yang berhasil menjawab apakah sumpah/segel itu ada kaitannya dengan kematian Sun Wentai. Nah, mari simak repliesnya...

-o-

1. Saika-Tsuruhime: Ooh, baiklah, saya sudah memperbaikinya. Terima kasih untuk peringatannya. :D Iya dia itu ZY :) Hooo... Iya, stempel itu disimpan Sun untuk membangun kekuatan. Sayang sekali anda tidak tau sumpahnya tapi tidak apa-apa kok :D

-o-

2. Mocca-Marocchi: Hohoho, makasih. LOL Lü Bu si kecoa susah mati XD Orang misteriusnya? Coba tebak siapa lololol. Mengenai jawaban Quiznya, anda sudah benar tapi sayang juga tidak tau apa sumpahnya. Iyap, sumpah itu yang konon mengakibatkan kematian Wentai ^^.

Sun Quan: *mengulurkan kedua tangan minta dipeluk*

-o-

A/N: Maaf kalau semisal ada banyak typo di chapter ini. Karena Jakarta sedang dilanda banjir dan listrik dipadamkan sehingga harus memakai genset, saya harus mempublishnya secepat kilat selagi gensetnya kuat. Baiklah, silahkan membaca part ini ;D


Chapter 14: Below the silver full moon.

[191 A.D., Summer, Chenliu, Cao's resident, night]

Aku sedang berdiri di tepi sebuah paviliun di tengah kolam, menatap bulan purnama perak yang bersinar terang dan pucat di tengah warna hitam kelam langit malam. Aku lalu menunduk ke bawah, melihat pantulanku, langit-langit paviliun dan angkasa yang hitam di air kolam yang sedikit bergelombang akibat pergerakan ikan koi di dalam air.

Sudah hampir setahun berlalu semenjak aliansi bubar. Sejak saat itu, ke-18 panglima kembali ke daerah masing-masing dan berusaha untuk memperkuat militernya. Banyak sekali pertempuran yang terjadi antara beberapa panglima daerah yang dulunya kawan, diantaranya adalah pertempuran antara keluarga Sun dengan Liu Biao. Berbicara tentang keluarga Sun, aku jadi terpikirkan Sun Ce dan Quan di yang telah kehilangan Sun Jian Jiangjun di tangan tentara-tentara Liu Biao. Mengingat kabar bagaimana Sun Jiangjun tewas, aku hanya bisa berpikir kenapa dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang serakah seperti Yuan Shu yang ingin menyerakahi stempel kerajaan itu. Demi mendapatkan stempel itu, dia sampai menggunakan Liu Biao untuk membunuh Sun Jiangjun!

Aku mendecih mengingatnya. "Sial! Seharusnya kubunuh saja bedebah itu tahun lalu!" Kugebrakkan tanganku ke pilar paviliun di sampingku.

Entah mengapa aku merasa ini semua terjadi karena salahku, salahku untuk tidak membunuh Yuan Shu waktu itu. Kalau saja Yuan Shu kubunuh waktu itu, pasti pertempuran antara keluarga Sun dengan Liu Biao dan kematian Sun Jiangjun tidak akan terjadi! Aku tau seberapa dalam perasaan kesedihan dan kehilangan yang dirasakan oleh orang-orang yang telah ditinggalkan Sun Jiangjun.

"Bangsat kau, Yuan Shu... kau tidak tau bahwa keserakahanmu telah mengakibatkan kematian orang lain?!" geramku. "Kalau ada yang harus mati, seharusnya kau saja!"

Aku kembali teringat kejadian beberapa hari yang lalu, saat aku dan yi fu sedang bermain weiqi di ruang kerjanya.

-X-

[Flashback]

.

"Yi fu, menurutmu, siapa yang akan menang? Sun Jiangjun atau Liu Biao?" tanyaku.

"Hmm... menurutmu, Yin?" Ia meletakkan biji hitamnya di atas biji putihku.

Aku berpikir sebentar sebelum menjawabnya. "... Aku yakin Sun Jiangjun lah pemenangnya." Aku meletakkan biji putihku.

"Oh." Ia menganggukkan kepalanya. "Tapi, Yin. Kau keliru."

"Eh?"

Seulas senyum muncul di wajahnya saat ia meletakkan biji hitam terakhirnya. "Lihatlah, yi fu menang lagi kali ini." tawanya.

Aku menghitungnya dan benar saja, aku kalah 10 biji darinya. "Ahahaha! Kalah lagi!" Aku menepuk jidatku pelan.

Ia tertawa pelan. "Menurut yi fu, hidup Wentai tidak akan lama lagi."

Aku terkejut mendengar pendapatnya. "... Maksud yi fu?"

Ia mengangkat cangkir tehnya dan minum seteguk. "Wentai memang orang yang gagah tetapi menurutku, dia kurang was-was."

"Kurang was-was?" Aku berpikir sejenak. "Maksud yi fu adalah ia mudah terkena jebakan?"

Ia mengangguk lalu berdiri dan mengambil sebuah gulungan kertas dari rak bukunya kemudian duduk di tempat semula. Ia membereskan papan weiqi, meletekkannya di kolong meja lalu meletakkan gulungan itu di atas meja dan membukanya. Jarinya bergerak melingkari kota Xiangyang lalu bergerak lurus ke arah timur dan berhenti menunjuk sungai Han.

"Kau lihat tempat ini, Yin. Sungai Han diapit oleh barisan pegunungan." Yi fu memulai penjelasannya. "Jika perkiraanku benar, Wentai akan tamat di sini." Ia mengetuk garis sungai itu berkali-kali dengan telunjuknya.

"Hmm... tempat itu cocok juga untuk menjebak musuh." Gumamku. "Berarti kemungkinan Liu Biao akan menyiapkan pasukan penyergap di sana?"

Ia manggut-manggut. "Ya."

"Tapi... kenapa bisa yi fu memperkirakan Sun Jiangjun akan tamat di sana walau sekarang ia berada di bukit Xian yang jaraknya hanya beberapa belas li dari Xiangyang?"

"Orang-orang dari Jiangdong terkenal akan keahliannya bertarung di atas air. Aku dengar pasukan bala bantuan Wentai datang dan pasti akan mengambil jalur sungai. Selain itu, melalui sungai jauh lebih cepat bila dibanding dengan melewati daratan." Jelasnya sambil menggerakkan jarinya ke perkemahan Sun Jiangjun di bukit Xian. "Wentai yang mendengar pasukan bala bantuannya disergap pasti langsung pergi menolong mereka." Ia mengangkat kepalanya dan menatapku. "Inilah tujuan mereka, membuat Wentai keluar menjauh dari perkemahannya yang banyak prajurit dan membunuhnya." lanjut yi fu.

Aku mengamati peta itu lebih teliti lagi.

"Yin, apakah kau pernah mendengar sumpah yang dikatakan oleh Wentai?"

Aku menggelengkan kepalaku. "Tidak. Saat Sun Jiangjun sedang bertengkar dengan Yuan Shu, aku keluar."

"... 'Jika aku menyimpan stempel kerajaan itu, maka aku akan binasa oleh hujan anak panah!'...," Yi fu memberitau.

"Jadi... kabar tentangnya menyimpan stempel kerajaan itu benar?" tanyaku.

Yi fu mengangguk. "Dia akan temakan oleh sumpahnya sendiri."

Aku langsung berdiri. "Lalu kenapa yi fu tidak mengirimkan peringatan ini pada Sun Jiangjun?!" tanyaku dengan nada seperti marah.

"Percuma yi fu memberitahukannya sekarang."

Apa?

"Yi fu pun menyesal baru menyadarinya tadi pagi." Ia menengok ke jendela. "Kalaupun kita mengirimkan kabar ini sekarang, kita sudah kalah cepat dengan waktu." Ia mendesah. "Tidak ada yang bisa kita perbuat, Yin." Yi fu lalu menoleh ke arah peta dan menggulungnya kembali.

.

[End of Flashback]

Splash!

Suara percikan air dari kolam akibat lompatan ikan koi terdengar di telingaku, membuatku tersadar dari lamunanku. Aku menggelengkan kepalaku dan kembali menatap pantulanku di permukaan air kolam. Jika aku memperhatikannya baik-baik, pantulan itu seperti memantulkan ekspresi apa yang sedang ada di wajahku sekarang. Ya, ekspresi sedih tentu saja. Aku menutup mataku dan merasakan kehadiran seseorang yang sedang mendekat. Aku berbalik dan melihat Xing-Xing yang sedang menggendong Zihuan yang tertidur pulas. Ia menyapaku dan berdiri di sampingku.

"Pulas sekali tidurnya pahlawan kecil kita yang satu ini." Aku tersenyum dan mengelus rambut Zihuan dengan pelan.

"Begitulah. Gongzi terus belajar seharian jadinya ya... seperti yang anda lihat sekarang." Ia tertawa kecil.

Zihuan tampaknya tidak terganggu oleh percakapan kami. Dengkurannya terdengar mulai sedikit lebih keras dibanding sebelumnya. Jujur saja, aku iri padanya yang bisa tidur pulas sedemikian rupa, hahaha. Aku jadi tertarik untuk bertanya padanya apa yang ia mimpikan saat ini besok.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau kemari?" tanyaku.

"Aku hendak membawa gongzi kembali ke kamar tidurnya. Kebetulan aku harus melewati tempat ini dulu agar bisa sampai ke kamarnya. Aku melihat xiao jie berada di paviliun ini jadi, aku memutuskan untuk menemani anda meski hanya sebentar." jawabnya dengan senyuman yang masih belum pudar dari wajahnya.

Aku tersenyum mendengarnya. "Haha. Kau tau saja kalau aku sedang membutuhkan teman."

Ia tertawa kecil. "Apa yang sedang xiao jie lakukan di sini?"

"Merenung." balasku singkat.

"Merenung?"

"Ya... tentang seorang teman baru yang kehilangan fu qin-nya belum lama ini."

"... aku turut berduka cita." Ekspresi wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi sedih.

Aku mengangguk. "Jika kau mau tau, besok akan kuceritakan." Aku menatapnya. "Lebih baik kau bawa Zihuan ke kamarnya. Masa kau tidak berat harus menggendong sapi kecil kita ini?" candaku.

Ia tertawa kecil lagi. "Kalau begitu, aku permisi dulu. Selamat malam, xiao jie."

"Malam, Xing-Xing."

Ia beranjak pergi ke arah kamar Zihuan dan aku kembali menengadah ke angkasa yang luas di atas. Hari sudah larut malam dan aku memutuskan untuk kembali ke kamar untuk tidur. Sesaat sebelum aku berbalik, aku sempat melihat sebuah bintang jatuh melesat. Aku tersenyum dan langsung menyatakan harapanku.

'Yun-Yun, bertapa aku mengharapkan bahwa kau sekarang berada di sini, di sebelahku. Banyak sekali yang ingin kuceritakan padamu. Dan... Sun Ce, Quan di, aku berharap kalian semua baik-baik saja semenjak kematian Sun Jiangjun.'

[? P.O.V]

"Ah, rupanya ada bintang jatuh barusan." Aku menatap bunga teratai kecil yang kupegang di tanganku.

Xu-Xu, aku berharap aku bisa bertemu denganmu secepatnya. Betapa aku mengharapkan kau berada di sisiku sekarang.

To Be Continued...


Kaien: Baiklah, karena semuanya sudah tidur sekarang, Kaien yang melakukan tugasnya hahaha. Mind to RnR? :D

.

~Finishing Note~

1. Gongzi artinya pangeran. Huanghou aritnya permaisuri. Taihou artinya ibusuri. Huangdi artinya Kaisar. Gongzhu artinya putri.

.

A.N: Mengenai Yin yang sempat memanggil Cao Pi dengan 'sapi kecil', saya terinspirasi dari keluhan pemain DW5 yang bilang kalau VA English salah melafalkan nama 'Cao' menjadi 'Cow'. 'Cow' artinya sapi :D dan dari sinilah idenya lol! *dihajar seluruh keluarga Cao Cao* *dipukul Cao Pi pakai pedang kayu*