Sepertinya ending sudah dekat nih :p
Terima kasih banyak pada reviewer dan reader chapter. Enjoy the pizza ^^
"Demi Gaia!" kata pemuda itu. "Aku malah dua kali lebih sibuk!"
.
Daddy
.
flutters
Suatu pagi yang cerah di musim panas itu ternyata tidak bisa dinikmati semua orang. Seorang Cloud Strife harus memulai pekerjaannya pagi-pagi benar.
Meskipun demikian, ia sangat bersyukur mendapatkan pekerjaan ini. Penghasilannya mulai bertambah (ternyata bos-nya tidak sepelit itu). Sebentar lagi pasti ia akan punya cukup uang untuk memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya.
Keluarganya. Ya. Ia sudah punya keluarga sekarang, walau hanya dua anggotanya. Dia dan Denzel. Sekarang ia sudah mengakui Denzel sebagai keluarga. Orang-orang pasti akan bertanya-tanya kenapa tidak ada wanita dalam rumahnya. Cloud belum terlalu peduli. Lagipula ia juga masih malu menyatakan bahwa Denzel adalah… ehm… anaknya. Aih!
"Oi! Udah sibuk aja jam segini?" teriak seseorang dari dalam mobilnya.
"Oi, Zack. Maaf, aku buru-buru."
Zack melebarkan matanya. "Hoo, jadi ini truk yang dipercayakan Tuan Barret? Aku kira dia bakal kasih gerobak butut."
Cloud, yang masih sibuk menutupi muatan truk itu dengan terpal, tidak menanggapi.
"Aku kenal orang itu. Taulah, dia terkenal kikir dan penuh perhitungan. Dan mulutnya itu, lho, ya ampun, nggak ada filternya."
"Mungkin dia mau berterima kasih karena aku menyelamatkan anaknya," sahut Cloud, yang bersegera masuk ke dalam truk dan menyalakannya.
"Whoa! Cloud Strife sang superhero! Hei, kamu mau nggak menyelamatkan adikku dari kesepian?"
Cloud bergidik. Kilas balik seorang gadis kecil yang mencium pipinya membuat wajahnya memanas. Bukan. Sebenarnya ia membayangkan seorang Tifa mengecup pipiny—
"Aku pergi!" Cloud mulai memundurkan truk.
"Hei! Siapa yang jaga Denzel?"
Cloud hampir menepuk dahinya. Dengan enggan ia pun meminta Zack, yang sayangnya sedang tidak bisa dimintai tolong.
"Tapi Tifa bisa. Kalau mau, nanti dia kusuruh ke sini. Hari ini dia nggak ada kuliah."
Setelah bergumul sedikit dengan egonya, Cloud melemparkan kunci rumahnya pada Zack dan melajulah ia dengan kencang di jalan yang lengang untuk mengantarkan beberapa order ke para pembeli.
.
.
Denzel sedang bermain pesawat-pesawatan yang baru dibelikan Cloud kemarin waktu mereka berjalan-jalan di daerah pertokoan Midgar. Denzel sangat senang waktu Cloud menyodorkan mainan itu padanya. Ia tak berhenti memekik, "Terima kasih, Dy!", membuat orang-orang menoleh dan tersenyum pada Cloud.
"Sarapaaan~" Tifa bersenandung sembari membawakan senampan makanan untuk bocah itu. Dengan girang bocah itu menyambutnya. Kalau ada hal yang lebih disukainya dari mainan, itu adalah masakan Tifa. Tifa sangat jago masak, sih! begitu pikir Denzel.
Gadis berambut lurus itu menyuapi Denzel. Bocah itu nyengir tiap kali makanan masuk ke mulutnya. Betapa menggemaskan!
"Masakan Fa nyam-nyaam~ Aaaa~"
Sambil terkikik geli Tifa menyuapkan sesendok lagi ke mulut mungil Denzel. Bocah ini ternyata memang memberi julukan sesuka hatinya. Untuk Cloud, Dy. Kunsel dipanggil Zoro. Hanya Zack saja yang dipanggil dengan nama asli. Mungkinkah karena nama Zack terlalu pendek?
Waktu pun berlalu dengan cepat. Tiba-tiba sudah tengah hari. Waktunya Denzel tidur siang.
Denzel menunjuk-nunjuk ranjangnya. "Fa, tidur di sini, yuk?" ajak anak itu penuh harap. "Dy sering tidur di sini. Ayoo tidur bareng~ Denzel ngantuk~"
Dengan sebuah senyum lembut di wajahnya, Tifa naik ke ranjang itu. Eh? Ranjangnya empuk. Kalau tidak salah dulu ranjang Denzel keras. Mungkinkah Cloud telah menukar ranjang anak itu dengan ranjangnya sendiri?
Benar saja. Tak lama kemudian Tifa mengendus aroma seseorang yang familiar. Pipinya pun sedikit merona.
"Tifa bisa nyanyi bagus?" tanya Denzel yang sudah mulai mengantuk. Tifa mengangguk sambil tersenyum. Zack selalu bilang kalau suaranya bagus dan dia tidak cocok jadi bartender. Menurut Zack Tifa hanya cocok jadi penyanyi.
"Kalau Dy suaranya jelek. Hoaam~"
Geli, Tifa terkikik. Ia ingin sekali menggelitiki Denzel saking gemasnya. Tapi anak itu sudah mengerjap-ngerjap nyaris terlelap jadi niat itu ditunda. Sebagai gantinya, tanpa diminta Tifa mulai menyanyi. Dengan perlahan Denzel pun terlelap diiringi sebuah dendangan merdu.
"Terima kasih, Ma…"
….
Eh?
… Pasti maksudnya 'Fa'… Kan?
Cklek.
Seseorang membuka pintu kamar Denzel. Tak lama kemudian warna pirang itu tampak.
"Oh. Maaf meng—"
Kata-kata Cloud putus karena Tifa segera menempelkan jari ke bibir.
"Dia sudah tidur," bisik Tifa.
.
.
"Eh… Maaf merepotkan," ujar Cloud. "Bosku mendadak menyuruh mengantar beberapa barang ke Edge tadi pagi," katanya lagi sambil menggaruk lehernya.
Dengan manis Tifa hanya menggeleng. "Aku senang melakukannya. Oh iya, selamat atas pekerjaan barumu. Agak sedih, sih, kehilangan teman kerja, tapi syukurlah kalau dengan ini hidupmu membaik."
Pemuda itu mengangguk dan terdiam.
"Kamu banyak berubah, Cloud," aku wanita bermata coklat itu dengan kekaguman yang tidak ditutup-tutupi. "Syukurlah," tuturnya lirih dengan sebuah senyum tersemat di bibirnya.
Cloud tak mengerti kenapa wanita ini begitu baik. Kenapa senyum tak pernah hilang dari wajahnya meskipun Cloud pernah menyakitinya.
"Maafkan aku, Tifa."
Perempuan itu hanya menggeleng. "Aku nggak merasa direpotkan, kok, Cloud. Sungguh."
Maksdunya 'maaf' untuk itu, batin Cloud. Dan sepertinya Tifa melihat keanehan di wajahnya.
"Ada hal lain yang mau kamu katakan, Cloud?"
"Ma-maaf sudah banyak merepotkan! Maksudku—! Maksudku... kau kan hanya… teman. Maksudku, bukan kerabat atau orang yang bertanggung jawab mengurusi masalah keluargaku. Bukannya aku menolak bantuanmu, hanya saja… Well, kamu nggak wajib melakukannya… Yah…" Sepertinya Cloud grogi.
"Kenapa?" tanya Tifa sambil tertawa, "bukannya itu gunanya teman? Lagipula, aku senang, kok, melakukannya untukmu. Kalau kamu butuh bantuan lagi, bilang saja. Aku berusaha membantu."
Membuncahlah rasa bersalah Cloud. Ia menyesal. Sangat menyesal. Kenapa ia bisa membenci orang ini? Ia telah salah menilai Tifa. Selama ini Cloud menganggap Tifa merepotkan, padahal dialah yang selalu merepotkan Tifa.
"Bukan. Sebenarnya bukan itu maksudku. Aku menyesal pernah membencimu," bisiknya.
"Tidak apa-apa, Cloud," balas Tifa, "tidak apa-apa." Cloud dapat mendengar Tifa tersenyum ketika mengatakannya.
Ketika pemuda itu ingin memastikan apakah Tifa tersenyum senang atau tersenyum pedih, seketika itu juga detak jantungnya mulai tak beraturan. Tunggu. Kenapa detak jantungnya tak beraturan?!
"Aku antar kamu pulang," katanya cepat.
